Jurnal Pekommas
Not a member yet
263 research outputs found
Sort by
Telecommuting Application Opportunity in Indonesian Government (Peluang Pemanfaatan Telecommuting dalam Pemerintahan di Indonesia )
The development of information technology and communication has reached standard significant influence in various fields, especially in an effort to reach competitive advantage. Mastery of ICT believed to increase productivity and efficiency in the organization/company, although some researchers make an exception in productivity paradox phenomenon. The development of ICT allow the the emergence of new innovations at the organization/company, one of which is telecommuting. Facilities and opportunities in telecommuting could be implemented under consideration internal organization/company. Opportunities to use telecommuting more broadly likely be applied in Indonesia especially in the field of government, of a wide geographical area as one consideration. Other consideration, governments implementation that always referred to regulations governing every aspect of government including information management. The Act of the Republic of Indonesia Number 14 of 2008 on Public Information Openness regulating the information service and openly by improving the quality of and keep secrecy information of being excluded. This research study against possible telecommuting in the implementation of governance in the country with regard to the quality of information and data of government according to the regulations apply. The conclusion of research is, telecommuting probable adopted in the implementation of governance in the country by right methods and appropriate regulations, to keep the purpose and dimension the quality of conforming parameter methodology the quality of information and data for the purpose the end was improving the quality of the information for the community.Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi telah mencapai taraf pengaruh yang signifikan di berbagai bidang, terutama dalam usaha mencapai keunggulan kompetitif. Penguasaan terhadap TIK diyakini meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam organisasi/perusahaan meski beberapa peneliti membantahnya dengan mengemukakan fenomena IT Productivity Paradox. Perkembangan TIK memungkinkan munculnya inovasi baru dalam organisasi/perusahaan, salah satunya adalah telecommuting. Fasilitas dan peluang dalam telecommuting dapat diimplementasikan berdasarkan pertimbangan internal organisasi/perusahaan. Peluang pemanfaatan telecommuting secara lebih luas kemungkinan dapat diterapkan di Indonesia khususnya dalam bidang pemerintahan, dengan cakupan wilayah geografis yang luas sebagai salah satu pertimbangan. Pertimbangan lain, pelaksanaan pemerintahan selalu mengacu pada regulasi yang mengatur setiap aspek pemerintahan termasuk pengelolaan informasi. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik mengatur pengelolaan dan pelayanan informasi secara terbuka dengan meningkatkan kualitas dan tetap menjaga kerahasiaan informasi yang dikecualikan. Penelitian ini melakukan kajian terhadap kemungkinan implementasi telecommuting dalam pemerintahan di Indonesia dengan memperhatikan faktor kualitas informasi dan data pemerintahan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, telecommuting sangat mungkin diadopsi dalam pelaksanaan pemerintahan di Indonesia dengan metode yang tepat dan sesuai dengan regulasi, untuk menjaga tujuan dan dimensi kualitas sesuai parameter metodologi kualitas informasi dan data sehingga perbaikan kualitas layanan informasi untuk masyarakat dapat dilakukan
Analisis Kebutuhan Model Media Audio Cerita Wayang Bagi Remaja
Puppet was the cultural heritage of Indonesia and a world heritage whose many advantages and some disadvantages. Indonesian youth was considered away from the puppet. Unit of Educational and Culture of Radio Media Development addressed this phenomenon by conducting a needs analysis of puppet stories as audio media character education for the younger generation, in particular adolescent ages 12-18 years. The analysis was conducted to uncover the adolescent perception about the puppet and how their need about the puppet which was broadcasted through the radio. This study used the survey method and involved radio stations in Middle Java and Eastern Java, which had been partnered with BPMRPK and had founded school and student community. The results showed that teens are considered the main attractive of the puppet performances was at the story. Teens considered puppet stories would be interesting if the radio broadcast program was made by adjusting the present context. Most teens need a puppet story radio broadcast in the form of a recording, duration of 30 minutes, and aired every day.Wayang merupakan warisan budaya Nusantara sekaligus warisan budaya dunia yang memiliki banyak kelebihan dan kekurangan. Sekarang ini generasi muda Indonesia dianggap tidak lagi memerhatikan keberadaan wayang. Balai Pengembangan Media Radio Pendidikan dan Kebudayaan (BPMRPK) menyikapi fenomena ini dengan melakukan analisis kebutuhan tentang cerita wayang sebagai media audio pendidikan karakter bagi generasi muda, khususnya remaja usia 12-18 tahun. Analisis dilakukan untuk mengungkap pandangan remaja tentang kesenian wayang dan bagaimana kebutuhan remaja tentang kesenian wayang yang disiarkan melalui media radio. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan melibatkan stasiun radio mitra di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang memiliki sekolah binaan atau komunitas pelajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja menganggap daya tarik utama pertunjukan wayang adalah pada cerita. Remaja menganggap cerita wayang akan menarik bila dijadikan program siaran radio dengan menyesuaikan konteks masa kini. Sebagian remaja membutuhkan siaran radio cerita wayang dalam bentuk rekaman yang berdurasi 30 menit dan disiarkan setiap hari. Wayang merupakan warisan budaya Nusantara sekaligus warisan budaya dunia yang memiliki banyak kelebihan dan sejumlah kekurangan. Generasi muda Indonesia dianggap menjauhi wayang. Balai Pengembangan Media Radio Pendidikan dan Kebudayaan (BPMRPK) menyikapi fenomena ini dengan melakukan analisis kebutuhan tentang cerita wayang sebagai media audio pendidikan karakter bagi generasi muda, khususnya remaja usia 12-18 tahun. Analisis dilakukan untuk mengungkap persepsi remaja tentang kesenian wayang dan bagaimana kebutuhan remaja tentang kesenian wayang yang disiarkan melalui media radio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja menganggap daya tarik utama pertunjukan wayang adalah pada cerita. Remaja menganggap cerita wayang akan menarik bila dijadikan program siaran radio dengan menyesuaikan konteks masa kini. Sebagian remaja membutuhkan siaran radio cerita wayang dalam bentuk rekaman, durasi 30 menit, dan disiarkan setiap hari
The Role of Self-efficacy and Communication Skills of Researchers to Organizational Climate at Research Center X (Peran Efikasi Diri dan Kemampuan Komunikasi Peneliti Terhadap Iklim Organisasi di Pusat Penelitian X)
Many previous studies explain that self-efficacy can directly support individual and organizational productivity, the R & D or research center as well as other organizations also have performance targets that must be achieved. Many cases of R & D is the difficulty of managing human resources researcher with the characteristics of creative people to be able to support the productivity of individuals and institutions. Self efficacy and communication skills good organization on the researcher is required to support the achievement of the objectives of R & D. The purpose of this study is to measure the level of self-efficacy that can impact the communication skills of researchers that will affect productivity with a conducive organizational climate. The method used in the study using case studies sector in R & D with a quantitative approach to measure the level of self-efficacy and to explain and interpret qualitative communication skills and self-efficacy on the researcher at the research center X. The result is the level of self efficacy of each researcher based on the level of functional position has a very significant difference. Self efficacy in high researchers is not accompanied by the communication skills of the organization, so that the organization\u27s climate becomes less conducive to sharing knowledge or information. As for personal communication researchers do not have constraints and even good enough to be able to communicate. It illustrates that high self-efficacy but poor communication skills will make the productivity of the organization be less than the optimum.Banyak kajian sebelumnya yang menjelaskan bahwa efikasi diri dapat secara langsung mendukung produktivitas individu dan organisasi, untuk itu sebagaimana organisasi lainnya litbang atau pusat penelitian juga memiliki target yang harus dicapai. Salah satu kasus litbang adalah kesulitan untuk mengelola SDM penelitinya dengan karakteristik creative people untuk dapat mendukung produktivitas individu ataupun lembaga. Efikasi diri dan keterampilan komunikasi organisasi yang baik pada peneliti dibutuhkan untuk dapat mendukung pencapaian tujuan litbang. Tujuan kajian ini adalah mengukur tingkat efikasi diri yang dapat memberikan dampak pada keterampilan komunikasi peneliti yang akan berdampak produktivitas dengan iklim organisasi yang kondusif. Metode yang digunakan dalam kajian ini menggunakan studi kasus di suatu litbang dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur tingkat efikasi diri dan kualitatif untuk menjelaskan dan menginterpretasikan keterampilan komunikasi dan efikasi diri pada peneliti di pusat penelitian X. Ada pun hasilnya adalah tingkat efikasi diri setiap peneliti berdasarkan jenjang jabatan fungsionalnya memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Efikasi diri pada peneliti yang tinggi tidak dibarengi dengan keterampilan komunikasi organisasinya, sehingga iklim organisasi menjadi kurang kondusif untuk melakukan sharing knowledge ataupun informasi. Adapun dalam komunikasi personal peneliti tidak memiliki kendala dan bahkan cukup baik untuk dapat berkomunikasi. Hal itu menggambarkan bahwa efikasi diri yang tinggi namun keterampilan komunikasi yang kurang baik akan menjadikan produktivitas organisasi menjadi kurang optimum
Maintain Print Media Market through Augmented Reality Content (Study on Tribun Jogja Newspaper) [Mempertahankan Pasar Media Cetak melalui Konten Augmented Reality (Studi pada Koran Tribun Jogja)]
The use of technology is an important thing that must be considered by the media business in order to maintain its existence. Tribun Jogja, a local print newspaper in D.I. Yogyakarta and Central Java region south, adding Augmented Reality (AR) content as an effort to integrate technology with conventional media. This study uses case study methody to analyze how the process of adding AR content to Tribun Jogja print newspaper and its impact on the internal organization. From the result of research got that AR content making is done through the decision process of the editorial meeting by considering the availability of data and characteristics of news/information. The use of AR technology has a strategic position, that is to prepare for change and branding as a local print newspaper that is always ahead of innovation. In the organization, the addition of AR affects the changes in news management and also the demands of human resources capable of producing multiplatform news.Penggunaan teknologi adalah hal penting yang harus diperhatikan oleh pelaku bisnis media agar dapat mempertahankan eksistensinya. Tribun Jogja, koran cetak lokal di wilayah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan, menambahkan konten Augmented Reality (AR) sebagai upaya memadukan teknologi dengan media konvensional. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus untuk menganalisis bagaimana proses penambahan konten AR pada koran cetak Tribun Jogja dan dampaknya pada internal organisasi. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pembuatan konten AR dilakukan melalui proses keputusan rapat redaksi dengan mempertimbangkan ketersediaan data dan karakteristik berita/informasi. Penggunaan teknologi AR mempunyai posisi strategis, yaitu untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dan branding sebagai koran cetak lokal yang selalu terdepan dalam inovasi. Dalam organisasi, penambahan AR berpengaruh pada perubahan manajemen pemberitaan dan tuntutan tersedianya SDM yang mampu menghasilkan berita multiplatform.
Policy of Information and Communication Technologies to Promote the Formation of Future Business Models (Kebijakan Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Mendorong Pembentukan Model Bisnis Masa Depan)
ICT industry becomes a driver of change, many sectors that can change not only from the telecommunications sector. ICT developments are spurring the digital economy enables sectors that had previously been in the safe zone, being threatened because of the presence of substitute industry that has begun to emerge. Trend to date, some companies use Internet-based applications to support the marketing of their products. Not only on the promotional activities featuring products that are known by consumers, even some companies use Internet technology to support transactions, such as the sale of products to consumers. Innovation and competition to push toward creative destruction, there is a long lost services and value added is replaced by the presence of ICT innovation. The government must be present and ready to anticipate the changes that may occur due to the development of ICT, which grew rapidly at the policy level. The study is qualitative and done through the study of literature and focused discussions involving experts and stakeholders concerned. the results of this study are as advice on policy will be taken by the government to the ICT industry sector forward in the face of the rapid innovation of ICT.Industri TIK menjadi driver dari suatu perubahan. Banyak sektor yang dapat berubah dan tidak hanya pada sektor telekomunikasi. Perkembangan TIK yang memacu terjadinya ekonomi digital memungkinkan sektor-sektor yang sebelumnya sudah dalam zona aman, menjadi terancam karena kehadiran substitusi industri yang sudah mulai bermunculan. Tren terbarui, beberapa perusahaan menggunakan aplikasi berbasis internet untuk mendukung pemasaran produknya. Tidak hanya pada kegiatan promosi yang menampilkan produk supaya diketahui oleh para konsumennya, bahkan beberapa perusahaan menggunakan teknologi internet ini untuk mendukung kegiatan transaksi, misalnya penjualan produk kepada konsumennya. Inovasi dan kompetisi memungkinkan untuk mendorong ke arah creative destruction, ada layanan lama yang hilang dan nilai tambahnya tergantikan oleh kehadiran inovasi TIK. Pemerintah harus hadir dan siap mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi karena perkembangan TIK yang semakin pesat pada tataran kebijakan. Kajian bersifat kualitatif dan dilakukan dengan melalui studi literatur dan diskusi terfokus yang melibatkan para pakar serta pemangku kebijakan terkait. Hasil kajian ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi untuk kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah dalam sektor industri TIK kedepan dalam menghadapi pesatnya inovasi TIK
Stringer Legality and Jurnalistic Works in Television Media (Legalitas Stringer dan Karya Jurnalistik dalam Media Televisi)
Recently, Media of Television industry is growing rapidly. There are many problems arise, including the rise of contracted media workers who are separated from work agreement system with media companies. It has a duty to get and excavate news of television media without being clearly bound with media companies. This practice is known as stringer. This research attempts to examine the practice of stringer, stringer legality, and the legality of the work of journalistic video produced. Both of them become long term materials in discussing media employment legislation. This study uses the case study method of Robert K. Yin with single case study design that consists of several sub-unit analyses. The purposes of this research are: to understand more deeply about the practice of stringer, the legality of the stringer and the legality of resulting video journalistic work produced. The results of this case show that firstly, the practice of stringer in the television media becomes as a practice of mutualism symbiotic between stringer, contributors in the region and media companies. Secondly, the stringer position in media companies is not recognized as an official work even though their efforts and their works are spread in national media. The practice of stringer is not legal because it is in the vagueness of value, rights and obligations as an official media worker. Thirdly, the legality of the work, the journalistic videos are produced by stringer, it is illegal although claimed to be the work of official journalistic. It contravenes of code of journalistic ethics, because the preaching of the work that has been published in a media is basically protected as a result of copyright and included in the intellectual property rights category. Industri media televisi berkembang pesat, kebutuhan tenaga kerja media turut meningkat, sehingga memungkinkan lahir dan hadirnya pekerja-pekerja media kontrak yang lepas dari sistem perjanjian kerja dengan perusahaan media. Mereka bertugas mencari dan menggali berita tanpa terikat secara jelas dengan perusahaan media. Praktik ini dikenal dengan istilah stringer. Persoalan yang muncul dan menjadi fokus penelitian ini, yaitu legalitas stringer dan legalitas karya video jurnalistik. Keduanya menjadi bahan dalam membahas tentang undang-undang tenaga kerja media. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus Robert K.Yin dengan desain studi kasus tunggal terjalin yang terdiri dari beberapa sub unit analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pertama, praktek stringer dalam industri media televisi menjadi semacam praktik simbiosis mutualisme antara stringer, kontributor di daerah dan perusahaan media. Kedua, posisi stringer dalam perusahaan media tidak diakui sebagai pekerja resmi meskipun tenaga dan karyanya tersebar di media nasional. Praktik stringer ini tidak legal sebab berada pada ketidakjelasan nilai, hak serta kewajibannya sebagai pekerja media yang resmi. Ketiga, secara legalitas karya. Video jurnalistik yang dihasilkan oleh stringer termasuk illegal meskipun diklaim sebagai karya jurnalis resmi. Hal ini melanggar kode etik jurnalistik sebab pemberitaan hasil karya yang telah dimuat di media pada dasarnya dilindungi sebagai hasil karya cipta dan masuk dalam kategori intellectual property right.
Development of Travel Attractions through the Design of Google SketchUp Based Coastal Tourist Map (Pengembangan Daya Tarik Wisata melalui Perancangan Peta Wisata Pantai Berbasis Google SketchUp)
Cartography is a science on making a map or globe. As of now the field of cartography constitute visualization in 2-dimensional form (2D). In order to fix the quality of the cartography, a map similar to thereal situation in three-dimensional visualization (3D) can be created. The research aims to design a beach tourism created by Google SketchUp application. Designing of 3D map is in accordance with the rules of software engineering that starts from planning, modeling and construction. Google SketchUp is an excellent graphics software in the manufacture of physical design such as building design, home design, etc. In addition to ease of building design, the excellence of Google SketchUp also makes it easy to build a 3D design that gives more interesting impression compared to 2D design. The instrument of expert validation performed by 3 experts validator who is a lecturer State University of Makassar. Based on the results from validator clear that the system is proper to use, thus agree with the decent category used as tourism information material which is more interesting attractions. This is evidenced by the utilization of android based applications.Kartografi merupakan suatu ilmu dalam pembuatan peta atau globe. Selama ini bidang ilmu kartografi merupakan visualisasi dalam bentuk dua dimensi (2D). Untuk memperbaiki kualitas kartografi tersebut, maka dapat dibuat peta dalam bentuk visualisasi yang menyerupai dunia nyata yakni peta dalam bentuk tiga dimensi (3D). Penelitian ini bertujuan untuk merancang peta wisata pantai dengan menggunakan aplikasi Google SketchUp. Perancangan desain peta 3D dilakukan dengan kaidah rekayasa perangkat lunak (software engineering) yang dimulai dari proses perencanaan (planning), modeling (perancangan), dan konstruksi (construction). Google SketchUp merupakan software grafis yang sangat andal dalam membuat suatu desain fisik seperti gedung, rumah, dan lain-lain. Selain mempermudah dalam membangun desain, keunggulan dari Google SketchUp juga mempermudah membangun rancangan 3D yang berguna untuk memberikan kesan yang lebih menarik bila dibandingkana aplikasi yang bersifat abstrak atau 2D. Instrumen validasi ahli dilakukan dengan tiga validator yang ahli dibidangnya. Berdasarkan hasil telaah validator, aplikasi ini dinyatakan layak sehingga memenuhi kategori layak digunakan sebagai bahan informasi objek wisata yang lebih menarik. Hal ini dibuktikan dengan pemanfaatan aplikasi berbasis android
Quality Measurement of Ministry of RI Website with Combination of Linear Weightage Method and Consistent Fuzzy Preference Relations (Mengukur Kualitas Website Kementerian RI dengan Kombinasi Metode Linear Weightage dan Consistent Fuzzy Preference Relations)
This paper provides a new approach in combining the quality of some ministry websites through quantitative and qualitative approach. Quantitative data are obtained by performing measurement using web diagnostic tools while the qualitative approach is carried out through expert judgement. Then the weights will be calculated from the data obtained both quantitatively and qualitatively by applying linear weightage for quantitative data and using consistent fuzzy preference relations method for qualitative data. In the final stage, those two methods will be combined so that we will obtain the final weights which are the representation of the quality of websites measured.The results obtained by this research can be considered by the relevant ministry to develop their websites.Artikel ini memberikan pendekatan baru dalam membandingkan kualitas beberapa laman kementerian RI melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif didapatkan dengan melakukan pengukuran menggunakan web diagnostic software sedangkan pendekatan kualitatif dilakukan melalui expert judgement. Data yang didapatkan baik secara kuantitatif maupun kualitatif akan dihitung bobot (weight) dengan mengaplikasikan metode linear weightage. Data kualitatif dengan metode consistent fuzzy preference relations digunakan untuk menghitung bobot dari expert judgement yang telah didapatkan. Kemudian kedua metode tersebut akan dikombinasikan sehingga akan didapatkan bobot akhir yang merupakan representasi dari kualitas website yang telah diukur. Hasil pembobotan yang didapatkan dalam penelitian ini dapat dijadikan rujukan dan pertimbangan untuk pihak kementrian terkait untuk melakukan pengembangan website yang dikelolanya
Data Warehouse Development for UPN “Veteran” Jakarta Library (Perancangan Data Warehouse pada Perpustakaan UPN “Veteran” Jakarta)
This article presents the design and development of data warehouse on UPN "Veteran" Jakarta campus library. The method was done by conducting observation and analysis of current system, continued by applying the nine steps (Nine-Step Methodology) to design snowflake schema. The results consist of data warehouse that provides global, relevant, and integrated information that can be seen from various points of view and is expected to support the decision making processes on UPN "Veteran" Jakarta campus library.Artikel ini menyajikan hasil dari proses desain dan pengembangan data warehouse untuk perpustakaan kampus Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Metode analisis dilakukan melalui observasi terhadap kondisi eksisting sistem, kemudian dilanjutkan dengan mengimplementasikan Nine-Step Methodology untuk mendesain skema Snowflake. Hasil penelitian ini adalah sebuah data warehouse yang menyajikan informasi yang menyeluruh, relevan dan terintegrasi dan dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, yang diharapkan dapat bermanfaat untuk menunjang proses pengambilan keputusan oleh pihak perpustakaan kampus Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
Parenting Patterns for Children in Accessing Television in Indonesia (Pola Asuh Orang Tua Terhadap Akses Televisi Anak di Indonesia)
Television is a medium of communication that can be used for education, but at the same time may threaten the future of children\u27s education. Therefore, the informations broadcasted by the television need to be managed as well as translated by parents to children. The treatment is also essential for children in Indonesia, where most of population are watching TV. It is why the adopted parenting style in Indonesia becoming essential too to be determined. It has been found that there are four types of parenting in Indonesia.Some of parents are aware of information, and vice versa. Besides, also found that every parents are ever silent.Televisi adalah media komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, namun sekaligus mengancam masa depan pendidikan anak. Oleh karena itu, informasi dari televisi yang menerpa anak memerlukan pengendali dan penerjemah, yaitu orang tua. Pengasuhan ini juga penting bagi anak di Indonesia yang mayoritas penduduknya mengakses televisi. Berdasakan hal tersebut, maka menjadi penting untuk mengetahui pola asuh yang diterapkan oleh orang tua di Indonesia sehubungan dengan akses anak terhadap televisi. Di Indonesia ditemukan empat tipe penerapan pola asuh. Pada masing-masing tipe pola asuh, terdapat orang tua yang peduli informasi, maupun sebaliknya. Selain itu,semua orang tua pernah bersikap diam