Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
    301 research outputs found

    Analysis of Land Use and Spatial Patterns Based on Flow Regime Coefficients (FRC) in DAS Air Bengkulu

    Full text link
    Daerah aliran sungai merupakan sebuah ruang yang memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan kestabilan hidrologi suatu wilayah. Penyebab-penyebab yang kerap terjadi adalah konversi lahan dalam bentuk vegetasi menjadi non vegetasi sehingga menurunkan  fungsi idrologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan, kestabilan fungsi hidrologi DAS Air Bengkulu dan arahan pengelolaan DAS Air Bengkulu. Metode analisis yang digunakan adalah interpretasi visual citra, perhitungan statistik KRA dan arahan pengelolaan DAS. Berdasarkan hasil analisis perubahan penggunaan lahan pada tahun 2010-2015 terjadi peningkatan luas didominasi lahan permukiman 674.97 ha, perkebunan 606.98 ha dan penurunan dominan pada lahan hutan 1,177.25 ha. Pada periode 2015-2020 peningkatan signifikan  pada lahan tegalan/ladang 1,383.09 ha, serta penurunan dominan pada lahan perkebunan dengan luas 1,202.91 ha. Karateristik hidrologi dilihat dari hasil analisis koefisesn regim aliran  (KRA), hasil analisis KRA  pada tahun 2012 dengan nilai  33.03 kelas rendah, tahun 2015 dengan nilai 25.91 kelas rendah dan tahun 2020 dengan nilai 313.49 kelas sangat tinggi. Berdasarkan skenario penggunaan lahan, kelas rendah pada tahun 2012 dan 2015, termasuk klasifikasi baik sehingga hidrologi DAS berjalan sesuai dengan fungsinya dengan penggunaan lahan dominan perkebunan yang mengalami peningkatan pada tahun 2010 sebesar 62.65 % dan tahun 2015 dengan nilai 63.82%, namun kondisi KRA tahun 2020 tergolong buruk, penggunaan lahan yang menyebabkan nilai KRA sangat tinggi, disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan hutan  yaitu 19.77% dan perkebunan 61.51% mengalami penurunan luas, sedangkan permukiman, ladang/tegalan, semak belukar, dan tambang meningkat. Berdasarkan analisis keselarasan, kelas KRA, penggunaan lahan dan pola ruang, Skenario RTRW menghasilkan nilai selaras yaitu 65%, transisi 16% dan tidak selaras 19%. Mayoritas penggunaan lahan yang tidak selaras dengan pola ruang adalah berasal dari hutan, pertambangan dan perkebunan. Maka perlu dilakukan pengelolaan DAS Air Bengkulu terhadap lahan yang tidak selaras dengan arahan penggunaan lahan dan konservasi.The watershed is a space that has an important role in maintaining the environment and hydrological stability of an area. The causes that often occur are land conversion in the form of vegetation, as well as other land that affects the decline in hydrological functions. The purpose of this study was to determine changes in land use, the stability of the hydrological function of the DAS Air Bengkulu, and spatial pattern-based directions for the DAS Air Bengkulu. The analytical methods used is manual digitization, image visual interpretation, FRC statistical calculations, and watershed management guidelines. Based on the results of the analysis of changes in land use in 2010-2015 there was an increase in the area dominated by residential land (674.97 ha), plantations (606.98 ha), and a dominant decrease in forest land (1,177.25 ha). In the 2015-2020 period, there was a significant increase in dry land/fields of (1,383.09 ha), as well as a dominant decrease in plantation land with an area of (1,202.91 ha). The results of hydrological analysis in 2012 had a low class value of 33.03; in 2015, a low class value of 25.91; and in 2020, a very high class value of 313.49. Based on the land use scenario, the low class in 2012 and 2015 is classified as good so that the hydrology of the watershed runs according to its function with the dominant land use of plantations, which has increased by 62.65% in 2010 and 63.82% in 2015, but the KRA condition in 2020 is included in the bad classification. The land use that caused the KRA class was very high, caused by changes in forest land use, namely 19.77% and plantations, 61.51%, which experienced a decrease in area, while settlements, fields/moors, shrubs, and mines increased. The spatial planning scenario produced by combining KRA classes results in 65% conformity of land use and spatial patterns, 16% transition, and 19% non-alignment. The majority of land uses that are not aligned with spatial patterns come from forests, mining, and plantations. So it is necessary to manage the Air Bengkulu River Basin in a category that is not in line with the directives on land use and conservation

    Identifying Pyrite Layer Depth and Its Association to Oil Palm Health and Productivity (Elaeis guineensis Jacq.) ( A Case Study at PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk’s Oil Palm Plantation )

    Full text link
    Lapisan pirit (FeS2) merupakan penciri khusus dari tanah sulfat masam. Dalam kondisi teroksidasi, pirit menghasilkan asam sulfat yang dapat menyebabkan tanah menjadi masam sampai sangat masam (pH 2-3). Hal tersebut tentunya menjadi masalah dalam perkembangan tanaman, termasuk kelapa sawit. Oleh karena itu, pengelolaan tanah asam sulfat harus memperhatikan kedalaman lapisan pirit. Studi tentang identifikasi pirit dan penggunaan penginderaan jauh dalam memantau kesehatan tanaman sangat diperlukan untuk mengoptimalkan produksi kelapa sawit di tanah sulfat masam.Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus mulai dari survei detil dan pemetaan kedalaman pirit, analisis kesehatan tanaman, dan analisis produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan pirit di lokasi penelitian berada pada kedalaman 30 cm sampai lebih dari 120 cm dari permukaan tanah. Berdasarkan klasifikasi kedalaman pirit, lokasi penelitian didominasi oleh lahan dengan kedalaman pirit sedang (60-120 cm) seluas 1.701,33 ha. Sebagian areal lainnya memiliki kedalaman pirit dangkal (<60 cm) seluas 484,85 ha, dan pirit dalam (>120 cm) seluas 163,75 ha. Terdapat kecenderungan hubungan linier positif antara kedalaman pirit, nilai NDVI ((normalized difference vegetation index) atau kesehatan tanaman, dan produktivitas tanaman. Nilai NDVI dan produktivitas tanaman cenderung lebih baik dengan semakin meningkatnya kedalaman pirit. Hal ini terlihat dari nilai NDVI yang lebih tinggi seiring dengan semakin dalam tingkat kedalaman pirit. Produktivitas tanaman pada lahan dengan kedalaman pirit dalam, berbeda nyata dengan pirit sedang ataupun dangkal. Semakin dangkal kedalaman pirit, produksi kelapa sawit semakin menurun. Penurunan produksi pada kedalaman pirit sedang dan dangkal berturut-turut adalah 19% dan 39%. Upaya pengelolaan lahan sebaiknya disesuaikan dengan kedalaman dan karakteristik pirit.The pyrite layer (FeS2) characterizes acid sulphate soil. Under oxidized conditions, pyrite produces sulphuric acid that increases acidic soil to very acidic (pH 2-3). This condition is a threat to plantation, including oil palm plantation. Therefore, the management of acid sulphate soil must take into account the depth of pyrite layer. Studies on the identification of pyrite and the use of remote sensing in monitoring plant health are urgently required to optimize oil palm production in acid sulphate soil. In this case study, detailed survey and mapping were performed to measure the depth of pyrite followed by plant health analysis, and production analysis. The results showed that the depth of pyrite layer at the site ranged from 30 cm to over 120 cm from the soil surface. The depth indicated that the 72.40% of the soil was categorized medium pyrite depth (60-120 cm). Furthermore, 484.85 ha was shallow pyrite layer (<60 cm) and deep pyrite layer (>120 cm) covered an area of 163.75 ha. A tendency for a positive linear relationship between pyrite depth, NDVI (normalized difference vegetation index) or plant health, and plant productivity. NDVI values and plant productivity and deeper pyrite depth was identified as shown in higher NDVI values following deeper pyrite layer. Plant productivity on deep pyrite soil was significantly different from the one in medium or shallow pyrite soil. Shallower pyrite layer was followed by lower oil palm production. The productivity has decreased by 39% and 19% in soil with pyrite depths of < 60 cm and 60 cm – 120 cm respectively

    Kelimpahan dan Keanekaragaman Collembola dan Hubungannya dengan Tingkat Kesuburan Tanah Lahan Percontohan Reklamasi Tambang Timah Desa Bukit Layang, Bangka: Collembola Abundance and Diversity and Its Correlation With Soil Fertility Status of Tin Mine Pilot Reclamation Project Bukit Layang Village, Bangka

    No full text
    Pulau Bangka merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia, didominasi dengan tambang darat. Berbagai program reklamasi lahan bekas tambang timah telah dilakukan di pulau Bangka, dan untuk memantau keberhasilannya diperlukan indikator-indikator yang mencirikan perbaikan kualitas tanah. Salah satu bioindikator yang memiliki potensi sebagai indikator keberhasilan program reklamasi adalah komunitas mesofauna tanah, seperti Collembola (Ekor pegas). Penelitian lebih lanjut dan variasi korelasi data diperlukan untuk mendukung pernyataan tersebut. Penelitian ini menghitung kelimpahan, keanekaragaman, kekayaan jenis, kemerataan jenis, dan dominansi jenis Collembola yang dihubungkan dengan beberapa parameter kesuburan tanah. Lokasi penelitian merupakan lahan percontohan reklamasi tambang timah darat aluvial “Air Kundur 3”. Collembola yang ditemukan berjumlah 7 famili sebanyak 6.642 invidu. Lahan Reklamasi Air Kundur 3 berdasarkan parameter C-Organik, Kapasitas Tukar Kation, dan Kejenuhan Basa termasuk kategori kesuburan rendah. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa peningkatan nilai indeks keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan jenis diikuti dengan peninggatan parameter C-Organik, Kapasitas Tukar Kation, ketebalan dan berat kering serasah. Peningkatan Kelimpahan relatif dan dominansi Collembola diikuti dengan penurunan indeks keanekaragaman, kekayaan dan nilai kemerataan jenis. Penelitian ini memperkuat dugaan bahwa Indeks keanekaragaman, kekayaan, dan kemerataan jenis Collembola berpotensi dapat digunakan sebagai indikator kesuburan tanah reklamasi lahan pascatambang timah.Bangka Island is the largest tin producer in Indonesia, dominated by onshore mining. Various ex-tin mining land reclamation programs have been implemented in Bangka and to monitor its success, indicators that characterize soil quality improvement are needed. One of the bioindicators that has potential as an indicator of the success of the reclamation program is the soil mesofauna community, such as Collembola (Springtail). Further research and variations in the correlation of data are needed to support this statement. This study calculates the abundance, diversity, species richness, evenness, and dominance of Collembola family associated with several soil fertility parameters. The research location is a pilot reclamation land of the alluvial inland tin mine “Air Kundur 3”. Seven families of Collembola were found with the abundance of 6,642 inviduals. The category of this land reclamation is low soil fertility. The results showed that an increase in the diversity, richness and evenness index values ​​was followed by an increase in the parameters C-Organic, Cation Exchange Capacity, thickness and dry weight of litter. The increase in the relative abundance and dominance of Collembola was followed by a decrease in the index of diversity, richness and evenness of species. This study confirm the prediction that the diversity, richness, and evenness index of Collembola species can be used as an indicator of soil fertility in post-tin mining reclamation

    The effect of growing media on the growth and intensity of Fusarium wilt due to Fusarium oxysporum in chilli (Capsicum annum) nursery: PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L) DAN INTENSITAS SERANGAN LAYU FUSARIUM (Fusarium oxysporum Schlecth) PADA PEMBIBITANNYA

    No full text
    Various fauna and flora live and thrive in the soil.  The existence of soil organisms is not always beneficial for plant growth. Fusarium oxysporum is one of harmful fungi for plants that is living in soils.  Plants affected by Fusarium oxysporum can show wilt symptoms and even die so that it becomes a limiting factor that causes decrease in production and crop failure. Several studies have been conducted to overcome the problem of Fusarium wilt in plants like eradicating disease-struck plants, using fungicides and using biological agents such as Trichoderma sp., but the Fusarium wilt disease can not be handled well.  Based on this case, this research was conducted to determine the effective way to treat Fusarium wilt disease in chilli plants by improving the nursery media.  This research was conducted by combining charcoal and or cocopeat with soil in which Fusarium had been developed.  This is expected to improve the physical, chemical, and biological properties of the soil so that the growth of chilli seedlings will be better and the Fusarium oxysporum fungi does not infect chilli seedlings.  The study was conducted in a plastic house using Completely Randomized Design (CRD). The results showed that the addition of charcoal and or cocopeat with soil show the significant effect on the growth of chili plants and decrease the level of disease intensity up to 0 % while the percentage of Fusarium wilt on soil only treatment reached 53.57 %.  Based on this research, it was concluded that the addition of charcoal and or cocopeat media on soil media had a significant effect on the growth of chilli plants and inhibited the growth of Fusarium oxysporum even though the medium was infected with that fungi.Berbagai jenis fauna dan flora yang berukuran makro, meso, maupun mikro hidup dan berkembang di dalam tanah.  Keberadaan organisme tanah tersebut tidak selalu menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman.  Fusarium oxysporum merupakan salah satu cendawan merugikan yang hidup dan berkembang di dalam tanah yang dapat menyerang tanaman cabai.  Hal ini menjadi salah satu faktor pembatas yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi cabai dan gagal panen.  Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit layu Fusarium misalnya dengan memusnahkan tanaman yang terserang penyakit, menggunakan fungisida hingga menggunakan agen hayati seperti Trichoderma sp.  Namun masalah layu Fusarium belum dapat diatasi dengan baik. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbaikan media pembibitan terhadap pertumbuhan tanaman dan intensitas serangan layu Fusarium pada tanaman cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh media tanam dan pemberian Fusarium oxysporum tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabai.  Perlakuan AF1 (media tanam tanah saja yang diinokulasi dengan Fusarium) berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dibandingkan perlakuan lainnya pada pengamatan 30 hari setelah tanam.  Kejadian penyakit dan tingkat intensitas serangan penyakit paling tinggi terjadi pada perlakuan AF1 yaitu sebesar 71.43% kejadian penyakit dengan intensitas penyakit 53.57%.  Sementara kondisi tanaman yang ditanam pada media lain mengalami tingkat kejadian penyakit dan intensitas penyakit yang rendah bahkan sehat.  Hal ini menunjukkan bahwa penambahan arang sekam dan atau cocopeat berpengaruh nyata memberi hasil pertumbuhan yang lebih baik dan menghambat pertumbuhan cendawan Fusarium oxysporum karena fungsinya sebagai bahan organik mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga pertumbuhan akar tanaman tetap baik meskipun media tanam telah terinfeksi cendawan Fusarium oxysporum

    Estimasi Kadar Klorofil Dan Kadar N Daun Jagung Menggunakan Chlorophyll Content Index: Estimating Chloorophyll and N Content in Corn Leaves Based on Chlorophyll Content Index

    Full text link
    Kadar klorofil berkaitan dengan kondisi tanaman, sehingga dapat digunakan untuk menaksir kadar hara pada tanaman. Pengukuran kadar klorofil daun secara konvensional membutuhkan waktu dan biaya, sehingga perlu dikembangkan  teknologi yang cepat dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk (a) menganalisa indek kadar klorofil (Chlorofil Content Index, CCI) dan kadar klorofil daun pada 10 perlakuan dosis pupuk termasuk kontrol dan beberapa fase pertumbuhan jagung, (b) menganalisa hubungan antara CCI dan kadar klorofil daun, dan (c) menganalisa hubungan CCI dan kadar N.  Pada penelitian ini CCI diukur dengan klorofil meter, sedangkan kadar klorofil dan kadar N daun masing-masing diukur dengan spektrofotometer dan metode Kjeldahl. Hubungan antara CCI terhadap kadar klorofil dan kadar N dianalisis pada umur 4 dan 8 minggu setelah tanam (MST) dengan model regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola kurva CCI pada semua perlakuan dosis mirip yang ditunjukan oleh CCI semakin meningkat dengan bertambahnya umur tanaman dan kemudian menurun dengan menuanya tanaman. Dosis pupuk berpengaruh nyata pada CCI kecuali pada umur 2 dan 3 MST, dimana nilai tertinggi CCI temukan pada dosis pupuk dengan kecukupan hara tinggi yaitu 2 Ultra Gen (UG) + 2/3 Standar (STD) pada umur 7 MST. CCI dan kadar klorofil memiliki hubungan linear positif pada umur 4 MST dan 8 MST dengan korelasi tergolong kuat (r = 0,67) dan sangat kuat (r = 0.76). Model hubungan CCI dengan kadar N daun menunjukan korealsi positif sangat kuat pada umur 8 MST dengan persamaan N (%) = 0,019*CCI + 1,795 (r = 0,75). Hasil ini menunjukan bahwa pengukuran CCI dengan klorofil meter bisa digunakan untuk memperkirakan status hara N daun tanaman.The chlorophyll content is related to the condition of the plant so that it can be used to estimate nutrient content in plants. The conventional measurement of leaf chlorophyll content is time consuming and expensive, so a fast and  efficient technology is needed. This study aims to (a) analyze the chlorophyll content index (CCI) and leaf chlorophyll content in 10 fertilizer dosage treatments including control and several growth phases of corn, (b) analyze the relationship between CCI and leaf chlorophyll content, and (c) analyze the relationship between CCI and N content. In this study, the CCI was measured with a chlorophyll meter, while the chlorophyll content and N content of leaves were measured using a spectrophotometer and the Kjehdahl method, respectively. The relationship between CCI on chlorophyll content and N content was analyzed at 4 and 8 weeks after planting (WAP) using a simple linear regression model. The results showed that the CCI curve pattern in all dosage treatments was similar as indicated by the CCI increasing with increasing plant age and then decreasing with plant aging. Fertilizer dose had a significant effect on CCI except at 2 and 3 WAP, where the highest CCI was found at fertilizer doses with high nutrient adequacy, i.e. 2 Ultra Gen (UG) + 2/3 Standard (STD) at 7 MST. The CCI and chlorophyll content had a positive linear relationship at  4 WAP and 8 WAP with a strong (r = 0.67) and very strong (r = 0.76) correlation. The relationship model between CCI and leaf N content showed a very strong positive correlation at 8 WAP with the equation N (%) = 0.019*CCI + 1.795 (r = 0.75). These results indicate that the measurement of the CCI with a chlorophyll meter can be used to estimate the N nutrient status of plant leaves properly

    Landslide Hazard in Sukabumi Regency based on Weight of Evidence (WoE), Logistic Regresion (LR) and WoE-LR Combination Methods: Bahaya Longsor di Kabupaten Sukabumi berbasis Metode Weight of Evidence (WoE), Logistic Regression (LR) dan Kombinasi WoE-LR

    Full text link
    Tingginya kejadian longsor di Kabupaten Sukabumi menjadi penyebab diperlukannya data dan informasi kawasan yang memiliki potensi longsor. Identifikasi potensi longsor dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dimana metode statistik adalah pendekatan yang paling banyak digunakan untuk pemetaan longsor. Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah memprediksi longsor di Kabupaten Sukabumi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Weight of Evidence (WoE), Logistic Regression (LR), dan kombinasi WoE-LR. Hasil pengujian menunjukkan bahwa parameter yang layak digunakan menjalankan model adalah jarak dari jalan, jarak dari sungai, jarak dari patahan, SPI, TWI, Elevasi dan Lereng. Hasil metode WoE menunjukkan bahwa parameter elevasi <300 m, jarak dari jalan >200 m dan jarak dari sungai >100 m merupakan kelas parameter yang tidak baik untuk memprediksi longsor. Sebaliknya, parameter lereng 8–15%, jarak dari jalan 31–70 m dan elevasi 700–800 baik digunakan untuk memprediksi longsor. Pada metode LR, parameter elevasi dan jarak dari jalan secara signifikan berpengaruh terhadap longsor. Hasil metode kombinasi WoE-LR menunjukkan bahwa parameter jarak dari jalan dan SPI merupakan parameter yang kurang baik untuk memprediksi longsor. Sebaliknya, parameter lereng dan TWI merupakan parameter yang paling baik untuk memprediksi bahaya longsor. Berdasarkan pengujian ketiga metode tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode kombinasi WoE-LR adalah metode yang paling baik dalam memprediksi bahaya longsor di wilayah penelitian.The high frequency of landslides in Sukabumi Regency caused the need for data and information of potential landslides areas. The most widely used method to identify potential landslides is stastical method. Therefore, this study aims to predict landslide hazard in Sukabumi Regency. This research used Weight of Evidence (WoE), Logistic Regression (LR), and WoE-LR combination methods. Results showed that suitable parameters for running the models are distance from road, distance from river, distance from fault, SPI, TWI, elevation and slope. WoE method’s results showed elevation <300 m, distance from road >200 m and distance from friver >100 m are bad parameter classes to predict landslides in this study area. Whereas slope 8-15%, distance from road 31-70 m and elevation 700-800 m are good parameters to predict landslide potential. As for LR method, elevation and distance from road have significant effect on landslides. WoE-LR combination method’s results showed distance from road and SPI are bad parameters for predicting landslide potential. Conversely, slope and TWI are the best parameters to predict landslide hazards, including elevation, distance from fault and distance from river. Therefore it can be concluded that WoE-LR combination method is the best for predicting landslide hazard in the study area

    Respon Spektral Tajuk Jagung pada beberapa Perlakuan Pemupukan: Spectral Response of Maize Canopy to Several Fertilization Treatments

    Full text link
    Deteksi dini status hara tanaman selama siklus tanaman penting dilakukan untuk mencegah kehilangan hasil dan mengoptimalkan hasil serta kualitasnya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis respon reflektansi spektral tajuk jagung pada 10 perlakuan pemupukan termasuk kontrol menggunakan spektroradiometer. Pada penelitian ini hubungan antara kadar hara dan respon spektral difokuskan pada kadar N daun, yang dianalisis pada umur 4 dan 8 minggu setelah tanam (MST). Model regresi linear sederhana dan berganda dibuat untuk mempelajari hubungan tersebut baik model berbasis spektrum panjang gelombang penuh dan terpilih untuk melihat keterkaitan antara reflektansi spektral dan kadar N daun. Secara umum pola respon spektral jagung untuk setiap perlakuan pada umur 4 dan 8 MST mirip, dengan nilai reflektansi 4 MST lebih rendah dari 8 MST untuk seluruh panjang gelombang. Kadar N daun dapat diidentifikasi pada panjang gelombang hijau 555 nm, yang ditunjukan oleh reflektansi paling rendah pada umur 4 MST dan tinggi pada umur 8 MST untuk perlakuan 1 standar (STD) atau dosis N tertinggi. Reflektansi rendah dari panjang gelombang 555 nm perlakuan ini menunjukkan bahwa kadar N pada daun lebih tinggi pada umur 4 MST dari umur 8 MST. Panjang gelombang merah, hijau dan red-edge pada umur 4 MST dan 8 MST menunjukan hubungan yang sedang sampai sangat kuat dengan kadar N daun dengan koefisien determinasi  (R2) lebih besar dari 0.40. Model sangat kuat ditunjukan oleh model regresi berganda antara spektrum biru, hijau, merah, red-edge, dan infra merah dekat terhadap kadar N daun baik untuk 4 MST maupun 8 MST. Model berbasis panjang gelombang yang dipilih mendapatkan bahwa hubungan sangat kuat ditampilkan oleh panjang gelombang 671 nm.Early detection of plant nutrient status during the maize cycle is important to prevent yield loss and to optimize yield and quality. This study was conducted to analyze the spectral response of the maize canopy to 10 fertilization treatments including control using a spectroradiometer. In this study, the relationship between nutrient content and spectral response was focused on leaf N levels, which were analyzed at 4 and 8 weeks after planting (WAP). Simple and multiple linear regression models were developed to study this relationship, both models based on wavelength spectrum and selected wavelength to see the relationship between spectral reflectance and leaf N content. In general, the spectral response pattern of maize canopy for each treatment at 4 and 8 WAP was similar, where the reflectance of 4 WAP being lower than 8 WAP for all wavelengths. Leaf N levels could be identified at the green wavelength of 555 nm, which was indicated by the lowest reflectance at 4 WAP and high at 8 WAP for treatment of 1 standard (STD) or the highest N dose. The low reflectance of the 555 nm wavelength of this treatment indicated that the N content in the leaves was higher at 4 WAP than 8 WAP. The red, green, and red-edge wavelengths at 4 WAP and 8 WAP showed a moderate to very strong relation with leaf N content with a coefficient of determination (R2) greater than 0.40. The very strong model was shown by the multiple regression model between the combination of blue, green, red, red-edge, and near-infrared spectrum for leaf N levels for both 4 WAP and 8 WAP. The selected wavelength-based model found that the relationship was very strong shown by the wavelength of 671 nm

    Efektivitas Pupuk Hayati Cair pada Tanaman Padi Sawah (Oryza Sativa) Serta Analisis Usaha Taninya: The Effectiveness of Liquid Bio-Fertilizer on Rice Plants (Oryza sativa) and the Analysis of Farming Business

    Full text link
    Petani di Indonesia mulai memahami pentingnya pupuk hayati dengan standar kualitas dan efektivitas yang dipersyaratkan oleh Kementerian Pertanian RI. Sehingga banyak pupuk hayati yang beredar di pasaran perlu dilakukan penelitian untuk menguji kualitas dan efektivitasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kualitas dan efektivitas, serta analisis usahatani pupuk hayati cair pada padi sawah (Oriza sativa). Perlakuan disusun dalam 5 taraf pemupukan yaitu: tanpa pemupukan atau kontrol (P0), 1,00 dosis NPK (P1), 1,00 dosis NPK + 1,00 dosis pupuk hayati (P2), 0,75 dosis NPK + 1,00 dosis pupuk hayati (P3), 0,50 dosis NPK + 1,00 dosis pupuk hayati (P4). Percobaan dilakukan dengan 4 ulangan sehingga terdapat 20 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan merupakan sebidang tanah dengan luas 25 m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji mutu memenuhi kriteria Permentan No. 1 Tahun 2019, serta penerapan pupuk hayati di lapangan secara umum menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah yang sama dengan pembanding, dan lebih baik dari perlakuan kontrol. Perlakuan 0,75 dosis NPK + 1,00 dosis pupuk hayati merupakan perlakuan yang paling efektif dan menguntungkan secara agronomis dengan nilai RAE 100%, dan secara ekonomis dengan nilai R/C 1,83.Farmers in Indonesia are beginning to understand the importance of biofertilizers with standardized quality and effectiveness required by the Indonesian Ministry of Agriculture. So that many biological fertilizers circulating in the market need to be researched to test their quality and effectiveness. The purpose of this study was to test the quality and effectiveness, as well as farm business analysis of liquid biological fertilizers on lowland rice (Oriza sativa). The treatments were arranged in 5 levels of fertilization, namely: without application of fertilizer or control (P0), 1.00 dose of NPK (P1), 1.00 dose of NPK + 1.00 dose of biological fertilizer (P2), 0.75 dose of NPK + 1.00 dose of biological fertilizer (P3), 0.50 dose NPK + 1.00 dose of biofertilizer (P4). The experiment was carried out with 4 replications so that there were 20 experimental units. Each experimental unit is a plot of land with an area of ​​25 m2. The results showed that the quality test met the criteria of Ministry of Agriculture No. 1 of 2019, also the application of biological fertilizers in the field in general resulted in the growth and yield of lowland rice plants that were the same as the comparison, and better than the control treatment. The treatment of 0.75 doses of NPK + 1.00 doses of biological fertilizers is the most effective and beneficial treatment agronomically with an RAE value of 100%, and economically with an R/C value of 1,83

    Fragmentation of Irrigated and Rainfed Paddy Field in Cianjur Regency, West Java

    Full text link
    Paddy field is the agriculture land that produces rice and needs to be protected because of the threat of high conversion. In the period 2003-2013, paddy field in West Java Province has decreased by 9098 ha, while all of Indonesia increased by 235 538 ha (2014) because of the new paddy field outside Java. In the period January-September 2022 national production reached 45.43 millian ton. Conversion of paddy field into built up area, especially in Java will affect to fragmentation level of paddy field themsefves.  The purpose of this research is to analyze the fragmentation of irrigated and rainfed paddy field in Cianjur Regency. Fragmentation index that used in this research are Class Area (CA), Number of Patch (NumP), Mean Patch Size (MPS), Patch Size Standard Deviation (PSSD), Mean Sharp Index (MSI). The results showed that rainfed paddy field are more fragmented than irrigated paddy field, which is indicated by greater NumP values. Clutering of districts based on irrigated and rainfed paddy fields fragmentation index, each of which produces 3 groups . The high group has an increasingly fragmented tendency that identified by the high value of area (CA) and the number of patchs (NumP), while the other parameters are less able to characterize fragmentation difference. The fragmentation of irrigated and rainfed paddy fields in northern Cianjur Regency is influenced by the land conversion while in central and southern due to sloping topography

    Evaluasi Penggunaan Pupuk Hayati pada Pertumbuhan Tanaman Alpukat (Persea americana Mill.) di Kebun Superavo, Subang: Evaluation of the Use of Biofertilizer on the Growth of Avocado Plants (Persea americana Mill.) at Superavo Orchard, Subang

    No full text
    Peningkatan jumlah produksi alpukat dipengaruhi oleh efektivitas pemupukan. Pemupukan adalah hal terpenting dalam pertanian untuk meningkatkan nutrisi tanaman, mencapai tinggi hasil, dan perubahan lingkungan tanah. Penggunaan pupuk hayati diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman serta memperkecil peluang terjadinya degradasi lahan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan faktor tunggal berupa pemupukan. RAK ini mempunyai sembilan taraf perlakuan, yaitu: 1) kontrol (tanpa pupuk NPK dan hayati), 2) pupuk NPK 100%, 3) pupuk NPK 50%, 4) pupuk NPK 100% + pupuk hayati 100%, 5) pupuk NPK 100% + pupuk hayati 50%, 6) pupuk NPK 50% + pupuk hayati 100%, 7) pupuk NPK 50% + pupuk hayati 50%, 8) pupuk hayati 100%, 9) pupuk hayati 50%. Perlakuan ini diulang sebanyak lima ulangan. Penggunaan NPK sebagai kombinasi dan substitusi dari pupuk hayati. Pupuk dasar yang digunakan, yaitu pupuk kandang sebanyak 1.25 kg/pohon. Secara keseluruhan perlakuan terbaik adalah kombinasi dari pupuk NPK dan pupuk hayati khususnya pada perlakuan P3, yaitu kombinasi antara NPK 100% dan pupuk hayati 100%. Hal ini terlihat pada pertumbuhan vegetatif tanaman alpukat serta hasil analisis kimia dan biologi tanah yang meningkat. Hasil siginifikan terjadi pada laju tinggi tanaman, jumlah cabang tersier, N-total, dan aktivitas invertase tanah.Increasing the amount of avocado production is influenced by the effectiveness of fertilization. Fertilization is the most important thing in agriculture to improve plant nutrition, achieve high yields, and change the soil environment. The use of biofertilizer is needed to improve the quality and quantity of plants and reduce the chance of land degradation. The experimental design used was a randomized block design (RBD) with a single factor in fertilization. This RAK has nine treatment levels, namely: 1) control (without NPK and biofertilizer), 2) 100% NPK fertilizer, 3) 50% NPK fertilizer, 4) 100% NPK fertilizer + 100% biofertilizer, 5) NPK fertilizer 100% + 50% biofertilizer, 6) 50% NPK fertilizer + 100% biofertilizer, 7) 50% NPK fertilizer + 50% biofertilizer, 8) 100% biofertilizer, 9) 50% biofertilizer. This treatment was repeated five times. The use of NPK as a combination and substitution of biofertilizer. The basic fertilizer used, namely manure as much as 1.25 kg/tree. Overall, the best treatment was a combination of NPK fertilizer and biological fertilizer, especially in the P3 treatment, namely a combination of 100% NPK and 100% biological fertilizer. This can be seen in the vegetative growth of avocado plants and the soil\u27s chemical and biological analysis, which have increased. Significant results occurred in plant height, the number of tertiary branches, total N, and soil invertase activity

    233

    full texts

    301

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇