SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2650 research outputs found

    Bullying Pada Anak Usia Sekolah sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Lukis Gaya Pribadi

    No full text
    ABSTRAK   Novarida, Ovilia.Anggi. 2018. Bullying Pada Anak Usia Sekolah sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Lukis Gaya Pribadi. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Triyono Widodo, M.Sn.   Kata Kunci:Bullying,Usia Anak Sekolah, Penciptaan, Karya Seni Lukis, Gaya Pribadi.   Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan terjadi berulang-ulang untuk menyerang seseorang target yang dianggap lemah. Ada yang menjadi pelaku, korban, dan saksi. Bullying merupakan masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah diantaranya berbagai bentuk kekerasan, baik secara fisik maupun verbal yang berdampak buruk bagi perkembangan psikologis anak. Dampak dari perilaku bullying diantaranyaprestasi akademik menurun hingga menyebabkan depresi (murung, menarik diri untuk bersosialisasi).Permasalahan tersebut merupakan sumber inspirasi penciptaan karya lukis sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan terhadap peristiwa bullying pada anak usia sekolah. Ide penciptaan seni menggambarkan beberapa bentuk bullying, yang diwujudkan dalam kekaryaan seni lukis gaya pribadi. Seni lukis gaya pribadi dipilih oleh pencipta karena pencipta memiliki ciri khas tersendiri yang dapat dilihat dari segi bentuk objek maupun teknik. Metode penciptaan menggunakan model proses kreatif  Alma Hawkins yang meliputi tiga tahapan, yaitu eksplorasi, berupa kegiatan pengamatan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan unsur tematik yang akan diangkat. Kemudian eksperimentasi, berupa pembentukan beberapa rancangan yang diseleksi untuk diwujudkan dan dipakai sebagai acuan dalam penciptaan karya. Serta pembentukan, berupa penerapan sketsa pada bidang kanvas. Penciptaan ini menghasilkan 6 karya seni lukis yang berjudul The Bully, Intimidasi, Terselubung, Cyber Bullying, Anxiety, danTersembunyi, dengan media estetik berupa titik, garis, bentuk dan ruang, warna, serta tekstur sebagai perwujudan konsep. Melaluihasil penciptaan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman baru kepada pencipta maupun orang lain dalam mempelajari karya seni lukis bertema bullying pada anak usia sekolah.Diharapkan melalui apresiasi keenam karya lukis ini dapat menambah wawasan kepada masyarakat tentang gambaran perilaku bullying sehingga dapat ikut berpartisipasi dalam mencegah perilaku bullying.                     ABSTRACT   Novarida, Ovilia. Anggi. 2018. Bullying At School-aged Children as An Inspiration  for Creating Personal Style Art. Thesis, Department of Art and Design, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. TriyonoWidodo, M.Sn.   Keywords: Bullying, School-aged Children, Creation, Artwork, Personal Styles.               Bullying is an aggressive behavior that is done deliberately and happens repeatedly to attack a targeted person who is considered weak. Some are perpetrators, victims, and witnesses. Bullying is a common problem in school-aged children. Bullying is a form of violence, both physically and verbally, which adversely affects the psychological development of students. The impact of bullying behavior among others is decreased academic achievement causing depression (moody, withdraw to socialize). Based on these problems, the creator makes it a source of inspiration for the creation of paintings as a form of concern and concern for the bullying event in school-aged children.             In this creation, the creator takes ideas from several forms of bullying. The idea is manifested in personal style painting. The personal style painting is chosen by the creator because the creator has its own characteristics that can be seen in terms of object shape and technique.             The creation method used is Alma Hawkins method that has three stages, namely exploration, in the form of observation activities on matters relating to the thematic elements to be lifted. The second is experimentation: in the form of the formation of several designs that are selected to be realized and used as a reference in the creation of the work. The last is formation: in the form of application of sketches on the field of canvas.             This creation produced 6 paintings entitled The Bully, Intimidasi, Terselubung, Cyber Bullying, Anxiety, and Tersembunyi using aesthetic media of dots, lines, shapes and spaces, colors, and textures as symbols of the concept. Hopefully, the results of this creation provide new experiences to the creators and others in learning painting art on the theme of bullying on school-aged children.This creation is expected to add insight to the public about the picture of bullying behavior so as to participate in preventing bullying

    . Bullying Pada Anak Usia Sekolah sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Lukis Gaya Pribadi

    No full text
    ABSTRAK   Novarida, Ovilia. 2018. Bullying Pada Anak Usia Sekolah sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Lukis Gaya Pribadi. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Triyono Widodo, M.Sn.   Kata Kunci:Bullying,Usia Anak Sekolah, Penciptaan, Karya Seni Lukis, Gaya Pribadi.   Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan terjadi berulang-ulang untuk menyerang seseorang target yang dianggap lemah. Ada yang menjadi pelaku, korban, dan saksi. Bullying merupakan masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah diantaranya berbagai bentuk kekerasan, baik secara fisik maupun verbal yang berdampak buruk bagi perkembangan psikologis anak. Dampak dari perilaku bullying diantaranyaprestasi akademik menurun hingga menyebabkan depresi (murung, menarik diri untuk bersosialisasi).Permasalahan tersebut merupakan sumber inspirasi penciptaan karya lukis sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan terhadap peristiwa bullying pada anak usia sekolah. Ide penciptaan seni menggambarkan beberapa bentuk bullying, yang diwujudkan dalam kekaryaan seni lukis gaya pribadi. Seni lukis gaya pribadi dipilih oleh pencipta karena pencipta memiliki ciri khas tersendiri yang dapat dilihat dari segi bentuk objek maupun teknik. Metode penciptaan menggunakan model proses kreatif  Alma Hawkins yang meliputi tiga tahapan, yaitu eksplorasi, berupa kegiatan pengamatan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan unsur tematik yang akan diangkat. Kemudian eksperimentasi, berupa pembentukan beberapa rancangan yang diseleksi untuk diwujudkan dan dipakai sebagai acuan dalam penciptaan karya. Serta pembentukan, berupa penerapan sketsa pada bidang kanvas. Penciptaan ini menghasilkan 6 karya seni lukis yang berjudul The Bully, Intimidasi, Terselubung, Cyber Bullying, Anxiety, danTersembunyi, dengan media estetik berupa titik, garis, bentuk dan ruang, warna, serta tekstur sebagai perwujudan konsep. Melaluihasil penciptaan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman baru kepada pencipta maupun orang lain dalam mempelajari karya seni lukis bertema bullying pada anak usia sekolah.Diharapkan melalui apresiasi keenam karya lukis ini dapat menambah wawasan kepada masyarakat tentang gambaran perilaku bullying sehingga dapat ikut berpartisipasi dalam mencegah perilaku bullying.                     ABSTRACT   Novarida, Ovilia. Anggi. 2018. Bullying At School-aged Children as An Inspiration  for Creating Personal Style Art. Thesis, Department of Art and Design, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. TriyonoWidodo, M.Sn.   Keywords: Bullying, School-aged Children, Creation, Artwork, Personal Styles.               Bullying is an aggressive behavior that is done deliberately and happens repeatedly to attack a targeted person who is considered weak. Some are perpetrators, victims, and witnesses. Bullying is a common problem in school-aged children. Bullying is a form of violence, both physically and verbally, which adversely affects the psychological development of students. The impact of bullying behavior among others is decreased academic achievement causing depression (moody, withdraw to socialize). Based on these problems, the creator makes it a source of inspiration for the creation of paintings as a form of concern and concern for the bullying event in school-aged children.             In this creation, the creator takes ideas from several forms of bullying. The idea is manifested in personal style painting. The personal style painting is chosen by the creator because the creator has its own characteristics that can be seen in terms of object shape and technique.             The creation method used is Alma Hawkins method that has three stages, namely exploration, in the form of observation activities on matters relating to the thematic elements to be lifted. The second is experimentation: in the form of the formation of several designs that are selected to be realized and used as a reference in the creation of the work. The last is formation: in the form of application of sketches on the field of canvas.             This creation produced 6 paintings entitled The Bully, Intimidasi, Terselubung, Cyber Bullying, Anxiety, and Tersembunyi using aesthetic media of dots, lines, shapes and spaces, colors, and textures as symbols of the concept. Hopefully, the results of this creation provide new experiences to the creators and others in learning painting art on the theme of bullying on school-aged children.This creation is expected to add insight to the public about the picture of bullying behavior so as to participate in preventing bullying

    Refleksi Diri Dengan hancurnya Etika Jawa Sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis Representasional.

    No full text
    ABSTRAK   Sagita, Rizky . 2018. Refleksi Diri Dengan hancurnya Etika Jawa Sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis Representasional. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Triyono Widodo, M.Sn.   Kata Kunci : Refleksi diri, Hancurnya Etika Jawa, Penciptaan, Karya Seni Lukis, Representaional. Refleksi diri merupakan suatu perenungan terhadap masa lalu yang kaitanya dengan perubahan menuju suatu hal yang lebih baik. Berawal dengan melihat cerminan diri dan lingkungan sekitar mengenai etika, pencipta merasa bahwa nilai-nilai atau norma yang sekarang justru mengalami kemunduran atau bahkan kehancur. Generasi sekarang telah banyak yang kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat penganut adat ketimuran. Hancurnya prinsip etika jawa dalam diri seperti kerukunan dan rasa hormat perlahan mulai menghilang. Toleransi, menghargai satu sama lain seakan tidak dipedulikan oleh diri dan mayoritas generasi sekarang. Upaya ini dilakukan pencipta sebagai perenungan terhadap tindakan keseharian yang jauh dari norma adat timur bangsa Indonesia. Sekaligus menjadikan refleksi diri sebagai acuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya. Berdasarkan dari masalah tersebut pencipta menjadikannya sebagai ide atau gagasan dalam penciptaan seni lukis representasional. Metode penciptaan yang digunakan menggunakan metode Alma Hawkins yang memiliki tiga tahapan, yaitu eksplorasi pencarian gagasan, penentuan alat bahan dan teknik, referensi, sumber-sumber ataupun hal-hal yang berkaitan dengan unsur tematik, kemudian eksperimentasi merupakan pengembangan dari apa yang telah didapat dalam tahap pertama. Tahap ketiga yaitu pembentukan, merupakan sebuah proses visualisasi dalam penciptaan seni lukis representasional ini. Penciptaan seni lukis representasional ini menghasilkan 6 karya seni lukis dengan judul “Titik Hilang, Garis Waktu, I don’t Care, Tampak Depan, Relasi Negatif Positif, dan Problem Klasik”. Dengan media estetik seperti titik, garis, warna, bentuk dan ruang serta simbolisasi dari pencipta terciptalah karya seni lukis representasional ini. Representasional dengan tema Refleksi diri dengan etika Jawa diharapkan menjadi tambahan wawasan bagi masyarakat serta lebih mengingat, merenungkan kembali tentang tindakan-tindakan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, untuk mendapatkan batasan dan mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak untuk dilakukan. Meskipun berbeda paham etika dan bukan hanya orang jawa saja, setidaknya budaya timur yang menjadi citra bangsa indonesia tidak hilang oleh gempuran budaya yang datang dari luar. Karena pada hakikatnya tujuan kita sama yaitu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. ABSTRACT Sagita, Rizky Eka. 2018. Self-reflection in the Manner of the destruction of Javanese Ethics as an Idea of Representational Art Creation. Thesis, Art and Design Department, Faculty of Letters, Universitas Negeri Malang. Key Words: Self-reflection, Destruction of Javanese Ethic, Creation, Artwork, Representational. Self-reflection is a reflection of the past associated with change to a better thing. Start with a self reflection and the environment about ethics, the creator feels that the values or norms are now fall off or even destroyed.Many of current generations have lost their identity as adherents of Eastern society. The destruction of Javanese ethical like harmony and respect slowly begins to disappear. Tolerance, respect for each other as if ignored by the majority of the current generations. This effort is done by the creator as a reflection of the daily actions that are far from the norms of indigenous eastern Indonesia. At the same time make self-reflection as a reference to become a better person in the future. Based on the problem, the creator makes it as an idea or idea in the creation of representational painting. The method of creation used the Alma Hawkins method which had three stages: exploration of the search for ideas, the determination of materials and techniques, references, sources or matters relating to thematic elements. Then experimentation was the development of what had been obtained in the first stage. The third stage of formation, was a process of visualization in the creation of this representational art. This creation of representational art produced 6 paintings with the title "Titik Hilang, Garis Waktu, I do not Care,Tampak Depan, Relasi Negatif Positif, and Problem Klasik". With aesthetic media such as dots, lines, colors, shapes and spaces as well as symbols of the creator, these representational works of art were created. Representational with the theme Self-reflection with Javanese ethics was expected to be an additional insight for society and remembered, and reflected on the actions taken in daily life. This is done to get the limit and to know which one was good and which was not to be done. Although we had different ethics, at least the eastern culture that became the image of the Indonesian nation was not lost by western culture. Because essentially, our goal was the same that was to become a better person than before

    Perancangan Buku Cerita Bergambar Kesehatan Gigi bagi Anak Usia Dini

    No full text
    Angka kejadian karies gigi pada anak-anak mengalami perlonjakan 60% -90%, dan menurut data dari PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) 89% penderita karies gigi di Indonesia adalah anak-anak, dan berdasarkan hasil karakteristik survey kesehatan, prevalensi karies gigi pada balita usia 3-5 tahun sebesar 81,7%. Dengan demikian golongan umur 3-5 tahun merupakan golongan rawan terjadinya karies gigi. Jarangnya media pembelajaran untuk anak usia dini mengenai kesehatan gigi, membuat buku cerita bergambar ini dirancang. Manusia pada masa anak-anak merupakan tahap bagian terpenting karena pada tahap itulah karakter dasar manusia mulai terbentuk dan memerlukan bimbingan yang salah satunya adalah dengan penanaman pesan melalui media buku cerita bergambar. Metode perancangan yang digunakan adalah model prosedural. Model prosedural sendiri adalah model yang menggunakan langkah-langkah yang sistematis, terstruktur, berututan guna menghasilkan sebuah produk akhir. Model perancangan yang digunakan adalah milik Bruce Archer, namun model perancangan dimodifikasi dengan urutan langkah-langkah kerja yang lebih mengarah ke proses pembuatan media. Perancangan ini menghasilkan satu buku cerita bergambar mengenai kesehatan gigi. Buku cerita ini berjudul “Aku Bisa Merawat Gigiku” dan memiliki ukuran square 20 cm x 20 cm. Buku dilengkapi dengan ilustrasi dan narasi teks cerita yang menggunakan Bahasa Indonesia. Perancangan ini ditunjukkan untuk membantu anak-anak mengetahui cara menggosok gigi dengan benar dan juga mengetahui makanan apa yang baik untuk gigi, perancangan ini juga ditunjukkan untuk membantu orang tua untuk mengajari anaknya menjaga kesehatan gigi

    Representasi Terumbu Karang dalam KeramikSeni

    No full text
    ABSTRAK   Febriari. 2018. Representasi Terumbu Karang dalam Keramik Seni. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Ponimin, M.Hum.   Kata Kunci: terumbu karang, representasi, seni keramik Terumbu karang merupakan ekosistem marine berupa masif kalsium karbonat (CaCO3), tersusun dari karang yang bersimbiosis dengan alga (Zooxanthellae) serta organisme lainnya. Di Indonesia terdapat 400 spesies terumbu karang dari total 50 genera dan 700 spesies. Hal itu menunjukkan kekayaan hayati Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain, tetapi kondisi terumbu karang saat ini banyak mengalami kerusakan, dikarenakan faktor alam dan sebagian besar faktor manusia. Kegelisahan tentang konservasi terumbu karang inilah yang menjadi sumber inspirasi, dalam mewujudkan ide dan gagasan yang tertuang kedalam bentuk karya seni keramik stoneware. Tujuan dari penciptaan ini ialah, ingin menggabungkan ilmu serta kebijakan konservasi terumbu karang agar terepresentasi menjadi seni keramik. Proses penciptaan seni keramik ini mengadaptasi dari metode perancangan Gustami (2004). Tahap pertama adalah ekplorasi, yang mencangkup meditasi, penelusuran, penggalian, pengumpulan data dan referensi mengenai sumber ide tentang representasi terumbu karang. Tahap kedua meliputi:(1) perencanaan, melakukan eksplorasi bentuk dan teknik sehingga terbentuk konsep berkarya yang diwujudkan dalam bentuk sketsa, sebagai hasil imajinasi/kepekaan estetik, pengalaman artistik dan teknik berkarya;(2) visualisasi gagasan, menjadikan sketsa terpilih sebagai bentuk prototipe. Tahap ketiga meliputi:(1) perwujudan, melakukan penyempurnaan sketsa terpilih yang akan digunakan sebagai bentuk final;(2) mengadakan penilaian dan evaluasi hasil karya. Hasil karya yang divisualisasikan sebanyak 8 karya seni keramik dengan media estetik berupa bentuk dan ruang, raut dan tekstur, serta warna dan cahaya sebagai representasi konsep terumbu karang. Karakteristik karya seni keramik stoneware ini memiliki bentuk 2 dimensi (relief), 3 dimensi maupun karya instalasi. Seni keramik yang tercipta ini merupakan representasi usaha konservasi terumbu karang di Indonesia. Oleh karena itu diharapkan dapat memberikan nilai-nilai edukasi kepada masyarakat agar lebih menghargai dan menjaga kelestarian lingkungan laut, serta dapat menjadi referensi untuk program penciptaan selanjutya

    Terumbu Karang Laut Probolinggo Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Representasional

    No full text
    ABSTRAK   Rozy, Fathur. 2018. Terumbu Karang Laut Probolinggo Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Representasional. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didiek Rahmanadji, M.Pd., (II) Fenny Rochbeind, S.Pd., M.Sn.   Kata Kunci: Terumbu Karang, Laut Probolinggo, Penciptaan, Seni Lukis, Representasional Terumbu karang merupakan ekosistem laut tropis yang terdapat diperairan laut dangkal yang jernih, hangat, dan komonitasnya didominasi oleh berbagai jenis biota laut khususnya terumbu karang. Masalahnya kondisi terumbu karang di perairan laut Probolinggo saat ini cukup memprihatinkan. Pencipta tertarik untuk mengangkat ide terumbu karang yang mempengaruhi perairan laut Probolinggo sehingga dijadikan sebagai sumber inspirasi penciptaan karya lukis. Konsep pelestarian alam laut Probolinggo mendasari penciptaan seni lukis. Sedangkan tema penciptaan adalah keindahan terumbu karang laut Probolinggo sebagai ungkapan pencipta mewujudkan keenam karya lukis. Penulisan penciptaan seni diwujudkan melalui proses kreatif yang mengadopsi model Chaterina Patrick meliputi tahap persiapan, penetasan, inspirasi, dan pengembangan. Tujuan penciptaan seni lukis adalah untuk mendeskripsikan proses penciptaan dan hasil visualisasi terumbu karang laut Probolinggo yang diwujudkan kepenciptaan seni lukis. Proses penciptaan karya ini berawal dari rancangan ide, menetapkan konsep, mematangkan tema, dan memvisualisasi objek yang diciptakanya itu terumbu karang. Tahap selanjutnya menyiapakan alat dan bahan, membuat sketsa di atas kertas kemudian dipindahkan ke kanvas. Dilanjutkan proses pewarnaan menggunakan teknik sapuan kuas basah, blok, teknik gradasi, teknik plakat,dan diakhiri dengan finishing. Karakteristik keenam karya lukisan Nampak pada teknik, bentuk, warna, komposisi, perspektif, dan pecahayaan dengan gaya pribadi pencipta. Hasil dari keenam karya memperlihatkan kondisi terumbu karang perairan laut Probolinggo yang perlu dijaga dan dipelihara. Diharapkan melalui proses apresiasi dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pendidik, peserta didik, dan masyarakat awam terkait karyalukis yang ditampilkan sehingga ikut berempati dan bersimpati terhadap perlindungan dan pelestarian biota laut diperairan Indonesia

    VISUALISASI BARONG DAN RANGDA BALI DALAM KARYA LUKIS

    No full text
    ABSTRAK   Giannanda, Nungky. 2018. Visualisasi Barong dan RangdaBali Dalam Karya Lukis. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didiek Rahmanadji, M. Pd,. (II) Fenny Rochbeind, S.Pd, M.Sn   Kata Kunci: Visualisasi, Barong, Rangda, Karya Lukis Barong dan Rangda adalah adalah tokoh utama dalam pementasan tari Barong. Salah satu cerita dalam pementasan Barong dan Rangda merupakan cerita rakyat Calon Arang yang berasal dari Kediri. Calon Arang disimbolkan sebagai Rangda di Bali. Barong adalah simbol kebaikan dan diyakini sebagai pelindung masyarakat Bali. Rangda sendiri adalah seorang janda dengan kelakuan yang buruk yaitu jahat, kejam, dan pendendam. Dalam Pementasan Barong dan Rangda, tidak hanya dijadikan sebagai tontonan dan hiburan bagi masyarakat Bali, namun digunakan sebagai ritual secara turun-menurun guna untuk pembersihan suatu wilayah dari roh-roh jahat serta menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Fokus penciptaan ditujukan pada proses visualisasi budaya terkait Barong dan Rangda  melalui tampilan fisik objek lukisan. Tujuan penciptaan seni lukis  ini adalah untuk mendeskripsikan perwujudan Barong dan Rangda dalam karya seni lukis representasional. Jenis penciptaan ini memaparkan proses visualisasi karya lukis representasional. Proses kretif ini menggunakan model L.H. Chapman meliputi tahap permulaan, penyempurnaan dan visualisasi. Pada tahap permulaan, proses kreatif dimulai dengan mewujudkan ide/gagasan, konsep, dan tema ke dalam enam karya lukis representasional yang menampilkan objek Barong dan Rangda Bali. Proses visualisasi karya memaparkan teknik, alat, dan bahan yang digunakan dalam berkarya kreatif, dilanjutkan dengan langkah perwujudan karya, mulai dari membuat sketsa di atas kertas lalu memindakannya ke kanvas. Pada proses pewarnaan digunakan teknik blok, teknik dusel,  teknik gradasi, dan teknik plakat, diakhiri dengan proses finishing. Karakteristik karya lukis yaitu menggunakan garis lengkung,  dan warna cerah pada objek utama. Hasil penciptaan karya seni lukis ini adalah visualisasi objek tokoh Barong dan Rangda yang diwujudkan ke dalam enam karya lukis representasional. Melalui karya penciptaan ini, diharapkan masyarakat awam, pendidik, dan peserta didik  memberi apresiasi positif  terhadap hasil karya lukis dan menandai identitas budaya lokal tertentu melalui objek yang ditampilkan dan makna dibalik sebuah karya khususnya tentang Barong dan Rangda Bali. Putri, Berliani. 2018. Memperkenalkan Kembali Cerita Rakyat Calon Arang Melalui Karya Lukis Dekoratif. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didiek Rahmanadji, M.Pd., (II) Fenny Rochbeind, S.Pd., M.Sn.   Kata kunci : Cerita Rakyat Calon Arang, Ide, Dekoratif. Calon Arang merupakan cerita rakyat yang berasal dari Kediri, Jawa Timur yang mengisahkan tentang Calon Arang. Cerita rakyat Calon Arang berisi nilai-nilai luhur bagi kehidupan masyarakat khususnya di Jawa. Masalahnya banyak masyarakat Jawa Timur yang belum mengenal cerita rakyat Calon Arang. Cerita rakyat Calon Arang menjadi sumber inspirasi penciptaan pada enam karya lukisan,agar mendapatkan apresiasi positif . Ide penciptaan karya lukis ini terispirasi dari cerita rakyat Calon Arang yang didasari konsep pelestarian budaya Jawa Timur. Sedangkan tema penciptaan adalah Calon Arang. Karakteristik lukisan nampak pada warna, teknik alat dan bahan serta visualisasi objek. Gagasan tersebut diwujudkan dalam karya lukis dekoratif. Jenis penciptaan karya lukis ini menggunakan model proses kreatif L.H. Chapman, meliputi tahap permulaan, tahap penyempurnaan dan tahap visualisasi ke dalam medium. Pada tahap permulaan pencipta mencari gagasan kemudian mengkaji sumber gagasan, sumber bacaan dan sumber visual hingga memantapkan gagasan. Kemudian pencipta menentukan konsep, tema dan objek. Pada tahap penyempurnaan, pencipta menentukan teknik serta alat dan bahan. Kemudian pencipta membuat sketsa. Pada tahap visualisasi, pencipta mewujudkan keenam karya lukis serta melaksanakan sebuah pameran agar diapresiasi. Tujuan penciptaan ini adalah untuk memvisualisasikan gagasan dimulai dari memaparkan proses penciptaan karya lukis yang terinspirasi dari cerita rakyat Calon Arang dan kemudian mendeskripsikan hasil karya lukis yang terinspirasi dari cerita rakyat Calon Arang. Berdasarkan hasil penciptaan ini, pencipta mendapatkan pengalaman berolah seni khususnya penciptaan karya lukis dekoratif dan menambah wawasan penulisan karya ilmiah. Melalui karya penciptaan lukis ini, diharapkan dapat menjadi media apresiasi dan menambah wawasan bagi dunia pendidikan baik bagi pendidik maupun peserta didik tentang lukisan dekoratif dan untuk melestarikan budaya daerah khususnya Cerita Calon Arang yang diimplementasikan ke karya lukis sebagai medium ekspresi. Putri, Berliani Nirmala. 2018. Reintroducing Calon Arang Folktale through Decorative Painting. Thesis, Department of Art and Design, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Didiek Rahmanadji, M.Pd., (II) Fenny Rochbeind, S.Pd., M.Sn.   Keywords : Calon Arang folktale, Idea, Decorative. Calon Arang is a folktale from Kediri, East Java which tells about Calon Arang. The Calon Arang folktale contains noble values for people’s lives especially in Java. Unfortunately, many Javanese people do not know the story of Calon Arang folktale. Calon Arang folktale become an idea for the creation of six painting artworks, to get positive appreciation from the society. The idea of ​​artwork painting creation was inspired by Calon Arang folktale based on the concept of East Java cultural preservation. While the creation theme is Calon Arang. The painting’s characteristic appear on the colors, techniques, tools, materials and object visualization. The idea was realized in decorative painting. This type of art creation uses L.H Chapman's creative process model, includes the beginning stage, refinement stage and visualization stage into the medium. At the beginning stage, the creator the creator seeks ideas and then examines the sources of ideas, reading sources and visual sources to establish ideas. Then the creator determines the concept, theme and object. At the refinement stage, the creator techniques, tools and materials. Then the creator makes a sketch. At the visualization stage, the creator visualizes into six paintings and then carry out an exhibition to be appreciated. The purpose of this creation is to visualizing ideas starts from describe the process of create paintings inspired by Calon Arang folktale and also describe the result of artwork paintings inspired by the Calon Arang folktale. Based on the results of the creation, the creator gained artistic experience, especially the creation of decorative paintings and add insight into scientific writing. Through the work of painting creation, it is expected to be a media of appreciation and add insight to the world of education for both educators and students about decorative paintings and to to preserve regional culture, especially the Calon Arang Story, which was implemented into painting as a medium of expression

    PERAN LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN SEKAR AROM DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI TARI REMO TRISNAWATI KABUPATEN SITUBONDO

    No full text
    ABSTRAK   Khairunnisa, Juwita. 2018. Peran Lembaga Kursus dan Pelatihan Sekar Arom Dalam Mempertahankan Eksistensi Tari Remo Trisnawati Kabupaten Situbondo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Soerjo Wido Minarto, M.Pd (II) Ika Wahyu Widyawati, S.Pd., M.Pd.   Kata Kunci : Peran Lembaga Kursus dan Pelatihan Sekar Arom, Eksistensi, Tari Remo Trisnawati, Kabupaten Situbondo Kabupaten Situbondo memiliki beberapa kesenian tradisional salah satunya adalah tari Remo Putri yang dikenal dengan tari Remo Trisnawati. Tari Remo Trisnawati memiliki eksistensi yang cukup baik di luar daerah Kabupaten Situbondo, sedangkan di daerahnya sendiri tarian ini kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat setempat. LKP Sekar Arom merupakan lembaga pendidikan informal yang ada di Kabupaten Situbondo yang berupaya untuk mempertahankan eksistensi tari Remo Trisnawati. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan upaya yang dilakukan Lembaga Kursus dan Pelatihan (seterusnya disingkat LKP) Sekar Arom dalam mempertahankan eksistensi tari Remo Trisnawati Kabupaten Situbondo, serta faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhinya. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini adalah LKP Sekar Arom telah mengangkat dan memperkenalkan keberadaan tari Remo Trisnawati kepada pemerintah dan masyarakat luas melalui beberapa upaya yang dilakukan. Upaya yang dilakukan LKP Sekar Arom adalah melakukan pelatihan rutin tari Remo Trisnawati, mementaskan tari Remo Trisnawati, serta berupaya untuk mempertahankan keaslian tari Remo Trisnawati dengan berkunjung ke penata tari secara langsung. Serta faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi upaya LKP Sekar Arom, diantaranya adalah peran pimpinan LKP Sekar Arom dan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) pelatih sanggar sebagai faktor pendukung. Waktu latihan sering kosong, kesiapan sarana dan prasarana, serta kehadiran pesera pelatihan menjadi faktor penghambat. Saran yang diberikan peneliti agar eksistensi tari Remo Trisnawati dapat terus dilestarikan, harapannya masyarakat bisa ikut serta dalam melakukan upaya-upaya pelestarian yang dilakukan oleh LKP Sekar Arom. Agar proses pelestarian tari Remo Trisnawati berjalan sesuai harapan dengan kegiatan yang ada di LKP Sekar Arom, sebaiknya pemerintah juga turut memberikan kontribusi baik berupa gagasan, kesempatan atau materi untuk melengkapi sarana dan prasarana bagi berlangsungnya kegiatan di LKP Sekar Arom. Khairunnisa, Juwita. 2018. The Role of Training and Course Institution SekarAnom in Maintaining the Existence of Remo Trisnawati Dance in Situbondo.Thesis, Department of Dance and Music Education, Art and Design, Faculty of Letters, Universitas Negeri Malang.Advisors: (I) Drs. Soerjo Wido Minarto, M.Pd (II) Ika Wahyu Widyawati, S.Pd., M.Pd.   Key Words : The Role of Training and Course Institution Sekar Arom, Existence, Remo Trisnawati Dance, Kabupaten Situbondo Situbondo has several kind of traditional arts, one of which is Remo Trisnawati Dance. It has a good existence value outside Situbondo. In contrast, this dance get less intention from its own society. Training and Course Institution Sekar Arom is an informal education organization which prevent Remo Trisnawati in its existence. This research aims to describe Training and Course InstitutionSekarAnom’s efforts in maintining the existence of Remo Trisnawati dance and also find the supporting and inhibiting factors. The researcher used descriptive qualitative method. Collecting data was conducted by doing observation, interview, and documentation report. The instrument was the researcher herself. For the analyzing data, the researcher started it from reducing data, presenting data, and concluding data. Validating data was conducted by using sources triangulation and technique triangulation. The result of this research shows that Training and Course InstitutionSekarAnom had raised and introduced Remo Trinawati dance to the government and society through some efforts. The efforts are training Remo Trisnawati dance regularly, performing Remo Trisnawati dance, and maintaining the originality of this dance by visiting to the choreographer. Here are the supporting and inhibiting factors that influence Training and Course InstitutionSekarAnom in maintaining the dance; the role of the leader Training and Course InstitutionSekarAnom  and human resources of the choreographer are the support factors, time efficiency, support facility and infrastructure, and also the absence of participant as the inhibiting factors. The researcher hope to the society to prevent Remo Trisnawati dance as Training and Course InstitutionSekarAnom did. For the government, the researcher hope to give good contributions as well as suggestions, and material to complete the facility in order to support the activity in Training and Course Institution Sekar Anom

    Perancangan Video Iklan Komersial Grabme Sebagai Media Informasi Layanan Pengguna Jasa. Skripsi

    No full text
    ABSTRAK   Grabme merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa trasportasi online didirikan awal tahun 2016 di Kota Jambi oleh anak bangsa. Grabme berkembang sebagai perusahaan yang membantu peningkatan ekonomi daerah, sebagai penyedia lapangan kerja dan peningkatan ekonomi perkapita. Sebagai perusahaan baru Grabme belum dikenal  oleh masyarakat Kota Jambi, Faktor yang menjadikan Grabme kurang dikenal  dikarenakan kurangnya informasi publikasi tentang produk dan layanan jasa Grabme Media informasi mengenai Grabme perlu ditingkatkan, agar masyarakat Kota Jambi mengetahui keberadaan dan layanan jasa Grabme. Media iklan komersial merupakan media yang tepat dalam penyebaran informasi, karena video iklan  menggunakan metode multiple komunikasi yang mengandung unsur suara, visual dan teks. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan video yang mampu mengenalkan layanan jasa Grabme yang mudah dipahami oleh target audience. Dengan melakukan riset yang mendalam tentang perusahaan dan target audience untuk dikaji, sehingga menghasilkan  sebuah produk video iklan yang sesuai dengan yang diharapkan. Dalam perancangan video iklan komersial Grabme sebagai media informasi layanan pengguna jasa mengunakan model perancangan prosedural, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan kajian pustaka. Model perancangan mengadaptasi dari model perancangan Sadjiman Ebdi Sanyoto. Diawali dari rumusan masalah, kemudian menentukan tujuan, analisis, konsep perancangan hingga desain final. Hasil perancangan berupa produk utama video iklan komersial, dengan konsep clean style, yang menerapkan sisi simple atau sederhana yang tidak banyak menggunakan pergerakan kamera, agar informasi dapat lebih mudah diterima oleh target audiens. Narasi dan musik dibuat dengan menggunakan bahasa daerah Jambi dan alat musik khas Jambi agar target audiens lebih merasa bahwa informasi dari Grabme memang ditujukan kepada target audiens yaitu masyarakat Kota Jambi. Media pendukung yang diracang adalah billboard, poster iklan media sosial, xbanner dan sticker kaca belakang mobil. Proses visualisasi pada perancangan ini menggunakan software Pro Tools, Adobe Premiere, After Effect, Adobe Illustrator dan Adobe Photoshop.

    Perancangan Sign System untuk Museum Brawijaya

    No full text
    ABSTRAK   Anggaloka, Maria Firda. 2018. Perancangan Sign System untuk Museum Brawijaya. Skripsi. Progam Studi Desain Komunikasi Visual. Jurusan Seni dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Sumarwahyudi, M.Sn dan Andhika Putra Herwanto, S.Sn, M.Sn.   Kata Kunci: Sign system, Museum Brawijaya, Malang, Jawa Timur Museum Brawijaya merupakan salah satu museum yang berada di Malang Jawa Timur yang didirikan dengan tujuan membuktikan kepada masyarakat mengenai sejarah perjuangan bangsa, khususnya rakyat Jawa Timur yang sejak 1945 secara terus menerus membuktikan dharma baktinya kepada ibu pertiwi. Terdapat kurang lebih 150 benda koleksi di Museum Brawijaya yang disimpan di ruangan-ruangan dalam maupun luar gedung berdasarkan tahun, sehingga pengunjung harus menjelajahi Museum Brawijaya dengan alur yang tepat sehingga informasi sejarah didapatkan secara utuh dan jelas. Pada kenyataannya belum terdapat informasi yang lengkap mengenai ruangan maupun alur perjalanan yang jelas di Museum Brawijaya. Perancangansign system Museum Brawijaya ini menggunakan model prosedural dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan sistematika perancangan milik Bruce Archer sebagai acuan awal perancangan, yang kemuadian dikembangkan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan sehingga perancangan dapat berjalan efektif, efisien dan tepat sasaran. Perancangan ini menghasilkan seperangkat media informasi bagi pengunjung yang diklasifikasikan berdasarkan fungsinya yaitu identification sign, operational sign, orientation sign, direction sign, dan regulatory sign yang akan ditempatkan di area Museum Brawijaya. Dari segi visual, sign system dirancang agar memiliki kesinambungan dengan tempatnya yaitu dengan benda koleksi kendaraan tempur dan senada dengan identitas Museum Brawijaya, sehingga memunculkan karakter museum itu sendiri. Keseluruhan desain akan disusun dan didokumentasikan dalam bentuk buku pedoman desain yang beri tahapan riset dan brainstorming, proses visualisasi beserta detail ukuran, hingga desain akhir yang diwujudkan dalam implementsi sign ketika ditempatkan di lingkungannya. Desain juga diwujudkan dalam maket salah satu sign system yang terpilih dengan skala perbandingan 1:50 dan miniatur museum yang memunculkan satu segmentasi lokasi dan penempatan sign

    0

    full texts

    2,650

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇