Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Pengkajian Pengembangan Model Pabrikasi Pupuk Organik: Studi Kasus di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat

    Get PDF
    Di beberapa lokasi di Jawa Barat telah diintroduksikan model pabrikasi pupuk organik skala pedesaan antara lain di Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Dalam pengembangan model tersebut masih menemui beberapa hambatan, yaitu permasalahan dalam pengembangan kelembagaan produksi pupuk organik, serta terkait dengan prilaku petani (pengguna). Pengkajian bertujuan 1) Mengevaluasi  tingkat kelayakan usaha pabrikasi pupuk organik di pedesaan; 2) Mengetahui faktor penentu  pengembangan produksi pupuk organik di pedesaan; 3). Mengetahui faktor yang mempengaruhi perilaku petani menggunakan pupuk. Pengumpulan data dilakukan melalui Expert Meeting dan survei wawancara terhadap 42 petani responden. Data diolah secara deskriptif, analisis Margin Benefit Cost Ratio, dan analisis regresi logistik binari. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa usaha pabrikasi pupuk organik skala pedesaan dengan model introduksi mempunyai kelayakan usaha yang lebih tinggi, sehingga layak dikembangkan. Permasalahan utama pabrik pupuk organik pedesaan yaitu tingkat produksinya masih di bawah kapasitas produksi optimum disebabkan pemasaran hasil yang kurang baik. Peluang petani menggunakan pupuk organik dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu proporsi tanaman semusim yang diusahakan, kepemilikan ternak, serta keterampilan dalam membuat pupuk kompos terutama dalam pengetahuan penggunaan dekomposer

    Deteksi Transgen (Glu-1Dx5) pada Populasi Padi (Oryza sativa L.) Putative Transgenik Kultivar Fatmawati

    Get PDF
    Transformasi gen Glu-1Dx5, pengendali utama karakter elastisitas dan daya mengembang adonan dari gandum, telah berhasil ditransfer ke dalam genom tanaman padi kultivar Fatmawati dengan menggunakan penembakan partikel, dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas adonan tepung beras. Galur-galur harapan telah diperoleh, tetapi karena telah mengalami penyerbukan sendiri selama 1-2 generasi yang menyebabkan transgen mengalami segregasi, maka diperlukan upaya pendeteksian transgen pada populasi putative transgenik ini. Upaya ini dapat dilakukan, antara lain dengan menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) yang memungkinkan perbanyakan fragmen DNA yang spesifik (gen) secara cepat dalam jumlah banyak.  Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman padi transgenik yang memiliki gen Glu-1Dx5 pada dua generasi yang sedang bersegregasi. DNA genom dari 149 tanaman padi (generasi T1 sebanyak 14 tanaman, generasi T2 sebanyak 134 tanaman, dan satu tanaman non-transgenik) telah diekstraksi menggunakan Genomic DNA Purification Kit dari Fermentas. Plasmid pK+Dx5 digunakan sebagai positif kontrol, selain itu digunakan juga enzim Taq DNA polymerase dari Go Green Taq® Master Mix (Promega) dan 2 primer spesifik yang mengamplifikasi coding region dari Glu-1Dx5 (2,5 kb). Hasil percobaan menunjukkan, tanaman padi yang memiliki gen Glu-1Dx5 pada generasi T2-7 sebanyak 26 tanaman, T2-11 : 12 tanaman, T2-12 : 3 tanaman, T2-40 : 3 tanaman dan T2-45 : 5 tanaman. Seluruh tanaman generasi T1 tidak memiliki insert. Hasil ini menunjukkan bahwa gen Glu-1Dx5 sudah terintegrasi ke dalam genom tanaman padi kultivar Fatmawati dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya

    Pengaruh Umur Pindah Tanam Bibit dan Populasi Tanaman terhadap Hasil dan Kualitas Sayuran Pakcoy (Brassica campestris L., Chinensis group) yang Ditanam dalam Naungan Kasa di Dataran Medium

    Get PDF
    Di daerah tropis, intensitas cahaya dan suhu udara  tinggi adalah masalah yang dihadapi pada budidaya sayuran introduksi dari daerah subtropis sehingga sayuran tersebut harus ditanam di dataran tinggi. Dalam usaha penanaman tanaman sayuran dataran tinggi di dataran medium, penaungan adalah salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi dari naungan bahan ­kasa untuk memanipulasi faktor lingkungan  dengan kultur teknik (umur pindah tanam bibit dan populasi tanaman) terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas hasil tanaman pakcoy.  Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi  dengan dua faktor dan tiga ulangan. Petak utama adalah penggunaan naungan  dan anak petak adalah kombinasi umur pindah tanam  dan populasi tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa interaksi antara penggunaan naungan dan  kombinasi teknik budidaya hanya terlihat pada luas daun saat panen. Penggunaan naungan pada populasi 50 tanaman m-2 dengan umur bibit 2 dan 3 minggu menghasilkan luas daun yang lebih lebar dibandingkan perlakuan lainnya. Naungan kasa mampu menurunkan intensitas cahaya matahari pada siang hari sampai sekitar 32 % dan berakibat pada penurunan suhu siang hari sekitar 2 OC – 3 OC.  kondisi ini menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih tinggi, hasil panen lebih banyak, persentase jumlah tanaman layak pasar lebih besar, serta warna hijau daun yang lebih cerah. Kombinasi umur bibit 2 minggu dan populasi 50 tanaman m-2, menghasilkan tanaman dengan jumlah daun lebih banyak. Pada pertanaman dengan populasi 50 tanaman m-2, bobot kering pupus dan akar lebih tinggi sedangkan dengan populasi 100 tanaman m-2 hasil panen lebih tinggi

    Pengaruh Konsentrasi Fungisida Mankozeb terhadap Pertumbuhan Tunas, Busuk Kering Ubi dan Susut Bobot Ubi Bibit Kentang (Solanum tuberosum L.) c.v. Granola di Ruang Penyimpanan

    Get PDF
    Saat ini bibit kentang untuk penanaman di dataran medium biasanya berasal dari bibit yang disimpan di dataran tinggi dengan suhu relatif rendah. Penyimpanan di dataran medium dapat meningkatkan pertumbuhan tunas tetapi memicu perkembangan penyakit. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi fungisida mankozeb dan elevasi ruang simpan bibit terhadap pertumbuhan tunas dan serangan penyakit busuk kering ubi bibit. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah elevasi ruang simpan dan faktor kedua adalah konsentrasi fungisida makozeb. Hasil percobaan menunjukan tidak ada interaksi antara konsentrasi fungisida mankozeb dan elevasi ruang simpan terhadap waktu muncul tunas, persentase bibit bertunas, persentase busuk kering ubi, dan persentase susut bibit. Konsentrasi fungisida mankozeb tidak berpengaruh terhadap waktu muncul tunas, persentase ubi bibit bertunas  pada 2   bulan setelah panen (BSP), dan susut bobot ubi pada 3 dan 4 BSP. Namun, aplikasi  3 g L-1 dan 4.5 g L-1 mankozeb menghasilkan persentase ubi bertunas paa 3 BSP yang lebih tinggi dan persentase busuk kering ubi yang lebih rendah dibandingkan dengan  tanpa fungisida. Sementara itu, ruang simpan di dataran medium memberikan  waktu muncul tunas yang 2 minggu lebih cepat, meningkatkan persentase ubi bertunas pada 2 BSP dan susut bobot ubi yang lebih besar pada 3 BSP dan 4 BSP dibandingkan dengan ruang simpan di dataran tinggi. Di dataran medium waktu muncul tunas 2 minggu lebih cepat, persentase ubi bertunas pada 2 BSP dan susut bobot ubi pada 3 BSP dan 4 BSP lebih besar dibandingkan dengan di dataran tinggi. Penyimpanan di dataran medium tidak meningkatkan persentase ubi berunas pada 3 BSP dan persentase busuk kering ubi dibandingkan dengan ruang simpan di dataran tinggi

    Akar Penyebab Kemiskinan Petani Hortikultura di Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung

    Get PDF
    Isu kemiskinan merupakan masalah penting dalam pembangunan di Indonesia. Beberapa program  pemerintah  belum mampu mengatasi kemiskinan sehingga perlu dirumuskan model pemberdayaan masyarakat miskin yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengindentifikasi tingkat dan penyebab kemiskinan  petani hortikultura serta pola perilaku ekonomi petani dalam menghadapi kemiskinan, 2) mengkaji kinerja usaha ekonomi,  lembaga keuangan dan lembaga sosial  petani hortikultura, dan 3) merumuskan model pemberdayaan petani hortikultura. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja di sentra produksi hortikultura di Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung. Responden dan jumlah responden ditentukan dengan teknik snowball sampling sampai pada taraf redudancy. Metode penelitian adalah metode pengamatan berpartisipasi dengan wawancara mendalam dan diskusi kelompok fokus sebagai teknik pengumpulan data. Analisis data menggunakan analisis kualitatif  serta  SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani hortikultura masih miskin dan sangat miskin karena lahan sempit dan keterbatasan modal. Sumberdaya manusia petani hortikultura masih rendah dan pola hidup petani hortikultura bersifat konsumtif. Petani hortikultura mengantisipasi kemiskinan dengan diversifikasi pekerjaan dan menjalin hubungan baik dengan sesama.  Lembaga ekonomi dan keuangan masih dikuasai oleh pihak luar petani, sedangkan lembaga sosial petani masih belum banyak berfungsi.  Model pemberdayaan yang dianjurkan untuk petani hortikultura adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani, kemudahan permodalan, pembentukan lembaga pemasaran yang ditentukan oleh pemerintah, pendampingan dan perubahan pola  hidup dan sikap petani

    Penapisan Beberapa Isolat Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis dan Trichoderma harzianum yang bersifat Antagonistik terhadap Ralstonia solanacearum pada Tanaman Kentang

    Get PDF
    Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh R. solanacearum merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman kentang. Salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan adalah menggunakan mikroba antagonis seperti Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, dan Trichoderma harzianum. Tujuan penelitian adalah  untuk mendapatkan isolat mikroba antagonis terbaik yang paling menekan  penyakit layu bakteri pada tanaman kentang.  Dua percobaan pada penelitian ini menggunakan  Rancangan Acak Lengkap. Percobaan  in vitro menguji daya hambat tiga isolat  P. Fluorescens,  dua isolat B. subtilis, satu isolat B. cereus dan  3 isolat T. harzianum terhadap perkembangan koloni  R. solanacearum pada media King’s B. Percobaan  in vivo menguji kemampuan seluruh isolat terhadap penekanan serangan penyakit layu pada tanaman kentang.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa isolat T. harzianum 1, T. harzianum 2 dan T. harzianum 3 mampu menekan penyakit layu bakteri pada tanaman kentang dengan persentase penghambatan berturut-turut 77,21 %,  77,21 %, dan 63,57 %

    Biologi dan Kemampuan Memangsa Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae) terhadap Bemisia tabaci Gennadius (Homoptera: Aleyrodidae)

    Get PDF
    Bemisia tabaci merupakan hama tanaman di beberapa sentra produksi sayuran hingga mengakibatkan kerugian ekonomi sampai 100 %. Paederus fuscipes merupakan predator B. tabaci pada beberapa tanaman di Kecamatan Ciwidey, Bandung. Penelitian bertujuan untuk mengetahui biologi dan kemampuan memangsa imago P. fuscipes jantan terhadap nimfa B. tabaci. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas lima perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri atas: infestasi 10, 20, 40, 80, dan 160 nimfa B. tabaci per satu imago P. Fuscipes. Hasil pengamatan biologi menunjukkan bahwa siklus hidup P. fuscipes berkisar antara 38-75 hari. Fase telur berkisar 4-7 hari, larva instar-1 berkisar 4-5 hari, larva instar-2 berkisar 6-9 hari, pra-pupa berkisar 2-3 hari, pupa berkisar 3-5 hari, dan lama hidup imago berkisar 19-46 hari. P. fuscipes memperlihatkan tanggap fungsional terhadap peningkatan kepadatan B. tabaci sebagai mangsa. Jumlah pemangsaan nimfa B. tabaci tertinggi terjadi pada kepadatan 160 nimfa, yaitu 101,1 dan 100,1 nimfa B. tabaci per imago P. fuscipes, masing-masing untuk periode pagi dan sore. Kecepatan memangsa imago P. fuscipes terhadap nimfa B. tabaci yaitu berkisar 0,83-8,17 nimfa per jam pada siang hari, dan 0,75-8 nimfa per jam pada malam hari

    Penggunaan Traktor Roda Dua pada Lahan Padi Sawah di Jawa Barat

    Get PDF
    Pengembangan komoditas padi sawah yang berorientasi agribisnis seharusnya  didukung oleh alat dan mesin pertanian antara lain traktor moda dua. Kajian ini dilakukan untuk mengevaluasi tingkat penggunaan,  keragaan dan kelayakan penggunaan traktor roda dua di lahan  padi sawah  di Jawa Barat. Kajian ini juga bertujuan untuk membuat pendekatan  pengembangan traktor roda dua di Jawa Barat berdasarkan kenyataan di lapangan dan kebijakan pemerintah. Kajian ini dilaksanakan melalui metode Pemahaman Pedesaan  Partisipatif dan survey terstruk-tur. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa ketersediaan traktor relatif memadai dengan tingkat partisipasi rumah tangga pengguna di musim hujan dan kemarau masing-masing  96 % dan 97 %. Usaha jasa traktor layak diusahakan karena  mem-berikan nilai Revenue-Cost Rasio 1,36 dan Pay Back Period 2,74 per tahun dan titik Impas 30,77 ha/tahun. Pada penelitian ini, beberapa masalah sosial, budaya dan teknis dalam pengembangan traktor roda dua pada padi sawah di Jawa Barat telah diinventarisasi

    Pengaruh Inokulasi Azotobacter terhadap Produksi dan Kandungan Kadmium Tajuk Selada yang Ditanam di Andisol Terkontaminasi Kadmium

    Get PDF
    Aplikasi pupuk organik dan pupuk fosfat anorganik yang intensif dapat mening-katkan konsentrasi kadmium (Cd) tanah. Dengan demikian, budidaya sayuran akumulator Cd seperti selada meningkatkan resiko paparan Cd di tajuknya. Aplikasi pupuk hayati Azotobacter di lahan tersebut berpotensi meningkatkan serapan Cd karena Azotobacter memproduksi EPS yang memobilisasi Cd. Penelitian ini dilakukan untuk memastikan efek inokulasi Azotobacter terhadap produksi selada dan peningkatan Cd di tajuk selada yang ditanam di tanah Andisols terkontaminasi ringan oleh Cd. Penelitian lapangan dirancang dalam rancangan acak kelompok yang menguji beberapa konsentrasi inokulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi pupuk hayati Azotobacter sp. LKM6 dengan konsentrasi 0,1–1,5 % meningkatkan berat tajuk selada yang ditanam di lahan dengan 1,17 mg kg­-1 Cd. Namun demikian, tanpa maupun dengan inokulasi, tajuk selada mengandung Cd sebesar 2,25–2,50 mg kg-1, lebih besar daripada ambang batas minimal Cd di sayuran daun menurut  FAO/WHO sebesar 0,02 mg kg­1

    Peningkatan Nilai Tambah dan Strategi Pengembangan Usaha Pengolahan Salak Manonjaya

    Get PDF
    Pengolahan buah salak Manonjaya dapat meningkatkan nilai jual buah dan pandapatan produsen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) nilai tambah pengolahan salak, 2) faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi usaha pengolahan salak, dan 3) strategi pengembangan pengolahan salak. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif. Responden penelitian adalah para pengrajin dan pedagang produk olahan salak di Tasikmalaya. Data dianalisis dengan  analisis nilai tambah, rasio penerimaan terhadap biaya, dan analisis faktor internal-ektenal. Hasil menelitian menunjukkan bahwa produksi dodol, manisan dan keripik salak menciptakan nilai tambah sebesar masing-masing Rp 6.234,65/kg, Rp 10.443,23/kg dan Rp 2.297,33/kg. Faktor internal kekuatan dan kelemahan usaha pengolahan buah salak, dan juga faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancamannya telah diinventarisasi. Strategi untuk mengembangkan usaha pengolahan buah salak di Manonjaya adalah mempertahankan dan memelihara penetrasi pasar serta diversifikasi  produk olahan

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇