Buletin Agrohorti
Not a member yet
    465 research outputs found

    Pengaruh Pemupukan Urea dan Varietas pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) terhadap Produksi Biomassa dan Biji

    Full text link
    Jagung merupakan tanaman pangan yang mempunyai peran strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian nasional. Produktivitas jagung sangat ditentukan oleh mutu genetik varietas yang ditanam dan pemupukan yang tepat. Kegiatan penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemupukan berbagai dosis pupuk urea terhadap dua varietas jagung yang ditanam melalui produksi biomassa dan biji.  Penelitian dilakukan pada Januari hingga Mei 2023 di Kebun Percobaan Leuwikopo Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan petak terbagi dalam rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga kali ulangan. Perlakuan terdiri dari 2 faktor yaitu varietas dan dosis pupuk urea. Varietas sebagai petak utama dan dosis pupuk urea sebagai anak petak. Dua varietas jagung, BISI-18 (hibrida) dan Bisma (komposit) ditanam dan dipupuk dengan dosis urea 0, 175, 350, dan 525 kg ha-1. Peningkatan dosis urea hingga 525 kg ha-1 secara linier meningkatkan total bobot kering, bobot tongkol dengan kelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, diameter tongkol, bobot biji per tongkol, dan bobot biji per plot. Tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang tongkol, dan nilai SPAD menunjukkan respons kuadratik dengan dosis Urea optimum masing-masing 461.25; 435; 350; 435 dan 518 kg ha-1. Dosis urea 439.25 kg ha-1 merupakan dosis optimum untuk mencapai produktivitas tinggi pada kedua varietas tersebut. Kata kunci: bobot tongkol, diameter tongkol, dosis optimum, produktivitas, total bobot kerin

    Potensi Ekstrak Daun Eucalyptus pellita sebagai Bioherbisida Pratumbuh untuk Pengendalian Gulma

    Full text link
    Aplikasi bioherbisida merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan herbisida sintetis.  Tanaman Eucalyptus pellita mengandung zat alelokimia yang berpotensi sebagai bioherbisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun E. pellita sebagai bioherbisida pratumbuh untuk pengendalian gulma dalam percobaan di rumah kaca. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari tujuh konsentrasi ekstrak daun, yaitu 0 (kontrol), 50, 100, 150, 200, 300, dan 400 g L-1. Unit percobaan berupa pot berdiameter 15 cm dan tinggi 20 cm. Gulma yang menjadi target adalah Asystasia gangetica, Borreria alata, Eleusine indica, dan Cyperus brevifolius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun E. pellita menekan perkecambahan benih gulma target dalam percobaan rumah kaca. Ekstrak daun E. pellita pada 200 g L-1 hingga 400 g L-1 menekan pertumbuhan plumula dan radikula gulma target dalam percobaan rumah kaca. Ekstrak tidak mempengaruhi perkecambahan C. brevifolius. Kata kunci: alelopati, bioherbisida, konsentrasi, perkecambahan, penekanan gulm

    Pertumbuhan dan Hasil Varietas Padi Gogo pada berbagai Jarak Tanam di bawah Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan

    Full text link
    Konsumsi beras yang tinggi seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi negara Indonesia untuk memenuhi kebutuhan beras. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menunjang produktivitas beras adalah menanam padi gogo sebagai tanaman sela di perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan varietas dan jarak tanam terhadap pertumbuhan serta hasil padi gogo di bawah naungan kelapa sawit menghasilkan. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret hingga Agustus 2023 di Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Dramaga, Bogor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor yaitu perlakuan varietas dan jarak tanam. Varietas yang digunakan adalah IPB 9G, IPB 8G, Inpago 12, dan Situ Bagendit. Perlakuan jarak tanam menggunakan jarak tanam 5 cm x 5 cm, 10 cm x 10 cm, 15 cm x 15 cm, dan 20 cm x 20 cm. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap persentase tanaman hidup, tinggi tanaman, jumlah anakan, dan jumlah anakan produktif dengan varietas IPB 9G menunjukkan hasil secara keseluruhan lebih baik. Perlakuan jarak tanam tidak memberikan pengaruh nyata pada semua parameter pengamatan namun jarak tanam 20 cm x 20 cm memberikan hasil yang lebih konsisten dibandingkan ketiga jarak tanam lainnya. Kedua perlakuan tidak menunjukkan interaksi yang nyata pada semua parameter pengamatan. Pertumbuhan dan hasil pada padi gogo dibawah naungan kelapa sawit dapat dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan jenis tanah.  Kata kunci: IPB 9G, jarak tanam, naungan, tanaman sela    &nbsp

    Konsentrasi dan Waktu Aplikasi Paklobutrazol, Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Mutu Benih Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Monch)

    Full text link
    Sorgum varietas Samurai memiliki tinggi tanaman mencapai 198.7 cm, sehingga mudah rebah serta menyulitkan pemeliharaan dan pemanenan. Aplikasi paklobutrazol bertujuan menghambat pertumbuhan tinggi tanaman serta meningkatkan kualitas fisiologis benih. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi dan waktu aplikasi paklobutrazol yang tepat untuk menghasilkan benih sorgum bermutu tinggi. Penelitian dilaksanakan dari April 2023 hingga Februari 2024 di kebun percobaan Lewikopo. Konsentrasi paklobutrazol yang diberikan adalah 1000 ppm dan 1500 ppm, waktu aplikasi pada umur 5 dan 7 minggu setelah tanam.  Mutu benih diuji pada saat panen dan setelah penyimpanan (1, 2, dan 3 bulan). Aplikasi paklobutrazol 1000 ppm pada umur 5 minggu setelah tanam merupakan perlakuan yang tepat untuk menekan pertumbuhan tinggi tanaman. Perlakuan dosis paklobutrazol ini menghasilkan peningkatan yang signifikan pada diameter batang, panjang daun, dan lebar daun serta mutu benih yaitu daya berkecambah dan bobot kering kecambah normal. Aplikasi paklobutrazol secara nyata menurunkan kandungan giberelin dalam benih. Aplikasi paklobutrazol 1500 ppm pada 7 minggu setelah tanam menurunkan mutu benih setelah simpan berdasarkan tolok ukur daya berkecambah, kecepatan tumbuh, dan potensi tumbuh maksimum. Kata kunci: daya berkecambah, giberelin, kecepatan tumbu

    Manajemen Pemupukan dan Monitoring Demplot Precipalm Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Lahan Gambut, Riau

    Full text link
    Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan strategis di Indonesia. Untuk mendukung produktivitasnya, pemupukan yang tepat sangat diperlukan. Penerapan prinsip 5T (tepat jenis, dosis, waktu, cara, dan tempat) menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi dan hasil produksi secara berkelanjutan.  Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan, mulai dari Januari hingga Mei 2022, di Kebun Divisi I Belaras Barat, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi efektivitas dan efisiensi pemupukan pada tanaman kelapa sawit berdasarkan prinsip 5T, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat tempat. Pengamatan dilakukan pada blok percobaan precipalm dengan menganalisis proses pemupukan serta komponen produksi dan produktivitas tanaman. Hasil menunjukkan bahwa pelaksanaan pemupukan sebagian besar telah sesuai dengan kaidah 5T dan standar operasional kebun. Secara keseluruhan, tingkat kepatuhan terhadap kaidah 5T dalam kegiatan pemupukan mencapai 95.62%. Evaluasi produksi dan produktivitas dilakukan dengan menghitung jumlah dan bobot tandan buah segar (TBS) tiap bulan dan tahun, bobot janjang rata-rata per bulan, serta efisiensi pemupukan. Efisiensi pemupukan pada perlakuan precipalm mencapai 31.68%, sedangkan pada perlakuan kontrol hanya sebesar 23.47%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan metode yang tepat dalam pemupukan dapat meningkatkan efisiensi dan potensi hasil produksi kelapa sawit secara signifikan. Kata kunci: efisiensi pemupukan, kaidah 5T, produktivitas kelapa sawi

    Identifikasi Zat Alelopati pada Daun Eucalyptus pellita F. Muell dan Pengaruhnya terhadap Perkecambahan Gulma

    Full text link
    Pengendalian gulma menggunakan herbisida sintetis lebih efektif dan murah dibandingkan dengan pengendalian manual, namun berisiko menyebabkan pencemaran lingkungan. Daun Eucalyptus pellita mengandung senyawa alelopati yang berpotensi sebagai bioherbisida. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ecotoxycology, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi zat alelokimia pada daun Eucalyptus pellita dan mengetahui potensinya sebagai bioherbisida untuk mengendalikan perkecambahan gulma. Senyawa alelokimia ditentukan menggunakan GCMS. Ekstrak daun diaplikasikan pada benih gulma di laboratorium. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Perlakuan konsentrasi ekstrak terdiri dari 0%, 5%, 10%, dan 20% (w/v). Gulma target adalah Asystasia intrusa, Borreria alata, dan Eleusine indica. Hasil penelitian menunjukkan adanya 23 senyawa dalam ekstrak daun E. pellita; senyawa dominannya adalah 1,8 cineole. Ekstrak daun E. pellita menekan perkecambahan benih gulma target. Ekstrak daun E. pellita pada konsentrasi 5%-20% menekan pertumbuhan plumula dan radikula A. intrusa dan B. alata dalam percobaan laboratorium. Kata kunci: alelokimia, bioherbisida, biomassa, ekstrak daun, perkecambaha

    Produksi Tanaman Cabai Tumpangsari dengan Tanaman Famili Brassicaceae di Cianjur, Jawa Barat

    Full text link
    Tumpang sari merupakan salah satu program intensifikasi pertanian yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan. Tumpangsari dapat meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan pendapatan petani, dan membagi risiko. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi tentang produksi cabai tumpang sari dengan tanaman dari keluarga Brassicaceae. Penelitian dilakukan di lahan petani di Cianjur, Jawa Barat, dari Januari hingga April 2020. Tumpangsari merupakan praktik yang mudah dilakukan oleh petani dengan menggunakan cabai dan tanaman Brassicaceae. Penelitian dilaksanakan mulai dari persiapan lahan hingga pasca panen tanaman cabai, kubis dan sawi putih. Pengamatan meliputi waktu panen (MST), bobot hasil (kg), luas lahan (m²), dan analisis usaha tani. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman cabai yang ditumpangsarikan dengan sawi putih memiliki bobot panen akhir yang lebih tinggi sebesar 16.458 ton ha-1 dibandingkan dengan cabai yang ditumpangsarikan dengan kubis yaitu sebesar 15.885 ton ha-1. Cabai yang ditumpangsarikan dengan sawi putih memiliki rasio R/C sebesar 3.20, sedangkan tanaman cabai yang ditumpangsarikan dengan kubis memiliki rasio R/C sebesar 3.21. Hal ini menunjukkan bahwa hasil kelayakan usaha tani di antara keduanya menguntungkan dan layak karena rasio R/C keduanya >1. Kata kunci: analisis usaha tani, evaluasi, hasil panen, R/C rati

    Produksi Tanaman Anyelir (Dianthus chinensis L.) sebagai Tanaman Hias Pot dan Hamparan di Cianjur, Jawa Barat

    Full text link
    Pembibitan tanaman hias biasanya menghasilkan banyak varietas anyelir. Keragaman morfologi antar varietas (dalam satu spesies) memberikan keleluasaan bagi konsumen dalam memilih produk yang akan dibeli. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai produksi, kriteria panen komoditas anyelir serta mengevaluasi kelayakan usaha tani dari komoditas tersebut. Penelitian dilakukan di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia, pada bulan Januari hingga April 2020. Terdapat 2 percobaan, yaitu (1) mengamati perbedaan 2 varietas anyelir yang diproduksi sebagai tanaman hias pot; varietas anyelir yang diamati memiliki kode DNT 417 dan DNT 917; dan (2) mengamati perbedaan 2 varietas anyelir yang diproduksi dalam polibag untuk digunakan sebagai tanaman hamparan, varietas anyelir yang diamati memiliki kode DNT 103 dan DNT 123. Secara umum keempat varietas yang diamati (untuk anyelir pot dan polibag) yang diproduksi dengan menggunakan prosedur standar perusahaan dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan perusahaan. Nilai R/C ratio pada tanaman anyelir pot dan anyelir polibag yaitu 3.47 dan 2.53. Nilai R/C ratio pada komoditas anyelir pot dan anyelir polibag menunjukkan hasil >1 yang berarti usahatani layak dijalankan dan bersifat menguntungkan.    Kata kunci: analisis usaha tani, Caryophyllaceae, kriteria panen, R/C rati

    Aplikasi Dosis Pupuk KCl terhadap Tingkat Kemanisan Wortel (Daucus carota L.) Aksesi Cipanas dan Varietas Kuroda

    Full text link
    Wortel (Daucus carota L.) merupakan komoditas sayur yang dikenal secara umum oleh masyarakat. Kualitas wortel yang baik diharapkan mampu meningkatkan konsumsi masyarakat. Salah satu cara meningkatkan kualitas wortel adalah meningkatkan rasa manis dengan cara meningkatkan dosis pupuk KCl yang diberikan. Penelitian bertujuan menguji hubungan dosis pupuk KCl terhadap tingkat kemanisan wortel. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Agustus 2019 di Kebun Percobaan Pasir Sarongge IPB, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur dan Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi dengan dua faktor. Faktor pertama adalah varietas (Kuroda dan Cipanas) sebagai petak utama dan faktor kedua adalah dosis pupuk KCl (60, 90, 120, dan 150 kg ha-1) sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan varietas berbeda nyata pada semua parameter, kecuali daya berkecambah dan diameter umbi. Perlakuan dosis pupuk KCl pada tanaman wortel tidak meningkatkan kadar padatan terlarut total. Wortel Kuroda memberikan hasil terbaik pada uji tingkat kemanisan, sedangkan wortel Cipanas memberikan hasil terbaik pada produksi dan produktivitas panen. Karakter hasil tanaman yang berkorelasi nyata secara positif terhadap masing-masing karakter adalah produksi, produktivitas, panjang umbi, dan bobot umbi. Kadar padatan terlarut total (PTT) berkorelasi nyata secara negatif terhadap karakter produksi, produktivitas, panjang umbi dan tinggi tanaman. Kata kunci: korelasi, kualitas umbi, padatan terlarut total, produks

    Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Labuhanbatu, Sumatera Utara

    Full text link
    Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan penting yang potensial untuk dibudidayakan. Pemeliharaan pada tanaman kelapa sawit khususnya pemupukan memerlukan biaya yang tinggi sehingga perlu diperhatikan peningkatan efisiensi dan efektivitas pada penerapannya. Penelitian dilaksanakan di Labuhanbatu, Sumatera Utara yang berlangsung dari Januari–Mei 2022. Penelitian bertujuan untuk menganalisis sistem manajemen pemupukan kelapa sawit yang efektif dan efisien. Pengamatan pemupukan dilakukan pada penerapan kaidah 5T (tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, tepat waktu dan tepat tempat). Data dianalisis menggunakan uji t-student. Berdasarkan hasil pengamatan, manajemen pemupukan sudah dijalankan dengan baik sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh kebun. Penerapan sistem tempat pengeceran pupuk meningkatkan kualitas pemupukan dan mempermudah proses pelangsiran pupuk. Ketepatan dosis aplikasi pupuk pada pemupukan HGFB mencapai persentase 95.5% dan pada pemupukan MOP mencapai persentase dan 92.8%. Realisasi aplikasi pupuk sudah sesuai dengan rekomendasi waktu pemupukan. Cara pengaplikasian pupuk juga sudah baik, rata–rata presentasi cara pemupukan HGFB dan MOP yaitu 95.5% dan 92.1%. Tempat pemupukan juga sudah diaplikasikan sesuai standar kebun (50 cm), rata–rata jarak aplikasi pupuk dari pokok pada pemupukan HGFB yaitu 54.9 cm dan MOP yaitu 52.9 cm. Kata kunci: efisiensi, keefektifan, kelapa sawit, ketepatan, pemupuka

    434

    full texts

    465

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Agrohorti
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇