SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2650 research outputs found

    PERANCANGAN FILM DOKUMENTER KESENIAN BANTENGAN “BANTENG LERENG PANDERMAN” DALAM UPAYA PELESTARIAN BUDAYA LOKAL

    No full text
    Wahyu, Dimas. 2016. Perancangan Film Dokumenter Kesenian Bantengan “Banteng Lereng Panderman” Dalam Upaya Pelestarian Budaya Lokal. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sarjono, M.Sn, (II) Gunawan Susilo S.Sn, M.Sn. ‘Kesenian bantengan’ merupakan salah satu kesenian yang dimiliki Kota Batu, saat ini kesenian tersebut mulai muncul kembali di beberapa wilayah Kota Batu. Perancangan film dokumenter ini adalah sebagai media informasi untuk memperkenalkan ‘Kesenian Bantengan’ kepada masyarakat. Media ini dipilih karena dapat mempresentasikan sebuah informasi melalui bentuk audio dan visual. Perancangan ini menggunakan metode prosedural ,yaitu metode yang menggunakan langkah kerja untuk menghasilkan suatu produk. Metode yang digunakan merupakan pengembangan metode yang diadaptasi dari Fajar Nugroho dengan tahapan dasar praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Metode ini kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan dalam perancangan film dokumenter ‘Kesenian Bantengan’ untuk menghasilkan sebuah produk baru sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Perancangan menghasilkan film dokumenter berjudul “Banteng Lereng Panderman”, dengan durasi 23 menit. Media pendukung dalam perancangan film dokumenter ini yaitu teaser film, baliho, x-banner, danjuga merchandise yang berupa topi dan kaos.

    Peningkatan Kemampuan Menulis Notasi Balok Melalui Metode Selfegio Pada Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 3 Kediri

    No full text
    Siti Rahayu Yayuk.2016. Peningkatan Kemampuan Menulis Notasi Balok Melalui Metode Sofegio Pada Siswa Kelas VIII-A SMP N 3 Kediri. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn. Kata Kunci : Peningkatan, Kemampuan Menulis, Metode Solfegio. Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran Seni Budaya sub bidang seni musik klas VIII-A SMPN 3 Kediri diketahui bahwa siswa dalam pembelajaran seni musik kurang bisa menulis notasi balok. Siswa terlihat kurang antusias dan kurang bersemangat.tingkat kerja sama siswa dalam kelas sangat kurang hal itu dapat dilihat dari masing-masing siswa yang kurang kooperatif pembelajaran. Seni Budaya sub bidang Seni Musik karena guru  hanya menerapkan metode ceramah dan tugas. Sebanyak 28 siswa dengan prosentase 82,3% siswa masih belum memenuhi kreteria yang sudah ditentukan KKM yaitu (75). Penelitian bertujuan untuk meningkatkan kualitas atau kemampuan menulis Notasi Balok  pada siswa kelas VIII-A SMPN 3 Kediri melalui penerapan Metode Solfegio. Penelitian yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas), dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, subjek penelitian berjumlah 34 siswa. Pelaksanaannya dilakukan dalam 2 siklus yaitu Siklus I dan Siklus II. Prosedur penelitian meliputi 4 tahap yaitu (1) Perencanaan (2) pelaksanaan tindakan (3)pengamatan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I, dari 34 siswa yang mencapai nilai di atas KKM (75) sejumlah 24 siswa dengan prosentase 70,5%, dan siswa yang mencapai nilai dibawah KKM (75) sejumlah 10 siswa dengan prosentase 29,5%. Oleh karena itu, dilakukan siklus II. Pada siklus II dari 34 siswa, yang mencapai nilai di atas KKM (75) sejumlah 33 siswa dengan prosentase 97,1%, dan siswa yang mencapai nilai dibawah KKM (75) sejumlah 1 siswa dengan prosentase 2,9%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan metode selfegio, siswa meningkatkan kemampuan menulis notasi balok. Berdasarkan hasil penelitian disarankan guru dapat menggunakan metode solfegio sebagai salah satu alternatif metode yang dapat digunakan pada setiap pembelajaran Seni Budaya sub bidang seni musik di semua kelas VIII.

    Peningkatan Kemampuan Menulis Notasi Balok Melalui Metode Sofegio Pada Siswa Kelas VIII-A SMP N 3 Kediri.

    No full text
    ABSTRAK Siti Rahayu Yayuk.2016. Peningkatan Kemampuan Menulis Notasi Balok Melalui Metode Sofegio Pada Siswa Kelas VIII-A SMP N 3 Kediri. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn. Kata Kunci : Peningkatan, Kemampuan Menulis, Metode Solfegio. Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran Seni Budaya sub bidang seni musik klas VIII-A SMPN 3 Kediri diketahui bahwa siswa dalam pembelajaran seni musik kurang bisa menulis notasi balok. Siswa terlihat kurang antusias dan kurang bersemangat.tingkat kerja sama siswa dalam kelas sangat kurang hal itu dapat dilihat dari masing-masing siswa yang kurang kooperatif pembelajaran. Seni Budaya sub bidang Seni Musik karena guru  hanya menerapkan metode ceramah dan tugas. Sebanyak 28 siswa dengan prosentase 82,3% siswa masih belum memenuhi kreteria yang sudah ditentukan KKM yaitu (75). Penelitian bertujuan untuk meningkatkan kualitas atau kemampuan menulis Notasi Balok  pada siswa kelas VIII-A SMPN 3 Kediri melalui penerapan Metode Solfegio. Penelitian yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas), dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, subjek penelitian berjumlah 34 siswa. Pelaksanaannya dilakukan dalam 2 siklus yaitu Siklus I dan Siklus II. Prosedur penelitian meliputi 4 tahap yaitu (1) Perencanaan (2) pelaksanaan tindakan (3)pengamatan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I, dari 34 siswa yang mencapai nilai di atas KKM (75) sejumlah 24 siswa dengan prosentase 70,5%, dan siswa yang mencapai nilai dibawah KKM (75) sejumlah 10 siswa dengan prosentase 29,5%. Oleh karena itu, dilakukan siklus II. Pada siklus II dari 34 siswa, yang mencapai nilai di atas KKM (75) sejumlah 33 siswa dengan prosentase 97,1%, dan siswa yang mencapai nilai dibawah KKM (75) sejumlah 1 siswa dengan prosentase 2,9%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan metode selfegio, siswa meningkatkan kemampuan menulis notasi balok. Berdasarkan hasil penelitian disarankan guru dapat menggunakan metode solfegio sebagai salah satu alternatif metode yang dapat digunakan pada setiap pembelajaran Seni Budaya sub bidang seni musik di semua kelas VIII.

    Peningkatan Kemampuan Memainkan Alat Musik Recorder melalui Penerapan Metode Modeling pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Nganjuk.

    No full text
    ABSTRAKIriani, Nunik. 2016. Peningkatan Kemampuan Memainkan Alat Musik Recorder melalui Penerapan Metode Modeling pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Nganjuk. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Dra. Ninik Harini, M.Sn.Kata Kunci: peningkatan kemampuan, alat musik recorder, metode modeling SMPKemampuan memainkan alat musik recorder sebagai pembelajaran pada materi pokok yaitu memainkan alat musik recorder pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 dengan kurikulum KTSP, siswa kelas VII-A SMPN 2 Nganjuk masih tergolong rendah, sehingga perlu diterapkan metode modeling karena nampaknya metode modeling dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memainkan alat musik recorder. Pemilihan metode modeling adalah suatu metode  yang memberikan contoh beberapa model baik secara langsung maupun melalui tayangan video, dimaksudkan untuk mempermudah siswa lebih tertarik dan mudah untuk memainkan alat musik recorder. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas VII-A SMPN 2 Nganjuk dalam memainkan alat musik recorder. Dengan menggunakan metode modeling nampaknya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memainkan alat musik recorder. Hal ini terbukti karena metode modeling sudah pernah diterapkan pada mata pelajaran yang sama yaitu materi mengapresiasi musik daerah.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdapat 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanan, pengamatan dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII-A SMPN 2 Nganjuk yang berjumlah 35 siswa. Jumlah siswa yang akan ditingkatkan sebanyak 22 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan tes, dokumentasi dan observasiBerdasarkan hasil pelaksanaan siklus I siswa tuntas dengan SKM 75 sebanyak 71,43 % dengan ketepatan teknik meniup alat dan ketepatan suara hasil tiupan. Keberhasilan siswa dalam memainkan alat musik recorder,  di siklus II siswa tuntas dengan ketepatan teknik meniup alat dan ketepatan suara hasil tiupan sebanyak 94,29 %. Dari hasil siklus I ke siklus II tersebut diperoleh data bahwa kemampuan memainkan alat musik recorder siswa dengan menggunakan metode modeling mengalami peningkatan sebanyak 22,86 %. Sedangkan keaktifan siswa di siklus I belum begitu nampak, baru di siklus II sudah mulai adanya keaktifan siswa karena adanya tayangan beberapa model dan adanya pemantapan materi.    Saran yang diharapkan dalam penelitian ini adalah dengan penerapan metode modeling hendaknya perlu diberikan beberapa contoh model baik secara langsung maupun melalui tayangan video baik secara individu maupun kelompok, dengan demikian siswa lebih tertarik dan lebih aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya dalam kemampuan memainkan alat musik recorder pada siswa kelas VII-A SMPN 2 Nganjuk

    Fantasia for String Orchestra Karya Musik Berbentuk Fantasia Orkestra Gesek

    No full text
    ABSTRAK FANTASIA FOR STRING ORCHESTRAKARYA MUSIK BERBENTUK FANTASIA ORKESTRA GESEKMahardika Septyo Aji Putra GariniUniversitas Negeri MalangEmail : [email protected]: Jurusan musik pendidikan ataupun murni umumnya identik dengan grup orkestra. Namun Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang belum mempunyai orkestra yang sifatnya serius dan mempunyai program tahunan. Karya musik ini diciptakan dengan tujuan Menciptakan dan mempresentasikan “Fantasia for String Orchestra” yang bersumber pada musik absolut. Metode penciptaan komposisi yang digunakan adalah metode pengelolaan musik tonal. Hasil dari penciptaan ini adalah sebuah karya musik berbentuk fantasia untuk orkestra gesek yang terdiri dari tiga bagian. Kata Kunci: Fantasia, String, Orkestra, Karya musikAbstract: Majoring in music education or purely generally synonymous with orchestras. However Study Program Dance and Music, State University of Malang does not have an orchestra that are serious and have an annual program. This musical work is created with the purpose of creating and presenting "Fantasia for String Orchestra" which is based on absolute music. Composition creation method is the method of management of tonal music. The results of this creation is a fantasia-shaped piece of music for string orchestra composed of three parts. Keywords: Fantasia, String, Orchestra, piece of musicJurusan musik pendidikan ataupun murni di universitas-universitas indonesia pada umumnya identik dengan grub orkestra, namun Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang belum mempunyai orkestra tetap yang sifatnya bisa menjadi lahan apresiasi mahasiswa dan mempunyai agenda rutin program tahunan. Kemudian pencipta membuat komposisi ini dengan maksud bisa menjadi bahan literatur skripsi penciptaan dan bisa menjadi apresiasi bagi mahasiswa musik khususnya. Skala musik yang digunakan adalah diatonis, kemudian komposisi ini ditata sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah komposisi dengan struktur homophonic dan berbentuk fantasia yang terdiri dari tiga bagian dan dibedakan menjadi tiga jenis tempo. Bagian pertama dengan tempo Allegro atau cepat, bagian kedua dengan tempo largo atau  lambat, dan bagian ketiga dengan tempo andante/ sedang.Karya musik ini dibuat berdasarkan konsep musik absolute, yaitu musik yang dibuat berdasarkan hitungan ilmu harmoni dan menggunakan teori musik klasik. Setiap bagian mempunyai perbedaan, contohnya pada bagian pertama mempunyai suasana ceria ibarat orang yang menari dan melompat-lompat. Bagian kedua mempunyai suasana yang beda juga, yaitu dengan keagungan dan keseriusan yang ditimbulkan dari efek tempo pelan dan permainan dinamika. Selanjutnya bagian ketiga mempunyai dua suasana, yang pertama suasana yang sangat mencekam, dan yang kedua ibarat setelah menggapai suatu mimpi yang lama di impikan dengan sebuah keseriusan.Penciptaan karya musik ini pada dasarnya terinspirasi dari musik klasik barat yang penuh dengan ornamen nada, variasi dan harmoni. Menurut Blume (Karl-Edmud,1993:76) musik klasik adalah karya seni musik, yang sempat mengintikan daya ekspresi dan bentuk bersejarah sedemikian hingga terciptalah suatu ekspresi yang meyakinkan dan dapat bertahan terus.Bentuk musik yang akan diciptakan ini adalah berbentuk fantasia. Kata fantasia berarti komposisi musik yang di ciptakan berdasarkan teknik yang mengandalkan improvisasi komposisi. Fantasia mempunyai struktur di dalamnya yaitu eksposisi, development dan rekapitulasi.METODEMetode yang digunakan dalam penciptaan karya ini adalah menggunakan ilmu harmoni untuk karya musikskala diatonis yang di susun oleh (Prier 2012:84) dalam bukunya yang berjudul  Ilmu Harmoni.Langkah PertamaMenentukan nada dasar dan nada-nada yang masuk dalam tangga nada diatonis.Menentukan nada pengantar untuk menuju ke nada dasar.Membuat melodi berdasarkan gerakan-gerakan pada masing-masing kalimat lagu.Membuat motif-motif laguLangkah Ke duaTahap ke dua ini membuat kompoisi pengiring sebagai kontrapung melodi:Menentukan dulu nada-nada untuk iringan.Dengan menggunakan motif dari melodi diharapkan dapat membentuk sekwensi dan pembalikan.Menentukan dengan gaya homofoni atau polifoni, artinya dengan irama yang berbeda dengan irama melodi.HASILKomposisi ini mempunyai konsep garap yaitu dengan menggunakan alat musik gesek.Karya musik ini mempunyai tiga pembagian tempo yaitu allegro, largo dan andante. Kemudian tabel di bawah ini akan menjelaskan pembagian movement dari komposisi yang telah dibuatBAGIANKETERANGANDURASIBagian I         AllegroBagian pertama karya ini menggunakan tempo Allegro (cepat), yaitu 120 bpm. Skala nadanya disajikan dengan skala nada G Major. Komposisi ini mempunyai struktur mempunyai ciri-ciri lompatan tiap not yang sangat lincah dan ritmiknya yang sangat khas. Bagian pertama ini diawali oleh tema yang dimainkan biola 1, tema sangat terlihat jelas dan di pamerkan. Beberapa birama kemudian, viola, cello dan bass masuk untuk memberi peran harmoni dalam komposisi ini. Uniknya komposisi ini mayoritas menggunakan nilai harga not ¼ dan 1/8.Kurang lebih5 MenitBagian IILargoBagian kedua menggunakan tempo Largo, yaitu 45 bpm. Bagian kedua ini mempunyai suasana tentang sebuah ketenangan yang di timbulkan dari kesan dinamika piano. Ibarat seperti air mengalir dan perasaan sangat damai. Bagian kedua ini banyak didominasi oleh orgelpung (bass panjang)Kurang lebih 4 menitBagian IIIAndanteBagian ke tiga ini kembali ke tempo Andante, yaitu 100 bpm. Bagian ketiga ini dibuat dalam bentuk kesimpulan, dimana tergambarkan sebuah ketenangan yang diawali oleh kegelisahan, dan struktur pada motif ke tiga ini sangat menggambarkan pada era klasik romantic dimana terjadi lompatan nada yang tenang, banyak menggunakan dinamika dan sangat dalam. Dalam bagian ketiga terjadi skema mengerucut yang sangat terlihat jelas sekali.Kurang lebih5 menitKarya musik ini disajikan dalam bentuk penyajian musik kamar atau dalam ruangan. Format dalam penyajian musik ini adalah 21 pemain orkestra dan kemudian dibagi menjadi beberapa divisi, yaitu adalah biola 1 sebanyak 6 orang, biola 2 sebanyak 6 orang, viola sebanyak 4 orang, cello sebanyak 4 orang, dan Double bass sebanyak 1 orang. Pertimbangan menggunakan format orkestra gesek ini karena dalam harmoni musik juga memuat tentang SATB (Sopran, Alto, Tenor dan Bass)sehingga cocok untuk dijadikan saru kesatuan komposisi.Ada beberapa sumber pendukung dalam karya musik ini antara lain:Bentuk PanggungPanggung yang digunakan adalah panggung proscenium yaitu panggung yang hanya dapat dilihat dari arah depan (satu arah pandang), sehingga penggarapan penyajian lebih memfokuskan kearah depanBlocking PemainTabel 1Keterangan    Violin 1                   =             Violin 2                   =`            Viola                       =             Cello                       =             Double Bass           =       Conductor              =       Arah hadap              =       ke depan penontonArah hadap              =belakang panggungPencahayaan yang digunakan pada pertunjukan musik ini adalah general tetapi sedikit redup.PEMBAHASANPenciptaan ini dimaksudkan untuk menciptakan karya musik yang bersumber dari karya musik zaman klasik yang dibuat dengan skala musik diatonis. Dalam penggarapannya menggunakan buku teori IBM (Ilmu Bentuk Musik) Karl-Edmund Prier sj. Buku IBM tersebut memuat tentang teori analisa pembuatan musik yang dimana inti bentuk fantasia terdiri dari eksposisi, development dan rekapitulasi.Tahapan Penciptaan KaryaSebelum proses penciptaan musik fantasia dimulai, terlebih dahulu penata musik menentukan tema garap pada karya ini yaitu garapan musik yang menggambarkan suasana malam hari. Skala nada yang dipakai untuk menciptakan karya musik ini adalah diatonis.Buku teori IBM yang ditulis oleh Romo (Prier, 1996: 78) musik fantasia mempunyai tiga unsur yaitu eksposisi, development dan rekapitulasi. Berikut adalah tahapan penciptaan berdasarkan tiga unsur tersebut.EksposisiKarya musik bentuk fantasia pada bagian awal ialah menentukan tema kalimat musik, di dalam tema fantasia terdapat suatu ‘motif’. ‘Motif’ adalah sepotongan lagu atau sekelompok nada yang merupakan suatu kesatuan dengan memuat arti dalam dirinya sendiri (Prier,1996: 26).Motif’ biasanya dimulai dalam hitungan ringan dan menuju pada nada hitungan berat, tetapi pada nada berat tidak harus pada menjadi nada akhir ‘motif’.Unsur utama pada bagian ekposisi ini adalah tema. Tema adalah adalah gagasan besar dalam sebuah melodi dan irama suatu bentuk musik fantasia.DevelopmentBagian development ini adalah pengembangan dari tema bagian eksposisi.Tema yang dibuat telah dikembangkan bagian motif-motifnya. Development secara garis besar mempunyai unsur-unsur pokok yaitu, tidak semua tema yang dikembangkan tetapi hanya beberapa motif saja untuk diolah. Motif diolah dengan augmentasi, diminuasi, pembalikan, kedua tema digabung dan biasanya terdapat orgelpung atau bas panjang menjelang akhir dari development .RekapitulasiBagian rekapitulasi karya fantasia ini adalah memunculkan kembali motif-motif pada bagian eksposisi. Tema lagu dimainkan kembali namun selain kembalinya materi pokok dari eksposisi dalam rekapitulasi juga terdapat sejumlah perubahan atau tambahan seperti figurasi dari melodi, wilayah nada diperluas dan instrumentasi dirubah. Rekapitulasi juga terdapat unsur lain didalamnya yaitu EpisodeEpisode  berarti sisipan yang pada umumnya berupa materi yang tidak begitu penting terutama pada bagian eksposisi dan rekapitulasi biasanya memunculkan tema baru.Epilog dan codaEpilog berarti kata akhir pada suatu kalimat lagu, maksudnya sebagai persiapan untuk menutup suatu bagian.Epilog dapat muncul pada akhir eksposisi atau rekapitulasi.Coda adalah ekor pada bagian lagu dan merupakam suatu tambahan ekstra menjelang akhir sebuah karya.Coda pada umumnya terdapat pada akhir rekapitulasi mendatangkan suatu peningkatan untuk memperkuat akhir dari bagian atau movement.IntroduksiMusik fantasia dapat dilengkapi dengan introduksi atau pengantar pada bagian awal sebelum melodi inti dimainkan.Struktur dan Analisa Fantasia for String OrchestraBerikut adalah struktur dan anilisa dari komposisi fantasia dan akan dijelaskan perbagian:Eksposisi – Allegro (cepat) Bagian PertamaBagian Eksposisi bagian I dalam musik ini menggunakan tempo allegro sekitar 120 bpm yang berarti tempo cepat. Bagian pertama ini dimainkan dalam skala nada G Major. Kesan suasana yang ingin di sampaikan dalam bagian pertama ini adalah sebuah keceriaan yang terlihat dari efek kelincahan tiap lompatan not dan pola ritmiknya yang beragam. Bagian awal karya fantasia ini diawali oleh sebuah pengantar sebelum masuk ke tema lagu pada birama 1-4. Motif 1 dalam bagian pertama komposisi ini terletak pada birama 5 sampai birama 8. Kemudian tema 2 terdapat pada birama 13-16. Motif  pada eksposisi ini bersifat pendek/ satu kalimat, kemudian dikembangkan sedemikian rupa. Pertengahan komposisi ini terjadi modulasi pada birama 50-85. Modulasi terjadi pada skala nada awal dalam G Major kemudian menuju ke skalanada C Major. Selanjutnya birama 86 terjadi modulasi kembali ke dalam skala nada awal yaitu G Major. Birama 86-123 mengalami pengulangan motif eksposisipada nada dasar G Major. Bagian akhir eksposisi ini disisipkan sebuah coda sebagai tambahan ekstra menjelang akhir dari sebuah karya. Kesan yang ditimbulkan pada material ini adalah mendatangkan suatu peningkatan untuk memperkuat akhir dari bagian. Setelah ini akan dijelaskan secara rinci mengenai analisa dari komposisi bagian pertama.Violin satu : violin satu dalam bagian eksposisi memegang peran sangat penting, yaitu dengan memegang motif. Motif 1 pada tema ini adalah sebagai berikut.Motif 1 pada bagian eksposisi dipamerkan dengan sangat jelas dengan pola kelincahan ritmik dan loncatan tiap not yang sangat indah. Kemudian motif 1 dikembangkan lagi menjadi motif dua. Motif 2 yang di mainkan oleh violin satu adalah sebagai berikut.Birama 29-44 peran violin satu dirubah yang sebelumnya berperan sebagai pemegang tema, namun dirubah peran sebagai pengiring tema. Tema yang dimainkan oleh violin berpindah ke tingkatan suara dibawahnya yaitu cello. Selanjutnya pada birama 48 adalah bridge atau jembatan yang bertujuan akan berpindah nada dasar atau biasanya sering disebut dengan modulasi. Modulasiterjadi pada birama 50. Modulasi yang dilakukan adalah dari nada dasar sebelumnya dari G Major kemudian menjadi C Major.Birama 75-85 terjadi pengolahan tema kembali. Tema disederhanakan sebagai maksut akhiran dari pola bagian B. Maksutnya adalah sebagai penghantar untuk kembali ke tema 1 dan kembali ke pola A atau pola awal. Birama 86-108 terjadi pengulangan tema 1 pada pola A. Namun disini lebih dikembangkan sedemikian rupa. Kemudian birama 109-123 adalah bagian coda atau akhir penutup lagu yang dipegang secara utuh oleh violin satu. Bagian coda yang dimainkan oleh violin satu adalah sebagai berikutViolin dua : violin dua berperan sebagai pengiring dari motif 1 yang dimainkan oleh violin satu. Nada dasar iringan ini adalah akord G major. Maka terjadilah pola iringan yang dimainkan violin dua sebagai berikuSelanjutnya pola iringan motif satu yang dimainkan oleh violin dua dikembangkan sedemikian rupa karena motif satu dari violin satu juga dikembangkan. Perkembangan iringan motif yang dimainkan oleh violin dua adalah sebagai berikut.Selanjutnya akhir bagian dari komposisi ditutup dengan sebuah coda. Coda yang dimainkan oleh violin dua adalah sebagai berikut.Viola : posisi viola mempunyai fungsi yang sama dengan violin dua. Yaitu sebagai pengiring dari motif dan berperan sebagai harmoni dalam akor iringan. Pola iringan yang dimainkan viola adalah sebagai berikut.Selanjutnya pola iringan motif 1 dikembangkan berdasarkan berkembangnya juga motif satu dari violin satu. Berikut adalah perkembangan pola iringan motif 2 yang dimainkan oleh viola.Cello : nada yang dimainkan cello kebanyakan adalah sama dengan nada yang dimainkan oleh viola. Fungsinya adalah mempertegas pola iringan dari tema yang dipamerkan secara bebas oleh violin satu. Selanjutnya akan dijelaskan pola iringan dari motif 1 yaitu sebagai berikut.Selanjutnya birama 22-23, cello bermain sebagai bass continutto.Artinya adalah bass yang berjalan secara berpindah-pindah nada. Gambar dibawah ini adalah Bass continutto yang dimainkan cello pada birama 22 dan 23.Birama 29-44 cello berpindah peran dari sebelumnya sebagai peran pengiring, kini menjadi pemegang motif utama yang sebelumnya dimainkan oleh violin satu.Kemudian terjadi orgelpung/ nada bass panjangpada birama 93-108 yang berfungsi sebagai coda.Double Bass : double bass dalam pola iringan ini double bass mengalami teknik ilmu harmoni yang bernama fucking not, yaitu berarti memainkan nilai harga not yang berlawanan dari lainnya yang bersifat memisahkan diri dari yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.Kemudian pada bagian terakhir berkonstribusi besar dalam bagian coda.Selanjutnya bisa disimak dari partitur dibawah ini. Development –Largo (pelan

    AKTIVITAS BERKARYA DAN BERPAMERAN PELUKIS RYNALDHA NUGRAHA PUTRA ASAL KOTA TUBAN

    No full text
    ABSTRAK Mahiroh, Ulil. 2016.Aktivitas Berkarya dan Berpameran Pelukis Rynaldha Nugraha Putra Asal Kota Tuban. Skripsi, Program  Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Unversitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Triyono Widodo, M.Sn. Kata kunci: Berkarya, BerpameranRynaldha merupakan salah satu pelukis yang belum dapat dikatakan sebagai seniman karena statusnya sebagai mahasiswa yang masih mencari jati diri lukisannya. Aktivitas berkaryanya menciptakan karakteristik karya yang menarik. Tidak berhenti disitu saja, Rynaldha juga melakukan pameran sebagai pertanggung jawabannya setelah berkarya.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) aktivitas berkarya Rynaldha Nugraha Putra dan (2) aktivitas berpameran Rynaldha Nugraha Putra.Penelitian ini menggunakan penelitian dengan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan utama dalam penelitian ini yaitu Rynaldha Nugraha Putra. Tempat observasi selama masa penelitian yaitu di tempat tinggal Rynaldha Nugraha Putra dan di GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban. Analisis data yang dilakukan dengan cara pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, display data, dan kesimpulan/verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data, digunakan teknik ketekunan dan keajegan serta teknik triangulasi dengan memafaatkan teori.Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan dari hasil penelitian sebagai berikut: pertama, Aktivitas berkarya menghasilkan karakteristik lukisan khas karya Rynaldha. Kedua, aktivitas berpameran Rynaldha didorong oleh dorongan intrinsik dan ekstrinsik, sedangkan pelaksanaan pameran dipersiapkan secara matang mulai dari pemilihan judul, tema, panitia dan lainnya. Berikut merupakan saran yang diberikan peneliti: (1).Bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi kepenulisan tentang aktivitas berkarya dan berpameran, (2).Bagi Solidaritas Perupa Muda Tuban (SPMT), penelitian ini diharapkan menjadi sebuah perwujudan dokumentasi kegiatan pameran dan nantinya bisa menjadi acuan bagi generasi muda selanjutnya,(3).Bagi pemerintah Kota Tuban, diharapkan penelitian ini dapat referensi agenda tahunan Kota Tuban sehingga bakat dan minat pemuda pemudi terhadap seni rupa dapat terealisasikan, (4).Bagi masyarakat Kota Tuban, penelitian ini diharapkan menjadi informasi berharga bagi masyarakat Kota Tuban bahwa Kota Tuban mempunyai pelukis yang berkualitas, (5).Bagi jurusan diharapkan dapat berguna sebagai salah satu bahan kajian yang nantinya dapat  digunakan oleh jurusan Seni dan Desain tentang aktivitas berkarya dan berpameran

    Anak Sekolah Dasar Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Lukis Mixed Media

    No full text
    ABSTRAK AnakSekolahDasarmerupakangambarandarisosokseoranganakkecil yang masihpolosdalammenerimasegalahal yang baru.Tidakterkecualidenganmodernisasi yang berkembangsaatini.Modernisasiturutmempengaruhikehidupanmereka.Modernisasitidakhanyamembawahalpositifsajanamunjugamemberidampaknegatifkepadamereka yang dapatdikatakanmasihbarumengenalduniapendidikan.AnakSekolahDasar yang hausakanpengetahuanmasihsulituntukmemilihmana yang baikdanburukbagidirinyasehinggamudahterpengaruholehperkembanganzaman.Padapenciptaanini, penciptamengambil ide ataugagasanberkaryadaripengaruhnegatifmodernisasiterhadapanakSekolahDasar.  Ide ataugagasantersebutdiwujudkandalamkaryasenilukismixed media. Senilukismixed mediadipiliholehpenciptakarenasenimanakanlebihbebasdalammengolahteknikdandapatmemunculkankaraktertersendiri.Proses dalampenciptaankaryasenilukismixed mediainibermuladariperancangankonsep yang di dalamnyaterdapat ide ataugagasan, tema, danobjekyang akandiciptakanyaitudenganobjekutamaanakSekolahDasar. Setelahitumenentukankarakteristikkarya, kemudianmenetukantekniksertaalatdanbahan yang akandigunakan.Jikasemuanyasudahterpenuhiuntuklangkahselanjutnyaadalah proses visualisasiyaitumembuatsketsa di ataskertaslalumemindahkannya di ataskanvas. Kemudian proses pewarnaandenganmenggunakanteknikplakat. Namunsebelumitumenempelkankorandanuangduaribu rupiah di ataskanvas.Penciptamenampilkan 6 karyasenilukismixed mediadengan media estetikberupagaris, bentuk, danwarna, sertatekstursebagaisimbolisasidarikonsepberkaryayaitupengaruh negative modernisasiterhadapanakSekolahDasar. Menggunakankarakteristikkaryaberupatempelankoran, uangasliduaribu rupiah, warnabackgroundcenderunggelap, danobjekanakSekolahDasar. Berdasarkanhasilpenciptaaninidiharapkandapatmemberikanmanfaatkepadapenciptamaupun orang lain agar peduliterhadappengaruhnegatifmodernisasisaatinipadaperkembangananak-anakbangsaterutamapadausiasekolahdasar. Selainitudiharapkandapatmemberikanmanfaatdalammempelajarikaryasenilukismixed media. Mulaidariperancangankonsep, hingga proses visualisasikarya, dandeskripsikarya

    Pembelajaran dasar Fotografi Sebagai Pendukung Pembelajaran Ekstrakurikuler Jurnalistik Di SMPN 3 Malang

    No full text
    ABSTRAK Hartono, Rudi. 2017. Pembelajaran Dasar Fotografi Sebagai Pendukung Pembelajaran Ekstrakurikuler Jurnalistik di SMP Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Triyono Widodo M.Sn. Kata Kunci: Pembelajaran, Dasar Fotografi, Ekstrakurikuler  Jurnalistik.Pembelajaran dasar fotografi sebagai pendukung pembelajaran ekstrakurikuler jurnalistik yang ada di SMP Negeri 3 Malang tergolong cukup baik. Hal tersebut didasarkan pada rata-rata nilai siswa yang telah lulus standar ketuntasan minimal.Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini meliputi (1) bagaimana perencanaan pembelajaran dasar fotografi sebagai pendukung pembelajaran ekstrakurikuler jurnalistik di SMP Negeri 3 Malang, (2) bagaimana proses kegiatan pembelajaran dasar fotografi sebagai pendukung pembelajaran ekstrakurikuler jurnalistik di SMP Negeri 3 Malang, (3) bagaimana proses evaluasi kegiatan pembelajaran dasar fotografi sebagai pendukung pembelajaran ekstrakurikuler jurnalistik di SMP Negeri 3 Malang.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa data kualitatif berwujud catatan lapangan mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran dasar fotografi. Data perencanaan diperoleh melalui wawancara dan studi dokumen. Data mengenai pelaksanaan pembelajaran diperoleh melalui observasi. Data mengenai penilaian pembelajaran diperoleh melaluiobservasi dan studi dokumen. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia atau peneliti sendiri. Instrumen seperti pedoman wawancara, pedoman observasi, dan pedomanstudidokumen dijadikan instrumen pendukung. Hasil penelitian pembelajaran dasar fotografi sebagai pendukung pembelajaran ekstrakurikuler jurnalistik di SMP Negeri 3 Malang adalah sebagaiberikut. (1) Pembina menyusun sendiri rencana kerja dalam melaksanakan pembelajaran dasar fotografi.(2) Pelaksanaan pembelajaran dasar fotografi dilaksanakan dalam dua pertemuan. Pelaksanaan pembelajaran di kelas dan diluar kelas sesuai program kerja ekstrakurikuler. Pertemuan pertama, ditujukan untuk memberikan materi secara menyeluruh mengenai dasar fotografi. Kegiatan pendahuluan dilakukan pembina dengan apersepsi. Kegiatan inti pembina memberikan contoh komponen kamera dan beberapa contoh karya fotografi. Pertemuan kedua, pembina melakukan pembelajaran di luar kelas, pembina membimbing siswa untuk berkarya fotografi dengan berbagai komposisi dalam fotografi. (3) Penilaian pembelajaran dasar fotografi hanya mencakup penilaian hasil, sedangkan penilaian proses tidak dilakukan oleh pembina. Penilaian hasil diperoleh melalui hasil siswa berkarya fotografi di luar kelas

    Skateboard sebagai sumber inspirasi penciptaan seni kriya kayu dengan menggunakan ornamen tari reog kendang Tulungagung.

    No full text
    ABSTRAK Muhammad Arsyad BukhoiriPembimbingDrs.A.A.G.R. Arimbawa, M.SnUniversitasNegeri Malang, Jalan Semarang 5, Malang 65145E-mail: [email protected] adalah salah satu permainan olahraga yang dimainkan oleh kalangan pemuda, sedangkan tari reog kendang adalah budaya asli dari Kabupaten Tulungagung. Pencipta menggabungkan kedua aspek tersebut menjadi karya seni kriya kayu terapan yang akan menjadi satu set mebel yang terdiri dari lima kursi dan satu buah meja. Penciptaan karya ini diharapkan mampu menginovasi desain-desain karya seni kriya yang inovatif serta mampu mengankat budaya lokal dengan desain yang moderen. Kata kunci: Skateboard, tari rog kendang dan seni kriya kayu terapan.ABSTRAK Skateboard is the one of the sports which the playing by young man, while the reog kendang dancer is the natural creator combined two an aspect to be the wooden craft art which would be one set furniture, consist of five chair and one table. This creation of work is an expected to be able to ghosts an art design of craft which an inovative, and also to be able to increase the local culture with the modern design.  Keyword: skateboard, reog kendang dancer and wooden craft art

    Keragaman Etnik Dayak sebagai Sumber Inspirasi dalam Penciptaan Seni Lukis Dekoratif

    No full text
    ABSTRAK Permai, Eka Diana. 2017. Keragaman Etnik Dayak sebagai Sumber Inspirasi dalam Penciptaan Seni Lukis Dekoratif. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Triyono Widodo, M.Sn, (2) Ike Ratnawati, S.Pd.,M.Pd. Kata Kunci: Etnik Dayak, sumber inspirasi, penciptaan, seni lukis dekoratifDayak adalah komunitas heterogen yang terdiri dari banyak etnis (suku) atau multietnis. Etnik Dayak terbagi dalam berpuluh-puluh suku bangsa, dan dari berpuluh-puluh suku bangsa terbagi lagi dalam beratus-ratus anak suku, dimana tiap-tiap suku memiliki bahasa, upacara adat dan tradisi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kondisi keberagaman etnik seperti yang telah dijelaskan diatas, dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat. Salah satu pengaruh negatifnya adalah potensi kemunculan konflik antar etnik. Pengaruh negatif tersebut tidak hanya dapat terjadi di dalam etnik Dayak, akan tetapi juga dapat terjadi antar etnik Dayak dengan etnik lain. Hal ini juga didukung dengan adanya citra negatif terhadap etnik Dayak. Oleh karena itu, pencipta melakukan penciptaan karya seni lukis dekoratif sebagai upaya untuk menumbuhkan sikap saling menghargai antar etnik serta upaya menghilangkan citra negatif terhadap etnik Dayak.Keberagaman etnik Dayak dipilih sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni lukis dekoratif ini. Pada penciptaan ini mengambil tema dari kearifan budaya masyarakat etnik Dayak Kenyah terhadap alam.Dalam penciptaan karya seni lukis dekoratif ini pencipta menggunakan metode yang bermula dari perancangan konsep yang didalamnya terdapat ide atau gagasan, tema, dan objek yang akan diciptakan yaitu objek semi abstrak/ representasional.Setelah itumenentukan karakteristik karya, kemudian menentukan teknik serta alat dan bahan yang akan digunakan. Jika semuanya sudah terpenuhi untuk langkah selanjutnya adalah proses visualisasi yaitu membuat sketsa diatas kertas lalu memindahkannya di atas hardboard. Kemudian proses pewarnaan dengan menggunakan berbagai macam teknik yaitu teknik plakat, teknik cukil, serta teknik suntik. Setelah itu proses detail karya untuk penegasan cahaya gelap terang serta bentuk dan yang terakhir adalah proses melapisi karya dengan pelapis cat transparan. Penciptamenampilkan 6 karya seni lukis dekoratifyang berjudul Borneo #1, Borneo #2, Sumpit, Dayak Baby Carrier, Kancet Ledo Dance, dan Warior dengan media estetik berupa titik, garis, bentuk dan ruang, warna, serta tekstur sebagai simbolisasi dari konsep.Menggunakan karakteristik karya yang terlihat dari penggunaan media hardboard dan teknik plakat, teknik cungkil serta teknik suntik yang memiliki perbedaan dengan karya lukis lainnya.Berdasarkan hasil penciptaan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman baru kepada pencipta maupun orang lain dalam mempelajari karya seni lukis dekoratif bertema etnik Dayak sehingga diharapkan dapat menambah wawasan kepada masyarakat tentang sisi positif masyarakat etnik Dayak, serta diharapkan dapat menghilangkan citra negatif terhadap etnik Dayak

    0

    full texts

    2,650

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇