Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
    301 research outputs found

    MODEL HUBUNGAN ANTARA JUMLAH PENDUDUK DENGAN LUAS LAHAN PERTANIAN DAN PERMUKIMAN (Studi Kasus DAS Cidanau, Provinsi Banten)

    Get PDF
    Increasing of population will effect to economic development that need the appropriation of lands for settlement, industry, infrastructure and service. Purposes of this research were to project population on 2018 and 2030; analyze land use change on period 2006-2018 and 2018-2030; analyze correlation between population with agriculture area and population with settlement area. Analysis of land use change was obtained by overlapping multitemporal land use maps. Regression approach was used to project population on 2018 and 2030; correlate between population with agriculture area and population with settlement area. The Result showed that 48% of villages which its population projection based on saturation model and 52% based on exponential model. Increasing rate of Agriculture area and settlement were 1,48%/12 years and 0,86%/12 years, respectively. Correlation between population with agriculture area were linier with R2 = 0, 7167 (2006); 0, 6343 (2018) and 0, 5082 (2030). Correlation between population with settlement were linier with R2 = 0, 7168 (2006); 0, 7312 (2018) and 0,568 (2030). Dynamical of R2 values showed contributory influence of population factor in increasing of agriculture area and settlement area

    Editorial Team: Dewan Editor

    No full text
    -

    Evaluation of Actual Landuse and Official Spatial Land Use Planning in Pontianak Regency, West Kalimantan Province: Evaluasi Terhadap Penggunaan Lahan dan Pola Ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah di Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat

    Get PDF
    Lahan perlu direncanakan penggunaannya melalui pemilihan penggunaan lahan (land use) yang sesuai dengan kemampuan lahannya, agar penggunaan lahan dapat memberikan hasil produksi yang tinggi, namun sekaligus juga tetap menjaga agar sumberdaya lahan dapat digunakan secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan lahan aktual dan rencana penggunaan lahan. Evaluasi dilakukan dengan berbasis pada kemampuan lahan. Metodologi yang digunakan adalah konfrontasi antara kemampuan lahan, penggunaan lahan aktual dan alokasi pola ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pontianak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Pontianak memiliki kelas kemampuan lahan II, III, IV, V dan VI. Lahan dengan kelas kemampuan lahan V dominan, mencakup luas 31% dari luas wilayah penelitian, dengan faktor penghambat drainase. Lahan dengan kemampuan lahan kelas II mencakup 24% dari  luas wilayah, dengan faktor penghambat tekstur, drainase dan lereng. Saat ini, 79% luas wilayah Kabupaten Pontianak, penggunaan lahannya telah sesuai dengan kemampuan lahannya, sementara 21% dari luas wilayah, penggunaan lahannya melebihi kemampuan lahannya. Sebesar 81% luas wilayah Kabupaten Pontianak telah dialokasikan dalam RTRW sesuai dengan kemampuan lahannya, sedangkan 19% luas wilayah, alokasi pola ruangnya melebihi kemampuan kemampuan lahan. Kata kunci: Kemampuan lahan, penggunaan lahan aktual, pola ruangLand needs to be planned for its use through the selection of land use which is in accordance with land capability, so that land use can provide high production and sustainability. The objective of this study was to evaluate actual land use and land use planning, based on land capability. The methodology is the confrontation between land capability, actual land use, and spatial patterns in the Spatial Plan. The research was conducted in Pontianak Regency. The result of the research shows that Pontianak Regency has the land capability class of II, III, IV, V and VI. Land class V, was dominant, covering 31% of the study area, with drainage as a limiting factor. Land class II covering 24% of the total area, with soil texture, drainage, and slope as a limiting factor. At present, 79% of the area of Pontianak Regency has land use which is in accordance with the land capability, while 21% of the area, its land-use exceeds its land capability. As much as 81% of the area of Pontianak Regency has been allocated in the Spatial Plan in accordance with land capability, while 19% of the area, the allocation of the spatial pattern exceeds land capability. Keywords: Actual land use, land capability, spatial plannin

    Perubahan Penggunaan Lahan dan Potensi Perluasan Lahan untuk Sawah di Kabupaten Cianjur: Land Use Change and Land Expansion Potency for Paddy Field in Cianjur Regency

    Get PDF
    Pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, dan pesatnya pembangunan menjadikan permasalahan penggunaan lahan semakin kompleks. Lahan berperan sebagai penyedia pangan, namun di sisi lain permintaan lahan di luar sektor pertanian terus meningkat secara signifikan untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten dengan luas sawah terbesar pertama di bagian selatan Provinsi Jawa Barat. Namun, konversi lahan sawah menjadi lahan pertanian lain atau lahan non-pertanian menyebabkan penurunan luas baku sawah. Penelitian yang bertujuan untuk: (1) menganalisis pola perubahan penggunaan dan penutupan lahan, (2) mengevaluasi kesesuaian lahan untuk sawah, dan (3) menganalisis potensi perluasan penggunaan lahan untuk sawah. Pola perubahan penggunaan dan penutupan lahan diidentifikasi menggunakan citra Landsat tahun perekaman 2000 dan 2015 dengan teknik fusi citra. Kesesuaian lahan untuk sawah dianalisis menggunakan metoda faktor pembatas minimum. Potensi perluasan lahan untuk sawah mengacu pada kesesuaian lahan dan alokasi lahan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode analisis, lahan sawah paling banyak terkonversi menjadi pemukiman. Lahan di Kabupaten Cianjur memiliki tingkat kesesuaian lahan untuk sawah sesuai (S2) (9.53%), sesuai marjinal (S3) (29.28%) dan tidak sesuai (N) (61.19%). Saat ini, masih tersedia potensi lahan untuk perluasan sawah di Kabupaten Cianjur seluas 148,980 ha. Kata kunci: Perubahan penggunaan lahan, prioritas potensi sawah, kesesuaian lahan untuk sawahPopulation growth, increasing income, and rapid economic development create the complexity of land issues. The land has a central role in food production, however, demand for land increased significantly to meet the needs of the population. Cianjur Regency is one of the regencies in the southern part of West Java Province with the largest paddy field area. However, paddy field conversion into non-agricultural land or another agricultural land resulted in a decrease in the paddy field area. Therefore, in the context of maintaining the availability of rice in Cianjur Regency, this study aimed to: (1) analyze the patterns of land use/land cover, (2) evaluate land suitability for paddy field, and (3) analyze the potency of land for paddy field expansion. Land-use change was identified using Landsat imagery of 2000 and 2015 by using fusion techniques. Land suitability for the paddy field was analyzed using a limiting factor method. Potential for paddy field expansion was analyzed according to land suitability and agricultural land allocation in official regional land use plan map (“RTRW”). The results showed that in the period of 2000 to 2015, most of the paddy field was converted into settlements. Land suitability classes for the paddy field in Cianjur Regency were not suitable (N) (61.19%), suitable (S2) (9.53%), and marginally suitable (S3)(29.28%). Cianjur Regency still has the potency of land to be used for paddy field expansion of 148,980 ha. Keywords: Land use change, potential area for paddy field priority, land suitability for paddy fiel

    Prediction of Rice Yield Based on Nitrogen Input Use Cropsyst Simulation Model in District Mayang: Prediksi Hasil Tanaman Padi berdasarkan Input Nitrogen dengan Simulasi Model Cropsyst di Kecamatan Mayang

    No full text
      Rice is the food crop which the highest consumed by the Indonesian population. Rice production in Indonesia can not meet the needs of its inhabitants so that the import still be the primary solution. Jember Regency is one of the regencies rice producers. It has quite a lot of varieties that are planted to obtain the high productivity, especially in the District Mayang, but not all ground conditions and land management will get optimal rice production because the land conditions are different. The Nitrogen (N) elements are the macronutrients which are very important in supporting the growth and development of rice plants. Excess and deficiency of N affect the level of efficiency and production yield of rice plants. The development of rice cultivation in Jember, especially the District Mayang needs to include the simulation results of rice production based on N fertilization and soil conditions so it can be seen the potential of land to develop rice and can be used as a reference for the recommendation of N fertilizer. Cropsyst is a computer program that serves to analyze productivity based on the condition and management of land. Input soil data, climate/location, land management calibrated with plant growth as well as performed validation. The simulation was conducted on 10 farmers of the sample and 6 farmers comparison. The simulation results show that Cropsyst can be used the simulation of rice-based on the input of nitrogen in District Mayang because it produces a value of EF of 0.93 and RMSE of -47.97. Any addition of fertilizer by the farmers of the sample will increase the yield of rice. Mr. Leha is not recommended to add N because the response of the rice plant had reached 100%. To reach the optimal and efficient rice yield then the farmers must provide N fertilizer in accordance with the needs of the plant, i.e., when the response of the plant reaches 90% of maximum.Padi merupakan tanaman pangan yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Produksi padi di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan penduduknya, sehingga impor masih menjadi solusi utama. Kabupaten Jember merupakan salah satu kabupaten penghasil padi. Banyak varietas yang ditanam untuk mendapatkan produktivtas yang tinggi khususnya di Kecamatan Mayang, namun tidak semua kondisi tanah dan manajemen lahan akan mendapatkan hasil produksi padi secara optimal, karena kondisi lahan yang berbeda-beda. Unsur Nitrogen (N) adalah unsur hara makro yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Kelebihan dan kekurangan unsur N berpengaruh terhadap tingkat efisiensi dan hasil produksi tanaman padi. Pengembangan budidaya padi di Jember khususnya Kecamatan Mayang perlu adanya simulasi hasil produksi padi bedasarkan pemupukan N dan kondisi lahan sehingga dapat dilihat potensi lahan untuk mengembangkan padi dan dapat dijadikan referensi untuk rekomendasi pemupukan N. Cropsyst adalah program komputer yang berfungsi untuk menganalisis produktivitas berdasarkan kondisi dan manajemen lahan. Input data tanah, iklim/lokasi, manajemen lahan dikalibrasikan dengan pertumbuhan tanaman serta dilakukan validasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pemanfaatan Cropsyst untuk mensimulasikan hasil produksi padi berdasarkan pengaruh perbedaan input Nitrogen di Kecamatan Mayang. Simulasi dilakukan pada 10 petani sampel dan 6 petani pembanding. Hasil simulasi menunjukkan bahwa Cropsyst dapat digunakan dalam simulasi padi berdasarkan input nitrogen di Kecamatan Mayang karena menghasilkan nilai EF sebesar 0.93 dan RMSE sebesar -47.97. Setiap penambahan pupuk oleh petani sampel akan meningkatkan hasil panen padi. Pak Leha tidak dianjurkan untuk menambahkan N karena respon tanaman padi sudah mencapai 100%. Untuk mencapai hasil padi yang optimal dan efisien maka petani harus memberikan pupuk N sesuai dengan kebutuhan tanaman yaitu ketika respon tanaman mencapai 90% dari maksimal

    Dynamics of Phosphorus Fractions and Chemical Properties of Paddy Soils as related to Paddy Rice Cropping Index and Irrigation Practices: Dinamika Fraksi Fosfor dan Sifat Kimia Tanah Sawah Terkait Indeks Pertanaman Padi Sawah dan Praktik Pengairan

    Get PDF
    Dinamika fraksi-fraksi P dan sifat kimia lainnya pada tanah sawah terkait dengan indeks pertanaman padi sawah (IP) dan kadar air tanah pada kondisi lapang (KAL). Penelitian eksploratif ini bertujuan mengevaluasi pengaruh IP berbeda yang direpresentasikan oleh dosis ameliorasi dan pemupukan serta KAL sebagai representasi praktik pengairan yang diaplikasikan oleh petani pada tanah sawah penelitian terhadap dinamika fraksi P, sifat kimia tanah lainnya dan produksi padi sawah. Contoh tanah komposit diambil pada lahan sawah yang sedang dibudidayakan petani dengan IP 100%, 200% dan 300% pada periode 7, 9, 11 dan 13 minggu setelah penggenangan awal. Fraksionasi P dilakukan untuk memperoleh fraksi PH2O, PNaHCO3-inorganik (Pi), PNaHCO3-organik (Po), PNaOH-Pi, PNaOH-Po dan PHCl tanah. Nilai KAL pada keempat waktu pengambilan contoh tanah pada IP 100% < IP 200% ≈ IP 300%. Sifat-sifat kimia dan fraksi-fraksi Po pada IP 100% cenderung menurun, sedangkan fraksi-fraksi Pi cenderung meningkat dengan peningkatan KAL. Dinamika fraksi-fraksi P tanah pada ketiga IP terutama ditentukan oleh Corg. Peningkatan Corg tanah menurunkan kadar Pi pada IP 100% dan Po pada IP 200%, tetapi meningkatkan Pi pada IP 300%. Penurunan dosis P2O5 dan peningkatan dosis jerami menurunkan Eh tanah. Faktor yang paling berpengaruh terhadap produksi padi sawah adalah KAL. Kata kunci : Pupuk P, jerami padi, kadar air lapang tanah, fraksi P tanahDynamics of P fractions and other chemical properties of paddy soil are related to paddy rice cropping index (CI) and soil water content at field conditions (SFWC).  This explorative research was aimed at evaluating the effects of different CIs represented by ameliorations and fertilizations applied by, and SFWC to represent irrigation practiced by farmers of the studied paddy soils on dynamics of P fractions, other soil chemical properties, and paddy rice yield. Composite soil samples were taken from cultivated paddy fields with CI 100%, 200%, and 300% at 7, 9, 11, and 13 weeks after the initial waterlogging. Soil P was fractionated into soil PH2O, PNaHCO3-inorganic (Pi), PNaHCO3-organic (Po), PNaOH-Pi, PNaOH-Po, and PHCl fractions. At the four soil sampling times, SFWC at CI 100% < 200% ≈ 300%. At CI 100%, soil Po fractions tended to decrease, whilst Pi fractions tended to increase with the increasing SFWC. Soil P dynamics in all CIs were predominantly determined by Corg. Increase in Corg decreased Pi fractions at CI 100% and Po fractions at CI 200% but increased Pi fractions at CI 300%. Decreasing P2O5 and increasing rice straw doses decreased soil Eh. The predominant factor affected rice paddy yield was SFWC.  Keywords: P fertilizer, rice straw, soil field water-content, soil P fraction

    Conformity of Land Use with Spatial Pattern and Direction of Green Open Space Development in South Bengkulu Regency: Keselarasan Penggunaan Lahan dengan Pola Ruang dan Arahan Pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Kabupaten Bengkulu Selatan

    No full text
    Kabupaten Bengkulu Selatan merupakan wilayah yang terus berkembang, terbukti dengan sedang dilakukannya pengajuan Manna sebagai ibukota Kabupaten menjadi sebuah kota. Pemanfaatan lahan harus selalu dievaluasi dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah (RTRW). Sesuai UU Penataan Ruang No 26 Tahun 2007, salah satunya harus memenuhi kebutuhan minimal ruang terbuka hijau (RTH) (30%) yang terdiri dari RTH publik (20%) dan RTH privat (10%). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penggunaan lahan eksisting Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2018, mengevaluasi keselarasan penggunaan lahan dengan rencana pola ruang RTRW, mengetahui jenis dan luas penyebaran RTH di Kota Manna tahun 2018, dan menyusun arahan rencana pengembangan RTH. Metode yang digunakan adalah analisis sistem informasi geografi, matriks logis keselarasan dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ada 3 penggunaan lahan eksisting terluas adalah hutan seluas 55,861.0 ha (47.91%), perkebunan 43,186.7 ha (37.04), dan sawah 7,257.8 ha (6.23%). Luas penggunaan lahan yang selaras dengan pola ruang RTRW adalah sebesar 84,823.7 ha (73%), transisi sebesar 27,115.0 ha (23%), dan tidak selaras sebesar 4.648.0 ha (4%). Penggunaan lahan yang selaras disarankan untuk dilanjutkan dan yang tidak selaras disarankan pengembangan lebih lanjut untuk dihentikan. Luas RTH publik eksisting Kota Manna masih kurang 23.2 ha berdasarkan luas wilayah, tetapi sudah melebihi kebutuhan berdasarkan jumlah penduduk 2,515.3 ha. Pengembangan ruang hijau publik dapat dilakukan pada lahan prioritas pertama dengan luas 38,6 ha karena cukup untuk kebutuhan RTH publik, arahan untuk pengendalian penggunaan ruang dilakukan dengan empat instrumen, yaitu peraturan zonasi harus segera dibuat untuk menetapkan zona alokasi ruang, perizinan harus lebih diperketat sesuai dengan arah alokasi ruang, melaksanakan kontrol pemberian insentif dan disinsentif dengan membuat pedoman operasional dalam implementasinya, dan menerapkan sanksi kepada setiap pelanggar untuk menyebabkan efek jera.Bengkulu Selatan Regency is a region that continues to grow, as evidenced by the submission of Manna to become a city. Land use must always be evaluated by referring to the regional spatial plan (RTRW). In accordance with the Spatial Planning Law No. 26 of 2007, one must be at least green open space (RTH) (30%) consisting of public green space (20%) and private green space (10%). This study aims to identify existing land use (2018), to evaluate land use confirmity with the spatial plan, to know the type and extent of GOS spreading (Kota Manna), to prepare the direction of GOS development plan. The method used is the analysis of geographic information systems, logical alignment matrices, and descriptive. The results showed that the three largest existing land uses were 55,861.0 ha of forest (47.91%), 43,186.7 ha of plantation (37.04), and 7,257.8 ha of rice fields (6.23%). The area of land use that is in conformed with the spatial pattern of RTRW is 84,823.7 ha (73%), transition is 27,115.0 ha (23%), and is not conformed at 4,648.0 ha (4%). Appropriate land use is recommended to continue and not conformed land use is advisable to be stopped for further development. The existing public GOS is still less (-23.2 ha) based on the size of the area, but it has exceeded the needs based on the population (2,515.3 ha). The development of public green space can be done on the first priority land with an area of 38.6 ha because it is sufficient for the needs of public GOS based on an area, directives for control of spatial use are carried out with four instruments, namely zoning regulations must be immediately made to establish space allocation zones, licensing must be more tightened in accordance with the direction of space allocation, carry out control of providing incentives and disincentives, by making operational guidelines in its implementation, and applying sanctions to every violator to cause a deterrent effec

    Editor dan Pedoman

    No full text

    Application of MAPDAS Model for Micro-Watersheds Hydrological Characteristics Simulation Dominated by Oil Palm Plantation: Aplikasi Model MapDAS untuk Simulasi Karakteristik Hidrologi DAS Mikro yang Didominasi Perkebunan Sawit

    Get PDF
    Perubahan penggunaan lahan dalam ekspansi perkebunan berpotensi menyebabkan degradasi tanah, yang dapat menyebabkan kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Model hidrologi sangat penting untuk mensimulasikan fluktuasi debit dari dampak perubahan penggunaan lahan diperkebunan. Penelitian ini menggunakan Model MAPDAS untuk tujuan simulasinya. Model MAPDAS menggunakan 4 (empat) parameter input utama simulasi, meliputi: koefisien aliran permukaan (Kr), waktu jeda, kecepatan aliran jaringan hidrografi, dan kecepatan aliran lereng. Tujuan dari penelitian adalah untuk, 1) Menguji akurasi hasil hidrograf aliran permukaan pada Model MAPDAS pada metode penentuan hujan efektif; dan 2) melakukan kajian karakteristik hidrologi DAS mikro khususnya aliran permukaan dengan lahan yang didominasi tanaman kelapa sawit menggunakan Model MAPDAS pada 3 skenario penentuan hujan efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Model MAPDAS dengan input curah hujan berdasarkan metode koefisien runoff (Kr), indeks infiltrasi (F) dan SCS-CN didapat nilai Kr berkisar antara 12%-70%. Model MAPDAS mampu mensimulasikan karakteristik hidrologi dengan baik. Dilihat dari nilai hasil uji CE lebih besar dari 0.7, yang menyatakan bahwa model ini memiliki akurasi yang tinggi sampai sangat tinggi.Land use change in the plantation expansion can potentially cause soil degradation leading to drought in the dry season and flooding in the wet season. Hydrological model is important to simulate impact of land use change in the plantation on the discharge fluctuation. This study used MAPDAS Model for simulation purpose. MAPDAS Model uses 4 (four) main simulation input parameters, which are runoff coefficient (Kr), lag time, hydrographic network flow rate, and slope flow rate. The objective of the study are 1) to examine the accuracy of the model in 3 effective-rainfall determination method; 2) to study the hydrology characteristics of micro-watershed dominated by oil palm plantation using MAPDAS Model with 3 effective rainfall determination scenarios. The result showed that the use of MAPDAS Model with rainfall input based on Kr, infiltration index (F), and SCS-CN method gave value of runoff coefficient ranged from 12 to 70%. The MAPDAS Model is able to simulate hydrological characteristics with good result, shown by the CE value which is more than 0.7. catagorized as high to very high accuracy

    Chemical Properties Changes and Releasing Pattern of Ammonium and Nitrate on Ultisol Darmaga Fertilized by Fishpond Sediment-Based Pellet Fertilizer: Perubahan Sifat Kimia dan Pola Pelepasan Amonium dan Nitrat pada Ultisol Darmaga yang Diberi Pupuk Pelet Berbahan Dasar Lumpur Kolam Ikan

    Get PDF
    Pupuk pelet berbahan dasar lumpur kolam ikan yang diperkaya dengan air kolam ikan dan pupuk kandang kambing dibuat untuk mengurangi kontaminasi nitrat di badan-badan air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perubahan beberapa sifat kimia tanah dan pola pelepasan nitrogen (N)-amonium (N-NH4+) dan N-nitrat (N-NO3-) pada Ultisol Darmaga yang diberi pupuk pelet.   Dosis pupuk pelet yang diberikan ke dalam tanah adalah 6.10 g pelet/300 g tanah atau setara dengan 40.8ton pellet ha-1. Dosis pupuk pelet yang diberikan didasarkan pada dosis pupuk N tanaman jagung manis yaitu sebesar 200 kg N ha-1. Pot-pot percobaan tersebut diinkubasi selama 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, 5 minggu, 6 minggu, 7 minggu, 8 minggu 10 minggu, dan 15 minggu pada kondisi kapasitas lapang. Analisis tanah dilakukan pada setiap akhir masa inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk pelet meningkatkan pH tanah, karbon organik, kapasitas tukar kation, basa-basa dapat dipertukarkan, N-NH4+ and N-NO3- dan total N-tersedia yang merupakan penjumlahan N-NH4+ and N-NO3-.   Untuk pola pelepasan N-NH4+, dan N-NO3-, pada minggu 1 sampai minggu 7, N-NH4+ adalah bentuk N tersedia yang dominan akan tetapi menurun setelah itu. Penurunan N-NH4+ diikuti oleh kenaikan N-NO3-. Pada minggu 8 sampai minggu 15, N-NO3- adalah bentuk N tersedia yang paling dominan. Hasil penelitian merekomendasikan bahwa pupuk pelet berbahan dasar lumpur kolam ikan memperbaiki sifat tanah dan menyediakan N yang tersediaFishpond sediment-based pellet fertilizer enriched with fishpond water and goat manure was made to decrease load of nitrate contamination in water bodies. The objective of this research was to evaluate the changes of some soil chemical properties and the releasing pattern of nitrogen (N)-ammonium (N-NH4+) and N-nitrate (N-NO3-) in Ultisol Darmaga which was fertilized by pellet fertilizer. The rate of pellet fertilizer which was applied to the soil was 6.10 g of pellets/300 g of soil or equivalent to 40.8 ton of pellets ha-1. This rate was based on the amount of N fertilizer for sweet corn that was 200 kg N ha-1. The pots were incubated in 1 week, 2 weeks, 3 weeks, 4 weeks, 5 weeks, 6 weeks, 7 weeks, 8 weeks, 10 weeks, and 15 weeks at field capacity condition. Soil analyses were conducted after the end of each incubation period. The results showed that in the end of incubation period, the application of pellet fertilizer increased soil pH, organic carbon, cation exchange capacity, exchangeable bases,     N-NH4+, and N-NO3- and total available N which is the total amount of N-NH4+, and N-NO3- compared to those of control soil. As for the releasing pattern of N-NH4+ and N-NO3-, in the 1 week to 7 weeks of incubation N-NH4+ was dominant and decreased after that. The decrease of N-NH4+ was followed by the increase of N-NO3-.  The N-NO3- was dominant from 8 weeks to 15 weeks of incubation.  The results recommended that fishpond sediment-based pellet fertilizer improved the soil properties and provided available N

    233

    full texts

    301

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇