Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Respon Anggrek Dendrobium sp., Oncidium sp., dan Phalaenopsis sp. Terhadap Pemberian Empat Jenis Nutrisi Organik yang Berbeda pada Tahap Regenerasi Planlet

    Get PDF
    Penggunaan nutrisi organik untuk multiplikasi tanaman anggrek secara in vitro telah banyak digunakan untuk mendorong laju regenerasi yang tinggi pada tanaman anggrek. Setiap spesies anggrek membutuhkan penambahan sumber organik yang berbeda untuk merangsang regenerasi yang lebih baik. Pemilihan jenis sumber nutrisi organik yang sesuai pada media regenerasi anggrek sangat diperlukan untuk menghasilkan planlet anggrek yang berkualitas. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi nutrisi organik yang tepat untuk regenerasi plantlet Dendrobium lasiantera x D. tiger twist, Phalaenopsis amabilis, dan Oncidium golden shower. Bahan yang digunakan antara lain air kelapa, ekstrak kentang, ekstrak tomat, dan ekstrak pisang. Penelitian dilakukan di Laboratorium Agrotechnopark Universitas Jember menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima ulangan. Faktor perlakuan adalah kontrol (S1), ekstrak air kelapa (S2), ekstrak kentang (S3), ekstrak tomat (S4), dan ekstrak pisang (S5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian nutrisi organik mempengaruhi ketiga genus anggrek yang digunakan. Penambahan ekstrak tomat 150 g/l menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik untuk parameter tinggi tanaman, jumlah tunas, daun, dan akar pada angrek Dendrobium sp. Penambahan ekstrak kentang 150 g/l memberikan respon pertumbuhan tinggi planlet, jumlah tunas, dan jumlah akar yang baik pada anggrek Oncidium sp. serta jumlah daun dan jumlah akar yang baik pada anggrek P. amabilis dibandingkan sumber nutrisi organik lainnya

    Pengaruh Senyawa Volatil yang dihasilkan Bakteri Endofit Asal Padi terhadap Rhizoctonia Oryzae dan Cercospora Oryzae

    No full text
    Penggunaan fungisida dalam mengendalikan penyakit pada tanaman telah banyak dilaporkan menimbulkan dampak negatif terutama terhadap lingkungan. Oleh karena itu diperlukan alternatif pengendalian lain yang lebih ramah lingkungan. Bakteri endofit telah banyak dimanfaatkan sebagai agens biokontrol pada berbagai penyakit tanaman karena  dikenal sebagai sumber penghasil senyawa-senyawa yang bersifat antifungal. Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran memiliki koleksi beberapa bakteri endofit hasil isolasi asal tanaman padi yang masih dalam tahap pengujian. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui potensi antijamur dari senyawa volatil yang dihasilkan oleh bakteri endofit dalam menekan pertumbuhan jamur Rhizoctonia oryzae penyebab penyakit bercak pelepah daun dan jamur Cercospora oryzae penyebab penyakit bercak daun secara in vitro. Percobaan dilakukan dengan metode dual culture dengan menggabungkan dua cawan dimana isolat bakteri endofit dan jamur patogen ditumbuhkan secara terpisah. Hasil pengujian menunjukkan bahwa isolat bakteri endofit Os1 dan Os2 memiliki kemampuan terbaik dalam menghambat patogen R. oryzae dengan persentase penghambatan pertumbuhan  masing-masing sebesar 68,7% dan 65,4%. Sedangkan isolat bakteri endofit Os3 adalah isolat bakteri endofit yang mempunyai kemampuan terbaik dalam menghambat perkembangan patogen C. oryzae dengan persentase penghambatan sebesar 87,1%. Pengamatan mikroskopis memperlihatkan bahwa senyawa volatil yang dikeluarkan oleh isolat-isolat bakteri endofit tersebut dapat menyebabkan terjadinya malformasi pada miselia jamur R. oryzae dan C. oryzae

    Studi Kekerabatan Padi Hasil Piramidisasi Berbasis Marka Molekuler dan Fenotipik

    Get PDF
    Piramidisasi gen adalah upaya untuk menggabungkan beberapa gen yang menguntungkan dari banyak tetua menjadi satu genotipe tunggal. Hasil tinggi, tahan terhadap wereng cokelat, kandungan amilosa sedang, umur genjah dan aromatik adalah beberapa sifat yang diharapkan untuk digabungkan. Melalui teknik piramidsasi, telah diperoleh 28 genotip, namun analisis kekerabatan genetik, sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pada tahapan pemuliaan selanjutnya, belum dilakukan. Kombinasi gen ini dicapai dengan persilangan banyak genotipe tetua dengan karakter unggul yaitu Sintanur (aromatik), Pandan Wangi (aromatik), IR64 (kandungan amilosa sedang), PTB33 (tahan wereng coklat), Ciapus (hasil tinggi) dan KA (umur genjah). Tujuan percobaan ini adalah untuk memperoleh hubungan genetik genotip dalam sifat-sifat agro-morfologi dan marka molekuler. Analisis hubungan kekerabatan antara tetua dan 28 genotip piramidisasi dilakukan menggunakan software XLSTAT2016 untuk membentuk matrik similarity shared allele distance dengan koefisien Jaccard sebagai pembentuk jarak genetik untuk marka molekuler dan koefisien korelasi pearson untuk marka fenotipik. Kemudian dilakukan pengelompokan atau clustering dengan metode Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Averages (UPGMA). Hasil pengelompokan berdasarkan marka molekuler dengan menggunakan 11 marka yang terkait erat dengan tujuh karakter target, diperoleh koefisien kemiripan sebesar 41,3% dan terbentuk dua kelompok, sedangkan hasil pengelompokan berdasarkan marka fenotipik dengan 14 karakter agro-morfologi terbentuk tiga kelompok dengan tingkat kemiripan 22,2%. Genotipe SPxCAKA1B, SPxPP3B dan PPxIP4B   dapat dimanfaatkan sebagai tetua atau genotipe harapan karena memiliki jarak kekerabatan yang paling jauh diantara genotip lainnya

    Sensory Test and Molecular Marker Based-Selection for Aromatic Rice in the F3 Progenies

    Get PDF
    Aromatic rice is a special type of rice that highly preferred by people in Asia due to the presence of aroma. Aroma in rice is determined by 2-acetyl-1-pyrroline (2AP) compound which is controlled by a recessive fgr gene. A hybridization between cv. Sintanur (aromatic rice) and PTB33 (non-aromatic, resistant to brown planthopper/BPH) has been done in order to develop aromatic rice lines that resistant to BPH. In the F2 progeny, molecular marker-based selection and bioassay for the brown planthopper resistant lines have been carried out; however selection for the aromatic trait has not been performed yet. The objective of this study was to obtain the F3 progeny’s individual with aromatic trait. Sensory test was conducted by KOH 1.7% solution, meanwhile molecular markers applied were ESP (External Antisense Primer), IFAP (Internal Fragrant Antisense Primer), INSP (Internal Non fragrant Sense Primer) and EAP (External Antisense Primer). Eighty-eight plants from two selected (SP#31 and SP#224) F3 lines progenies derived from cv. Sintanur and PTB33 have been evaluated in this study. Detection by molecular markers found seventy-five genotypes (85.23%) were homozygous recessive (aromatic rice) and one was heterozygous (non-aromatic). Eighty-five (96.59%) genotypes were aromatic as detected by sensory test alone. Seventy-two (81.82%) genotypes were categorized as aromatic rice based on sensory test and molecular markers. Due to inconsistency results from each method alone, it is advised both methods to be applied to ensure the reliability and the accuracy since aroma in rice is affected by genetic composition and environment conditions. Selected genotypes will be continued for breeding program in developing aromatic rice with improved agronomic traits

    Induksi Resistensi dengan Rhodotorula minuta untuk Mengendalikan Antraknosa (Colletotrichum acutatum J. H. Simmonds) Pada Tanaman Cabai

    Get PDF
    Antraknosa merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman cabai yang menyebabkan kerugian cukup besar. Penggunaan khamir sebagai agens penginduksi resistensi tanaman cabai merupakan salah satu alternatif ramah lingkungan untuk pengendalian penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan khamir R. minuta dalam menginduksi resistensi tanaman cabai untuk mengendalikan penyakit antraknosa cabai. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman dan Rumah Kaca Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran di Jatinangor serta Laboratorium Biorin, PAU, Instititut Pertanian Bogor.  Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 9 perlakuan dan 5 ulangan. Pengaruh induksi resistensi diuji dengan perbedaan waktu inokulasi C. acutatum yaitu 3, 5, 7, dan 10 hari setelah perlakuan induksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khamir R. minuta memiliki kemampuan menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap antraknosa. Luas gejala antraknosa terkecil terjadi pada perlakuan induksi R. minuta dengan waktu inokulasi 7 hari setelah perlakuan yaitu sebesar 0,1125 cm2. Perlakuan R. minuta dengan waktu inokulasi 7 hari setelah perlakuan merupakan respon induksi terbaik dengan tingkat penekanan antraknosa sebesar 47,33%, serta meningkatkan aktivitas enzim peroksidase 1,7 kali yaitu sebesar 0,748 ∆A₄₂₀/menit.μg protein

    Penekanan Penyakit Busuk Pangkal (Fusarium oxysporum f.sp. cepae) pada Bawang Merah oleh Beberapa Jenis Bahan Organik

    Get PDF
    Busuk pangkal yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae merupakan penyakit penting pada tanaman bawang merah. Bahan organik berpotensi untuk digunakan sebagai pengendali penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan bahan organik (blotong, limbah jamur merang, kompos jerami, dan pupuk kotoran ayam) untuk menekan penyakit busuk pangkal serta pertumbuhan dan hasil pada bawang merah. Mekanisme yang terlibat dalam penekanan F. oxysporum f.sp. cepae secara in vitro juga dikaji. Percobaan di rumah kaca menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 10 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis bahan organik yang diaplikasikan pada media tanam dengan atau tanpa penyiraman air rendamannya dua minggu sekali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua bahan organik yang diuji dapat menekan penyakit busuk pangkal pada bawang merah sebesar 50,5%-63,2% serta mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah. Mekanisme penekanan F. oxysporum f.sp. cepae oleh bahan organik sebagian besar karena adanya mikrob yang dapat menghambat pertumbuhan patogen tersebut. Mikrob yang menunjukkan penghambatan terhadap patogen yang terbaik (74,7%) adalah isolat MJ7 (Trichoderma sp.) yang berasal dari limbah jamur merang

    Respons Pertumbuhan dan Fisiologi Beberapa Varietas Tebu (Saccharum officinarum L.) Asal Kultur Jaringan yang Diberi Cekaman Genangan Air

    Get PDF
    Tanaman tebu merupakan komoditas utama penghasil gula. Produksi tebu dipengaruhi oleh faktor abiotik yaitu air. Sebaran curah hujan yang tidak merata akibat pemanasan global berpotensi terjadinya penggenangan di areal pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons sifat-sifat pertumbuhan dan fisiologis bibit tebu asal kultur jaringan yang diberikan cekaman genangan air. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan, 4 ulangan dan setiap plot terdiri dari 3 tanaman. Perlakuan terdiri dari 4 jenis varietas yang berbeda yaitu PSJT 941, PS 862, PSJK 922 dan Kidang Kencana pada kondisi normal dan penggenangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat respons pertumbuhan dan fisiologi yang berbeda dari setiap varietas yang diuji. Varietas yang menunjukkan respons terbaik adalah PSJT 941 pada parameter tinggi tanaman yaitu 161,7 cm; varietas PS 862 pada parameter jumlah anakan 3,75 buah, bobot kering tajuk yaitu 38,68 g dan akar 48,70 g; varietas PSJK 922 pada konduktansi stomata (ks)yaitu 261,6 mmol H2O·m-2·s-1; dan varietas Kidang Kencana pada fv/fm yaitu 0,723

    Arthropoda Permukaan Tanah : Kelimpahan, Keanekaragaman, Komposisi dan Hubungannya dengan Fase Pertumbuhan Tanaman pada Ekosistem Padi Hitam Berpupuk Organik

    Get PDF
    Arthropoda permukaan tanah merupakan bagian penting dari suatu ekosistem di dalam tanah yang berperan dalam proses dekomposisi, aerasi dan siklus nutrisi. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pupuk organik asal ampas bungkil mimba dan gulma siam terhadap kelimpahan, keanekaragaman dan komposisi arthropoda permukaan tanah dan hubungannya dengan fase pertumbuhan tanaman pada ekosistem sawah padi hitam. Percobaan dilaksanakan di Cinenggang, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang sejak bulan April – November 2018. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari lima perlakuan yaitu kontrol (tanpa pupuk), pupuk ampas bungkil mimba, kompos gulma siam, pupuk kohe sapi, dan NPK yang diulang sebanyak enam kali. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sembilan famili arthropoda permukaan tanah yang terdiri dari famili Carabidae, Curculionidae, Staphylinidae, Formicidae, Acrididae, Gryllidae, Gryllotalpidae, Nepidae, dan Lycosidae. Pada semua perlakuan, kelimpahan arthropoda permukaan tanah yang mendominasi dari famili (Carabidae, Formicidae) yaitu perlakuan kontrol (117; 31 individu), pupuk ampas bungkil mimba (142; 159 individu), kompos gulma siam (160; 98 individu), pupuk kohe sapi (102; 74 individu) dan pupuk NPK (93; 70 individu). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perlakuan pupuk ampas bungkil mimba dan kompos gulma siam memperlihatkan kelimpahan karnivor tertinggi, namun tidak berbeda nyata pada herbivor. Keanekaragaman arthropoda permukaan tanah pada semua perlakuan (kontrol, pupuk ampas bungkil mimba, kompos gulma siam, pupuk kohe sapi, pupuk NPK) memiliki nilai indeks keragaman sedang (1,470; 1,310; 1,377; 1,585; 1,638). Selanjutnya, perlakuan ampas bungkil mimba dan kompos gulma siam menunjukkan total arthropoda permukaan tanah tertinggi  pada fase vegetatif bila dibandingkan dengan perlakuan pupuk kohe sapi, NPK dan kontrol. Namun pada fase generatif, perlakuan pupuk kohe sapi yang memperlihatkan total arthropoda permukaan tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya

    Kelimpahan dan Keanekaragaman Predator Laba-Laba pada Ekosistem Sawah Padi Hitam (Oryza sativa L.) Berpupuk Organik

    Get PDF
    Laba-laba merupakan salah satu predator penting dalam mengatur populasi serangga hama di ekosistem padi. Aplikasi pupuk ampas bungkil mimba dan kompos gulma siam diharapkan meningkatkan keberadaan laba-laba. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kelimpahan dan keanekaragaman laba-laba pada ekosistem sawah padi hitam berpupuk organik asal ampas bungkil mimba dan gulma siam. Percobaan dilaksanakan di Cinenggang, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, sejak bulan Mei – November 2018. Penelitian dilakukan dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan yaitu kontrol, NPK, pupuk ampas mimba, kompos gulma siam, dan pupuk kandang sapi dengan dilakukan enam ulangan. Hasil penelitian diperoleh delapan famili laba-laba yaitu Tetragnathidae, Pholcidae, Linyphiidae, Lycosidae, Theridiidae, Oxyopidae, Clubionidae dan Araneidae. Famili yang paling dominan pada semua perlakuan adalah Tetragnathidae, dan selanjutnya diikuti oleh Famili Pholcidae dan Linyphiidae. Jumlah total laba-laba, indeks keragaman, kelimpahan, kekayaan dan kemerataan spesies diketahui cenderung lebih tinggi pada perlakuan pupuk ampas bungkil mimba dan kompos gulma siam daripada perlakuan NPK dan kontrol

    Keanekaragaman Semut Musuh Alami (Hymenoptera: Formicidae) pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat di Kecamatan Timpeh Kabupaten Dharmasraya

    Get PDF
    Ekosistem perkebunan kelapa sawit terdiri dari berbagai jenis paku-pakuan, gulma, rerumputan dan serangga yang membentuk suatu ekosistem yang kompleks. Serangga dari golongan Formicidae merupakan aspek yang menarik untuk dikaji salah satunya yaitu semut. Pada ekosistem kelapa sawit, semut memiliki berbagai peran diantaranya sebagai penyerbuk, predator, pengurai dan herbivora. Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit rakyat di Nagari Panyubarangan dan Tabek, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat pada bulan September 2018 sampai Februari 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman semut pada ekosistem perkebunan kelapa sawit rakyat. Percobaan dilakukan dengan metode survei menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengambilan sampel menggunakan metode Hand Collecting, Bait Trap, dan Pitfall Trap. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Taksonomi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas, Padang. Analisis keanekaragaman menggunakan indeks Shannon-Wienner dan indeks kemerataan Simpson. Indeks keanekaragaman berkisar antara 1,83 sampai dengan 2,08. Total semut yang dikoleksi sebanyak 8.763 individu yang terdiri dari 14 genus, dan 29 spesies. Spesies yang paling dominan adalah Anoplolepis gracilipes diikuti Crematogaster borneensis dan Monomorium floricola dengan Indeks Nilai Penting yakni 0,57. Masing-masing spesies semut tersebut berperan sebagai predator beberapa hama kelapa sawit

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇