Jurnal Kajian Seni
Not a member yet
    160 research outputs found

    AESTHETIC DIMENSION OF BEDHAYA ANGLIRMENDHUNG DANCE: QUALITY OF DANCER STUDY BASED ON SERAT KRIDHWAYANGGA

    Full text link
    Dancers play a significant role in determining the success of a dance performance. The dancer's body serves as a medium of expression to convey the choreographer's ideas and concepts, which can be enjoyed and critiqued by the audience. Therefore, dancers are expected to possess the skill to implement forms and techniques of movement. In Javanese dance, there are various aesthetic concepts related to the quality of the dancer as a performer. The Serat Kridhwayangga expresses aesthetic concepts related to the qualification of character types and movement styles used. This article aims to present the aesthetic dimension of Bedhaya Anglirmendhung dance at Pura Mangkunegaran based on the perspective of the Serat Kridhwayangga. Through this, it is hoped to demonstrate the quality of the dancer as one of the aesthetic standards in presenting Bedhaya Anglirmendhung dance. As a cultural heritage, Bedhaya Anglirmendhung naturally possesses high aesthetic standards, one of which is the dimension of the dancer as a performer. This research adopts an ethnochoreological approach with qualitative research design. Data collection techniques mainly involve literature review. The research findings indicate that Bedhaya Anglirmendhung dance, based on the Serat Kridhwayangga, belongs to the wanodya character type with the patrap beksa pucang kanginan. The wanodya character type has normative rules related to the positions and forms of movements for the head, arms, torso, and legs. Therefore, in order to achieve aesthetic quality in the presentation of Bedhaya Anglirmendhung dance, dancers must possess the skills necessary to implement these positions and forms of movements

    KAJIAN HISTORIS BATU BATIKAM DALAM CERITA RANDAI INDO JOLITO

    Full text link
    Randai Indo Jolito dibawakan oleh anak-anak sanggar Alam Takambang di kabupaten Tanah Datar. Randai ini terinspirasi dari peristiwa batu batikam yang terletak di Dusun Tuo Limo Kaum Tanah Datar. Cerita ini berawal dari perseteruan datuak Katumangguaangan dan Datuak Prapatie Nan Sabatang yang berbeda pendapat untuk menikahkan keponakan mereka hingga terjadi pertengkaran hebat yang mengakibatkan seorang Puti Indo Jolito selaku ibu kandung dari kedua tokoh ini harus turun tangan menyelesaikan konflik dengan sebuah sumpah. Sumpah tersebut disahkan dengan ditikamnya sebuah batu dengan keris. Batu tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai batu batikam. Objek ini ini akan diteliti dengan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian sejarah atau historis. Penelitian sejarah bertujuan untuk melihat kejadian atau peristiwa yang terjadi masa lampau. Selain itu untuk mengkaji objek batu batikam sebagai sebuah artefak budaya penulis menggunakan teori pendukung yaitu pola tiga dalam estetika paradoks. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah menemukan korelasi antara aspek sejarah dalam cerita randai dan makna serta nilai yang terkandung dalam mitologi tradisional batu batikam itu sendiri

    ADAPTASI DAN PERKEMBANGAN KESENIAN EBEG BANYUMASAN PADA KOMUNITAS DIASPORA JAWA DI SUMATRA SELATAN

    Full text link
    Kesenian Ebeg Banyumasan merupakan salah satu kesenian Jawa yang dibawa oleh kelompok diaspora Jawa di Desa Tegal Sari, Kecamatan Belitang 2, Kabupaten Oku Timur, Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan upaya adaptasi dan perkembangan kesenian ebeg yang menjadikannya tetap diterima, tumbuh dan berkembang pada lingkungan sosial budaya yang baru. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini terdiri dari tahap identifikasi masalah, tahap pengumpulan data, dan tahap analisis data beserta penarikan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa aspek kebertahanan kesenian ebeg yang tetap tumbuh secara dinamis karena adanya proses adaptasi dari sisi musikal dan pertunjukan (performance). Upaya inovasi dan pengembangan juga terus dilakukan dalam rangka beradaptasi dengan situasi dan kondisi pada lingkungan sosio-kultural di daerah transmigran, antara lain dalam hal penyesuaian bentuk, ruang, dan waktu pertunjukan terhadap konteks kebutuhan acara atau event, hingga pembauran ragam ekspresi seni dari para anggotanya yang beranekaragam (latar belakang  sosial dan kultural) melalui wadah tradisi pergelaran kesenian ebeg. Seni dalam hal ini menjadi wadah interaksi budaya antar anggota masyarakat yang multi kultur dan multi etnis

    PERKEMBANGAN SENI TARLING DALAM BINGKAI MEDIA SEBAGAI STRATEGI PELESTARIAN BUDAYA LOKAL

    Full text link
    Perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalam seni pertunjukan seni Tarling khsusunya di Cirebon menarik untuk di teliti dan ditulis, karena hanya dalam kurun waktu kurang dari satu abad seni Tarling telah mengalami perubahan penggunaan nama hingga struktur pertunjukannya. Dewasa ini, media infromasi dan komunikasi berbasi digital dan internet seperti aplikasi media sosial seperti Youtube merupakan wahana untuk melakukan publikasi dan dokumentasi pelestarian seni Tarling melalui penggunaan video. Penelitian ini melibatkan khalayak masyarakat penikmat dan pelaku Seni Tarling di Cirebon. Metode yang digunakan dala penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan deskriptif analitik. Dalam memperoleh data peneliti  melakukan observasi, wawancara dan studi literatur dengan terjun secara langsung ke masyarakat tarling Cirebon melihat dan merasakan. Penelitian ini menemukan bahwa sejak dulu pelaku seni tarling selalu mengikuti perubahan zaman, seni tarling sangat terbuka dengan segala perubahan budaya. Pada saat ini, seniman tarling ikut arus perkembangan teknologi media dengan membuat konten tarling melalui chanel youtube. Terdapat upaya-upaya mengenalkan music tarling melalui media komunikasi berbasis flatform, terutama oleh generasi muda. Implikasi penelitian ini dapat menjadi pengetahuan dan informasi kongkret tentang keberadaan seni tarling di era teknologi digital

    PERKEMBANGAN KESENIAN PEPETAN WEWE DI DESA KIARA KECAMATAN WALANTAKA KOTA SERANG TAHUN 2009-2017

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kesenian Pepetan Wewe di Desa Kiara Kecamatan Walantaka Kota Serang Tahun 2009-2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, meliputi; heuristik (pengumpulan sumber/data), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Dengan menggunakan pendekatan multidimensi atau bantuan antropologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Kiara Kecamatan Walantaka yang agraris dan memiliki keyakinan agama yang kuat menciptakan kesenian tradisional yaitu kesenian Pepetan Wewe. Latar belakang lahirnya kesenian Pepetan Wewe tidak dapat dipastikan kapan kesenian ini muncul, namun diperkirakan kesenian ini ada pada tahun 1970-an. Kesenian Pepetan Wewe mengalami perkembangan pada tahun 2009-2017, kesenian Pepetan Wewe ini pada awalnya hanya digunakan sebagai media ritual keagamaan misalnya saja digunakan untuk media ritual panen padi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi yang Tuhan berikan. telah diberikan kepada masyarakat. Seiring perkembangannya, kesenian Pepetan Wewe tidak lagi digunakan dalam ritual keagamaan, tetapi juga sebagai hiburan pada acara khitanan, pernikahan, dan acara yang diselenggarakan oleh pemerintah. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran nilai fungsi yang terjadi pada kesenian Pepetan Wewe

    FILM DOKUMENTER PARTISIPATIF: MENERAPKAN METODE MOST SIGNIFICANT CHANGE (MSC) STORIES DALAM FILM DOKUMENTER

    Full text link
    Metode Most Significant Change Stories (MSC Stories) adalah pendekatan monitoring dan evaluasi yang mendorong partisipasi dari mereka yang dimonitor. Namun, sampai saat ini MSC belum memberikan rincian spesifik mengenai berbagai media yang dapat digunakan atau bagaimana hasil dari program pemberdayaan yang telah dilakukan dapat digambarkan. Ada kemungkinan untuk mendukung metode MSC dengan bantuan film dokumenter partisipatif, yang dapat digunakan sebagai tawaran strategis yang potensial. Tujuan utama dari studi ini adalah membangun diskusi tentang peluang film dokumenter sebagai bagian dari metode monitoring dan evaluasi program dengan menggunakan pendekatan partisipatif. Pembahasan yang ingin dibangun oleh penelitian ini adalah tujuan utama dari penelitian ini. Berdasarkan temuan penelitian ini, dapat dilakukan penggunaan film dokumenter partisipatif sebagai metode dalam monitoring dan evaluasi program yang dijalankan oleh MSC

    DANIEL DAY-LEWIS: AKTOR PSIKO-FISIKAL YANG MENGHIDUPKAN TOKOH MELALUI SUARA DAN AKSEN

    Full text link
    Perlahan seni peran tidak lagi menjadi teka-teki yang terbilang rumit untuk dipahami, namun tidak pula mudah untuk dilakukan. Artikel ini bertujuan menelisik bagaimana “sistem” - metode akting yang dirumuskan Stanislavski - berfungsi bagi aktor film, khususnya bagaimana aktor membangun atau menubuhkan kejiwaan dan ketubuhan tokoh. Aktor yang dibahas ialah satu-satunya hingga sekarang mendapatkan tiga Piala Oscar sebagai Aktor Pemeran Utama Terbaik di layar Hollywood, bernama Daniel Day-Lewis. Ketiga penghargaan tersebut didapatnya saat berperan sebagai Christy Brown dalam film berjudul My Left Foot (1989), sebagai Daniel Plainview dalam film berjudul There Will Be Blood (2007), sebagai Abraham Lincoln dalam film berjudul Lincoln (2012). Metode yang diterapkan ialah metode penelitian kualitatif dengan langkah studi pustaka, mengamati, menganalisis, dan memahami film di atas berdasarkan rumusan konsep-konsep yang terangkum dalam istilah “sistem”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa “sistem” yang capaiannya ialah aktor psiko-fisikal, mampu melenturkan gerak tubuh, ekspresi, serta membuat artikulasi dan intonasi dialog terasa dinamis, tidak histrionik. Bagi Daniel Day-Lewis, suara menjadi cerminan pribadi yang mendalam dari karakter. Karena itu, tokoh menjadi hidup disebabkan pembawaan suara dan aksen yang berbeda di setiap tokoh yang diperankannya

    ‘FESTIVAL’ SEBLANG OLEHSARI BANYUWANGI 2018-2022

    Full text link
    The Seblang Olehsari ‘Festival’ is a cultural celebration that comes from a ritual. The ritual is held by the people of Olehsari village as an 'action' of fulfilling an ancestral will. Its main function is as a village clean ceremony and a medium of friendship between the real world (microcosm) e and the supranatural world (macrocosm) which has been going on for decades. As a performance, Seblang Olehsari has the characteristics of using dance as the media which is demonstrated by the Seblang dancers in a trance or kejiman. The existence of Seblang Olehsari is currently growing side by side with the growth of the creative industry, so that in the process of its implementation, it has image branding or the empowerment strategy for cultural event destinations. This study aims to present a festival discourse that departs from rituals along with traditional values. The perspective of event studies is used to classify event typologies and analyze the festivalization phenomenon towards Seblang Olehsari ritual. The use of the festival platform caused a main event shift from a religious event (ritual) to a festival event. It has also an impact on socio-cultural changes or the public's point of view in viewing culture, especially on nowadays rituals.     Keywords: Banyuwangi, Event Studies, Festival, Ritual, Seblang Olehsar

    SIMULAKRA PADA FOTO IKLAN BANK DANAMON KARYA ANDRY DILINDRA

    Full text link
    Perkembangan teknologi fotografi terus memainkan perannya dalam merepresentasikan perubahan dan dapat berfungsi sebagai kendaraan komunikasi massa dan propaganda. Karakteristik dari medium seni dua dimensi ini juga dapat dipergunakan dalam berbagai hal, salah satunya pada dunia periklanan. Iklan merupakan representasi dari segudang pengalaman emosional yang pernah manusia alami, juga bentuk lain dari sebuah penggambaran harapan. Psikologi harapan dan emosional adalah senjata utama yang setiap hari menyerang masyarakat dari berbagai sisi kehidupan ekonomi kapitalistik. Akibatnya, iklan menjadi semacam katarsis di tengah himpitan kebutuhan yang terus meningkat. Baudrillard memandang sistem objek konsumen dan sistem komunikasi pada dasar periklanan, adalah sebagai pembentukan ‘sebuah kode signifikansi,’ yang mengontrol objek dan individu di tengah masyarakat. Kode tersebut dapat dianalisis melalui studi kasus pada seri iklan Bank Danamon yang merupakan karya fotografer iklan bernama Andry Dilindra. Pada iklan tersebut seolah-olah menawarkan kemudahan, namun pada sisi lain, juga merupakan gambaran kondisi pelipatan ruang-waktu yang dapat bermanifestasi menjadi pelipatan gaya hidup dalam kehidupan sosial. Pelipatan ruang-waktu yang ditunjukkan pada iklan ini menjadi sebuah ekstasi bagi manusia yang menjadikan dirinya dikuasai eskalasi dan berada dalam proses perputaran di luar kontrol yang kehilangan kebermaknaan dan esensi. Ia merupakan kode signifikansi yang mencengkram dunia sosial dan mencapai tahap fraktal dimana kondisi manusia tidak lagi dapat mendeteksi perbedaan antara yang nyata dan imajiner atau menciptakan dunia yang disebut Baudrillard sebagai ekstasis. Semuanya hanya hiperrealitas

    STIGMA TRADISI SASAK DALAM SENI LUKIS WISNU AJI KUMARA

    Full text link
    Stigma tradisi Suku Sasak Lombok melekat dalam nilai tradisi dan terbentuk dalam perilaku yang berkembang dalam masyarakat, kecenderungan pada sebuah pemikiran yang kemudian melekat terhadap pemahaman bermasyarakat. Konsep stigma tradisi menjadi konsep perwujudan yang kemudian terepresentasikan dari nilai-nilai tradisi yang berkembang melalui pemahaman bentuk, nilai sejarah dan konsep estetik melalui hasil karya seni  Wisnu Aji Kumara. Penelitian ini berupaya untuk memaparkan, mengklarifikasi stigma tradisi yang berkembang di wilayah pemahaman Suku Sasak Lombok dalam wujud seni rupa melalui karya rupa seni lukis. Hal ini sebagai upaya menambah referensi pustaka terkait nilai sejarah, tradisi, dan nilai sosial kemasyarakatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif guna mengetahui pemahaman dan konsep penciptaan seni rupa terkait konsep stigma masyarakat tradisi

    144

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Seni
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇