7104 research outputs found
Sort by
Analisis Karbon Hitam dan Karbon Monoksida di Kalimantan Sumatera dan Jawa
Black carbon (BC) and carbon monoxide (CO) are by-products of incomplete combustion. The type of burned fuel determines the mass distribution concentration of BC and CO mass at the surface. The purpose of this research is to analyze the relationship between BC and CO from anthropogenic sources based on data of Reanalysis Modern Era-Restrospective Analysis for Research and Application (MERRA-2) model from 1997 to 2016 for Indonesia region with case study of Kalimantan, Sumatera and Java. The analysis includes daily, monthly and seasonal variations of BC and CO, as well as analysis of the impact of combustion sources on BC-CO linkages. The results of the analysis indicate that the type of burned fuel contributes differently from the concentrations of BC and CO. Time series trends for BC and CO distributions for the average of Indonesia and the study areas of Sumatra and Kalimantan show an equally declining trend. Time series trends for the Java study area indicate an increase in mass concentrations of BC and CO at the surface. Black carbon (BC) dan carbon monoxide (CO) merupakan hasil sampingan dari pembakaran yang tidak sempurna. Jenis bahan bakar yang terbakar sangat menentukan besarnya distribusi konsentrasi massa BC dan CO di permukaan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara BC dan CO dari sumber antropogenik berdasarkan data model reanalisis Modern Era-Restrospective Analysis for Research and Application (MERRA-2) dari 1997 sampai 2016, untuk wilayah Indonesia dengan studi kasus wilayah Kalimantan, Sumatera dan pulau Jawa. Analisisnya meliputi variasi distribusi harian, bulanan dan musiman dari BC dan CO, serta analisis dampak dari sumber pembakaran terhadap keterkaitan BC-CO. Hasa analisis menunjukkan bahwa jenis bahan bakar yang terbakar memberikan kontribusi yang berbeda dari konsentrasi BC dan CO. Tren deret waktu untuk distribusi BC dan CO untuk rata-rata Indonesia dan wilayah kajian Sumatera clan Kalimantan menunjukkan tren yang sama-sama menurun. Tren deret waktu untuk wilayah kajian pulau Jawa menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi massa BC clan CO di permukaan.Hal. 152-16
PENGUKURAN pH DAN KONDUKTIVITAS AIR HUJAN UNTUK PEMANTAUAN KUALITAS UDARA DI DAERAH BANDUNG
RINGKASAN Polusi udara semakin meningkat dengan diiringi peningkatan industri, populasi manusia dan penggunaan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil. Pemantauan kualitas udara hams dilakukan secara kontinu untuk menanggulangi dampak-dampak yang ditimbulkan, terutama dampak bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, juga dampaknya terhadap lingkungan. Sampling air hujan dilakukan untuk pemantauan kualitas udara dengan pengukuran parameter nilai pH (nilai derajat keasaman air hujan) dan konduktivitas air hujan di lokasi Cipedes, Dago, Soreang, Cililin, dan Padalarang dari Januari-Desember 2015. Hasil yang diperoleh berdasarkan nilai pH untuk Padalarang, hampir 75% dari data pH menunjukkan nilai pH di bawah 5,60. Sedangkan Cililin, Soreang, Dago dan Cipedes berturut-turut 55 %, 56,9 %, 57,1 % dan 15,7 %. Sedangkan nilai konduktivitas untuk kesemua lokasi sampling, pada saat musim hujan (DJF) berkisar antara 1,22 mS/m - 2,10 mS/m, sedangkan musim peralihan hujan - kemarau (MAM) 1,27 mS/m - 2,24 mS/m. Pada musim kemarau (JJA) 2,78 mS/m - 4,31 mS/m, sedangkan musim peralihan kemarau-hujan (SON) berkisar antara 2,37 mS/m - 5,32 mS/m. Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan telah terjadinya pencemaran udara di daerah Bandung, dan perlu suatu kajian lebih dalam untuk mengetahui sumber-sumber polutan yang mencemari daerah Bandung.Hlm. 53-6
uji tekan untuk menentukan karakteristik rubber damper pada pesawat komuter 19 penumpang
RINGKASAN Fungsi utama landing gear adalah untuk penyerapan energi pada saat proses landing, untuk pengereman dan untuk proses taxi di landasan. Komponen yang bertugas untuk menyerap energi pada landing gear adalah shock absorber dan roda. Pada pesawat komuter 19 penumpang yang sedang dikembangkan LAPAN dan PT. DI, shock absorber yang digunakan berjenis rubber damper. Salah satu karakteristik yang berpengaruh untuk penyerapan energi pada rubber damper adalah stiffness. Dari beberapa jenis rubber damper yang telah diuji tekan, diperoleh stiffness dari rubber sampel 1 sebesar 1701 N/mm, sampel 2 sebesar 9271 N/mm dan sampel 3 sebesar 5802 N/mm, sedangkan stiffness dari rubber damper yang digunakan saat roll out sebesar 12312 N/mm.Hlm.61-6
PENGARUH KOMPOSISI AP TERHADAP PROSESIBILITAS SLURRY PROPELAN DENGAN KANDUNGAN ALUMINIUM TINGGI = EFFECTS OF AMMONIUM PERCHLORATE COMPOSITION ON HIGH CONTENT ALUMINIUM PROPELLANT SLURRY
Hlm. 105-11
APLIKASI PERANGKAT LUNAK SISTEM AKUISISI KECEPATAN REACTION WHEEL (SOFTWARE APPLICATION OF REACTION WHEEL SPEED ACQUISITION SYSTEM)/
ABSTRACTTransfer of technology activity through reverse engineering is an effort done by developing country in order to decrease technology gap, including in satellite technology, from developed country. To perform measurement anddata acquisition in order to extract design information of a satellite component are the first step in reverse engineering process. This paper reports the result of research on the development of data acquisition software for satellite actuator called reaction wheel speed. In satellite development phase, the wheel speed acquisition system is also possible to be utilized as a testing tool for componente level verification. The wheel speed data obtained from the experiment was represented in graphic of transient response. Based on the data analysis, the developed data acquisition system was possible to be utilized to measure dynamic characteristic of the reaction wheel unit in order to extract its design information. Meanwhile, the analysis done has represented basic part of component level verification test. This fact showed that the developed acquisition system was also possible to be used as testing tool in satellite development phase. ABSTRAKKegiatan alih teknologi melalui reverse engineering merupakan upaya yang dilakukan oleh negara berkembang dalam rangka memperkecil jarak ketimpangan dari negara maju dalam hal teknologi, termasuk teknologi satelit. Melakukan pengukuran dan akuisisi data dalam rangka mengurai informasi desain suatu komponen satelit adalah tahap pertama proses reverse engineering. Makalah ini melaporkan hasil penelitian mengenai pengembangan perangkat lunak sistem akuisisi data kecepatan wheel dari sebuah aktuator satelit yang disebut reaction wheel unit. Dalam aspek fase pengembangan satelit, sistem akuisisi data ini dapat digunakan sebagai perangkat pengujian untuk verifikasi di tingkat komponen. Data kecepatan wheel, yang diperoleh dari eksperimen yang dilakukan, ditampilkan dengan grafik respon transien. Berdasarkan analisis atas data tersebut, sistem akusisi data yang dikembangkan menjanjikan untuk digunakan dalam rangka pengukuran karakteristik dinamik reaction wheel sebagai upaya mengurai informasi desainnya. Selain itu, analisis yang telah dilakukan merepresentasikan bagian dasar dari tahap verifikasi di tingkat komponen. Hal ini menunjukkan bahwa sistem akusisi data ini menjanjikan untuk digunakan sebagai perangkat pengujian di dalam fase pengembangan satelit.Hlm. 167-17
Perancangan Alat Uji Kekuatan Struktur Sayap Pesawat Udara Tanpa Awak Menggunakan Metode Whiffletree = Design of Unmanned Aircraft Wing Testung Apparatus Using Whiffletree Method Study Case : LSU-05
Hlm. 206-21
Energi Gelombang (Wave Energy) Menjadi Energi Listrik Alternatif
Pada dasarnya pergerakan laut yang menghasilkan gelombang laut terjadi akibat dorongan pergerakan angin. Angin timbul akibat perbedaan tekanan pada dua titik yang diakibatkan oleh respons pemanasan udara oleh matahari yang berbeda di kedua titik. tersebut. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemerintah Norwegia sejak tahun 1987, bahwa banyak daerah-daerah pantai yang berpotensi sebagai pembangkit listrik bertenaga gelombang di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, di atas Kepala Burung Irian Jaya, dan sebelah barat Pulau Sumatera dengan perkiraan potensi seluruh pantai di Indonesia dapat menghasilkan lebih dari 2~3 Terra Watt, bahkan tidak lebih dari 1% panjang pantai Indonesia (~800 km) dapat memasok minimal ~16 GW atau hampir sama dengan pasokan seluruh listrik di Indonesia saat ini. Potensi tingkat teknologi saat ini diperkirakan bisa mengkonversi per meter panjang pantai menjadi daya listrik sebesar 20-35 kW. Panjang pantai Indonesia sekitar 80.000 km, yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, dan sekitar 9.000 pulau-pulau kecil yang tidak terjangkau arus listrik nasional, Energi Gelombang Laut (EGL) didefinisikan sebagai energi getaran air laut yang merambat. Gelombang laut merupakan salah satu bentuk energi yang bisa dimanfaatkan dengan mengetahui tinggi gelombang, panjang gelombang, dan periode waktunya. Pada dasarnya prinsip kerja teknologi yang mengkonversi energi gelombang laut menjadi energi listrik adalah mengakumulasi energi gelombang laut untuk memutar turbin generator. Energi ini dapat dikonversi ke listrik lewat dua kategori yaitu off-shore (lepas pantai) and on-shore (pantai).16P., Ill., Pd
Pencegahan Dan Pegendalian Kebakaran Lahan Gambut
Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik (C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik yang sudah lapuk maupun belum. Pembentukan tanah gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah yang disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi. Kalimantan Barat setiap tahun pada saat musim kemarau selalu diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah mendorong peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan khususnya pada 9 kecamatan rawan kebakaran lahan. Kabut asap mengakibatkan penurunan kualitas udara di tingkat lokal Kalimantan Barat juga ikut memberikan andil dalam penurunan kualitas udara di tingkat nasional dan regional ASEAN. Terbakarnya ranting dan daun kering secara spontan akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas, dan pelepasan gas metana (CH ) dapat memicu terjadinya kebakaran. Pemicu utama terjadinya kebakaran adalah faktor kegiatan dan kecerobohan manusia 90 - 95% mengakibatkan kebakaran. Pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana kebakaran. Pencegahan yang dilaksanakan dengan baik, seluruh bencana kebakaran dapat dihindarkan. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan yang harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah, yaitu sejak penetapan fungsi wilayah, perencanaan tata guna hutan/lahan, pemberian ijin bagi kegiatan, hingga pemantauan dan evaluasi.15P., Ill., Pd