Jurnal Bumi Indonesia
Not a member yet
    1194 research outputs found

    Pengaruh Pdrb, Inflasi Dan Jumlah Penduduk Terhadap Alokasi Belanja Daerah Tiap Kabupaten/Kota Di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2010-2018

    No full text
    Belanja Daerah merupakan salah satu aspek keuangan daerah dalam APBD yang berfungsi sebagai sumber pendanaan bagi daerah dalam proses pelaksanaan pemerintahan yang besarannya ditentukan dengan berbagai pertimbangan. Dalam penelitian ini ingin menunjukkan bahwa kondisi ekonomi wilayah dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan alokasi belanja daerah selain itu, penelitian ini juga menganalisis faktor mana dalam ekonomi wilayah yang memiliki pengaruh paling besar terhadap penentuan alokasi belanja daerah. Data yang digunakan diperoleh melalui studi dokumen serta data sekunder berupa data panel dengan cross-section 5 kabupaten/kota dan time series selama 9 tahun. Alat analisis yang digunakan berupa analisis deksriptif, dan regresi data panel dengan metode fixed effect. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: 1) Setiap daerah memiliki pola belanja daerah yang berbeda-beda yang menunjukkan bahwa belanja daerah terkadang dapat memiliki hubungan secara tidak langsung terhadap faktor demografi dan ekonomi wilayah. 2) jumlah penduduk merupakan variabel dengan pengaruh yang signifikan terhadap penentuan alokasi belanja daerah dibandingkan variabel bebas lain yang digunakan yaitu PDRB dan inflasi. 3) alokasi belanja daerah dapat ditentukan dengan menggunakan pertimbangan utama jumlah penduduk dan pertimabang tambahan yaitu PDRB dan inflasi

    Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian Menjadi Non Pertanian Sekitar Gerbang Tol Solo-Kertosono di Kecamatan Colomadu

    Full text link
    Perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian terjadi di sekitar Gerbang Tol Solo-Kertosono Kecamatan Colomadu. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan luas perubahan penggunaan lahan, menganalisis pola spasial perubahan lahan, dan menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan di sekitar gerbang tol. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian yang signifikan antara sebelum dan sesudah adanya gerbang tol di Kecamatan Colomadu. Perubahan lahan tersebut memiliki pola spasial yang berbeda pada masing-masing zona berdasar jaraknya terhadap gerbang tol di Colomadu. Dampak negatif akibat perubahan penggunaan lahan mengakibatkan penurunan kualitas lahan, saluran irigasi, ketersediaan lahan, produksi pertanian, harga lahan dan jumlah petani disekitar gerbang tol

    Kajian Kualitas Airtanah Akibat Pembuangan Limbah Cair Industri Tahu Di Sebagian Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang

    Full text link
    Sebagian Kecamatan Borobudur menjadi salah satu sentra industri tahu rumahan yang pengelolaan limbahnya masih langsung dibuang di sungai. Pembuangan tanpa pengolahan tersebut dapat memberikan dampak penurunan kualitas airtanah sekitar berdasarkan faktor lingkungan. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk (1) Mengetahui nilai cemar limbah cair tahu, (2) Mengetahui kondisi fisik lingkungan, dan Menganalisis nilai cemar airtanah dan persebarannya akibat pembuangan limbah cair tahu. Metode yang digunakan adalah perbandingan baku mutu limbah cair tahu, air sungai dan airtanah dari hasil pengujian kualitas air (meliputi suhu, pH, TDS,  DHL, BOD5, COD, TSS, dan DO). Sampel airtanah diambil secara purposive sampling berdasarkan arah aliran airtanah. Hasil menunjukkan bahwa hampir seluruh sumur tidak terjadi pencemaran walau terdapat satu sumur yang terjadi pencemaran akibat memiliki parameter BOD5, TSS, dan DO yang tinggi. Tidak terjadinya pencemaran disebabkan karena faktor lingkungan seperti sistem sungai yang efluen, pencemaran sungai yang kecil walaupun geologi dan akuifer mudah untuk terjadinya pencemara

    Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sains Informasi Geografis Untuk Pemetaan Perubahan Penggunaan Lahan Sawah Sebagian Kabupaten Kulon Progo

    Full text link
    Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, ruang yang dibutuhkan pun meningkat, sehingga terhadi perubahan penggunaan lahan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas manusia. Pada umumnya, penggunaan lahan sawah berubah menjadi penggunaan lahan non sawah(permukiman/lahan terbangun). Pertanian merupakan sektor penting untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat.. Penggunaan data penginderaan jauh dapat menampilkan informasi spasial yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan. Penelitian bertujuan memetakan persebaran lahan sawah di Kabupaten Kulon Progo tahun 2008, 2013 dan 2018 serta menganalisis perubahan penggunaan lahan sawah dari tahun 2008 hingga 2013 dan tahun 2013 hingga 2018. Metode klasifikasi multispektral menggunakan klasifikasi supervised maksimum likelihood. Hasil penelitian menunjukkan luas penggunaan lahan sawah pada tahun 2008 seluas 11.457 ha, tahun 2013 seluas 10.478 ha dan tahun 2018 seluas 10.296 ha. Sedangkan luas perubahan penggunaan lahan sawah menyusut dari tahun 2008 hingga 2013 sebesar 978.3  ha. Sedangkan Luas perubahan penggunaan lahan sawah tahun dari 2013 hingga 2018 menyusut sebesar 182.61 ha

    Dinamika Ekonomi Wilayah Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Indonesia

    Full text link
    Kemunculan pandemi COVID-19 memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia. Beberapa wilayah mengalami pelemahan ekonomi dari adanya pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi profil indikator ekonomi, mengidentifikasi dampak pandemic dan distribusi indikator ekonomi, serta menganalisis hubungan antar indikator ekonomi dan karakteristik tipologinya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif, tipologi klassen, korelasi rank spearman. Data yang digunakan adalah data sekunder 34 provinsi tahun 2019 – 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap indikator ekonomi memiliki peran dalam pembentukan ekonomi di Indonesia dengan peran terbesar sampai terendah secara berurutan yakni pengeluaran konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto, pengeluaran konsumsi pemerintah, net ekspor, pengeluaran konsumsi lembaga non profit rumah tangga, dan perubahan inventori. Pandemi COVID-19 memberikan dampak terhadap turunnya 4 indikator ekonomi. Hubungan yang terbentuk menunjukkan bahwa indikator (pembentukan modal tetap bruto, perubahan inventori, dan net ekspor) memiliki keterkaitan positif dan signifikan dengan produk domestik regional bruto, sedangkan indikator (perubahan inventori dan net ekspor terhadap pengeluaran konsumsi lembaga non profit rumah tangga) memiliki keterkaitan  negative dan signifikan tidak berkaitan. Karakteristik tipologi menunjukkan tingginya indikator ekonomi tidak selalu menentukan perkembangan ekonomi

    Analisis Daya Saing Daerah di Kawasan Perbatasan Kalimantan Barat

    Full text link
    Analisis daya saing daerah kawasan perbatasan merupakan upaya dalam meningkatkan kesejahteraan dan mencegah ketertinggalan kawasan perbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing daerah kawasan perbatasan dengan menggunakan Teknik Penskalaan dan Tipologi Klassen. Daya saing daerah di kawasan perbatasan Kaliantan Barat diukur dengan lima indikator utama yaitu indikator ekonomi daerah, investasi, konektivitas, infrastruktur/fasilitas wilayah dan sumber daya manusia yang dibobotkan dengan metode Multi Factor Evaluation Process. Perpaduan hasil analisis tipologi wilayah dan peringkat daya saing menghasilkan tipologi daya saing daerah kawasan perbatasan yang nantinya dijadikan sebagai acuan dalam merumuskan strategi peningkatan daya saing kawasan perbatasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah perbatasan Kalimantan Barat memiliki tipologi daerah berdaya saing tinggi dan relatif tertinggal. Adapun hasil peringkat daya saing dari tertinggi dan terendah yaitu Kabupaten Sanggau, Sintang, Sambas, Sanggau, Kapuas Hulu dan Bengkayang. Sintang menjadi kabupaten dengan tipologi paling baik yaitu daerah beraya saing tinggi dan berkembang cepat

    Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Banyumas

    Full text link
    Kabupaten Banyumas berada di posisi yang strategis serta didominasi oleh dataran tinggi dan saratan aluvial. Kondisi tersebut mengakibatkan Kabupaten Banyumas memiliki potensi besar di sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pariwisata di Kabupaten Banyumas, mengetahui jenis objek wisata yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah, dan menganalisis kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan menggunakan data sekunder. Variabel yang digunakan adalah objek wisata, retribusi, pajak, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Cara analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis efektivitas, dan analisis kontribusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sektor pariwisata di Kabupaten Banyumas mengalami perkembangan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah objek wisata, jumlah kunjungan wisatawan, jumlah sarana dan prasarana, dan pendapatan objek wisata. Objek wisata yang memiliki kontribusi paling besar terhadap pendapatan daerah adalah objek wisata alam. Kontribusi keseluruhan sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten masih rendah namun mengalami pertumbuhan setiap tahun

    Evaluasi Oikonim Perumahan Di Sebagian Wilayah Kabupaten Sleman Terhadap Aturan Pembakuan Nama Geografis

    Full text link
    Oikonim merupakan bagian khusus dari toponimi yang mempelajari tentang toponim pada tempat tinggal manusia. Penelitian ini bertujuan untuk  memetakan oikonim perumahan; mengetahui makna oikonim dan mengelompokkannya berdasarkan kategori unsur geografi; dan mengkaji kesesuaian oikonim dengan aturan pembakuan nama geografis. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif berdasarkan penelusuran daring. Citra SPOT-7 digunakan pada kegiatan interpretasi untuk pemetaan perumahan. Kaidah penulisan oikonim perumahan kemudian disesuaikan dengan Peraturan BIG No.16 Tahun 2017, Perpres No. 63 Tahun 2019, Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2021, dan Peraturan Gubernur DIY No. 39 Tahun 2015. Hasil dari penelitian menunjukkan total perumahan di daerah penelitian adalah sebanyak 231 perumahan. Sebanyak 168 perumahan termasuk kelompok fisik, 44 perumahan  non fisik, dan 17 sisanya tidak terkategorikan. Sebagian besar oikonim perumahan tidak menggunakan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah, menggunakan nama diri, tidak menggunakan nama lokal, belum mengikuti pola diterangkan-menerangkan, tidak mencantumkan nama administrasi, dan  menggunakan lebih dari satu nama resm

    Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya

    Full text link
    Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dianalisis untuk mengatahui sebaran dan kecukupannya di Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam menganalisis ketersediaan RTH ialah Analisis Citra Berbasis Objek atau OBIA dan SIG. OBIA digunakan untuk identifikasi kenampakan Ruang Terbuka Hijau dengan bentuk yang kompleks dan tidak teratur, sedangkan analisis SIG digunakan untuk mengatahui luasan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau sebagai acuan evaluasi ketersediaan Ruang Terbuka Hijau. Hasil analisis menunjukkan, dengan luas wilayah yang dimiliki Kota Surabaya yaitu 33524,15 hektar maka kebutuhan RTH Kota Surabaya ialah 10057,25 hektar. Sedangkan, RTH berdasarkan jumlah penduduk Kota Surabaya sebanyak 3149000 jiwa yaitu sebesar 6298 hektar. Dengan demikian, jumlah ketersediaan RTH Kota Surabaya pada tahun 2019 yakni 10199,83 hektar telah memenuhi standar kebutuhan RTH berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk

    Sistem Informasi Geografi Untuk Pemetaan Derajat Kesehatan Di Kota Yogyakarta Menggunakan Health Determining Factor

    Full text link
    Kesehatan berkaitan erat dengan derajat kesehatan yang merupakan tolok ukur dari pencapaian keberhasilan program kesehatan dalam rangka pelaksanaan kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan pada bidang kesehatan di Indonesia. Derajat kesehatan berkaitan erat dengan faktor-faktor diantaranya lingkungan, perilaku, keturunan, serta pelayanan kesehatan dimana keempat faktor utama ini termasuk dalam faktor penentu kesehatan atau HDF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran tiap faktor penentu kesehatan (HDF) di Kota Yogyakarta berdasarkan sistem informasi geografis dan mengetahui derajat kesehatan di Kota Yogyakarta berdasarkan HDF. Penentuan wilayah sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, dimana wilayah sampel dipilih dalam skala kecamatan dengan unit analisis berupa kelurahan. HDF yang digunakan adalah natural environment, kedekatan fasilitas kesehatan, pengelolaan air limbah, pengelolaan drainase, pengelolaan sampah, pengelolaan sumber air, perilaku hidup bersih dan sehat, dan kepadatan penduduk. Dengan melakukan perhitungan skoring melalui perhitungan rerata skor tiap faktor serta overlay, ditemukan bahwa derajat kesehatan di Kota Yogyakarta pada tahun 2018 tergolong baik dilihat dari skor tiap faktor penentu kesehatan yang secara keseluruhan cukup tinggi

    1,176

    full texts

    1,194

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Bumi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇