MEDIA MATRASAIN (Journal)
Not a member yet
349 research outputs found
Sort by
EKISTICS DALAM PERMUKIMAN NELAYAN PESISIR PANTAI SINDULANG SATU
Kawasan pesisir merupakan suatu ekosistem yang khas yang dapat di lihat dari berbagai sudut pandang. Adanya kondisi seperti ini sangat mendukung bagi wilayah pesisir dijadikan daerah yang potensial dalam pengembangan wilayah keseluruhan. Visi Kota Manado adalah Manado sebagai Kota Pariwisata Dunia dan mengangkat potensi kawasan-kawasan pesisirnya untuk menjadi potensi unggulan wisata khususnya kawasan pesisir pantai yang memiliki keunikan khusus, salah satunya kawasan permukiman nelayan pesisir pantai Sindulang Satu. Penelitian ini mengkaji mengenai keberlanjutan masyarakat nelayan dengan mengetahui bagaimana kondisi permukiman nelayan pesisir pantai Sindulang Satu menurut prinsip teori Ekistics (man, society, nature, network, shells). Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan mengunakan pendekatan penelitian terapan (Applied Research). Hasil Penelitian ini, menyimpulkan bahwa penilaian mengenai Kondisi Permukiman Nelayan Pesisir Pantai Sindulang Satu menurut prinsip Ekistics (man, shells, society, network, nature) diperoleh elemen yang memberi kontribusi yang paling besar terhadap kesejahteraan di permukiman nelayan pesisir pantai Sindulang satu ada pada elemen society. Kemudian secara berurutan diikuti oleh shells dan nature memiliki porsi seimbang. Terakhir elemen network dan man, elemen ini memberi kontribusi paling kecil. Kata kunci : Ekistics, Permukiman Nelayan, Kawasan Pesisi
PELESTARIAN LANSEKAP BUDAYA INDONESIA : MENDOKUMENTASIKAN LANSEKAP VERNAKULAR ETNIS MINAHASA DI WILAYAH PERDESAAN PESISIR PANTAI KECAMATAN KEMA, SULAWESI UTARA
Tulisan ini mengkaji lansekap budaya etnis Minahasa, yang difokuskan pada permukiman masyarakat di wilayah perdesaan. Perdesaan di Tana Minahasa (The Greater Minahasa Region terdiri dari beberapa kabupaten seperti Kabupaten Minahasa Utara, kabupaten Minahasa Induk, Kabupaten Minahasa Selatan dan kabupaten Minahasa Tenggara) memiliki ciri dan karakter lokal yang unik dan bervariasi. Filosofi dan pandangan hidup masyarakat Minahasa telah berakar ratusan tahun dan di ekspresikan secara vertikal dalam hubungan lansekap-manusia dengan Tuhan penciptanya, dalam hubungan horizontal dengan masyarakat lainnya dan hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Setiap desa memiliki perbedaan signifikan dalam budaya dan tradisi lokalnya yang tercermin dalam perilaku dan praktek hidup sehari-hari. Penelitian Lansekap Budaya khususnya lansekap vernakular pada masyarakat Minahasa akan dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik lingkungan fisik dan originalitas perspektif /pandangan hidup masa lalu dan sekarang. Rekam jejak budaya Minahasa telah terdokumentasikan dalam berbagai arsip daerah, nasional dan internasional sejak pertama kali didatangi bangsa Eropa di abad 15 dan etnis Minahasa mengalami periodisasi perubahan budaya secara drastis sejak kolonisasi Belanda. Ancaman kehilangan identitas dan tradisinya mendorong untuk dilakukan penelitian dengan menemukan kembali dan memperbaharui tradisi dan budaya asli yang pernah berkembang dengan menggali nilai-nilai tangible dan intangible dalam lansekap budaya pada masyarakat etnis Minahasa yang hidup pada jaman sekarang melalui tradisi dan kearifan lokal yang dimiliki. Riset dilakukan dengan pendekatan etnografi yang secara deskriptif mengkaji pola permukiman (desa) dan ciri arsitektur vernakular yang masih bertahan hingga saat in. Penelitian ini juga menganalisis norma tradisional, kepercayaan dan nilai-nilai hidup yang mendukung praktek perencanaan, desain dan pengelolaan lansekap permukiman berdasarkan konstruksi filosofi mempertahankan dan mengkonservasi lansekap budaya. Hasil riset membuktikan lansekap budaya Minahasa khususnya yang terdokumentasi di Kecamatan Kema masih bertahan dalam tekanan globalisasi dan modernisasi namun masih sangat membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaannya. Untuk itu perlu adanya pengelolaan Konservasi Budaya secara komprehensif, terpadu dan berkelanjutan
PERBANDINGAN TRANSFORMASI TIPOLOGIS ANTARA LINGKUNGAN HUNIAN DENGAN POLA PENGADAAN FORMAL DAN POLA PENGADAAN SWADAYA
Dari sudut pandang fisik spasial, kawasan hunian adalah penyusun terbesar sebuah kota, sehingga perkembangan wawasan terhadap bagaimana kawasan hunian bertransformasi perlu terus dieksplorasi. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah masih terbatasnya evaluasi dan komparasi terhadap tipe permukiman yang telah berjalan lama, khususnya di Indonesia, dimana setelah menempuh rentang waktu yang panjang beragam transformasi telah terjadi. Penelitian yang dilakukan membandingkan transformasi yang terjadi pada lingkungan perumahan dengan pola pengadaan yang berbeda, yaitu (1) pola pengadaan swadaya - pola pengadaan yang cenderung memberi otonomi bagi masyarakat dalam menentukan huniannya (housing by people/ government as enabler), serta (2) pola pengadaan formal - pola pengadaan yang memberi peran lebih besar bagi pemerintah (government as provider). Pada akhir penelitian ini akan diperbandingkan transformasi yang terjadi pada dua kawasan hunian di Kota Bandung, yaitu kawasan Perumnas Sadang Serang (kawasan hunian yang dikembangkan dengan pola pengadaan formal) dengan transformasi yang terjadi pada perumahan Koperasi Bina Karya (kawasan hunian yang dikembangkan dengan pola pengadaan swadaya). Perbandingan ini akan menggambarkan bagaimana transformasi terjadi pada perumahan masyarakat berpenghasilan rendah yang dikembangkan melalui pengadaan swadaya dan formal di Indonesia, dan menunjukkan perbedaan pola transformasi yang terjadi pada kedua lingkungan hunian. Berdasarkan analisa yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perumahan yang diadakan secara swadaya memiliki tingkat transformasi, ragam transformasi, dan tingkat perubahan fungsi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan perumahan yang diadakan melalui pola pengadaan formal
PANOPTIC ARCHITECTURE
hitectuBanyaknya kasus mantan narapidana yang kembali ke jeruji lembaga pemasyarakatan, membuktikan kurang ampuhnhya sistem kelembagaan yang saat ini diterapkan. Sistem pembimbingan atau pembinaan dengan usaha rehabilitasi dan reintegrasi  bermaksud agar para tahanan atau mantan nara pidana siap untuk kembali ke masyarakat dan dapat diterima kembali kedalamnya, justru seakan memberikan efek  yang  ‘santai dan biasa’ sehingga tidak adanya efek kejeraan atau citra momok mengerikan yang seharusnya melekat dengan suatu lembaga/penjara. Selain kasus diatas banyak pula kasus perkelahian yang sering terjadi antara penghuni lapas, ini menegaskan ketidak efektifitasnya sistem yang ada dengan penerapan desain bangunan yang saat ini digunakan pada bangunan Penjara. Proses perancangan dalam memecahkan permasalahan yang ada, mengarah pada model proses desain Panopticon/ pendisiplinan oleh Jeremy Bentham.Kata kunci: Lembaga, Panoptic, Penjar
OPTIMALISASI KONSEP BUILDING AS NATURE DARI PENDEKATAN ARSITEKTUR ORGANIK PADA KAWASAN INDUSTRI PETERNAKAN BERKONSEP AGROWISATA
Arsitektur yang dari zaman ke zaman terjadi perkembangan desain yang mengkarakterisasikan dasar-dasar suatu contoh objek yang nyata kemudian menjadikan suatu model untuk menciptakan suatu karya arsitektur. Pengetahuan Arsitektur organik yang menggabungkan konsep tempat tinggal atau bangunan arsitektur dengan alam, yang kemudian Frank Lloyd Wright memperluas isi dan bahasa arsitektur organik. Salah satu konsep arsitektur organik Building As Nature yang merupakan bangunan bersifat alami dimana alam menjadi inspirasi, bentuk organis yang menyesuaikan dengan alam.Perkembangan penduduk kota manado yang semakin membutuhkan fasilitas dalam bersosialisasi, pengembangan pada kawasan dan sektor pariwisata. Sektor wisata Agrowisata yang mempunyai konsep sosialisasi, belajar dan rekreasi masih kurang dalam pengembangan kawasan yang ada. Demikian pula, sektor Industri Peternakan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan industri di kota manado yang masih sedikit dalam kawasan industri peternakan.Kata Kunci : Building As Nature, Arsitektur Organik, Industri Peternakan, Agrowisat
RUANG KREATIF DI KAWASAN MEGAMAS – MANADO
Konsep kota kreatif dari Charles Landry merupakan sebuah konsep penataan dan pengembangan kota yang menekankan pada keterpaduan seluruh pemangku kebijakan kota dan lingkungan kreatif kota dalam memberdayakan dan mewadahi kreativitas warga kota. Kota Manado memiliki potensi ekonomi kreatif dan peran serta creative class dalam mewujudkan Manado sebagai kota kreatif namun tidak sebanding dengan lingkungan kreatif yang mendukung. Fenomena tersebut juga terjadi di Kawasan Megamas sebagai salah satu kawasan dengan ruang publik yang menjadi salah satu tujuan kunjungan warga kota. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan kriteria ruang kreatif di kawasan Megamas. Penelitian dilaksanakan dengan memakai pendekatan kuantitatif rasionalistik untuk mengetahui keadaan atau fenomena yang terjadi di lokasi penelitian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti. Pengambilan data primer melalui observasi lapangan, wawancara dan kuesioner pada masyarakat yang ada di lokasi penelitian. Hasil penelitian menemukan kawasan Megamas belum memenuhi syarat sebagai ruang kreatif untuk menunjang kota Manado menjadi kota Kreatif. Kata kunci : kota kreatif, ruang kreatif, kota Manado, kawasan Megama
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN DESA WISATA TAJUR KAHURIPAN DI KABUPATEN PURWAKARTA PROVINSI JAWA BARAT BERBASISKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA
Penelitian Program Pengembangan Kelompok Bidang Keilmuan (PPKBK) ini sebagai lanjutan dari PPKBK sebelumnya. Fokus penelitian yaitu pada perencanaan dan perancangan desa wisata Kampung Tajur Kahuripan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya Desa Wisata di Kabupaten Purwakarta yang memiliki ciri khas Arsitektur Sunda, padahal hal tersebut dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk membuat perencanaan dan perancangan desa wisata berbasiskan Arsitektur Tradisional Sunda dalam rangka mendukung program Visit West Java Year dan Visit Indonesia Year 2014-2019. Lokasi penelitian di Kampung Tajur Kahuripan Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat. Metoda penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, dengan cara mengobservasi dan menggali potensi Kampung Tajur Kahuripan dan masyarakatnya untuk dijadikan masukan dalam merencanakan dan merancang desa wisata.Hasil penelitian ini mendapatkan dua rumusan penting, yaitu: (1) Perencanaan desa wisata (planning) yang meliputi: master plan dan site plan yang di dalamnya terdiri dari penyediaan fasilitas bagi wisatawan, pengembangan potensi, pemintakatan fungsi, serta penghijauan; (2) Perancangan desa wisata (design) yang meliputi: rancangan tipologi bangunan penghuni dan wisatawan berbasiskan arsitektur Tradisional Sunda, seperti: imah panggung, leuit, saung lisung, bale sarwaguna, homestay, mesjid, warung souvenir, gazebo, dan lain sebagainya. Bentuk atap bangunan yang meliputi: julang ngapak, jolopong, capit gunting, sontog, badak heuay, dan tagog anjing. Konsep perencanaan dan perancangan Desa Wisata Tajur Kahuripan menggunakan pendekatan arsitektur Tradisional Sunda, mulai dari bentuk sampai dengan material. Kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya menjadi faktor penting sebagai daya tarik bagi wisatawan, seperti: proses menggarap sawah, sikap gotong royong, menjaga lingkungan, toleransi antar warga, kesenian tradisional, serta pelaksanaan berbagai upacara tradisi sebagi siklus kehidupan. Kampung Tajur Kahuripan memenuhi kriteria untuk diusulkan sebagai kawasan wisata dengan konsep arsitektur Tradisional Sunda