Buletin Nutrisi dan Makanan Ternak
Not a member yet
    67 research outputs found

    POTENSI PADANG PENGGEMBALAAN ALAM UNTUK TERNAK KAMBING DI DESA MINASA UPA KECAMATAN BONTOA KABUPATEN MAROS

    No full text
    Padang penggembalaan sebagai sumber pakan hijauan yang telah dimanfaatkan di Sulawesi Selatan akan tetapi belum maksimal manajemen padang penggembalaan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui padang penggembalaan alam untuk ternak kambing di desa Minasa Upa kecamatan Bontoa kabupaten Maros. Penelitian ini Menggunakan Deskriptif yaitu menbandingkan literatur dan keadaan dilapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa padang penggembalaan alam di desa Minasa Upa kecamatan Bontoa kabupaten Maros mengalami over stocking yang tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah padang pengembalaan alam belum mencukupi kebutuhan hijauan ternak dengan meningkatkan produksi hijauan dan mengurangi jumlah ternak suatu padang penggembalaan dapat lebih efektif padang penggembalaan untuk ternak kambing

    Pengaruh Pemberian Molases dan Gula Pasir Terhadap pH dan Produksi Silase Rumput Gajah (Pennisetum purpureun sp).

    Full text link
    Preservation of forage with silage method has been widely practiced by farmers, one of the factors that influence the success of making silage is the addition of additives, such as molasses. However, molasses is not available in all regions. For that we need a material that can be an alternative substitute for silage, namely granulated sugar, besides having nutritional value that is almost the same as molasses, sugar also contains water soluble carbohydrate (WSC) which is easily utilized by lactic acid bacteria as an energy source during the ensilage process. This study aims to determine the effect of molasses and sugar levels on pH values and dry matter of elephant grass silage. The study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications, namely P1: control, P2: Molases 4%, P3: Sugar 4%, P4: Molases 6% and P5: 6% sugar. So that the total sample unit is 15 units and one unit of fresh material samples. Samples were analyzed in the laboratory to determine the pH value and dry matter of silage. The results showed that the administration of sugar additives at the level of 4% in silage had the same quality as silage which was given molasses at the level of 4%. However, at the level of 6% silage which is given molasses it has better quality than silage which is given sugar. This shows that granulated sugar can be used as an alternative to molasses in making silage

    KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR SILASE RANSUM KOMPLIT PADA BERBAGAI BENTUK DAN LAMA PENYIMPANAN

    Full text link
    Ransum dapat dinyatakan berkualitas apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien bagi ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bentuk dan lama penyimpanan terhadap kandungan protein kasar dan serat kasar pada ransum komplit. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor diantaranya faktor A (Betuk silase ransum komplit) yaitu : silase, pellet dan blok; faktor B (Lama penyimpanan) yaitu 0, 1 dan 2 bulan, setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa bentuk silase ransum komplit tidak berpengaruh nyata (P>0,05), Namun lama penyimpanan memiliki pengaruh yang nyata (P<0,05), ini membuktikan bahwa tidak ada interaksi yan terjadi antara bentuk ransum komplit dengan lama penyimpanan terhadap kandungan protein kasar, akan tetapi jika dilihat pada kandungan serat kasar terdapat interaksi yang terjadi pada bentuk ransum dan lama penyimpanan. Hasil penelitian ini diperoleh kandungan protein kasar berkisar antara 10.79% -13,86% yang tertinggi pada penyimpanan 0 bulan dan kandungan serat kasar yaitu 14,24% -18,93% yang tertinggi pada penyimpanan 2 bulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin lama penyimpanan ransum komplit maka kandungan protein kasar akan semakin menurun dan kandungan serat kasar akan semakin meningkat. Silase ransum komplit dalam semua bentuk masih mempunyai kualitas yang baik pada penyimpanan 2 bula

    KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK IN VITRO DAUN MAJA (Aegle marmelos) DAN DAUN GAMAL (Gliricidia sepium)

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk  mengetahui kecernaan bahan kering dan bahan organik in vitro daun maja (Aegle marmelos) dan daun gamal (Gliricidia sepium). Penelitian ini dianalisis menggunakan uji T dengan lima ulangan. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering  dan bahan organik in vitro tidak berbeda nyata (P>0,05) antara daun maja dan daun gamal. Disimpulkan bahwa kecernaan bahan kering dan bahan organik in vitro daun maja dan daun gamal adalah sam

    Pengaruh Pemberian Bahan Aditif Berbeda terhadap pH dan Kandungan Bahan Kering Silase Sorgum Manis (Sorghum bicolor L.)

    Full text link
    Sorgum memiliki kemampuan untuk tumbuh baik disaat musim hujan maupun kemarau serta memiliki kandungan nutrisi yang hampir setara dengan rumput gajah. Hal ini tentunya dapat menjadi solusi dalam penyediaan pakan hijauan yang tidak kontinyu. Dalam pembuatan silase penambahan bahan aditif diperlukan untuk memperoleh hasil silase yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pH dan kandungan bahan kering silase sorgum manis yang diberi bahan aditif berbeda. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu P0: Kontrol, P1: Tepung Sagu 5%, P2: Dedak Padi 5%, dan P3: Dedak Jagung 5%. Sampel dianalisis di Laboratorium untuk mengetahui pH dan bahan kering dari silase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH silase sorgum pada perlakuan P0, P1, P2, dan P3 tidak berbeda nyata (P>0,05). pH dari silase sorgum yang dihasilkan berkisar antara 3,83 – 3,89 yang berarti merupakan silase dengan kualitas sangat baik. Sedangkan untuk kandungan bahan kering, silase pada perlakuan P0 (kontrol) sangat nyata lebih rendah (P<0,01) dibandingkan P2 dan nyata lebih rendah (P<0,05) terhadap P1 dan P3. Hal ini menunjukkan bahwa silase sorgum manis dengan 13% bx yang dibuat tanpa penambahan bahan aditif cukup layak untuk diterapkan melihat dari pH silase yang dihasilkan merupakan pH dengan kategori sangat baik

    Pemanfaatan Jerami Kacang Hijau Dengan Penambahan Feses Sapi Dan Effective Microorganisme Terhadap Kualitas Kompos Di Kelurahan Manggali Kecamatan Pallangga

    No full text
    Pengomposan merupakan proses bahan organic yang mengalami penguraian secara  biologis, khususnya mikroba yang dimanfaatkan sebagai sumber energy.  Kotoran ternak dapat dimanfaatkan  sebagai  pupuk  kandang  karena kandungan unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang dibutuhkan oleh tanaman dan kesuburan tanah. Limbah pertanian antara  lain dapat berupa jerami tanaman pangan, limbah tanaman perkebunan, dan kotoran ternak.  Limbah  pertanian  berupa  jerami  kacang hijau  sebagai kompos karena menpunyai  kandungan kalium yang tinggi,  dapat  meningkatkan  kandungan  unsur  hara K pada pupuk kandang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui melihat kualitas kompos   jerami kacang hijau dengan  penambahan  feses  sapi  dan EM4,  terhadap waktu optimal pengomposan dan kualitas  pupuk  kandang sesuai dengan SNI 19-7030-2004. Pupuk kandang yang diperoleh dianalisis kadar N, P, K, C-organik, rasio C/N, dan kadar airnya. Hasil analisis dibandingkan dengan SNI 19-7030-2004. Analisis pupuk kandang dilakukan pada  30, hari Hasil analisis  kompos dengan  EM4  lebih efektif dan memerlukan waktu  yang lebih cepat untuk mendekomposisi bahan organik dalam kompos.  Kualitas kompos yang memenuhi SNI 19-7030-2004 (rasio C/N, kadar N, P, K, air, dan C-organik)

    Pengaruh Pengunjung Terhadap Tingkah Laku dan Konsumsi Makan Rusa Totol (Axis-axis) Pada Penangkaran Rusa Totol di Fakultas Peternakan Unhas

    Full text link
    Rusa totol ( axis – axis ) merupakan salah satu spesies yang tinggal di daerah tropis yang disebut Indian Deerpopulasinya sebanyak di temukan di luar habitat aslinya, khusus di penangkaran, Rusa dapat menjadi daya tarik pengunjung di penangkaran, karena penampilannya yang menarik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai juli 2019. Di penangkaran rusa Fakultas Peternakan Unhas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengunjung terhadap  pemberian pakan oleh pengunjung terhadap konsumsi makan dan tingkah laku rusa. Metode pengumpulan data melalui pengamatan langsung di lapangan ( observasi survey ) dengan metode Time Sampling dilakukan terhadap rusa yang berada di penangkaran, wawancara dengan pengunjung serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan yang diberikan oleh pengunjung meliputi kangkung, wortel, sawi.  rumput lapangan, hal ini tidak berpengaruh terhadap tingkah laku dan konsumsi makan rusa, akan tetapi memberikan perubahan pada tingkah laku dan konsumsi makan yang meningkat

    KARAKTERISTIK FISIK BAHAN PAKAN SUMBER PROTEIN DAN SUMBER ENERGI

    No full text
    Sifat fisik bahan merupakan bagian dari kategori karakteristik mutu (besaran yang dapat langsung diamati atau diukur dari bahan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bahan pakan sumber protein dan sumber energi. Penelitian menggunakan analissis deskriptif. Materi yang digunakan yaitu bungkil kedelai, bungkil kelapa, dan tepung rese untuk bahan pakan sumber protein dan pollard, dedak dan jagung giling untuk bahan pakan sumber protein. Parameter yang diukur yaitu KT; kerapatan tumpukan (kg/m3),  KPT; kerapatan pemadatan tumpukan (kg/m3), BJ; berat jenis (kg/m3), dan  ST;sudut tumpukan (o). Hasil penelitian menunnjukkan sifat fisik bahan pakan sumber protein yaitu KT 5507,66 (kg/m3), KPT 5728 (kg/m3), BJ 1483,33(kg/m3), ST 31,03 (o). Sifat fisik bahan pakan sumber protein KT 4613,66( kg/m3), KPT 5205,66 (kg/m3), BJ 3948,33 (kg/m3), ST 32,25 (kg/m3). Kesimpulannya adalah bahan pakan sumber protein lebih tinggi kerapatan tumpukkan dan kerapatan pemadatan tumpukannya menunjukkan lebih volumious daripada bahan pakan sumber energi

    NILAI NUTRISI PAKAN BERBAHAN JERAMI PADI, GAMAL DAN UREA MINERAL MOLASES LIQUID (UMML) DENGAN PREPARASI YANG BERBEDA

    Full text link
    Optimalisasi pemanfaatan jerami padi dalam ransum diupayakan  dengan meningkatkan fermentabilitasnya dalam sistem rumen. Peningkatan fermentabilitas bahan pakan dalam sistem rumen dilakukan dengan menstabilkan populasi mikroba penghasil enzim pencerna karbohidrat struktural. Kajian terhadap Urea Mineral Molases Liquid (UMML) yang menjadi penyedia nitrogen, mineral larut air dan RAC dalam sistem rumen telah dilakukan. Penelitian kali ini mengkaji efektifitas jerami padi yang ditambahkan UMML dan biomassa gamal.  Penelitian diharapkan akan menghasilkan formula yang terbaik sebagai pakan ternak potong dari beberapa perlakuan jerami padi, biomassa gamal dan UMML. Perlakuan terdiri atas P0 = 60% jerami padi + 10 % UMML + 30% biomassa gamal (kontrol, tanpa ada fermentasi bahan); P1 = P0, tapi jerami padi dan UMML bahan dicampur lalu difermentasi, setelah fermentasi selesai baru dicampur dengan biomassa gamal; P2 = seluruh bahan P0 dicampur lalu difermentasi. Kajian terhadap kandungan nutrisi menghasilkan  formula terbaik sementara adalah perlakuan P2 yakni seluruh bahan dicampur lalu difermentasi, ditandai dengan kadar protein tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. 

    EFEK PENAMBAHAN JERUK NIPIS PADA PERFORMA BROILER STARTER YANG DIBERI PAKAN STEPDOWN

    Full text link
    Acidifier merupakan penggunaan asam organik pada pakan atau air minum broiler, tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh acidifier dengan menggunakan jeruk nipis dan asam sitrat terhadap performa brouiler starter yang diturunkan protein pakannya. Penelitian terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan sebagai berikut : P0 (pakan kontrol (tanpa step down)) , P­1 (pakan step down), P2 (pakan step down + asam sitrat sintetis 0,8 %) , P3  (pakan step down + air jeruk nipis  0,4 % (6,9 ml /100g pakan)) P4, (pakan step down + air jeruk nipis  0,8 % (13,8 ml /100g pakan) dan P5 (pakan step down + air jeruk nipis  1,2 % (20,7 ml /100g pakan). Parameter yang diukur adalah performa broiler yang meliputi bobot badan akhir, konsumsi dan konversi pakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata (P<0,05) terhadap performa broiler starter. Berdasarkan Hasil Penelitian dapat disimpulkan bahwa Penurunan protein pakan pada periode starter  dengan penambahan acidifier memberikan efek positif terhadap performa ternak yang ditunjukkan oleh hasil yang sama dengan kontrol

    60

    full texts

    67

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Nutrisi dan Makanan Ternak
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇