Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Penetapan Umur Panen Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Berdasarkan Metode Akumulasi Satuan Panas dan Kematangan Polong
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan umur panen tiga varietas kacang tanah (Arachis hypogea L.) berdasarkan akumulasi satuan panas. Percobaan ini dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor dan Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB pada bulan Maret hingga Juni 2014. Percobaan terdiri atas dua faktor, yaitu varietas (sebagai petak utama) dan waktu panen (sebagai anak petak) yang disusun petak terbagi (split plot) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Varietas Domba, Badak, dan Panther mulai berbunga pada 24 HST. Varietas Badak dan Panther mencapai 50% populasi tanaman berbunga dengan akumulasi satuan panas 528.2 0Cd pada umur panen 30 HST, sedangkan varietas Domba mencapai 50% populasi tanaman berbunga dengan akumulasi satuan panas 562.7 0Cd pada saat 32 HST. Varietas Domba dan Panther dengan akumulasi panas 1764.2 0Cd pada umur panen 100 HST, sedangkan varietas Badak di panen pada akumulasi satuan panas 1851.4°Cd dengan umur panen 105 HST
Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Adolina, Serdang Bedagai, Sumatera Utara
Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Adolina. Dalam pelaksanaan magang, manajemen panen dalam kegiatan panen kelapa sawit diutamakan untuk diamati dan dipelajari. Pengamatan dalam manajemen panen terdiri atas: rotasi panen, kerapatan panen, taksasi produksi harian, kebutuhan tenaga panen, kriteria matang panen, kapasitas pemanen, mutu buah dan pengangkutan buah ke pabrik kelapa sawit. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif menggunakan rata-rata, persentase dan standar deviasi (statistik deskriptif) serta uji t-student (komparasi). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa manajemen panen kelapa sawit di Kebun Adolina perlu ditingkatkan. Hal ini karena kapasitas pemanen yang lebih rendah dari standar perusahaan dan tingginya persentase produksi buah yang tidak bermutu. Rendahnya kapasitas pemanen berpengaruh terhadap perhitungan kebutuhan tenaga panen dan terganggunya rotasi panen. Rotasi panen yang terganggu berpengaruh terhadap tingginya persentase produksi buah yang tidak bermutu. Kebun Adolina telah melaksanakan taksasi kerapatan panen yang cukup akurat terhadap kerapatan panen realisasi. Keakuratan taksasi kerapatan panen terhadap kerapatan panen realisasi berpengaruh terhadap keakuratan taksasi produksi harian serta perhitungan kebutuhan tenaga panen dan angkutan panen
Respon Pertumbuhan dan Fisiologi Aksesi Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn) dalam Kondisi Cekaman Kekeringan di Pembibitan
Jatropha (Jatropha curcas Linn) merupakan salah satu bahan baku popular untuk menghasilkan bahan bakar biodiesel. Kendala yang sering terjadi, yaitu lahan yang tersedia untuk menanam Jatropha adalah lahan marjinal sehingga penting untuk mengetahui toleransi aksesi jarak pagar terhadap kekeringan. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca, Cikabayan, Dramaga IPB. Pengujian klorofil dilakukan di laboratorium Molecular Marker, Spectrofotometry dan UV-Vis, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai bulan Juli 2011 dan berakhir Maret 2012. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dua faktor, yaitu aksesi dan uji cekaman dengan ulangan tiga kali. Faktor pertama yang diamati adalah toleransi terhadap kekeringan yang dilakukan pada tiga taraf, yaitu 30%, 55%, dan 80% kadar air tanah kapasitas lapang. Faktor kedua yang diamati adalah 10 aksesi jathropa yang telah dievaluasi, diantaranya IP-3M, Jatim 013, Jatim 045, NTT 065, NTT 080, NTB 019, NTB 047, NTB 116, Sulawesi 72 dan Sulawesi 117. Berdasarkan uji klorofil a dan b yang telah dilakukan, aksesi Jatim 045 menunjukkan perlakuan dengan hasil terbaik (toleransi tertinggi terhadap kekeringan), sedangkan dari uji skor toleransi tertinggi terhadap kekeringan antara 35% dan 80% kapasitas lapang ditunjukkan oleh NTT 065 aksesi dan toleransi tertinggi terhadap kekeringan di antara 55% dan 80% kadar air tanah ditunjukkan oleh aksesi Jatim 045 dan NTB 047
Pertumbuhan dan Produksi Kacang Bogor (Vigna subterranea (L.) Verdcourt) pada Beberapa Jarak Tanam dan Frekuensi Pembumbunan
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jarak tanam yang optimal dan frekuensi pembumbunan yang tepat untuk mendapatkan hasil panen terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jarak tanam yang terdiri atas enam taraf, yaitu 40 cm x 25 cm, 50 cm x 25 cm, 60 cm x 25 cm, 40 cm x 40 cm, 50 cm x 50 cm, dan 60 cm x 60 cm. Faktor kedua adalah frekuensi pembumbunan yang terdiri dari dua taraf yaitu dua kali pembumbunan dan tiga kali pembumbunan. Hasil penelitian menunjukkan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap peubah jumlah daun, lebar kanopi, indeks luas daun (ILD), bobot brangkasan kering per tanaman, bobot polong basah per tanaman, bobot polong kering per tanaman, bobot biji per tanaman, jumlah polong bernas per tanaman, jumlah tanaman yang dipanen, bobot polong basah petak, bobot polong kering petak, dan bobot biji petak, sedangkan frekuensi pembumbunan hanya berpengaruh pada bobot brangkasan kering per tanaman. Jarak tanam 60 cm x 25 cm dan 40 cm x 40 cm memberikan hasil panen terbaik dan sesuai digunakan dalam budidaya kacang bogor
Manajemen Pemanenan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Serawak Damai
Magang ini dilaksanakan di Kebun Serawak Damai (SDME) dari Maret sampai Juni 2014. Kegiatan magang ini bertujuan meningkatkan kemampuan teknis lapangan, meningkatkan kemampuan manajerial di perkebunan kelapa sawit, serta meningkatkan kemampuan dalam memahami budidaya lapangan produksi secara nyata terutama dalam pemanenan hasil. Kegiatan pemanenan meliputi pemotongan buah di lapangan produksi hingga pengiriman seluruh buah ke pabrik untuk diproses. Kualitas buah hasil panen, mutu hancak, sistem transportasi buah dan kemampuan panen karyawan harian pada Divisi tiga SDME diamati dengan pengambilan contoh data. Data hasil produksi dan produktivitas panen kelapa sawit dianalisis dengan uji t - student, sedangkan transportasi buah dan kemampuan panen karyawan harian dianalisis secara deskriptif. Divisi tiga SDME memiliki produksi bulanan yang tinggi dengan pencapaian rata - rata 128 % terhadap budget produksi. Kemampuan panen rata - rata tenaga kerja sebesar 2.8 ha HK-1. Transportasi buah sering mengalami keterlambat akibat variasi waktu yang dibutuhkan unit untuk memuat buah dan antri di pabrik tidak konsisten
Respon Pertumbuhan Bibit Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) terhadap Pemberian Inokulan Cendawan Mikoriza Arbuskula dan Pemupukan Fosfor
Peningkatan produksi dan kualitas tanaman karet harus dilakukan dengan teknik pembibitan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh inokulan Cendawan Mikoriza Arbuskula dan dosis pupuk P terhadap pertumbuhan bibit stum mata tidur karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg). Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan mulai bulan Mei sampai Agustus 2014. Rancangan Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan kelompok lengkap teracak yang disusun secara faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pemberian inokulan cendawan mikoriza arbuskula yaitu tanpa inokulan mikoriza, dosis 10 g per tanaman, dan dosis 20 g per tanaman. Faktor kedua adalah dosis pemberian pupuk fosfor yang terdiri dari empat perlakuan yaitu pemupukan SP-36 (0, 0.5, 1.0, 1.5 kali dosis rekomendasi, yaitu pemberian 3.88 g per tanaman pada bulan ke-1 dan 7.76 g per tanaman pada bulan ke-3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian inokulan Cendawan Mikoriza Arbuskula tidak berpengaruh nyata terhadap panjang tunas, diameter tunas, jumlah tangkai daun, jumlah akar, akar terpanjang, bobot basah dan bobot kering akar dan tajuk. Pemupukan P berpengaruh nyata terhadap panjang tunas, serta bobot basah dan bobot kering akar dengan pola respon linear. Interaksi dengan kombinasi terbaik adalah pemberian 0.5 dosis rekomendasi SP-36 dan inokulan CMA 20 g per tanaman
Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Hatantiring, Kalimantan Tengah
Kegiatan magang memberikan ilmu dan keterampilan dalam budidaya kelapa sawit baik secara teknis maupun manajerial. Kegiatan magang dilaksanakan mulai bulan Februari hingga Juni 2014 di kebun Hatantiring, Kalimantan Tengah. Aspek pemanenan mencakup rotasi panen, taksasi produksi, sistem panen, pengawasan terhadap kehilangan hasil (losses), dan produktivitas. Pengamatan diuji dengan analisis uji t student dan analisis uji LSD. Berdasarkan analisis uji t diketahui bahwa rotasi panen terlambat akan menambah persentase brondolan sehingga peluang kehilangan hasil (losses) juga akan meningkat. Berdasarkan uji LSD pada pemeriksaan losses pertama dan kedua menunjukkan hasil signifikan begitu juga pada pemeriksaan kedua dan ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa arahan dan pengawasan mampu meingkatkan kesadaran karyawan panen dalam menekan losses. Peningkatan produksi juga dapat dicapai dengan melakukan sistem panen yang lebih efektif dan efisien. Sistem panen DOL C1R2 dinilai lebih efektif dan efisien dari pada sistem panen DOL C1R1 karena output pemanen mengalami peningkatan. Hal ini berpengaruh terhadap bertambahnya pendapatan karyawan dan pengurangan jumlah karyawan
Pengelolaan Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Tanjung JatiPengelolaan Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Tanjung Jati
Kegiatan magang ini dilaksanakan pada 10 Februari hingga 9 Juni 2014 di Kebun Tanjung Jati. Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami proses kerja secara nyata di lapangan, serta dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan manajemen dalam pengelolaan tanaman kelapa sawit. Pemupukan kelapa sawit yang efektif dan efisien harus memenuhi prinsip 5T (Tepat Dosis, Tepat Waktu, Tepat Cara, Tepat Tempat, dan Tepat Jenis). Pengamatan yang dilakukan terhadap ketepatan jenis dan cara yang diaplikasikan sudah tepat namun ketepatan dosis pemupukan serta ketepatan waktu masih perlu ditingkatka