Buletin Agrohorti
Not a member yet
465 research outputs found
Sort by
Pengelolaan Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pelantaran Agro Estate, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah
Kegiatan yang dilaksanakan di Pelantaran Agro Estate (PAGE), Kota Waringin Timur, Center Borneo dimulai dari 14 Februari 2011 hingga 14 Juni 2011. Tujuan kegiatan ini adalah menganalisa pengelolaan panen pada perkebunan Kelapa Sawit. Pengelolaan panen Kelapa Sawit penting dalam upaya mencapai kuantitas dan kualitas minyak kelapa sawit yang tinggi. Data primer diperoleh dengan mengikuti keseluruhan kegiatan di perkebunan ini, pengamatan di lapangan, wawancara, dan diskusi langsung atau tidak langsung dengan staf. Data sekunder diperoleh dari laporan manajemen. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan di PAGE dapat disimpulkan bahwa sudah memiliki pemahaman yang baik tentang kriteria buah masak. Ini bisa dilihat dengan buah mentah yang dipanen 0%, 1,5% di bawah matang, lebih matang 4,9%, 1,7% abnormal dan 91,9% buah matang. Namun masih ada kesalahan dengan pemanen seperti tangkai panjang yang masih lebih dari 2,5 cm, buah yang tidak dikutip masih 77 buah / ha, dan tandan yang tidak dipanen. Proses pengangkutan buah di PAGE sudah cukup baik. Hal itu bisa dilihat dengan mempercepat proses pengangkutan TBS (Fresh Bunch) dan buah-buahan ke PKS (pabrik kelapa sawit) dengan menggunakan bantuan kontraktor pengangkutan buah sehingga tidak ada buah yang tidak ditranspor
Konservasi In Vitro Pisang Kepok Unti Sayang (Musa balbisiana) Melalui Pertumbuhan Minimal pada Berbagai Media
Pisang kepok Unti Sayang memiliki kandungan karbohidrat 30% sehingga berpotensi sebagai bahan pangan alternatif. Pisang kepok Unti Sayang juga merupakan tanaman yang lebih tahan terhadap serangan penyakit layu darah. Ketersediaan bibit dari anakan pisang di lapang yang terbatas jumlahnya berpotensi menyebabkan punahnya pisang jenis ini. Konservasi secara in vitro merupakan solusi dalam memelihara ketersediaan bibit yang lebih aman, lebih efektif dan efesien. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi media yang optimal dalam upaya penyimpanan eksplan pisang kepok Unti Sayang dengan cara meminimumkan pertumbuhan menggunakan retardan paclobutrazol dan osmoregulator manitol serta mengevaluasi daya regenerasi pasca penyimpanan. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor berupa komposisi media yang terdiri dari dua macam media, yang pertama adalah MS+ PVP (Polivinylpyrrolidone ) + paclobutrazol ( 0, 2, 4 dan 6 ppm), serta MS+ PVP + manitol (0, 20 dan 40 ppm). Eksplan disimpan selama 18 minggu pengamatan pada media pertumbuhan minimal, selanjutnya eksplan disubkultur dalam media regenerasi MS + 2 ppmBA dan diamati selama 4 minggu. Konsentrasi media terbaik untuk meminumkan pertumbuhan eksplan adalah MS+ PVP ditambah paclobutrazol 6 ppm memberikan nilai rata-rata pertumbuhan yang paling rendah dengan jumlah tunas sebanyak 0.33, tinggi eksplan 0.39 cm, jumlah akar 0.22 dan jumlah daun 0.00. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan tertinggi yang terdapat pada tunas 1.11 (kontrol), tinggi 1.73 cm (kontrol), jumlah akar 1.11 (paclobutrazol 2 ppm) dan jumlah daun 0.44 (kontrol). Jadi konservasi in vitro pada perlakuan 6 ppm adalah perlakuan yang paling optimal dalam meminimumkan pertumbuhan eksplan hingga 18 minggu
Pengolahan Tandan Benih Kelapa Sawit (Elaeis guiinensis Jacq) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat, Sumatera Utara
Kegiatan penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Marihat, Sumatera Utara mulai dari bulan Februari sampai Juli 2011. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman tentang produksi benih dan untuk penelitian viabilitas benih berdasarkan tempat benih dalam tandan buah kelapa sawit. Data primer diperoleh dengan dua hal, berpartisipasi dalam empat Divisi SUS-BHT (Satuan Usaha Strategis - Bahan Tanaman) seperti Breeding, Pohon Induk, Produksi Benih dan Quality Control. Yang kedua adalah program penelitian tentang kelayakan tetrazolium dan uji benih berkecambah berdasarkan tempat benih dalam tandan buah. Pengolahan tandan bibit kelapa sawit terdiri dari memotong, fermentasi, membelah buah, mengupas, mematahkan dormansi, dan mengecambahkan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bagian terbaik untuk membuat benih yang baik adalah di bagian tengah tandan buah
Manajemen Panen dan Pasca Panen Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) untuk Bahan Baku Industri Tapioka di Lampung
Produksi singkong sebagai bahan baku tapioka masih menghadapi banyak masalah. Ciri produksi rendah dan mudah busuk dari singkong merupakan dua masalah yang harus dipecahkan. Salah satu metode untuk mengatasi masalah ini adalah pengelolaan panen dan panen ubi kayu yang baik. Kegiatan ini mempelajari tentang pemanenan dan pasca panen ubi kayu untuk memasok bahan baku tapioka. Tujuan dari kegiatan ini adalah studi langsung tentang teknik, masalah, dan pemecahan panen dan pasca panen dari singkong. Data primer dan sekunder diambil selama kegiatan penelitian. Data primer diambil dengan observasi langsung dan wawancara di lapangan. Data sekunder diambil dari arsip perusahaan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan panen dan pasca panen belum cukup baik, karena di sana ada kekurangan atau singkong, rendahnya keterampilan pemanen, dan singkong busuk di lapangan
Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Berdasarkan Kriteria ISPO dan RSPO di Kebun Sei Batang Ulak, Kabupaten Kampar, Riau
Kegiatan penelitian yang dilaksanakan di kebun Sei Batang Ulak (SBU), PT.Ciliandra Perkasa ini bertujuan untuk mempelajari aspek teknis dan manajerial dalam Pengelolaan perkebunan kelapa sawit, dan secara khusus mempelajari aspek pemanenan kelapa sawit. Aspek khusus pemanenan dipelajari dengan cara ikut melaksanakan kegiatan panen dan melaksanakan pengamatan pada beberapa komponen panen di kebun untuk mengetahui keefektifan dan keefisienan kegaitan panen di kebun SBU. Pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa manajemen panen yang sudah ada cukup baik, akan tetapi perlu ditingkatkan agar didapatkan produksi tandan buah segar (TBS) yang optimal. Beberapa hal yang perlu dievaluasi meliputi tenaga kerja panen yang masih kurang, penggunaan alat pelindung diri yang masih minim, target panen yang belum terpenuhi, dan mutu buah yang kurang baik. Berdasarkan hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa aspek panen belum sesuai dengan prinsip Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Belum diterapkannya kriteria ISPO dan RSPO ditunjukkan dari kurangnya sosialisasi dan mewajibkan kepada tenaga kerja untuk menggunakan alat pelindung diri ketika bekerja, membawa anak-anak pada saat kerja di lapangan. Oleh karena itu, kebun SBU belum mendapat sertifikasi ISPO maupun RSPO
Penyadapan Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) di Kebun Sumber Tengah, Jember, Jawa Timur
Tujuan dari kegiaatan magang adalah untuk meningkatkan keahlian teknik dan manajerial. Kegiatan magang dilaksanakan dari bulan Februari sampai Mei 2012 di Perkebunan Sumber Tengah, Jember, Jawa Timur. Metode magang yang digunakan adalah metode langsung dan tidak langsung. Pengumpulan data yang dilaksanakan pada kegiatan magang menggunakan metode langsung (data primer) dan metode tidak langsung (data sekunder). Data primer adalah informasi yang didapatkan secara langsung melalui pengamatan di lapangan maupun diskusi dengan KHL, mandor dan asisten kebun, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai literatur. Sistem penyadapan tanaman karet yang dilakukan di Kebun Sumber Tengah sudah cukup baik mulai dari kapasitas penyadapan sampai sistem pengangkutan. Rata-rata persentase pohon tersadap di Afdeling Sumber Jambe yaitu 90.98%. Usia, pendidikan, dan pengalaman penyadap tidak menentukan kelas sadap. Kedalaman sadap di Afdeling Sumber Jambe yaitu 0.9-1.2 mm/sadap sudah sesuai dengan rekomendasi dari Balit Getas yaitu 1-1.5 mm/sadap. Ketepatan dosis stimulansia cair yang digunakan di Afdeling Sumber Jambe sudah sesuai standar yang dianjurkan yaitu 1 g/pohon/bulan tetapi ketepatan waktu aplikasi belum sesuai dengan sistem sadap yang digunakan. Terdapat beberapa aplikasi stimulansia gas yang tidak sesuai dengan standar. Kapasitas pengangkutan lateks dan lump di Afdeling Sumber Jambe sudah cukup
Uji Daya Hasil Lanjutan Tomat (Solanum lycopersicum L.) Populasi F8
Permasalahan utama pada budi daya tanaman tomat di dataran rendah adalah kurang tersedianya varietas unggul yang berdaya hasil tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hasil genotipe tomat populasi F8. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, Dramaga, Bogor pada bulan Februari hingga Juni 2015. Percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT), satu faktor dengan tiga ulangan. Faktor tersebut adalah genotipe yang terdiri atas 13 genotipe tomat dan dua varietas komersial (Intan dan Ratna) sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh genotipe memiliki tipe pertumbuhan determinate. Seluruh genotipe memiliki bentuk daun dan bentuk tandan buah yang sama dengan varietas pembanding Intan dan Ratna. Seluruh genotipe berpengaruh nyata terhadap keseluruhan karakter. Genotipe tomat yang memiliki daya hasil lebih baik dari genotipe lainnya dan varietas pembanding Intan adalah F8 005001-4-1-12-3-87-3 dan F8 005001-4-1-12-3-66-1 (jumlah dan bobot buah per tanaman lebih tinggi). Produktivitas dan bobot per buah yang paling tinggi dimiliki oleh genotipe F8 005001-4-1-12-3-87-3. Seluruh genotipe memiliki panjang buah, tebal daging buah, dan padatan terlarut total yang lebih baik dari varietas pembanding Intan
Manajemen Pemanenan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Gunung Pamela, Sumatera Utara
Kegiatan penelitian memberikan ilmu, keterampilan dan pengalaman tambahan dalam aspek teknis budidaya kelapa sawit maupun manajerial dalam mengkoordinasikan karyawan. Kegiatan berlangsung dari bulan Februari hingga Juni 2013 di kebun Gunung Pamela Sumatera Utara. Pengamatan diuji menggunakan analasis data statistika yaitu korelasi dan uji t-student. Rotasi panen, angka kerapatan panen, manejemen tenaga kerja, dan pengawasan panen merupakan aspek penting dalam kegiatan panen. Dari hasil analisis yang dilakukan, nilai akp estimasi dengan realisasi tidak berbeda nyata, hasil korelasi terhadap kualitas pemanen yang dinilai berdasarkan umur pemanen, lama kerja, dan tingkat pendidikan terhadap output pemanen (jumlah tandan) menunjukkan sifat yang tidak nyata, lemah, dan searah kecuali tingkat pendidikan yang bersifat berlawanan arah. Hasil uji t-student terhadap lama kerja menunjukkan bahwa lama kerja pemanen tidak berpengaruh nyata terhadap output yang dihasilkan. Umur pemanen yang kurang dari 30 tahun dan lebih dari 30 tahun menurut hasil uji-t ternyata berpengaruh tidak nyata pula terhadap output yang dihasilkan pemanen. Produktivitas kelapa sawit di kebun Gunung Pamela belum sesuai dengan standar marihat
Hubungan Mutu Buah dan Curah Hujan Terhadap Kandungan Asam Lemak Bebas pada Minyak Kelapa Sawit
Kegiatan penelitian dilaksanakan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi kandungan asam lemak bebas (ALB) di kebun kelapa sawit. Faktor yang dianalisis adalah kualitas buah dan curah hujan hubungannya dengan kandungan ALB. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2014 di Provinsi Sumatera Utara. Analisis data dilakukan menggunakan model regresi linier berganda. Hasil menunjukkan bahwa kenaikan persentase buah restan berpengaruh nyata (P value = 0.045) terhadap kenaikan kadar ALB pada taraf 10%. Kenaikan 1% jumlah buah restan akan menaikkan ALB sebesar 0.001%. Persetase buah over ripe, buah unripe dan buah under ripe tidak berpengaruh nyata terhadap kenaikan ALB. Hal tersebut diduga karena proporsi yang sangat kecil. Demikian juga curah hujan, tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan ALB
Pengurangan Dosis Pupuk Anorganik dengan Pemberian Kompos Blotong pada Budi Daya TanamanTebu (Saccharum officinarum L.) Lahan Kering
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengurangan dosis pupuk anorganik dengan pemberian kompos blotong pada budidaya tanaman tebu lahan kering. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten di bawah PT. Madubaru, Yogyakarta pada bulan Desember 2014 hingga Juni 2015. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor. Dosis pemupukan yang digunakan adalah P1 (kompos blotong tanpa pupuk anorganik), P2 (kompos blotong + 50% pupuk anorganik), P3 (kompos blotong + 75% pupuk anorganik), P4 (kompos blotong + 100% pupuk anorganik) dan P5 (100% pupuk anorganik tanpa kompos blotong). Dosis pemberian kompos blotong adalah 5 ton ha-1 dan pupuk anorganik (ZA dan Phonska) masing-masing adalah 5 kuintal (ku) ha-1. Peubah yang diamati adalah jumlah batang per meter juring, panjang batang, diameter batang, bobot tebu, luas daun, klorofil daun dan produktivitas tebu. Hasil penelitian menunjukkan dosis pemupukan anorganik 75% dengan kompos blotong tidak berbeda nyata dengan dosis pemupukan anorganik 100% tanpa kompos blotong terhadap produktivitas