4351 research outputs found
Sort by
Sujud Sebelas Bintang
Kita adalah lelaki yang takut kehilangan kenangan. Dua menara tak sanggup menenangkan gugup yang kita bawa ke jantung kota
Lumpu
Yes! Akhirnya, Raib, Seli, dan Ali kembali bertualang. Kalian sudah kangen dengan trio ini? Misi mereka adalah menyelamatkan Miss Selena, guru matematika mereka. Tapi, apakah semua berjalan mudah? Siapa yang bersedia membantu mereka? Kali ini, si genius Ali memutuskan meminta bantuan dari sosok yang tidak terduga, karena musuh dari musuh adalah teman. Apakah Raib bisa melupakan masa lalu itu dengan memaafkan Miss Selena? Bagaimana dengan Tazk? Apakah Raib bisa bertemu lagi dengan ayahnya, atau itu masih menjadi misteri? Bagaimana dengan jejak ekspedisi Klan Aldebaran 40.000 tahun lalu? Benda apa saja yang ditinggalkan oleh perjalanan besar tersebut? Pertarungan panjang telah menunggu mereka. Dan lawan mereka adalah Lumpu, petarung yang memiliki teknik unik, yaitu melumpuhkan kekuatan lawan. Itu teknik yang amat menakutkan, karena Lumpu bisa menghabisi teknik bertarung. Jangan-jangan… Siapa di antara Raib, Seli, dan Ali yang akan kehilangan kekuatan di dunia paralel
Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital
Cara berkomunikasi, cara mencari berita dan informasi, bahkan kehidupan sosial dan politik yang lebih luas di Indonesia saat ini tengah berubah pesat akibat perkembangan media-media digital kontemporer. Kendati statistik resmi menyebut penetrasi internet di Indonesia masih sangat rendah, nyatanya Indonesia dikenal sangat aktif di media sosial; lebih dari 70 juta penduduk Indonesia mempunyai akun Facebook dan kicauan terbanyak di twitter berlokasi di Jakarta.Berdasarkan riset selama 7 tahun didalamnya meneliti bagaimana digitalisasi telah membuat industri media massa di Indonesia mengalamai pemusatan dan konglomerasi, yang memungkinkan para oligark pemilik media massa semakin kaya sekaligus berpengaruhsecara politik. Sebaliknya juga membuka peluang bagi warga biasa untuk menyuarakan kepentingannya dan memperjuangkan perubahan
Laki-Laki Memang Tidak Menangis, Tapi Hatinya Berdarak, Dik
Dan kamu tahu, Dik, yang paling menyesakkan dan membuat hati laki-laki berdarah-darah adalah kenanga
Muslimah yang Diperdebatkan
"Mengapa perempuan selalu salah? Mengapa ia tak boleh bicara? Mengapa perempuan harus menjadi pihak yang paling ikhlas, paling sabar, dan paling tak boleh melawan?"Kalimat itu membangunkan kita yang terlalu lama enggan membicarakan feminisme. Kalis mardiasih, seorang perempuan yang begitu berani menyuarakan hak-hak perempuan di media daring. Tulisannya tajam dan terbuka. Seolah tak ada rasa takut bahwa tulisannya akan menimbulkan kontroversi, terutama di kalangan laki-laki.Awalnya, saya kira buku ini akan berbicara tentang perempuan muslimah saja dan aneka ragam perbedaannya. Tapi, ternyata lebih dari itu, Kalis yang merupakan aktivis kesetaraan gender ini mengulik isu-isu perempuan muslimah masa kini yang mulai menggelisahkan.Di awal bab, ada esai-esai tentang "hijab" yang sekarang banyak digaungkan, dan menjadi semacam fenomena yang lumrah kalangan artis. Pada bagian ini, ada pula sindiran untuk sistem kapitalis yang, sayangnya, menggunakan hijab atau label agama sebagai "bahan" untuk mengambil keuntungan besar.Hijab syar'i ini menjadi faktor kegelisahan mbah-mbah zaman dahulu yang pakai konde, ibu-ibu, mbak-mbak, santri-santri, juga saya pribadi yang berjilbab ala kadarnya, dan kadang merasa tidak nyaman karena hijab dijadikan sebagai bahan pembenaran untuk ideologi tertentu yang dianggap paling benar. Padahal sejak dahulu, jilbab sudah ada tanpa perlu embel-embel iklan, embel-embel syar'i, apalagi penentu bahwa yang tidak memakai jilbab atau yang tidak menggunakan jilbab ukuran tertentu atau lebar tertentu, tidak (dianggap) muslimah yang kaffah.Fenomena "latah" berhijab itu indah, tapi sayangnya menjadi ironi. Sebab, jilbab kemudian digunakan sebagai penanda satu-satunya kesalehan dan ketaatan seseorang, atau digunakan sebagai alat pengungkung perempuan agar taat sepenuhnya laki-laki tanpa kesalingan atau daya pikir kritis.Pada satu sisi yang lain, Tak jarang kita mendapati kenyataan bahwa ada yang berjilbab ketika tersandung kasus korupsi. Dan sebaliknya, tak kurang kita melihat perempuan tak berhijab, tapi memiliki kepedulian pada kaum marjinal-janda, duafa, dan fakir miskin di daerahnya. Nyatanya, isu tentang perempuan memang tak tunggal dan begitu kompleks. Dalam buku ini, Kalis memotret kisah-kisah perempuan itu. Di antaranya ada Rath dan kawan-kawannya yang harus menjadi pelacur karena human trafficking, kaki Ni Putu Kariani yang dipotong suami karena kekerasan dalam rumah tangga. Tapi, fenomena merasa paling beragama karena berjilbab ini kemudian diiringi dengan kalimat "maaf, sekadar mengingatkan", yang sebenarnya kalimat halus untuk menjudge seseorang yang tidak syar'i dianggap kurang beragama.Salah satu esai yang menarik perhatian saya di buku ini adalah "Surat Terbuka untuk Nikita Mirzani", sayangnya itu ditulis saat Mbak Nikita Mirzani ini memutuskan berjilbab seperti kawan artis lainnya. Mungkin akan berbeda jika ditulis kembali saat ini. Di mana Nikita Mirzani tahu bahwa berjilbab itu tidak sesederhana itu, ada proses panjang untuk dianggap saleh, ada hal lain yang juga harus di perhatikan selain hanya selembar kain di kepalanya, bahkan kebiasaannya berbagi dan kebaikan lainnya pastilah juga merupakan proses indah di mata TuhanYang juga menjadi perhatian Kalis di buku ini adalah RUU PKS yang sudah diperjuangkan, namun sedihnya seperti mulai tenggelam kembali. Ya. Perempuan memiliki hak sepenuhnya atas tubuh dan pemikirannya. Kenapa masih saja dijejali dengan dalil-dalil yang membuat ruang geraknya sempit, dan seolah kehidupannya hanya harus berada di bawah kaki lelaki. Tentu perlu mendiskusikan kembali tentang laknat malaikat pada istri yang menolak (dengan alasan) hubungan suami istri. Apakah perempuan bukan manusia yang boleh memperjuangkan kepedihannya karena diperkosa? Kenapa hanya cara berpakaian perempuan yang dipersalahkan?Kalis, dalam bukunya ini, menjelaskan bahwa perempuan di Indonesia dengan ragam budaya dan isu kompleksnya harus berjuang mempertahankan haknya. Tidak terinjak oleh dalil yang dibawa laki-laki semata, tidak terkungkung oleh selembar kain, tapi jauh melesat dengan pemikiran dan bakat gemilangnya. Kalis memberi dukungan penuh pada perempuan yang seringkalu dihujani dengan perkara halal-haram dibanding dengan pemberian aspirasi dan melihat pengalaman perempuan itu sendiri.Di bagian akhir, Kalis seolah ingin bersuara bahwa ia rindu akan suara kaum laki-laki yang mau menyuarakan hak perempuan. Karena masih sedikit laki-laki yang faham tentang menghargai kesamaan antara laki-laki dan perempuan, ketimbang laki-laki yang menuntut kepatuhan perempuan saja. Bukankah dulu Rasulullah pun begitu memuliakan perempua. Dan di antara istrinya, Sayyidah khotidjah dan Aisyah, tak boleh hanya dilihat hanya sekadar keindahan fisisknya, tapi juga melihat bagaimana perjuangan mereka berdua dalam memperjuangkan Islam bersama dengan Nabi Muhammad. Kemuliaan bukan hanya dilihat dari simbol, tidak melawan, penyerahan diri tanpa batas, dan lainnya. Islam memuliakan perempuan atas haknya sebagai manusia sebagai laki-laki dimuliaka
Dasar-Dasar Jurnalistik
Sangatlah jarang wartawan atau praktisi media massa di Indonesia yang menulis buku tentang jurnalistik. Makanya. Ketika ada seorang jurnalis yang menulis buku jurnalistik itu special dan pasti menarik. Karya jurnalis ini layak diapresiasi. (Ketua PWI DIY, Sihono). Muatan yang tertera dalam buku ini memberi peluang kepada wartawan dan masyarakat umum untuk mengerti, merasakan, dan melaksanakan cara menulis yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. (Panitera Harian Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Yogyakarta). Zaman telah bergerak, demikian pun dengan perkembangan media massa yang semakin mengemuka saat ini. Siapapun berlomba menuangkan ulisannya untuk media cetak,, elektronik, dan internet. Sayangnya, tidak semua orang paham akan cara-cara menulis yang baik dan benar. Memang tidak ada batasan yang kaku untuk menulis, semua orang boleh mengekspresikan gagasannya. Tetapi, alangkah baiknya jiaka kita memang memahami dasar-dasar penulisan untuk sebuah media, apapun media yang digunakan
Segi Tiga
Percayakah kau pada ganasnya cinta pertama? Pernahkah kau berpikir bahwa cinta pertama diciptakan Juru Dongeng agar perempuan seperti kita ini tidak henti-hentinya kacau pikirannya, agar gadis-gadis baik seperti kita ini sering sekali tidak bisa tidur nyenyak? Kisah yang dirakit Juru Dongeng untukku itu mungkin tidak berlaku untuk semua gadis sepertimu, namun seandainya pada suatu ketika nanti dirakit untukmu oleh Juru Dongeng janganlah kau menganggap itu hanya terjadi padamu dan karenanya membuatmu merasa ciut atau malah mengobarkan marahmu dan membusuk-busukkan Juru Dongeng kita itu. Ia ada sebab kita ada, atau sebaliknya: kita ada dan karenanya Sang Juru Dongeng itu ada. Dalam Segi Tiga, Sapardi Djoko Damono tidak hanya mendedah bagaimana rumitnya hubungan di antara tokoh-tokoh novel, juga kelindan di antara tokoh-tokoh novel dan Juru Dongeng yang misterius
Sultan Agung: sang pejuang budayawan dalam puncak kekuasaan mataram
Sultan Agung sebagai pokok masalah dalam penulisan ini adalah raja ke-3 di kerajaan Mataram menggantikan Panembahan Hanyokrowati atau Raden mas Jolang yang memerintah Mataram dari tahun 1601 sampai 1613. Sultan Agung mangkat pada tahun 1645, jasadnya dimakamkan di Astana Imogiri. Siapa zaman sekarang yang tidak mengenal sosok beliau?Kerajaan Mataram pada mulanya hanya berstatus daerah perdikan yang dihadiahkan kepada seseorang atau sejumlah penduduk karena berjasa kepada raja atau negara. Luasnya hanya 800 karya, kemudian berkembang menjadi kerajaan yang besar. Buku ini mengeajak kita untuk pergi menapaki kisah-kisah yang selama ini mungkin hadir setempat-setempat di beberapa babad, serat, maupun kidung. Cerita ini diceritakan kembali agar generasi muda zaman sekarang mengerti dan paham akan sejarahnya
Manajemen Pemasaran Geowisata
Buku ini membahas tentang manajemen pemasaran geowisata secara terperinci. Buku ini cocok dibaca bagi pembaca yang tertarik dalam bidang pariwisata, terutama yang telah maupun akan mengelola geowisata. Dalam pemasaran diperlukan strategi, di mana strategi ini bertujuan untuk memberikan keunggulan bisnis dalam pasar yang kompetitif. Terdapat dua kerangka kerja pemasaran sebagai fondasi pembangunan strategi pemasaran yaitu triple bottom line dan natural capitalism