Yogyakarta State University

library.fis.uny.ac.id
Not a member yet
    4351 research outputs found

    Implementasi Pendidikan Multikultural Di SMA Daerah Istimewa Yogyakarta

    No full text
    Pendidikan berbasis multikultural merupakan suatu proses pendidikan berjenjang yang mampu menjadi pengikat dan jembatan yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan seperti status sosial, etnis, gender dan agama. Dengan demikian dalam masyarakat yang multikultural akan tercipta kepribadian yang cerdas, bijak dan santun dalam menghadapi masalah-masalah keberagaman. Paradigma pendidikan multikultural sangat bermanfaat untuk membangun harmoni sosial di antara keragaman etnik, ras, agama, budaya dan kebutuhan di antara kita. Namun sungguh sayang sampai saat ini, pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta belum memiliki kebijakan maupun regulasi tentang pendidikan multikultural.Berdasarkan dari hasil penelitian adalah bahwa SMA yang dijadikan obyek penelitian, meskipun tidak ada arahan dari pemerintah daerah tentang pendidikan multicultural karena memang tidak terdapat kebijakan dan regulasi tentang pendidikan multikultural namun sudah berupaya menerapkan nilai-nilai multikultural kepada para siswanya.Kondisi peserta didik atau siswa di SMA yang menjadi obyek penelitian cukup beragam. Di SMA sampel ini hidup dan berkembang bermacam-macan etnis, antara lain etnis Jawa, Ambon, Maluku, Cina, Madura, Sunda, Palembang, Sumatra, dan Bali. Selain itu, hidup lima kelompok agama, yaitu agama Islam, Kristen Katholik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha yang masing-masing kelompok berbeda itu hidup saling hormat-menghormati dan toleransi baik antara guru dengan murid dan sesama siswa itu sendiri. Kelompok yang berbeda tersebut oleh sekolah diberi kebebasan untuk beraktualisasi sesuai dengan identitas kebudayaannya masing-masing. Masing-masing siswa mendapat pendidikan agama dari guru agama yang sesuai dengan agama masing murid sehingga semua sekolah yang menjadi obyek penelitian sudah memenuhi amanat UU No.20 tahun 2003 khususnya pasal 12 ayat (1) yang menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapat pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama juga mempersiapkan guru agama Islam, Katholik, Kristen Protestan, Budha dan Hindu. Dengan cara demikian setiap siswa mendapat kepastian memperoleh pendidikan agama yang sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.Upaya penanaman nilai-nilai multikultural dilaksanakan oleh para guru terutama guru-guru yang mengampu mata pelajaran yang termasuk dalam kategori ilmu sosial seperti bahasa Indonesia dan sosiologi serta guru agama yang mengajarkan tentang nilai-nilai inklusif berdasarkan ajaran masing-masing agama.Penanaman nilai-nilai multikultural juga dilaksanakan melalui berbagai aktivitas organaisasi kesiswaan dan kegiatan keagamaan yang kepanitiaannya bersifat gabungan lintas agama. Pemilihan pengurus OSIS di semua sekolah yang menjadi obyek penelitian, berlangsung secara demokratis karena setiap siswa tidak dibedakan jenis kelamin, agama, aras atau asal suku bangsanya memiliki kesempatan yang sama yang duduk dalam jajaran kepengurusan OSIS

    Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa

    No full text
    Buku klasik dalam studi tentang Indonesia ini disebut-sebut sebagai salah satu yang paling berpengaruh di dunia kajian kebudayaan dan terus menimbulkan pembahasan, perdebatan akademis serta menginspirasi kajian-kajian baru di tingkat internasional maupun nasional. Bahkan baru-baru ini Journal of Social Issues in Southeast Asia menyatakannya sebagai The Most Influential Books of Southeast Asian Studies.Buku ini berasal dari disertasi Clifford Geertz berdasarkan penelitian di Jawa pada 1952–1954. Geertz mencoba menyimpang dari tradisi antropologi umumnya yang memberi perhatian utama kepada komunitas kecil petani atau penggembala, juga suku-suku terasing yang cenderung menghilang. Suatu kota kecil di Jawa Timur, disebut Modjokuto, dipilihnya untuk memberikan kontras terhadap kecenderungan tersebut, karena kota kecil itu mempunyai penduduk yang melek huruf dengan tradisi yang tua, urban, sama sekali tidak homogen serta sadar dan aktif secara politik. Di Modjokuto terjadi benturan budaya, dimana Islam, Hinduisme, dan tradisi animisme berbaur dalam satu sistem sosial.Dari penelitian empiris dengan kombinasi analisis dan spekulasi yang jarang digunakan untuk memahami arti makna Jawa dan kebudayaannya, Geertz pun dijuluki penemu ilmu pengetahuan baru: antropologi spekulatif. Lebih jauh Geertz dinyatakan ikonoklast yang menghancurkan demikian banyak patung berhala dalam studi kebudayaan. Geertz bersinar sebagai ilmuwan ahli sejarah dan kebudayaan Indonesia (khususnya Jawa), juga salah seorang teoretikus antropologi paling terkemuka di dunia akademis.Itu semua berawal dari buku ini dimana Geertz dengan cerdas dan kreatif mampu menggambarkan “peta budaya†yang dibentuk oleh warga dari konflik dalam kepercayaan, begitu juga persamaan serta kerukunan, lantas ide kelakuan beragama dalam kebudayaan Jawa yang dibagi menjadi Abangan, Santri, Priyayi. Akhirnya melalui kajian menyeluruh tentang agama Jawa ini pembaca diajak menelusuri seluk-beluk dan kedalaman kehidupan spiritual Jawa serta masalah integrasi politik dan sosial yang dicerminkan dalam agama, seraya menyadari bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang serba utuh dan padu, melainkan penuh variasi dan diferensiasi

    Kajian Awal Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Pada Tingkat Sekolah Dasar Di Daerah istimewa Yogyakarta

    No full text
    Implementasi pendidikan karakter berbasis budaya di sekolah dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Pendidikan karakter tersebut seperti yang telah dikenal oleh para kepala sekolah dan guru, yaitu pendidikan budaya dan karakter bangsa. Pendidikan karakter berbasis budaya ini tidak berdiri sendiri sebagai satu mata pelajaran namun menjadi nilai yang terintegrasi di semua pelajaran, juga di semua kegiatan intra dan ekstrakurikuler.Pada awalnya, hampir semua sekolah yang menjadi sampel penelitian ini tidak memahami pendidikan karakter berbasis budaya seperti yang diamanatkan dalam Perda DIY No. 5 Tahun 2011. Setelah diterangkan mengenai pendidikan karakter berbasis budaya, mereka menyatakan telah melaksanakan pendidikan karakter tersebut secara terintegrasi dalam semua kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tentunya, masing-masing sekolah memiliki cara tersendiri di dalam mengimplementasikan hal tersebut. Namun pada intinya, masing-masing sekolah ingin membentuk anak didik yang berkarakter luhur di samping memiliki prestasi belajar yang baik.Untuk mewujudkan karakter anak yang baik sesuai koridor nilai-nilai budaya, sangat diperlukan dukungan sumberdaya manusia yang utama, meliputi: guru, orang tua dan masyarakat sekitar. Dalam pendidikan formal, guru memegang peranan pokok. Terlihat di masing-masing sekolah, para guru melalui kemampuannya berusaha untuk menjadikan anak didiknya berkarakter baik dan luhur. Kelima sekolah sampel penelitian ini telah memiliki guru yang berkompeten di dalam mendidik karakter anak.Dukungan orang tua dan masyarakat sekitar terjalin dengan baik dan luas pada beberapa sekolah, namun masih terdapat sekolah yang perlu mengembangkannya. Partisipasi orangtua sanagt dibutuhkan dalam membentuk karakter anak, misalnya melalui komunikasi antara guru dengan orangtua yang berlangsung secara efektif dan berkesinambungan.Model materi pengajaran pendidikan karakter berbasis budaya di masing-masing sekolah berbeda-beda, tergantung pada kreativitas dan pengalaman guru dalam mengajar, juga visi, misi, dan tujuan sekolah. Namun, aktivitas yang dilakukan untuk membentuk karakter sopan dan santun cenderung sama di semua sekolah, yaitu melalui pembiasaan jabat tangan dan salam, baik antar teman maupun dengan guru saat tiba di lingkungan sekolah pagi hari. Hal yang menonjol dari kelima sekolah dalam pembentukan karakter berbasis budaya terlihat dalam program ketertiban dan kedisiplinan. Selanjutnya pengembangan tanggung jawab, percaya diri dan kejujuran.Dari ke-18 nilai-nilai luhur yang direkomendasikan dalam Perda DIY Nomor 5 Tahun 2011, temuan kajian awal terhadap implementasi pendidikan berbasis budaya di sekolah dasar atas nilai-nilai luhur yang telah diimplementasikan dengan jelas dan tampak dalam perilaku anak didik meliputi: 1) kejujuran, 2) tertib/ disiplin, 3) tanggung jawab, 4) kepedulian, baik yang berwujud peduli lingkungan ataupun peduli sosial, 5) kesopanan/kesantunan, 6) kerja keras/ keuletan/ ketekunan.Nilai-nilai luhur budaya tidak serta merta tercapai dalam satu pembelajaran. Terdapat beberapa sekolah yang mencapainya secara bertahap. Faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya di sekolah dasar di DIY meliputi: guru, anak didik dan berbagai fasilitas penunjang, serta keterlibatan orangtua dan lingkungan sekitar/ masyarakat. Meskipun demikian, faktor pendukung ini dapat pula menjadi faktor penghambat

    Perempuan Laweyan Dalam Industri Batik Di Surakarta

    No full text
    Kampung Laweyan sudah sejak lama dikenal sebagai sentra industri atau sentra produksi batik. Hingga sekarang sebutan sentra produksi ba­tik itu masih melekat. Tradisi membatik yang dilakukan oleh masyarakat Laweyan, tidak terlepas dari sejarah keberadaan Kampung Laweyan itu sendiri yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat birokrat kerajaan. Se­cara sosiologis dapat dikatakan bahwa masyarakat Laweyan sebagai in­clave society, artinya keberadaan masyarakat tersebut sangat berbeda dengan komunitas yang lebih besar di sekitarnya, sehingga keberadaan dan interaksi sosial demikian tertutup. Karena untuk mempertahankan komu­nitasnya, lebih banyak tergantung pada masyarakat Laweyan itu sendiri.Dalam hal mata pencaharian misalnya, mereka berprofesi sebagai pengusaha batik, dan itu jelas menunjukkan bidang pekerjaan yang berbeda dengan lapangan pekerjaan masyarakat Surakarta pada umumnya. Bentuk mata pencaharian yang mereka miliki itu berada di luar kebiasaan masyarakat feodal, yang pada umumnya bekerja dalam lapangan perta­nian atau pegawai birokrat kerajaan.Dalam masyarakat feodal, telah berlaku suatu asumsi bahwa kedudukan dan kekuasaan serta hak seseorang banyak ditentukan oleh besar kecilnya kekayaan yang mereka miliki. Semakin besar kekayaannya yang mereka miliki, maka semakin besar pula kedudukan dan kekuasaannya.Dengan kekayaan yang dimilikinya, para saudagar memiliki pengaruh di tengah masyarakat seperti halnya para bangsawan kerajaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil kekayaan yang mereka miliki, maka semakin kecil pula kedudukan dan kekuasaan yang mereka miliki. Bertambahnya kekayaan para pengusaha batik ternyata erat kaitannya dengan naiknya status sosial para pengusaha batik. Hal itu dibuktikan dengan pemberian gelar “mbok maseâ€, yaitu gelar untuk para majikan (pengusaha besar) ba­tik di Laweyan.Sebutan “mbok mase†untuk pengusaha batik Laweyan itu justru lebih banyak dikendalikan oleh kaum perempuan. Hal itu karena sifat batik sebagai hasil industri membutuhkan kecermatan, kehalusan, dan keindahan yang sangat sesuai dengan sifat yang dimiliki perempuan, se­hingga sebagian besar proses batik dikuasasi oleh perempuan. Mereka adalah perempuan-perempuan yang terampil mengelola usaha, sejak dari proses membatik, memasarkan, mengelola keuangan, hingga mengem­bangkan usaha. Keberhasilan perempuan mengangkat batik, sebenarnya juga keberhasilan mengangkat status mereka, bukan lagi perempuan yang terpinggirkan, melainkan telah memperoleh posisi secara proporsional. Mereka tetap menghormati suami sebagai kepala rumah tangga dan mem­berinya kebebasan asal jangan foya-foya dan poligami.“Mbok mase†menyiapkan anak-anak perempuannya menjadi penerus usaha. Anak perempuan yang disebut “mas rara†itu sejak kecil sudah dilibatkan dalam industri batik. Kemudian setelah masa remaja hingga dewasa dan selanjutnya dinikahkan untuk membina rumah tangga di­harapkan dari mereka mampu mengembangkan usaha batik sendiri. Alih generasi semacam itu berlangsung hingga beberapa keturunan, dan tetap melibatkan kaum perempuan sebagai kader penerus.Pada masa sekarang, keterlibatan perempuan Laweyan untuk melakukan regenerasi masih tetap berlangsung. Terbukti dari hasil kajian yang kami lakukan masih ada beberapa pengusaha yang mewariskan keahliannya itu kepada keturunannya, terutama kepada anak perempuan­nya. Sebagai contoh, proses regenerasi yang terjadi di perusahaan batik Cempaka.Batik Cempaka dahulu bernama Cempaka Putih ketika didirikan pada tahun 1980. Pemilik batik Cempaka sekarang ini adalah Eni Susilo. Eni Susilo merupakan keturunan pengusaha batik di Laweyan. Usaha batik sudah dilakukan semenjak jaman eyangnya. Melalui eyangnya, usaha batik kemudian dilanjutkan oleh ibunya yang bernama Sri Mujinah. Dari Sri Mujilah itulah kemudian Eni Susilo mewarisi keahliannya di bi­dang perbatikan.Selain pengusaha batik, para buruh batik pun mewariskan keahlian­nya kepada keturunannya. Seperti yang terjadi pada beberapa buruh di perusahaan batik Mahkota, mereka menularkan ketrampilan membatiknya itu kepada anak-anaknya. Transfer ketrampilan terjadi melalui ling­kungan sosial-budaya yang ada yakni melalui lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Ketrampilan batik sudah ditanamkan sejak kecil karena dalam kehidupan sehari-hari mereka terbiasa melihat orang tuanya dan orang-orang di sekitarnya menekuni pekerjaan tersebut

    Komunikasi naratif: Paradigma, analisis, dan aplikasi

    No full text
    Buku karya Alex Sobur—akademisi dari Fikom Universitas Islam Bandung—ini menarik, karena menyajikan sesuatu yang ‘baru’ dalam studi komunikasi, yaitu ‘komunikasi naratif.’ Secara konseptual, gagasan tentang komunikasi naratif merupakan wilayah kajian dalam tradisi retorika yang menjelaskan komunikasi sebagai pidato atau ujaran publik yang indah. Menurut Walter Fisher dalam pemikiran teoretiknya tentang Paradigma Naratif (Narrative Paradigm), orang pada dasarnya adalah storytelling animals. Ini merupakan penegasan Fisher tentang pertanyaan filosofis: Apa esensi dari sifat manusia?. Hampir semua bentuk komunikasi, kata Fisher, pada dasarnya naratif. Buku ini layak dibaca, tidak saja oleh dosen dan mahasiswa, tetapi juga oleh para profesional komunikasi (wartawan) yang memiliki ketertarikan di bidang jurnalisme naratif atau jurnalisme sastrawi

    Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi di Indonesia

    No full text
    Pengadilan Administrasi merupakan salah satu sarana untuk merealisir jalur pemerataan kesempatan memperoleh keadilan. Hal itu tidak terpisahkan dengan salah satu pidato kenegaraan Presiden Suharto, Tuntutan hati nurani yang tidak ada henti-hentinya, ialah terwujudnya keadilan, khususnya keadilan di lapangan hukum.Permasalahan dalam Pengadilan Administrasi memang cukup banyak dan kompleks. Oleh karena itu, dalam buku ini pembicaraan dibatasi mengenai eksistensi badan peradilan administrasi dan atribusinya.Secara praktis buku ini dapat dijadikan sumbangan pemikiran dalam rangka turut serta membantu usaha Pemerintah dalam mempersiapkan terwujudnya Pengadilan Administrasi. Secara teoretis buku ini dapat dijadikan bahan bagi penelitian dan studi lanjutan, khususnya aspek-aspek lain Pengadilan Administrasi dan umumnya sebagai masukan dalam rangka pengembangan lebih lanjut Hukum Administrasi Negara yang masih belia usianya

    Metode Penelitian Kuantitatif

    No full text
    Dalam hidupnya manusia senantiasa dihadapkan pada berbagai permasalahan kehidupan. Permasalahan selalu hadir dan menuntut kita untuk mencari akar penyebab timbulnya persoalan. Ketika kita berusaha mengeksplorasi lebih jauh akar permasalahan tersebut, maka kita akan meneliti berbagai indikator terkait. Dalam pola pikir ilmiah, penelitian ini digunakan untuk mencermati berbagai kecenderungan yang terjadi di sekitar kita. Penelitian bisa menggunakan metode ilmiah atau nonilmiah.Penelitian banyak bersinggungan dengan pemikiran kritis, rasional, logis (nalar), dan analitis sehingga akhirnya penggunaan metode ilmiah adalah hal yang jamak dan disepakati umum dalam penelitian. Metode ilmiah juga dinilai lebih bisa diukur, dibuktikan, dan dipahami dengan indra manusia.Buku ini sengaja diterbitkan untuk menjadi pedoman bagi para mahasiswa S1, S2, S3 dalam menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Juga bagi calon peneliti, baik peneliti dalam konteks aktivitas proyek maupun peneliti dalam konteks akademik. Dalam buku ini dikupas secara lugas dan detail mulai dari pengertian dasar tentang penelitian, pengetahuan awal dalam melakukan penelitian kuantitatif, jenis-jenis penelitian, latar belakang penelitian dengan pendekatan kuantitatif, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan metode penelitian kuantitatif sampai pada contoh penerapan pendekatan kuantitatif (teknik pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif, penerapan pendekatan kuantitatif dalam penelitian pendidikan, dan model penelitian

    Kemiskinan dan Pemberdayaan Kelompok

    No full text
    Buku Kemiskinan dan Pemberdayaan Kelompok ini merupakan hasil dari sebuah pergulatan pemikiran dan pembelajaran yang dilakukan penulis. Kemiskinan di perkotaan merupakan sesuatu yang unik dan sangat kompleks karena terdapat beberapa faktor yang memengaruhi terciptanya kemiskinan keluarga itu sendiri. Beberapa aspek kemiskinan yang ada pada keluarga miskin di perkotaan antara lain: aspek personal, keluarga, kelompok, masyarakat, dan kebijakan pemerintah turut menjadi variabel yang memengaruhi terhadap kemiskinan keluarga di perkotaan. Pada akhirnya strategi pemberdayaan keluarga miskin melalui pendekatan kelompok merupakan sebuah jawaban yang mampu merubah keluarga miskin terbebas dari kemiskinannya

    Sejarah Indonesia: Dari Proklamasi Sampai Orde Reformasi

    No full text
    Pasca pengakuan kemerdekaan Indonesia melalui KMB, bentuk negara serikat tidak sesuai dengan keinginan seluruh lapisan masyarakat Indonesia sehingga 17 Agustus 1950 kembali ke NKRI, dengan sistem demokrasi parlementer. Pada masa ini kabinet yang terbentuk tidak berumur panjang karena berbagai kepentingan pemerintah dengan pihak oposisi, namun dibalik itu ada beberapa prestasi seperti berhasil diselenggarakannya KAA dan Pemilu pertama tahun 1955. Sistem Demokrasi Liberal ini diakhiri dengan adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan diberlakukannya Demokrasi terpimpi

    Aspek Sosial Banjir Lahar

    No full text
    Buku ini berisi mengenai aspek sosial kemasyarakatan akibat banjir lahar yang ditimbulkan oleh erupsi Gunungapi Merapi. Selama beberapa generasi, masyarakat sekitar sungai yang berhulu di lereng Merapi telah berinteraksi dengan berbagai fenomena alam yang ditimbulkan oleh aktivitas Merapi salah satunya banjir lahar. Interaksi yang telah terjadi dengan waktu yang sangat panjang ini menimbulkan sebuah keterikatan batin yang erat antara masyarakat dengan Merapi sehingga membentuk kondisi sosial yang unik. Buku berjudul “Aspek Sosial Banjir Lahar†ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengadian Masyarakat Universitas Gadjah Mada (LPPM UGM).Buku ini berisi 6 chapter yang disusun sedemikian rupa sehingga pembaca mendapatkan gambaran yang utuh mengenai aspek sosial banjir lahar khususnya pada masyarakat yang berada di sekitar Gunungapi Merapi. Pada chapter pertama, pembaca akan diberikan gambaran mengenai dampak banjir lahar terhadap aspek sosial dengan mengambil studi kasus pada banjir lahar pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010. Selanjutnya pembaca akan memahami mengenai kerentanan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir lahar. Chapter ketiga membahas mengenai mitigasi banjir lahar berbasis partisipasi. Bagian berikutnya membahas mengenai aspek kelembagaan dalam manajemen banjir lahar. Selanjutnya pembaca akan mendapatkan wawasan mengenai strategi penghidupan masyarakat pascaerupsi banjir lahar. Terakhir pembaca akan mendapatkan gambaran mengenai kesiapsiagaan masyarakat pascabencana banjir lahar

    0

    full texts

    4,351

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    library.fis.uny.ac.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇