Majalah Kedokteran Bandung
Not a member yet
233 research outputs found
Sort by
TROMBOEMBOLI PARU PADA ANAK
Tromboemboli paru dapat terjadi akibat adanya obstruksi pembuluh darah paru oleh trombi. Tromboemboli paru jarang didiagnosis dan dilaporkan pada anak, kebanyakan bahkan tidak terdiagnosis sampai setelah dilakukan otopsi. Penyakit yang pada dewasa meningkatkan risiko terjadinya tromboemboli juga berlaku untuk anak dan remaja. Penderita dengan tromboemboli paru biasanya mempunyai penyakit yang mendasari ataupun faktor pencetus, seperti imobilisasi, penggunaan vena sentral, penyakit jantung, trauma, operasi, infeksi, dehidrasi, keganasan, kelainan hematologi, serta kegemukan. Lokasi anatomis trombus vena pada anak berbeda dengan dewasa yaitu pada vena kranialis dan abdominalis, serta seringkali manifestasi klinisnya tidak jelas. Pada anak, tomboemboli paru harus dipertimbangkan pada beberapa keadaan, antara lain dalam mengevaluasi hipertensi paru yang tidak bisa diterangkan penyebabnya, insufisiensi respirasi, dan koagulasi intravaskular diseminata (KID). Pemeriksaan angiografi paru masih merupakan gold-standard untuk mendiagnosis tromboemboli paru dan merupakan pemeriksaan yang invasif. Pemeriksaan non-invasif multidetector helical/spiral computerized tomography scanning yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi merupakan teknik yang diharapkan dapat menggantikan pemeriksaan angiografi paru. Protokol pengobatan untuk anak masih belum berkembang, tetapi hingga saat ini antikoagulasi merupakan obat yang digunakan untuk mencegah perluasan bekuan dan rekurensi tromboemboli.Kata kunci: Tromboemboli paru, angiografi paru, multidetector helical/spiral computerized tomography scanning, anakPULMONARY THROMBOEMBOLISM IN CHILDRENPulmonary thromboembolism could be happened because of pulmonary vessel obstruction by thrombi. Pulmonary thromboembolism is rarely diagnosed and reported in children, most of them are not diagnosed before autopsy was done. All adult diseases that increase the risk of thromboembolism occur in children and adolescent as well. Patients with pulmonary thromboembolism usually have serious underlying disorders or precipitating factors, such as immobility, central venous catheterization, heart disease, trauma, surgery, infection, dehydration, malignancies, hematologic disorders, and obesity. The anatomic site of venous thrombi in children differs from those in adult, which more likely to involve cranial or abdominal veins, and often asymptomatic. Pulmonary thromboembolism in children should be considered in the evaluation of unexplained pulmonary hypertension, respiratory insufficiency, and disseminated intravascular coagulation. Pulmonary angiography is considered to be the gold-standard for diagnosis of pulmonary thromboembolism, and it is an invasive procedure. Non-invasif procedure multidetector helical/spiral computerized tomography scanning with high sensitivity and specificity is promising technique may replace pulmonary angiography. Although definitive protocols for treatment of pulmonary thromboembolism in children have not been improved yet, but until now anticoagulation drugs is used to prevent clot extension and recurrent thromboembolim.Key words: Pulmonary thromboembolism, pulmonary angiography, multidetector helical/spiral computerized tomography scanning, children DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n1.25
Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu Era Millenium Development Goals
The Millennium Development Goals (MDGs) adalah delapan target yang harus dicapai pada tahun 2015 sebagai respons terhadap tantangan pembangunan utama dunia. MDGs dalam bidang kesehatan maternal diukur dengan indikator angka kematian ibu (AKI) dan persentase persalinan yang dilakukan oleh penolong persalinan terlatih (skilled birth attendant). Artikel ini membahas kembali program yang sangat baik dan ada di Indonesia namun belum terlaksana dengan sempurna melihat Indonesia merupakan negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara. AKI nasional memang menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi di beberapa daerah masih sangat tinggi, sementara proporsi persalinan yang ditolong oleh penolong persalinan terlatih memang menunjukkan peningkatan tapi dukungan sistem dan keterampilan penolong dianggap masih belum memenuhi harapan. Sebagian besar proses persalinan di Indonesia terjadi di rumah (non-institusional), beberapa faktor yang saling berkaitan dengan karakteristik proses persalinan di Indonesia adalah psikologis, keluarga, dan ekonomi. Upaya menurunkan AKI di Indonesia merupakan gabungan dari penolong persalinan terlatih, asuhan obstetrik emergensi, dan sistem rujukan emergensi. Intervensi di atas tidak harus dilakukan di fasilitas kesehatan, tapi dapat diimplementasikan oleh penolong persalinan terlatih saat persalinan di rumah, harus didukung oleh: lingkungan yang menunjang, rujukan emergensi, dan juga perbaikan akses kontrasepsi. Optimalisasi persalinan non-institusional dengan desa SIAGA dan Gerakan Sayang Ibu (GSI). GSI menggalakkan kesiapan persalinan dan kesiagaan komplikasi dengan “desa SIAGA” yang mempunyai komponen: Sistem Dana, Sistem Transportasi, Sistem Donor Darah, Sistem Pemberitahuan, dan Kemitraan pertolongan persalinan dukun paraji dan bidan. Kata kunci: MDGs, AKI, persalinan non-institusional, desa SIAGA, GSIOptimalization Non-institutional Delivery in Reducing Maternal Mortality Ratios To Achieve Millenium Development GoalsThe Millennium Development Goals are goals that must be achieved in 2015 as a responds to world development challenges. MDGs in maternal healthcare were measured by indicators such as maternal mortality ratios and percentage of births attended by skilled birth attendants (SBA). This article focuses on very good programs inIndonesia but still not being done perfectly because Indonesia's MMR is still the highest among south east asian countries. National MMR is declining over decades, but in several provinces MMR still high. Deliveries by SBA proportion show promising trends although with low system support and skill monitoring support. Most of deliveries were non-institutional, several aspects known to play important roles were psychological, families, and economics aspects. Efforts on lowering maternal mortality in Indonesia actually are combinations between SBA, emergency obstetric care, and emergency referral system. Interventions can be done by SBA at home whileworking, with an adequate support from community system, emergency referral system, and improvement of contraception access. Non-institutional delivery optimalization with des SIAGA and GSI (Safe Motherhood Activities) which had 5 components; Funding System, Transportation System, Blood Donor System, Information System, and partnership in midwives and traditional birth attendant (TBA). Key words: MDGs, MMR, non-institutional deliveries, desa SIAGA, GSI DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n4.25
NONTHYROIDAL ILLNESS (NTIs)
Nonthyroidal Illness (NTIs) didefinisikan sebagai keadaan didapatkan fungsi tiroid yang abnormal tanpa ditemukan gangguan pada aksis hipotalamus-hipofise, juga tidak ada gangguan pada kelenjar tiroidnya. NTIs ditemukan pada penderita dengan sakit berat, dan biasanya fungsi tiroid akan membaik sejalan dengan kesembuhan penyakit dasarnya. Macam-macam gangguan fungsi tiroid sangat bervariasi, mulai dari rendahnya kadar triiodotironin serum (T3) dan meningkatnya reverse T3 (rT3). Sejalan dengan beratnya penyakit dasarnya maka sering juga mengakibatkan gangguan pada thyroid-stimulating hormone (TSH), tiroksin (T4), dan free T4 (fT4). NTIs semakin berat terjadi saat kedua hormon T3 dan T4 ditemukan menurun dan secara perlahan-lahan akan meningkat sejalan dengan kesembuhan penyakitnya. Sampai saat ini masih menjadi perdebatan apakah perlu atau tidak diberikan hormon pengganti tiroid. Masih diperlukan studi prospektif dengan jumlah pasien yang besar mengenai penggunaan hormon pengganti ini. Oleh karena itu perlu untuk memahami fisiologi dan patofisiologi NTIs sehingga kita dapat memahami kapan menggunakan hormon pengganti tiroid.Kata kunci: NTIs, fungsi tiroid, hormon pengganti tiroidNONTHYROIDAL ILLNESS (NTIs)Nonthyroidal illness (NTIs) can be described as abnormal findings on thyroid function tests that occur in the setting of a nonthyroidal illness (NTI) without preexisting hypothalamic-pituitary and thyroid gland dysfunction. After recovery from an NTI, these thyroid function test result abnormalities should be completely reversible. Multiple alterations in serum thyroid function test findings have been recognized in patients with a wide variety of NTI without evidence of preexisting thyroid or hypothalamic-pituitary disease. The most prominent alterations are low serum triiodothyronine (T3) and elevated reverse T3 (rT3), leading to the general term low T3 syndrome. Thyroid-stimulating hormone (TSH), thyroxine (T4), and free T4 also are affected in variable degrees based on the severity and duration of the NTI. It cannot diagnosed NTIs only by measure one thyroid hormone. As the severity of the NTI increases, both serum T3 and T4 levels drop and gradually normalize as the patient recovers. It's still be an argument for administration of replacement T3 and T4 hormone in patients with NTIS. However, it is impossible to be certain at this time that it is beneficial to replace hormone, or whether this could be harmful. Only a prospective study will be adequate to prove this point, and probably this would need to involve hundreds of patients. Ongoing studies document the beneficial effects of replacement of other hormones in these acutely and severely ill patients.Key words: NTIs, thyroid function, hormone replacement DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.24