4351 research outputs found
Sort by
Paradigma baru pendidikan kewarganegaraan: Panduan kuliah di Perguruan Tinggi
Disesuaikan dengan silabus satuan acara perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan terbaru, buku ini membahas secara sistematis ruang lingkup permasalahan Pendidikan Kewarganegaraan, meliputi :* Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Nasional* Idenstitas Nasional* Demokrasi dan Pendidikan Demokrasi* Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia* Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia* Wawasan Nusantara sebagai Geostrategi IndonesiaBahan-Bahan kajian tersebut disususn berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Dikti No. 43/Dikti/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.Diantara keistimewaan yang akan Anda dapatkan dalam buku ini adalah :- Penulisan dibuat berdasarkan metode berpikir secara kritis, tidak dogmatis, dan bersifat dialogis.- Pembahasan merujuk pada UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.- Memuat lampiran Undang-Undang Dasar 1945 beserta amandemennya dalam satu naskah.Mengangkat isu-isu yang tengah berkembang di bidang pendidikan kewarganegaraan, sejalan dengan tututan reformasi
Memoir seorang geologiwan: Seputar masalah geologi, pertambangan, dan pembangunan
Almarhum adalah seorang yang rajin membuat catatan harian. Berbagai nama tempat dan kurun waktu kejadian yang menghiasi hidupnya secara akurat beliau tuliskan dalam buku ini. Kecintaannya akan alam, kegemarannya menulis, dan semangat belajarnya yang menyala-nyala itu tak pelak lagi menuntunnya dari petualangan di hutan-hutan belantara Sumatra Barat semasa Agresi Militer Belanda II menuju kancah akademik dan jenjang kariernya di dalam dan luar negeri. H. Johannas adalah perintis CCOP dan pendiri Akademi Geologi dan Pertambangan yang melahirkan ahli-ahli geologi Badan Geologi pada saat ini
Back door Java: Negara rumah tangga, dan kampung di keluarga Jawa
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari pintu belakang rumah kampung. Buku ini adalah sebuah buku etnografi perkotaan yang menyorot sebuah lingkungan kampung di sudut kota kraton Yogyakarta, Jawa Tengah, selama pemerintahan Orde Baru. Bertolak dari perspektif warga kampung itu buku ini mengupas budaya kelas pekerja sebagai cara untuk memahami interaksi antara masyarakat kampung dengan kekuasaan negara dan dampak kekuasaan negara, terutama pada pekerjaan dan kehidupan sehari-hari kaum perempuan. Berdasarkan kisah-kisah kehidupan kampung itu, buku ini dibagi atas tiga bagian yang secara ringkas dapat diungkapkan dengan istilah-istilah rumah, rumahtangga, dan rumah-kediaman.“Rumah†adalah arsitektur fisik rumah kampung dan hubungannya (arsitektur) dengan pola pertukaran sosial dan hubungan keluarga. Bagi warga miskin kampung, rumah tradisional Jawa jauh dari jangkauan, tetapi bentuk fisik rumah kampung masih mencerminkan nilai-nilai kunci dalam kehidupan bertetangga di kampung. Bab ini membahas perubahan-perubahan yang terjadi dalam satu rumah dan satu keluarga dalam lingkup sejumlah rumah yang memiliki pertalian darah. Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan beberapa keluarga, perbaikan rumah dilakukan namun sambil tetap mempertahankan sejumlah aspek sosial kunci dari bentuk rumah. Rumah adalah sumberdaya ekonomi yang penting, yang tercermin dalam praktek-praktek kekerabatan. Karena itu hal-hal seperti mengasuh anak, mengangkat anak, warisan, hubungan kakak-beradik dan anak-anak juga dibahas dalam bagian ini.“Rumahtangga†diartikan di sini sebagai ekonomi rumahtangga, yang sering dibedakan dari ekonomi formal berdasarkan pekerjaan berbayar. Bagian ini mempersoalkan garis pemisah antara umum dan pribadi ini atas dasar kisah-kisah kaum perempuan kampung dan kegiatan mereka sehari-hari. Jaringan pertukaran antar-perempuan di kampung mendukung kegiatan-kegiatan budaya kampung, seperti slametan, tetapi jaringan pertukaran itu juga terkait dengan tugas dari pemerintah, yakni tugas bagi kaum perempuan untuk mendukung upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan warga masyarakat. Bab ini mengupas bagaimana kaum perempuan dengan cara-cara mereka mendukung penghidupan kaum laki-laki yang menganggur dan setengah menganggur dan anak-anak muda yang tinggal di kampung itu. Bab ini mengajukan argumen bahwa pembangunan masyarakat di bawah pemerintah Orde Baru melalui program-program seperti Pembinaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK dimaksudkan untuk menghasilkan pekerja-pekerja yang sangat murah demi meningkatkan keunggulan banding Indonesia. Mendorong kaum perempuan untuk diam di rumah dan melakukan kegiatan ibu rumahtangga guna mendukung keluarga mereka dan masyarakat bertentangan dengan sejarah panjang kaum perempuan Jawa, yakni tradisi bekerja di luar rumah. Negara berhasil karena masyarakat digunakannya sebagai landasan bagi kesejahteraan sosial, pola yang juga digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda dan pemerintah Jepang di zaman perang.Penggunaan kaum perempuan kampung sebagai alat untuk menghasilkan reproduksi sosial berbiaya rendah bertumpu pada ideologi kehidupan-rumahtangga-yang-tepat. Istilah “rumah-kediaman†di sini berkaitan dengan ide bahwa tempat kaum perempuan sejatinya adalah di rumah, mengasuh anak, masyarakat, dan, pada akhirnya, negara. Bagian ini membahas hasil-hasil penelitian mengenai asal usul ideologi perempuan-tempatnya-di-rumah di Barat, dan kemudian membahas bagaimana ideologi itu berkembang dan digunakan Indonesia. Ide kerumahtanggaan menyiratkan adanya suatu tatanan moral tertentu dan ide tertentu mengenai keluarga dan peranan kaum perempuan yang menempati tempat utama dalam visi pemerintah Order Baru mengenai masyarakat. Organisasi-organisasi kemasyarakatan yang dibangun kaum perempuan pada zaman kemerdekaan diserap oleh pemerintah Orde Baru, yang menggunakan program-program yang dijalankan organisasi-organisasi itu untuk memberikan pelayanan sosial berbiaya murah. Kisah dua perempuan, Bu Sae dan Bu Apik, menunjukkan bagaimana PKK dan tatanan moralitas dukungan negara digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kampung. Ketika retorika pemerintah Orde Baru mengenai perempuan yang baik digunakan untuk landasan kegiatan-kegiatan kampung, maka berbagai ide direproduksi meski tidak sesuai dengan kehidupan sehari-hari warga kampung. Bersamaan dengan itu, masyarakat kampung juga direproduksi
Etos Kerja, Pasar, dan Masjid : Transformasi Sosio-Keagamaan dalam Mobilitas Ekonomi Kemasyarakatan
Buku Etos Kerja, Pasar dan Masjid tersebut merupakan hasil penelitian dari Moh. Lutfi Hakim yang berlokasi di daerah Lakudo, Kabupaten Buton, di Provinsi Sulawesi Tenggara. Buku tersebut mengangkat tema besar etos kerja (ekonomi) berbasis kegamaan dengan inspirasi dari dua pemikir besar: Marx Weber dari sisi Protestan yang diambil dari bukunya “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism†dan Ibnu Khaldun dari sisi Islam
Metode Penelitian Sosial dan Bisnis
Buku ini ditulis terutama untuk pembaca yang sedang mempelajari ekonomi atau manajemen bisnis.Kelebihan buku ini adalah penulisan dan susunan buku yang berorientasi praktis, yaitu kemudahan dalam melakukan penelitian, tidak banyak teori atau konsep yang dikemukakan dalam buku ini, tetapi lebih banyak kepada pembahasan langkah-langkah dan teknik-teknik melakukan penelitian secara praktis
Viktimologi: Perindungan Hukum Terhadap Korban Kejahatan
Berbicara kejahatan tidak akan terlepas dari tiga persoalan, yaitu perbuatan jahat, penjahat, dan korban kejahatan itu sendiri. Namun beberapa wacana, masalah korban kejahatan paling sedikit yang dibicarakan, padahal korban adalah pihak yan