Jurnal Buana Informatika
Not a member yet
274 research outputs found
Sort by
Penggunaan Gray Level Co-Occurance Matrix Dari Koefisien Aproksimasi Wavelet untuk Deteksi Cacat Tekstil
Pendeteksian cacat tekstil saat ini masih dilakukan secara manualmengakibatkan seseorang sulit mendeteksi lebih dari 60% dari cacat yang ada.Untuk itu, penelitian ini menerapkan metode deteksi cacat tekstil secara otomatismenggunakan Gray Level Co-Occurance Matrix (GLCM) dari koefisienaproksimasi wavelet yang bertujuan untuk mengevaluasi analisis kinerja metode.Tahapannya, sampel citra tekstil dibagi menjadi delapan bagian untukmendapatkan tekstur cacat yang lebih jelas. Bagian tersebut didekomposisikedalam dua level. GLCM dihitung dari koefisien aproksimasi wavelet level satudan dua untuk dijadikan fitur. Penelitian ini dilakukan empat set simulasi citradengan orientasi latar berbeda. Setiap set terdiri dari satu citra noncacat dan duajenis citra cacat. Setiap bagian citra noncacat dihitung jaraknya dengan semuabagian pada citra cacat pertama dan kedua menggunakan jarak euclidean. Hasilsimulasi menunjukkan bahwa GLCM dari koefisien aproksimasi wavelet levelkedua mampu mendeteksi lebih dari 70% dari cacat yang ada
Implementasi Algoritma Kunang-Kunang Untuk Penjadwalan Mata Kuliah di Universitas Ma Chung
Abstract. Course scheduling is considered as a complex matter because the generated schedule must guarantee that there are no clashes of classes, lecturers, and students’ schedules. At Ma Chung University, course scheduling is still accomplished manually. Due to the limited number of rooms and lecturers r, resource sharing system is applied. This causes complication in manual scheduling. Firefly algorithm is implemented in this application to schedule the course automatically. A schedule solution is represented as a firefly. Firefly with lower light intensity will move toward firefly with higher light intensity, so that a better solution is found. Based on a scheduling test, the best light intensity value of firefly is reached when firefly algorithm’s parameters, β0 and γ, are given 1 and 10 with light intensity value of 0,0003831. Keywords: course, firefly algorithm, scheduling  Abstrak. Penjadwalan mata kuliah merupakan hal yang kompleks karena jadwal yang dihasilkan tidak hanya menjamin jadwal pertemuan semua kelas dan dosen tidak bentrok, tetapi juga menjamin jadwal pertemuan semua mahasiswa tidak bentrok. Penjadwalan mata kuliah di Universitas Ma Chung masih dilakukan secara manual. Karena jumlah kelas dan dosen yang dimiliki terbatas, maka diterapkan sistem resource sharing. Sistem resource sharing ini membuat proses penjadwalan yang dilakukan secara manual menjadi lebih rumit. Algoritma yang digunakan untuk penjadwalan mata kuliah pada aplikasi ini adalah algoritma kunang-kunang. Sebuah solusi jadwal mata kuliah dalam algoritma kunang-kunang direpresentasikan sebagai seekor kunang-kunang. Kunang-kunang dengan intensitas cahaya yang lebih rendah akan bergerak menuju kunang-kunang yang lebih terang sehingga mampu didapatkan solusi jadwal mata kuliah yang lebih baik. Berdasarkan hasil uji coba, nilai intensitas cahaya terbaik didapatkan ketika parameter algoritma kunang-kunang, β0 dimasukkan 1 dan γ dimasukkan 10 hingga didapatkan intensitas sebesar 0,0003831. Kata Kunci: algoritma kunang-kunang, mata kuliah, penjadwala
Evaluasi Tata Kelola Sistem Informasi Akademik Berbasis COBIT 5 di Universitas Pendidikan Ganesha
Abstract. This research is aimed to evaluate the maturity level of IT governance in the implementation of academic information system services at Universitas Pendidikan Ganesha. The method employed is a mix of quantitative and qualitative methods by using a questionnaire, interview, and document research. The foci of this research are in several domains of COBIT 5 including, EDM4, APO7, and BAI4. Source of data obtained from the chair person of the computer center office, the IT staff on computer center office, the IT staff on faculty, and the vice dean of academic affairs. The analysis was done by descriptive interpretative based on COBIT 5. Research results show that IT governance on academic information system services at Universitas Pendidikan Ganesha operates quite well as the maturity level currently reaches level 3 (established). This result is compared with the expected maturity level of 5 (optimizing), the comparison of the result is obtained by the value of the gap. The value of the gap is used to formulate recommendations for improvement. For the improvement of IT governance it is recommended that agencies to prepare competent human resources, as well as documenting every evaluation activities, directing, and monitoring the management of academic information system.Keywords: IT Governance, COBIT 5, Maturity Level. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kematangan tata kelola teknologi informasi (TI) dalam penerapan layanan sistem informasi akademik (SIAK) di Universitas Pendidikan Ganesha. Metode yang digunakan adalah metode campuran kuantitatif dan kualitatif menggunakan instrumen kuesioner, wawancara, dan studi dokumen. Fokus penelitian ini pada beberapa domain COBIT 5 meliputi, EDM4, APO7, dan BAI4. Sumber data diperoleh dari Kepala Pusat Komputer (Puskom), staf TI Puskom, staf TI fakultas, dan pembantu dekan I. Analisis penelitian dilakukan dengan cara deskriptif interpretatif berbasis COBIT 5. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kematangan tata kelola TI pada layanan SIAK Undiksha saat ini berada pada tingkat tiga (established). Hasil ini dibandingkan dengan tingkat kematangan yang diharapkan yaitu tingkat lima (optimizing), dari hasil perbandingan tersebut diperoleh nilai kesenjangan. Nilai kesenjangan digunakan untuk merumuskan rekomendasi perbaikan. Untuk perbaikan tata kelola TI disarankan agar lembaga mempersiapkan SDM yang kompeten, serta mendokumentasikan setiap kegiatan evaluasi, pengarahan, dan monitoring dalam pengelolaan SIAK.Kata Kunci: Tata Kelola TI, COBIT 5, Tingkat Kematanga
Pemanfaatan Algoritma Porter Stemmer Untuk Bahasa Indonesia Dalam Proses Klasifikasi Jenis Buku
Abstract. Stemming is the process of mapping and decomposition of various forms (variants) of a word to essentially find the root word. This process is also referred to as the conflation. Stemming process has been widely used in the activities of the information retrieval (search information) to improve the quality of the information obtained. Stemming works by employing words taken froma dictionary and the usage of the basic rules of affixes. Porter stemmer for Indonesian or commonly referred as Tala stemmer uses the rules of basic analysis to find the root of a word. Tala Stemmer does not use a dictionary in the process. Instead, it uses a rule-based algorithm. In this study, the principal issue raised is how to make the process of classification/determination of the book/library materials in a library with a fast and effective manner in order to minimize error in determining the type of books. The solution is to utilize the method used by the porter stemmer for stemming Indonesian.Keywords: Stemming, Information Retrieval, Porter Stemmer, Classification Abstrak. Stemming adalah proses pemetaan dan penguraian berbagai bentuk (variants) dari suatu kata menjadi bentuk kata dasarnya. Proses ini juga disebut sebagai conflation. Proses stemming secara luas sudah digunakan di dalam kegiatan Information retrieval (pencarian informasi) untuk meningkatkan kualitas informasi yang didapatkan. Cara kerja stemming dapat dilakukan dengan menggunakan kamus kata dasar maupun menggunakan aturan-aturan imbuhan. Porter stemmer untuk Bahasa Indonesia atau yang biasa disebut dengan stemmer Tala menggunakan rule base analisis untuk mencari root sebuah kata. Stemmer Tala tidak menggunakan kamus dalam proses, melainkan menggunakan algoritma berbasis aturan. Dalam penelitian ini, pokok permasalahan yang diangkat adalah bagaimana melakukan proses klasifikasi/penentuan jenis buku/bahan pustaka dalam sebuah perpustakaan dengan cara yang cepat dan efektif sehingga dapat meminimalisir kesalahan penentuan jenis buku. Solusi yang dipergunakan adalah dengan memanfaatkan metode stemming dengan porter stemmer untuk bahasa Indonesia.Kata Kunci: Stemming, Information Retrieval, Porter Stemmer, Klasifikas
Pemetaan Secara Sistematis Pada Metrik Kualitas Perangkat Lunak
Abstract. Software quality assurance is one method to increase quality of software. Improvement of software quality can be measured with software quality metric. Software quality metrics are part of software quality measurement model. Currently software quality models have a very diverse types, so that software quality metrics become increasingly diverse. The various types of metrics to measure the quality of software create proper metrics selection issues to fit the desired quality measurement parameters. Another problem is the validation need to be performed on these metrics in order to obtain objective and valid results. In this paper, a systematic mapping of the software quality metric is conducted in the last nine years. This paper brings up issues in software quality metrics that can be used by other researchers. Furthermore, current trends are introduced and discussed.Keywords: Software Quality, Software Assesment, Metric Abstrak. Penjaminan kualitas suatu perangkat lunak merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas suatu perangkat lunak. Metrik kualitas perangkat lunak merupakan bagian dari model pengukuran kualitas perangkat lunak. Model kualitas perangkat lunak memiliki jenis yang sangat beragam, sehinggga metrik kualitas perangkat lunak menjadi semakin beragam jenisnya. Beragamnya jenis metrik pengukuran kualitas perangkat lunak memberikan permasalahan pemilihan metrik yang tepat agar sesuai dengan parameter pengukuran kualitas yang diinginkan. Permasalahan yang lain adalah validasi yang harus dilakukan terhadap metrik tersebut agar diperoleh hasil yang obyektif dan valid. Dalam makalah ini akan dilakukan pemetaan sistemastis terhadap metrik pengukuran kualitas perangkat lunak pada sembilan tahun terakhir. Diharapkan dengan pemetaan sistematis akan dapat memunculkan permasalahan-permasalahan pada metrik kualitas perangkat lunak yang dapat digunakan sebagai penelitian untuk peneliti yang lain. Kata Kunci: Kualitas Perangkat Lunak, Penjaminan Perangkat Lunak, Metri
Perangkingan Dokumen Berbahasa Arab Menggunakan Latent Semantic Indexing
Berbagai metode perangkingan dokumen dalam aplikasi InformationRetrieval telah dikembangkan dan diimplementasikan. Salah satu metode yangsangat populer adalah perangkingan dokumen menggunakan vector space modelberbasis pada nilai term weighting TF.IDF. Metode tersebut hanya melakukanpembobotan term berdasarkan frekuensi kemunculannya pada dokumen tanpamemperhatikan hubungan semantik antar term. Dalam kenyataannya hubungansemantik antar term memiliki peranan penting untuk meningkatkan relevansi hasilpencarian dokumen. Penelitian ini mengembangkan metode TF.IDF.ICF.IBFdengan menambahkan Latent Semantic Indexing untuk menemukan hubungansemantik antar term pada kasus perangkingan dokumen berbahasa Arab. Datasetyang digunakan diambil dari kumpulan dokumen pada perangkat lunak MaktabahSyamilah. Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode yang diusulkanmemberikan nilai evaluasi yang lebih baik dibandingkan dengan metodeTF.IDF.ICF.IBF. Secara berurut nilai f-measure metode TF.IDF.ICF.IBF.LSIpada ambang cosine similarity 0,3, 0,4, dan 0,5 adalah 45%, 51%, dan 60%. Namun metode yang disulkan memiliki waktu komputasi rata-rata lebih tinggidibandingkan dengan metode TF.IDF.ICF.IBF sebesar 2 menit 8 detik
Analisis Empiris Atas ORDPATH Encoding Untuk Kinerja Insert Node Pada Ordered XML Tree
Abstract. The eXtensible Markup Language (XML) has quickly become the de facto standard for data exchange via web. An XML document can be viewed as an ordered tree that has at least one node. Each node must be labeled by using a scheme approach to describe the XML data structure. There are two famous existing encodings, namely Dewey and Inteval Encodings. In this paper, ORDPATH encoding based on Dewey together with the two other encodings are empirically demontrated on dblp, nasa, and treebank datasets. The results show that while a new node was inserted into the tree, Dewey and Interval have to relabel the inserted node’s siblings and modify the interval number of the sibling nodes, respectively. Whereas, the ORDPATH eliminates this problem by adding an even number used as a caret for the new insertion node.Keywords: Ordered Tree, XML, ORDPATH. Abstrak. EXtensible Markup Language (XML) terus menjadi standard untuk penukaran data melalui web. Sebuah dokumen XML dapat ditinjau menjadi tree terurut yang berisikan sedikitnya satu node. Setiap node harus dilabelkan menggunakan sebuah algoritma pelabelan untuk mendeskripsikan struktur data XML tersebut. Ada dua algoritma encoding yang terkenal selama ini, Dewey dan Interval encoding. Pada tulisan ini, metode ORDPATH yang berbasiskan Dewey bersama-sama dengan Dewey dan Interval didemontrasikan secara empiris dengan menggunakan dataset dblp, nasa, dan treebank. Hasil menunjukkan bahwa ketika node baru dimasukkan ke dalam tree, Dewey dan Interval harus melakukan pelabelan kembali dan memodifikasi interval sibling node. Akan tetapi, ORDPATH dapat mengatasi masalah ini dengan memberikan angka genap yang digunakan sebagai penanda untuk node baru.Kata Kunci: Ordered Tree, XML, ORDPATH
Penerapan Algoritma Genetika Traveling Salesman Problem with Time Window: Studi Kasus Rute Antar Jemput Laundry
Optimasi pemilihan rute merupakan masalah yang banyak dibahas padapenelitian ilmu komputer. Antar jemput laundry dengan pelanggan yang memiliki waktukhusus untuk menerima barang adalah salah satu contoh kasus pemilihan rute.Penghitungan rute tercepat memegang peranan penting karena harus tepat waktu dansemua pelanggan dapat dilayani. Berbeda dengan traveling salesman problem (TSP)konvensional yang bertujuan untuk meminimalkan jarak, kasus ini juga harusdipertimbangkan waktu ketersediaan setiap pelanggan. Pencarian solusi untukpermasalahannya adalah dengan mengkombinasikan solusi-solusi (kromosom) untukmenghasilkan solusi baru dengan menggunakan operator genetika (seleksi, crossover danmutasi). Untuk mencari solusi terbaik digunakan beberapa kombinasi probabilitascrossover dan mutasi serta ukuran populasi dan ukuran generasi. Dari hasil pengujiankombinasi probabilitas crossover yang terbaik adalah 0,4 dan mutasi adalah 0,6sedangkan untuk ukuran generasi optimal adalah 2000. Dari nilai-nilai parameter inididapatkan solusi yang memungkinkan untuk melayani semua pelanggan dengan time window masing - masing
Pengelompokan Dokumen Menggunakan Dokumen Berlabel dan Tidak Berlabel Dengan Pendekatan Modified Heuristic Fuzzy Co-Clustering
Pengelompokan dokumen merupakan suatu metode yang digunakan untuk dapatmengelompokkan suatu data berupa dokumen teks sesuai dengan kategori dari informasiyang dimiliki. Akan tetapi dengan banyaknya dokumen teks yang bervariasi menyebabkanbeberapa masalah timbul dari proses pengelompokan dokumen. Salah satu diantaranyaadalah hasil pengelompokan yang bersifat hard clustering. Hal ini disebabkan karenaproses pengelompokan yang diterapkan merupakan metode unsupervised. Berdasarkanhal tersebut maka diajukan suatu metode pengelompokan yang mengunakan AlgoritmaHeuristic Fuzzy Co-clustering dengan menerapkan metode semi-supervised yangmenggunakan dokumen berlabel sebagai proses pembelajarannya. Hasil uji cobaterhadap metode yang diusulkan menunjukkan Algoritma Heuristic Fuzzy Co-clusteringusulan terbaik dicapai pada kondisi Tu=Tv=dan 0,01 dengan nilai precission 0,19 danrecall 0,16. Algoritma Modified Heuristic Fuzzy Co-clustering yang diusulkanmemberikan hasil lebih stabil dibandingkan dengan hasil pengelompokan AlgoritmaHeuristic Fuzzy Co-clustering
Evaluasi Implementasi eGovernment Pada Situs Web Pemerintah Kota Surabaya, Medan, Banjarmasin, Makassar dan Jayapura
Abstract. Evaluating the Implementation eGovernment for the website of cities such as Surabaya, Medan, Banjarmasin, Makassar and Jayapura. This study is conducted to evaluate the eGovernment Websites in developed cities representing major islands in Indonesia. The evaluation are focused on the Transparency, Service, Efficiency, Economy, Aspirations, Display, Update and Stages Achievement of the eGovernment according to the World Bank Group. This study uses descriptive and qualitative methods by reviewing the literature on the papers that have been published, reviewing the legislation, to collect information through print and electronic media. The results of the evaluation of the implementation of eGovernment sites show that Surabaya is far better than other cities. These results together with the evaluation of the 2012-2014 PeGi ratings that the eGovernment site has been dominated by the governments on the island of Java.Keywords: eGovernment, Website, Services, Information Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi situs web eGovernment di kota-kota maju mewakili pulau-pulau besar di Indonesia, yakni: Surabaya, Medan, Banjarmasin, Makassar dan Jayapura. Evaluasinya dari sisi Transparansi, Layanan, Efisiensi, Ekonomi, Aspirasi, Tampilan, Update dan Tahapan Pencapaian Tujuan EGovernment menurut World Bank Group. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yakni dengan melakukan kajian literatur terhadap paper-paper yang sudah diterbitkan, kajian peraturan perundang-undangan, menghimpun informasi melalui media cetak dan elektronik. Hasil evaluasi implementasi situs eGovernment menunjukkan bahwa Kota Surabaya jauh lebih baik dibanding Kota-kota lainnya. Hasil ini sama dengan evaluasi PeGi dari tahun 2012-2014 bahwa dalam pemeringkatan Situs Web eGovernment selama ini hanya didominasi oleh pemerintahan di pulau Jawa.Kata Kunci: eGovernment, Situs Web, Layanan, Informas