4351 research outputs found
Sort by
Pahlawan Pahlawan Indonesia Sepanjang Masa
Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.Dengan mengenal para pahlawan, semoga kita bisa meneladani semangat para pahlawan dan akan semakin menambahkan rasa cinta terhadap tanah air
Guru berkarakter untuk implementasi pendidikan karakter
Kebutuhan manusia akan keteladanan lahir dari suatu gharizah (naluri) yang bersemayam di dalam jiwa manusia yaitu jiwa taqlid (peniruan). Sebagai contoh bahwa manusia suka meniru adalah sekelompok anak remaja yang sedang mengalami perkembangan, ia mulai mencari orang lain yang dapat mereka jadikan teladan atau hero (orang yang dihormati karena keberanian dan pribadi yang mulia) sebagai ganti orang tua dan orang-orang yang bisa menasehati mereka. Maka hero atau manusia teladan yang dijadikan contoh di kalangan siswa itu, biasanya membawa kepada peniruan dan mengagungkan hero tersebut, apa saja yang dilakukan atau dibuat heronya itu, akan dipuji dan ditiru oleh siswa tersebut. Hero-hero tersebut sangat berpengaruh pada anak didik. seandainya yang menjadi hero itu baik, maka pengaruhnya juga baik, tapi kalau ia tidak baik maka pengaruhnya juga tidak baik. Oleh sebab itu, pendidikan keteladanan merupakan suatu metode, mengingat begitu kuat dan besar pengaruhnya terhadap anak. Bila anda memang mengaku guru hebat, berikanlah keteladanan dalam mendidik, sebab keteladanan saat ini masih hanya sebatas slogan. Satu kata antara perkataan dan perbuatan menjadi sesuatu yang mustahil terlihat kalau kita sebagai guru tak mampu memberikan pendidikan keteladanan. Urgensi pendidikan harus mengantarkan peserta didik menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas otak juga cerdas watak. Hal tersebut tentu dibutuhkkan keteladanan pada seorang guru dan tidak salah kiranya bila sekarang ini pendidikan membutuhkan guru-guru super yang berkarakter guna menjadikan siswa berkarakter
Patologi Sosial 2 : Kenakalan Remaja / Kartini Kartono
“Kejahatan anak remaja makin hari menunjukkan kenaikan jumlah dalam kualitas kejahatan dan peningkatan dalam kegarangan serta kebengisannya yang dilakukan dalam aksi-aksi kompak. Gejala ini akan terus-menerus berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi, industrialisasi, dan urbanisasi.Apa yang menjadi penyebab terjadinya juvenile delinquency itu ? Karena pewarisan secara genetika, konflik batin karena tekanan jiwa, internalisasi simbolis yang keliru atau pengaruh keluarga.â€Bagaimana penanggulangannya??penulis mengupasnya dalam buku ini secara gamblang dengan mengacu kepada teori-teori biologis, psikogenis, sosiogenis, dan subkultur delikuensi, sehingga akan menjadi pengetahuan berguna bagi para mahasiswa, akademisi, profesional yang berkecimpung dengan permasalahan kenakalan remaja. Juga yang tidak kalah pentingnya bagi para orang tua yang tentu saja tidak menginginkan permasalahan anak remaja ini terjadi pada keluarganya.â
Sosiologi Indonesia, Diskursus Kekuasaan dan Reproduksi Pengetahuan
Buku karya Hamzah Fansuri ini merupakan hasil penelitian Tesis pada Program Pascasarjana Sosiologi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Buku ini sangat menarik karena berusaha melihat bagaimana terjadinya diskursus kekuasaan dan reproduksi pengetahuan dalam konteks perkembangan Sosiologi Indonesia.  Seperti yang diungkapkan oleh Vedi R. Hadiz, Guru Besar Masyarakat dan Politik Asia di Murdoch University Australia dalam pengantarnya, karya dari Hamzah Fansuri ini perlu disambut sebagai upaya baru untuk menelaah perkembangan ilmu sosial khususnya dalam bidang Sosiologi (hlm xi).Penulis mencoba menelusuri perkembangan ilmu sosial khususnya Sosiologi Indonesia dari masa kolonial sampai Orde Baru ditinjau dari konteks sosial kesejarahan yang meliputi aspek ekonomi, politik, dan pengaruh dominasi keilmuan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II. Penulis menjelaskan bahwa melalui penelitian ini ia bermaksud mengidentifikasi peta perkembangan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu sosial dalam kaitannya dengan realitas sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia (hlm 7).Penulis menggunakan terminologi genealogi dan kekuasaan dari Michel Foucault, sosiolog asal Perancis. Genealogi tidak bermaksud untuk kembali ke masa lalu dan juga tidak menyorot cerita kebesaran dari tokoh-tokoh sosiologi di masa lalu. Konsep genealogi dari Foucault berfungsi untuk memperhatikan dinamika, proses transformasi, dan diskontinuitas di tiap perkembangan historis Sosiologi Indonesia dengan memfokuskan pada diskursus kerakyatan (discourse of populism) di Sosiologi UGM sebagai pintu masuk pelacakannya (hlm 10). Sosiolog dalam studi ini adalah individu yang menguasai wacana (discourse) seputar sosiologi baik secara keilmuan maupun praksis. Maka tidak menutup kemungkinan  bahwa Sosiolog mengendalikan pengetahuan seperti yang dikatakan Foucault pada hubungan kekuasaan dan pengetahuan (hlm 12). Pengetahuan sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari kekuasaan memberi wawasan bagi studi ini. Kerja intelektual dari para sosiolog bisa jadi tidak semata-mata berorientasi pada keilmuan atau reproduksi pengetahuan, tetapi juga demi kepentingan kekuasaan (hlm 13).Studi sebelumnya yang juga menjadi rujukan dari penulis adalah buku dari Hanneman Samuel mengenai Genealogi Kekuasaan Ilmu Sosial di Indonesia: Dari Kolonialisme hingga Modernisme Amerika, buku Daniel Dhakidae mengenai Cendikiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, Buku Vedi R. Hadiz dan Daniel Dhakidae (ed) mengenai Social Science and Power in Indonesia, tulisan PM Laksono mengenai kinerja asosiasi ilmu-ilmu sosial di Indonesia, Buku Munawar Ahmad Mengeni Ijtihad Politik Gusdur: Analisis Wacana Kritis (hlm 15). Buku ini menawarkan apa yang belum dikaji oleh studi-studi sebelumnya yaitu bagaimana peran dan posisi dari para sosiolog serta kajian spesifik tentang sosiologi dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan (sociology of sociology) dan sepak terjang sosiolog (sociology of sociologist) di Perguruan Tinggi. Fokus studi ini adalah perkembangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan dan sosiologi dalam makna sosiolog-sosiolog di UGM (hlm 16).Studi ini menggunakan metode analisa wacana kritis atau critical discourse analysis (CDA) dengan didasarkan pada wacana dalam hubungannya dengan kekuasaan yang disalahgunakan, serta ketidakadilan dan dominasi yang terdapat di dalam teks, tuturan atau gambar dalam konteks sosial dan politik. CDA dikenalkan oleh Norman Fairlough yang menempatkan praktik pewacanaan sebagai pilar utama dalam memproduksi pengetahuan melalui sebuah teks (hlm 19).Secara menarik penulis menyajikan diskursus ilmu sosial Indonesia dalam makna kekuasaan atau reproduksi pengetahuan terkait dengan konteks kolonialisme dan bagaimana konteks ilmuan pribumi dalam semangat kebangsaan. Penulis juga menggambarkan secara rinci bagaimana diskursus pembanguan era Orde Baru dengan pengembangan teori-teori modernisasi serta perkembangan paradigma kritis di kalangan ilmu sosial Indonesia khususnya menjelangan berakhirnya kekuasaan Orde Baru (hlm 30). Sosiologi sudah menjadi bagian dari perkuliahan ilmu hukum di era kolonial. Sosiologi Indonesia pada era Orde baru seperti halnya ilmu-ilmu sosial lain memiliki kecenderungan pada teori fungsionalisme Talcot Parsons (hlm 77). Menurut penulis diskursus (discourse) kerakyatan (populist) berkembang di sosiologi UGM merupakan upaya kritik atas ideologi pembangunanisme semasa Orde Baru (hlm 133).Perkembangan historis Sosiologi Indonesia telah menunjukan diskontinuitas sejak era kolonial hingga saat ini. Bahwa beragam pemikiran yang ada pada masa lalu tidak serta merta memberi pengaruh pada beragam pemikiran yang ada saat ini (hlm 194). Perkembangan Sosiologi Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana kekuasaan bekerja dalam memproduksi wacana melalui hubungan antara praktik-praktik diskursif yang berlangsung di masyarakat atau pada suatu lembaga (hlm 197).Buku ini terdiri dari empat bab dimulai dari Pendahuluan; Ilmu Sosial Indonesia: Telaah Historis; Sosiologi Indonesia: Orde Baru, Pasca Orde Baru, dan Globalisasi; Diskursus Kerakyatan dalam Sosiologi Indonesia; dan ditutup dengan kesimpulan. Buku Hamzah Fansuri menjadi sangat penting karena berusaha membuka kembali peluang bagi perdebatan dan diskusi mengenai Sosiologi Indonesia. Penelusuran mendalam penulis mengenai bagaimana diskursus kekuasaan dan reproduksi pengetahuan dalam Sosiologi Indonesia perlu mendapat apresiasi. Diskusi mendalam mengenai topik ini tentu akan menjadi semakin menarik. Mahasiswa, akademisi, peneliti, maupun pemerhati ilmu-ilmu sosial perlu membaca buku ini
Inovasi Pembelajaran
Buku ini ditulis sebagai bahan referensi bagi guru untuk mengimplementasikan pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang efektif dan efisien untuk menghasilkan lulusan yang kreatif. Materi dalam buku ini mencakup teori belajar, model pembelajaran, metode serta teknik pembelajaran yang inovatif yang dijabarkan secara jelas dan mudah dipahami. Materi dapat digunakan untuk merancang strategi dan memilih metode yang sesuai untuk mengatasi permasalahan pembelajaran dalam upaya meningkatkan profesionalitas guru melalui penelitian tindakan kelas