Jurnal Analisa
Not a member yet
165 research outputs found
Sort by
Pendekatan Eksplorasi Berbasis Intuisi Pada Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran pendekatan eksplorasi berbasis intuisi dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan PAM. Data diperoleh melalui instrumen tes dan nontest yang diberikan kepada 74 siswa SMP kelas VIII yang terdiri dari 37 siswa pada kelas eksperimen, dan 37 siswa pada kelas kontrol. Berdasarkan hasil pengolahan data bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran pendekatan eksplorasi berbasis intuisi dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional secara keseluruhan berdasarkan PAM (pandai, cukup, lemah). Aktivitas guru dan siswa pada saat pembelajaran dengan pendekatan eksplorasi berbasis intuisi telah terlaksana dengan baik. Pendekatan eksplorasi berbasis intuisi dapat memfasilitasi proses intuisi, penemuan konsep, dan aplikasi konsep sehingga kemampuan pemecahan masalah matematis siswa lebih baik dari pada pembelajaran konvensional.Â
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MAHASISWA MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PETA KONSEP
Generally in lecturing execution in Prodi Mathematics in Tarbiyah and Teachership Faculty UIN Bandung, dosen use the method of drill and practice, student hear and note the discourse dosen later finish the practice problem. Condition that way result the passive student, result of lecturing and ability of trouble-shooting of student mathematics is not optimal, in consequence require to develop the lecturing which can push the active student one of them is with the approach of concept map.  This Experiment research aim to to analyse the make-up of ability of trouble-shooting of student mathematics Prodi Mathematics in Tarbiyah and Teachership Faculty UIN Bandung passing approach of concept map. Data collected by tes Problem solving matematka and attitude scale. Result of research of approach of concept map can improve the ability of problem solving student in subjek mater Elementary Mathematics.Key word: concept, map, MathematicsÂ
Sifat Lapangan pada Bilangan Kompleks
Dalam teori gelanggang dibahas sifat-sifat lapangan (field)  pada suatu sistem bilangan. Suatu gelanggang komutatif L disebut lapangan jika untuk setiap a∈L dan a≠0 terdapat a^(-1)∈L, sehingga aa^(-1)=a^(-1) a=1. Diantaranya adalah sifat lapangan pada sistem bilangan kompleks. Bilangan kompleks adalah bilangan yang berbentuk a + bi atau a + ib, a dan b bilangan real dan i^2= –1. Notasi bilangan kompleks dinyatakan dengan huruf C. Dapat dibuktikan bahwa bilangan kompleks memiliki sifat-sifat lapangan yang memenuhi 10 sifat,  yaitu sifat tertutup penjumlahan dan perkalian, komutatif penjumlahan dan perkalian, assosiatif penjumlahan dan perkalian, memiliki identitas penjumlahan dan perkalian, memiliki balikan (invers) penjumlahan dan balikan perkalian
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP PADA MATERI BANGUN RUANG SISI LENGKUNGDENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa sekolah menengah pertama pada Kelas XI materi bangun ruang sisi lengkung. Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian berjumlah tiga puluh orang. Indikator komunikasi yang diteliti adalah menyatakan dan mengilustrasikan ide matematika ke dalam bentuk model matematika. Penelitian ini difokuskan pada penguasaan komunikasi matematis siswa terhadap soal-soal bangun ruang sisi datar dengan menggunakan model Jigsaw. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah soal komunikasi matematis pada materi bangun ruang sisi datar materi tabung dan kerucut. Pengolahan data untuk melihat adanya kemampuan komunikasi matematis dengan cara melihat jawaban siswa pada lembar jawaban. Setelah melihat jawaban siswa, disimpulkan bahwa siswa memberikan tanggapan yang bervariasi dalam menyelesaikan soal, yang menggambarkan kemampuan komunikasi siswa.Tidak semua siswa dapat menyelesaikan soal komunikasi matematis. Namun demikian, 60% siswa memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan Kriteria Ketuntasan Mimimal (KKM)
Penerapan Model Knisley untuk Meningkatkan Pemecahan Masalah Matematik Siswa
Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen yang dilakukan di kelas VII SMPN 51 Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah: gambaran pembelajaran matematika siswa dan guru yang menggunakan model pembelajaran matematika Knisley melalui tugas terstruktur dan tugas biasa, perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran matematika Knisley melalui tugas terstruktur, tugas biasa dan pembelajaran konvensional, kualitas peningkatan model pembelajaran matematika Knisley melalui tugas terstruktur dan model pembelajaran matematika Knisley melalui tugas biasa, serta sikap siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran matematika Knisley melalui tugas terstruktur dan melalui tugas biasa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode berbentuk Nonequivalent (Pretest dan Posttest) Control Group Design. Data yang diperoleh menggunakan instrumen penelitian berupa tes dan nontes. Setelah dilaksanakan observasi dan dianalisis. Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh: gambaran aktivitas siswa dan guru mengalami peningkatan menjadi semakin baik, terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran matematika Knisley melalui tugas terstruktur, model pembelajaran matematika Knisley dan pembelajaran konvensional, kualitas peningkatan yang diperoleh yaitu kualitas rendah, serta siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran matematika Knisle
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA SMA MELALUI STRATEGI PREVIEW-QUESTION-READ-REFLECT-RECITE-REVIEW
The study based on a lack of mathematical comprehension and representation. To overcome this, do research using preview-question-read-reflect-recite-review (PQ4R) strategy learning. This study looks at the enhancement of mathematical comprehension and representation ability among students who study mathematics with PQ4R strategy learning and conventional learning in terms of overall and category knowledge of prior mathematics students (high, medium, low). This study was quasi-experimental. The study design used was Nonequivalent Control Group Design using purposive sampling technique. The population in this study were senior high school students in Indramayu Academic Year 2012/2013. Research samples were senior students of class X. Instruments used in the study in the form of tests prior knowledge of mathematics, mathematical comprehension ability test, mathematical representation ability test, observations and questionnaires. The data were analyzed quantitatively and qualitatively. The quantitative analysis performed using independent sample t-test, and Two Way Anova test. The results showed that, (1) enhancement the mathematical comprehension dan representation ability PQ4R strategy learning students get better than students who received conventional learning in terms of overall and category knowledge of prior mathematics students; (2) there is significant interaction between learning and mathematical prior knowledge toward student’s mathematical comprehension and mathematical representation ability
Perbandingan model generative learning dan model guide discovery learning meningkatkan komunikasi matematis siswa
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: bagaimana gambaran proses pembelajaran menggunakan model Generetive Learning (GL) dan model Guide Discovery Learning (GDL) serta kualitas peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa setelah memperoleh pembelajaran dengan model GL, model Guide Discovery Learning dan model Konvensional, perbedaan pencapaian antara kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model GL, model GDL dan model Konvensional dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model GL dan model GDL. Penelitian ini menggunakan desain Quasi Eksperimen. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran proses pembelajaran matematika yang dilaksanakan dengan menggunakan model GL dan model GDL terlaksana dengan baik, peningkatan kemampuan komunikasi matematis setelah memperoleh pembelajaran dengan model GL, model GDLdan model Konvensional dengan kriteria peningkatan ketiga kelas berturut-turut yaitu sedang, tinggi dan sedang, terdapat perbedaan pencapaian kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan menggunakan model GL, model GDL dan model Konvensional serta sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model GL dan model GDL bersikap positif
Penerapan Problem Posing Dengan Teknik Learning Cell Terhadap Pemecahan Masalah Matematik Siswa
Matematika memiliki peran penting bagi siswa agar siswa memiliki kemampuan untuk berfikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah serta memiliki bekal pengetahuan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi berdasarkan wawancara, siswa masih acuh terhadap pembelajaran matematika terutama dalam memecahkan masalah. Oleh kerena siswa perlu dilibatkan secara aktif dengan model pembelajaran yang baru salah satunya Problem Posing. Penelitian ini untuk melihat penerapan Problem Posing dengan teknik Learning Cell terhadap pemecahan masalah matematika siswa. Metode yang digunakan adalah metode quasi eksperimen. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, tes, dan angket skala sikap. Secara keseluruhan aktivitas guru dan siswa sudah mulai terbiasa melaksanakan pembelajaran Problem Posing tanpa Teknik Learning Cell. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang memperoleh pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Problem Posing dengan Teknik Learning Cell, model pembelajaran pembelajaran Problem Posing tanpa Teknik Learning Cell dan terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang memperoleh pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Problem Posing tanpa Teknik Learning Cell dengan model pembelajaran Konvensional
Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Geometri Van Hiele Siswa SMP Melalui Model Pembelajaran Example Non Examples
Pokok bahasan geometri yang berhubungan dengan visualisasi gambar seringkali mengakibatkan siswa tidak senang dalam menghadapi pelajaran matematika. Jika dihubungkan dengan kemampuan berpikir matematis maka kemampuan yang paling cocok untuk dikembangkan berdasarkan masalah tersebut adalah kemampuan berpikir geometri Van Hiele. Tahapan berpikir geometri Van Hiele terdiri dari tahap pengenalan, analisis, pengurutan dan deduksi. Untuk mengaplikasikannya peneliti menggunakan model pembelajaran Example non Examples yang sejalan dengan berpikir geometri Van Hiele karena menggunakan media gambar. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui aktifitas guru dan siswa di kelas, kemampuan berpikir geometri Van Hiele siswa, dan sikap siswa. Subjek pada penelitian ini adalah siswa SMPN 8 Bandung kelas VIII-C semester 2 tahun ajaran 2011/2012. Instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar yang berupa tes formatif dan post tes. Untuk memperoleh data mengenai sikap siswa digunakan angket skala sikap. Dari hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa aktifitas guru dan siswa mengalami peningkatan untuk setiap siklus, kemampuan berpikir geometri Van Hiele siswa untuk setiap siklus pada sebagian besar siswa tergolong penguasaan tinggi dan lengkap, kemampuan berpikir geometri Van Hiele siswa diseluruh siklus pada sebagian besar siswa tergolong penguasaan tinggi dan lengkap. Dan hampir seluruh siswa bersikap positif terhadap pelajaran matematika, pembelajaran Example non Examples, dan soalsoal geometri Van Hiele. Terlihat dari rata-rata skor sikap siswa untuk setiap indikator selalu lebih besar dari pada skor netral siswa
Penggunaan Bahan Ajar Berbasis Komik dalam Menyelesaikan Soal Cerita untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
Belajar matematika adalah belajar memecahkan suatu masalah dalam konsep yang abstrak. Untuk mengupayakan agar siswa terlibat secara aktif dalam mengikuti pembelajaran yaitu dengan menggunakan media pembelajaran, seperti media komik yang akan digunakan pada penelitian ini. Penggunaan media komik dimaksudkan untuk membantu siswa dalam kesulitan menyelesaikan soal cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan pembelajaran menggunakan media komik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian yang telah dilaksanakan dapat dikatakan berhasil. Terlihat dari hasil penelitian sebagai berikut: (a) aktivitas siswa mengalami peningkatan pada tiap siklusnya, persentase aktivitas siswa paling tinggi tedapat pada siklus III yaitu sebesar 85,18%. Sedangkan aktivitas guru selama proses pembelajaran juga sudah dinilai baik. (b) rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada siklus I sebesar 78,18 dengan kriteria tinggi, siklus II sebesar 79,09 dengan kriteria tinggi, dan siklus III sebesar 81,51 dengan kriteria tinggi. (c) kemampuan pemecahan masalah matematika siswa setelah menggunakan media komik menunjukkan pada kriteria tinggi yaitu 81,21 dan (d) Sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan media komik secara keseluruhan adalah positif. Hal ini terlihat dari rata-rata skor sikap siswa lebih besar daripada skor sikap netral siswa