Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Not a member yet
    83 research outputs found

    Internalisasi Falsafah Nengah Nyappur Pada Nilai Piil Pesenggiri Sebagai Upaya Menjaga Kerukunan Antar Suku Di Kabupaten Pesawaran

    Get PDF
    ABSTRAKKeberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia merupakan potensi sekaligus tantangan dalam menjaga harmoni sosial. Desa Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran, mencerminkan hal ini dengan masyarakat multikultural yang menjunjung falsafah Nengah Nyappur dalam Piil Pesenggiri. Penelitian ini menganalisis internalisasi falsafah tersebut dalam menjaga kerukunan sosial menggunakan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann dengan pendekatan kualitatif fenomenologi melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses konstruksi sosial berlangsung dalam tiga tahap. Pada eksternalisasi, nilai Nengah Nyappur diekspresikan dalam tradisi adat seperti Begawi dan Bejuluk Beadek yang menciptakan interaksi sosial. Objektivasi terjadi ketika nilai-nilai tersebut dilembagakan dalam struktur sosial dan simbol budaya. Internalisasi berlangsung melalui pendidikan informal dalam keluarga dan interaksi sosial yang membentuk toleransi dan kerja sama. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa proses konstruksi sosial dalam falsafah Nengah Nyappur efektif menjaga harmoni sosial di masyarakat multikultural dan dapat diterapkan di wilayah lain untuk mendukung keberagaman sosial di Indonesia.Kata Kunci: Nengah Nyappur; Piil Pesenggiri; kerukunan antar suku; multikultural   ABSTRACTThe diversity of ethnicity, religion and culture in Indonesia is both a potential and a challenge in maintaining social harmony. Negeri Sakti Village, Pesawaran Regency, reflects this with a multicultural society that upholds the philosophy of Nengah Nyappur in Piil Pesenggiri. This research analyzes the internalization of the philosophy in maintaining social harmony using Berger and Luckmann's social construction theory with a qualitative phenomenological approach through observation, interviews, and documentation studies. The results show that the social construction process takes place in three stages. In externalization, the value of Nengah Nyappur is expressed in customary traditions such as Begawi and Bejuluk Beadek that create social interactions. Objectivation occurs when these values are institutionalized in social structures and cultural symbols. Internalization takes place through informal education in the family and social interactions that form tolerance and cooperation. The conclusion of this study confirms that the social construction process in the philosophy of Nengah Nyappur is effective in maintaining social harmony in a multicultural society and can be applied in other regions to support social diversity in IndonesiaKeywords: Nengah Nyappur; Piil Pesenggiri; inter-ethnic harmony; multicultural

    Jaringan Sosial Pekerja Migran Ilegal Indonesia Konstruksi Bangunan Di Malaysia

    Get PDF
    ABSTRAK Migrasi pekerja migran ilegal Indonesia ke Malaysia adalah salah satu fenomena yang menjadi sorotan pemerintah Indonesia dan Malaysia. Besarnya migrasi PMI ilegal di Malaysia di pengaruhi oleh jaringan sosial PMI ilegal, terutama dalam hal ini jaringan sosial PMI ilegal konstruksi di Malaysia. PMI ilegal konstruksi di Kongsi tersebar di beberapa wilayah di Malaysia. Sebagian besar PMI tersebut tanpa dokumen yang lengkap dan bahkan overstay. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penyajian data secara deskriptif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian bahwa adanya migran PMI ilegal konstruksi di Malaysia karena adanya jaringan sosial yang mereka miliki. Jaringan sosial PMI ilegal konstruksi di Malaysia yang terjadi yaitu jaringan sosial kekuasaan jaringan ini hanya sebatas untuk mendapatkan keamanan dari pihak yang berkuasa di sekitar kongsi, yaitu oknum kepolisian Malaysia yang memiliki kekuasaan. Jaringan sosial kepentingan yaitu hubungan yang terjadi dalam jaringan antara PMI ilegal konstruksi dengan PMI ilegal konstruksi lainnya, hubungan PMI ilegal konstruksi dengan menkong, menkong dengan perusahaan, menkong dengan tokeh. Jaringan sosial perasaan dalam hubungan ini jaringan perasaan sangat dominan. Jaringan sosial PMI ilegal konstruksi ini terbentuk atas dasar hubungan sosial bermuatan perasaan yang terjalin di Kongsi dan hubungan sosial PMI ilegal itu sendiri menjadi tujuan dan tindakan sosial PMI ilegal konstruksi. Kemudian jaringan sosial keluarga yaitu hubungan yang terbentuk atas dasar jaringan keluarga yang dimiliki oleh PMI ilegal konstruksi. Jaringan keluarga sangat penting bagi PMI ilegal konstruksi di Malaysia, karena keluarga sebagai orang yang memberikan informasi yang dianggap cukup valid oleh para PMI ilegal konstruksi. Jaringan ini memberikan fasilitas kepada PMI ilegal untuk dapat bertahan hidup di Malaysia. Kata Kunci: Pekerja, Migran, ilegal, Konstruksi, Jaringan, Migrasi ABSTRACT The migration of Indonesian illegal migrant workers to Malaysia is one of the phenomena in the spotlight of the Indonesian and Malaysian governments. The magnitude of illegal migrant worker migration in Malaysia is influenced by the social networks of illegal migrant workers, especially in this case the social networks of illegal construction workers in Malaysia. Illegal construction migrant workers in Kongsi are spread across several regions in Malaysia. Most of these PMIs are without complete documents and even overstay. This research uses a qualitative approach with descriptive data presentation with a case study method. The result of the research is that there are illegal construction migrant workers in Malaysia because of the social network they have. The social network of illegal construction PMIs in Malaysia that occurs is the social network of power, this network is only limited to obtaining security from those in power around the kongsi, namely Malaysian police officers who have power. The social network of interests is the relationship that occurs in the network between illegal construction workers and other illegal construction workers, the relationship between illegal construction workers and menkong, menkong and companies, menkong and tokeh. The social network of feelings in this relationship is very dominant. The social network of illegal construction workers is formed on the basis of emotionally charged social relationships that exist in the Kongsi and the social relationships of illegal PMIs themselves become the social goals and actions of illegal construction PMIs.  Then the family social network is a relationship formed on the basis of the family network owned by illegal construction workers. The family network is very important for illegal construction workers in Malaysia, because the family is the one who provides information that is considered quite valid by illegal construction workers. This network provides facilities for illegal migrant workers to survive in Malaysia. Keywords: Worker, Migrant, illegal, Construction, Network, Migration

    Experience Dan Persepsi Perempuan Terhadap Dampak Kesehatan Kulit Dalam Keputusan Penggunaan Produk Skincare

    Get PDF
    ABSTRAKPenggunaan produk skincare kini tidak hanya bertujuan merawat kesehatan kulit, tetapi menjadi sarana untuk mencapai tampilan kulit sesuai dengan standar kecantikan yang berkembang di masyarakat. Banyak perempuan mengikuti tren dan mencoba berbagai produk demi mendapatkan hasil yang dianggap ideal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman subjektif pengguna, menganalisis persepsi mereka terhadap dampak penggunaan skincare, serta mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan dalam memilih produk. Penelitian ini menggunakan teori Interaksi Simbolik dari George Herbert Mead dan Herbert Blumer untuk menjelaskan bagaimana makna sosial terbentuk melalui interaksi dan simbol, skincare sebagai representasi status sosial atau bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap delapan informan perempuan yang aktif menggunakan skincare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak pengguna belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai kandungan produk yang sesuai dengan jenis kulit mereka. Faktor harga dan hasil instan  menjadi pertimbangan utama dibandingkan dengan keamanan jangka panjang. Penggunaan skincare tidak hanya berdampak pada kondisi fisik kulit, tetapi juga memengaruhi identitas diri dan persepsi sosial pengguna. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan literasi pengguna mengenai bahan aktif dalam produk skincare agar keputusan penggunaan tidak hanya didorong oleh tren, tetapi juga oleh pertimbangan rasional dan kesehatan jangka panjang.Kata Kunci : Pengalaman Pengguna, Persepsi, Kesehatan KulitABSTRACTThe use of skincare products today extends beyond maintaining skin health; it has become a means of achieving an appearance aligned with evolving beauty standards in society. Many women follow trends and try various products in pursuit of ideal results. This study aims to explore users’ subjective experiences, analyze their perceptions of skincare impacts, and examine the decision-making processes behind product usage. Drawing on the Symbolic Interactionism theory by George Herbert Mead and Herbert Blumer, this research highlights how skincare is perceived as both a symbol of social status and a form of self-care, influencing self-image and social judgments. This qualitative study employed in-depth interviews with eight female informants who actively use skincare products. The findings reveal that many users lack adequate knowledge about product ingredients appropriate for their skin types. Affordable pricing and instant results often become the primary considerations, overshadowing long-term skin health. The impact of skincare usage is not only physical but also tied to personal identity and social perception. Therefore, enhancing consumer literacy on skincare ingredients is essential to support informed, health-conscious decisions beyond trends or marketing appeals.Keywords: User Experience, Perception, Skin Health

    Pemaknaan Catcalling: Wujud Kekerasan Simbolik dalam Habituasi di Sekolah Menengah Atas “X” Kabupaten Malang

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan guna mengetahui pemaknaan siswa dan guru terkait catcalling serta peran guru dalam menanggulangi catcalling yang terjadi di sekolah. Metode yang digunakan di penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menemukan bahwa catcalling yang terjadi di SMA “X” Kabupaten Malang dilakukan untuk bercanda dan ajang keseruan guna melepas kebosanan. Padahal catcalling bagi korban merupakan tindakan yang mengganggu dan memberikan dampak psikis jangka panjang. Catcalling yang terjadi di SMA “X” Kabupaten Malang sangat sesuai dengan konsep pemikiran dari Pierre Bourdieu yakni kekerasan simbolik. Catcalling yang terjadi menunjukkan wujud kekuasaan dari pihak laki-laki sebagai pihak mendominasi pada pihak perempuan sebagai pihak terdominasi. Catcalling sebagai wujud dari kekerasan simbolik perlu ditanggulangi di SMA “X” Kabupaten Malang dengan peran aktif guru sebagai pendidik dan orang tua siswa di sekolah.

    Paparan Media Dan Dampaknya Terhadap Persepsi Publik

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini mengeksplorasi konsumsi media sebagai fenomena yang sangat penting dengan menyelidiki teori pembingkaian politik dan teori penetapan agenda. Studi ini didasarkan pada data sekunder dari artikel yang ditinjau sejawat. Tujuannya adalah untuk menganalisis bagaimana visibilitas, konstruksi cerita, dan dominasi algoritmik media memengaruhi wacana politik dan keterlibatan publik. Ditemukan bahwa paparan digital secara signifikan memengaruhi bagaimana publik memprioritaskan isu sebelum memberikan penjelasan atau definisi apa pun. Penelitian ini menyoroti bahwa visibilitas dalam masyarakat kontemporer tidak lagi terbatas pada jurnalisme, karena pengguna dan algoritme secara signifikan mendikte apa yang terlihat dan penting, menyesuaikan keunggulan informasi yang disajikan secara digital. Studi ini berpendapat bahwa stimulasi algoritmik mengubah media menjadi kekuatan yang kuat yang beroperasi berdasarkan identitas, di mana ruang lingkup dan sumber daya politik membentuk legitimasi sistematis dan pemahaman publik tentang ruang lingkup kebijakan yang disampaikan melalui media massa. Berfokus pada dampak algoritma dan politik yang semakin meningkat pada media sosial, penelitian ini menekankan perlunya tanggung jawab dan integritas yang lebih besar dari media dan pengembangan teoritis untuk mengatasi logika kontrol yang tidak diatur.Kata Kunci: Paparan Media, Persepsi Publik, Teori Pembingkaian, Teori Agenda-Setting ABSTRACT This research explores media consumption as a phenomenon of significant importance by investigating the political framing theory and agenda-setting theory. The study is based on secondary data from peer-reviewed articles. It aims to analyze how media outlets' visibility, story construction, and algorithmic dominance impact political and public engagement discourse. It was found that digital exposure significantly influences how the public prioritizes issues before rendering any explanation or definition. The research highlights that visibility in contemporary society is no longer confined to journalism, as users and algorithms significantly dictate what is visible and critical, customizing the superiority of digitally presented information. The study argues that algorithmic stimulation transforms media into a powerful force operating on identity, where political scope and resources shape systematic legitimacy and public understanding of policy scope delivered through mass media. Focusing on the growing impact of algorithms and politics on social media, the research emphasizes the need for greater responsibility and integrity from the media and theoretical development to address the unregulated logic of control.Keywords: Media Exposure, Public Perception, Framing Theory, Agenda-Setting Theory

    Strategi Keluarga Pekerja Penggilingan Padi Keliling dalam Menghadapi Perubahan pada Sistem Persaingan Pasar

    Get PDF
    ABSTRAK Pertanian merupakan sektor vital dalam kehidupan masyarakat pedesaan karena menyediakan sumber pangan sekaligus penghidupan. Salah satu aspek penting dalam pascapanen adalah proses penggilingan padi, yang kini mengalami transformasi signifikan dengan hadirnya mesin penggilingan padi keliling (mobile). Di Desa Mancon, Kabupaten Nganjuk, fenomena ini mendorong munculnya persaingan antar 19 unit usaha penggilingan padi keliling dalam wilayah kerja yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi nafkah keluarga dengan pekerjaan utama sebagai penggiling padi keliling dan menggali alasan di balik pemilihan strategi tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, serta teori strategi nafkah dan sosiologi nafkah sebagai pisau analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga pekerja penggilingan padi keliling mampu bertahan secara ekonomi dan menunjukkan kesejahteraan relatif. Strategi yang diterapkan mencakup bekerja mandiri tanpa asisten, keterlibatan anggota keluarga dalam pekerjaan, serta optimalisasi penggunaan alat penggilingan untuk menunjang pendapatan. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi nafkah yang adaptif berperan penting dalam mempertahankan eksistensi dan meningkatkan taraf hidup keluarga di tengah persaingan ekonomi desa.Kata Kunci:  Sosiologi Nafkah, Keluarga, Pekerja Penggilingan Keliling, Persaingan PasarABSTRACT  Agriculture is a vital sector in rural communities, providing both food and livelihoods. One crucial post-harvest process is rice milling, which has undergone significant transformation with the emergence of mobile rice milling machines. In Mancon Village, Nganjuk Regency, this phenomenon has led to competition among 19 mobile rice milling units operating within the same work area. This study aims to analyze the livelihood strategies of families whose primary occupation is mobile rice milling and explore the reasons behind these strategies. Employing a descriptive qualitative method with a phenomenological approach, the study draws on the theories of livelihood strategies and livelihood sociology. The findings reveal that families engaged in mobile rice milling are able to sustain their livelihoods and achieve a relatively prosperous standard of living. Strategies include working independently without assistants, involving family members in the business, and maximizing the use of milling equipment to support household income. These results highlight how adaptive livelihood strategies play a crucial role in ensuring economic survival and improving the quality of life in the face of local competition.Keywords: Family, Livelihood Sociology, Rice miller-vehicle workers, Market Competition 

    Pengaruh Influencer Media Sosial Tiktok Terhadap Proses Pembelajaran Netizen Di Malaysia

    Get PDF
    ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana para influencer TikTok membentuk pembelajaran di antara para audiensnya. Secara khusus, penelitian ini berusaha memahami jenis konten yang diproduksi oleh influencer, metode yang mereka gunakan untuk melibatkan audiens mereka, dan dampak dari strategi ini terhadap pengalaman belajar audiens. Dengan mengeksplorasi fenomena ini, penelitian ini berusaha untuk memberikan wawasan tentang peran influencer media sosial dalam membentuk perilaku belajar dan menginformasikan strategi untuk mempromosikan hasil pembelajaran yang positif di lingkungan online. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji bagaimana influencer TikTok mempengaruhi perilaku belajar dan juga untuk menguji keakuratan dan akuntabilitas influencer TikTok dalam konten pendidikan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei kuantitatif. Jumlah sampel minimum ditentukan melalui perangkat lunak Raosoft Sample Size Calculator. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui platform Google Form, dengan 432 responden dari berbagai latar belakang. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar responden cukup mengetahui pola penggunaan TikTok (M=3.95), dan dengan informasi yang diberikan, mayoritas responden juga setuju dengan perspektif tentang bagaimana influencer TikTok membentuk pembelajaran di kalangan penonton (M=3.84) dan juga responden setuju dengan dampak tentang bagaimana influencer TikTok membentuk pembelajaran di kalangan penonton (M=3.88). Terakhir, penelitian ini menunjukkan bahwa di TikTok, para influencer sering menampilkan berbagai perilaku, keterampilan, atau pengetahuan dalam video mereka.  Penonton, pada gilirannya, mengamati demonstrasi ini dan dapat menginternalisasi informasi yang disajikan dan influencer bertindak sebagai model bagi audiens mereka.Kata Kunci: TikTok, Influencer, Perilaku, Pembelajaran, Pendidikan  ABSTRACTThis study aims to investigate the extent to which TikTok influencers shapes learning among their audience members. Specifically, it seeks to understand the types of content produced by influencers, the methods they employ to engage their audience, and the impact of these strategies on viewers' learning experiences. By exploring this phenomenon, the study seeks to provide insights into the role of social media influencers in shaping learning behaviour and inform strategies for promoting positive learning outcomes in online environments. Objective of this study is to examine how TikTok influencers affect learning behaviour and also to examine the TikTok influencers' accuracy and accountability in educational content. Methodology that been used in this study is Quantitative surveys. The minimum sample size was determined through Raosoft Sample Size Calculator software. The study employs a quantitative approach via the Google Form platform, with 432 respondents from various backgrounds partaking. The findings indicate that most respondents are midly aware with TikTok usage pattern (M=3.95), and with the information provided, the majority of respondents are also in agreement with the perspective on how TikTok influencers shapes learning among viewers (M=3.84) and also respondents agree with the impact on how TikTok influencers shapes learning among viewers (M=3.88). Finally, this study shows that on TikTok, influencers often showcase various behaviour, skills, or knowledge in their videos.  Viewers, in turn, observe these demonstrations and may internalize the information presented and influencers act as models for their viewers.Keywords: TikTok, Influencer, Behaviour, Learning, Educationa

    Perubahan Sosial Pada Masyarakat Dusun Munti Gunung: Dari Mekurup, Menggepeng, Hingga Kembangkan Potensi Wisata

    Get PDF
    ABSTRAKDusun Munti Gunung telah ditandai sebagai “desa pengemis” atau “penggepeng” sejak tahun 1980-an. Hal ini disebabkan Munti Gunung merupakan daerah yang sangat gersang dengan letak air tanahnya yang sangat dalam. Sebelum menjadi pengemis, masyarakat Munti Gunung kerap pergi ke kota untuk menukarkan hasil panen dengan kebutuhan mereka sehari-hari (barter).  Namun seiring berjalannya waktu, transaksi barter tersebut berubah menjadi meminta-minta tanpa mempertukarkan hasil panen. Meskipun pemerintah telah berupaya mengembangkan aspek pariwisata di dusun tersebut, namun permasalahan tersebut masih belum terselesaikan secara tuntas. Penelitian mengenai kemiskinan dan praktik menggepeng yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Munti Gunung memang telah banyak dibahas, namun temuan-temuan tersebut belum mampu menjelaskan perubahan sosial yang lebih komprehensif dan mendalam yang terjadi pada masyarakat tersebut. Padahal penelitian tentang perubahan sosial dapat menyediakan pemahaman mendalam tentang dinamika masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan sosial, sehingga kebijakan dapat lebih tepat sasaran dan efektif. Melalui penelitian ini, peneliti bertujuan menganalisis perubahan sosial masyarakat Dusun Munti Gunung dalam dimensi interaksional yang dikemukakan oleh Himes & Moore melalui metode penelitian kualitatif dengan sumber data dari literatur dan wawancara mendalam dengan sejumlah informan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan dari aktivitas barter menjadi pengemis adalah perubahan yang tidak direncanakan dan tidak dikehendaki, sedangkan perubahan dari menggepeng menjadi aktivitas pengembangan desa wisata merupakan perubahan yang direncanakan dan dikehendaki. Secara keseluruhan, perubahan yang terjadi bersifat multiliner yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.Kata kunci: Desa Munti Gunung, Gepeng, Kemiskinan, Perubahan Sosial ABSTRACTMunti Gunung Hamlet has been marked as a "beggar village" or "penggepeng" since the 1980s. This is due to Munti Gunung being an extremely arid area with very deep groundwater. Before becoming beggars, the residents of Munti Gunung often traveled to the city to exchange their harvest for their daily necessities (barter). However, over time, these barter transactions evolved into begging without exchanging harvests. Despite government efforts to develop tourism in the hamlet, these issues remain unresolved. Research on poverty and begging practices in Munti Gunung has been widely discussed, yet these studies have not provided a comprehensive and in-depth explanation of the social changes occurring within the community. Research on social change can provide a deep understanding of societal dynamics and the factors affecting social welfare, leading to more targeted and effective policies. Through this study, the researcher aims to analyze the social changes in the Munti Gunung community through the interactional dimension proposed by Himes & Moore, using qualitative research methods with data sourced from literature and in-depth interviews with several informants selected through purposive sampling. The research findings indicate that the shift from bartering to begging was an unplanned and undesirable change, whereas the transition from begging to developing a tourist village was a planned and desired change. Overall, the observed changes are multilinear, driven by both internal and external factors.Keywords: Munti Gunung Hamlet, Beggar, Poverty, Social Change 

    Pengaruh Media Sosial Tiktok Dalam Isu Kesehatan Mental Di Malaysia

    Get PDF
    ABSTRAKPlatform media sosial adalah elemen penting dalam kehidupan masyarakat, karena tidak diragukan lagi telah mengubah cara orang berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Mencari informasi tentang kesehatan mental adalah salah satu cara orang menggunakan media sosial, khususnya TikTok. Di samping dampak positifnya, TikTok juga menjadi tempat berkembangnya misinformasi, di mana orang-orang akan mengeksploitasi platform ini untuk berbagi informasi tentang kesehatan mental dengan tujuan mencari perhatian dan empati dari orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental di TikTok dan mengetahui penerimaan masyarakat termasuk opini dan sikap terkait isu kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan menggunakan convenience sampling dengan melibatkan 400 responden. Adapun penyebaran quesioner dilakukan melalui   Google Form. Temuan utama dari penelitian ini menggambarkan bahwa TikTok efektif dalam mengatasi masalah kesehatan mental, pengguna TikTok menerima pendapat yang dibagikan di platform terkait masalah tersebut. Penelitian ini telah memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat dengan mengadvokasi pemanfaatan TikTok yang tepat, sebagai sarana untuk mendorong wacana kesehatan mental. Penelitian ini telah membuka jalan bagi pengembangan komunitas yang lebih suportif, mendorong diskusi terbuka tentang masalah kesehatan mental dan mempromosikan kesadaran tentang cara menggunakan potensi TikTok secara efektif untuk inisiatif kesehatan mental. Kata kunci:  Media Sosial, Kesehatan Mental; Kesadaran; Pencarian Perhatian; TikTok.  ABSTRACTSocial media platforms are an essential element in people's lives, as they have undoubtedly changed how people interact and communicate. Looking for information about mental health is one way people use social media, especially TikTok. Apart from its positive impact, TikTok has also become a place for misinformation to develop, where people will exploit this platform to share information about mental health to seek attention and empathy from other people. This research aims to measure public awareness of mental health issues on TikTok and determine public acceptance, including opinions and attitudes regarding mental health issues. This research uses quantitative methods and convenience sampling involving 400 respondents. The questionnaire was distributed via Google Forms. This study's main findings illustrate that TikTok effectively addresses mental health issues; TikTok users are receptive to the opinions shared on the platform regarding these issues. This research has significantly contributed to society by advocating for the appropriate use of TikTok to encourage mental health discourse. This research has paved the way for developing more supportive communities, encouraging open discussions about mental health issues and promoting awareness about effectively using TikTok's potential for mental health initiatives.Keywords: Social Media, Mental Health, Awareness, Attention Seeking, TikTok

    Pertunjukan Interaksi Sosial di Game Online: Etnografi Permainan Among Us dengan Pendekatan Teori Dramaturgi

    No full text
    Game online merupakan sebuah permainan virtual dengan memanfaatkan jaringan komputer berupa LAN atau internet. Game online dapat dioperasikan dalam berbagai perengkat seperti PC atau smartphone yang terhubung dengan internet. Perkembangan game online saat ini cukup pesat, sebagian besar anak muda bermain game online untuk mengisi waktu luangnya. Salah satu game online yang sempat ramai dimainkan yaitu game Among Us.Game Among Us merupakan game yang menempatkan para pemainnya sebagi anggota kru pesawat luar angkasa yang diberikan tugas untuk menyelesaikan beberapa misi, sementara itu diantara para anggota kru pesawat luar angkasa terdapat seorang Impostor yang berperan untuk meniru dan membunuh para anggota kru kapal tersebut. Tujuan dari penelitian ini, mendalami serta menganalisis dinamika interaksi sosial dalam permainan Among Us dengan menggunakan teori dramaturgi milik Erving Goffman. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitain kualitatif dengan pendekatan secara etnografi partisipasi aktif. Hasil yang didapatkan yaitu permainan peran dalam game Among Us cukup menarik dan sesuai dengan pola teori milik Erving Goffman mengenai teori dramarurgi. Dalam permainan ini dapat menampilkan pola interaksi para pemain yang sedang menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan peran yang diberikan oleh sistem. Selama proses permainan akan sangat sulit tidak mendapatkan tuduhan karena berprilaku kurang wajar atau mencurigakan. Namun hal tersebut menjadikan para pemain menjadi lebih teliti selama proses permainan

    70

    full texts

    83

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇