MEDIA MATRASAIN (Journal)
Not a member yet
349 research outputs found
Sort by
PENERAPAN ANALOGI LINGUISTIK PADA ARSITEKTUR DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP SENI EKSPRESIONIS
Penerapan Analogi Linguistik pada Arsitektur dengan Menggunakan Prinsip Seni Ekspresionis akan menjelaskan suatu konsep linguistik yang ekspresionis dengan cara mengungkapkan dan menata imajinasi pada pola penataan sehingga dapat memudahkan interpretasi yang disampaikan oleh bentuk bangunan. Konsep Analogi Linguistik pada Arsitektur dengan Menggunakan Prinsip Seni Ekspresionis akan mengkaji sebuah pemahaman sehingga dapat menyatakan dan menyatukannya dengan arsitektur yang pada akhirnya secara produktif dapat mencetuskan seni kreatifitas atau ide-ide rancang bangunan yang komprehensif atau menyeluruh dengan penataan objek yang akan dibangun. Ekspresionis dalam hal ini bahwa bangunan dianggap sebagai suatu wahana yang digunakan arsitek untuk mengungkapkan bentuk atau sikap terhadap suatu bangunan. Maksudnya bangunan dapat memberi ulasan tentang keadaan, tentang lokasi dan masalah bagaimana menjaga agar bangunan tersebut mampu membahasakan nilai-nilai estetika
BERUGAQ SEBAGAI IDENTITAS ARSITEKTUR DESA TANAH PETAK DAYE, LOMBOK UTARA
Arsitektur pada dasarnya senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia penghuninya. Tulisan ini berfokus pada berugaq (bale berkumpul) di Desa Tanah Petak Daye, Lombok Utara. Kebertahanan berugaq (bale berkumpul) di tengah-tengah perubahan yang terjadi di Desa ini, baik di area Tanah Adat (kelompok hunian sangat terikat dengan aturan-aturan adat dan yang berumur ratusan tahun), maupun Tanah Biasa (kelompok hunian lainnya sudah melepaskan diri dari aturan-aturan adat) ini menarik untuk ditelaah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan berugaq masih dipertahankan pada kedua area hunian. Untuk mengetahui penyebabnya, maka pemetaan lapangan mengenai tatanan dan bentuk (fisik-spasial) bangunan berugaq, observasi penggunaan berugaq yang berkaitan dengan kehidupan keseharian masyarakat, serta wawancara dengan tetua adat dan masyarakat mengenai makna berugaq dilakukan di kedua area Desa. Hasil dari pendataan fisik di lapangan dianalisa secara tipologi dan ditelaah dengan data non fisik yang diklasifikasikan berdasarkan culture traits and attributes dari Paul Oliver yang mencakup aktivitas keseharian, mata pencaharian dan ekonomi, sistem sosial dan aturan gender, serta kepercayaan dan nilai yang ada. Penelitian ini mengungkap berugaq masih dipertahankan, digunakan dan diperbaharui oleh masyarakat Desa Tanah Petak Daye karena berugaq mempunyai peran penting, baik dalam kehidupan keseharian masyarakat, maupun sebagai simbol sistem sosial, ekonomi dan kepercayaan masyarakat tersebut. Berugaq merupakan perwujudan fisik dari budaya masyarakat Tanah Petak Daye, Lombok Utara. Dengan kata lain, berugaq merupakan identitas arsitektur dari masyarakat Tanah Petak Daye
PETA KEBENCANAAN : URGENSI DAN MANFAATNYA
Bencana alam merupakan suatu hal yang sering menjadi momok bagi suatu kota atau kawasan. Bencana banjir bandang di Kota Manado pada tahun 2014 adalah contoh kasus dengan jumlah kerugian yang terbilang besar. Mitigasi resiko kerugian akibat kejadian bencana adalah suatu kebijakan yang tidak dapat diabaikan dan harus dikedepankan dalam setiap strategi pengembangan wilayah suatu kota. Upaya mitigasi bencana secara komprehensif seyogyanya berangkat dari suatu kajian resiko kebencanaan yang secara substansial akan bertumpu pada langkah awal dalam wujud penyiapan basis data kebencanaan berbentuk peta-peta kebencanaan. Dalam garis besar, peta kebencanaan yang harusnya menjadi dasar pengembangan strategi mitigasi bencana untuk tipe bencana tertentu adalah peta resiko bencana yang merupakan produk sintesis dari peta-peta kebencanaan lainnya yang mencakup peta ancaman (hazard map), peta kerentanan (vulnerability map) dan peta kapasitas (capacity map). Untuk menjamin terselenggaranya upaya penanggulangan bencana, khususnya mitigasi resiko bencana, eksistensi keberadaan atau pengadaan peta-peta kebencanaan seharusnya menjadi hal yang prioritas terutama bagi otoritas pemerintahan suatu kota
PERANCANGAN PUBLIC LANDMARK PADA RUANG TERBUKA PUBLIK
Keberadaan ruang public pada suatu kawasan di pusat kota sangat penting artinya, karena meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan baik itu dari segi lingkungan; masyarakat maupun kota melalui fungsi pemanfaatan ruang di dalamnya yang memberikan banyak manfaat. Landmark adalah elemen penting dari bentuk kota karena membantu orang untuk mengorientasikan diri di dalam kota dan membantu orang mengenali suatu daerah. Landmark mempunyai identitas yang lebih baik jika bentuknya jelas dan unik dalam lingkungannya. Pengertian landmark merupakan salah satu unsur pembentuk karakter kawasan yang dapat diartikan sebagai penanda, keberadaan landmark berfungsi sebagai orintasi bagi pengunjung. Sedangkan building atau bangunan secara umum adalah struktur buatan manusia yang terdiri atas dinding dan atap yang didirikan secara permanen di suatu tempat jadi landmark building merupakan bangunan yang menampilkan karakter yang berbeda dari lingkungan sekitar sehingga dapat menjadi landmark atau penanda dalam suatu kota
LANGGAM ARSITEKTUR CANDI SUKUH
Arsitektur candi merupakan warisan kebudayaan Indonesia yang masih dapat dikagumi kemegahannya hingga saat ini. Sejarah perkembangannya telah melampaui beberapa abad. Sepanjang perjalanan sejarah arsitektur klasik di Indonesia, candi telah mengalami berbagai macam zaman, Hal ini membentuk karakteristik bentuk candi yang berbeda-beda pada tiap periode. Tulisan ini akan membahas candi yang dibangun pada masa penting sejarah kebudayaan Indonesia yang ditandai dengan latar belakang sejarah menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit pada abad ke -15, yaitu candi Sukuh yang berlokasi di Desa Berjo, Karangnyar, Jawa Tengah, yang dibangun pada periode yang sama dengan runtuhnya kerajaan Majapahit. Majapahit adalah kerajaan besar pada bagian periode sejarah Indonesia, sehingga candi yang dibangun pada masa ini memiliki bentuk yang signifikan. Candi ini memiliki bentuk yang berbeda dengan candi-candi yang dibangun pada periode sebelumnya. Pada masa ini bentuk candi didominasi oleh susunan berundak yang diakui sebagai salah satu ciri bangunan pada budaya Megalitikum pra-Hindu Jawa, selain itu bangunan candi pada zaman ini kaya ornamen berbentuk relief dan arca yang menggambarkan alat reproduksi wanita dan pria sebagai simbol dua kutub. Perwujudan simbolik ini mengarah pada erotisme yang belum pernah ditemukan pada arsitektur candi masa sebelumnya. Hal ini terjadi sebagai akibat dari pengaruh kepercayaan Tantrayana. Tantrayana adalah kepecayaan yang menggabungkan antara Hindu dan Buddha (Siwa), pada kepercayaan ini banyak digunakan simbol pada ikonografi seni Buddha dan Hindu, selain itu kepercayaan ini juga dikenal bersifat magis dan penuh kerahasiaan. Fenomena ini menjadi menarik untuk ditelusuri lebih lanjut dengan tujuan untuk mengetahui asal mula pemikiran dan peristiwa yang menjadi latar belakang terbentuknya sosok arsitektur candi seperti pada masa akhir kerajaan Majapahit ini. Metoda penelitian memakai pendekatan kualitatif-deskriptif-interpretatif. Hasil temuan yang didapat dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk candi pada masa akhir kerajaan Majapahit dipengaruhi oleh kepercayaan Tantrayana yang tengah berkembang pada masa tersebut, selain itu dialog juga terjadi dengan kepercayaan yang dianut oleh budaya lokal masyarakat Hindu Jawa. Akibat dari peleburan hal tersebut, maka menghasilkan bentuk yang merupakan hasil integrasi dari aspek aspek tersebut
SUSTAINABLE URBAN WATERFRONT REDEVELOPMENT : CHALLENGE AND KEY ISSUES
Urban waterfronts as complex bioregions by nature and also socio-economical hubs by their history provide a real challenge for planning institutions in capturing and responding to the trends and dynamic of the development. In the perspective of being competitive, cities are exercising urban practises to attract investment and resources by rediscovering urban tradition and culture fundamental to build attractive urban identity. Tertiary industry including urban tourism is being developed in attractive and strategic places by revitalizing the city centre and the waterfronts.Understanding the challenge and key issues of urban waterfront redevelopment is crucial in the planning for sustainable future for the waterfront. This article descripts the challenge and issues found in the urban waterfront redevelopment; the problems that are integrally linked with the history of planning of the surrounding urban region, and the opportunity abound to be addressed as integral character of the city’s future growth. The approach to sustainable urban waterfront redevelopment differs from locale to locale, but the study cases show some challenge and key issues in the urban waterfront redevelopment are quite similar.Four cases of urban waterfront redevelopment plan located in Toronto Central Waterfront, Dalian Waterfront, Zanzibar’s Stone Town and Jakarta’s Waterfront are compared to understand the scope of the planning sector, the challenge characteristic to urban waterfront redevelopment, and the approach used in planning toward sustainable waterfront design. The objective of the case review is to find good examples of theory implementation : what are the destination of the future waterfronts, the planning approach and institutional and sectoral cooperations. The reason for choosing the cases is based on the difference of geographical location and culture, the difference approach and the possible difference of waterfront characteristic.  Zanzibar and Jakarta are located in developing countries and the two cases present a characteristic challenge; tackling urban problems including urban poverty as one of the main goals. Toronto and Dalian’s location in more developed world (Canada and China), provided some insight of difference and similarities with those in developing countries.The result shows that urban waterfront is indeed challenging environment where urban planning is constantly challenged by three pillar sectors; the economy, social and ecology. The evidence from case studies shows that major challenge found in the urban waterfront redevelopment should be addressed sustainably, requiring multi-sectoral and multi-scale institutional approach. Key issues and challenge in addressing urban waterfronts redevelopment include economic diversity, social identity, shifting land use made possible by urban policy, reconciling conflict of interests, local institutional capacity and the planning system and delivery mechanism implemented.Keywords : urban waterfront, sustainability, urban redevelopment, sustainable spatial plannin