Jurnal Pekommas
Not a member yet
263 research outputs found
Sort by
Mobilisasi Massa dalam Era Network Society
Banyak gerakan yang dimobilisasi atau berawal dari internet di era network society saat ini. Mobilisasi tersebut sukses menjaring massa, ribuan bahkan puluhan ribu. Tersebar secara geografis, menjadi trending topic di berbagai situs, dan tampaknya memberikan pengaruh signifikan di dunia nyata. Penelitian ini melihat bagaimana mobilisasi dilakukan melalui dunia maya dan apakah mobilisasi tersebut mampu memberi dampak di dunia nyata. Dengan menggunakan metode studi kasus, penelitian ini mempelajari langsung fenomena mobilisasi sosial pada keadaan alami. Penelitian ini memilih dua bidang yang paling gencar menggunakan internet sebagai cara untuk memobilisasi massa, yaitu bidang ekonomi dan bidang sosial politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dua bidang tersebut, kesuksesan mobilisasi massa di dunia maya tidak selalu bersinergi dengan hasil di tataran real. Ada berbagai hal yang membuat mobilisasi tersebut gagal mewujudkan perbaikan atau perubahan. Salah satunya adalah diaplikasikannya tatanan dan kelas sosial di dunia maya sehingga akses terbesar tetap dimiliki oleh ruling class. Selain itu, minimnya peran pemerintah juga menjadi penghambat terbesar mewujudkan perubahan seperti yang dikampanyekan di dunia maya. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan dunia maya juga masih terikat pada tatanan dunia nyata dengan berbagai aturannya
Online Game Effect on Street Children Violence [Efek Game online Terhadap Tindakan Kekerasan Anak Jalanan ]
Adolescent spend an average of 7 hours per day to access the media. This phenomenon is happening right now is exposure of violence through the media especially online games. Most online games contain of violence. Street children are vulnerable population as victims and violence subject. Adolescent choosing tendency themed online game violence can trigger teens to violence. The purpose of this study to examines the relationship between online game use with street children violence. Type of study is an observational cross sectional study. We analyzed data on 277 street children aged 10-19 years in Makassar City. Result of the study there is a correlation between playing violent online games with street children (p = 0.013; φ = 0.149). And the government should provide the mobile library at the hotspot of street children work so that it can attract street children to read in their spare time and Street children should use the facility of the Internet to find useful information such as school subjectsRemaja menghabiskan waktu rata-rata 7 jam per hari untuk mengakses media. Fenomena yang terjadi saat ini adalah paparan kekerasan melalui media khususnya game online. Sebagian besar game online mengandung unsur kekerasan. Salah satu kelompok yang rentan menjadi korban ataupun sebagai pelaku tindakan kekerasan adalah anak jalanan usia remaja. Kecenderungan remaja memilih game online bertema kekerasan dapat memicu remaja melakukan tindakan kekerasan. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara bermain game online dengan tindakan kekerasan anak jalanan. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini adalah 277 anak jalanan usia 10-19 tahun di Kota Makassar. Hasil penelitian diperoleh ada hubungan antara bermain game online dengan tindakan kekerasan anak jalanan (p=0,013; φ=0,149). Penelitian ini menyarankan kepada pemerintah agar menyediakan fasilitas berupa perpustakaan keliling yang ditempatkan di titik anak jalanan bekerja sehingga dapat menarik minat anak jalanan dan mengisi waktu luangnya untuk membaca buku. Anak jalanan sebaiknya memanfaatkan fasilitas internet untuk mencari informasi yang bermanfaat seperti pelajaran sekola
Perancangan Aplikasi Berbasis Costumer Relationship Management (CRM) untuk IKM Tas Yanri di Bogor
Penelitian ini akan mencari tahu jawaban dari pertanyaan penelitian bagaimana bentuk rancangan sistem informasi berbasis Costumer Relationship Management (CRM) di IKM Tas Yanri. Mulai dari perancangan proses, data, sampai dengan perancangan antar mukanya, untuk membantu IKM Tas Yanri dalam hubungannya dengan para pelanggannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan jenis penelitiannya adalah deskriptif dan tindakan. Penelitian deskriptif untuk mendeskripsikan proses bisnis yang berjalan di IKM Tas Yanri, yang kemudian dianalisa dengan menggunakan konsep CRM, sehingga terlihat proses mana yang bisa dihilangkan, ditambah atau dimodifikasi. Penelitian tindakan untuk melakukan perbaikan proses bisnis dan selanjutnya melakukan perancangan sistem informasi berbasis CRM, yang terdiri dari perancangan proses menggunakan DFD, perancangan basis data menggunakan ERD dan perancangan antar muka. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam kepada pemilik IKM Tas Yanri dan observasi langsung proses-proses yang terjadi di IKM Tas Yanri serta studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah Perancangan Proses, yang mempunyai 8 proses utama di dalamnya, yaitu (1) Proses Pendaftaran Pelanggan, (2) Proses Login Pelanggan Lama, (3) Program Pemasaran, (4) Program Penjualan, (5) Pengisian Produk, (6) Laporan, (7) Pelayanan Pelanggan, (8) Program Diskon. Pada hasil Perancangan Data sistem informasi CRM terdapat 8 buah entitas di dalamnya, yaitu entitas tanya jawab, keluhan, barang belum sampai, garansi, pelanggan, transaksi, produk, dan produk pesanan. Sedangkan hasil perancangan antar muka pada dasarnya terdiri dari 2 tampilan, yaitu tampilan halaman login dan tampilan halaman setelah login
Studi Kesiapan Pemerintah Kabupaten Maros dalam Pengimplementasian Sistem Informasi Kehadiran Pegawai Berbasis Elektronik
Pegawai Negeri Sipil dituntut disiplin dalam bekerja, tetapi pada kenyataannya banyak pegawai yang tidak bekerja dengan baik karena terlambat masuk dan pulang lebih cepat. Oleh karena itu, perlu penerapan absensi sidik jari (finger print) untuk mengantisipasi hal tersebut. Maros merupakan kabupaten yang telah mempersiapkan implementasi Sistem Informasi Kehadiran Pegawai (SIKP) berbasis elektronik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kesiapan Pemerintah Kabupaten Maros dalam pengimplementasian SIKP ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Pemerintah Kabupaten Maros telah siap mengimplementasikan SIKP baik dari segi kesiapan regulasi maupun infrastruktur
Pemeringkatan E-Government di Kota Makassar
Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Governmet (e-Gov) merupakan langkah awal implementasi e-Gov di Indonesia. Melalui pengembangan e-Gov, penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah telah dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi. Untuk mengukur implementasi e-Gov, maka diperlukan sebuah assesment untuk melihat sejauhmana kesiapan pemerintah baik pusat maupun daerah. Pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI) merupakan ukuran implementasi e-Gov di Indonesia. Penelitian ini melakukan pemeringkatan e-Gov di Kota Makassar yang mencakup 18 SKPD. Data penelitian diperoleh dengan pendekatan kualitatif dan analisis data secara deskriktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi e-Gov di Kota Makassar dalam kategori belum baik. Berdasarkan hasil pemeringkatan e-Gov pada 18 SKPD hanya satu SKPD dengan kategori “Baik Sekali”, tujuh kategori “Baik” dan selebihnya masih dalam kategori “Kurang” dan “Sangat Kurang”. Pemerintah Kota Makassar diharapkan dapat melakukan perbaikan untuk implementasi e-Gov yang lebih baik
Stereotipisasi Etnis Makassar oleh TV One Melalui Tayangan Bentrok dan Tawuran di Makassar
Penelitian ini mengamati tayangan berita TV One bertema bentrok dan tawuran yang berlokasi di Makassar. Tujuannya untuk mengetahui adanya stereotipisasi tertentu atas etnis Makassar yang berlaku pada media TV One berdasarkan hasil interpretasi audiens. Studi audiens ini menggunakan perspektif kualitatif. Data primer dikumpulkan melalui teknik observasi dan wawancara mendalam. Sebanyak 21 informan, berlatarbelakang etnis Melayu dan Banjar yang berdomisili di Makassar dipilih melalui teknik snowball sampling. Data sekunder didapatkan dari rekapitulasi berita TV One Biro Makassar periode Maret – Desember 2010. Dalam proses analisis data, peneliti mengggunakan kerangka analisis resepsi Stuart Hall dengan menitikberatkan pada proses decoding. Hasil penelitian menunjukkan adanya stereotipisasi negatif yang berlaku dalam pemberitaan TV One atas etnis Makassar melalui tayangan bentrok dan tawuran yang berlokasi di Makassar. Kedua, hasil analisis resepsi menunjukkan audiens dominan menempati posisi negotiated reading atas stereotipisasi etnis Makassar. Secara garis besar, posisi ini dilatarbelakangi oleh pengalaman interaksi audiens Melayu dan Banjar dengan etnis Makassar
Pemanfaatan Pusat Layanan Internet Kecamatan di Sulawesi Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan dan tingkat kepuasan masyarakat terhadap Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) di Sulawesi Selatan. Penelitian ini dilaksanakan di 15 kabupaten di Sulawesi Selatan pada April – Juni 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif. Teori komunikasi yang digunakan adalah model uses and gratification. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar masyarakat sudah menggunakan PLIK. Mayoritas responden adalah pelajar yang menggunakan PLIK untuk tujuan integratif. Pengelola PLIK menghadapi kendala teknis, dimana akses internet sangat lambat, mereka tidak dibekali pengetahuan mengatasi permasalahan teknis, dan sistem operasi linux fedora dianggap tidak familiar bagi pengunjung PLIK. Sedangkan tingkat kepuasan masyarakat dalam menggunakan PLIK sudah cukup baik, terlihat pada kepuasan mereka terhadap kecepatan akses, serta kondisi ruangan PLIK yang merupakan salah satu faktor penentu kenyamanan pengguna saat berkunjung ke PLIK, meskipun masih terdapat kendala koneksi internet dan perawatan jaringan dalam penyelenggaraan PLIK
Franchise Cellular Operator in Rural Areas (Operator Seluler Model Franchise di Daerah Rural)
The rapid development in telecommunication motivates organizations or business person to gain some profits in telco-based business. However, very limited Indonesian villagers had access to these technologies. This problem was caused by the less attractive condition (even unfeasible) to invest in the rural areas because the cost to build a conventional telecommunication infrastructure was very high, eventhough this was a potential new market. The other is the limitations of the spectrum allocated for new wireless access operator. This study formulated a new network cellular business model that met the rural needs, called franchise operator which is able to solve the problem of the frequency spectrum limitations, because new operators could make use of the frequency spectrum of the legal operators, though a new proposed business scheme, whereby the new operator does not require a new frequency allocation. However, the implementation of this franchising model is highly dependent on telecommunication regulation in Indonesia. So that further studies is needed regarding the regulation that will permit the creation of franchising operator. Open BTS technology as selected village cellular technology, requires an investment only of Rp 223 million to build telecommunication infrastructure in rural areas. This is much cheaper than to deploy a conventional infrastructure. Supported by franchise business model, operating cost could be decreased, making this model feasible to be implemented as a breakthrough of the telecommunication infrastructure development in rural areas.Perkembangan teknologi mendorong pelaku perdagangan beralih membentuk bisnis telekomunikasi dan berkompetisi dengan menawarkan berbagai produk telekomunikasi. Namun sangat disayangkan, 50,21% dari total penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2010) hampir tidak terjangkau akses telekomunikasi. Masalahnya adalah para operator merasa berat berinvestasi di pedesaan karena biaya pembangunan jaringan seluler konvensional yang sangat tinggi dan tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh. Selain itu keterbatasan spektrum menjadi kendala bagi calon operator baru yang ingin mengambil peran. Guna mengatasi masalah tersebut, dihasilkan sebuah model operator berbasis kerjasama franchise yang disesuaikan dengan kebutuhan pedesaan. Operator model franchise yang dimaksud dapat memberi solusi keterbatasan spektrum frekuensi karena operator hanya perlu memanfaatkan spektrum frekuensi dari operator berlisensi sehingga tidak membutuhkan alokasi frekuensi yang baru. Namun pelaksanaan franchising ini sangat tergantung pada regulasi atau peraturan telekomunikasi yang berlaku di Indonesia. Sehingga diperlukan kajian lebih lanjut mengenai Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah yang dapat berdampak bagi franchising operator ini. Teknologi openBTS yang dipilih sebagai solusi teknologi seluler pedesaan hanya memerlukan biaya investasi sekitar Rp 223 juta untuk membangun satu site infrastruktur di daerah terpencil. Biaya investasi ini jauh lebih murah dibandingkan biaya pembangunan infrastruktur seluler konvensional. Didukung dengan model bisnis franchise yang akan mengurangi biaya operasional operator, maka desain ini dapat menjadi peluang bisnis baru bagi operator eksisting maupun untuk memberi dukungan dalam meningkatkan produktifitas dan efisiensi infrastruktur telekomunikasi dan informasi di pedesaan.
Akurasi Berita dalam Jurnalisme Online (Kasus Dugaan Korupsi Mahkamah Konstitusi di Portal Berita Detiknews)
Jurnalisme online kerap menjadi sorotan karena sering kali mengorbankan prinsip-prinsip dasar jurnalisme seperti akurasi berita demi mengejar kecepatan. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan akurasi berita dalam jurnalisme online khususnya kasus dugaan korupsi Mahkamah Konstitusi di portal berita detikNews.com. Dengan menggunakan metode penelitian analisis isi, hasil penelitian ini menggambarkan bahwa sebagai media jurnalisme online, detikNews tetap memegang teguh akurasi pemberitaannya. Ini terlihat dari hasil kuantitatif lima kategorisasi akurasi berita yang dikaji yaitu cek dan ricek; kesalahan penulisan pada data; sumber berita yang relevan; akurasi judul dengan isi; serta akurasi antara foto dengan isi. Semua kategori bernilai diatas lima puluh persen
Study of Utilization of Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) in Pinrang (Studi Pemanfaatan Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) di Kabupaten Pinrang)
The research was to discover the utilization of PLIK by public in Kabupaten Pinrang, South Sulawesi and to find out the public responds to PLIK. It uses descriptive-quantitative methods. The research result showed that the utilization of PLIK was relatively in high category. Some of them utilized it as learning materials and completion of school project. They accepted PLIK well. It was proven due to their utilization of it according to their want.Penelitian ini bertujuan mengetahui pemanfaatan PLIK pada masyarakat Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pemanfaatan PLIK penggunaannya dalam kategori tinggi oleh masyarakat,sebagian besar masyarakat memanfaatkan PLIK untuk digunakan sebagai bahan belajar dan penyelesaian tugas sekolah. Respon/penerimaan masyarakat terhadap PLIK sangat besar baik dari segi penggunaan dan pemanfaatannya terbukti masyarakat menggunakannya dan sesuai dengan tingkat kebutuhannya