Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Kajian Kinerja Badan Lingkungan Hidup (BLH) dalam Rangka Implementasi RKL-RPL oleh Pemrakarsa, Kasus : Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah
Pemrakarsa suatu usaha/kegiatan wajib mempunyai ijin lingkungan yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) dalam bentuk RKL-RPL. Melalui RKL dan RPL, dampak lingkungan akibat suatu kegiatan akan mampu mencegah, mengendalikan, dan menanggulangi sehingga dapat meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif dari suatu rencana kegiatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja monitoring dan evaluasi terhadap BLH, menemukan persepsi publik terhadap kinerja monev, menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh, dan merumuskan strategi kebijakan untuk meningkatkan kinerja monev. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menekankan pada analisis terhadap masalah tertentu secara mendalam dan eksploratif seputar kinerja monev BLH Kobar dalam implementasi RKL-RPL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa monev RKL-RPL belum berjalan secara optimal sehingga perlu adanya pembenahan pada pelaksanaan dan komitmen pemerintah daerah, lembaga publik, dan partisipasi publik dalam prosesnya. Strategi untuk meningkatkan kinerja monev RKL-RPL terdapat delapan langkah yaitu (1) revisi program prioritas pemerintah daerah, (2) penyusunan perda pendukung monev, (3) pengembangan program publikasi monev, (4) memfasilitasi pembentukan forum diskusi dan komunitas sosial peduli lingkungan, (5) perbaikan manajemen SDM, (6) peningkatan kapasitas pemrakarsa secara berkala, (7) peningkatan sarana dan prasarana pendukung monev, dan (8) revisi teknis pelaksanaan monev RKL-RP
Pengaruh Potensi Sumberdaya Air Terhadap Pola Penggunaan Kebutuhan Domestik di Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri
Saat ini masyarakat di beberapa daerah di Indonesia mengalami kekurangan air akibat kekeringan/krisis air yang disebabkan oleh musim kemarau yang panjang. Penyediaan air bersih di Indonesia masih sering terjadi masalah, yaitu tingkat pelayanan air minum, kualitas dan kuantitas air serta pasokan dan distribusinya. Air yang dikonsumsi oleh masyarakat terutama untuk kebutuhan domestik seperti air minum menjadi permasalahan di Indonesia. Masalah tersebut adalah kekurangan pasokan air bersih. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini dilatar belakangi seberapa besar potensi sumberdaya air digunakan untuk pemenuhan kebutuhan domestik penduduk Kecamatan Eromoko. Tujuan penelitian adalah (1) menganalisis potensi sumberdaya air Kecamatan Eromoko; (2) menganalisis kebutuhan domestik penduduk Kecamatan Eromoko; (3) melakukan evaluasi ketersediaan air terhadap kebutuhan air domestik di Kecamatan Eromoko.Data primer yang digunakan adalah data wawancara jumlah kebutuhan domestik penduduk, kedalaman muka airtanah, elevasi, kualitas air dan data debit air. Data sekunder meliputi data bor, data kontur elevasi dan data pendukung lainnya. Sampel data primer ditentukan secara sistematik, proposional dan purposif. Tujuan (1) dicapai dengan menentukan kualitas dan kuantias air. Kuantitas air didapatkan dari debit dinamis airtanah, mataair, sungai bawah tanah. Kualitas air didapatkan dari hasil uji laboratorium sampel air terhadap nilai pada peraturan mengenai kualitas air. Tujuan (2) dicapai dengan menghitung jumlah kebutuhan air untuk domestik penduduk Kecamatan Eromoko. Tujuan (3) dicapai dengan membandingkan kuantitas sumberdaya air yang tersedia dengan jumlah kebutuhan air untuk domestik penduduk Kecamatan Eromoko. Hasil penelitian diuraikan secara deskriptif kuantitatif, deskriptif kualitatif serta komparatif. Hasil penelitian meliputi (1) potensi sumberdaya air daerah penelitian memiliki nilai debit dinamis sebesar 121 juta lt/hari atau 121 juta m3/hari dan 69% kualitas sumber air dalam kondisi baik. (2) jumlah kebutuhan air untuk domestik sebesar 6.840.076 l/hari atau 6.840 m3/hari. (3) potensi sumberdaya air dapat mencukupi kebutuhan domestik penduduk karena jumlah kebutuhan domestik lebih kecil daripada debit dinamis airtanah dengan kualitas air kondisi bai
Strategi Penghidupan Rumahtangga Peternak Sapi Perah di Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Pra dan Pasca Erupsi Merapi 2010
Ternak sapi perah menjadi usaha andalan dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Erupsi Merapi tahun 2010 telah menyebabkan perekonomian peternak sapi perah terhenti proses produksinya karena mayoritas hewan ternak mati terkena luncuran awan panas. Oleh karenanya, diperlukan strategi penghidupan untuk memulihkan perekonomian dan penghidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode snowball sampling dan indepth interview yang dilakukan di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan. Hasil dari penelitian menunjukkan terdapat topologi dominan diterapkan di Desa Kepuharjo yaitu strategi survival dan konsolidasi yang berbasis peternakan. Kegiatan survival dan akumulasi pada pra dan pasca erupsi mengalami perubahan pada tahapan pemanfaatan lahan, air, dan hijauan makan ternak (HMT). Perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor pendapatan, pengeluaran, aset, lapangan pekerjaan, sumberdaya, dan usia kerja
Analisis Geomorfologi Untuk Rekonstruksi Tata Ruang Kuno Di Wilayah Pantai Karst Krakal, Gunungkidul
Ditinjau dari kondisi fisik wilayah Pantai Krakal yang datar, terdapat sumber air tawar, dan bemiaterial aluvium; maka meskipun wilayah pantai ini sekarang berupa lahan tegal, namun pada masa lampau dimungkinkan sekali menjadi lahan hunian. Jika Pantai Krakal dahulunya merupakan lahan hunian, maka yang menarik untuk diteliti adalah bagaimana tata ruang kuno di wilayah Pantai Krakal tersebut. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini merekonstrukri tata ruang kuno di wilayah Pantai Krakal berdasarkan analis geomorfologi. Cara penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu tahap kerja pralapangan,tahap kerja lapangan, dan tahap pascalapangan. Pada tahap pralapangan dilakukan studi pustaka dan pengumpulan data sekunder. Pada tahap kerja lapangan dilakukan orienrasi lapangan, Penentuan lokasi sampel secara purposif, ekskavasi untuk memperoleh penampang tegak tanah, sehingga diperoleh data stratigrafi, penyidikan sifot sifal tanah, pengamatan material penyusun, pengamatan penggunaan lahan, pengamatan sumber air tawar, dan pembuatan sketsa penampang geomorfologi. Pada tahap pascalapangan dilakukan analis data secara induktif-eksplanasi dengan berdasar pada konsep sebab-akibat dan merekonstruksi bentuklahan dalam kaitannya dengan penggunaan lahan kuno, sehingga diperoleh tata ruang kuno. Hasil yang diperoleh menunjukan, bahwa di wilayah Pantai Krakal terdapat empat satuan bentuklahan dengan persebaran dari selatan ke utara adalah pelataran pantai, beting gisik, dataran aluvial karst, dan kerucut karst sinoid. Berdasarkan karakteristik masing-masing saluan bentuklahan itu dapal diketahui tata ruang danpemanfaatan lahan kuno di wilayah Pantai Krakal. Pemukiman terletak di kaki kerucut karst sinoid, terutama : yang di dekatnya di jumpai sumber air tawar. Perladangan terdapat di dataran aluvial pantai karst, karena pada unit ini telah terbentuk tanah Mediteran dari material endapan Terra Rossa. Kegiatan nelayan dari penduduk masa lampau terletak di pelataran pantai dan beting gesik, karena lokasinya di dekat garis pantai. Pekuburan terlerak di beting gesik karena materialnya masih lepas-lepas, sehingga mudah digali untuk penguburan
Niat Migrasi dan Penyesuaian Diri Migran Sirkuler Asal Jawa di Kecamatan Kuta Selatan – Bali
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap karakteristik migran sirkuler asal jawa dengan fokus; (1) niat migrasinya di masa mendatang yang diprediksi menggunakan variabel upah, umur, lama tinggal, dan tingkat pendidikan; (2) penyesuaian diri mereka dalam dimensi ekonomi, serta fisik dan lingkungan tempat tinggal. Analisis dilakukan dengan teknik regresi model binary logistic untuk tujuan penelitian pertama, dan teknik statistik deskriptif (mean) yang diperkuat dengan teknik uji beda untuk tujuan penelitian yang kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) variabel upah, umur, lama tinggal, dan tingkat pendidikan secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat migrasi dari para migran sirkuler asal Jawa; (2) penyesuaian diri migran sirkuler asal jawa menunjukkan pola yang berfluktuasi dengan semakin lamanya migran tinggal di Kuta Selatan dalam dimensi ekonomi, dan penyesuaian dirinya semakin berhasil dengan semakin lamanya mereka sudah tinggal di Kuta Selatan dalam dimensi fisik dan lingkungan tempat tinggal. ABSTRACT This study aims to reveal the characteristics of circular migrant from Java with focus: (1) migration intentions in the future are predicted by use a wage, age, length of stay, and level of education variable, (2) their adjustment in the economic, and physical and living environment dimension. Analysis was done by using binary logistic regression models for the purpose of the first study, and techniques of descriptive statistics (mean) reinforced with different test techniques for the purpose of the second study. The results showed: (1) wage, age, length of stay, and level of education variable, together have a significant effect on the migration intentions of circular migrants from Java, (2) adjustment circular migrant from Java showed a fluctuating pattern with increasing duration of migrants living in South Kuta in the economic dimension, and his adjustment is more successful with increasing duration of migrants living in South Kuta in physical and living environment dimensions
Karakter Geoarkeologis dan Proses Budaya Prasejarah Zona Poros Ponjong – Rongkop di Blok Tengah
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Zona Poros Ponjong - Rongkop, yaitu bagian dari Blok Tengah Gunungsewu di Pegunungan Selatan Jawa, yang posisinya diapit oleh dua depresi bekas danau purba, yaitu Ledok Wonosari dan Ledok Baturetno. Morfologinya berupa punggungan perbukitan karst berarah utara-selatan antara daerah Ponjong dan Rong-kop, membentuk semacam poros hampir tegak lurus terhadap bentangan umum Gunungsewu. Bagian paling utara ber-batasan dengan pegunungan non-karst dan memiliki topografi tertinggi di Blok Tengah Gunungsewu, sehingga menjadi wilayah hulu bagi sungai-sungai bawahtanah di Gunungkidul. Melalui beberapa survei ditemukan sejumlah 56 gua yang memiliki potensi arkeologis, tujuh di antaranya sudah diekskavasi dan terbukti menyimpan jejak-jejak hunian prase-jarah dari Kala Pleistosen Akhir - Holosen Awal. Pendekatan geoarkeologis sebagai studi gabungan antara arkeologi dan geomorfologi, dilakukan untuk membangun model-model integral mengenai hubungan sistematik antara manusia dengan bentanglahan karst Gunungsewu di area penelitian. Dua hal yang menjadi tujuan utama penelitian ini adalah: Pertama, menjelaskan karakter geoarkeologis Zona Poros Ponjong - Rongkop sebagai perpaduan antara aspek-aspek geomorfologis (morfologi, morfogenesis, morfokronologi, dan morfoaransemen) dan aspek-aspek arkeologis (distri-busi gua dan potensi arkeologisnya). Tujuan ini dicapai melalui penilaian dan pemetaan distribusi potensi gua sebagai situs arkeologis, kemudian menganalisis hubungannya dengan aspek-aspek geomorfologis setempat. Kedua, menjelas-kan proses budaya prasejarah, yaitu bentuk dinamis dari budaya penghunian gua beserta faktor-faktor yang mempen-garuhinya. Metode untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menganalisis konteks data arkeologis dan stratigrafi lantai gua yang pernah diekskavasi. Sintesis kajian atas kedua capaian tujuan ini memberikan penjelasan integral atas karakter geoarkeologis dan proses budaya prasejarah di area penelitian, dalam konteks dan perubahan bentanglahan, pembentu-kan dan perubahan situs, serta konteks stratigrafi. ABSTRACT This thesis presents results of geoarchaeological research conducted in the Ponjong - Rongkop Axis Zone which is situated in the Central Block of Gunungsewu, a karstic area of the southern mountains of Java. This zone run north to south from Ponjong to Rongkop Districts forming an axis nearly perpendicular to the general orientation of Gunungsewu and is flanked by two former ancient lake depressions, the so-called Wonosari Basin and Baturetno Basin. Geomorphologically, it consists of a hilly karstic area. At the northern end lays a non-karst mountain which becomes the highest topography in the Central Block of Gunungsewu and the upstream region for the underground rivers of the Southern Mountains (Gunun-gkidul). Surveys in the zone has located at least 56 caves bearing archaeological potential. Seven of them were excavated and the results demonstrate prehistoric human occupation from the Late Pleistocene to Early Holocene. This research is addressed to contruct a model for human and landscape relationship in the Ponjong - Rongkop Axis Zone. Geoarchaeolog-ical approach, as an interdiciplinary study involving archaeology and geomorphology, is carried out to attain the research objectives which are two folds. Firstly, to explain the geoarchaeological character of the Ponjong - Rongkop Axis Zone that have been formed as a combination of some geomorphological aspects (morphology, morphogenetic, morphochronology, and morpho-arrangement) and archaeological aspects (distribution of caves with archaeological potential). This objective is achieved through assesment and mapping of the potential caves in the zone with regard to the local geomorphological aspects. Secondly, to explain the process of prehistoric culture, namely the cultural dynamic of the occupied caves and factors that influenced it. To attain this second objective, contextual analysis of the archaeological data and its stratigraphy which have been obtained from the archaeological excavations are conducted. Synthesis of the geoarchaeological characters and prehistoric cultural process provides an integrated explanation on the relationship between human and landscape in the re-search area as shown in three aspects: the landscape context and its changes, the formation and changes of the archaeological sites as well as the stratigraphic context
SURVEI GPS UNTUK PEMETAAN TOPOGRAFI DAN PEMODELAN RELIEF RUPABUMI TIGA DIMENSI (3D) DAERAH GONDANGGENTONG KECAMATAN KARANGPANDAN KABUPATEN KARANGANYAR
ABSTRAK Survei penentuan posisi dari suatu jaringan titik di permukaan bumi umumnya dilakukan dengan metode pengukururn secara terestris yaitu dengan menentukan sudut/arah terhadap utara , jarak dan beda tingginya. Dengan semakin berkembangnya metode survei yang berbasis pada pengamatan ke sistem satelit GPS (Global Positioning System), maka telah terjadi pergeseran metodologi yang cukup mendasar pada survei penentuan posisi dari suatu jaringan titik di permukaan bumi. Survei yang berbasis pada pengamatan ke satelit GPS dilakukan dengan metode reseksi (pengikatan ke belakang) yaitu titik-titik target di permukaan bumi ditentukan dari penghitungan jarak ke beberapa satelit (GPS) sekaligus. Metode seperti ini disebut dengan metode penentuan posisi secara absolut (absolut positioning/point positioning) yang merupakan metode penentuan posisi yang paling mendasar dari GPS.Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan topografi atau relief permukaan bumi balk dalam bentuk 2 diniensi (pets kontur) maupun 3 dimensi dengan inenggunakan metode survei GPS dan memanfaatkan kemajuan perangkat lunak (software) untuk mengolah data posisi hasil pengukuran dengan GPS. Target utamanya adalah ingin .menunjukkan bahwa dengan survey GPS , suatu daerah dapat disajikan bentuk relief tiga dimensinya. Metode yang dipakai adalah metode penentuan posisi secara absolut dengan menenlukan beberapa titik target berdasarkan jaraknya dari beberapa satelit sekaligus. Daerah yang dipilih sebagai lokasi pengukuran adalah daerah Gondanggentong Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah yang berbukit (lereng G. Lawu) sehingga variasi relief atau topografi cukup besar, disamping pengaruh multipath (lingkungan sekitar titik pengamatan GPS yang mengganggu penerirnaan sinyal dari satelit GPS) cukup kecil.Penelitian ini tidak dimaksudkan sebagai penelitian yang bersifat detil, mengingat bahwa alat/receiver GPS yang dipakai adalah tipe navigasi yang mempunyai tingkat kesalahan posisi atau EPE (Estimated Position Error) dalam orde meter. Meskipun demikian dari hasil penelitian ini dapat dipakai suatu pijakan atau awal pengembangan survei pemetaan suatu daerah dan bahan pemikiran bahwa pelaksanaan survei pemetaan suatu daerah pada masa-masa mendatang akan dapat dilakukan secara lebih efisien, efektif, dan fleksibel dengan hasil yang cukup teliti dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada. Hasil dari penelitian ini adalah peta kontur (2D) dan peta relief rupabumi (3D) dengan berbagai variasi pemodelannya
MIGRASI DAN PEMBANGUNAN REGIONAL ANTARA MITOS DAN REALITAS : PROSPEKTIF TEORI, KONDISI EMPIRIK INDONESIA DAN PROSPEKNYA DALAM ERA OTONOMI DAERAH
ABSTRAK Tulisan ini bertujuan (I). Memetakan keragaman pandangan teoretik atas hubungan antara migrasi dan pembangunan, (2). Membukaikan secara empirik hubungan antara migrasi dan pembangunan di Indonesia dan (3). Memberikan penilaian alas prospek migrasi dalam pembangunan pada era otonomi daerah.Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dilakukan kajian terhadap teori-teori yang relevan memberikan penjelasan antara migrasi dan pembangunan untuk menjelaskan keragaman teori tentang hubungan antara migrasi dan pembangunan. Analisis data sekunder dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel migrasi dan variabel-variabel pembangunan regional di Indonesia dalam rangka menguji secara empirik hubungan antara migrasi dan pembangunan regional.Hasil analisis menunjukkan bahwa secara teoretik terdapat dua pandangan yang berseberangan tentang hubungan antara migrasi dan pembangunan, yaitu pandangan ekonomi neo-klasik dan pandangan historic struktural. Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki kebijakan migrasi yang berakar pada pandangan ekonomi neo-klasik. Pandangan ini percaya bahwa migrasi bernilai positif dalam pembangunan regional, sehingga kebijakan-kebijakan kependudukan di Indonesia umumnya cenderung pro-migrasi. Sementara int pada tingkat empirik pola migrasi di Indonesia sampai pertengahan I990an dan bahkan sampai kini masih bersifat Jakarta sentris, sehingga dampaknya cenderung semakin memperkuatkesenjangan antar wilayahyang sudah ada.Hasil korelasi menunjukkan bahwa migrasi memiliki hubungan positzf terhadap lapangan kerja sektor-sektor modern dan negatifterhadap sektor pertanian. Selain itu migrasi secara konsisten berhubungan negahf dengan nilai produk domestik regional brutto (PDRB) sektor pertanian dan tidakmemiliki hubungan yangjelas terhadap PDRB sektor-sektor modern yang lain, kecuali sektor perbankan. Ini berarti migrasi berperan panting dalam msnciptakan kesempatan kerja, tetapi belum memiliki kontribusi yang bermakna dalam peningkatan kapasitas produksi daerah. Dalam era otonomi daerah migrasi diperlukan terutama di wilayah-wilayah yang bertipe resource frontier di mana sumberdaya alam yang ada masih cukup besar sementara sumberdaya manusia untukmengolahnya tidak tersedia setempat
TEKNOLOGI RADAR INTERFEROMETRI UNTUK PENGADAAN MODEL PERMUKAAN BUMI DIJITAL
ABSTRAK Teknologi Radar, terus berkembang dengan pesat hingga saat ini. Peluncuran satelit ERS-1 pada tahun 1991 dilanjutkan dengan satelit ERS-2 pada tahun 1995 dan diteruskan dengan misi E1VYISAT pada akhir tahun 2001 dengan mengandalkan sensor aktifyang disebut ASAR (Advanced Synthetic Aperture Radar), peluncuran SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) serta pengembangan sistim sensor aktif dengan pesawat terbang, menunjukkan betapa pentingnya sistim yang sangat menjanjikan ini untuk dimanfaatkan dan dikembangkan untuk misi-misi yang erat dengan masalah pengadaan data spasial.Sekitar 15% hiungga 20% wilayah Indonesia hampir sepanjang tahun tertutup awan, dan ini menyebabkan belum terselesaikannya pembuatan pets rupabumi untuk wilayah-wilayah tersebut. Tulisan berikut ini menjelaskan secara umum bagaimana kitct mendapatkan model permukaan bumi khususnya dengan menggunakan teknologi Radar Interferometri, yang sering dikenal dengan INSA
INFILTRASI TANAH DI KECAMATAN NGUTER KABUPATEN SUKOHARJO, PROPINSI JAWA TENGAH
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah uniuk mengetahui laju infiltrasi tanah di daerah penelitian serta menganalisis pengaruh faktor penggunaan lahan dan jenis tanah terhadap besar kecilnya laju infiltrasi di daerah penelitian. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan pengukuran infiltrasi dengan menggunakan ring infiltrometer ganda. Penentuan titik pengukuran dilakukan secara purposive sampling dengan memperhatikan faktor penggunaan lahan dan jenis tanah, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan persamaan Horton.Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju infiltrasi tanah di daerah penelitian berkisar antara 0,002 cm/menit dan 0,079 cm/menit, dengan rata-rata 0,0132 cm/menit. Nilai ini tergolong rendah, sehingga diperkirakan di daerah penelitian terjadi limpasan permukaan yang cukup tinggi. Ditinjau dari faktor penggunaan lahan, tegalan mempunyai laju infiltrasi tertinggi, disusul oleh permukiman dan terendah adalah sawah. Ditinjau dari faktorjenis tanah, jenis Mediteran mempunyai laju infiltrasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan pada jenis Grumusol. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa perbedaan jenis tanah relatif lebih berpengaruh terhadap laju infiltrasi air Ice dalam tanah dibandingkan dengan perbedaan penggunaan lahan. Berdasarkan agihannya, daerah yang terletak di dekat Bengawan Solo umumnya mempunyai nilai laju infiltrasi yang lebih besar dibandingkan dengan daerah yang berada lebih jauh dari sungai. Untuk kapasitas infiltrasi hal ini berlaku sebaliknya