SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1821 research outputs found

    Perbedaan Penggunaan Model Pembelajaran Treffinger dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada Mata Pelajaran Sejarah Indonesia terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IIS SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan model pembelajaran Treffinger, kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, dan perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan model pembelajaran Treffinger dan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi Experimental dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan model pembelajaran Treffinger lebih baik daripada kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol dengan peningkatan sebesar 66%, kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning lebih rendah daripada kelas eksperimen dan mengalami peningkatan sebesar 59%, dan terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis yang menggunakan model pembelajaran Treffinger dan model pembelajaran Problem Based Learning sebesar 5%. Hal ini berdasarkan hasil uji-t yang menunjukkan nilai thitung = 2,136 dan ttabel = 1,997, sehingga thitung > ttabel maka Ha diterima

    Kriminalitas di Kota Probolinggo Tahun 1980-2017

    No full text
    Abstrak Kota Probolinggo merupakan sebuah kota yang berbeda dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, serta Malang yang menjadi tujuan dari migrasi dan urbanisasi. Kondisi perekonomian Kota Probolinggo masih jauh di bawah dari kota-kota besar yang disebutkan di atas. Kondisi yang demikian, kemudian menyebabkan permasalahan sosial seperti pengangguran, kemiskinan, gelandangan, serta kasus kriminalitas. Kasus kriminalitas pada masa Orde Baru, lebih bersifat konvensional. Sementara pada masa Reformasi, tindak kriminalitas mengalami perkembangan dari jenis kejahatan serta penyebab yang semakin bervariasi. Kriminalitas berkembang sesuai dengan jiwa zamannya. Kata Kunci: Kota Probolinggo, pola kriminalita

    PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS XI IIS 2 DI MAN 4 KEDIRI

    No full text
    ABSTRAK Mutahar, M. Dian. 2019. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Pemahaman Peserta Didik Dalam Pembelajaran Sejarah Kelas XI IIS 2 Di MAN 4 Kediri. Skripsi. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Joko Sayono, M.Pd., M.Hum. Kata Kunci: Kontekstual, Pemahaman, Pembelajaran Sejarah. Peneliti dalam observasi menemukan permasalahan mengenai pemahaman sejarah peserta didik yang masih rendah, hal ini dikarenakan pembelajaran yang kurang inovatif dalam menerapkan berbagai model dan pendekatan. Berdasarkan observasi awal diketahui nilai rata-rata kelas masih dibawah KKM yang ditetapkan. Nilai KKM yang ditetapkan di MAN 4 Kediri ialah 75, dan nilai rata-rata kelas XI IIS masih berada di bawahnya. Untuk dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran sejarah perlu diterapkan pembelajaran kontekstual yang berorientasi pada lingkungan sekitar peserta didik. Solusi yang ditawarkan adalah dengan menerapkan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learning/CTL) pada materi pembelajaran sejarah. Tujuan dari penelitian ini ialah (1) menerapkan pembelajaran kontekstual pada dalam pembelajaran sejarah pada peserta didik kelas XI IIS 2 di MAN 4 Kediri, (2) mengetahui peningkatan pemahaman peserta didik kelas XI IIS 2 di MAN 4 Kediri melalui penerapan pembelajaran kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan tindakan kelas dengan rincian prosedur penelitian yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Penelitian ini terdiri atas dua siklus. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IIS 2 MAN 4 Kediri. Data yang diambil adalah data kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual, hasil wawancara, data hasil belajar peserta didik dengan menerapkan pembelajaran kontekstual, data observasi, serta dokumen pendukung lainnya. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini diketahui bahwa (1) penerapan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran sejarah berjalan lancar dan dapat meningkatkan pemahaman peserta didik. (2) Terjadi peningkatan pemahaman peserta didik diketahui dari hasil pra tindakan, tindakan siklus I dan tindakan Siklus II. Hal ini dilihat dari rata-rata nilai kelas pada siklus I sebesar 68,97 meningkat 14 dari pra tindakan. Pada siklus II meningkat menjadi 81,94 atau meningkat 18,93 dari siklus I. Sedangkan prosentase ketuntasan hasil belajar peserta didik pada siklus II sebesar 79,41% meningkat sebesar 41,41% dari siklus I yakni 38%. Melihat uraian hasil penelitian yang diperoleh, maka pembelajaran sejarah dengan menerapkan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan pemahaman peserta didik kelas XI IIS 2 MAN 4 Kediri. Terdapat saran kepada peneliti lain agar menyusun berbagai model pembelajaran kontekstual agar lebih menarik lagi dengan memvariasikan berbagai media yang dapat digunakan dalam pembelajaran

    Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw dengan Menggunakan Teka Teki Silang untuk Meningkatkan Minat Belajar di Kelas XII IPS 2 SMAN 1 TUREN

    No full text
    Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw dengan Menggunakan Teka Teki Silang untuk Meningkatkan Minat Belajar di Kelas XII IPS 2 SMAN 1 TUREN Yuwa Dilla Perdana P Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang [email protected]   Abstrak Pembelajaran sejarah seringkali dianggap peserta didik membosankan karena pembahasan tentang masa lampau dan menghafal angka tahun, nama tokoh dan tempat peninggalan. Pada pembelajaran sejarah peserta didik menganggap bahwa sejarah hanya berhubungan tentang menghafal sebab itu peserta didik mudah merasa bosan dengan mata pelajaran sejarah dengan kurangnya ditunjang oleh model pembelajaran yang kurang inovatif. dalam pembelajaran sejarah umumnya pendidik menggunakan sistem pembelajaran dengan cara berpusat kepada guru yang hanya bercerita saja dan kurang menggunakan model pembelajaran yang kemasannya menarik membuat peserta didik menjadi tidak begitu tertarik akan pembelajaran sejarah, hal ini membuat pembelajaran sejarah itu tidak lagi menarik karena sebab itulah kenapa peneliti memilih model pembelajaran Jigsaw. Jigsaw diharapkan menambah minat peserta didik. Pembelajaran yang lebih menarik tentunya membuat peserta didik jadi antusias dalam mengikuti pembelajaran. Pembelajaran yang menarik akan membuat peserta didik mudah untuk menerima dan memahami penjelasan dari pendidik. Pembelajaran pendidik akan berusaha memaksimalkan keadaan kelas yang memungkinkan adanya interaksi antara peserta didik  dengan pendidik. Pengaruh terhadap model pembelajaran yang diberikan oleh pendidik yang diterima oleh peserta didik kadang membuat perserta didik kurang fokus dalam melakukan proses pembelajaran Kata Kunci : Pembelajaran, Teka Teki silang, Minat Belajar   Abstract Learning history is often seen as boring students because of discussions about the past and memorizing year numbers, names of figures and places of heritage. In learning history students assume that history is only related to memorization because students are easily bored with history subjects with the lack of supported by less innovative learning models. in history learning, educators generally use a learning system by centering on teachers who only tell stories and not using a learning model that is attractive in packaging makes students less interested in learning history, this makes learning history no longer interesting because that is why researchers choose the Jigsaw learning model. Jigsaw is expected to increase the interest of students. More interesting learning certainly makes students enthusiastic in participating in learning. Interesting learning will make it easy for students to accept and understand explanations from educators. Learning educators will try to maximize classroom conditions that allow for interaction between students and educators. The influence on the learning model provided by educators received by students sometimes makes students less focused in conducting the learning process Keywords: Learning, Crosswords, Learning Interest Model pembelajaran sangatlah penting digunakan dalam proses pembelajaran dikarenakan model pembelajaran menurut Sadiman (2008: 7) adalah proses merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian peserta didik  sehingga proses belajar dapat terjalin. akan memudahkan peserta didik  untuk mengerti dan paham. Agar minat belajar dalam peserta didik  bertambah, Jadi pada minat terdapat unsur-unsur pengenalan (kognitif), emosi (afektif), dan kemampuan (konatif) untuk mencapai suatu objek, seseorang suatu soal atau suatu situasi yang bersangkutan dengan diri pribadi (Buchori, 1985). Model pembelajaran diterapkan dalam diskusi kelas yang dapat melibatkan peserta didik dengan pendidik sebagi fasilitator. Diskusi merupakan komunikasi seseorang berbicara satu dengan yang lain, saling berbagi gagasan dan pendapat secara lisan, teratur, dan untuk mengekpresikan pikiran tentang pokok pembicaraan (Uno & Mohamad, 2013:118). Sebab itulah model pemebelajaran yang diinginkan dengan menggunakan media teka teki silang diharapkan mampu membangunkan peserta didik agar lebih mampu berperan aktif dalam proses pembelajaran, model pembelajaran yang akan diterapkan dalam kelas adalah model pembelajaran tipe Jigsaw. Model pembelajaran sangat berpengaruh dalam melakukan pembelajaran yang berlangsung karena tujuan dari sebuah pembelajaran adalah kompetensi yang ingin dicapai oleh pendidik, bahwasannya peserta didik dapat menangkap materi apa yang akan diberikan oleh pendidik tersebut. model pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe mengajar akan tetapi peneliti menggunakan model Jigsaw dikarenakan. Peneliti melihat bahwa model Jigsaw ini, pantas digunanakan dalam pembelajaran dalam kelas XI IPS 2 sebab dari observasi awal peneliti melihat bahwa ternyata peserta didik kurang begitu berperan aktif dalam melakukan pembelajaran sejarah. model pembelajaran yang begitu saja sehingga peneliti ingin menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw agar peserta didik mampu berkerja sama dan menumbuhkan minat belajar dalam kelas. Proses pembelajaran kooperatif menggunakan model Jigsaw adalah salah satu upaya dalam mengatasi permasalah yang terjadi dalam kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen mengapa menggunakan model Jigsaw sebab peneliti melakukan obeservasi secara langsung dan melakukan pendekatan secara struktural sehingga Jigsaw dianggap mampu untuk menambah minat belajar peserta didik dalam kelas.   Tujuan Tujuan peneliti ingin memberikan sebuah stimulus dimana membuat pengenalan pembelajaran kooperatif dengan model Jigsaw menggunakan media teka-teki silang. yang bertujuan untuk meningkatkan minat belajar peserta didik, dikarenakan peneliti mengaggap bahwa kelas XI IPS II minat belajarnya menurun . Oleh karena itu peneliti ingin memberikan pembelajaran dengan model Jigsaw menggunakan media teka-teki silang. menurut Rinaldi Munir dalam (Satria, 2014:1)”teka-teki silang merupakan permainan berbentuk segi empat yang terdiri dari kotak kotak yang berwarna hitam putih, dilengkapi dua lajur mendatar(kumpulan kotak yang berbentuk satu baris dan beberapa kolom) dan menurun (kumpulan kotak satu kolom dan beberapa baris)”. Dengan model teka-teki silang nantinya peneliti ingin menerapkan pembelajaran kooperatif menggunakan model Jigsaw. Karena pembelajaran Jigsaw dirasa mampu memberi stimulus dalam pembelajaran sejarah, Yang bertujuan untuk menumbuhkan minat belajar peserta didik. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kelompok tujuan penggunaan pembelajaran kooperatif menurut Slavina dalam (Sanjaya, 2007:240) “meningkatkan hasil belajar peserta didik serta meningkatkan hubungan sosial karena dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif ini dapat menumbuhkan rasa toleransi antar sesama anggota”. Karena itulah peneliti ingin menggunakan pembelajaran ini untuk memberikan stimulus agar minat belajar peserta didik terhadap pembelajaran sejarah. Pembelajaran kooperatif menggunakan teka-teki silang, penerapannya akan dilakukan dengan cara membagi peserta didik dalam kelompok. Lalu kemudian setiap kelompok diambil satu perwakilan untuk menjadi kelompok ahli dan memahami materi yang akan di jelaskan, lalu pembagian model teka-teki silang yang akan dikerjaakan bersama-sama dalam kelompok masing-masing. Hasilnya akan terlihat proses pembelajaran peserta didik. Bagaimana perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran dengan tumbuhnya minat belajar dalam kelas untuk pembelajaran sejarah yang menarik di dalam kelas. Combinasi, pembelajaran Jigsaw dengan teka-teki silang, pembelajaran yang efektif adalah salah satu cara untuk memberikan pembelajaran yang mudah dipahami. Model pembelajaran Jigsaw memudahkan peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran disebabkan model ini menekankan peserta didik kompak dalam pembelajaran dan ditekan berusaha untuk memahami materi yang diberikan kemudian menggunakan media teka-teki silang dikarenkan untuk menambah antusias dalam pembelajaran serta meningkatkan daya kemampuan peserta didik dalam menangkap suatu pertanyaan yang singkat. Dengan inilah kemudian peneliti ingin menggabungkan tujuannya adalah meningkatkan minat belajar peserta didik di pembelajaran sejarah.    Metode Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian tindakan kelas (action research). Penelitian tindakan kelas ini berfokus pada kelas, yang memiliki suatu masalah dalam kelas. Penelitian tindakan kelas memiliki sebuah konsep untuk mengobati atau mengembangkan proses dalam kegiatan proses pembelajaran dengan berdasarkan masalah dalam kelas. Proses melaksanakan kegiatan penelitian dalam kelas melakukan beberapa cara untuk mengontrol dan mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran yang terjadi dalam kelas, dan melakukan refleksi serta belajar dari sebuah pengalaman pengajaran yang terjadi dalam kelas. Konsep utama dalam penelitian ini adalah adanya sebuah perubahan yang berkelanjutan terus menerus seperti siklus yang berulang sehingga. Tindakan penelitian ini akan dirasa cukup dengan data yang mulai jenuh. Jika data yang di perlukan sudah valid maka penelitian ini dapat dihentikan kemudian ditampilkan dan data dikumpulkan dengan data-data yang mengalami perubahan. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, pada peneliti ini pada setiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yaitu, 1). Refleksi awal. 2). Perencanaan tindakan 3). Tindakan dan obeservasi  dan 4).Refleksi. dalam tahapan proses penelitian dapat dilakukan beberapa siklus yang diperlukan untuk mengatasi masalah sampai di rasa tuntas. Berikut ini akan dipaparkan gambaran mengenai tahapan penelitian tindakan kelas :   1. Siklus 1 a.  Refleksi awal Refleksi awal peneliti disini menentukan masalah yang akan diteliti dengan cara melakukan observasi agar mengetahui proses pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas IX IPS II serta melakukan wawancara kepada pendidik yang melakukan pembelajaran.  b. Tahap Perancanaan Tindakan pada tahap ini melakukan, penyusunan jadwal pelaksanaan tindakan, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP), memberikan Angket penelitian. Mempersiapkan materi pembelajaran kemudian buku dan kemudian disampaikan materi melalui media power point, penyusunan lembar observasi penelitian yang meliputi validasi RPP, catatan lapangan, format penilaian minat belajar peserta didik, daftar nama kelompok peserta didik, lembar jawaban peserta didik, dan lembar observasi serta catatan aktifitas pendidik.  c. Tahapan Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Tahapan pelaksanaan yang diuraikan pada saat ini adalah, pertama peneliti memberikan pertanyaan tes kepada peserta didik. Dalam bentuk soal yang diberikan pada awal adalah 10 soal dengan 5 soal pilihan ganda dan 5 uraian. Dengan ini peneliti dapat mengukur tingkat kemampuan dasar peserta didik sebagai acuan awal dalam pembelajaran untuk mengetahui minat belajar peserta didik. Pada penelitian ini peneliti menggunakan alat bantu media untuk menerapkan pembelajaran model Jigsaw menggunakan teka-teki silang. Kedua, Penyajian awal pembelajaran menyampaikan uraian mater. Penyajian materi ini dilakukan oleh pendidik disampaikan secara singkat untuk memberikan wawasan awal bagi peserta didik untuk mengatahui pembahasan mengenai materi yang akan dibahas dan didiskusikan bersama. Ketiga, pembelajaran dengan menggunakan kelompok. Setelah pendidik menjelasakan uraian tentang materi yang akan diajarkan kemudian peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok yang hiterogen dengan pembagian kelompok diskusi setiap kelompok nantinya ada yang berjumlah 5 sampai 6 orang peserta didik. dengan nantinya masing-masing kelompok akan diberikan tugas berupa materi soal menggunakan teka-teki silang. Keempat, setelah pembelajaran kelompok nanti setiap siswa akan memberikan penjelasan dengan masing-masing kelompok memberikan urian tentang jawaban yang telah dikerjakan serta tanggapan dan penjelasan. Kemudian pendidik akan memberikan ulasan pembelajaran yang sudah disampaikan oleh peserta didik dan penguatan pembelajaran yang sudah didiskusikan bersama. Pada tahap tindakan juga dilaksanakan secara bersama tahap observasi atas ketercapaian pelakasanaan tindakan. Kegiatan observasi dilaksanakan pada saat pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi serta catatan lapangan. Tahap observasi ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kekurangan selama kegiatan pelaksanaan penelitian lapangan.  d. Tahap Refleksi Tahapan refleksi ini dilakukan menggunakan analisis data yang terkumpul untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik mengetahui pemahaman tentang materi yang diberikan serta mencari keunggulan dan kelemahan yang ada pada siklus I. Keunggulan yang terdapat pada siklus I akan tetap dipertahankan dalam proses pembelajaran kemudian akan lebih ditingkatkan dalam proses pembelajaran serta kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran siklus 1 akan ditingkatkan kualitasnya yang ada pada siklus I kemudian akan diperbaiki lagi pada siklus II.   2. Siklus II a. Tahap Hasil Refleksi Siklus I Hasil refleksi dari siklus I dilakukan sebagai acuan dalam melakukan perencanaan tindakan tarhadap siklus II.  b. Tahap Revisi Perencanaan Tindakan Perencanaan Tindakan yang akan dilakukan pada siklus II yaitu berdasarkan pada refleksi siklus I.  c. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi. Pelaksanaan tindakan siklus II dilaksananakan sesuai dengan rancangan pelaksanaan pembelajaran(RPP) yang sudah direvisi, pada tindakan siklus II peneliti menggunakan pertanyaan tes lanjutan untuk mengukur pembelajaran dengan memberikan soal tes 10 soal dengan 5 pilihan ganda dan 5 uraian. pada tindakan ini peneliti melakukan perbaikan dan kekurangan yang ada pada siklus I. Pada tahap ini penelitian pada siklus II akan dijadikan acuan utama dalam oleh peneliti  untuk mengkur minat peserta didik dalam proses pembelajaran menggunakan model jigsaw dengan teka-teki silang. Observasi yang dilakukan pada siklus selanjutnya ini tidak berbeda dengan siklus yang sebelumnya siklus I. pada observasi ini pengematan terhadap ketercapaian pelaksaanaan kegiatan pada saat pembelajaran menggunakan lemabae observasi dan catatan hasil lapangan tujuan untuk mengetahui perkembangan dan kekurangan selama kegiatan penelitian berlangsung.  d. Tahap Refleksi Tahap refleksi ini dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pada pelaksanaan tindakan yang berlangsung pada siklus II. Pada penelitian tindakan ini dimulai pada siklus I pada tindakan awal untuk mengetahui bagaimana siklus I diterapkan. Pada siklus I memiliki komponen dalam refleksi awal yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Jika dalam tindakan ini sudah diketahui titik keberhasilan dan kendala yang ditemui pada siklus I, maka peneliti akan menyusun rancangan untuk masuk ke siklus II. Pada siklus II dalam prosesnya kegiatannya sama siklus I. akan tetapi dalam siklus II ini akan mengalami penyempurnaan dari kekurangan-kekurangan yang ada sebelumnya, sehingga disiklus II ini tujuan dari peneliti akan bisa tercapai dengan mendapatkan hasil yang diinginkan.   Hasil dan Pembahasan   1. Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw dengan Teka-Teki Silang dalam Pembelajaran Sejarah Model penerapan pembelajaran yang sudah di lakukan, mengacu kepada observasi yang dilakukan pada tanggal 6 February di SMA Negeri 1 turen. model pembelajaran yang selama ini diterpakan belum bisa menarik peserta didik untuk menumbuhkan minat belajarnya. Pada wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan pendidik terdapat beberapa hal yang dikatahui. Pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik adalah pembelajaran yang berpusat terhadap papan tulis dan buku saja sehingga kurang menerapkan model pembalajaran yang menarik minat belajar peserta didik. sehingga banyak dikataui peserta didik yang kurang fokus terhadap pembelajaran yang dilakukan, didapati beberapa peserta didik lebih asyik mengobrol dengan teman sebelahnya dan bercanda dengan teman satu sama yang lain serta memilih tidur dalam pembelajaran. Rendahanya minat belajar di dalam kelas XI IPS 2 disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya. Kurangnya penggunaan model pembelajaran yang digunakan didalam kelas. Model pembelajaran dipergunakan untuk membuat kelas tidak merasakan kebosanan saat proses pembelajaran yang dilakukan. Minat belajar peserta didik didasarkan pada bagaimana pendidik mengelola kelas tersebut pendidik harus mengetahui bagaiamana pembelajaran yang di lakukan tidak membuat peserta didik merasakan kejenuhan saat mengikuti pembelajaran. Penerapan model pembalajaran dalam kelas adalah salah satu solusi untuk mengatasi menurunya minat belajar yang terjadi pada peserta didik. minat belajar pada peserta didik bisa meningkat dengan melakukan tindakan yang dipelopori oleh pendidik untuk membuat peserta didik lebih antusias dalam mengikuti pembalajaran. Dengan cara menggunkan model pembelajaran Jigsaw dipadukan dengan Teka-Teki silang. Pembelajaran berkelompok dengan mengandalkan kemampuan peseta didik untuk lebih berinteraksi dengan teman sebaya juga lebih mendalami materi pembalajaran yang diberikan oleh pendidik. Model pembelajaran Jigsaw  merupakan pebelajaran Kooperatif sistem kelompok. Membuat kelompok kecil dalam kelas yang nantinya dibuat kelompok belajar bersama peserta didik membuat peserta didik melakukan interaksi bersama peserta didik lain untuk mempelajari materi yang diberikan sehingga pesrta didik dituntun untuk memperlajari materi bersama peserta didik yang lainya. Model pembelajaran yang diterapkan dalam membangun minat belajar peserta didik, peneliti menggunakan model pembelajaran Jigsaw menggunakan Teka-teki silang. Model pembelajaran yang dipakai dalam melaksanakan peneliti ini dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan minat belajar peserta didik yang dilaksanakn pada beberapa pertemuan pada pelaksaana pembelajaran dalam kelas. Proses pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung pada siklus pertama bahwa peserta didik yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembalajaran mengalami peningkatan dalam mengikuti pembelajaran yang dilakukan. Diketahui bahwa peserta didik mulai fokus dalam melakukan pembelajaran yang dilakukan pada pembelajaran sejarah. Proses pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan berjalan ke siklus II pada proses ini pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan model pembalajaran yang menarik sehingga peserta didik mudah mengerti dengan materi yang dipelajari sehingga minat belajar pada mata pelajaran sejarah disukai, minat belajar pada peserta didik mengalami peningkatan yang diperoleh dari hasil pemahaman peseta didik pada saat melakukan pembelajaran dengan mengisi tugas Teka-teki silang. Peningkatan ini juga diketahui dengan adanya peserta didik yang mulai belajar dengan bekerja sama teman kelompoknya. Peserta didik pada kelas XI IPS 2 mengalami peningkatan pada minat belajar didalam kelas di mata pelajaran sejarah. Terlihat oleh bagiamana peserta didik lainya kompak pada kelompoknya untuk mengerjakan soal Teka-teki silang. Model pembelajaran ini dapat kita tarik benang merah dapat kita gunakan pada pembalajaran sejarah yang peserta didiknya merasa kurang memilki hasrat pada pembalajaran sejarah. Model pembalajaran Jigsaw menggunakan Teka-teki silang, sangat efektif digunakan dalam pembelajaran sejarah dalam meningkatkan minat belajar peserta didik yang menurun dikarenakan pemblajaran yang monotone.   2. Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw menggunakan Teka-Teki Silang dalam upaya Meningkatkan Minat Belajar Penerapan model pembalajaran, sebagai salah satu peningkatan belajar dalam mengatasi menurunya minat pembalajaran dalam kelas sehingga pelaksanaan pembelajaran menjadi menarik untuk menumbuhkan minat belajar didalam diri peserta didik.  Pelaksanaan pembelajaran dalam kelas, untuk meningkatkan minat dalam diri peserta didik di kelas menggunakan model pembelajaran Jigsaw ini bisa dilihat dengan peserta didik mulai memperhatikan materi yang diberikan oleh pendidik, fokus terhadap materi yang diberikan, berkurangnya bercanda bersama teman sebaya didalam kelas. Peningkatan pembelajaran pada peserta didik ini dikarena model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik aktif dalam pembelajaran yang dilakukan. Peserta didik juga antusias dalam menerima materi yang diberikan. Pada pertemuan sebelum tindakan banyak peserta didik yang pasif dalam pembelajaran yang berlangsung. Sehingga perlu stimulus untuk mendorong peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. pembelajaran dengan model Jigsaw membuat peserta didik lebih aktif karena memberikan pembelajaran yang efisien dan menyenangkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan angket minat peserta didik hampir 80% merasa nyaman dengan pembelajaran dan merasa mampu menerima pembelajaran yang diberikan serta sudah dilakukan. Sebagai tolak ukur bahwa peserta didik mampu mengikuti pembelajaran yang sudah diterapkan.    A. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil pembelajaran yang dilakukan maka ada beberapa kesimpulan pada penelitian ini yaitu. Model pembelajaran Jigsaw yang diterapkan dengan menggunakan Teka-Teki Silang dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 1 Turen untuk meningkatkan minat belajar. Peserta didik sangat tertari dan bersemangat dalam pembelajaran yang berbasis kelompok, hampir semua peserta didik fokus pada pembelajaran yang diterapankan selain itu juga pembelajaran ini merupakan variasi untuk melakukan model pembelajaran pada mata pelajaran sejarah tentunya peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan sangat baik. Pembelajaran ini melalui proses yang panjang, dalam penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen telah meningkatkan minta belajar peserta didik. setelah dilakukan penelitian ini peserta didik menjadi lebih aktif dalam kelas. Kemudian peserta didik juga

    Penerapan Model Pembelajaran Ular-ularan Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo

    No full text
    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ULAR-ULARAN UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SEJARAH PESERTA DIDIK KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 3 PROBOLINGGO ARTIKEL OLEH MISDA ULUM NIM 130731615721   UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEPTEMBER 2019   Penerapan Model Pembelajaran Ular-ularan Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo Misda Ulum Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang [email protected] Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat berperan dalam pembangunan suatu bangsa.Pendidikan formal maupun non-formal haruslah selalu menuju kepada fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Tugas dan peranan model pembelajaran merupakan sebagai alat bantu dalam mengantarkan atau menyampaikan pesan dalam hal penyampaian materi antara guru dan peserta didik. Dalam hal ini model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran ular-ularan. Model permainan akan diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien. Model pembelajaran ular-ularan juga memiliki tujuan untuk melatih peserta didik agar dapat berpikir lebih cepat dan tepat dalam mengerjakan soal. Sehingga model pembelajaran yang digunakan dapat dijadikan sebagai model permainan untuk proses belajar.Bukan hanya itu, penerapan model pembelajaran ular-ularan juga dapat digunakan saat diadakan ulangan maupun untuk mengisi waktu kosong. Kata Kunci: Pembelajaran, Ular-ularan, Motivasi Belajar   Pendahuluan Pendidikan menjadi salah satu teladan penting dalam mempengaruhi perkembangan dan kemajuan setiap bangsa. Seluruh komponen dalam dunia pendidikan harus didukung dan digerakkan demi kemajuan tingkat intelektual dan moral peserta didik. Setiap matapelajaran yang diberikan harus mendukung dua hal tersebut, karena kemajuan intelektual dan kedewasaan moral akan mempengaruhi masa depan bangsa (Prawiradilaga, 2007:2). Rumpun ilmu sosial merupakan salah satu matapelajaran wajib dengan fokus pada wawasan kemasyarakatan dan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh ialah ilmu sejarah memberi cakrawala berpikir tentang kehidupan masa lalu yang mempengaruhi kehidupan sekarang dan memberi andil bagi kehidupan masa datang. Begitu juga dengan bidang ilmu-ilmu sosial lainnya. Pelajaran sejarah dalam pembangunan bangsa berfungsi untuk penyadaran warga negara dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam rangka pembangunan nasional (Ali, 2005:122). Kondisi yang memicu kebosanan peserta didik dalam mengikuti pelajaran sejarah diantaranya dapat dipengaruhi oleh model pembelajaran guru yang kurang menarik dalam mengajar di dalam kelas dan jarang menggunakan model mengajar yang dapat menarik peserta didik untuk memperhatikan penjelasan materi pelajaran yang disampaikan di dalam kelas. Model pembelajaran yang umum digunakan oleh guru membuat peserta didik merasa jenuh dan mengantuk dalam mengikuti pelajaran sejarah. Tidak heran ketika peneliti melakukan observasi di kelas tampak situasi seperti itu ketika guru mengajar. Sementara itu, hanya sebagian kecil saja peserta didik yang menyimak penjelasan guru, selebihnya ada yang mengobrol, mengerjakan tugas lain, dan aktivitas lainnya di luar kegiatan belajar mengajar. Penggunaan model pembelajaran bertujuan agar peserta didik lebih merasa tertarik dan lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan guru. Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran yang diintegrasikan dengan beberapa tujuan dan isi dalam pembelajaran dapat meningkatkan mutu belajar mengajar (Sani, 2014). Model pembelajaran ular-ularan juga memiliki tujuan untuk melatih peserta didik agar dapat berpikir lebih cepat dan tepat dalam mengerjakan soal. Permainan yangakan digunakan dalam proses belajar mengajar sebelumnya sudah dipersiapkan oleh guru dengan berbagai variasi, sehingga dengan menggunakan model permainan dalam pembalajaran dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar. Permainan ular-ularan dapat diberikan untuk melihat kemampuan belajar, melatih kecepatan dalam menjawab soal yang cukup panjang, dan melatih kejujuran peserta didik dalam menilai hasil jawaban mereka. Peneliti memilih SMA Negeri 3 Negeri Probolinggo sebagai lokasi penelitian dikarenakan proses belajar mengajar sejarah di sekolah tersebut terdapat permasalahan belajar mengajar berupa rendahnya motivasi belajar siswa, khususnya dalam matapelajaran sejarah. Hal tersebut dapat dilihat saat proses belajar mengajar siswa menunjukkan sikap malas belajar, malas mengerjakan tugas, tidak ada keinginan untuk mengetahui, tidak peduli dengan nilainya, tidak ada rasa semangat di dalam kelas, mendapat nilai yang buruk, dan sebagainya. Hal tersebut dapat tercermin dari antusias peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan teman sebangkunya selama proses belajar mengajar, terlihat acuh tak acuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan yang demikian menjadikan peserta didik lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang menarik perhatian mereka meski tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar. Akibatnya, tujuan dari proses belajar mengajar tidak dapat tersampaikan dengan optimal. Melihat kondisi belajar yang ada di lingkungan SMA 3 Negeri Probolinggo, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan diterapkannya model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya adalah model pembelajaran ular-ularan. Pelaksanaan model pembelajaran ular-ularan dilakukan peserta didik dengan menjawab soal secara bergantian, selanjutnya hasil jawaban akan mereka cocokkan sendiri dan memberikan nilai dari hasil jawaban yang sudah dicocokkan. Model pembelajaran ular-ularan merupakan model pembelajaran yang baru dan tidak jauh beda dengan model pembelajaran ular tangga. Namun dalam model ular-ularan ini semua peserta didik harus berada diluar, dan guru menata meja dan menempelkan selembar soal dimasing-masing meja, dan di meja depan terdapat meja untuk mencocokkan jawaban dan menghitung nilai mereka sendiri-sendiri. Cara bermain dimana peserta didik harus berbaris panjang seperti ular dan urut dengan presensi. Setelah itu guru meniupkan peluit dan peserta didik absen pertama masuk dan mengerjakan soal pertama, meniup kembali peluit, dan peserta didik akan bergantian menjawab soal. Setelah peserta didik menjawab semua soal mereka akanmencocokan jawaban mereka sendiri dan memberikan nilai sendiri sesuai hasil dari jawaban benar peserta didik.   Metode Di dalam penelitian ini peneliti melakukan pendekatan penelitian kualitatif. Moleong (2013:27) mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berakar pada latar alamiah sebagai kebutuhan, mengandalkan analisis data secara induktif, mengarah pada penemuan teori, bersifat diskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data, rancangan penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitiannya disepakati oleh peneliti dan subjek penelitian. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Wiriatmadja (2007:13) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri, mereka dapat mencobakan suatu gagasan, perbaikan dalam praktik pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Peneliti melakukan. Subjek penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu peserta didik kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo sebanyak 23 peserta didik yang terdiri dari 11 laki-laki dan 12 perempuan pada matapelajaran sejarah dengan menggunakan model pembelajaran ular-ularan. Peneliti memilih SMA Negeri 3 Negeri Probolinggo khususnya kelas X IPS 1 sebagai lokasi penelitian dikarenakan proses belajar mengajar sejarah di sekolah tersebut terdapat permasalahan berupa rendahnya motivasi belajar peserta didik, khususnya dalam matapelajaran sejarah. Hal tersebut dapat dilihat saat proses belajar mengajar peserta didik menunjukkan sikap malas belajar, malas mengerjakan tugas, tidak ada keinginan untuk mengetahui, tidak peduli dengan nilainya, tidak ada rasa semangat di dalam kelas, mendapat nilai yang buruk, dan sebagainya. Hal tersebut dapat tercermin dari antusias peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan teman sebangkunya selama proses belajar mengajar, dan terlihat acuh tak acuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan yang demikian menjadikan peserta didik lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang menarik perhatian mereka meski tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar. Akibatnya, tujuan dari proses belajar mengajar tidak dapat tersampaikan dengan optimal. Peneliti dalam mengumpulkan data menggunakan empat cara yang sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu observasi, wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Pengumpulan data ini dilakukan untuk mendapatkan informasi serta tercapainya tujuan penelitian. Berikut adalah penjabaran terkait teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini.   Hasil dan Pembahasan Peneliti didalam penerapan model pembelajaran Ular-ularan di kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo dilakukan dalam 2 siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan dalam beberapa tahap, sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan yang dilakukan oleh guru matapelajaran sejarah terdapat perbaikan dari siklus I ke siklus II ke arah yang lebih baik. Persentase motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan pada siklus I setelah penerapan model pembelajaran Ular-ularan. Pada siklus I terlihat adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo dari 64% menjadi 71%, hal tersebut ada peningkatan sebanyak 7% dari pra-siklus ke siklus I. Keempat komponen juga mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus I yaitu attention yang awalnya 62% menjadi 73%, relevance dari 69% menjadi 72%, confidence dari 64% menjadi 69%, satisfication dari 70% menjadi 76%. Dari peningkatan motivasi belajar peserta didik menunjukkan adanya respon terhadap pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Ular-ularan. Pada pelaksanaaan siklus I ini motivasi belajar setiap peserta didik beberapa sudah mengalami peningkatan, walaupun pada siklus I masih ada peserta didik yang motivasinya terlihat rendah. Motivasi setiap individu mengalami peningkatan dan ada juga yang motivasinya tetap Abdul Aziz Hoirun dari 68% menjadi 73%, Afifah dari 78% menjadi 85%, Ahmad Faizal dari 59% menjadi 70%, Ahmad Mustakim dari 68% tetap 68%, Ahmad Reihan 53% menjadi 68%, Ayu Naufal dari 68% tetap 68%, Devit Alfahrezi dari 78% tetap 78%, Dewi Aprilia dari 67% tetap 67%, Diantri Widiyawati dari 59% menjadi 63%, Eva Ramadhani dari 64% tetap 64%, Fitri Anggraini dari 58% menjadi 63%, Husnul Khotimah dari 60% menjadi 64%, Ike Nurjannah dari 67% tetap 67%, Ilham Akbar dari 71% tetap 71%, Imam Gozali dari 64% menjadi 73%, Lukman Hakim dari 68% tetap 68%, Muhammad Aris dari 73% tetap 73%, Muhammad Nazril dari 60% menjadi 86%, Okky Zebri M dari 63% tetap 63%, Sinta Bela dari 70% tetap 70%, Siti Hotija dari 61% menjadi 81%, Vina Fitriana dari 69% tetap 69%, Wawan Putra dari 53% menjadi 78%. Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Ular-ularan pada siklus II mengalami beberapa perbaikan yang sudah dilakukan berdasarkan kegiatan refleksi oleeh guru dan peneliti. Perbaikan yang ditingkatkan pada siklus II yaitu persiapan guru dalam mengajar atau materi, efiseinsi waktu, dan pendalaman soal. Pelaksanaan siklus II menunjukkan bahwa peserta didik lebih semangat dan ceria serta antusias dalam pembelajaran sejarah didalam kelas, keseluruhan peserta didik mulai memperhatikan dengan baik dan fokus apa yang diterangkan oleh guru. Selain itu guru sudah sudah mengelola alokasi waktu dengan sempurna. Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Ular-ularan pada siklus II mengalami peningkatan yang sangat baik. Motivasi belajar peserta didik satu kelas meningkat dari 71% menjadi 82%, dari kategori sedang ke tinggi. Keempat komponen motivasi belajar juga mengalamai peningkatan attention yang awalnya 73% menjadi 83%, relevance dari 72% menjadi 82%, confidence dari 69% menjadi 85%, satisfication dari 76% menjadi 83%. Pada siklus II motivasi belajar setiap peserta didik mengalami peningkatan yang sangat baik dibandingkan dari siklus I. peningkatan tersebut secara bertahap yaitu: Abdul Aziz Hoirun dari 73% menjadi 92%, Afifah dari 85% menjadi 95%, Ahmad Faizal dari 70% tetap 70%, Ahmad Mustakim dari 68% menjadi 81%, Ahmad Reihan 68% menjadi 89%, Ayu Naufal dari 68% menjadi 94%, Devit Alfahrezi dari 78% tetap 78%, Dewi Aprilia dari 67% tetap 87%, Diantri Widiyawati dari 63% menjadi 81%, Eva Ramadhani dari 64% menjadi 81%, Fitri Anggraini dari 63% menjadi 83%, Husnul Khotimah dari 64% menjadi 73%, Ike Nurjannah dari 67% menjadi 83%, Ilham Akbar dari 71% menjadi 82%, Imam Gozali dari 73% tetap 73%, Lukman Hakim dari 68% menjadi 84%, Muhammad Aris dari 73% menjadi 82%, Muhammad Nazril dari 86% tetap 86%, Okky Zebri M dari 63% menjadi 79%, Sinta Bela dari 70% menjadi 74%, Siti Hotija dari 81% tetap 81%, Vina Fitriana dari 69% tetap 69%, Wawan Putra dari 78% menjadi 88%. Peningkatan terhadap motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 tercatat berdasarkan hasil angket terhadap penerapan model pembelajaran Ular-ularan yang diberikan kepada peserta didik setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II. Hasil dari angket selanjutnya dianalisis agar dapat diketahui tercatat sebagian peserta didik mengalami peningkatan motivasi belajar peserta didik pada pembelajaran sejarah. Skor keseluruhan deskriptor angket motivasi belajar berjumlah 1840 dengan peningkatan skor perolehan total peserta didik yang diamati dari pra-siklus ke siklus I meningkat dari 1193 menjadi 1299 sehingga tercatat persentase perolehannya meningkat sebesar 7% dari 64% (rendah) menjadi 71% (sedang). Sedangkan peningkatan dari siklus I ke siklus II motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan 11% dari 71% (sedang) ke 82% (tinggi). Peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 terlihat dari keempat indikator pengukuran motivasi. Attention pada pra-siklus 62%, siklus I meningkat menjadi 73%, dan siklus II menjadi 83%. Relevance pada pra-siklus 69%, siklus I meningkat menjadi 72%, dan siklus II menjadi 82%. Confidence pada pra-siklus 64%, siklus I meningkat menjadi 69%, dan siklus II menjadi 85%. Satisfication pada pra-siklus 70%, siklus I meningkat menjadi 76%, dan siklus II menjadi 83%.   Kesimpulan Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Ular-ularan dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 probolinggo. Meskipun pada pelaksanaan tindakan di siklus I pertemuan I menunjukkan bahwa peserta didik masih bingung dengan model pembelajaran Ular-ularan. Pada pertemuan II peserta didik telah memahami model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga pembelajaran berjalan secara efisien dan menyenangkan. Kegiatan di siklus I telah menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Peserta didik tampak senang dan menikmati kegiatan pembelajaran dengan model Ular-ularan. Peningkatan motivasi belajar peserta didik juga ditunjukkan dari hasil angket pada siklus I. Pada siklus II pembelajaran dengan model Ular-ularan berjalan dengan baik serta alokasi waktu juga berjalan dengan baik. Peserta didik juga antusias dalam pembelajaran sejarah. Penerapan model Ular-ularan dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 Probolinggo. Peningkatan yang terjadi pada motivasi belajar peserta didik terlihat dari hasil angket peserta didik pada pra-siklus, siklus I, dan siklus II terhadap 4 indikator yaitu attention (perhatian), relevance (kesesuaian), confidence (kepercayaan diri),dan satisfication (kepuasan). Indikator attention (perhatian) mengalami peningkatan sebesar 21% yaitu dari 62% di pra-siklus menjadi 83% di siklus II, indikator relevance (kesesuaian) mengalami peningkatan sebesar 13% yaitu dari 69% di pra-siklus menjadi 82% di siklus II, indikator confidence (kepercayaan diri) dalam kegiatan pembelajaran meningkat sebesar 21% yaitu dari 64% di pra-siklus menjadi 85% di siklus II, indikator satisfication (kepuasan) mengalami peningkatan sebesar 13% yaitu dari 70% di pra-siklus menjadi 83% di siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Ular-ularan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 Probolinggo dalam mata pelajaran sejarah.   DAFTAR RUJUKAN Agustinus, N. 2013. Pentingnya Refleksi Dalam Proses Belajar-Mengajar, (Online), (http://nur-agustinus. blogspot. com /2013 /06/ pentingnya-refleksi-dalam-proses.html), diakses 27 Januari 2019. Ali, R. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara. Arifin, Z. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya. Arikunto, S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Baron, R. A., & Byrne, D. 2004. Psikologi Sosial: Jilid 1. Alih Bahasa: R. Djuwita; M. M Parman; D. Yasmina; L. P Lunanta. Jakarta: Erlangga. Haris, H. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Salemba Humanika. Miles, B. M. & Huberman, M. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP. Moleong, J.L. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Nasution, S. 1991. Metode Research Penelitian Ilmiah. Bandung: Jermais. Prawiradilaga, D. S. 2007. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana Predana Media Group. Riduwan. 2004. Metode Riset. Jakarta: Rineka Cipta. Suyanto. 2006. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta: Adicit. Wiriatmadja, R. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda karya.

    ANALISIS WACANA KRITIS: REPRESENTASI TOKOH SULAWESI DALAM BUKU TEKS SEJARAH INDONESIA KURIKULUM 2013

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana tokoh Sulawesi dideskripsikan dalam buku teks Sejarah Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku teks Sejarah Indonesia. Model analisis penelitian menggunakan analisis wacana kritis Roger Fowler dkk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Sulawesi digambarkan aktif dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Penelitian ini berkaitan dengan bagaimana tokoh yang tercantum dalam buku teks bisa dijadikan teladan untuk sisiwa.Kata Kunci: representasi, analisis wacana kritis, tokoh Sulawesi, buku teksABSTRACTthis research to see how Sulawesi figures are described in Indonesian History textbooks. The data used in this study are Indonesian History textbooks. The research analysis model uses critical discourse analysis by Roger Fowler et al. The results of the study show that Sulawesi figures are portrayed as active in the course of the history of the Indonesian nation. This study deals with how the characters listed in the textbook can be used as examples for students.Keywords: representation, critical discourse analysis, Sulawesi figures, textbook

    PENGEMBANGAN BUKU SAKU SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI MALANG SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA KELAS X KPR DI SMK NEGERI 11 MALANG

    No full text
    ABSTRAKAstutik, Puji. 2019. Pengembangan Buku Saku Sejarah Perkembangan Islam di Malang Sebagai Sumber Belajar Siswa Kelas X KPR di SMK Negeri 11 Malang. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Kasimanuddin Ismain, M.Pd.Kata Kunci: Buku Saku, Sumber Belajar, Sejarah Perkembangan Islam Buku saku merupakan buku yang berisi tulisan dan di cetak dalam kertas yang berjilid dan dapat di masukkan ke dalam kantong baju, celana, rok dan lain-lain. Buku saku dikembangkan sebagai sumber pembelajaran sejarah. Produk yang dikembangkan ini berdasarkan permasalahan yang ada pada proses pembelajaran sejarah di SMK Negeri 11 Malang. Buku saku ini merupakan yang dibutuhkan oleh peserta didik, terutama pada materi sejarah perkembangan Islam di Malang. Peserta didik Kelas X KPR di SMK Negeri 11 Malang ini juga membutuhkan sumber-sumber yang lain. Permasalahan yang didapati yaitu kurangnya sumber belajar dan kurangnya media yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran sejarah di kelas, sehingga membuat peserta didik merasa bosan. Maka dari itu peneliti mengembangkan produk buku saku yang dapat digunakan oleh peserta didik kelas X, adapun pengembangan produk tersebut adalah Buku Saku Sejarah Perkembangan Islam di Malang.Berdasarkan masalah di atas terdapat tujuan dikembangkannya Buku Saku yakni untuk menghasilkan produk berupa Buku Saku Sejarah Perkembangan Islam di Malang sebagai sumber belajar siswa kelas X KPR di SMK Negeri 11 Malang. Proses pengembangan Buku Saku Sejarah Perkembangan Islam di Malang menggunakan model dan penelitian yang dikemukakan oleh Sugiyono (2015) yang diadaptasi oleh peneliti, diawali dengan (1) Potensi dan masalah. (2) Pengumpulan data. (3) Desain produk. (4) Validasi desain. (5) Revisi desain. (6) Uji coba produk. (7) Revisi produk. (8) Uji coba pemakaian. (9) Revisi produk. (10) Produk masal. Istrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket yang diisi oleh ahli validator materi yaitu Bapak Deny Yudo Wahyudi, S.Pd., M.Hum., sedangkan untuk ahli validator media yaitu Bapak Wahyu Djoko Sulistyo, S.Pd., M.Pd. Subjek uji coba penelitian ini yaitu peserta didik kelas X KPR 2 dan X KPR 3 SMK Negeri 11 Malang.Hasil penelitian dan pengembangan ini adalah produk berupa Buku Saku Sejarah Perkembangan Islam di Malang kelas X KPR SMK Negeri 11 Malang yang meliputi uraian materi tentang masuk dan berkembangnya Islam di Malang, tokoh-tokoh penyebar Islam di Malang, foto. Produk tersebut dinyatakan layak dan efektif untuk digunakan sebagai sumber belajar siswa. Produk tersebut telah divalidasi dengan hasil yang diperoleh yaitu, ahli materi sebesar 88,3% dan ahli media sebesar 81,25%. Untuk hasil persentase nilai skor dari uji coba produk sebesar 85,47%, dan untuk uji coba pemakaian mendapatkan nilai skor sebesar 91,25%. Selanjutnya untuk nilai Pre Test dan Post Test pada uji coba pemakaian yaitu pada Pre Test dengan nilai rata-rata sebesar 52,58 dan untuk nilai Post Test dengan nilai rata-rata 89,35. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa produk buku saku tersebut valid digunakan sebagai pembelajaran sejarah di dalam kelas maupun di luar kelas. Adapun saran pemanfaatan untuk pengguna yaitu peserta didik, guru untuk dapat mempergunakan produk sesuai dengan kebutuhan. Untuk diseminasi produk dapat digunakan pada lembaga lain atau sekolah dalam skala yang lebih luas maka perlu diperhatikan dengan kurikulum yang digunakan pada pada sekolah lain dan dalam skala yang lebih luas maka harus disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan

    PENERAPAN STUDY TOUR DENGAN BUS MALANG CITY TOUR (MACYTO) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI PERANG KEMERDEKAAN DI MALANG PADA KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI 4 MALANG

    No full text
    RINGKASANFurzaen, Rahmatika Afifah. 2019. Penerapan Study Tour dengan Bus Malang City  Tour (Macyto) untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Perang  Kemerdekaan di Malang pada Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Malang. Skripsi,  Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.  Pembimbing: Dr. R. Reza Hudiyanto, M.Hum. Kata Kunci: Study tour, Bus Macyto, Pemahaman Materi, Sejarah Lokal Malang. Proses pembelajaran sejarah masih terdapat berbagai permasalahan. Salah satunya yaitu keterbatasan ruangan yang membuat sekolah menerapkan sistem moving class. Sistem moving class ini berdampak pada proses pembelajaran sejarah yakni peserta didik menjadi kurang fokus, mudah bosan, dan kurang nyaman dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi strategi dan bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman Sekutu dan Belanda. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti menemukan solusi dengan menerapkan study tour dengan menggunakan bus Malang City Tour (Macyto). Rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan study tour dengan bus Malang City Tour (Macyto) pada kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 4 Malang; (2) Bagaimana penerapan study tour dengan bus Malang City Tour (Macyto) dapat meningkatkan pemahaman materi perang kemerdekaan di Malang pada kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Malang.  Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas, dengan model Kurt Lewin dengan rincian komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan satu siklus dengan tindakan study tour dengan Bus Macyto sebagai wahana transportasi sejarah yang ada di Kota Malang. Penelitian ini hanya menggunakan satu siklus disebabkan hasil penelitian sudah mengalami peningkatan secara signifikan namun juga terkait pertimbangan administrasi dan waktu yang terbatas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman materi yang mencakup hasil pengetahuan. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil rata-rata kelas semula dari 57 menjadi 86. Persentase ketuntasan klasikal pada pra penelitian adalah 3% kemudian meningkat menjadi 88,23%. Pada pemberian tindakan, peserta didik yang tuntas berjumlah 30 dari 34 orang. Peningkatan pemahaman materi sejarah lokal Malang sebelum dan sesudah tindakan menunjukkan persentase sebesar 85,23%. Tindakan pelaksanaan penelitian menunjukkan rata-rata sebesar 86 atau 88,23%. Hal ini menjadi bukti bahwa penerapan Study Tour dengan Bus Macyto berhasil menyelesaikan masalah yang dihadapi.  SUMMARYFurzaen, Rahmatika Afifah. 2019. Implementation of Study Tour with Malang City  Tour Bus (Macyto) to Increase Material Understanding about Independence War in Malang for Students in Class of XI IPS 2 in Public Senior High School of 4 Malang. Thesis, Department of History, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Supervisor: Dr. R. Reza Hudiyanto, M.Hum. Keywords: Study tour, Macyto Bus, Understanding Material, Local History of  Malang. There are various problems in learning process of history. One of them is the limited space that makes schools implement a moving class system. This moving class system has an impact on the learning process of history where students become less focused, easily bored, and less comfortable during learning process, thus students have difficulty in understanding the material of strategies and forms of struggle of Indonesian nation in facing the threat of the Allies and the Netherlands. Based on these problems, researcher found a solution by implementing study tour using the Malang City Tour Bus (Macyto). The formulation of problems of this study were (1) How to implement the study tour with Malang City Tour Bus (Macyto) in Class of XI IPS 2 in Public Senior High School of 4 Malang; (2) How could the implementation of study tour with Malang City Tour Bus (Macyto) increase the material understanding about independence war in Class of XI IPS 2 in Public Senior High School of 4 Malang. This study used a classroom action research approach, with the Kurt Lewin model with detailed components, which were planning, action, observation, and reflection. This study used one cycle with the action of study tour with Macyto Bus as historical transportation vehicle in Malang. This study only used one cycle because the results of the study had experienced significant increase but also related to administrative considerations and limited time. The results of this study indicated an increase in material understanding that included the result of knowledge. This could be proven from the average results of the class from 57 to 86. The percentage of classical completeness in pre-study was 3% then increased to 88.23%. In giving action, 30 out of 34 students were complete. Increasing the material understanding about local history of Malang after the action shown a percentage of 85.23% compared to before. The action of conducting research was shown an average of 86 or 88.23%. This was proof that the implementation of Study Tour with  Macyto Bus successfully resolved the problems faced

    PENGEMBANGAN MEDIA KOLABORASI ULAR TANGGA DENGAN SCRABBLE TENTANG PERKEMBANGAN KERAJAAN DEMAK UNTUK MEMPERKUAT PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS X AKOMODASI PERHOTELAN 3 DI SMKN 1 BATU

    No full text
    Abstrak Pembelajaran sejarah pada saat ini kurang diminati oleh peserta didik karena cendurung monoton dalam pengajarannya, sehingga tidak memotivasi peserta didik dalam belajar sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran sejarah kolaborasi ular tangga dengan scrabble. Model penelitian yang digunakan adalah model pengembangan Sugiono. Instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi ahli media, ahli materi, ahli praktisi, dan lembar angket validasi siswa. Produk yang dihasilkan adalah permainan ular tangga yang dikolaborasikan dengan scrabble. Hasil uji validasi ahli media memperoleh presentase sebesar 100%, hasil ahli validasi materi memperoleh presentase sebesar 96,8%, hasil validasi ahli praktisi memperoleh presentase sebesar 100%, hasil angket validasi siswa kelompok kecil memperoleh presentase sebesar 89,3%, dan uji coba angket validasi siswa kelompok besar memperoleh presentase sebesar 90,9%. Dapat disimpulkan bahwa dengan hasil uji coba ahli media, ahli materi, ahli praktisi dan angket validasi siswa kelas X Akomodasi Perhotelan 3 menunjukkan produk yang dikembangkan berada dalam kategori sangat valid untuk diterapkan dalam pembelajaran sejarah. Kata Kunci: Pengembangan, Media, Ular Tangga dengan Scrabble   Abstract Learning history at this time is less desirable by students because it tends monotonous in teaching, so it does not motivate students in learning history. This study aims to develop a learning medium for the history of collaboration of snakes and ladders with scrabble. The research model used is Sugiono's development model. Data collection instruments in the form of media expert validation sheets, material experts, practitioner experts, and student validation questionnaire sheets. The product produced is a snake ladder game that is collaborated with Scrabble. The results of the validation test of media experts obtained a percentage of 100%, the results of the material validation expert obtained a percentage of 96.8%, the results of the validation of the expert practitioners got a percentage of 100%, the results of the validation questionnaire for small group students obtained a percentage of 89.3%, and the trials The validation questionnaire for large group students received a percentage of 90.9%. It can be concluded that the results of the trial of media experts, material experts, practitioner experts and validation questionnaire for class X students of Hospitality 3 showed that the products developed were in a very valid category to be applied in learning history.Keywords: Development, Media, Snakes and Ladders with ScrabbleAbstrak Pembelajaran sejarah pada saat ini kurang diminati oleh peserta didik karena cendurung monoton dalam pengajarannya, sehingga tidak memotivasi peserta didik dalam belajar sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran sejarah kolaborasi ular tangga dengan scrabble. Model penelitian yang digunakan adalah model pengembangan Sugiono. Instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi ahli media, ahli materi, ahli praktisi, dan lembar angket validasi siswa. Produk yang dihasilkan adalah permainan ular tangga yang dikolaborasikan dengan scrabble. Hasil uji validasi ahli media memperoleh presentase sebesar 100%, hasil ahli validasi materi memperoleh presentase sebesar 96,8%, hasil validasi ahli praktisi memperoleh presentase sebesar 100%, hasil angket validasi siswa kelompok kecil memperoleh presentase sebesar 89,3%, dan uji coba angket validasi siswa kelompok besar memperoleh presentase sebesar 90,9%. Dapat disimpulkan bahwa dengan hasil uji coba ahli media, ahli materi, ahli praktisi dan angket validasi siswa kelas X Akomodasi Perhotelan 3 menunjukkan produk yang dikembangkan berada dalam kategori sangat valid untuk diterapkan dalam pembelajaran sejarah. Kata Kunci: Pengembangan, Media, Ular Tangga dengan Scrabble   Abstract Learning history at this time is less desirable by students because it tends monotonous in teaching, so it does not motivate students in learning history. This study aims to develop a learning medium for the history of collaboration of snakes and ladders with scrabble. The research model used is Sugiono's development model. Data collection instruments in the form of media expert validation sheets, material experts, practitioner experts, and student validation questionnaire sheets. The product produced is a snake ladder game that is collaborated with Scrabble. The results of the validation test of media experts obtained a percentage of 100%, the results of the material validation expert obtained a percentage of 96.8%, the results of the validation of the expert practitioners got a percentage of 100%, the results of the validation questionnaire for small group students obtained a percentage of 89.3%, and the trials The validation questionnaire for large group students received a percentage of 90.9%. It can be concluded that the results of the trial of media experts, material experts, practitioner experts and validation questionnaire for class X students of Hospitality 3 showed that the products developed were in a very valid category to be applied in learning history.Keywords: Development, Media, Snakes and Ladders with Scrabbl

    PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATAPELAJARAN SEJARAH KELAS X-IIS 2 DI MAN 1 MALANG KABUPATEN MALANG

    No full text
    ABSTRAKKhoiridah, Feny Mufidatul. 2018. Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Matapelajaran Sejarah Kelas X-IIS 2 di MAN 1 Malang Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Kasimanuddin Ismain, M.Pd. Kata Kunci: Problem Based Learning, Berpikir Kritis, MAN 1 MalangBerdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di MAN 1 Malang pada kelas X-IIS 2 ditemukan bahwa pada saat pembelajaran di kelas, guru lebih banyak menjelaskan materi melalui metode ceramah dengan menggunakan powerpoint sehingga selama proses pembelajaran siswa cenderung pasif, didalam kelas guru berperan sebagai pusat informasi yang menyebabkan siswa kurang terlatih untuk berpikir dalam mencari bahkan memecahkan sebuah permasalahan dan pembelajaran hanya berorientasi pada penguasaan materi saja. Sehingga menyebabkan siswa kurang dalam berpikir kritis. Maka diperlukan model pembelajaran yang dapat menumbuhkan aktivitas berpikir kritis siswa, salah satunya yaitu model Problem Based Learning. Terdapat dua rumusan masalah yaitu:1) bagaimana keterlaksanaan model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada matapelajaran sejarah kelas X-IIS 2 di MAN 1 Malang Kabupaten Malang, dan2) bagaimana pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada matapelajaran sejarah kelas X-IIS 2 di MAN 1 Malang Kabupaten Malang.Jenis penelitian ini yaitu pre-experimental design khusus pada bentuk one group pretest-posttest design dimana penelitian ini menekankan pada pengumpulan data dengan memberi soal essay pretest dan posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MAN 1 Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan non probability sampling dengan teknik purposive sampling berdasarkan pertimbangan dari guru matapelajaran sejarah, sehingga dipilih satu kelas eksperimen yaitu X-IIS 2. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi indikator penilaian kemampuan berpikir kritis dan 5 soal essay. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Paired Sampel Test dengan bantuan software SPSS 16.0 for windows.Hasil penelitian1) Keterlaksanaan model Problem Based Learning dapat diketahui dari hasil observasi keterlaksanaan model pembelajaran yang menunjukkan semua fase terlaksana dengan baik.2) Model Problem Based Learning berpengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, hal tersebut dapat dilihat dari perolehan nilai lembar observasi kemampuan berpikir kritis memiliki nilai rata-rata sebesar 16,47 dengan persentase rata-rata sebesar 68,63% yang termasuk dalam klasifikasi baik. Kemudian rata-rata nilai pretest menunjukkan nilai sebesar 47,08 sedangkan nilai rata-rata posttest sebesar 77,94. Hal tersebut dibuktikan dengan uji hipotesis nilai tes memiliki  sebesar 19,061 dengan  sebesar 1,690 sehingga 19,061 1,690  dengan nilai signifikasi 0,00 1.690 () with significance value 0.0

    0

    full texts

    1,821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇