Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Distribusi Dan Karakteristik Kualitas Perairan Ekosistem Mangrove Pulau Kecil Taman Nasional Bunaken
Ekosistem mangrove mempunyai fungsi ekologi dan sosial ekonomi bagi masyarakat pesisir, mempertahankan fungsi ini merupakan langkah mempertahankan fungsi ekosistem disekitarnya diantaranya terumbu karang dan padang lamun. Kajian ini menganalisa kondisi kualitas perairan ekosistem mangrove yang ada pada empat pulau kecil di Taman Nasional Bunaken (Pulau Bunaken; Pulau Manado Tua; Pulau Mantehage; Pulau Nain) dan korelasi karakterisitik kualitas air pulau-pulau tersebut (suhu, salinitas, kekeruhan, total suspended solid, pH, Dissolved Oksigen, NO3-N, dan PO4-P) dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA), kajian ini menggunakan instrumen pengukuran kualitas air in situ dan ex situ di laboratorium. Selain itu, hasil kualitas air ini akan dibandingkan dengan baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah pada ekosistem mangrove, hal ini sebagai bahan pertimbangan pengelolaan ekosistem mangrove dimasa yang akan datang. Hasil yang diperoleh dari kajian ini adalah kualitas air keempat pulau ini masuk dalam kategori baik dan dapat mendukung kelangsungan hidup biota yang berasosisi didalamnya. Korelasi karakteristik kualitas air sebesar 94%, faktor utama 1 (F1) 79,33% dan faktor utama 2 (F2) 14,22% dengan penciri utama suhu, PO4-P, dan salinitas, dendogram menunjukkan adanya dua tingkatan hubungan kekerabatan dimana Pulau Nain dan Pulau Manado Tua memiliki kekerabatan kondisi perairan yang sama, diikuti Pulau Bunaken dan Mantehege. Kondisi ini harus dipertahankan dan dimonitoring secara berkala mengingat Taman Nasional Bunaken banyak mendapat tekanan dari aktivitas antropogenik dan perubahan iklim global. Mangrove ecosystems have ecological and socio-economic functions for coastal communities, preserve these functions is a step to maintain the function of adjacent ecosystems including coral reefs and seagrass beds. This study analyzed the water quality conditions of mangrove ecosystem within four small islands in Bunaken National Park (Bunaken Island, Manado Tua Island, Mantehage Island and Nain Island) and water quality characteristic correlation among these islands (e.g. temperature, salinity, turbidity, total suspended solid, pH, Dissolved Oxygen, NO3-N, and PO4-P) using Principal Component Analysis (PCA), this study used laboratory in situ and ex situ water quality measurement instruments. In addition, the results of this water quality then compared with the government standard quality for mangrove ecosystem water quality, this is a consideration for the management of mangrove ecosystems in the future. The results obtained from this study shows the water quality of these four islands in the category of good and can support the existence of associate biota that live in it. The correlation of water quality characteristic was 94%, main factor 1 (F1) 79,33% and main factor 2 (F2) 14,22% with main characteristics are temperature, PO4-P, and salinity, grouping these characteristics through dendogram showed two levels of relationship where Nain Island and Manado Tua Island have the same relationship of their water condition, followed by Bunaken Island and Mantehege. This condition must be maintained and monitored regularly as Bunaken National Park is under considerable get pressure from anthropogenic activities and global climate change.
Analisis Laju Sedimen DAS Serayu Hulu dengan Menggunakan Model SWAT
Wilayah DAS Serayu Hulu merupakan DAS prioritas yang memerlukan langkah pengelolaan yang komprehensif. Aplikasi model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) dapat digunakan sebagai media untuk perencanaan konservasi ataupun evaluasi respon DAS (debit aliran permukaan, sedimen dan pencemaran sungai). Tujuan utama dari penelitian ini adalah menjalankan model SWAT di DAS Serayu Hulu untuk mengetahui laju sedimen di wilayah ini. Pemodelan SWAT membutuhkan sejumlah input parameter berupa relief, tanah, tutupan lahan dan pengelolaan lahan. Pedogeomorfologi digunakan sebagai batas satuan tanah karena tidak tersedianya peta tanah di wilayah penelitian. Hasil Penerapan model SWAT di DAS Serayu Hulu menghasilkan nilai yang cukup memuaskan, hal ini ditunjukkan nilai R2 mencapai 0,94. Hasil pemodelan SWAT dengan menggunakan data selama 10 tahun (2004-2013) menunjukkan bahwa DAS Serayu Hulu memiliki rerata hasil sedimen sebesar 1.926.900 ton/tahun. Sub DAS 8,9 11, 17, 18, dan 19 merupakan penghasil sedimen tertinggi di DAS Serayu Hulu dengan hasil sedimen 43.931– 121.434 ton/ha/tahun
Analisis Ketidakpastian dalam Memanfaatkan Lahan Pertanian di Desa Sukasari Kaler Kecamatan Argapura Majalengka
Abstrak Petani dalam memanfaatkan lahan pertanian selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Di sisi lain petani juga harus mempertimbangkan berbagai jenis komoditi yang akan diusahakan agar tidak gagal panen. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan: (1) mengindentifikasi jenis ketidakpastian yang sering dihadapi petani dalam memanfaatkan lahan pertanian; dan (2) menganalisis pengaruh ketidakpastian terhadap pertimbangan petani dalam menentukan jenis komoditi yang akan diusahakan. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan petani, sedangkan data sekunder dari beberapa instansi terkait. Pengukuran ketidakpastian dilakukan menggunakan metode skala likerts. Analisis data di lakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menemukan adanya keragaman jenis ketidakpastian yang selalu dihadapi petani dalam pemanfaatan lahan pertanian dan ketidakpastian tersebut telah dijadikan dasar oleh petani untuk mempertimbangan jenis komoditi yang akan diusahakan.Abstract Farmers in utilizing agricultural land always faced with uncertainty. On the other hand, farmers should also consider various types of commodities which will be endeavored that no crop failure. Based on the above, the research is conducted with the objectives: (1) to identify the kinds of uncertainties often faced by farmers in utilizing agricultural land for farming activities; (2) to analyzes the influence of uncertainty on the consideration of farmers in determining the type of commodity to be cultivated. The data collected consist of primary data and secondary data. Primary data was obtained from interview with farmer while secondary data from several related institutions. Measurement of uncertainty is done using likerts scale method. Data analysis is done descriptively qualitative. The results of the study found that the diversity of types of uncertainty often faced by farmers in agricultural land use and the uncertainty has been used as a basis by farmers to consider the types of commodities to be cultivated
Deteksi Perubahan Luasan Mangrove Teluk Youtefa Kota Jayapura Menggunakan Citra Landsat Multitemporal
Kondisi mangrove di kawasan Teluk Youtefa, baik dari aspek kualitas maupun kuantitasnya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar perubahan luasan mangrove yang terjadi di kawasan Teluk Youtefa, Kota Jayapura dari tahun 1994 sampai tahun 2017 dengan menggunakan citra satelit Landsat 5 TM dan Landsat 8 OLI. Pengamatan kondisi mangrove di lapangan dilakukan dengan menggunakan GPS dan pengolahan citra menggunakan algoritma NDVI dengan klasifikasi supervised. Tumpang susun peta hasil interpretasi citra satelit untuk mengetahui sebaran dan perubahan luasan kawasan mangrove. Hasil penelitian menunjukan bahwa luasan mangrove pada tahun 1994 sebesar 392,45 ha dan luasan mangrove pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 233,12 ha. Perubahan luasan mangrove dalam kurun waktu 23 tahun sebesar 159,34 ha atau sebesar 40,59%. Perubahan kawasan mangrove pada umumnya disebabkan oleh faktor antropogenik seperti penebangan, perubahan fungsi kawasan mangrove menjadi jalan, jembatan, pemukiman dan perubahan secara alami. ABSTRACTThe condition of mangrove in Youtefa Bay both qualitatively and quantitatively has decreased from year to year. This research was conducted to determine how much of the change occurring mangrove area in Youtefa Bay, Jayapura City from 1994 to 2017 by using Landsat 5 TM images and Landsat 8 OLI. Monitoring of mangrove condition in the field used GPS, and processing of images used NDVI algorithm with supervised classification. The map was overlaying satellite imagery interpretation to determine the distribution and changes of mangrove area. The result of research showed that the mangrove area in 1994 was about 392.45 hectares, mangrove area in 2017 have decreased becoming was 233.12 hectares. Changing of mangrove area for 23 years was about 159.34 hectares or 40.59%. Changes in mangrove were generally caused by anthropogenic factors such as logging, changes over the function of mangroves into the road, bridge, settlement, and change naturally
Kajian ekologis ekosistem mangrove untuk ekowisata di Bahowo kota Manado
Tujuan penelitian ini adalah Menginvestigasi kondisi ekologi ekosistem mangrove di Bahowo dan menganalisa kesesuaian lahan ekosistem mangrove sebagai kawasan ekowisata. Penelitian ini dilaksakan di Bahowo Kota Manado pada bulan November sampai Januari 2018. Metode yang digunakan adalah metode survey. Metode penetapan kesesuaian lahan adalah melihat skor dan pembobotan yang diperoleh dari setiap parameter yang di kaji yaitu ketebalan mangrove, kerapatan, jenis, pasang surut, objek biota, keunikan, keaslian dan keberadaan biota berbahaya. Untuk tutupan mangrove menggunakan metode hemysperical photography atau aplikasi image j. Dari hasil pengamatan dilapangan diketahui bahwa Rhysopora apiculata mendominasi jenis yang ada di Bahowo. Hasil analisis tutupan berdasarkan aplikasi image j menunjukkan bahwa tutupan mangrove di Bahowo tergolong padat dengan nilai diatas 75 %. Berdasarkan matriks kesesuaian untuk kategori ekowisata, ekosistem mangrove yang ada di Bahowo sangat sesuai untuk dijadikan kawasan ekowisata mangrove.ABSTRACTThe purpose of this research is to investigate the ecological condition of mangrove ecosystem in Bahowo and analyze the suitability of mangrove ecosystem area as ecotourism area. This research was conducted in Bahowo Manado City from November to January 2018. The method used was survey method. The method of determining the suitability of land is to see the score and weighting obtained from each parameter in the mangrove thickness, density, type, tidal, biota object, uniqueness, authenticity and existence of dangerous biota. For mangrove cover using hemispherical photography method or image application j. From the results of observations in the field is known that Rhizophora apiculata dominate the existing species in Bahowo. The result of cover analysis based on image j application shows that mangrove cover in Bahowo is categorized as solid with the value above 75%. Based on the suitability matrix for ecotourism category, the existing mangrove ecosystem in Bahowo is very suitable for ecotourism area of mangrov
Post-suburbia dan Tantangan Pembangunan di Kawasan Pinggiran Metropolitan: Suatu Tinjauan Literatur
Post-suburbia merupakan fenomena transformasi perkotaan yang banyak ditemui di berbagai tempat. Fenomena ini terjadi sejalan dengan proses dekonsentrasi dan desentralisasi pekerjaan ke kawasan suburban yang menyusul populasi, sehingga menjadikan pusat kota kehilangan pengaruhnya. Tulisan ini dimaksudkan sebagai tinjauan terhadap berbagai literatur mengenai diskursus post-suburban dari sudut pandang filosofis. Selain itu, diberikan juga konteks perkembangannya di Indonesia, serta tantangan yang dihadapi oleh riset mengenai post-suburban kedepannya. Yaitu terkait dengan keberlanjutan perkotaan, apakah post-suburbia menghasilkan pembangunan yang tidak saja lebih ramah lingkungan, namun juga lebih baik secara ekonomi maupun sosial.ABSTRACT Post-suburbia is a well spread urban transformation phenomenon which could be seen in many places. This phenomenon occurs along with the employment deconcentration and decentralization process following the population towards the suburban area. Such a process makes the urban core losing its influence. This paper aimed as a literature review of post-suburban discourse from a philosophical perspective. Moreover, we also discuss its development in the Indonesian context and several possibilities of its research challenge in the future. Such as its relation with urban sustainability, whether post-suburbia would produce more not only environmental friendly development but also in economic and social aspect.
Simulasi Perubahan Penggunaan Lahan Akibat Pembangunan Kawasan Industri Kendal (KIK) Berbasis Cellular Automata
Kawasan industri Kendal (KIK) dikembangkan dengan luas mencapai 2.200 Ha di utara kecamatan kaliwungu diperkirakan menyerap hingga 500.000 tenaga kerja. KIK akan mengakselerasi pertumbuhan kota yang ditandai dengan proses urbanisasi dan konsumsi lahan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan prediksi penggunaan lahan tahun 2031 dengan adanya KIK di Kendal Timur. Pendekatan yang digunakan yaitu kuantitatif berbasis raster, dengan analisis proyeksi perkembangan lahan terbangun berdasarkan trend perubahan penggunaan lahan tahun 2005 – 2017 dan kebutuhan lahan akibat KIK. Model simulasi perubahan penggunaan lahan dengan model Cellular Automata (CA) dengan faktor pendorong meliputi faktor biofisik, sosial ekonomi, sarana prasarana, aksesbilitas dan ketetanggaan. Hasil penelitian menunjukkan KIK memiliki pengaruh yang kuat untuk mempercepat pertumbuhan kawasan perkotaan kaliwungu. Arah perkembangan Kendal Timur tahun 2031 dominan terjadi di kecamatan kaliwungu kemudian menyebar di kecamatan brangsong, kota Kendal, kaliwungu selatan dan ngampel dengan mengikuti pola perkembangan konsentris linier. Penggunaan lahan yang mengalami pertumbuhan tahun 2031 meliputi industri (2017,96 Ha), permukiman (1007,30 Ha), perdagangan dan jasa (271,39 Ha), dan gudang (18,76 Ha) yang diikuti terkonversinya lahan non terbangun yaitu tambak (1593,5 Ha), sawah irigasi (784,35 Ha kebun campuran (362,34 Ha), tegalan (361,65 Ha), tanah terbuka (145,5 Ha), sawah tadah hujan (66,71 Ha) dan hutan produksi (1,32 Ha)
Kualitas Permukiman di Basin Wonosari dan Perbukitan Kars Gunungsewu di Kabupaten Gunungkidul
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas permukiman pada bentuklahan Basin Wonosari dan Perbukitan Kars Gunungsewu di Kabupaten Gunungkidul, mengetahui ada tidaknya pengaruh bentuklahan terhadap kualitas permukiman beserta perbedaannya, dan mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kualitas permukiman pada kedua bentuk lahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode survai. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada masyarakat di Kecamatan Wonosari yang mewakili bentuklahan Basin Wonosari dan Kecamatan Panggang yang mewakili bentuk lahan perbukitan kars Gunungsewu. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Pengolahan dan analisis data untuk mencapai tujuan pertama dengan menggunakan tabel frekuensi tunggal. Untuk mengetahui perbedaan kualitas permukiman pada kedua bentuk lahan digunakan uji Mann Whiteney-U. Sementara itu untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas permukiman digunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas permukiman pada bentuklahan Basin Wonosari lebih baik dibanding bentuklahan Perbukitan Kars Gunungsewu. Penelitian ini juga menemukan bahwa bentuk lahan tidak berpengaruh terhadap kualitas permukiman dan tidak ada perbedaan signifikan antara kualitas permukiman di kedua bentuk lahan tersebut. Temuan penelitian yang lain yaitu variabel sosial ekonomi masyarakat memberikan pengaruh tidak langsung terhadap kualitas permukiman