JTR-Jurnal Tata Rias
Not a member yet
143 research outputs found
Sort by
Penentuan Strategi Promosi Digital Klinik Kecantikan Berbasis Retensi Konsumen dengan Metode TOPSIS (Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution)
This study aims to determine the most effective digital promotion strategy for increasing customer retention at Beauty Clinics. Five main criteria are set as the basis for assessment, namely engagement rate, content relevance, platform reach, customer feedback responsiveness, and conversion rate. This study involved five alternative digital promotion strategies: (1) interactive social media campaign, (2) digital loyalty program, (3) collaboration with influencers, (4) segmented paid advertising, and (5) SEO and website optimization. The assessment was conducted by five experts in the fields of digital marketing and beauty clinic management, utilizing a 4-point Likert scale. TOPSIS analysis was conducted through the stages of decision matrix normalization, weighting, determining positive and negative ideal solutions, and calculating Euclidean distance and preference values (Closeness Coefficient). The results showed that the interactive social media campaign strategy obtained the highest Closeness Coefficient value of 0.812, followed by the digital loyalty program (0.748) and collaboration with influencers (0.691). Meanwhile, the SEO website optimization strategy obtained the lowest value (0.581). These results indicate that a direct social interaction-based promotional approach is more effective in increasing customer loyalty in the service sector.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi promosi digital yang paling efektif dalam meningkatkan retensi konsumen pada Klinik Kecantikan X di Jakarta Barat dengan menggunakan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Lima kriteria utama ditetapkan sebagai dasar evaluasi, yaitu engagement rate, content relevancy, platform reach, customer feedback responsiveness, dan conversion rate. Penelitian ini melibatkan 5 alternatif strategi promosi digital: (1) kampanye media sosial interaktif, (2) program loyalitas digital, (3) kolaborasi dengan influencer, (4) iklan berbayar tersegmentasi, dan (5) optimalisasi SEO & website. Penilaian dilakukan oleh 5 pakar di bidang pemasaran digital dan manajemen klinik kecantikan, menggunakan skala Likert 4 poin. Analisis TOPSIS dilakukan melalui langkah normalisasi matriks keputusan, pembobotan, penentuan solusi ideal positif dan negatif, serta perhitungan jarak Euclidean dan nilai preferensi (Closeness Coefficient). Hasil menunjukkan bahwa strategi kampanye media sosial interaktif memperoleh nilai Closeness Coefficient tertinggi sebesar 0,812, diikuti oleh program loyalitas digital (0,748) dan kolaborasi dengan influencer (0,691). Sementara itu, strategi optimalisasi SEO & website menempati peringkat terendah (0,581). Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan promosi berbasis interaksi sosial secara langsung lebih efektif dalam meningkatkan loyalitas pelanggan di sektor jasa kecantikan. Penelitian ini menawarkan model pengambilan keputusan strategis berbasis MCDM yang dapat diimplementasikan secara praktis untuk merumuskan kebijakan pemasaran yang berorientasi pada retensi konsumen
Hubungan Motivasi Belajar dengan Minat Berwirausaha Siswa Kelas XI Tata Kecantikan SMK Negeri 3 Payakumbuh
This study aims to analyze learning motivation, entrepreneurial interest, and the relationship between these two factors among class XI beauty students of SMK 3 Payakumbuh. This study uses descriptive association with a quantitative approach. The population is the class XI beauty students of SMK Negeri 3 Payakumbuh. The number of samples is 60 people from KC1 and KC2. The type of data is primary data and secondary data. Data collection techniques use questionnaire sheets in class XI TataKecantikan. Instrument testing uses validity and reliability tests. Data analysis techniques include descriptive statistical analysis, prerequisite tests such as normality and linearity tests, and hypothesis testing using Pearson product-moment correlation. Based on the results of data analysis, the learning motivation variable obtained a value of 51.67% in the good category. The research results for the entrepreneurial interest variable achieved an average score of 41.67% in the good category. The results of the self-confidence indicator obtained a value of 48.33% in the good category. Based on the research results, there is a linear relationship between the learning motivation variable and the entrepreneurial interest variable, with a significant deviation from linearity value of 0.875 > 0.05, with a perfect correlation degree of 0.879. It is recommended that schools use the research results as a reference to enhance students' learning motivation and interest in entrepreneurship.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis motivasi belajar, minat berwirausaha dan hubungan motivasi belajar dengan minat berwirausaha siswa kelas XI kecantikan SMK 3 Payakumbuh. Penelitian ini menggunakan deskriptif asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasinya adalah siswa kelas XI kecantikan SMK Negeri 3 Payakumbuh. Jumlah sampel 60 orang yang berasal dari KC 1 dan KC2. Jenis data adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan penyebaran lembar kuesioner dalam kelas XI Tata Kecantikan. Uji instrument menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Teknik analisis data yaitu analisis statistck deskriptif, uji prasyarat analisis terdiri dari uji normalitas dan uji linieritas, uji hipotesis menggunakan korelasi pearson produck moment. Berdasarkan hasil analisis data variabelmotivasi belajar memperoleh nilai 51,67% kategori baik. Hasil penelitian variabel minat berwirausaha diperoleh hasil skor rata-rata nilai 41,67% kategori baik. Hasil indikator percaya diri memperoleh nilai 48,33% kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan terdapat terdapat hubungan yang linier antara variabel motivasi belajar dan variabel minat berwirausha dengan nilai sig devination from linearity sebesar 0.875 > 0.05, dengan derajat korelasi yang sempurna yaitu 0,879. Disarankan kepada sekolah untuk dapat menjadikan hasil penelitian sebagai acuan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa untuk meningkatkan minat dalam berwirausaha
Studi Literatur Pengaruh Media Video Terhadap Keterampilan Praktik Pangkas Rambut
The development of digital technology has driven significant changes in learning strategies, particularly in vocational education that emphasizes practical skills. One of the most effective media is instructional video. This study aims to systematically examine the impact of video media on enhancing haircutting practice skills. The research design employed is a literature review with a descriptive qualitative approach. Data were collected through the analysis of ten national and international journals discussing the implementation of video in hairdressing practice education. Data collection techniques involved scientific document searches, inclusion-based selection, content analysis, and thematic synthesis. The findings reveal that video media significantly contributes to improving students’ skills by providing clear visualizations of work procedures, learning time flexibility, and increased motivation. Videos allow learners to revisit materials, understand techniques in depth, and foster independent learning. Furthermore, videos serve as tools for self-evaluation in haircutting practice. However, challenges such as limited devices, internet access, and digital literacy remain issues of concern. Based on these findings, video is recognized as a highly potential learning medium to be implemented in practical skill education, especially in the field of hairdressing.Perkembangan teknologi digital telah mendorong perubahan signifikan dalam strategi pembelajaran, terutama dalam pendidikan kejuruan yang menekankan pada keterampilan praktik. Salah satu media yang terbukti efektif adalah video pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis pengaruh media video terhadap peningkatan keterampilan praktik pangkas rambut. Desain penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui analisis sepuluh jurnal nasional dan internasional yang membahas implementasi video dalam pembelajaran praktik tata rambut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dokumen ilmiah, seleksi berdasarkan kriteria inklusi, analisis konten, dan sintesis tematik. Hasil studi menunjukkan bahwa media video berkontribusi signifikan dalam meningkatkan keterampilan peserta didik melalui visualisasi prosedur kerja yang jelas, fleksibilitas waktu belajar, dan peningkatan motivasi. Video memungkinkan peserta didik untuk mengulang kembali materi, memahami teknik secara mendalam, serta mendorong pembelajaran mandiri. Selain itu, video juga berfungsi sebagai alat evaluasi diri dalam praktik pangkas rambut. Namun, tantangan seperti keterbatasan perangkat, akses internet, dan literasi digital tetap menjadi perhatian. Berdasarkan temuan ini, video dinyatakan sebagai media pembelajaran yang sangat potensial untuk diterapkan dalam pendidikan keterampilan praktik, khususnya dalam bidang tata rambut
Kelayakan Hair Tonic Jahe Pada Jenis Rambut Rontok
This study aims to analyze a ginger-based hair tonic product in preventing hair loss. The hair tonic is made from natural ginger, which is known for its potential to improve hair health and prevent hair loss. The study was conducted using a quantitative experimental method involving 12 female participants with hair loss issues. The participants were divided into a treatment group that used a ginger hair tonic and a control group that used other commercial products proven effective in preventing hair loss. The results showed that the use of ginger hair tonic significantly reduced the hair loss rate in the treatment group participants. During the 2-week usage period, the participants reported increased hair thickness, a significant reduction in hair loss, and improved shine and softness of their hair. Hedonic testing was also conducted to evaluate the users' preference for the ginger hair tonic. The results of the hedonic test showed that the majority of respondents liked the aroma and absorption power of the ginger hair tonic, but there were some uncertainties regarding the texture and color of the product. Nevertheless, the ginger hair tonic still showed potential as a preferred product among the majority of respondents. In further development, it is important to consider the feedback from the hedonic test to improve the formulation of the ginger hair tonic. This study provides promising preliminary evidence on the feasibility of using ginger hair tonic in naturally preventing hair loss.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produk hair tonic berbasis jahe dalam mencegah kerontokan rambut. Hair tonic ini terbuat dari bahan alami jahe yang telah terbukti memiliki khasiat dalam meningkatkan kesehatan rambut dan mencegah kerontokan. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental kuantitatif menggunakan 12 partisipan perempuan dengan masalah kerontokan rambut. Partisipan dibagi menjadi kelompok perlakuan yang menggunakan hair tonic jahe dan kelompok kontrol yang menggunakan produk komersial lain yang efektif dalam mencegah kerontokan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan hair tonic jahe secara signifikan mengurangi tingkat kerontokan rambut pada partisipan dalam kelompok perlakuan. Selama penggunaan selama 2 minggu, partisipan melaporkan peningkatan ketebalan rambut, pengurangan kerontokan yang signifikan, serta peningkatan kilau dan kelembutan rambut. Uji hedonik juga dilakukan untuk mengevaluasi tingkat kesukaan penggunaterhadap hair tonic jahe. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyukai aroma dan daya serap hair tonic jahe, namun terdapat beberapa ketidakpastian pada tekstur dan warna produk. Meskipun demikian, hair tonic jahe masih menunjukkan potensi sebagai produk yang disukai oleh sebagian besar responden. Dalam pengembangan selanjutnya, perlu memperhatikan masukan dari uji hedonik ini untuk meningkatkan formulasi hair tonic jahe. Penelitian ini memberikan bukti awal yang menjanjikan tentang kelayakan penggunaan hair tonicjahe dalam mencegah kerontokan rambut secara alami
Analisis Kemampuan Makeup Artist Mengidentifikasi Kondisi Kulit Klien Ditinjau Dari Latar Belakang Pendidikannya
Makeup Artist is a profession that requires skill. The ability to apply makeup can be obtained through formal, non-formal, or informal education. A Makeup Artist must not only have the ability to apply makeup to clients but also to identify their skin conditions, which will affect the treatment that should be applied to each different skin condition. The purpose of this research is to analyze the ability of Makeup Artists with formal (university), non-formal, and informal education backgrounds to identify skin types. The research subjects were people who worked as Makeup Artists in Semarang with a minimum of 1 year of experience. Data collection techniques used in this research were interviews and questionnaires. Data analysis was performed using descriptive statistics. The research findings showed that out of the 45 MakeUp Artists with formal, nonformal, and informal education, the dominant level category was at the moderate level, with an average percentage above 60%. This indicates that the MakeUp Artists have fairly good abilities and are capable of identifying various skin conditions effectively. However, upon closer examination, there is a slight imbalance between the low and high levels. The analysis results demonstrated that MakeUp Artists with formal education have better theoretical, attitudinal, and practical skills in applying makeup for clients with different skin conditions. Informal education excelled in the affective and psychomotor skills. On the other hand, nonformal education showed significantly low percentages in both the affective and psychomotor abilities.MakeUp Artist merupakan sebuah profesi yang membutuhkan skill. Kemampuan merias wajah bisa didapatkan melalui pendidikan formal, non-formal, ataupun informal. Seorang MakeUp Artist tidak hanya harus memiliki kemampuan merias wajah klien, namun juga perlu melakukan tindakan mengidentifikasi kondisi kulit klien, yang mana nantinya akan berpengaruh pada perlakuan seperti apa yang harus diterapkan di setiap kondisi kulit klien yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan MakeUp Artist mengidentifikasi kondisi kulit klien ditinjau dari latar belakang pendidikan formal (perguruan tinggi), non-formal, dan informal. Objek penelitiannya yaitu orang yang berprofesi sebagai MakeUp Artist di kota Semarang dengan minimal pengalaman 1 tahun kerja. Teknik pengumpulan data melalui dua sumber yaitu wawancara dan angket (kuesioner). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan 45 MakeUp Artist pada pendidikan formal, nonformal, dan informal terlihat level kategori yang dominan yaitu pada level sedang, dengan persentase rata-rata di atas 60%, artinya kemampuan MakeUp Artist ini sudah cukup baik dan mampu mengidentifikasi kondisi kulit klein dengan baik. Namun, jika dilihat lebih dalam lagi, terdapat sedikit ketimpangan di level rendah dan tingginya. Terbukti dari hasil analisis, bahwa MakeUp Artist dengan pendidikan formal memiliki kemampuan teori, sikap, dan praktikal yang lebih baik dalam merias wajah klien dengan kondisi kulit yang berbeda-beda. Pendidikan informal unggul pada kemampuan afektif dan psikomotor. Sedangkan pendidikan nonformal persentase kemampuan afektif dan psikomotornya sangat rendah
Adaptasi Tokoh Makima Dalam Anime Chainsaw Man Pada Make Up Karakter: Make up Makima's character for the occasion of the evening party
Anime is a typical Japanese animation, usually characterized by colorful images featuring characters in diverse locations and stories, aimed at various types of audiences. One of the famous anime in Japan is Chainsaw Man. Makima is one of the most beautiful and strongest characters from the Chainsaw Man animation, whose appearance is ordinary, has long pink hair tied back, and also has a characteristic orange eyeball. Behind her beautiful and calm face, Makima is known as a very cunning and manipulative figure in the Chainsaw Man animation. Character makeup is applied to change a person's appearance in terms of age, character, face, tribe, and nation to suit the character being played. The purpose of this research is to apply the basics of makeup to create character makeup by adapting the character Makima, thereby developing the knowledge and skills obtained during college, particularly in the concentration of makeup.Anime adalah animasi khas Jepang yang biasanya dicirikan melalui gambar-gambar berwarna-warni yang menampilkan tokoh-tokoh dalam berbagai macam lokasi dan cerita, yang ditujukan pada beragam jenis penonton. Salah satu animasi terkenal di Jepang yaitu animasi Chainsaw Man. Makima adalah salah satu karakter paling cantik dan terkuat dari animasi Chainsaw Man yang penampilannya biasa saja, memiliki rambut berwarna merah muda panjang yang diikat ke belakang dan juga memiliki ciri khas pada bagian bola matanya yang bewarna orange. Di balik parasnya yang cantik dan kalem, Makima dikenal sebagai sosok yang sangat licik dan manipulatif dalam animasi Chainsaw Man. Make up karakter adalah suatu tata rias yang diterapkan untuk mengubah penampilan seseorang dalam hal umur, sifat, wajah, suku, dan bangsa sehingga sesuai dengan tokoh yang diperankan. Tujuan disusunnya penelitian ini untuk mengaplikasikan dasar make up pada pembuatan make up karakter dengan mengadaptasi tokoh Makima, mengembangkan ilmu serta keterampilan yang diperoleh saat masa perkuliahan terutama pada konsentrasi rias
Pengaruh Penggunaan Masker Kulit Buah Manggis Pada Kulit Wajah Berjerawat
Mask is a cosmetic preparation used on the face to get a tightening and cleaning effect from dirt attached. Mangosteen peel which chemically contains xanthones as active chemicals that are antioxidants that can replace the function of chemical drugs to overcome acne on the face. This study aims to find out about the effect of using mangosteen peel masks on the healing results of acne on acne-prone facial skin. The research method used in this study is a quasi-experimental method (pseudo-experiment). The data collection methods used are observation, interviews, and experiments. The data analysis technique used is descriptive statistics. The results of the research on making masks have a smooth texture in accordance with the texture of masks in general, a fairly distinctive smell, attractive colors or pigmentation, appropriate and good adhesion and stick to the face and hands, so that the mask is liked by all panelists who have been tested as many as 14 panelists.Masker merupakan sediaan kosmetika yang digunakan pada wajah untuk mendapatkan efek mengencangkan dan membersihkan dari kotoran yang menempel. Kulit buah manggis yang secara kimia mengandung xanthone sebagai zat kimia aktif yang bersifat antioksidan yang dapat menggantikan fungsi obat kimiawi untuk mengatasi jerawat pada wajah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang pengaruh penggunaan masker kulit buah manggis terhadap hasil penyembuhan jerawat pada kulit wajah berjerawat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen quasi (eksperimen semu). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan eksperimen. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Hasil penelitian pembuatan masker memiliki tekstur yang halus sesuai dengan tekstur masker pada umumnya, aroma yang cukup berbau khas, warna atau pigmentasi yang menarik, daya lekat yang sesuai dan bagus serta menempel pada wajah maupun bagian tangan, sehingga masker disukai oleh seluruh panelis yang telah diuji cobakan sebanyak 14 panelis
Pengaruh Penggunaan Make-Up Sederhana Terhadap Kepercayaan Diri Wanita
This study aims to analyze the effect of simple makeup use on women's self-confidence through a literature review approach. Simple makeup is defined as minimal cosmetic use that maintains a natural appearance. This study collected and reviewed various literature from scientific journals, books, and relevant articles published within the last 10 years. The analysis focused on the relationship between simple makeup and self-confidence, considering psychological, social, and cultural aspects. The findings reveal that simple makeup positively influences women’s self-confidence, particularly in social and professional contexts. Simple makeup helps women feel more confident without altering their core identity. The study also found that beauty standards and social norms play a role in shaping women’s perceptions of makeup and self-confidence. This study concludes that simple makeup can serve as a tool to enhance women's self-confidence in everyday life. Further research is recommended to explore additional factors, such as age and cultural background, that may influence this relationshipPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan make up sederhana terhadap kepercayaan diri wanita dengan pendekatan studi literatur. Make up sederhana didefinisikan sebagai penggunaan kosmetik minimal yang tetap mempertahankan penampilan natural. Studi ini mengumpulkan dan menelaah berbagai literatur dari jurnal ilmiah, buku, dan artikel relevan yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir. Analisis difokuskan pada hubungan antara make up sederhana dan kepercayaan diri, dengan mempertimbangkan aspek psikologi, sosial, dan budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan make up sederhana memiliki pengaruh positif terhadap kepercayaan diri wanita, terutama dalam konteks sosial dan profesional. Make up sederhana membantu wanita merasa lebih percaya diri tanpa mengubah esensi diri mereka. Penelitian ini juga menemukan bahwa standar kecantikan dan norma sosial berperan dalam memengaruhi persepsi wanita terhadap make up dan kepercayaan diri. Studi ini menyimpulkan bahwa make up sederhana dapat menjadi salah satu alat untuk meningkatkan kepercayaan diri wanita dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi faktor-faktor tambahan, seperti usia dan latar belakang budaya, yang dapat memengaruhi hubungan ini
Literatur Riview Identifikasi Dan Klasifikasi Skincare Berdasarakan Permasalahan Kulit Wajah
Facial skincare has become an integral part of the daily routine for many individuals, especially among women, to maintain the health and beauty of their skin. As time progresses, skincare products have become increasingly diverse, with various options claiming to address different skin concerns. However, many consumers face difficulty in choosing the right products, particularly because facial skin problems are highly varied. Therefore, this article aims to help the public better understand facial skin issues in more detail, enabling them to choose skincare products that are more suitable and aligned with their skin’s needs, which in turn will improve overall skin health. The research method used in this study is a literature review, analyzing various scientific articles related to the identification of skin types and the selection of skincare products. Consumers' decisions in choosing skincare products are greatly influenced by both internal and external factors. Internal factors, such as skin type and condition, play a key role in determining the right products, while external factors such as price, brand, packaging, and recommendations from others also play a significant role. Thus, despite the substantial benefits provided by technology, consumers still need to be wise in utilizing available information to avoid making incorrect decisions.
Perawatan kulit wajah atau skincare telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian banyak individu, terutama di kalangan perempuan, untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Seiring perkembangan zaman, produk skincare semakin beragam, dengan berbagai macam pilihan yang mengklaim dapat mengatasi berbagai permasalahan kulit. Namun, banyak konsumen yang kesulitan dalam memilih produk yang tepat, terutama karena permasalahan kulit wajah yang sangat bervariasi. Oleh karena itu, dengan ditulisnya artikel ini diharapkan masyarakat dapat memahami permasalahan kulit wajah secara lebih detail, dapat memilih produk skincare yang lebih tepat guna dan sesuai dengan kebutuhan kulit mereka, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesehatan kulit secara keseluruhan. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah literatur review yang menganalisis berbagai artikel ilmiah terkait identifikasi jenis kulit wajah dan pemilihan produk skincare. keputusan konsumen dalam memilih produk skincare sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang melibatkan baik aspek internal maupun eksternal. Faktor internal, seperti jenis dan kondisi kulit, memainkan peran utama dalam menentukan produk yang tepat, sementara faktor eksternal seperti harga, merek, kemasan, dan rekomendasi dari orang lain juga turut memengaruhi. Dengan demikian, meskipun teknologi memberikan manfaat besar, konsumen tetap perlu bijak dalam memanfaatkan informasi yang ada untuk menghindari keputusan yang kurang tepat.
 
Pengembangan Multimedia Video Tutorial Penataan Rambut Gala style dengan Teknik Kepang
Hair styling is all stages starting from washing, styling to beautifying the shape of the hair. The aim of this research is to identify the use of media in hair styling material in the Hair Beauty and Beauty course, design and create multimedia video tutorials on gala style hair styling using braid techniques, validate with material experts and multimedia experts and user trials and carry out analysis and revision to find out multimedia feasibility. The method used in this research is the Research and Development (R&D) method which is used to produce products and test the effectiveness of these products. The procedure for developing multimedia video tutorials goes through: (1) Identification Phase, (2) Planning Phase, (3) Creation Phase, (4) Validation Phase, (5) Revision Phase, (6) User testing phase. The results of multimedia video tutorial validation by material experts obtained an average percentage value of 92.1%. The results of multimedia expert validation obtained an average percentage value of 92%. The results of user trials obtained an average percentage value of 88.6%. The findings in this research indicate that the multimedia video tutorial on gala style hair styling using the braiding technique is in the very good category and is very suitable for use as learning multimedia because it only requires slight improvements to the multimedia video tutorial that has been made and the material that has been presented.Penataan rambut merupakan seluruh tahapan mulai dari pencucian, pratata hingga tindakan memperindah bentuk rambut. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi penggunaan media pada materi penataan rambut di mata kuliah Tata Kecantikan Rambut, merancang dan membuat multimedia video tutorial penataan rambut gala style dengan teknik kepang, melakukan validasi kepada ahli materi dan ahli multimedia dan uji coba pengguna serta melakukan analisis dan revisi untuk mengetahui kelayakan multimedia. Metode yang digunakan pada penelitian ini berupa metode Research and Development (R&D) yang digunakan untuk menghasilkan produk dan menguji keefektifan produk tersebut. Prosedur pengembangan multimedia video tutorial melalui : (1) Tahap Identifikasi, (2) Tahap Perencanaan, (3) Tahap Pembuatan, (4) Tahap Validasi, (5) Tahap Revisi, (6) Tahap uji coba pengguna. Hasil validasi multimedia video tutorial oleh ahli materi diperoleh nilai persentase rata-rata sebesar 92,1%. Hasil validasi ahli multimedia diperoleh nilai persentase rata-rata sebesar 92%. Hasil uji coba pengguna diperoleh nilai persentase rata-rata sebesar 88,6%. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa multimedia video tutorial penataan rambut gala style dengan teknik kepang yang dibuat berada pada kategori sangat baik dan sangat layak untuk digunakan sebagai multimedia pembelajaran karena hanya memerlukan sedikit perbaikan pada multimedia video tutorial yang telah dibuat dan materi yang telah disajikan