Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
Analysis of Pedindang Bassin Performance Post Tin Minning in Central Bangka Regency, Bangka Belitung Province: Analisis Kinerja DAS Pedindang Pasca Tambang Timah Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Bangka Belitung
Aktifitas kegitan manusia di dalam DAS Pedindang secara langsung mempengaruhi keadaan fisik lahan, kualitas air, dan kinerja DAS Pedindang. Aktifitas kegiatan penambangan merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan kerusakan tanah, menurunnya kualitas air dan meningkatnya aliran permukaan. Tujuan penelitian ini adalah: i) menganalisis kualitas air di DAS Pedindang pada daerah hulu dan daerah lain yang mengalami pencemaran; ii) menganalisis tingkat kerusakan tanah yang berada di DAS Pedindang pasca penambangan timah; iii) mengevaluasi kinerja DAS Pedindang dengan pendekatan Koefisien Regim Aliran (KRA) dan Koefisien Aliran Tahunan (KAT). Penelitian ini menggunakan metode analisis tumpangtindih GIS serta penilaian ambang batas kerusakan tanah, penilaian ambang batas kualitas air dan kinerja DAS dengan penilaian KRA dan KAT. Hasil evaluasi DAS Pedindang menunjukkan bahwa kondisi kualitas air dalam DAS pedindang mengalami penurunan di wilayah hilir akibat aktifitas tambang, sehingga perlu adanya penanganan tanah tambang.Human activities directly affect the physical condition of the land, water quality, and performance of Pedindang Basin. Mining activity is contributing to land damage, decreasing water quality and increasing surface flow. The objectives of this study were: i) analyze the quality of water in the upstream of Pedindang Basin; ii) analyze the level of soil degradation due to the tin mining; and iii) evaluate the Flow Regime Coefficient and Annual Flow Coefficient. This study used GIS analysis. The results of the evaluation showed that the condition of water quality in Pedindang Basin has decreased in the downstream area due to mining activities
Soil Hydrological Characteristics Under Pine (Pinus merkusii), Merawan (Hopea odorata Roxb), and African Mahogany (Khaya anthoteca) Stands: Karakteristik Hidrologi Tanah di Bawah Tegakan Pinus (Pinus merkusii), Merawan (Hopea odorata Roxb) dan Mahoni Uganda (Khaya anthoteca)
Kerusakan hutan dapat mempengaruhi fungsi hidrologi hutan sebagai pengatur tata air, menjaga waktu dan penyebaran aliran air sungai, menjaga iklim mikro, dan melindungi daerah di bawahnya dari berbagai bencana seperti banjir. Penanaman pohon kembali dinilai merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki kondisi hutan dan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji karakteristik hidrologi tanah di bawah tegakan tanaman Pinus (Pinus merkusii), Mahoni Uganda (Khaya anthoteca), dan Merawan (Hopea odorata Roxb). Metoda yang digunakan adalah pengukuran sifat-sifat fisik tanah secara periodik. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan karakterisitik kadar air, infiltrasi dan permeabilitas pada berbagai tegakan pohon. Perubahan kadar air tertinggi terjadi pada tanah di bawah Pinus sebesar 3.05%, Merawan sebesar 2.40%, dan terendah pada Mahoni Uganda sebesar 1.89% pada kedalaman tanah yang sama. Infiltrasi tertinggi sebesar 116.25 cm jam-1 di bawah tegakan Pinus, terendah 24 cm jam-1 di bawah tegakan Merawan. Permeabilitas tertinggi sebesar 13.27 cm jam-1 di bawah tegakan Pinus, terendah di bawah tegakan merawan sebesar 2.72 cm jam-1. Tekstur tanah relatif sama pada masing-masing tegakan yakni didominasi oleh liat. Tanah di bawah tegakan tanaman Pinus, Merawan dan Mahoni Uganda termasuk kelompok hidrologi tanah B.Forest destruction may affect forest hydrological functions either as a water regulator, maintaining the timing and distribution of river water flows, maintaining microclimate, or being able to protect the underlying areas from disasters such as floods. Revegetation is considered as an effort to improve the condition of forest and environment. The objective of this study was to examine the hydrological characteristics of soil under stands of Pinus (Pinus merkusii), Ugandan Mahogany (Khaya anthoteca), and Merawan (Hopea odorata Roxb). The method used is periodic measurement of soil physical variables. Our investigation reveals that hydrological and physical properties of soil under the stands were different. Within the same depth of soil, water content changed from the highest to the lowest in Pine (3.05%), Merawan Siput Jantan (2.40%), and African Mahogany (1.89%), respectively. The highest infiltration was 116.25 cm hour-1 under Pine stand, while the lowest was 24 cm hour-1 under Merawan Siput Jantan stand. The highest permeability was 13.27 cm hour-1 under Pine stand, while the lowest was 2.72 cm hour-1 under Merawan Siput Jantan stand. Dominated by clay, the soil texture was relatively similar in each stand. Further, the soil under the three stands were categorized as the soil hydrological group B
Aliran Permukaan, Erosi dan Kehilangan Hara Kebun Kelapa Sawit Kabupaten Sorolangun Provinsi Jambi: Surface runoff, Soil erosion and Nutrient Losses in Oil Palm Platation Sorolangun District, Jambi Province
Kehilangan hara melalui limpasan permukaan dan erosi yang dibawa dari lahan pertanian, merupakan penyebab utama degradasi lahan pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kehilangan unsur hara dari perkebunan kelapa sawit yang disebabkan oleh erosi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan plot erosi berukuran 12 m x 3 m yang terdiri dari kombinasi dua faktor: jenis gawangan antar baris kelapa sawit dan kemiringan. Limpasan permukaan dan nilai erosi pada gawangan hidup lebih tinggi daripada di gawangan mati. Kehilangan unsur hara N, P, dan K dari tanah yang tererosi secara berturut-turut berturut-turut adalah 0.04; 0.11 dan 0.10 ton ha-1 tahun-1. Total kehilangan hara (N, P, K) dalam gawangan mati adalah 0.007; 0.024 dan 0.023 ton ha-1 tahun-1.Loss of nutrients through surface runoff and erosion carried from agricultural land, is a major cause of agricultural land degradation. The purpose of this study was to analize nutrients loss from oil palm plantation caused by erosion. This study was carried out using erosion plots measuring 12 m x 3 m consisting a combination of two factors: type of oil palm inter-row and slope. Surface runoff and erosion values in the active inter-row was higher than those in death inter-row. The nutrients loss of N, P, and K from soil eroded in active inter-row were respectively 0.04; 0.11 and 0.10 ton ha-1 year-1. The total nutrient losses (N, P, K) in dead inter-row were 0.007; 0.024 dan 0.023 ton ha-1 year-1
Soil Chemical and Physical Characteristics in Pineapple Plantation with Different Rate of Yield: Karakteristik Kimia dan Fisika Tanah di Area Pertanaman Nanas dengan Perbedaan Tingkat Produksi
Data produksi dari perkebunan nanas di Lampung Tengah menunjukkan terdapat perbedaan produktivitas antar unit lahan walaupun dalam pengelolaan lahan dan pemupukan yang sama. Perbedaan ini diduga terjadi akibat adanya variabilitas sifat kimia dan fisik tanah. Penelitian bertujuan membandingkan sifat kimia dan fisika tanah di area pertanaman nanas dengan produksi berbeda. Contoh tanah diambil di area pertanaman berdasarkan perbedaan produksi yaitu di 6 blok lahan produksi rendah dan 3 blok lahan produksi tinggi. Sifat kimia tanah yang diukur meliputi P dan K tersedia, P dan K potensial, N total, pH, C-organik, kation-kation dapat ditukar, dan unsur mikro tersedia. Sedangkan sifat fisika tanah yang diukur mencakup bobot isi, tekstur tanah, dan ketahanan penetrasi di sekitar perakaran secara vertikal dan horizontal. Data penelitian dianalisis dengan uji T dan korelasi. Hasil uji T sifat kimia tanah menunjukkan tanah yang berproduksi tinggi nyata memiliki P tersedia, P potensial, N total dan Zn tersedia yang lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang berproduksi rendah. Selain itu tanah berproduksi tinggi nyata memiliki bobot isi, penetrasi vertikal, dan penetrasi horizontal yang lebih rendah dibandingkan tanah yang berproduksi rendah. Terdapat korelasi negatif nyata antara produksi nanas dengan P potensial, Zn tersedia, bobot isi, penetrasi horizontal, penetrasi vertikal. Analisis keseluruhan menunjukkan bahwa sifat fisika tanah terutama bobot isi ketahanan penetrasi lebih sebagai penentu produktivitas dibandingkan sifat kimia. Sifat kimia tanah lebih menunjukkan kondisi residu setelah penyerapan hara untuk menunjang produksi nanas. Untuk dapat meningkatkan produksivitas lahan, diperlukan pengelolaan tanah untuk menurunkan bobot isi dan ketahanan penetrasi.Differences in productivity were observed in various land units on pineapple plantation in Central Lampung even with the same land and fertilization management. The nature of soil chemical and physical variability were thought to be the cause of these differences. The study was aimed to compare chemical and physical soil properties in land units with different pineapple productivity. Soil samples were taken from 6 units of land with low and 3 units of land with high productivity. The soil chemical properties measured include available P and K, potential P and K, total N, pH, organic C, exchangeable cations, and available micro nutrients. The soil physical properties determined include bulk density, soil texture, and penetration resistance. The data was analyzed using T-test and correlation. The T-test revealed that the high productivity soils were significantly lower in available P, potential P, total N, and available Zn compared to the productivity soils. Furthermore, the high productivity soils were significantly lower in bulk density and penetration resistances both vertically and horizontally. There were significantly negative correlations between pineapple yields with potential P, available Zn, bulk density, and penetration resistance both vertically and horizontally. Overall analyses indicating that the physical properties were more as productivity determinant, particularly bulk density and penetration resistance, compared to the chemical properties. The chemical properties were more as residual conditions after nutrient absorption process to support pineapple productivity. In order to increase the productivity, it is necessary to manage the soil to lower bulk density and penetration resistance
Modeling of Peat Water Table Depth Related to Physical Characteristics of Peatlands: Pemodelan Tinggi Muka Air Gambut Berdasarkan Sifat Fisik Lahan Gambut
Peatland in Indonesia covers about 7% of the Indonesia land area. It also is facing some challenges especially related to land conversion and peat utilization. By law, utilization of peatlands can be done on specific peatland area and drainage canal is developed to lowering the water table. Therefore, the monitoring of peat water depth (TMA) should be established in order to minimize the negative impact of peatland utilization. However, to save time and cost it is necessary to have a model that can estimate the peat water table from its physical properties. The aim of this study is to develop a model for estimating TMA by using from the physical character of peatland. Then, it can be used as an early warning system to prevent fire that might occur. The confidence set of model was chosen by using the Akaike Information Criteria with a small sample sound (AICc). The results shows a confidence set of model consists of four models which includes bulk density at the depth of 0-50 cm, fiber content at the depth of 50-100 cm and the peat depth as model predictors. The model also showed a good agreement with the field measurement with the RMSE of 16.2 cm and R2 of 81%. This study suggests the critical peat water table depth to prevent fire is about 74 cm. Therefore, the condition of TMA should be maintained shallower than this level, otherwise the peat fire might occur.Lahan gambut di Indonesia cukup luas yaitu sekitar 7% dari luas daratan Indonesia. Beberapa tantangan terutama berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan dialami oleh gambut di Indonesia. Pemanfaatan lahan gambut berdasarkan peraturan dapat dilakukan pada ekosistem gambut berfungsi budidaya yang biasanya disertai dengan pembangunan kanal untuk menurunkan tinggi muka air (TMA). Oleh karena itu pengamatan TMA harus dilakukan untuk meminimalkan dampak pemanfaatan lahan gambut. Untuk menghemat waktu dan biaya maka perlu adanya suatu model yang dapat menduga kedalaman muka air gambut berdasarkan sifat-sifat fisik gambut. Tujuan penelitian ini yaitu mencari model estimasi TMA dengan menggunakan sifat fisik lahan gambut sebagai upaya pencegahan terjadinya kebakaran gambut. Model aproksimasi terbaik dipilih dengan menggunakan Kriteria Informasi Akaike dengan koreksi sampel kecil (AICc). Studi ini memperoleh satu confidence set of model yang terdiri dari empat model dengan bobot isi (0-50 cm), kadar serat (50-100 cm) and kedalaman gambut sebagai predictor model. Hasil model juga menunjukkan kesesuaian dengan data pengukuran TMA di lapangan yang ditunjukkan oleh RMSE sebesar 16.2 cm dan R2=81%. Dari penelitian ini, tinggi muka air tanah gambut kritis untuk deteksi dini kebakaran hutan adalah pada kedalaman 74 cm. Oleh karena itu, kondisi TMA gambut harus dijaga lebih dangkal dari kedalaman kritis, jika tidak kebakaran gambut akan lebih mudah terjadi
Hazard Assessment and Mitigation Directives of Flood Disaster in Cekungan Bandung Area: Penilaian Bahaya dan Arahan Mitigasi Banjir di Cekungan Bandung
Banjir di Cekungan Bandung terjadi setiap tahun di wilayah cekungan terendah seperti di Kecamatan Majalaya, Ciparay, Deyeuhkolot, Rancaekek, Bojongsoang, dan Baleendah, Kab. Bandung. Kajian analisis bahaya dan arahan mitigasi banjir merupakan salah satu upaya untuk mengurangi risiko dari bencana tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bahaya dan menyusun arahan mitigasi banjir di wilayah Cekungan Bandung. Bahaya banjir diidentifikasi dengan menganalisis daerah bahaya banjir menggunakan Modification Topography Wetness Index (MTWI), sedangkan arahan mitigasi banjir dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil analisis bahaya dengan data penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2.36% daerah Cekungan Bandung termasuk kelas bahaya tinggi, 7.15% termasuk bahaya sedang, dan 90.49% termasuk daerah bahaya rendah. Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan yang rendah juga menjadi salah satu faktor penyebab banjir di Cekungan Bandung. Pada zona prioritas arahan mitigasi banjir dilakukan dengan pembuatan saluran drainase tambahan untuk mengalirkan air dari cekungan terendah. Selain itu, perlu dilakukan pengendalian penggunaan lahan dengan cara penegakan hukum terhadap penggunaan lahan yang tidak sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan pada lahan kritis di DAS Citarum Hulu.Floods in Bandung Basin occur every year in the lowest basin areas such as Majalaya, Ciparay, Deyeuhkolot, Rancaekek, Bojongsoang and Baleendah Sub-Districts, Bandung Regency. Hazard analysis and flood mitigation assessment is an important effort to reduce the risks of the disaster. This paper analyzes the hazards and flood mitigation direction in the region of Bandung Basin. The study was conducted by utilizing topographic and flood history data in analyzing hazards, then prepares mitigation directives based on the results of hazard analysis and land use in the area. Flood hazard was identified by analyzing the hazard area using Modification Topography Wetness Index (MTWI), while flood mitigation direction was analyzed descriptively by comparing the results of hazard analysis with land use data. Result of the study shows that 2.36% of the basin area is classified as high hazard which is flood prone area, 7.15% is moderately dangerous and 90.49% is low hazard area. The low public awareness to enviroment is one factor that cause flood in Bandung Basin. At the priority zones it is recommended to build additional drainage to flow water from the lowest basins. In addition, the mitigation efforts in area is conducted by law enforcement on land use that does not match the spatial pattern of Spatial Plan (RTRW) and forest and land rehabilitation in the Citarum Hulu watershed.
 
Identification of Landslide Risk in the City of Bogor: Identifikasi Daerah Risiko Bencana Longsor di Kota Bogor
Bencana longsor merupakan salah satu bencana yang sering melanda Indonesia. Data yang dihimpun dari BPBD Kota Bogor, menunjukkan pula bahwa kejadian longsor menempati urutan pertama dari 6 jenis bencana yang ada di Kota Bogor; pada tahun 2017 terdapat 179 kejadian longsor (40.5%) dari 442 kejadian bencana yang tercatat. Guna mendukung program pembangunan di kota ini, penelitian risiko longsor sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dan memetakan risiko longsor Kota Bogor dan merumuskan rekomendasi mitigasinya. Metode yang digunakan adalah Multi Criteria Evaluation dimana bobot dan skor dari setiap parameter diperoleh dari Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat kerawanan dan bahaya longsor tertinggi luasannya terdapat di Kecamatan Bogor Selatan, hal ini sesuai dengan kondisi landform yang ada di wilayah tersebut, dimana 60.5% wilayahnya merupakan bentuklahan lereng bawah kerucut vulkanik denudasional, tebing sungai, serta lembah dan teras alluvial. Namun demikian untuk risiko tertinggi luasannya terdapat di Kecamatan Bogor Utara. Hal ini dikarenakan dominasi penggunaan lahan permukiman dan jumlah penduduk yang tinggi, sehingga faktor kerentanan menjadi indikator naiknya nilai risiko. Untuk Kota Bogor yang dominan dengan penggunaan lahan permukiman, arahan mitigasi yang direkomendasikan meliputi perlakuan teknik sipil, teknik vegetatif, dan teknik sosial pada kelas risiko sedang dan tinggi. Kecamatan Bogor Selatan dalam hal ini merupakan kecamatan yang paling luas areanya untuk diterapkan tindakan mitigasi.Landslide is one of the disasters that often hit Indonesia. Data collected from BPBD Office of Bogor City also shows that landslide events ranked first out of 6 types of disasters in Bogor City; in 2017 there were 179 landslides (40.5%) of the 442 recorded disaster events. To support development programs in the city, landslide risk research is needed. This study aimed to assess and map the risk of landslides in Bogor City and formulate mitigation recommendations. The method used is the Multi Criteria Evaluation where the weights and scores of each parameter are obtained from the Analytical Hierarchy Process (AHP). The results obtained show that the highest level of susceptibility and landslide hazard is in the South Bogor District, this is in accordance with the landform conditions in the region, where 60.5% of the area has landforms with steep slopes i.e. denudational volcanic cones, river banks, and valleys with alluvial terrace. However, for the highest risk, the extent area is located in North Bogor District. This is due to the dominance of residential and high population, so the vulnerability factor is an indicator of rising risk values. For Bogor City which is dominant with residential, recommended mitigation include 3 types of engineering, namely civil, vegetative, and social for medium and high risk classes. Bogor Selatan sub-district in this case is the district with the most extensive area to implement mitigation measures
Alternative of Soil and Water Conservation Techniques in Cilemer Watershed, Banten: Alternatif Teknik Konservasi Tanah dan Air untuk DAS Cilemer, Banten
Banjir dan kekeringan merupakan persoalan rutin yang terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cilemer karena kualitasnya menurun. Penerapan Konservasi Tanah dan Air (KTA) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas DAS Cilemer. Studi ini bertujuan untuk mensimulasikan beberapa teknik KTA, mendapatkan alternatif teknologi KTA, dan menyusun arahan pengelolaan DAS yang baik. Penelitian dilaksanakan kedalam beberapa tahap yaitu: (i) pengumpulan data sekunder, (ii) survei lapang (pengumpulan data primer), (iii) analisis data, (iv) running model SWAT, (v) simulasi KTA dengan model SWAT, (vi) skenario pengelolaan DAS, serta (vii) penyusunan arahan pengelolaan DAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan KTA dapat memperbaiki kualitas DAS yang ditandai dengan menurunnya rasio Qmax/Qmin dan aliran permukaan langsung serta meningkatnya aliran dasar dan water yield. Strip cropping, agroforestry dan embung dapat dijadikan alternatif teknologi KTA yang dapat diimplementasikan secara simultan di DAS Cilemer pada sub agroekosistem dimana teknologi tersebut sesuai untuk diterapkan. Embung adalah skenario pengelolaan DAS terbaik, yang mampu menurunkan aliran permukaan langsung sebesar 29.24%, koefisien aliran tahunan menurun dari 0.25 menjadi 0.17, meningkatkan aliran dasar sebesar 46.00% dan hasil air sebesar 3.99%.Floods and droughts are routine problems that occur in Cilemer Watershed due to their decrease in quality. Application of Soil and Water Conservation (SWC) is one solution to improve the quality of Cilemer Watershed. A study aimed to simulate several SWC, obtain alternative of SWC and provides the best watershed management directions was carried out Cilemer Watershed. The research was carried out in several stages: (i) secondary data collection, (ii) field survey (primary data collection), (iii) data analysis, (iv) running SWAT model, (v) SWC simulation with SWAT model, (vi) watershed management scenarios, and (vii) arrangement of watershed management directives. The result shows that the application of SWC can improve watershed quality which is characterized by decreases Qmax/Qmin ratio and direct runoff but increases base flow and water yield. Application of mini traditional reservoir is the best watershed management scenario. This scenario is able to decrease the direct runoff, but increase base flow and water yield much greater than other scenarios. Application of mini traditional reservoir decreses direct runoff by 29.24%, where the coefficient of runoff decreases from 0.25 (existing condition) to 0.17. In addition, the scenario can also increase base flow by 46.00% (from 357.5 mm to 522.0 mm) and water yield by 3.99%. Water yield increase from 904.5 mm (existing condition) to 941.0 mm
Mitigasi Banjir DAS Citarum Hulu Berbasis Model HEC-HMS: Flood Mitigation of Upper Citarum Base on HEC-HMS Model
Banjir yang terjadi hampir setiap tahun di DAS Citarum Hulu menyebabkan DAS ini menjadi sorotan oleh berbagai pihak. Pemodelan hidrologi merupakan salah satu teknik mitigasi banjir untuk memprediksi debit banjir di daerah aliran sungai. Model HEC-HMS dapat digunakan sebagai dasar untuk prediksi debit banjir di suatu DAS, terutama untuk menghitung hujan-runoff yang tidak terukur. Model HEC-HMS terdiri dari curah hujan dan karakteristik sebagai input serta debit aliran dan volume runoff sebagai output. Tujuan dari penelitian ini adalah: (i) untuk memprediksi debit puncak di DAS Citarum Hulu; (ii) melakukan analisis terhadap debit banjir menggunakan simulasi model HEC-HMS; dan (iii) memberi rekomendasi skenario mitigasi banjir untuk mengurangi debit puncak di DAS Citarum Hulu. Persiapan parameter utama untuk input model HEC-HMS dihitung dengan menggunakan extention HEC-GeoHMS dengan metode SCS. Debit banjir yang dihitung pada model HEC-HMS menggunakan metode SCS-UH pada komponen transform, metode recession pada komponen baseflow, dan metode lag pada komponen routing. Hasil analisis menunjukkan bahwa model HEC-HMS memiliki performance yang baik dalam memprediksi debit banjir dengan nilai R2 dan NSE pada proses kalibrasi berturut-turut sebesar 0.81-0.96 dan 0.56-0.87. Pada proses validasi dalam memprediksi debit banjir menghasilkan nilai R2 dan NSE masing-masing sebesar 0.81-0.94 dan 0.45-0.76. Skenario 4 merupakan skenario mitigasi banjir yang dapat diimplementasikan dalam penurunan debit banjir hingga 61.96%, meningkatkan time to peak hingga 3.75 jam dan mengurangi volume debit aliran hingga 49.58%.Floods that occur almost every year in the Upper Citarum River Watershed cause these watersheds to be in the spotlight of various parties. Hydrological modeling is one of the flood mitigation techniques for predicting flood discharge in a watershed. The HEC-HMS model can be used for prediction flood discharge base for analysis of a catchment system, particularly for calculating the unmeasured rainfall-runoff. HEC-HMS consists of rainfall and catchment characteristics as input and flow discharge and runoff volume as output. The objectives of this research are: (i) to the overview performance of the HEC-HMS model to predict peak discharge in Upper Citarum Watershed; (ii) to analyst of flood discharge using simulation HEC-HMS model; (iii) to recommend flood mitigation scenario to reduce peak discharge in Upper Citarum Watershed. Primary preparation of HEC-HMS model parameter input calculated by HEC-GeoHMS with the SCS method. Flood discharge calculated in the HEC-HMS model by SCS- Unit Hydrograph method for transform component, recession method for baseflow component, and lag method for routing component. The result showed that the HEC-HMS model has good performance in predicting flood discharge with R2 and NSE value in the calibration process by 0.81-0.96 and 0.56-0.87. The validation process in predicting flood discharge produced R2 and NSE value by 0.81-0.94 and 0.45-0.76 respectively. 4th scenario is best practice management that can be implemented in reduced peak discharge up to 61.96%, to increase time to peak by 3.75 hours and reduce volume discharge up to 49.58%