Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi
Not a member yet
184 research outputs found
Sort by
FORMULASI DAN UJI FAKTOR PELINDUNG SURYA KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN KOPI ARABIKA (Coffea arabica L.)
Salah satu perlindungan kimiawi yang mengurangi efek paparan sinar matahari dengan mengaplikasikan kosmetik tabir surya. Daun kopi mengandung asam fenolik yaitu senyawa antioksidan yang dapat mengeliminasi radikal bebas, berpotensial sebagai sediaan krim tabir surya. Penelitian ini bertujuan memformulasikan ekstrak etanol daun kopi arabika dalam bentuk krim yang memenuhi standar kosmetika tabir surya dan menentukan nilai faktor pelindung surya (FPS) sediaan tersebut. Serbuk daun kopi arabika dimaserasi dengan pelarut etanol. Sediaan krim m/a dibuat 4 formula dengan memvariasikan jumlah ekstrak yang digunakan 0%; 1,5%; 2% dan 2,5% (yaitu F1, F2, F3 & F4). Evaluasi yang dilakukan meliputi pengujian karakteristik fisik krim secara kualitatif dan penentuan nilai faktor pelindung surya. Hasil penelitian evaluasi karakteristik fisik krim menunjukkan semua formula memenuhi persyaratan. Nilai faktor pelindung surya pada konsentrasi 2,5% yaitu F4 didapat hasil tertinggi dengan nilai FPS 5,54 bersifat proteksi sedang. Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi <0,05 sehingga menandakan adanya perbedaan bermakna antar formula terhadap nilai faktor pelindung surya krim
EFEK ANTIINFLAMASI NANOPARTIKEL KITOSAN-EKSTRAK KERING TERIPANG (Stichopus variegatus) SECARA IN VITRO DAN IN VIVO
Ekstrak teripang mengandung glukosamin yang berpotensi dapat menekan peradangan (inflamasi) dan menyembuhkan osteoarthritis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antiinflamasi secara in vitro dan in vivo dari nanopartikel kitosan-ekstrak kering teripang (Stichopus variegatus). Aktivitas antiinflamasi secara in vitro dilakukan dengan metode denaturasi protein Bovine Serum Albumin (BSA). Aktivitas antiinflamasi secara in vivo dilakukan dengan metode induksi karagenan pada telapak kaki tikus dengan parameter pengukuran edema kaki. Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan galur Sprague-Dawley dan dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok yang diberi nanopartikel kitosan-ekstrak teripang kering dosis 50 mg/KgBB dan 100 mg/Kg BB, kelompok kontrol negatif (aquadest) serta kelompok kontrol positif (natrium diklofenak). Hasilnya menunjukkan bahwa sampel nanopartikel memiliki aktivitas antiinflamasi secara in vitro dengan nilai IC50 sebesar 267,76 bpj. Nanopartikel kitosan-ekstrak teripang kering dosis 50 mg/Kg BB dan 100 mg/KgBB memiliki aktivitas antiinflamasi dengan nilai persentase penghambatan inflamasi secara berturut-turut sebesar 53,37%, dan 49,95 %. Adapun nilai ED50 yaitu sebesar 99,27 mg/KgBB
MODEL LOYALITAS PELANGGAN BERBASIS REPUTASI MEREK DAN KEPUASAN TERHADAP PRODUK FARMASI DI APOTEK KOTA MEDAN, SUMATERA UTARA
Loyalitas pada pelanggan disebabkan oleh pengaruh kepuasan atau ketidakpuasan dengan merek tersebut yang terakumulasi secara terus-menerus.Selain itu, loyalitas mencerminkan komitmen psikologis terhadap merek tertentu. Perilaku pembelian ulang terhadap merek yang sama bisa dikarenakan memang hanya satu-satunya merek yang tersedia, termurah, atau sebab lainnya. Penelitian bertujuan untuk menguji model pengaruh reputasi merek dan kepuasan pelanggan terhadap loyalitas pelanggan. Penelitian mengikuti rancangan penelitian survei non-experimental pada apotek-apotek di kota Medan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel yang diambil dibatasi waktu pengambilan sampel yaitu bulan Januari-Desember 2012. Subyek penelitian yaitu pelanggan yang memiliki wewenang dalam melakukan pembelian di apotek, paling sedikit sekali setiap bulannya dalam selang waktu antara bulan Januari-Desember 2012 melalui PBF X Medan. Analisis data menggunakan uji regresi linier berganda. Sampel yang digunakan berjumlah 98 responden dengan mayoritas adalah wanita, usia 31-40 tahun, pekerjaan asisten apoteker, dan berpendidikan tamat SMA. Hasil analisis regresi berganda pada variabel reputasi merek dan kepuasan pelanggan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan masing-masing sebesar 0,32 dan 0,24 terhadap loyalitas pelanggan produk "X" pada apotek di kota Medan. Model persamaan regresi yang dihasilkan yaitu Y = 11,318 + 0,32 X1 + 0,243 X2. Maknanya adalah Y = loyalitas pelanggan; X1= reputasi merek; dan X2= kepuasan pelanggan. Kesimpulannya adalah reputasi merek dan kepuasan pelanggan secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar 18,4% terhadap loyalitas pelanggan produk "X" pada apotek di kota Medan
INTERAKSI MOLEKULER INHIBITOR DIPEPTIDYL PEPTIDASE-IV (DPP-IV) DARI PROTEIN SUSU KAMBING SECARA IN SILICO SEBAGAI KANDIDAT ANTIDIABETES
Dipeptidyl peptidase-IV (DPP-IV) merupakan salah satu target dalam pengobatan diabetes tipe-2. Beberapa obat golongan gliptin yang tersedia secara komersial seperti sitagliptin, anagliptin, linagliptin, saxagliptin, dan alogliptin secara khusus digunakan sebagai inhibitor DPP-IV untuk pasien diabetes. Saat ini, penggunaan peptida pada protein susu kambing untuk mengobati diabetes telah dilaporkan dalam berbagai percobaan in vitro. Namun, pemahaman tentang interaksi molekuler penghambatan peptida tersebut terhadap DPP-IV masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi mengenai afinitas beberapa molekul peptida tersebut, yaitu MHQPPQPL, SPTVMFPPQSVL, VMFPPQSVL, INNQFLPYPY, dan AWPQYL terhadap makromolekul DPP-IV dengan menggunakan simulasi penambatan molekuler berbasis protein-peptida. Sekuensing peptida terlebih dahulu dilakukan pemodelan dengan menggunakan server PEP-FOLD. Konformasi terbaik dipilih untuk dilakukan studi interaksi terhadap makromolekul DPP-IV dengan menggunakan software HPEPDock. Identifikasi lebih lanjut dilakukan terhadap interaksi molekuler yang terbentuk dengan menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2020. Berdasarkan hasil dari penambatan molekuler berbasis protein-peptida diperoleh bahwa molekul peptida INNQFLPYPY memiliki afinitas yang paling baik terhadap makromolekul DPP-IV, yaitu dengan nilai energi bebas ikatan 923,46 kJ/mol. Dengan demikian, peptida tersebut diprediksi dapat digunakan sebagai kandidat inhibitor DPP-IV
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENERAPAN CLINICAL PATHWAY PADA PASIEN SECTIO CAESAREA DI RSUD SELE BE SOLU KOTA SORONG
Persalinan secara sectio caesarea semakin meningkat di Indonesia. Pelayanan medis dan terapi pada pasien sectio caesarea yang bervariasi dapat menimbulkan outcome terapi yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi biaya perawatan dan lama rawat inap pasien sehingga perlu adanya penerapan clinical pathway karena dapat meminimalkan biaya perawatan dan menurunkan lama rawat inap pasien di rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian penerapan clinical pathway dan efektivitas biaya penerapan clinical pathway pada pasien sectio caesarea di RSUD Sele Be Solu Kota Sorong. Rancangan penelitian berupa deskriptif analitik retrospektif dan jenis penelitian farmakoekonomi yaitu analisis efektivitas biaya pada pasien rawat inap sectio caesarea dengan perspektif rumah sakit (provider). Pada penelitian ini, sampel yang diperoleh dilakukan analisis kesesuaian penerapan clinical pathway berdasarkan kriteria-kriteria yang terdapat pada clinical pathway rumah sakit sehingga diperoleh kelompok sesuai dan tidak sesuai clinical pathway. Data yang diambil pada sampel adalah biaya medis langsung dan length of stay pasien sectio caesarea pada periode Januari-Juni 2019 kemudian dilakukan analisis efektivitas biaya penerapan clinical pathway dengan parameter Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Terdapat 74 pasien yang masuk dalam subyek penelitian. Jumlah pasien yang sesuai clinical pathway 1 pasien (1,35 %) dan yang tidak sesuai clinical pathway sebanyak 73 pasien (98,65 %). Rata-rata biaya medis langsung pada kelompok sesuai Rp 20.544.809 dan kelompok tidak sesuai clinical pathway Rp 14.316.469 serta diperoleh ICER sebesar Rp 8.304.453/hari. Disimpulkan bahwa penerapan clinical pathway sectio caesarea di RSUD Sele Be Solu dapat menambah biaya sebesar Rp 8.304.453/hari tiap penambahan satu hari length of stay
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN BIOAUTOGRAFI EKSTRAK DAUN RAMBUSA (Passiflora foetida L) TERHADAP Pseudomonas aeruginosa-Klebsiella pneumoniae
Daun rambusa (Passiflora foetida L.) mempunyai khasiat sebagai antioksidan, antidiabetes dan antikolesterol, akan tetapi masih belum banyak informasi ilmiah tentang potensi daun rambusa sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa aktif dan aktivitas antibakteri dari ekstrak daun rambusa secara difusi. Daun rambusa diekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh kemudian diidentifikasi kandungan golongan senyawa aktif menggunakan KLT-Bioautografi dan diuji aktivitas antibakteri dengan konsentrasi 20%, 40% dan 60% menggunakan metode difusi agar. Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol 0,1% dan kontrol negatif menggunakan DMSO 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun rambusa efektif menghambat aktivitas bakteri Klebsiella pneumonia dan Pseudomonas aeruginosa. Konsentrasi ekstrak yang paling besar zona hambatnya yaitu konsentrasi 60% yang dikategorikan kuat. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode bioautografi kontak hasilnya menunjukkan terdapat bercak pada kromatogram KLT yang menghasilkan zona hambat. Karakterisasi bercak dilakukan dengan penampak bercak AlCl3 dan diduga bahwa bercak tersebut flavonoid.
POTENSI INFUSA DAUN OKRA (Abelmoschus esculentus L. Moench) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT-INDUKSI ALOKSAN
Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Kandungan kimia pada tanaman okra di antaranya 67,50% α-selulosa, 15,40% hemiselulosa dan flavonoid yang berefek antidiabetes. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi infusa daun okra terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit (Mus musculus) yang diinduksi aloksan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan 20 ekor mencit jantan berusia tiga bulan yang diinduksi diabetes menggunakan aloksan dan dibagi ke dalam lima kelompok. (1) Kelompok kontrol negatif, diberi aquades, (2) Kelompok kontrol positif, diberi glibenklamide dosis 3 mg/KgBB, dan kelompok (3-5) diberi infusa daun okra dengan dosis 0,2, 0,4, dan 0,6 mL/hari selama 14 hari. Pengukuran kadar glukosa dilakukan setelah 14 hari perlakuan menggunakan glukometer (Easy Touch® GCU). Analisis data menggunakan uji One Way ANOVA dengan tingkat signifikansi 95% (p=0,05). Hasil penelitian menunjukkan infusa daun okra dosis 0,2, 0,4, dan 0,6 mL/hari menurunkan kadar glukosa darah namun tidak bermakna secara statistik p=0,990 (p>0,05). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian infusa daun okra dosis 0,2, 0,4, dan 0,6 mL/hari berpotensi menurunkan kadar glukosa darah mencit terinduksi aloksan tetapi tidak signifikan
HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP OUTCOME KLINIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS-HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH BANTUL
Diabetes melitus (DM) tipe 2 terdapat lebih dari 75% penderita kategori dewasa memiliki komplikasi dengan hipertensi, hal tersebut harus diwaspadai karena dapat meningkatkan resiko kematian 7,2 kali lipat. Persepsi terhadap penyakit yang diderita adalah salah satu faktor dari keberhasilan terapi yang dapat membuat kadar gula dan tekanan darah tetap terkontrol sehingga resiko kematian dapat dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi dengan outcome klinis pasien DM-hipertensi. Metode penelitian ini observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini merupakan pasien diabetes melitus dengan hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi yang meliputi pasien dewasa laki-laki dan perempuan, mendapat terapi lebih dari atau sama dengan satu obat antidiabetik oral dan antihipertensi, serta bersedia mengikuti penelitian dengan menandatangani informed consent. Pengambilan data persepsi menggunakan kuesioner B-IPQ, dan data rekam medis untuk mendapatkan data kadar gula darah sewaktu dan tekanan darah sebagai data keberhasilan terapi. Hasil penelitian dari 73 pasien terdapat 38 orang (52,1%) memiliki persepsi yang positif dan 35 orang (47,9%) memiliki persepsi yang negatif. Ada 31 orang (42,5%) outcome klinisnya terkontrol dan ada 42 orang (57,5%) tidak terkontrol. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan persepsi dengan outcome klinis dengan nilai P value 0,948. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara persepsi dengan outcome klinis pasien DM-hipertensi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN JARONG (Stachytarpheta indica) DAN BATANG CENTE (Lantana camara)
Penggunaan tanaman obat sebagai sumber senyawa antioksidan semakin meningkat. Beberapa tanaman yang telah dilaporkan sebagai sumber senyawa antioksidan adalah daun jarong (Stachytarpheta indica) dan batang cente (Lantana camara). Namun, belum ada penelitian yang melaporkan kombinasi kedua tanaman tersebut sebagai sumber antioksidan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi ekstrak etanol daun jarong dan batang cente terhadap aktivitas antioksidannya. Aktivitas antioksidan in vitro berdasarkan pada metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Penapisan fitokimia dan analisis indeks kombinasi juga dilakukan untuk menentukan efek kombinasinya. Semua ekstrak etanol tunggal dan kombinasi menunjukkan aktivitas antioksidan. Kombinasi ekstrak etanol daun jarong dan batang cente dalam perbandingan 1:2 memberikan aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 18,86 µg/mL. Penapisan fitokimia menunjukkan bahwa senyawa steroid, tanin, flavonoid, dan fenolik ditemukan pada kedua ekstrak. Alkaloid, kuinon, dan saponin hanya ditemukan dalam ekstrak daun jarong. Sementara itu, kumarin hanya ditemukan dalam ekstrak batang cente. Kombinasi ekstrak etanol menunjukkan efek sinergis ringan-sedang sampai mendekati aditif dengan nilai CI antara 0,7723-0,9607. Oleh karena itu, kombinasi ekstrak dapat meningkatkan aktivitas antioksidannya
ANALISIS KADAR FLAVONOID TOTAL TEMPE KEDELAI SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL
Tempe adalah makanan tradisional hasil olahan fermentasi yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, yang pada umumnya dibuat dari kedelai (Glycine max (L.) Merr.). Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar penjualan tempe terbesar di Asia. Tempe bermanfaat sebagai antioksidan, antibakteri, antikanker, antihaemolitik, antialergi, antiinfeksi dan hepatoprotektor. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa tempe kedelai mengandung senyawa flavonoid. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar flavonoid total yang terkandung dalam tempe kedelai. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan pereaksi NaOH, H2SO4, dan Wilstater Cyanidin. Analisis kuantitatif dilakukan secara spektrofotometri Visibel, dimana kuersetin digunakan sebagai standar pembanding. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum 439,5 nm dengan operating time 30 menit. Hasil penelitian diperoleh kadar flavonoid total sebesar 183,48± 3,91 mgQE/100 g tempe kedelai dan 4,07± 0,09 mgQE/100 g biji kedelai dengan Relative Standard Deviation 2,13% - 2,21%