JURNAL MESIN TEKNOLOGI
Not a member yet
270 research outputs found
Sort by
ANALISIS UNJUK KERJA ALAT PENUKAR KALOR PELAT KAPASITAS 2400 KW DENGAN ALIRAN BERLAWANAN (COUNTERFLOW)
Analisa unjuk kerja alat penukar kalor pelat aliran berlawanan (Counterflow) dimana kedua aliran fluida mengalir tetapi berbeda arah merupakan penghasil efisiensi terbanyak dari semua susunan aliran untuk satu lintasan dengan parameter dan spesifikasi yang sama, merupakan aliran Turbulen pada kedua aliran panas dan dingin, dengan suhu air panas masuk 15,40oC , dan suhu air dingin keluar sebesar 13,40oC. Sebuah Alat Penukar Kalor Pelat adalah suatu Alat penukar kalor yang terdiri dari beberapa lembar (plate) baja tahan karat tipis untuk menukar panas pada kedua fluida, sepanjang waktu kedua aliran tersebut dipisahkan dengan dua buah paking, antara saluran dan aliran berlawanan yang terjadi menghasilkan kemungkinan efisiensi yang tertinggi. Penelitian Secara Kualitatif pada Alat Penukar kalor pelat ini digunakan sebagai pendingin unit-unit mesin seperti AHU, FCU , Kolam Renang , Menara pendingin dan lain-lain, dengan menggunakan air laut yang telah diproses sebelumnya sebagai media fluida pendinginnya. Metode yang digunakan adalah metode LTMD (Log Mean Difference) dalam menganalisa distribusi suhudengan nilai 1,95oC sehingga menghasilkan rasio perbandingan kalor 1 dengan efektifitas thermal 80%, sehingga mendekati keseimbangan thermal dan metode NTU-effectifitas dimana Co>Ch sehingga menghasilkan nilai 82% pada alat penukar kalor pelat. Penelitian secara Kuantitatif diperoleh hasil nilai koefisien pada alat penukar kalor ini sebesar 5606 W/m2 oC mendekati nilai asumsi 5000 W/m2 oC, pendinginan yang dibutuhkan 7138 KW maka diperlukan tiga buah unit sehingga menghasilkan pendinginan sebesar7236 KW dengan nilai keefektifan sebesar 82 %
ANALISA SIFAT KARAKTERISTIK BLOK SILINDER LINER BAHAN ALUMINIUM SILIKON
Blok liner silinder merupakan bagian dari blok silinder yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses kerja engine. Dimana pada bagian ini terjadi proses kerja proses kerja hisap, kompresi, kerja dan buang. Oleh karena itu agar tidak terjadi kebocoran kompresi yang disebabkan oleh gesekan antara ring piston dan dinding liner silinder, diperlukan dinding liner silinder yang mempunyai nilai kekerasan yang tinggi dan nilai keausan yang rendah. Karena apabila terjadi kebocoran kompresi diruang bakar hal ini dapat berakibat pada tenaga yang dikeluarkan motor menjadi berkurang dan juga selain itu system pembakaran diruang bakar juga menjadi tidak sempurna dimana pelumnas atau oli mesin juga ikut terbakar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai karakteristik sifat mekanik dan struktur mikro blok silinder liner bahan aluminium dan silikon. Pengujian yang dilakukan yaitu pengujian komposisi kimia, pengujian kekerasan (brinell), pengujian keausan (ogoshi), dan pengujian struktur mikro. Pada pengujian komposisi kimia dihasilkan kandungan unsur terbesar adalah Al 76,140% dan silikon 13,898%. Dengan kandungan silikon <12% menempatkan blok silinder aluminium dan silikon berada pada fasa hipereutektik. Dan dengan pengujian kekerasan (brinell) didapat nilai kekerasan rata-rata sebesar 151,5 HB, dengan nilai kekerasan yang cukup tinggi ini bisa dipastikan bahwa blok liner silinder mempunyai keausan yang kecil. Tetapi dengan nilai kekerasan yang didapat hal ini tidak dimungkinkan untuk blok silinder bahan aluminium silikon dilakukan proses reparasi over size atau korter terhadap dinding liner blok silinder. Hal ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan blok silinder liner pada umumnya
ANALISIS KARAKTERISTIK GEAR SPROCKET STANDARD DAN RACING PADA SEPEDA MOTOR
Roda gigi adalah bagian dari mesin yang berputar dan berguna untuk mentransmisikan daya. Sprocket gear sepeda motor merupakan salah satu komponen penggerak roda. Komponen ini merupakan salah satu komponen yg sangat penting. Jenis material yang digunakan dalam komponen ini termasuk dalam jenis baja karbon rendah. Roda gigi sprocket racing berfungsi sebagai pemindah daya ( daya putar dari mesin ke roda belakang ), sehingga motor dapat bekerja secara optimal. Terlebih lagi bila dipakai untuk keperluan racing dibutuhkan part gear khusus untuk menunjang settingan mesin yang sudah didesain sedemikian rupa sehingga menghasilkan performa yang lebih baik. Berdasarkan pada hasil komposisi kimia pada benda uji gear sprocket standart dan gear sprocket racing, pada material gear sprocket tersebut diklarifikasikan termasuk baja karbon rendah jika dilihat pada nilai karbonnya (0,025% - 0,35% C). Pada gear sprocket standart mengandung unsur C: 0,159% Fe: 98,20% Si: 0,007% Ni: 0,006% Cr: 0,020% Mn: 0,979% Zn: 0,541% dan gear sprocket racing mengandung unsur C: 0,333% Fe: 98,33% Si: 0,209% Cr: 0,029% Ni: 0,313% Mn: 0,700%. Pada pengujian kekerasan data hasil nilai kekerasan dengan metode vickers yang sudah dirata – ratakan pada tiap – tiap benda uji. Untuk material gear sprocket standart nilai kekerasan rata – rata 448 HVN, sedangkan gear sprocket racing nilai kekerasan rata – rata 544,8 HVN. Pada foto struktur mikro gear sproket standart struktur yang terbentuk adalah struktur ferrit (berwarna agak terang atau putih) dengan butiran-butiran yang besar dan paling dominan. Struktur perlite (berwarna agak gelap) juga terlihat dalam struktur ini, dengan butiran-butiran yang agak besar dan sedikit. Kemudian struktur sementit (berwarna abu-abu agak terang) juga terbentuk dalam fasa ini, dengan butiran-butiran yang kecil dan banyak, tetapi tidak bagitu dominan. Pada foto struktur mikro gear sproket racing struktur yang terbentuk adalah struktur ferrit (berwarna agak terang atau putih) dengan butiran-butiran yang besar dan paling dominan. Struktur perlite (berwarna agak gelap) juga terlihat dalam sturktur ini, dengan butiran-butiran agak besar dan sedikit. Kemudian struktur sementit (berwarna abu-abu agak terang) juga terbentuk dalam fasa ini, dengan butiran-butiran agak besar dan banyak, tetapi tidak begitu dominan
ANALISA PENGARUH PENGELASAN TIG DAN MIG PADA SAMBUNGAN LAS DENGAN MATERIAL TIPE SS316 DAN SS304
Pada umumnya material baja digunakan tidak dalam bentuk lembaran ataupun potongan.Tetapi digunakan dengan membuatnya suatu bentuk sehingga perlu dilakukannya proses penyambungan (pengelasan) untuk menghasilkan suatu produk yang siap pakai. Jenis pengelasan yang tersedia beaneka ragam. Sehingga harus dapat memilih teknik pengelasan yang tepat agar diperolehnya suatu produk dengan hasil yang baik. Masalah yang ada pada pengelasan baja tahan karat sangat tergantung pada jenis baja tahan karat yang akan dilas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pengelasan terhadap kekuatan tarik, kekuatan impak, kekerasan mikro Vickers dan struktur mikro pada material SS304 dan SS316. Pengelasan dilakukan dengan metode TIG dan MIG serta benda uji memiliki ketebalan 2 - 3 mm. Selanjutnya dilakukan pengujian yang meliputi uji tarik, uji impak, uji kekerasan serta uji struktur mikro. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai tegangan tarik tertinggi pada material SS316 dengan metode pengelasan TIG yaitu sebesar 602.61 N/mm2 dan untuk material SS304 dengan metode pengelasan MIG yaitu sebesar 347.71 N/mm2. Nilai kuat impak terbesar pada material SS316 dan SS304 diperoleh dengan metode pengelasan MIG yaitu sebesar 570.5 J/cm2 dan 696.8 J/cm2. Nilai kekerasan mikro Vickers tertinggi untuk material SS316 nilai kekerasan mikro Vickers tertinggi pada daerah lasan dan HAZ diperoleh dengan metode pengelasan MIG yaitu sebesar 528.1 HVn dan 231.8 HVn, sedangkan pada daerah base metal nilai kekerasan mikro Vickers tertinggi diperoleh dengan metode pengelasan TIG yaitu sebesar 187.5 HVn. Untuk material SS304 pada daerah lasan dan HAZ diperoleh dengan metode pengelasan MIG yaitu sebesar 548.6 HVn dan 362.2 HVn, sedangkan pada daerah base metal mempunyai nilai yang sama besar yaitu sebesar 220.6 HVn baik dengan metode pengelasan TIG maupun MIG. Sehingga dapat diperoleh metode pengelasan yang baik digunakan untuk material SS316 dan SS304 adalah metode pengelasan MIG
ANALISIS KOMPARASI PENGGUNAAN FLUIDA PENDINGIN PADA UNIT PENGKONDISIAN UDARA (AC) KAPASITAS 19010 – 19080 KJ/H
Permasalahan yang sampai saat ini masih menjadi buah bibir di halayak ramai adalah isu penyelamatan lingkungan. Bahkan di dalam salah satu standarisasi internasional seperti ISO 14001 merupakan suatu keharusan. Salah satu implementasinya adalah lingkungan harus bebas dari CFC (Chloro-Fluoro-Carbon atau biasa disebut Freon). Oleh karena itu diperlukan fluida pengganti CFC, yaitu Hidrokarbon yang memiliki sifat lebih ramah lingkungan dan lebih hemat energi. Pengendalian udara (AC) sekarang bukanlah menjadi barang mewah yang hanya bias dinikmati oleh masyarakat kalangan tertentu tetapi sudah menjadi kebutuhan masyarakat umum. Berdasarkan studi komparasi yang dilakukan, didapatkan rasio penghematan energi yang terjadi dalam satu bulan adalah sebesar 17.4 %. Maka dapat dikatakan fluida pendingin MC-22 lebih baik dibandingkan fluida pendingin R-22 dari segi refrigerating effect, laju aliran massa refrigeran, tenaga yang dibutuhkan kompresor teoritis maupun dari COP (Coeffisient of Performance)-nya
ANALISIS REAKTOR ALIR TANGKI PENGADUK pada KAPASITAS 20 M3 dengan TEMPERATUR 1520 C
Dalam industri proses dan industri kimia, atau pun dalam kegiatan lain banyak mengunakan Reaktor Alir Tangki Berpengaduk sebagai barang jadi yang telah tersedia dan pemilihannya dilakukan atas dasar harga dan spesifikasi yang diberikan oleh para pembuatannya. Bilamana Reaktor Alir Tangki Berpengaduk merupakan bagian dari suatu unit peralatan yang akan dibuat, Reaktor Alir Tangki Berpengaduk standar yang tersedia dapat di beli langsung untuk itu atau bila pertimbangan biaya dan jumlah yang akan di buat memungkinkan Reakor Alir Tangki berpengaduk dapat di rancang khusus untuk itu. Setiap penerapan suatu Reaktor Alir Tangki Berpengaduk harus dipatuhi untuk mendapatkan yang terbaik yang sesuai dengan pertimbangan sistim aliran fluida, perpindahaan panas, ketebalan plat pada tangki dan jaket dan sistim pengadukan agitator. Pada hasil perhitungan yang di dapat pada reaktor alir tangki berpengaduk mempunyai aliran turbulen, perpindahan panas yang di lakukan oleh pemanasan steam dengan media konduksi dan konveksi yang temperatur yang di serap oleh meterial SA 193 B7 ≤ 2½′′ dengan ketebalan 10 mm sudah sesuai dengan fluidanya dan reaksi dua fluida mengalami pencampuran yang sempurna dan didapatkan produk yang diinginkan, selinder shell pada tangki dan jaket mengunakan ketebalan plat adalah 10 mm dan 16 mm, kepala ellips pada tangki dan jaket mengunakan ketebalan plat adalah 10 mm dan 16 mm, daya motor yang di gunakan untuk pengadukan dua fluida pada reaktor alir tangki berpengaduk adalah 30 kw, 380 volt : AC – 50 Hz dengan tipe motor Y200L1-2
PERANCANGAN BUSHING METAL BRONZE PENGGANTI BEARING PADA MESIN PABRIK GULA
Bushing metal adalahalat yang digunakanuntukmenggantikan bearing dan sebagai penahanan poros. Supaya poros bisa berputar dan bisa menggiling tebu menjadi hancur, tipe bushing metal bronze ini yaitu bushing yang didalamnya ada alur olie yang fungsinya untuk pelumasan atau pelicin poros, agar poros yang berputar didalam bushing tersebut bisa bertahan lama dan material bushing tidak terkikis oleh poros, baik poros ataupun bushing bisa bertahan sampai bertahun – tahun, ini lebih efesien bila dibandingkan dengan bearing yang harganya lebih mahal.Tipe bushing metal bronze ini adalah yang cocok dengan kondisi dilapangan dan sesuai dengan kebutuhan yang ada pabrik-pabrik gula mungkinbisa sampai seluruh Indonesia bisa memakai alat ini, penelitian yang digunakan adalah dengan cara study literature, perhitungan terhadap desain serta konsultasi dengan pembimbing dan orang yang kompeten didalam materi dan hitungan, baik hitungan rumus atau komposisi material tersebut. Bushing metal bronze adalah alat yang dapatmemudahkanbagi maintenance untuk pengecekan dan perbaikan dimesin-mesin bagi yang memakai alat tersebut yaitu dengan cara pengecekan olie dipenampungan jangan sampai habis ini akan mengakibatkan gesekan antara bushing dan poros, yang mana salah satu diantara dua bisa kalah
MENINGKATKAN MUTU BAJA SUP 9 PADA PEGAS DAUN DENGAN PROSES PERLAKUAN PANAS
Proses Heat Treatment yaitu proses pemanasan secara bertahap pada logam dengan tujuan merubah sifat mekanis dan struktur mikro dari logam tersebut, perlakuan panas ini dilakukan pada baja karbon medium dengan variasi temperature rekritalisasi dan pada temperature austenisasi, pengujian kekerasan dengan metode Rockwell dan pengamatan metallografi. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi temperature, sebelum dan sesudah proses perlakuan panas terhadap nilai kekerasaan dan pengamatan metalografi. Pengujian dilakukan pada benda uji yang tidak mengalami perlakuan panas (baru), dan pada benda uji yang mengalami perlakuan panas dengan temperature 8500C dan penahanan waktu selama 30menit, dengan media pendingin oli, dan kemudian benda tersebut mengalami perlakuan panas ( tempering) dengan temperature 4800C dan penahan waktu 15 menit dengan media pendinginan oli. Hasil dari penelitian ini didapat nilai kekerasaan tertinggi pada baja karbon sedang ( pegas daun bekas) yang mengalami proses perlakuan panas (hardening) pada temperature 8500C yaitu 45.5 HRc, sedangkan nilai kekerasan untuk baja karbon sedang yang tanpa perlakuan panas (pegas daun baru) yaitu sebesar 44.7 HRc, jadi kesimpulannya baja (pegas daun bekas) yang sudah bekas pakai dapat di tingkatkan kembali mutunya
RANCANG BANGUN MESIN PENYERUT BAMBU
Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal akan kerajinan tangan, yang berbahan baku dari bambu. Pada proses pembuatanya masih dilakukan secara manual yaitu dibelah dan diserut dengan menggunakan pisau tangan. Perkembangan teknologi pemesinan yang semakin maju dan berkembang menuntut pula dikembangkannya mesin-mesin produksi yang semakin canggih dan dapat menghasilkan kualitas produksi yang tinggi. Alat penyerut bambu adalah suatu alat bantu yang berfungsi untuk mengerjakan benda kerja dengan perinsip penyerut. Penyerut bambu biasa dibuat untuk memproduksi benda dalam jumlah ratusan atau ribuan dengan bentuk dan ukuran yang sama dan dalam waktu yang relatif cepat serta biaya yang ekonomis. Alat penyerut bambu juga merupakan alat perkakas penyerut. Dinamakan mesin penyerut bambu karena alat ini dirancang menggunakan motor penggerak yang dapat mengubah gerak putar menjadi gerak lurus. Dari hasil yang telah terlihat maka dapat diambil kesimpulan bahwa ketebalan hasil penyayatan sangat berpengaruh terhadap output yang di hasilkan dan masih banyak faktor lain yang dapat menentukan hasil dari proses penyayatan pada saat pengujian berlangsung
PERBANDINGAN PENGUJIAN MEKANIS TERHADAP KAMPAS REM ASBES DAN NON-ASBESTOS DENGAN MELAKUKAN UJI KOMPOSISI, UJI KEKERASAN, DAN UJI KEAUSAN
Kampas rem merupakan komponen penting pada kendaraan bermotor di jalan raya. Pertambahan kendaraan bermotor roda 2 dan roda 4 saat ini meningkat pesat sejalan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat. Komponen kendaraan yaitu kampas rem sangat perlu mendapat perhatian yang lebih oleh pemegang kebijakan (pemerintah) dalam upaya melindungi konsumen dan mengurangi persentase penyebab kecelakaan dijalan raya. Pada pengujian komposisi telah didapatkan data material dengan kuntitas dan nilai material yang berbeda. Pada kampas rem asbestos terdapat kandungan asbes (Zn) sebesar 2.26% dan jumlah carbon (C) sebesar 24.90% dan perbandingan yang dimiliki pada kampas rem non-asbestos ialah titanium (Ti) sebesar 9.42% dan carbon (C) sebesar 29.87%. Dari hasil perbandingan kampas rem asbestos dan non-asbestos jumlah material yang baik dimiliki oleh kampas rem non-asbestos karena memiliki kualitas dan kuantitas yang baik. Pada pengujian Kekerasan telah didapatkan nilai hasil rata-rata kekerasan dari tiap sampel dengan nilai 16 HRb untuk asbestos dan 23 HRb untuk non-asbestos, dari hasil nilai telah membuktikan nilai yang paling baik dimiliki pada sampel non-asbestos. Pada pengujian keausan telah didapatkan nilai hasil rata-rata spesifik abrasi dari tiap sampel dengan nilai 0.0018 mm3/mm untuk asbestos dan 0.002 mm3/mm untuk non-asbestos, dari hasil membuktikan nilai yang baik dimiliki pada sampel asbestos dan sebaliknya pada non-asbestos, tetapi sebaliknya pada pengereman jika nilai abrasi yang rendah membuktikan bahwa pada kampas rem asbestos akan terjadi fading yang membuktikan tingkat pengereman yang rendah dan sebaliknya pada non-asbestos mempunyai tingkat pengereman yang baik. Hasil pengujian kekerasan dan keausan telah membuktikan bahwa kampas rem asbestos mempunyai kualitas yang kurang baik dalam pengereman karena mempunyai nilai kekerasan yang rendah dan juga mempunyai nilai keausan yang rendah. Dan sebalikinya pada kampas rem non-asbestos memiliki tingkat pengereman yang baik karena memiliki tingkat keausan dan kekerasan yang tinggi