PIN Pengelolaan Instalasi Nuklir
Not a member yet
170 research outputs found
Sort by
EVALUASI PENGARUH BURN-UP TERHADAP PELEPASAN PRODUK GAS FISI
EVALUASI PENGARUH BURN-UP TERHADAP PELEPASAN PRODUK GAS FISI. Evaluasi pengaruh burn-up terhadap pelepasan produk gas fisi telah dilakukan. Fenomena pelepasan produk gas fisi dari bahan bakar nuklir UO2 diasumsikan melalui dua mekanisme yaitu difusi gas atom dalam butir dan pergerakkan butir membentuk gelembung. Gelembung kemudian tumbuh dan menyatu membentuk aliran ke arah keluar dari pelet ke ruang bebas yaitu gap antara pelet dan kelongsong. Diantara produk gas fisi yang paling berlimpah dan stabil adalah gas Xenon dan Kripton. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh produk gas fisi pada fenomena unjuk kerja pin bahan bakar uji. Metoda analisis menggunakan program FEMAXI-V dengan simulasi input data daya (Linear Heat Rate/LHR). Hasil analisis menunjukkan bahwa makin tinggi LHR yang diberikan makin besar burn-up yang dibangkitkan dan makin besar jumlah persentase produk gas fisi yang dihasilkan. Hasil analisis pada kondisi tunak untuk LHR 129,38 W/cm menunjukkan terjadi peningkatan ukuran radius gelembung produk gas fisi dan terjadi peningkatan persentase jumlah produk gas Xe + Kr. Hasil analisis proses termal dan proses mekanik menunjukkan juga terjadi retakan (swelling) pada pelet dan akan berdampak penurunan integritas pelet maupun kelongsong pin bahan bakar uji.Kata kunci : elemen bakar nuklir, pin, kelongsong, pelet
PENERAPAN PERTANGGUNGJAWABAN DAN PENGENDALIAN BAHAN NUKLIR PADA PEMINDAHAN SPENT FUEL DARI MBA RI-F KE MBA RI-G
PENERAPAN PERTANGGUNGJAWABAN DAN PENGENDALIAN BAHAN NUKLIR PADA PEMINDAHAN SPENT FUEL DARI MBA RI-F KE MBA RI-G. Telah diterapkan PPBN dalam rangka pemindahan 2 (dua) bundle spent fuel dari MBA RI-F, IRM-PTBN ke MBA RI-G, PTLR. Penerapan PPBN di setiap fasilitas pengguna bahan nuklir merupakan langkah preventif terhadap penyalahgunaan bahan nuklir. MBA RI-F yang terdapat di IRM-PTBN merupakan salah satu fasilitas pengguna bahan nuklir yang menerapkan PPBN. Tujuan yang ingin dicapai pada pemindahan 2 (dua) bundle spent fuel adalah untuk memenuhi aturan PPBN. Pemindahan telah dilakukan pada bulan Juli 2010 dengan identitas batch RIE01-3 dan RISIE2-2. Metoda yang digunakan dalam kegiatan PPBN diantaranya meliputi pelaporan dan pencatatan. Seluruh data yang diperoleh dari pemindahan 2 (dua) bundle spent fuel digunakan sebagai bahan dalam pembuatan dokumen. Dokumen terkait yang diperlukan berupa ICD-MT dan ICR. Kedua dokumen tersebut dilaporkan ke BAPETEN dan IAEA melalui BAPETEN, sedangkan dokumen transfer internal berupa IMT disimpan sebagai arsip internal. Berkurangnya bahan nuklir dalam inventori dicatat di dalam lajur pembukuan berupa GL, SL dan IL. Data tersebut selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan inspeksi yang dilakukan oleh BAPETEN dan IAEA. Hasil penerapan PPBN di MBA RI-F berupa dokumen pelaporan dan pencatatan berupa ICD-MT, ICR, GL, dan IL. Dokumen pelaporan (ICD-MT dan ICR) telah dilaporkan ke BAPETEN dan IAEA. Pelaksanaan pengelolaan PPBN di IRM dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban sehingga penggunaan bahan nuklir dapat terkontrol dengan baik. Kata Kunci : PPBN, bundle spent fuel, ICD-MT, ICR, GL, IL
RENCANA PENINGKATAN KEMAMPUAN OPERASI FASILITAS HOTCELL IRM DENGAN MELAKUKAN PERBAIKAN DAN PENGELOLAAN LIMBAH
RENCANA PENINGKATAN KEMAMPUAN OPERASIONAL FASILITAS HOTCELL IRM DENGAN MELAKUKAN PERBAIKAN DAN PENGELOLAAN LIMBAH. Rencana tindakan yang terstruktur terkait peningkatan kemampuan operasi fasilitas hotcell Instalasi Radiometalurgi (IRM) dengan cara perbaikan dan pengelolaan limbah, diperlukan dalam mengelola IRM. Rencana tindakan terstruktur ini diharapkan menjadi jawaban dari hasil inspeksi keselamatan nuklir BAPETEN tahun 2010, serta dapat juga berguna untuk perencanaan anggaran dan lainnya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman praktis penulis studi dokumen yang terkait dan komunikasi dengan pihak pembuat manipulator. Rencana tindakan terstruktur tersebut diawali dengan perbaikan manipulator (hotcell 102 dan 103) dan dilanjutkan dengan pemindahan limbah nuklir ke KH-IPSB3. Selanjutnya dilakukan perbaikan barrel lifting device di hotcell uji 02. Setelah barrel lifting device diperbaiki, dilanjutkan dengan penanganan limbah non nuklir dari beberapa hotcell uji (102, 103, 104, 105 dan 109) yang dipindahkan ke ruang 001 dari hotcell uji 02, dan selanjutnya ke ruang 013 sebagai ruang penyimpanan limbah padat sementara, sebelum dipindahkan ke instalasi pengelolaan limbah radioaktif. Tahun 2013 dan 2014 merupakan tahun penentuan dalam peningkatan kemampuan operasi IRM, terutama di fasilitas hotcell. Dengan rencana tindakan yang terstruktur, maka keperluan peralatan serta anggaran dapat direncanakan. Setelah perbaikan manipulator di hotcell uji 02 dan 03 serta penanganan limbah di dalam hotcell, maka kemampuan operasi fasilitas hotcell IRM dapat meningkat.Kata kunci: perencanaan, tindakan terstruktur, kemampuan operasi, hotcell, limba
PEMANTAUAN RADIOAKTIVITAS ALPHA PADA BAK PENAMPUNG AIR PENDINGIN ACCUTOM PASCA PEMOTONGAN LOGAM U-Zr
PEMANTAUAN RADIOAKTIVITAS ALPHA PADA BAK PENAMPUNG AIR PENDINGIN ACCUTOM PASCA PEMOTONGAN LOGAM U-Zr. Telah dilakukan kegiatan pemantauan radioaktivitas alpha pada bak penampung air pendingin ACCUTOM pasca pemotongan logam U-Zr di laboratorium kendali kualitas IEBE. Tujuan dari kegiatan pemantauan ini untuk mengetahui sejauh mana tingkat kontaminasi yang ada di permukaan alat setelah dilakukan pasca kegiatan pemotongan, dan diharapkan dengan adanya kegiatan pemantauan ini dapat dilakukan pengendalian proteksi radiasi sehingga dapat menjamin agar kontaminasi diupayakan serendah mungkin sesuai dengan prinsip As Low As Reasonable Achievable (ALARA). Metoda pemantauan radioaktivitas alpha pada bak penampung dilakukan secara langsung pada 3 titik sebanyak tiga kali. Hasil pengukuran radioaktivitas alpha pada bak penampung bagian titik pengukuran pertama didapat rata-rata (0,29 ± 0,08) Bq/cm2, titik pengukuran kedua (0,26 ± 0,04) Bq/cm2 dan ketiga (0,33 ± 0,03) Bq/cm2, dengan rerata dan ralat secara keseluruhan didapat sebesar (0,29 ± 0,05) Bq/cm2. Berdasarkan hasil pengukuran dapat disimpulkan bahwa tingkat kontaminasi bak penampung alat potong ACCUTOM cukup rendah dan tidak melampaui batas yang diperbolehkan, sedangkan batasan tingkat kontaminasi rendah pada permukaan yang diizinkan untuk radioaktivitas α < 0,37 Bq/cm2. Selanjutnya alat potong ACCUTOM tersebut dapat digunakan kembali untuk melakukan kegiatan berikutnya. Kata kunci : Kontaminasi radioaktif, pengukuran langsung, radiasi alph
EVALUASI PENGARUH POLA ALIR UDARA TERHADAP TINGKAT RADIOAKTIVITAS DI DAERAH KERJA IRM
EVALUASI PENGARUH POLA ALIR UDARA TERHADAP TINGKAT RADIOAKTIVITAS DI DAERAH KERJA IRM. Evaluasi pengaruh pola alir udara terhadap tingkat radioaktivitas di daerah kerja Instalasi Radiometalurgi (IRM) telah dilakukan. Tujuan dari evaluasi ini untuk mengetahui pola alir udara selama 5 tahun terakhir berdasarkan data tingkat radioaktivitas udara di daerah kerja IRM. Metoda yang digunakan adalah mengumpulkan data pantau radioaktivitas α dan β rata-rata tahun 2008 sampai 2012, kemudian mengevaluasi kecenderungan tingkat radioaktivitas udara di ruang-ruang yang dipantau tersebut. Radioaktivitas di ruang-ruang dengan kecenderung rata-rata tinggi, selanjutnya dicuplik udaranya dan dicacah secara total (gross counting) pada umur cuplikan 0 jam; 1 jam; 2 jam 3 jam dan 4 jam. Radioaktivitas α rata-rata tertinggi di udara ruang 143 pada tahun 2012, sebesar 3,18 Bq/m3 atau 15,90 % dari batas yang diizinkan (20 Bq/m3). Sedangkan radioaktivitas β rata-rata tertinggi di udara ruang ruang 135 pada tahun 2011, sebesar 7,57 Bq/m3 atau 3,79 % dari batas yang diizinkan (200 Bq/m3). Secara keseluruhan radioaktivitas α maupun β selama tahun 2008 – 2012, masih berada di bawah batas yang diijinkan. Tingkat radioaktivitasnya pada tahun 2008 dan 2012, sesuai dengan desain pola alir udara IRM yaitu udara mengalir dari zona II ke zona III. Sedangkan pada tahun 2009, 2010 dan 2011 terjadi anomali tingkat radioaktivitas α maupun β, terutama pada ruang 135 dan 140. Dari hasil penundaan pencacahan diketahui bahwa radioaktivitas α di udara ruang 135 dan 140 cenderung turun mendekati cacah latar, demikian halnya terhadap radioaktivitas β di udara ruang 135 dan 140. Radioaktivitas di udara ruang 135 dan ruang 140 tersebut, kemungkinan berasal dari zat radioaktif alamiah berumur pendek. Dapat disimpulkan bahwa selama tahun 2009, 2010 dan 2011, sistem ventilasi (VAC) yang tidak berjalan normal sesuai dengan pola alir udara di daerah kerja IRM.Kata kunci : evaluasi, radioaktivitas, udara
IDENTIFIKASI KERUSAKAN BARREL LIFTING DEVICE DAN BARREL DOUBLE LID HOTCELL 001/102 DI IRM
IDENTIFIKASI KERUSAKAN BARREL LIFTING DEVICE DAN BARREL DOUBLE LID HOTCELL 001/102 DI IRM. Telah dilakukan identifikasi dengan melakukan analisis terhadap kerusakan barrel lifting device dan barrel double lid hotcell 001/102 di Instalasi Radiometalurgi (IRM). Survei lapangan dan dokumen yang berkaitan dengan barrel lifting device dan barrel double lid hotcell 001/102 serta gambar wiring diagram digunakan untuk menganalisa dan mengidentifikasi kerusakan. Tujuan dari identifikasi kerusakan alat ini untuk menetapkan ruang lingkup pekerjaan perbaikan dan penggantian suku cadang. Hasil identifikasi kerusakan diketahui bahwa: Sistem Program Logic Control (PLC), sistem interlock, sistem pompa hidrolik tidak berfungsi, saklar darurat (saklar emergency) rusak dan selang compressed air (udara tekan) untuk barrel double lid hancur (rusak). Dapat disimpulkan bahwa untuk memfungsikan kembali alat ini maka perlu dilakukan perbaikan dan penggantian komponen/suku cadang yang sesuai seperti: sistem modul PLC, sistem interlock, sistem pompa hidrolik dan saklar emergency serta selang udara tekan, karena sistem dan komponen-komponen tersebut telah rusak. Kata kunci : Identifikasi, perbaikan, sistem dan suku cadan
KARAKTERISASI INGOT PADUAN U-7Mo-Zr HASIL PROSES PELEBURAN MENGGUNAKAN TUNGKU BUSUR LISTRIK
KARAKTERISASI INGOT PADUAN U-7Mo-Zr HASIL PROSES PELEBURAN MENGGUNAKAN TUNGKU BUSUR LISTRIK. Telah dilakukan percobaan karakterisasi paduan U-7Mo-xZr (x = 1%, 2%, 3%) dalam rangka pengembangan bahan bakar dispersi U-7Mo-Zr/Al dengan uranium pengayaan <20% U235. Ingot paduan U-7Mo-xZr yang dikarakterisasi merupakan hasil peleburan menggunakan tungku busur listrik dalam media gas argon. Proses karakterisasi dilakukan dengan cara pengujian strukturmikro menggunakan mikroskop optik digital dan pengujian kekerasan menggunakan alat Vickers. Hasil uji metalografi menunjukkan bahwa pada bagian tepi ingot mempunyai butir berbentuk dendrit yang memanjang dan bercabang, sedangkan pada bagian tengah butiran cenderung bulat dan seragam. Hasil uji kekerasan terhadap paduan U-7Mo-xZr (x = 1%, 2%, 3%) berturut-turut adalah 294,6 VHN, 314,6 VHN dan 334,6 VHN.Kata kunci: ingot, U-7Mo-Zr/Al, tungku busur listri
EVALUASI KESIAPSIAGAAN NUKLIR DI INSTALASI RADIOMETALURGI BERDASARKAN PERKA BAPETEN NOMOR 1 TAHUN 2010
EVALUASI KESIAPSIAGAN NUKLIR DI INSTALASI RADIUOMETALURGI BERDASARKAN PERKA BAPETEN NOMOR 1 TAHUN 2010. Telah dilakukan evaluasi kesiapsiagan nuklir Instalasi Radiometalurgi (IRM) berdasarkan Perka BAPETEN nomor 1 tahun 2010. Perka BAPETEN nomor 1 tahun 2010 pasal 50 menyatakan bahwa pada saat peraturan ini mulai berlaku, maka Keputusan Kepala BAPETEN No. 05-P/Ka-BAPETEN/I-03 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Panduan kesiapsiagaan nuklir PTBN sat ini mengacu pada Keputusan Kepala BAPETEN No. 05-P/Ka-BAPETEN/I-03, sehingga tidak dapat diberlakukan lagi. Tujuan evaluasi kesiapsiagaan nuklir IRM adalah untuk mengetahui kesiapan seluruh unsur infrastruktur dan kemampuan fungsi penanggulangan kedaruratan nuklir. Metoda evaluasi kesiapsiagan nuklir IRM dilakukan dengan menggunakan diagram alir. Infrastruktur IRM yang terdiri dari: organisasi PKN; koordinasi penanggulangan; fasilitas dan peralatan; prosedur penanggulangan; serta pelatihan kedaruratan nuklir telah terpenuhi. Fungsi penanggulangan yang terdiri dari: identifikasi, pelaporan dan pengaktifan; tindakan mitigasi; serta tindakan perlindungan untuk petugas penanggulangan dan pekerja untuk tujuan penanggulangan mempunyai kemampuan yang memadai. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil evaluasi kesiapsiagaan nuklir IRM berdasarkan Perka BAPETEN nomor 1 tahun 2010, diketahui bahwa unsur infrastruktur telah terpenuhi, dan fungsi penanggulangan kedaruratan nuklir mempunyai kemampuan yang memadai. Program kesiapsiagan nuklir IRM dapat segera direvisi, sehingga memuat unsur infrastruktur dan fungsi penanggulangan serta dapat digunakan sebagai pengganti Panduan kesiapsiagaan nuklir PTBN yang lama/sebelumnya. Kata kunci: evaluasi, fungsi penanggulangan, unsur infrastruktur
PENANGANAN LlMBAH RADIOAKTIF PADAT AKTIVITAS RENDAH PASCA PENGGANTIAN HEPA FILTER DI IRM
PENANGANAN LlMBAH RADIOAKTIF PADAT AKTIVITAS RENDAH PASCA PENGGANTIAN HEPA FILTER DI IRM. Penanganan limbah radioaktif padat aktivitas rendah pasca penggantian hepa filter di IRM telah dilakukan. Proses penanganan limbah tersebut mengacu kepada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 27 Tahun 2002, tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif dan Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) nomor : 03/Ka-BAPETEN/V-99, Tentang Ketentuan Keselamatan Untuk Pengelolaan Limbah Radioaktif serta Prosedur Pengelolaan Limbah radioaktif dan B3 di PTBN tahun 2010. Tujuan dari penanganan adalah untuk mengurangi penyebaran bahaya kontaminasi dan paparan radiasi dari limbah radioaktif padat yang membahayakan bagi pekerja, daerah kerja dan lingkungan. Penanganan tersebut meliputi pemonitoran, pengumpulan, pengelompokan, pengepakan, pelabelan dan pengangkutan. Limbah radioaktif di PTBN ditimbulkan dari proses pembuatan elemen bakar nuklir dan uji pasca iradiasi termasuk penggantian hepa filter. Selama tahun 2012 dari PTBN telah dilakukan pengiriman limbah radioaktif padat berupa 13 buah drum ukuran 100 liter dapat bakar, 1 buah drum ukuran 100 liter tidak dapat bakar, 5 buah smoke detektor dan 45 buah hepa filter ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR). Kata kunci: Hepa filter, penanganan, limbah padat, radioakti
MANAJEMEN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DAN BERACUN SEBAGAI UPAYA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA PERLINDUNGAN LINGKUNGAN
MANAJEMEN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DAN BERACUN SEBAGAI UPAYA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA PERLINDUNGAN LINGKUNGAN. Bahan kimia berbahaya dan beracun (B3) tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. B3 tersebut digunakan baik dalam kehidupan rumah tangga sampai untuk menunjang proses operasi dalam industri. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dalam pengelolaan dan penanganan B3 agar efisien, aman dan selamat. Kecelakaan kerja yang terjadi akibat B3 akan meberikan dampak terhadap kesehatan pekerja juga lingkungannya. Dampak tersebut dapat berupa keracunan, kerusakan/pencemaran lingkungan, korban materi dan juga mungkin bisa menimbulkan korban jiwa. Bagi mereka yang bekerja dalam industri yang menggunakan atau menghasilkan B3 tidak lepas dari bahaya bahan tersebut. Secara umum B3 terdiri dari bahan beracun, korosif, mudah terbakar, mudah meledak, reaktif terhadap air/asam, dan gas bertekanan. Faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan antara lain dari manusia/pekerja, prosedur/metode, dan peralatan/bahan. Faktor manusia merupakan faktor terbesar penyebab terjadinya kecelakaan diantaranya adalah ketidak-tahuan akan bahaya yang akan terjadi. Dengan menerapkan sistem manajemen B3 maka pemakaian, penanganan, maupun penyimpanan B3 terkontrol/terkendali dan tertelusur, sehingga keselamatan dan kesehatan kerja akan terjaga, serta lingkungan akan terlindung. Dapat disimpulkan bahwa manajemen B3 memerlukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Dalam pelaksanaan penanganan B3 sangat tergantung dari jenis, sifat dan bahaya dari bahan tersebut. Karena masing-masing B3 memiliki sifat yang berbeda, maka cara penanganan yang paling tepat hanya dapat diperoleh dari pabrik atau pemasok bahan tersebut. Kata kunci : Manajemen, B3, keselamatan, kesehatan kerja, lingkungan