JURNAL GALUNG TROPIKA
Not a member yet
    401 research outputs found

    Perbedaan Lama Perendaman Sari Belimbing Wuluh terhadap pH, Kadar Air, dan Daya Ikat Air Daging Dada Itik Magelang

    No full text
    Duck is one type of waterfowl that has a higher nutritional content than chicken. The high nutritional value causes the duck meat to be easily damaged perishable food due to the high water content, the pH value is close to neutral and sufficient food is available for microbes. An alternative effort is needed for natural ingredients that are safe but can inhibit microbial growth in duck meat. One of the natural ingredients that can be used is star fruit (Averrhoa bilimbi L.) because it has a high acid content. This study aims to determine the difference in the duration of soaking Magelang duck meat with starfruit juice on the pH value, water holding capacity and water content. The research method was carried out using a completely randomized experimental design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, and using a 40% concentration of starfruit juice with a soaking time of 0, 20, 40, 60 minutes. The data obtained were analyzed by analysis of variance and if different results were obtained, it was continued with the Duncan Multiple Rang Test (DMRT) further test. The results showed that the immersion time for 20-60 minutes can lower the pH value (5,83-4,67) and water content (67,05-63,68%), but had no effect on water holding capacity (48,47-54,63%). It is concluded that the immersion time of 60 minutes with starfruit juice with a concentration of 40% in can be used as a method of preserving Magelang duck breast meat.  Itik merupakan salah satu jenis unggas air yang memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam. Kandungan gizi yang tinggi pada daging itik menyebabkan daging lebih mudah rusak (perishable food) karena tersedia cukup makanan untuk mikroba sehingga daging itik tidak dapat disimpan telalu lama. Upaya alternatif untuk menghambat aktivitas mikroba dalam daging itik yaitu penambahan bahan alami yang aman pada daging. Salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan adalah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) karena memiliki kandungan asam yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama perendaman daging itik Magelang dengan sari belimbing wuluh terhadap nilai pH, daya ikat air dan kadar air. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan, serta menggunakan konsentrasi sari belimbing wuluh 40% dengan lama perendaman 0, 20, 40, 60 menit. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) dan apabila diperoleh hasil yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan Multiple Rang Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman selama 20-60 menit menurunkan nilai pH (4,30-4,67) dan kadar air (63,83-64,07%) menurun dengan waktu 40-60 menit, namun tidak mempengaruhi daya ikat airnya (54,63-48,47%). Lama perendaman 40-60 menit dengan sari belimbing wuluh dengan konsentrasi 40% dapat digunakan sebagai alternatif metode pengawetan pada daging dada itik Magelang

    Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Usaha Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Di Kabupaten Pangkep

    No full text
    Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei), one of the leading commodities in the fisheries sector in Pangkep district. Vaname shrimp cultivation is done traditionally and intensively. Vannamei shrimp production and productivity fluctuated. Production inputs influence these fluctuations. This research is to analyse the level of production and the factors that affect the productivity of vaname shrimp farming in Pangkep district. Determining of the respondent is this research is done by purposive. The method is descriptive analysis and Cobb-Douglas production function or double log regression. The study research shows that the average production of Vaname shrimp farming in Pangkep district was 3,553.06 kg/cycle, productivity was 1,724.96 kg/ha/cycle with a middle land area of 1.58 ha. Productivity of Vaname shrimp positive influenced by variable of land area, seeds, fertilizer of urea, fertilizer of phonska, feed and labour.Udang Vaname (Litopenaeus  vannamei), salah satu komoditas unggulan sektor perikanan di kabupaten Pangkep. Budidaya udang vaname dilakukan secara tradisional dan intensif. Produksi dan produktivitas udang vaname mengalami fluktuasi. Fluktuasi tersebut dipengaruhi oleh input produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat produksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usaha budidaya udang vaname di kabupaten Pangkep. Penentuan responden dilakukan secara purposive. Metode analisis yang digunakan yaitu : analisis deskriptif dan fungsi produksi Cobb-Douglas atau regresi double log. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi usaha budidaya udang Vaname di kabupaten Pangkep sebesar 3.553,06 kg/siklus, produktivitas 1.724,96 kg/ha/siklus dengan luas lahan rata-rata sebesar 1,58 ha. Produktivitas usaha budidaya udang vaname di kabupaten Pangkep dipengaruhi oleh variabel luas lahan, bibit/benur udang vaname, pupuk urea, pupuk phonska, pakan dan tenaga kerja. &nbsp

    Transportasi Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Dengan Menggunakan Bahan Alami Ekstrak Lempuyang (Zingiber zerumbet)

    No full text
    Using natural anesthetic materials to transport tilapia fry is crucial for finding sustainable alternatives to commonly used chemicals. This study aims to demonstrate the effectiveness of lempuyang extract (Zingiber zerumbet) in transporting tilapia fry by increasing density and transportation duration while ensuring the well-being of the fry, as indicated by the survival rate. The study results suggest that Z. zerumbet can safely transport tilapia fry at a density of up to 145 fish/L, maintaining stable glucose levels and normal hematocrit. The survival rates remained consistently high at 99-100% with no significant differences. In conclusion, the study suggests that using Z. zerumbet at 5 mL/L in the transportation medium can support a density of 145 fish/L for up to 15 hours, making it an effective natural anesthetic for transporting fish fry.Pemanfaatan bahan anastesi alami untuk transportasi benih ikan nila sangat penting dilakukan, sebagai upaya menghasilkan bahan pengganti untuk penggunaan bahan kimia yang umum digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan ekstrak lempuyang (Zingiber zerumbet) untuk transportasi benih ikan nila baik pada efikasi peningkatan kepadatan maupun lama waktu transportasi, juga pada kondisi benih pasca transportasi dilihat dari sintasan. Penelitian ini menggunakan benih ikan nila berukuran (3-5 cm dan 5-7 cm). Hasil menunjukkan pemberian Z. zerumbet aman untuk transportasi hingga kepadatan 145 ekor/L, dilihat adanya penekanan glukosa dan hematokrit yang normal. Uji lanjut pemeliharaan tingkat kelangsungan hidup tetap tinggi 99-100% dan tidak berbeda nyata. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan aplikasi Z. zerumbet 5 mL/L pada media transportasi dapat digunakan untuk meningkatkan kepadatan hingga 145 ekor/L dengan lama waktu hingga 15 jam. Kemudian, aplikasi ini dapat digunakan pada ukuran benih ikan 3-5 cm; 5-7 cm. Penggunaan Z. zerumbetberpeluang dikembangkan sebagai anastesi alami untuk ikan

    Pengelolaan Perkebunan Berkelanjutan yang Berkearifan Lokal di Lahan Basah

    No full text
    Wetlands are essential in economic and ecological systems, especially in tropical regions. Economically, this land has the potential to be used for agriculture, fishery plantations, and animal husbandry. Ecologically, wetlands are ecosystems that are rich in biodiversity and function as carbon sinks, natural water filters, and providers of natural resources for surrounding communities. The management approach must involve not only modern technology but also local wisdom to realize sustainable plantations in wetlands. Local practices in wetland management that support sustainable plantations include local knowledge in choosing adaptive commodities, fire prevention, agroforestry systems, togetherness in society, rituals, traditions and community beliefs, cooperation in communities, and customary law. The wisdom values contained in this practice include respect for the environment, collaboration within the community, preservation of heritage and culture, adaptability and resistance to change, spiritual values, and respect for ancestors.Lahan basah memiliki peran penting dalam sistem perekonomian dan ekologi khususnya di kawasan tropis. Secara ekonomi lahan ini berpotensi dimanfaatkan untuk pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Secara ekologis lahan basah adalah ekosistem yang kaya akan keanekaragaman hayati dan berfungsi sebagai penyerap karbon, penyaring air alami, serta penyedia sumber daya alam bagi masyarakat sekitar. Untuk mewujudkan perkebunan di lahan basah yang berkelanjutan, pendekatan pengelolaan yang dilakukan tidak hanya melibatkan teknologi modern tetapi juga harus memperhatikan kearifan lokal. Praktek-praktek lokal dalam pengelolaan lahan basah yang mendukung perkebunan berkelanjutan antara lain pengetahuan lokal dalam memilih komoditas yang adaptif, pengetahuan tentang pencegahan kebakaran, sistem agroforestri, sifat kebersamaan dalam masyarakat, ritual, tradisi dan kepercayaan masyarakat, kerjasama dalam komunitas dan hukum adat. Nilai-nilai kearifan yang terkandung dalam praktek tersebut antara lain penghormatan terhadap lingkungan, kerjasama dalam komunitas, pelestarian warisan dan budaya, kemampuan beradaptasi dan ketahanan terhadap perubahan, nilai-nilai spriritual serta penghormatan terhadap leluhur

    Uji Viabilitas, Vigor, dan Pendugaan Aksi Gen Varietas Tebu (Saccharum Officinarum L.) Berdasarkan Karakter Agronomi

    No full text
    Sugarcane seeding is a conventional initial seed stage that begins based on the juvenile phase for the formation of the three main components of the plant, namely roots, stems, and leaves. Conventional sugar cane nurseries use explants from either bud chips or mules to grow buds. Initial testing is based on viability characteristics, and seed vigor index. In addition, explant growth is influenced by the genetic aspects of each material used. This research aims to (1) determine the viability, and index of sugarcane seeds, and (2) estimate the action of genes that influence each observed character. This research was carried out in June – July 2023. The research used a complete randomized block design with the treatment of sugar cane varieties, namely AMS Agribun (V1), AAS Agribun (V2), and Kidang Kencana (V3). The results showed that the agronomic characters for the number of leaves, and leaf length were significantly different from ? 5%, with standard deviation, and coefficient of variation values, respectively, reaching 0.0697, and 21.144 for the number of leaves, and 4.743, and 29.776 for leaf length characters. The characters for the number, and length of leaves have skewness, and kurtosis values of 0.816, and (-0.3079), and 0.416, and (-0.811), respectively. The AMS Agribun variety showed the best performance for plant height, leaf length, leaf greenness, and number of roots. The AAS Agribun variety showed the best performance for the character's number of leaves, leaf width, and leaf area. Meanwhile, the Kidang Kencana variety showed the best performance regarding vigor index, growth speed, germination capacity, and root length

    Pemanfaatan Kapur Cangkang Keong Mas pada Air Rawa Media Pemeliharaan Ikan Lele dengan Model Budikdamber

    No full text
    One of the currently developing urban farming models is budikdamber, which is a mutually beneficial combination of aquaculture and hydroponic systems with a bucket as a medium for cultivation. This research aims to find out the best dosage of golden snail shells lime for increasing the swamp water pH for rearing catfish (Clarias sp.) and kale using the budikdamber model. This research applied a completely randomized design with six treatments and three replications. The dosages of golden snail shells lime used as treatment consist of 0.00 mg L-1 equivalent to CaO (P0), 10 mg L-1 equivalent to CaO (P1), 20 mg L-1 equivalent to CaO (P2), 30 mg L-1 equivalent to CaO (P3), 40 mg L-1 equivalent to CaO (P4) and 50 mg L-1 equivalent to CaO (P5). The results of this study indicate that the best dose of golden snail shell lime is 20 mg L-1 equivalent to CaO (P2), which can optimize the swamp water pH from 4.80 to 6.78, survival rate 84 %, absolute weight growth of 18.44 g, absolute length growth of 6.15 cm and feed efficiency 132.49 %, and the total weight of the kale plant 11.33 g.  Satu dari beberapa model urban farming yang berkembang yaitu budikdamber, merupakan kombinasi sistem akuakultur dengan media ember sebagai wadah budidaya dan hidroponik yang saling menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis terbaik kapur cangkang keong mas dalam upaya meningkatkan pH air rawa lebak terhadap pemeliharaan ikan lele (Clarias sp.) dengan model budikdamber budidaya ikan dengan tanaman kangkung. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan perbedaan dosis kapur cangkang keong mas yaitu 0,00 mg L-1 setara CaO (P0), 10 mg L-1 setara CaO (P1), 20 mg L-1 setara CaO (P2), 30 mg L-1 setara CaO (P3), 40 mg L-1 setara CaO (P4) dan 50 mg L-1 setara CaO (P5). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dosis terbaik pada pemberian kapur cangkang keong mas yaitu dosis 20 mg L-1 setara CaO (P2), yang mampu mengoptimalkan pH air rawa lebak 4,80 menjadi 6,78, kelangsungan hidup 84 %, pertumbuhan bobot mutlak 18,44 g, pertumbuhan panjang mutlak 6,15 cm dan efisiensi pakan 132,49 %, serta menghasilkan panen total tanaman kangkung sebanyak 11,33 g

    Efektivitas Tepung Daun Mangrove untuk Mengendalikan Penyakit Vibriosis pada Larva Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

    No full text
    Shrimp production in several Asian countries, including Indonesia, accounts for more than 85% of world production, thus control of shrimp larval diseases must be strengthened to increase production. This study aimed to test the effectiveness of mangrove leaves, Rhizopora sp, in controlling larval vibriosis of the vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei).  The study began with in vitro tests to evaluate the antimicrobial activity of mangrove leaf flour against Vibrio sp bacteria at doses of 400, 500, 600, 700, 800, 900, 1000 mg/L, 5% amoxicillin antibiotic (K+) and without mangrove flour (K).  In the in vivo test, vannamei shrimp larvae (mysis-3) were immersed in a solution containing mangrove leaf flour with the three best doses of in vitro test results; 800, 900, and 1000 mg/L water, plus K-, for 15 minutes according to the treatment dose and maintained for 8 days before being challenged with Vibrio spp. The parameters observed were total hemocyte count (THC), differential hemocyte count (DHC), and survival rate (SR), which were observed on days 1 and 8, respectively, with the SR parameter observed on day 7 following the challenge test.  The results showed that the Mangrove leaf diet at 800 and 900 mg/L significantly improved larval resistance to the pathogen V. harveyi (P < 0.05). The high resistance was triggered by THC immunological response and the high proportion of semi-granular and hyaline at doses of 800 and 900 mg/L (P<0.05). Mangrove leaf powder can therefore suppress vibriosis disease in vanamei shrimp larvae using the immersion method at 800 and 900 mg/L concentrations.Produksi udang di beberapa negara di Asia termasuk Indonesia merupakan penyumbang >85% produksi global, oleh karena itu pengendalian penyakit larva udang dalam rangka peningkatan produksi perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas daun mangrove, Rhizopora sp untuk mengendalikan penyakit vibriosis pada larva udang vaname (Litopenaeus vannamei).  Penelitian diawali dengan uji in vitro untuk mengevaluasi aktivitas antimikroba tepung daun mangrove terhadap bakteri Vibrio sp dengan dosis 400, 500, 600, 700, 800, 900, 1000 mg/L, antibiotik amoksilin 5% (K+) dan tanpa tepung mangrove (K).  Pada uji in vivo, larva udang vanamei (mysis-3) direndam pada larutan mengandung tepung daun mangrove dengan 3 dosis terbaik hasil uji in vitro yaitu 800, 900, 1000 mg/L air, ditambah K-, selama 15 menit sesuai dosis perlakuan dan dipelihara selama 8 hari dan di uji tantang dengan Vibrio sp. Parameter yang diamati adalah Total haemocyte count (THC), Differential haemocyte count  (DHC) dan Survival rate (SR), diamati pada hari ke-1 dan 8, sedangkan parameter SR diamati pada hari ke-7 pasca uji tantang.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung daun mangrove dapat meningkatkan resistensi larva terhadap penyakit patogen V. harveyi dengan dosis terbaik 800 dan 900 mg/L (P?0,05). Tingginya resistensi ini diinisiasi oleh respon imun THC dan DHC khususnya persentase semi granular dan hyalin yang tinggi pada dosis 800 dan 900 mg/L (P?0,05). Dengan demikian maka tepung daun mangrove dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit vibriosis pada larva udang vaname melalui metode perendaman dengan dosis 800 dan 900 mg/L

    Peran Modal Sosial terhadap Keberlanjutan Pembudidayaan Rumput Laut Menghadapi Perubahan Iklim

    No full text
    Climate change is a natural phenomenon that poses a risk of vulnerability in the sustainability of seaweed cultivation because it can reduce production and income. Therefore, a sustainability strategy is needed, as well as the role of social capital, which is the most important element in carrying out cultivation because it is a means to build communication and cooperation in overcoming obstacles from climate change. Social capital is an element that supports internal and external factors. The study's objectives are: (1). The role of social capital in the sustainability of seaweed cultivation (2)—the existence of a sustainability strategy in dealing with climate change. Therefore, the study was conducted by taking the location of the seaweed center in South Sulawesi in Laikang Village, Manggarabombang District, Takalar Regency, by taking 20 informants from the seaweed farming community, extension workers, village government, and the Fisheries and Marine Service. It was done by conducting observation actions and in-depth interviews with the FGD (forum discussion group) mechanism and documentation. Data analysis was carried out descriptively and qualitatively using a Likert scale. The sustainability strategy was compiled with a SWOT analysis by including internal and external factors in the seaweed business involving the farming community and supporting institutions. The study results showed that social capital was built to improve communication and strengthen networks (bonding and bridging). It was based on the norm of getting out of the shocks that arise in seaweed cultivation due to climate change. The strategy that can be applied from the SWOT analysis, namely the existence of partnerships that must be built so that seaweed businesses can be sustainable in facing shocks from climate change by involving local governments, educational research institutions, the Department of Fisheries and Marine Affairs, seaweed farmers, with strengthening financial institutions and markets.Perubahan iklim merupakan fenomena alam yang menimbulkan resiko kerentanan dalam keberlanjutan pembudidayaan rumput laut karena dapat menurunkan produksi serta pendapatan. Oleh karena itu diperlukan strategi keberlanjutan serta peran modal sosial yang merupakan unsur terpenting dalam melakukan pembudidayaan karena merupakan sarana untuk membangun komunikasi dan kerjasama dalam mengatasi hambatan dari adanya perubahan iklim. Modal sosial merupakan unsur yang mendukung faktor internal dan eksternal. Adapun tujuan penelitian: (1). Peran modal sosial dalam keberlanjutan pembudidayaan rumput laut (2). Adanya strategi keberlanjutan dalam menghadapi perubahan iklim. Maka dilakukan penelitian dengan mengambil lokasi sentra rumput laut di Sulawesi Selatan pada Desa Laikang, Kecamatan Manggarabombang, Kabupaten Takalar, dengan mengambil informan 20 orang dari komunitas pembudidaya rumput laut, penyuluh, pemerintah desa, Dinas Perikanan dan Kelautan. Ini dilakukan dengan melakukan tindakan observasi, wawancara secara mendalam dengan mekanisme FGD (forum discussion group) serta dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan skala likert. Adapun strategi keberlanjutan yang disusun dengan analisis SWOT dengan memasukkan faktor internal dan eksternal pada usaha rumput laut yang melibatkan komunitas pembudidaya dan Lembaga pendukung. Hasil penelitian menunjukkan modal sosial dibangun untuk peningkatan komunikasi dan memperkuat jaringan (bonding dan bridging). Ini didasari pada norma agar dapat keluar dari goncangan yang timbul dalam pembudidayaan rumput laut akibat adanya perubahan iklim. Sedangkan strategi yang dapat diterapkan dari analisis SWOT, yaitu adanya kemitraan yang harus dibangun agar usaha rumput laut dapat berkelanjutan dalam menghadapi goncangan dari adanya perubahan iklim dengan melibatkan pemerintah daerah, lembaga pendidikan-penelitian, Dinas perikanan dan kelautan, pembudidaya rumput laut, dengan penguatan pada lembaga keuangan serta pasar

    Viabilitas dan Vigor Benih Kedelai (Glycine max L.) pada Media Matriconditioning Berbahan Organik dan Anorganik

    No full text
    The availability of quality seeds affects the quality and production of soybeans produced. Seed quality often deteriorates due to prolonged storage, thus requiring in-vigoration treatment. The study aimed to determine the effect of organic matriconditioning media and inorganic matriconditioning media on improving the viability and vigor of soybean seeds. The research took place from September to December 2023. The research was organized using a completely randomized design with 5 treatments, consisting of 3 (three) matriconditioning media made from organic materials: husk charcoal, sawdust, and rice straw, and 2 (two) matriconditioning media made from inorganic materials: brick powder and fine sand. The results showed that the organic-based matriconditioning media group had a significant and better effect than the inorganic-based matriconditioning media on germination, germination speed, and germination uniformity, sprout dry weight, sprout length, number of leaves, and plant height of soybean. The treatment of organic matriconditioning media in the form of husk charcoal and sawdust has a better effect than other treatments

    Pengaruh Suhu dan Lama Penyangraian Terhadap Sifat Fisik Kopi Robusta Tempur

    No full text
    Coffee roasting is a step in shaping the aroma and flavor of coffee beans, which is done through heating at high temperatures. Only now, information on the optimal roasting method to create quality coffee is limited. In some conditions, there is a decrease in coffee quality due to the overroast process. This study was conducted to determine the effect of temperature and roasting time on changes in the physical properties of Robusta coffee. The research design used was a Factorial Completely Randomized Design (CRD) with the treatment of variations in temperature and roasting time consisting of three levels, namely roasting temperature consisting of 100 °C, 110 °C, and 120 °C. In contrast, the roasting time consisted of 75 minutes, 80 minutes, and 85 minutes. Each treatment was replicated three times so that 27 experimental units were obtained. Based on the results of research on temperature treatment and roasting time, 100 °C treatment for 85 minutes gave better results on the parameters of water content, solubility, color, taste, and overall. It was followed by 110 °C temperature treatment for 75 minutes

    0

    full texts

    401

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL GALUNG TROPIKA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇