Journal of Information Systems for Public Health
Not a member yet
145 research outputs found
Sort by
Pengembangan Dataset Rekam Medis Elektronik untuk Menjawab Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Latar Belakang : Dalam rangka memberikan layanan kesehatan yang optimal, pemerintah Indonesia telah menetapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai acuan bagi Dinas Kesehatan di tingkat kabupaten dan kota. Rekam medis elektronik (RME) memiliki potensi untuk menjadi sumber data utama dalam mendukung pemenuhan indikator SPM. Salah satu kendala umum adalah ketidaksesuaian format data antar fasilitas kesehatan yang mengadopsi sistem RME.Metode : Penelitian bertujuan untuk mengembangkan dataset pada rekam medis elektronik untuk menjawab indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui desain studi kasus.Hasil : Dataset terdiri atas mekanisme pelayanan dari masing-masing jenis pelayanan dasar. Setiap indikator dalam dataset dirancang dengan mempertimbangkan standar kuantitas dan kualitas. Standar terminologi diterapkan untuk setiap layanan disesuaikan dengan International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10) untuk diagnosis klinis, International Classification of Procedure Code 9th Revision, Clinical Modification (ICD-9-CM) untuk prosedur dan tindakan medis, Logical Observation Identifiers Names and Codes (LOINC) serta Kamus Farmasi dan Alat Kesehatan (KFA).Kesimpulan : Dataset disesuaikan dengan indikator pelayanan pada SPM bidang Kesehatan yang mendukung integrasi RME dan interoperabilitas data
Analisis Pemetaan Radius Jangkauan Fasilitas Kesehatan di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah
ABSTRAKLatar Belakang: Ketersediaan fasilitas layanan kesehatan merupakan aspek krusial dalam pembangunan kesehatan terutama dalam memastikan akses yang merata bagi seluruh masyarakat. Meningkatnya pertumbuhan penduduk kota palu setiap tahunnya maka membutuhkan fasilitas kesehatan yang tidaklah sedikit serta informasi data penyebaran fasilitas kesehatan. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi dan radius jangkauan fasilitas kesehatan di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG).Metode: Penelitian ini menggunakan analisis spasial dengan metode buffer dan overlay. Data yang digunakan berupa data sekunder terdiri dari data administrasi wilayah, data permukiman, fasilitas kesehatan.Hasil: Berdasarkan analisis menunjukkan bahwa persebaran fasilitas kesehatan memiliki pola yang menyebar tidak terpusat atau cukup merata di setiap wilayah kecamatan kota palu, fasilitas kesehatan lebih banyak tersebar di zona permukiman kecamatan Palu timur, Mantikulore dan Palu selatan, sedangkan zona permukiman pada kecamatan Palu utara, Ulujadi dan Tawaeli lebih sedikit persebaran fasilitas kesehatan. Dalam penelitian ini radius pencapaian fasilitas kesehatan berdasarkan SNI No. 03 – 1733 – 2004 ditetapkan 3000 meter (3 km), terlihat wilayah kecamatan di kota palu dengan kategori zona permukiman penduduk terjangkau fasilitas kesehatan berada pada kecamatan Palu timur, Mantikulore, Palu barat, Palu selatan, Palu barat. Namun, terlihat kecamatan Ulujadi dan Palu utara merupakan wilayah permukiman penduduk yang masuk dalam kategori tidak terjangkau.Kesimpulan: Persebaran dan jangkauan fasilitas kesehatan di wilayah Kota Palu cukup merata dan hampir seluruh wilayah permukiman terjangkau oleh fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan rumah sakit umum pada 8 kecamatan wilayah administratif di Kota Palu.Keyword: Aksesibilitas, Analisis spasial, Fasilitas kesehatan, Jangkauan ABSTRACTBackground: The availability of healthcare facilities is crucial in developing the health sector, especially in ensuring equitable access for the entire population. With the increasing population growth in Palu City each year, the demand for healthcare facilities has also risen, along with the need for information on the distribution of healthcare facilities. Based on this background, this study aims to analyze the distribution and service radius of healthcare facilities in Palu City, Central Sulawesi Province, using a Geographic Information System (GIS) approach.Methods: This study uses spatial analysis with the buffer and overlay methods. The data used consists of secondary data, including administrative boundaries, settlement data, and healthcare facility data.Results: The analysis shows that the distribution of healthcare facilities follows a dispersed pattern rather than being centralized, making it relatively evenly distributed across districts in Palu City. Healthcare facilities are more concentrated in residential zones of East Palu, Mantikulore, and South Palu districts, whereas residential zones in North Palu, Ulujadi, and Tawaeli districts have fewer healthcare facilities. In this study, the healthcare facility accessibility radius based on SNI No. 03 – 1733 – 2004 is set at 3000 meters (3 km). It is observed that districts such as Palu Timur, Mantikulore, Palu Barat, Palu Selatan, and Palu Barat fall within the category of settlements with accessible healthcare facilities, whereas Ulujadi and Palu Utara are considered areas with limited accessibility.Conclusion: The distribution and availability of healthcare facilities in Palu City are evenly distributed, ensuring that nearly all residential areas have access to healthcare services. This includes community health centers and hospitals located throughout the eight districts of Palu's administrative area.Keywords: Accessibility, Spatial analysis, Health facilities, Reachability
Proyeksi Beban Penyakit Kardiovaskular di Indonesia hingga Tahun 2045
Latar Belakang : Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan beban PKV di Indonesia dari tahun 2025 hingga 2045 dengan mempertimbangkan berbagai faktor risiko yang berkontribusi terhadap mortalitas, prevalensi, insidensi, dan DALYs penyakit ini.Metode : Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Global Burden of Disease Study 2021 dan Data Proyeksi Penduduk BPS. Analisis proyeksi menggunakan metode ARIMA (autoregressive integrated moving average), GAM (Generalized Additive Model) dan Prophet. Sedangkan evaluasi model proyeksi menggunakan metode rolling-cross validation.Hasil : Antara tahun 2025 hingga 2045, laju kematian akibat PKV diperkirakan meningkat 28,32%, meskipun pada kelompok usia baku menurun sebesar 0,2%. Prevalensi PKV naik sebesar 41,10%, dengan peningkatan ringan pada kelompok usia baku sebesar 2,29%. Insidensi diperkirakan meningkat 33,32%, sementara laju insidensi pada kelompok usia baku naik 7,02%. DALYs menunjukkan kenaikan 22,32%, tetapi menurun sebesar 3,38% pada kelompok usia baku. Terdapat juga keterbatasan dalam ketersediaan data dalam GBD Study.Kesimpulan : Beban penyakit kardiovaskular di Indonesia diperkirakan akan meningkat hingga 2045. Meskipun ada potensi penurunan beban melalui pengurangan faktor risiko, implementasi program intervensi faktor risiko penyakit kardiovaskular perlu dioptimalkan.Kata Kunci : Penyakit kardiovaskular, faktor risiko, proyeksi, mortalitas, DALY
Meningkatkan Mutu Informasi Kesehatan Melalui Evaluasi Kualitas Data Rekam Medis Elektronik
Latar Belakang : Manfaat potensial rekam medis elektronik sangat besar dalam peningkatan mutu layanan dan akses informasi pasien, namun terdapat tantangan dari aspek kualitas data. Kualitas data penting karena berpengaruh terhadap hasil akhir perawatan pasien. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kualitas data RME dengan menilai kelengkapan, ketepatan dan keterkinian data serta mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas data dari aspek manusia, organisasi, manajerial, tekhnis dan eksternalMetode : Penelitian ini merupakan studi kasus ekspalanatori dengan desain kasus tunggal terpancang, dilaksanakan di RSUD La Patarai Barru pada Maret hingga Mei 2024. Sampel sebanyak 373 rekam medis elektronik dipilih dengan menggunakan rumus estimasi proporsi lemeshow, sementara responden ditentukan secara purposive sebanyak 12 orang, Data sekunder dikumpulkan melalui obeservasi dengan cheklist untuk menilai kelengkapan, ketepatan dan keterkinian data RME. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam. Analisa data dilakukan secara deskriptif dan tematik. Hasil : Kelengkapan tertinggi pada elemen identifikasi pasien (nama, dan nomor rekam medis 100%) terendah pada pekerjaan (76%). Pada asesemen, kelengkapan tertinggi yaitu tingkat kesadaran (97.3%) terendah pemeriksaan psikososial spiritual (2,4%). Riwayat pengobatan tercatat lengkap (99,5%), namun kode diagnosis hanya 9,9%. Ketepatan pengkodean diagnosis bervariasi (0–73%), penggunaan singkatan (71,4–100%). Keterkinian data tertinggi pada pemeriksaan penunjang (100%) terendah pada data pernapasan (29,5%). Kualitas data dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor manusia seperti pengetahuan, motivasi,pengalaman, dan karakteristik pengguna, faktor organisasi berupa beban kerja, pelatihan dan ketiadaan SOP, aspek manajerial penyediaan sumber daya belum disertai evaluasi rutin terhadap isi rekam medis. Konektivitas jaringan, keterbatasan referensi obat dan duplikasi merupakan kendala teknis. Faktor eksternal seperti regulasi, akreditasi, dan lingkungan fisik mendorong perbaikan kualitas data. Kesimpulan : : Kualitas data Rekam medis elektronik belum optimal. Penguatan fitur validasi internal dalam sistem, penyusunan SOP, evaluasi rutin, optimalisasi antarmuka serta penataan ruang kerja diperlukan untuk mendorong kelengkapan, ketepatan dan keterkinian data RM
PIMS AKSES: Prototipe Mobile Apps untuk Memfasilitasi Layanan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) pada Remaja
Latar belakang: Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) pada remaja, termasuk infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), masih menjadi masalah kesehatan yang penting. Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses layanan konseling dan tes, seperti stigma, keterbatasan informasi yang terpercaya, serta kekhawatiran terkait kerahasiaan. Intervensi berbasis teknologi, termasuk prototipe aplikasi mobile, berpotensi mendukung upaya peningkatan akses layanan PIMS pada kelompok usia ini.Metode: Metode penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu perancangan kebutuhan awal dan antarmuka aplikasi dengan membuat System Requirement Document (SRD). Tahap kedua yaitu dengan mengevaluasi hasil perancangan aplikasi dengan User Experience Questioner (UEQ).Hasil: Prototipe PIMS AKSES menyediakan fitur informasi PIMS, daftar fasilitas layanan terkait, dan kanal komunikasi dengan konselor. Hasil evaluasi aplikasi pada aspek Attractiveness mendapatkan skor 1,7. Aspek Perspicutiy mendapatkan skor 1,64, Efficiency sebesar 1,52, Dependability sebesar 1,59, Stimulation sebesar 1,57, dan Novelty mendapatkan skor sebesar 1,28.Kesimpulan: Prototipe aplikasi PIMS AKSES secara umum dapat diterima oleh pengguna sebagai alat bantu tambahan untuk mendukung upaya peningkatan akses informasi dan layanan PIMS pada remaja. Namun, aplikasi ini masih berada pada tahap prototipe sehingga diperlukan pengembangan konten, penyempurnaan fitur, serta evaluasi lebih lanjut dalam konteks pelayanan nyata untuk menilai dampaknya terhadap akses dan pemanfaatan layanan PIMS.Kata kunci: PIMS, HIV AIDS, UE
Kesiapan Implementasi Rekam Medis Elektronik dari Perspektif Tenaga Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Daha Husada Kota Kediri dengan Model DOQ-IT
Latar Belakang: Rumah Sakit Daha Husada Kota Kediri berupaya untuk menerapkan rekam medis elektronik (RME) pada rawat inap. Dalam masa transisi ini penilaian kesiapan implementasi rekam medis elektronik penting dilakukanMetode: Pendekatan deskriptif kualitatif dilakukan pada 10 responden yang merupakan rekam medis yang bekerja pada rawat inap. Instrumen dari DOQ-IT digunakan untuk menilai kesiapan dari aspek SDM, tatakelola dan infrastrukturHasil: dapat diperoleh informasi bahwa pada aspek sumber daya manusia, dan infrastruktur secara keseluruhan sudah baik, namun dalam aspek tata kelola dan kepemimpinan masih terdapat hal yang perlu ditambahkan dan dilakukan sehingga bisa dijadikan dasar dalam implementasi rekam medis elektronikKesimpulan: Kesiapan implementasi RME di rumah sakit secara keseluruhan sudah cukup baik, namun masih diperlukan adanya SOP dan mekanisme insentif tenaga kesehatan yang menggunakan RMEKata Kunci : DOQ-IT, kesiapan, RM
Peran Modul Aset Tetap SAKTI dalam Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Aset Kesehatan di Satker Kemenkes Provinsi Kepulauan Riau
Latar belakang: Pemerintah mengelola Barang Milik Negara (BMN) untuk mendukung operasional dan pelayanan publik. Kementerian Kesehatan melakukan pencatatan dan inventarisasi alat kesehatan sebagai bagian dari penatausahaan BMN. Kementerian Kesehatan menggunakan Modul Aset Tetap - Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) dari Kementerian Keuangan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan negara. Namun, perlu penyempurnaan aplikasi untuk mengatasi resistensi pengguna agar pengelolaan aset kesehatan dapat berjalan lebih efektif dan berdampak positif pada pelayanan kesehatan masyarakat.Tujuan: Menjelaskan keberhasilan pengguna mengelola aset kesehatan dalam Penerapan Modul Aset Tetap SAKTI. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam dengan melibatkan Pengguna, Perencana dan Kepala Sub Bagian Administrasi Umum di Satker Kemenkes Wilayah Provinsi Kepulauan Riau.Hasil : Aset Kesehatan mencakup lebih dari setengah (55,42%) total nilai peralatan dan mesin sebesar Rp1.815.358.187.434,-. Data dari 4 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Kepulauan Riau menunjukkan bahwa Modul Aset Tetap SAKTI mudah digunakan sehingga pengelolaan aset kesehatan umum tidak mengganggu pelayanan kesehatan yang sedang berjalan. Selain itu, modul ini juga berguna untuk memastikan aset kesehatan umum selalu tersedia sehingga mendukung surveilans penyakit, deteksi dini, dan pencegahan risiko penyakit. Meski ada kekurangan fitur dan keterbatasan penggunaan dalam pengelolaan aset kesehatan spesifik, modul ini mempermudah dan mempercepat pekerjaan serta meningkatkan kinerja tugas. Perlu integrasi dengan sistem lain dan perbaikan lebih lanjut dianggap penting untuk meningkatkan manfaat penerimaan modul di Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P).Kesimpulan : Modul Aset Tetap SAKTI hanya bermanfaat dalam meningkatkan kinerja pengelolaan aset kesehatan secara umum dan Modul Aset Tetap SAKTI dirasakan mudah digunakan dan memenuhi kebutuhan pengguna dalam pengelolaan aset kesehatan secara umum serta Pentingnya melakukan transformasi untuk memastikan sistem informasi berfungsi dengan baik dalam konteks pengelolaan aset kesehatan spesifik.Kata kunci: Aset Kesehatan, Modul Aset Tetap SAKTI, Integrasi Siste
Implementasi Portable Health Clinic Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Indonesia: Case Study
Latar belakang: Pandemi COVID-19 mengakibatkan perubahan perilaku pencarian kesehatan dan terbatasnya pelayanan kesehatan masyarakat di puskemas, terutama populasi risiko tinggi. Pendekatan digital memungkinkan layanan jarak jauh dengan menggunakan teknologi mobile sangat potensial meningkatkan akses pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Portable Health Clinic (PHC) adalah layanan kesehatan keliling berbasis komunitas, dilengkapi telemonitoring dan telekonsultasi menggunakan perangkan medis portable dan aplikasi android.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai proses implementasi PHC dan mengevaluasi faktor-faktor yang menpengaruhi penerimaan.Metode: Wawancara mendalam dilakukan kepada 11 tenaga kesehatan dan kader. Dilaksanakan di 3 Puskesmas, Samigaluh II di Kabupaten Kulon Progo, Kalikotes di Kabupaten Klaten, dan Mlati II di Kabupaten Sleman. Wawancara dilakukan secara virtual antara bulan April-Mei 2022.Hasil: Terdapat sedikit perbedaan model pelaksanaan di antara tiga puskesmas yaitu secara kolektif berdasarkan jadwal Pos Binaan Terpadu (Posbindu) PTM dan kunjungan rumah. Temuan penelitian ini dikategorikan menjadi 7 tema penerimaan PHC: kendala teknis, kendala non teknis, persepsi kegunaan, persepsi kemudahan, persepsi risiko, persepsi positif PHC, dan dukungan sosial.Kesimpulan: PHC dapat memperkuat pelayanan kesehatan yang sudah ada dengan menambah value added alat kesehatan portable dan sistem informasi untuk mendukung pemeriksaan secara lengkap dan konsultasi jarak jauh. Terlepas dari banyak manfaat tetapi Implementasi PHC masih banyak menemukan kendala baik dari segi teknologi, manusia, organisasi, dan legalitas.Kata kunci: Evaluasi Penerimaan, Pelayanan Kesehatan Berbasis komunitas, Portable Health Clinic.Background: Covid-19 pandemic has resulted in changes of health seeking behaviours and limited community health service programs at the Primary Health Center, especially of high risk populations. Digital approach that allows remote services using mobile technology is potential to be used to improve health access at the community level. Portable Health Clinic (PHC) is a community-based mobile health service, equipped with telemonitoring and teleconsultation using portable medical devices and android app.Objective: This study aims to assess the PHC implementation process and evaluate the factors that influence the acceptance.Methods: This qualitative study utilized in-depth online interviews with eleven health workers and community cadres from three Primary Health Centers in Sleman, Kulon Progo, and Klaten districts. This research conducted virtually between April and May 2022.Results: Primary Health Care (PHC) was operationalised in three Puskesmas through the utilisation of village health post schedules and home visitation programmes. The study identified seven themes pertaining to the acceptance of PHC: technical constraints, non-technical constraints, perceived usefulness, perceived convenience, perceived risk, favourable perceptions of PHC, and social support.Conclusion: The Primary Health Care (PHC) model contributes significantly to the advancement of health services by integrating portable medical devices and sophisticated information systems, thereby facilitating comprehensive clinical examinations and telemedicine consultations. Nonetheless, persistent challenges exist in relation to technological infrastructure, human resources, organisational frameworks, and legal considerations.Keywords: acceptance evaluation, community-based health services, portable health clini
Design and Evaluation of User Interface Module for Psychological Services in a Mobile Application
Background: Mental health of college students is an important aspect to be addressed by institutions, one of which is by providing facilities that are accessible to students to monitor and improve their mental health. One facility that can be provided is the development of a mobile application that offers Psychological Services.Methods: This research involves three phases: analysis requirements, user interface (UI) development, and user interface evaluation. The user interface is designed following the official color guidelines of the institution and ensuring the harmony of its components. The Psychological Services Module consists of sub-menus accessible to users, such as mental health screening based on SRQ-20 (Self Report Questionnaire) and its results, scheduling counseling appointments, simple tips for maintaining mental health, and information about activities that support students' mental health. Results: In evaluating the user interface (UI), this research employed the User Experience Questionnaire (UEQ), comprising 26 statement items across six aspects. Across the dimensions of attractiveness, effectiveness, dependability, and stimulation, results fell within the "Good" category, whereas in terms of perspicuity and novelty, results were classified as "Above Average."Conclusions: The user interface created for the Psychology Service Module generally performs well when assessed according to the UEQ instrument. However, improvements and further development of the user interface are still necessary to align with user needs, thereby enhancing both usage and the benefits derived from the application
Perancangan User Interface Sistem Informasi Kesehatan Posyandu Balita Teratai Padukuhan Rejosari Gunungkidul
Latar Belakang : Posyandu berperan penting dalam memantau tumbuh kembang balita melalui kegiatan seperti pengukuran berat dan tinggi badan serta imunisasi. Pencatatan manual menggunakan buku besar dan buku KIA berisiko menimbulkan ketidaktepatan, duplikasi, dan kehilangan data, sehingga menyulitkan kader saat penyusunan laporan. Penelitian ini bertujuan merancang tampilan antarmuka sistem informasi keseahtan posyandu yang sesuai kebutuhan kader dan mudah digunakan. Hasilnya berupa rancangan antarmuka E-Posyandu Teratai yang dapat dijadikan referensi pengembangan aplikasi sistem informasi kesehatan Posyandu.Metode : Penelitian ini mengggunakan metode kualitatif deskriptif dengan metode pengembangan prototyping phase. Tahap pertama diawali (requirements) identifikasi kebutuhan pengguna dilakukan wawancara dengan kader, (quick design) membuat rancangan tampilan user interface, (build prototype) pengembangan prototype agar tampilan menyerupai jalannya aplikasi, (user evaluation) evaluasi dengan pengguna dengan metode heuristic dan (refining prototype) melakukan penyempurnaan setelah mendapat hasil evaluasi. Hasil : Pada penilitian ini didapatkan hasil pada tahap identifikasi dengan penggguna bersama 1 kader yang menjadi subjek penelitian membutuhkan menu pendaftaran, pengelolaan data, pelaporan, dan visualisasi data yang mudah dipahami dengan tampilan sederhana dominasi warna merah muda yang mudah dipahami.Tahapan setelah identifikasi dilanjutkan dengan perancangan tampilan antarmuka dan pengembangan prototipe menggunakan aplikasi figma. Perancangan dilakukan sesuai kebutuhan pengguna dengan penyesuaian aspek aesthetic and minimalist dan familiarity setelah rancangan selesai dilanjutkan evaluasi pengguna. Evaluasi dengan kader mendapatkan hasil “puas”.Kesimpulan : Rancangan antarmuka sistem informasi kesehatan Posyandu Balita Teratai membutuhkan menu pendukung pendaftaran, pengelolaan data, pelaporan, dan visualisasi data. Rancangan sudah melewati proses evaluasi penggguna dengan tingkat kepuasan “puas” dalam hal ini rancangan dapat dijadikan referensi untuk pengembangan sistem informasi kesehatan Posyandu Balita Teratai Rejosari