Jurnal Pekommas
Not a member yet
    263 research outputs found

    Implementasi Algoritma Boyer-Moore Majority Vote pada Sistem Manajemen Inventory Berbasis Internet of Things

    No full text
    Gold jewelry stores have to deal with various problems involving inventory control and inventory analytics in their day-to-day operations. Many Indonesian gold retailers tackle these problems by using a paperbased recording method. This method is not time efficient and adds more workload into the inventory management processes, such as stocktaking and popular item category classification. Stocktaking gets more difficult as more items are added to the inventory. These added workload and time increase the risk for items to go missing without being immediately documented. This paper proposes an Internet of Things solution that makes inventory stocktake more streamlined by introducing an RFID system with a web application that allows an operator to identify items during a stocktake instantly. In addition, store managers can also find trends in item categories using the Boyer-Moore majority vote algorithm. Our evaluation show that this system can effectively record data items in one scan with an average accuracy of 93.16% for a tray of 5 up to 25 items.Toko perhiasan emas menghadapi berbagai masalah yang melibatkan pengendalian inventaris dan analitik inventaris dalam operasi sehari-hari mereka. Banyak pengecer emas Indonesia mengatasi masalah ini dengan menggunakan metode pencatatan pada kertas. Metode ini tidak efisien dan menambah beban kerja ke dalam proses manajemen inventaris, seperti inventarisasi dan klasifikasi kategori barang populer. Inventarisasi menjadi lebih sulit karena lebih banyak item ditambahkan ke inventaris. Penambahan beban kerja dan waktu ini meningkatkan risiko barang hilang tanpa segera didokumentasikan. Makalah ini mengusulkan solusi Internet of Things yang membuat inventaris lebih efisien dengan memperkenalkan sistem RFID dengan aplikasi web yang memungkinkan operator untuk mengidentifikasi item selama inventarisasi secara langsung. Selain itu, manajer toko juga dapat menemukan tren kategori barang menggunakan algoritma Boyer-Moore Majority Vote. Evaluasi menunjukkan bahwa sistem ini dapat secara efektif merekam item data dalam sekali scan dengan akurasi rata-rata 93,16% untuk baki yang terdiri dari 5 hingga 25 item

    Analisis Klasterisasi Patok Jalan Berbasis Geospasial Menggunakan K-Means dan Evaluasi Davies-Bouldin

    No full text
    Geographic Information System (GIS) has become a very important tool for spatial analysis and decision making in various fields. In this paper, the analysis process of grouping Kilometer Hectometer (KM/HM) road milestones use the K-Means method in the context of GIS. The KM/HM road milestones are road equipment made of concrete or signboards equipped with texts containing information about the distance and the name of the city to be traveled by road users. The length of the road that has such a long distance will make it difficult to maintain and to manage the road milestones that are scattered throughout the road. Currently, the process of mapping the location of the road milestones is still being carried out using the conventional method, in which the survey officer records the data on paper and measures it with the vehicle\u27s odometer. However, this method often causes data loss, errors in determining the location, and lacks photographic evidence as a reference for assessing the condition of the road milestones. The role of GIS for survey officers is to map the road milestones and to visualize the road milestone data. The main objective is to gain meaningful insights from the spatial distribution of these road milestones, which will assist in better navigation and infrastructure planning. The K-Means method separates clusters from KM/HM road milestones which are identified based on geographical proximity. To assess the quality of these clusters, the evaluation is conducted using the Davies-Bouldin index (DBI) which provides a quantitative measure of inter-group similarity and within-group dissimilarity. For officers, it can be useful to find location points for the road milestones that have high damage conditions to prioritize to be repaired first. Based on the test results using DBI, it produces a value close to zero, which is equal to 0.1656, indicating that the clusters formed have very good quality.Sistem Informasi Geografis (SIG) telah menjadi alat yang sangat penting untuk analisis spasial dan pengambilan keputusan di berbagai bidang. Dalam paper ini, proses analisis tentang pengelompokan patok Kilometer Hektometer (KM/HM) menggunakan metode K-Means dalam konteks SIG. Patok KM/HM merupakan perlengkapan jalan yang terbuat dari beton atau papan rambu yang dilengkapi tulisan yang berisi informasi tentang jarak dan nama kota yang akan ditempuh oleh pengguna jalan. Panjang jalan yang memiliki jarak begitu jauh akan menyulitkan untuk pemeliharaan dan pengelolaan patok yang tersebar di seluruh ruas jalan. Saat ini, proses pemetaan lokasi patok masih dilakukan dengan metode konvensional, yaitu petugas survei mencatat data di kertas dan mengukur dengan odometer kendaraan. Namun, cara ini sering menyebabkan terjadinya kehilangan data, kesalahan dalam menentukan lokasi, serta tidak memiliki bukti foto sebagai acuan untuk menilai kondisi patok. Peran SIG bagi petugas survei dapat melakukan pemetaan patok dan memvisualisasikan data patok. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan wawasan yang bermakna dari distribusi spasial patok-patok ini, yang akan membantu dalam navigasi yang lebih baik dan perencanaan infrastruktur. Metode K-Means menjadikan klaster terpisah dari patok KM/HM yang diidentifikasi berdasarkan kedekatan geografis. Untuk menilai kualitas klaster ini, evaluasi menggunakan indeks Davies-Bouldin (DBI), yang memberikan ukuran kuantitatif dari kemiripan antar-kelompok dan ketidaksamaan dalam kelompok. Bagi petugas dapat bermanfaat untuk mencari titik lokasi patok yang memiliki kondisi kerusakan tinggi untuk diprioritaskan perbaikan terlebih dahulu. Berdasarkan hasil pengujian menggunakan DBI menghasilkan nilai hampir mendekati nol yaitu sebesar 0,1656 menunjukkan bahwa klaster yang terbentuk memiliki kualitas sangat baik

    Perbandingan Akurasi Prediksi Kerusakan CPU Antara Teknik Certainty Factor dan Forward Chaining

    No full text
    The CPU plays a vital role in determining the performance of a computer system in contemporary computing. If the CPU sustains damage, it may result in significant interruption to the computer\u27s functioning. This study presents a computational technique that aims to enhance the accuracy of CPU damage predictions. The system utilises fundamental knowledge of damage diagnosis and is validated via evaluating 11 early damage symptoms that are often seen. The Certainty Factor and Forward Chaining approaches ascertain CPU damage by quantifying the degree of truth in the expert\u27s opinion conclusions via a comparison of the symptoms of harm. The second algorithm assesses the confidence level in a development by considering the weight assigned to the system by two parties: the user and the expert. The suggested algorithm yields the mean accuracy of the certainty factor approach in diagnosing computer damage utilising the constructed system. The diagnostic system has a precision rate of 84.9%, indicating that 9 out of 10 diagnoses made by the system align with those made by an expert. Next, the outcomes of the forward chaining algorithm test. All questions about symptoms were answered affirmatively, except for one test which had a negative response. A total of 39 diagnoses were obtained, with an average value of 82.9%. The study findings indicate that the suggested confidence factor method is more suited for use in embedded systems or web-based applications, however it is constrained by low processing.CPU memainkan peran penting dalam menentukan kinerja sistem komputer dalam komputasi kontemporer. Jika CPU mengalami kerusakan, hal ini dapat mengakibatkan gangguan signifikan pada fungsi komputer. Penelitian ini menyajikan teknik komputasi yang bertujuan untuk meningkatkan akurasi prediksi kerusakan CPU. Sistem ini memanfaatkan pengetahuan dasar diagnosis kerusakan dan divalidasi melalui evaluasi 11 gejala awal kerusakan yang sering terlihat. Pendekatan Certainty Factor dan Forward Chaining memastikan kerusakan CPU dengan mengukur tingkat kebenaran kesimpulan pendapat ahli melalui perbandingan gejala kerusakan. Algoritma kedua menilai tingkat kepercayaan dalam suatu pengembangan dengan mempertimbangkan bobot yang diberikan pada sistem oleh dua pihak: pengguna dan ahli. Algoritma yang disarankan menghasilkan akurasi rata-rata pendekatan faktor kepastian dalam mendiagnosis kerusakan komputer menggunakan sistem yang dibangun. Sistem diagnostik memiliki tingkat presisi sebesar 84,9%, yang menunjukkan bahwa 9 dari 10 diagnosis yang dibuat oleh sistem selaras dengan diagnosis yang dibuat oleh pakar. Selanjutnya hasil pengujian algoritma forward chaining. Semua pertanyaan tentang gejala dijawab dengan positif, kecuali satu tes yang memberikan respon negatif. Didapatkan total 39 diagnosa dengan nilai rata-rata 82,9%. Temuan penelitian menunjukkan bahwa metode faktor kepercayaan yang disarankan lebih cocok untuk digunakan dalam sistem tertanam atau aplikasi berbasis web, namun terkendala oleh rendahnya pemrosesan

    Dampak Tiktok: Dekoding Pilihan Pembelihan Fashion Pada Generasi Z Melalui Generasi Strategi Media Sosial dan Inovasi Produk

    No full text
    This research investigates the impact of TikTok marketing strategies on brand image and purchasing decisions among Generation Z consumers in Indonesia, with a specific focus on the mediating role of product innovation. Utilizing a quantitative approach through an online survey spanning three months, the study collected data from diverse regions without geographical limitations. The sample consisted of 150 Generation Z consumers actively using TikTok and expressing interest in fashion products. Structural Equation Modeling (SEM) analysis using Amos software was employed for data analysis. The results revealed that TikTok marketing strategies significantly influence brand image, supporting Hypothesis 1. Similarly, product innovation has a significant positive effect on brand image, confirming Hypothesis 2. However, TikTok marketing strategies were found not to significantly impact purchasing decisions (Hypothesis 3 rejected), while product innovation significantly influences purchasing decisions among Generation Z consumers (Hypothesis 4 accepted). Additionally, brand image was identified as a significant factor affecting purchasing decisions (Hypothesis 5 accepted). The study concludes that a positive brand image is shaped by effective TikTok marketing and innovative product presentation, influencing the preferences of Generation Z consumers. Despite TikTok marketing\u27s limited impact on purchasing decisions, product innovation plays a crucial role in shaping consumer choices. Practical implications for the fashion industry targeting Generation Z are discussed, emphasizing the need for integrated marketing strategies aligning with innovative product offerings. Recommendations for future research include exploring additional factors and deeper analyses of consumer preferences on the TikTok platform, incorporating demographic and psychographic elements.Penelitian ini meneliti dampak strategi pemasaran TikTok terhadap citra merek dan keputusan pembelian di kalangan konsumen Generasi Z di Indonesia, dengan fokus khusus pada peran mediasi inovasi produk. Dengan pendekatan kuantitatif melalui survei online selama tiga bulan, penelitian mengumpulkan data dari berbagai wilayah tanpa batasan geografis. Sampel terdiri dari 150 konsumen Generasi Z yang aktif menggunakan TikTok dan menunjukkan minat pada produk fashion. Analisis Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan perangkat lunak Amos digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran TikTok secara signifikan memengaruhi citra merek, mendukung Hipotesis 1. Demikian pula, inovasi produk memiliki efek positif yang signifikan terhadap citra merek, mengkonfirmasi Hipotesis 2. Namun, strategi pemasaran TikTok tidak ditemukan memiliki dampak signifikan pada keputusan pembelian (Hipotesis 3 ditolak), sementara inovasi produk secara signifikan memengaruhi keputusan pembelian di kalangan konsumen Generasi Z (Hipotesis 4 diterima). Selain itu, citra merek diidentifikasi sebagai faktor signifikan yang memengaruhi keputusan pembelian (Hipotesis 5 diterima). Penelitian ini menyimpulkan bahwa citra merek positif dibentuk oleh pemasaran TikTok yang efektif dan presentasi produk inovatif, memengaruhi preferensi konsumen Generasi Z. Meskipun dampak pemasaran TikTok terbatas pada keputusan pembelian, inovasi produk memainkan peran penting dalam membentuk pilihan konsumen. Implikasi praktis untuk industri fashion yang menargetkan Generasi Z dibahas, menekankan perlunya strategi pemasaran terintegrasi yang sejalan dengan penawaran produk inovatif. Rekomendasi untuk penelitian masa depan mencakup eksplorasi faktor tambahan dan analisis lebih mendalam terhadap preferensi konsumen di platform TikTok, dengan memasukkan elemen demografis dan psikografis

    Adopsi TIK di DPR RI: Analisis TAM dan Pelajaran dari Parlemen Inggris

    No full text
    This study analyzes the adoption of Information and Communication Technology (ICT) in the Indonesian House of Representatives through the lens of the Technology Acceptance Model (TAM) and draws lessons from the UK Parliament. The analysis is divided into four parts: 1) Historical context and policy framework of ICT adoption in the Indonesian House of Representatives; 2) Policy and strategy of ICT adoption in the Indonesian House of Representatives; 3) Best practice from the UK Parliament; and 4) Challenges of Big Data Management in the Indonesian House of Representatives. The study provides an in-depth understanding of ICT adoption in the Indonesian House of Representatives and valuable lessons from the UK Parliament experience to enhance ICT adoption effectiveness. Study conclusions include: 1) The importance of a Big Data system, particularly for bill digest summaries; 2) The early stage of ICT adoption in the Indonesian House of Representatives; 3) Prioritization of bill digest availability to enhance public engagement in the legislative process; 4) Crucial collaboration with state institutions for Big Data integration, aligned with the national one data initiative. The Indonesian House of Representatives plays a central role in providing legislative data in Indonesia.Studi ini menganalisis adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia melalui pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) dan pembelajaran dari Parlemen Inggris. Analisis terbagi menjadi empat bagian: 1) Konteks historis dan kerangka kebijakan adopsi TIK di DPR RI; 2) Kebijakan dan strategi adopsi TIK di DPR RI; 3) Pembelajaran dari Parlemen Inggris; dan 4) Tantangan Manajemen Big Data di DPR RI. Studi ini memberikan pemahaman mendalam tentang adopsi TIK di DPR RI dan pelajaran dari pengalaman Parlemen Inggris. Kesimpulan studi termasuk: 1) Pentingnya sistem Big Data, terutama untuk ringkasan Rancangan Undang-Undang; 2) Tahap awal adopsi TIK di DPR RI; 3) Prioritas pada ketersediaan ringkasan rancangan undang-undang untuk meningkatkan keterlibatan publik dalam proses legislasi; 4) Kolaborasi penting dengan lembaga negara untuk integrasi Big Data, sejalan dengan inisiatif satu data nasional. DPR RI memiliki peran sentral dalam penyediaan data legislatif di Indonesia

    Merawat Kekompakan: Mengurai Dinamika Komunikasi dalam Hubungan Keluarga Jawa antara Suami dan Istri

    No full text
    The dynamics of couples\u27 relationships significantly impact a family\u27s unity and harmony. This hinges on how spouses interact and communicate, influenced by patriarchal or matrilineal views they uphold. Communication dynamics in these relationships direct family goals. This study delves into how Javanese couples nurture their bonds. Employing qualitative methods, it includes in-depth interviews and group discussions with seven couples, selected based on education, socio-economic status, marriage duration, careers, religious values, and motives. Findings show Javanese couples favor dialogue over conflict, opting for a collaborative and compromising approach. They uphold mutual trust and flexibility in financial matters ("sing longgar endi"). Family discussions during tension aim to preserve collective values. Domestic work communication highlights flexibility in task distribution. The research underscores Javanese couples\u27 connection to unique ethics, social norms, philosophies, gender perspectives, structures, language, traditions, myths, and religion.Dinamika hubungan pasangan sangat memengaruhi kesatuan dan harmoni keluarga. Ini tergantung pada bagaimana pasangan berinteraksi dan berkomunikasi, dipengaruhi oleh pandangan patriarki atau matrilineal yang mereka anut. Dinamika komunikasi dalam hubungan ini mengarahkan tujuan keluarga. Studi ini menggali bagaimana pasangan Jawa merawat ikatan mereka. Dengan menggunakan metode kualitatif, termasuk wawancara mendalam dan diskusi kelompok dengan tujuh pasangan, dipilih berdasarkan pendidikan, status sosial-ekonomi, durasi pernikahan, karier, nilai agama, dan motif. Temuan menunjukkan pasangan Jawa lebih suka dialog daripada konflik, memilih pendekatan kolaboratif dan kompromi. Mereka menjunjung tinggi saling percaya dan fleksibilitas dalam urusan keuangan ("sing longgar endi"). Diskusi dalam keluarga saat ketegangan bertujuan untuk mempertahankan nilai kolektif. Komunikasi pekerjaan rumah menyoroti fleksibilitas dalam distribusi tugas. Penelitian ini menegaskan keterhubungan pasangan Jawa dengan etika unik, norma sosial, filsafat, perspektif gender, struktur, bahasa, tradisi, mitos, dan agama

    Partisipasi Pengguna Internet Indonesia dalam Pemanfaatan LAPOR! sebagai Layanan Pengaduan Publik

    No full text
    The People\u27s Online Aspiration and Complaints Service (LAPOR!) was organized as an effort to increase public participation in government administration. LAPOR! is developing quickly, integrated with many central and regional government agencies; and it is officially designated as a general application for public complaint service in Electronic-Based Government System (SPBE). However, with the support of internet-based digital channels, the dominant access channels for LAPOR! users, it is not yet known how the public will participate in using LAPOR! as a public complaint service in various regions in Indonesia. This research aims to reveal the public participation of internet users according to provinces throughout Indonesia, by measuring the participation ratio as a basis for determining the level of participation in each province. Referring to the average national participation ratio (0.277), the research identified 15 provinces with high participation rates and 19 provinces with low participation rates. Among the provinces with high participation rates, five provinces meet the criteria for dominant participation rates, namely DKI Jakarta, South Kalimantan, Banten, DI Yogyakarta, and Central Kalimantan.Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR!) diselenggarakan sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi publik dalam penyelenggaraan pemerintah. LAPOR! berkembang dengan cepat, terintegrasi dengan banyak instansi pemerintah pusat maupun daerah dan ditetapkan secara resmi sebagai aplikasi umum layanan pengaduan publik dalam Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) . Namun, dengan dukungan kanal digital berbasis internet yang menjadi kanal akses dominan pengguna LAPOR!, belum diketahui bagaimana partisipasi publik pengguna internet dalam memanfaatkan LAPOR! sebagai layanan pengaduan publik di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengungkap partisipasi publik pengguna internet menurut provinsi di seluruh Indonesia, melalui pengukuran rasio partisipasi sebagai dasar penentuan tingkat partisipasi masing-masing provinsi. Mengacu pada rerata rasio partisipasi nasional (0,277), penelitian mengidentifikasi 15 provinsi dengan tingkat partisipasi tinggi dan 19 provinsi dengan tingkat partisipasi rendah. Di antara provinsi-provinsi dengan tingkat partisipasi tinggi, terdapat lima provinsi yang memenuhi kriteria tingkat partisipasi dominan, yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Banten, DI Yogyakarta, dan Kalimantan Tengah.&nbsp

    Identifikasi Anomali Transformator Menggunakan Algoritma Machine Learning AdaBoost

    No full text
    Electrical energy is one of the most important needs in the local area, concerning the provision of electrical power a transformer is needed to distribute electrical power to each house. The use of transformers in each area requires testing the oil content in them to assess the state of the transformer. The Duval Pentagon Method (DPM) and the Duval Triangle Method (DTM) can be used in tests to identify transformer interference. Owing to the vast quantity of transformers utilized in public energy distribution, the Adaboost machine learning method was applied to identify transformer disruptions. By categorizing test data on a dataset derived from tests conducted with the earlier DTM and DPM techniques, the AdaBoost algorithm predicts transformer disruptions. According to the findings of tests conducted using the best dataset, the division used 80% of the data for training and reserved 20% for testing, using a learning rate of 1 and an estimator of 400 for DTM. This resulted in an accuracy level of 91.1%, which is an excellent classification. In contrast, the DPM approach divides the dataset into 80% training and 20% testing, employs an estimator of 500, and has a learning rate of 0.5. This leads to an excellent classification accuracy rate of 84.9%.Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan terpenting di daerah, dalam hal penyediaan daya listrik diperlukan sebuah transformator untuk menyalurkan daya listrik ke setiap rumah. Penggunaan transformator di setiap daerah memerlukan pengujian kandungan minyak di dalamnya untuk menilai keadaan transformator. Metode Duval Pentagon (DPM) dan Metode Duval Triangle (DTM) dapat digunakan dalam pengujian untuk mengidentifikasi gangguan transformator. Karena banyaknya transformator yang digunakan dalam distribusi energi publik, metode machine learning Adaboost diterapkan untuk mengidentifikasi gangguan transformator dengan mengkategorikan data uji pada dataset yang berasal dari pengujian yang dilakukan dengan teknik DTM dan DPM sebelumnya dan algoritma AdaBoost memprediksi gangguan transformator. Di dalam pengujian yang dilakukan dengan menggunakan dataset yang terbaik untuk divisi tersebut menggunakan 80% data untuk data training dan 20% untuk pengujian, menggunakan laju pembelajaran 1 dan estimator 400 untuk DTM. Ini menghasilkan tingkat akurasi 91,1%, yang merupakan klasifikasi yang sangat baik. Sebaliknya, pendekatan DPM membagi kumpulan data menjadi 80% pelatihan dan 20% pengujian, menggunakan estimator 500, dan memiliki tingkat pembelajaran 0,5. Hal ini menghasilkan tingkat akurasi klasifikasi yang sangat baik sebesar 84,9

    Pengaruh Media Sosial terhadap Budaya Konsumsi Kuliner di Kalangan PNS Muda di Kota Besar

    No full text
    This research seeks to explore how social media influences and shapes communication behaviors related to culinary consumption among middle-class individuals, particularly young civil servants in major cities. Culinary trends today are predominantly driven by younger generations who are adept with technology. This study examines how young civil servants utilize social media to influence their own culinary habits as well as those of their families. Importantly, previous research has not specifically addressed the social media consumption behaviors of young civil servants or the potential risks they may encounter as public servants. Adopting a qualitative approach, The author conducted in-depth interviews with 10 young civil servants in one civil servant office in Jakarta. The findings indicate that Instagram serves as a primary resource for culinary information, with users frequently engaging with the "save" and "share" features. Some participants reported feeling a sense of addiction to culinary content, which often resulted in impulse purchases and a fear of missing out (FOMO). Additionally, social media-driven culinary choices are made not only to satisfy hunger but also to fulfill other personal motivationsPenelitian ini bertujuan menemukan bagaimana media sosial memengaruhi dan membentuk perilaku komunikasi kelas menengah dalam menentukan budaya konsumsi kuliner, dengan fokus pada PNS muda di kota besar. Tren kuliner saat ini banyak dikendalikan oleh generasi muda yang akrab dengan teknologi. Penelitian ini menggali penggunaan media sosial oleh PNS muda dalam membentuk kebiasaan konsumsi kuliner mereka dan keluarga. Belum ada penelitian sebelumnya yang secara spesifik membahas perilaku PNS muda dalam menggunakan media sosial untuk konsumsi, serta risiko yang mungkin timbul bagi mereka sebagai pelayan publik. Melalui pendekatan kualitatif, penulis melakukan wawancara mendalam dengan 10 PNS muda di satu kantor PNS di Jakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa Instagram digunakan untuk mencari informasi kuliner dengan kebiasaan utama menggunakan fitur "simpan" dan "bagi." Beberapa informan mengaku kecanduan dan sangat terpengaruh oleh konten kuliner, yang memicu pembelian impulsif dan FOMO (fear of missing out). Konsumsi kuliner yang dipengaruhi media sosial tidak hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga memenuhi motif lain

    Pembangunan Kamus Bilingual Bahasa Sahu Tala\u27i - Indonesia Menggunakan Algoritma Aho-Corasick

    No full text
    Nowadays, local languages gain less interest from the younger generation. This also happened to the Sahu Tala\u27i language which is a regional language originating from a tribe in the Sahu sub-district, West Halmahera district. Hence, users of this language are becoming fewer and will be threatened with extinction if not being consistently used. To preserve the language, this study built an Android-based bilingual, Sahu Tala\u27i, and Indonesian dictionary application, to provide access to the language for people in the Sahu sub-district and those who are interested in learning the language. This study uses the Aho-Corasick algorithm to accelerate word search by matching the strings used to determine the position of certain strings in a larger collection of strings. The test results showed that the implementation of the Aho-Corasick algorithm was successfully done to do a word search in the dictionary. Additionally, an audio feature to pronounce the word in the Sahu Tala\u27i accent/dialect and examples of the use of these words in sentences are provided in this bilingual dictionary.Saat ini, bahasa daerah kurang diminati oleh generasi muda. Hal ini juga terjadi pada bahasa Sahu Tala\u27i yang merupakan bahasa daerah yang berasal dari sebuah suku di kecamatan Sahu, kabupaten Halmahera Barat. Oleh karena itu, pengguna bahasa ini semakin sedikit dan akan terancam punah jika tidak digunakan secara konsisten. Untuk melestarikan bahasa tersebut, penelitian ini membangun sebuah aplikasi kamus dwibahasa, Sahu Tala\u27i dan Indonesia berbasis Android, untuk memberikan akses bahasa tersebut kepada masyarakat di kecamatan Sahu dan mereka yang tertarik untuk mempelajari bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan algoritma Aho-Corasick untuk mempercepat pencarian kata dengan mencocokkan string yang digunakan untuk menentukan posisi string tertentu dalam kumpulan string yang lebih besar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa implementasi algoritma Aho-Corasick berhasil dilakukan untuk melakukan pencarian kata dalam kamus. Selain itu, fitur audio untuk mengucapkan kata dalam logat/dialek Sahu Tala\u27i dan contoh penggunaan kata tersebut dalam kalimat juga disediakan dalam kamus dwibahasa ini

    149

    full texts

    263

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pekommas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇