Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi
Not a member yet
184 research outputs found
Sort by
EFFERVESCENTEKSTRAK KERING KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostanaL.) PERBANDINGAN PENGGUNAAN ASAM SITRAT DAN TARTRAT TERHADAP SIFAT FISIK GRANUL
Kulit buah manggis kaya akan xanthon yang bersifat antioksidan. Agar penggunaannya lebih praktis dibuatlah dalam sediaan granul effervescent.Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan penggunaan asam sitrat, asam tartrat, dan kombinasi keduanya terhadap sifat fisik granul effervescent ekstrak kulit buah manggis. Ekstrak kering kulit buah manggis dimaserasi dengan air, setelah itu dibuat serbuk dengan spray drying, kemudian serbuk kering yang dihasilkan dibuat granul effervescent secara granulasi basah menggunakan sumber asam berbeda-beda yaitu asam sitrat(FI), asam tartrat (FII), kombinasi asam sitrat : asam tartrat (1:2) (FIII) dalam konsentrasi 30%. Evaluasi granul meliputi uji organoleptis, susut pengeringan, sifat alir, distribusi ukuran partikel, waktu melarut, uji pH dan indeks kompresibilitas. Hasil evaluasi waktu melarut diperoleh: FI 3’2; FII 3’34; dan FIII 4’20. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan asam sitrat sebagai sumber asam meningkatkan sifat fisik granul yaitu waktu melarut granul effervescent ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) menjadi lebih cepat. Kata Kunci: Buah Manggis (Garcinia mangostana L.), Granul Effervescent, Asam Sitrat, Asam Tartra
FORMULASI GEL MENGGUNAKAN SERBUK DAGING IKAN HARUAN (Channa striatus) SEBAGAI PENYEMBUH LUKA
Daging ikan haruan (Channa striatus) dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan luka karena mengandung protein, asam amino esensial, lemak dan asam lemak yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini ialah membuat gel yang mengandung serbuk daging ikan haruan sebagai penyembuh luka. Pada penelitian ini digunakan serbuk daging ikan haruan (Channa striatus) sebagai zat aktif sebanyak 1 gram pada formula 1 dan 2 gram pada formula 2. Serbuk daging ikan haruan dibuat suspensi dengan ukuran partikel nanometer dengan metode gelasi ionik menggunakan kitosan dan natrium tripolifosfat, kemudian dibuat menjadi bentuk sedian gel dengan menggunakan gelling agent HPMC. Suspensi yang dihasilkan dilakukan karakterisasi fisika dan kimia. Hasil karakterisasi suspensi formula 1 dan formula 2 adalah sebagai berikut : ukuran partikel berturut-turut 491,8 - 665,5 nm, 481,8 - 828,1 nm; indeks polidispersitas 0,512, 0,456; nilai potensial zeta (+)29,15mV, (+)29,35mV; kedua formula mempunyai partikel berbentuk sferis. Sediaan gel yang dihasilkan dievaluasi aktivitas penyembuhan luka secara in vivo. Dari hasil uji in vivo sediaan gel serbuk daging ikan haruan dapat digunakan sebagai penyembuh luka. Kata Kunci: gel, gelasi ionik, haruan (Channa striatus), kitosan, natrium tripolifosfat, luka
FORMULASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI LOTION MINYAK ATSIRI BUAH ADAS (Foeniculum vulgare Mill)
Buah adas mengandung minyak atsiri antara lain anethole, fenchone dan metil chavicol. Senyawa anethole dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Gram Positif dan Gram Negatif. Penelitian ini bertujuan untuk membuat lotion minyak atsiri dari buah adas dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Penelitian ini dilakukan untuk membuat lotion menggunakan minyak atsiri buah adas yang diperoleh dari destilasi uap air dengan konsentrasi 1, 5, dan 10% (Formula I, II dan III). Kemudian lotion tersebut diuji parameter fisik dan ditentukan aktivitas antibakterinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri, sediaan lotion yang dibuat memiliki daya lekat dan viskositas semakin rendah. Variasi konsentrasi minyak atsiri tidak memberikan pengaruh pada sifat organoleptis, pH dan kestabilan lotion. Diketahui pula bahwa semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri pada sediaan lotion maka semakin tinggi daya sebar dan diameter zona hambatnya terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureusdan Pseudomonas aeruginosa. Minyak atsiri buah adas memiliki aktifitas antibakteri setelah dibuat dalam sediaan lotion meskipun lemah. Formula yang menunjukkan aktivitas antibakteri yang paling tinggi adalah formula III dengan konsentrasi 10% minyak atsiri
EFEK HEPATOPROTEKTOR FRAKSI ETIL ASETAT DAUN Sprague Dawley SANGITAN (Sambucus canadensis L.) PADA TIKUS
Daun sangitan secara tradisional telah digunakan sebagai obat penyakit hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek fraksi etil asetat daun sangitan sebagai hepatoprotektor melalui pengukuran SGOT dan SGPT pada tikus yang diinduksi CCl4. Pengujian dilakukan selama 11 hari terhadap 24 ekor tikus yang dibagi menjadi 6 kelompok.Pengukuran kadar SGOT dan SGPT dilakukan pada hari ke-11 dengan spektrofotometer klinis. Kontrol normal diberi minyak zaitun secara oral. Kontrol positif sebagai pembanding diberikan Cursil®. Kontrol negatif yang diinduksi dengan karbon tetraklorida dosis 0,4 mg/g BB dan 3 kelompok perlakuan yang diberi fraksi etil asetat dengan dosis berturut- turut 0,9650, 1,93 dan 3,86 mg/kg BB. Hasil uji Anova satu arah menunjukkan pemberian perlakuan berpengaruh terhadap SGPT dan SGOT. Dapat disimpulkan bahwa pemberian fraksi etil asetat daun sangitan dapat memberikan efek hepatoprotektor
ANALISIS PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SLEMAN YOGYAKARTA PERIODE APRIL 2009
Pelaksanaan pengobatan yang belum rasional selama ini telah memberikan dampak negatif berupa pemborosan dana masyarakat, efek samping yang berupa resistensi, interaksi obat yang berbahaya yang menurunkan mutu pengobatan dan mutu pelayanan kesehatan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis gambaran secara umum penggunaan obat pada pasien rawat jalan di RSUD Sleman Yogyakarta periode April 2009. Penelitian bersifat deskriptif non eksperimental. Data diambil secara concurrent berupa resep pasien rawat jalan yang memeriksakan diri di poliklinik, pengamatan langsung pasien mulai konsultasi dengan dokter sampai mendapatkan obat, dan obat-obat kunci (drug of choice) yang dianalisis menggunakan indikator penggunaan obat WHO 1993. Sampel diambil dengan menggunakan metode Systematic Random Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 240 pasien rawat jalan. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh rata-rata jumlah item obat yang diresepkan per lembar resep sebesar 2,16 R/, peresepan obat dengan nama generik sebesar 63,58%, peresepan antibiotika diperoleh sebesar 24,09%, peresepan sediaan injeksi 0,19%, dan peresepan obat yang sesuai dengan formularium rumah sakit sebesar 99,81%. Hasil penelitian indikator pelayanan pasien, diperoleh hasil bahwa rata-rata waktu konsultasi pasien dengan dokter adalah 7 menit 49 detik, rata-rata waktu dispensing obat adalah 10 menit 44 detik, obat yang benar-benar diserahkan sebesar 99,04%, obat yang dilabel dengan benar sebesar 98,06%, dan pasien yang paham akan cara penggunaan obat yang benar sebesar 84,42%. Dari hasil penelitian dengan menggunakan indikator fasilitas kesehatan diperoleh hasil bahwa di RSUD Sleman tersedia formularium rumah sakit dan ketersediaan obat obat kunci sebesar 100,00%
PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN DIURETIK PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI INSTALASI RAWAT INAP RSU DR. SAIFUL ANWAR MALANG
Stroke iskemik adalah sindrom yang berupa gejala hilangnya fungsi sistem saraf pusat yang berkembang pesat dapat karena atherothrombotis atau emboli, yang keduanya dapat mengganggu aliran darah serebral (CBF). Pemilihan terapi antihipertensi yang sesuai pada pasien stroke sangat berpengaruh dalam keberhasilan terapi yang dilakukan. Diuretik efektif untuk mengurangi tekanan intrakranial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat diuretik pada pasien stroke iskemik di RSU Dr Saiful Anwar Malang dan meninjau hubungan terapeutik terkait jenis obat, dosis, cara pemberian, interval, frekuensi, dan durasi dengan data klinis dan data laboratorium pasien. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dan data dikumpulkan secara retrospektif pada pasien stroke iskemik dari 1 Juli hingga 31 Desember 2012. Profil diuretik tunggal yang digunakan adalah mannitol. Kombinasi diuretik yang ditemukan adalah furosemid dan spironolacton. Penggunaan terapi diuretik pada pasien dengan stroke iskemik sudah sesuai dengan pedoman
MENINGKATKAN KERJA FUNGSI GINJAL DENGAN KONSUMSI TEPUNG GANYONG (Canna edulis Kerr.)
Gout adalah peradangan akibat adanya endapan kristal asam urat pada sendi dan jari. Ganyong dengan kandungan karbohidrat yang tinggi dapat meningkatkan fungsi kerja ginjal yang diujikan pada tikus yang mengalami hiperurisemia dengan melakukan diet fiber. Hiperurisemia adalah keadaan di mana terjadi peningkatan asam urat di dalam darah darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh konsumsi tepung ganyong pada tikus yang menderita penyakit gout terhadap fungsi ginjal. Penetapan kadar kreatinin plasma tikus menggunakan metode Jaffe (Creatinine FS). Perlakuan pemberian suspensi tepung ganyong tersebut dilakukan pada hari ke-1, 3,dan 7. Data kadar kreatinin rata-rata antar kelompok perlakuan dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskall-Wallis (non parametrik) dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung ganyong selama 7 hari dapat menurunkan kadar kreatinin rata-rata pada tikus yang diinduksi dengan kalium oksonat (p<0,05). Hal ini ditunjukan oleh nilai AUC kelompok pemberian tepung ganyong dosis 0,75; 1,5; 2,5 g/kgBB (p.o.) adalah secara berturut-turut sebesar 26,67 ± 3,96, 28,10 ± 4,80, dan 23,41 ± 4,84 (p<0,05),Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung ganyong selama 7 hari dapat menurunkan kadar kreatinin plasma tikus yang diinduksi dengan kalium oksonat, lebih lanjut dapat memperbaiki fungsi kerja ginjal
EFEK KEMOPREVENTIF DAN ANTIHEMATOTOKSIK MINYAK BIJI JINTEN HITAM (MBJH)
Senyawa 7,12-DMBA-3,4-diol-1,2 epoksida (DMBA-DE) disamping bersifat karsinogenik juga terbukti menekan aktivitas sumsum tulang dan spleenosit sehingga diduga dapat menurunkan jumlah netrofil, monosit dan limfosit darah tepi. Biji jinten hitam (BJH) secara empiris telah digunakan sebagai komponen jamu dengan berbagai macam indikasi, namun mekanisme kerja kandungan zat aktif BJH belum semua diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian 0,25, 2,5 dan 5 ml/kgbb/hari MBJH selama dan sebelum induksi 10x20 mg/kgbb DMBA terhadap persentase monosit & netrofil darah tepi tikus Sprague dauley. Pada penelitian ini digunakan 80 ekor tikus SD. Hewan uji dibagi dalam 8 kelompok yang masing -masing terdiri dari 10 ekor. Kelompok I (kontrol normal) diberi akuabides dan makanan standar, kelompok II , III dan IV sebagai kelompok perlakuan dengan pemberian MBJH 0.25, 2.5 dan 5 ml/kgbb/hari dan diinduksi DMBA. Kelompok V dan VI sebagai kontrol positif I (diberi timokuinon 50 mg/kgBB) dan sebagai kontrol II (diberi tamoksifen). Kelompok VII sebagai kelompok sakit hanya diinduksi DMBA 10x20mg/kgbb selama 5 pekan. Pada minggu ketiga kelompok I - VII mulai di induksi dengan 20 mg/kgBB DMBA, 2x/pekan selama lima pekan. Kelompok VIII sebagai kelompok kontrol pelarut, hewan uji mendapatkan makan minum standar dan larutan minyak jagung yang diberikan sebagaimana pemberian DMBA Dilakukan analisis statistik perbedaan rata-rata antar kelompok dengan ANAVA dan post hoc dengan tingkat kepercayaan p<0,05 untuk persentase komponen lekosit. Hasil penelitian menunjukkan MBJH bersifat kemopreventif dan hematoprotektor. Pada kelompok yang mendapatkan MHBJH memiliki per sentase jumlah monosit, netrofil dan limfosit lebih tinggi dari kelompok DMBA. Persentase limfosit, netrofil, dan monosit kelompok MBJH setara dengan kelompok timokuinon (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa MBJH terbukti bersifat kemopreventif dan dapat berlaku sebagai hematoprotektor terhadap karsinogen DMBA
EKSTRAKSI GELATIN DARI TULANG IKAN TENGGIRI MELALUI PROSES HIDROLISIS MENGGUNAKAN LARUTAN BASA
Gelatin merupakan suatu protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen kulit dan tulang hewan. Penggunaan gelatin sangat luas dalam bidang industri pangan, non pangan dan farmasi. Umumnya gelatin diperoleh dari tulang atau kulit hewan mamalia, seperti sapi dan babi. Hal ini yang menjadikan gelatin dari tulang ikan tenggiri sebagai bahan alternatif untuk menghasilkan gelatin halal. Penelitian ini bertujuan membuat ekstrak gelatin dari tulang ikan tenggiri dengan menggunakan larutan NaOH konsentrasi 1 -5%. Parameter analisis yang diuji adalah analisis proksimat meliputi kadar air menggunakan metode thermogravimetri, kadar abu mengunakan metode drying ash, kadar nitrogen total dan kadar protein menggunakan metode Kjeldahl. Hasil penelitian diperoleh untuk kadar air sebesar 7,9568%, kadar abu 1,9444%, kadar N total 4,3356% dan kadar protein 27,097%. Dan rendemen terbanyak dari ekstrak gelatin diperoleh pada konsentrasi NaOH 5% yaitu 7,93%
PENGARUH PEMBERIAN SEDIAAN CURCUMA DALAM SUSU DAN EMULSI TERHADAP PARAMETER FARMAKOKINETIKA PARASETAMOL
Penggunaan lebih dari satu macam obat dapat menimbulkan terjadinya interaksi. Pemberian multivitamin dan susu yang mengandung kurkumin, apabila diberikan dengan parasetamol secara bersamaan dimungkinkan dapat menimbulkan interaksi yang dapat berpengaruh terhadap parameter farmakokinetika parasetamol. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian curcuma emulsi dan susu curcuma yang mengandung kurkumin terhadap parameter farmakokinetika parasetamol pada tikus jantan wistar. Jenis metode penelitian yang digunakan yaitu jenis eksperimental dengan rancangan penelitian posttest only control group design dan metode analisis data yang digunakan adalah one way anova. Parameter farmakokinetika pada tiap kelompok mengalami perubahan. Nilai Cpmax untuk kelompok I dengan pemberian parasetamol peroral dosis 150 mg/kgBB yaitu 4,129 µg/ml, kelompok II dan III dengan pemberian parasetamol dosis 150 mg/kgBB dan curcuma emulsi dosis 0,9 mg/kgBB dan 1,8 mg/kgBB yaitu 3,904 µg/ml dan 3,894 µg/ml, pada kelompok IV dan V dengan pemberian parasetamol dosis 150 mg/kgBB dan susu curcuma dosis 0,9 mg/kgBB dan 1,35 mg/kgBB yaitu 3,942 µg/ml dan 3,916 µg/ml. Nilai klirens mengalami penurunan, yaitu pada kelompok I 88 ml/menit, pada pemberian curcuma emulsi kelompok II dan III 87 ml/menit dan 84,8 ml/menit, pada kelompok IV dan V dengan pemberian susu curcuma yaitu 87 ml/menit dan 85,2 ml/menit. Penurunan klirens menyebabkan terjadinya peningkatan nilai AUC kelompok II, III, IV dan V. Hasil secara statistika menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (p>0.05).