Indonesian National Institute of Aeronautics and Space

repository.lapan.go.id
Not a member yet
    7104 research outputs found

    Sistem Observasi Banjir Berbasis Penginderaan Jauh

    No full text
    Hal. 14-1

    Question and Answer: Sains Dan Teknologi Atmosfer

    No full text
    Hal. 30-3

    EVAPOTRANSPIRASI POTENSIAL DAS CIMANUK MENGGUNAKAN PARAMETER TEMPERATUR BERBASIS DATA MODIS

    No full text
    RINGKASANSalah satu parameter iklim penting dalam perhitungan neraca air adalah evapotranspirasi. DAS Cimanuk merupakan salah satu sumber daya air di Jawa Barat. Namun, tidak semua stasiun cuaca yang terdapat di sepanjang DAS Cimanuk mempunyai alat untuk mengukur evapotranspirasi. Hal ini menyebabkan penelitian mengenai evapotranspirasi menjadi terbatas. Salah satu metode penginderaan jauh yang dapat digunakan untuk mengestimasi nilai evapotranspirasi adalah data Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS). Data evapotranspirasi berada di kanal 16 (MOD16). Data MOD16 dapat diunduh dari situs ftp.ntsg.umt.edu/pub/MODIS/Mirror/MOD16 dan memiliki format Hierarchical Data Format-Earth Observing System (HDF-EOS). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bulanan. Selanjutnya dilakukan reproyeksi menggunakan MODIS Reprojection Tool (MRT) agar koordinat data sesuai dengan koordinat peta geografi. Data HDF-EOS yang telah dilakukan reproyeksi kemudian diolah menggunakan software OpenGrADS2.0.a9 untuk melihat variasi spasial dan temporalnya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa data evapotranspirasi dari MOD16 dapat digunakan untuk mengestimasi nilai evapotranspirasi potensial DAS Cimanuk. Data tersebut menunjukkan bahwa daerah hulu DAS Cimanuk memiliki nilai evapotranspirasi potensial yang lebih rendah dibandingkan daerah hilir. Nilai rata-rata evapotranspirasi potensial tertinggi diperoleh pada periode September-Oktober-November (SON) dengan rentang nilai 140-200 mm.Hal. 29-36:ilus.; 30 c

    Metode Doppler Direction Menggunakan 6 Antena Array Terswitch Untuk Aplikasi Real Time Remote Monitoring Location Finder

    No full text
    Vi, 70 hlm. : ill. ; 30 c

    DETERMINATION OF THE BEST METHODOLOGY FOR BATHYMETRY MAPPING USING SPOT 6 IMAGERY: A STUDY OF 12 EMPIRICAL ALGORITHMS

    No full text
    For the past four decades, many researchers have published a novel empirical methodology for bathymetry extraction using remote sensing data. However, a comparative analysis of each method has not yet been done. Which is important to determine the best method that gives a good accuracy prediction. This study focuses on empirical bathymetry extraction methodology for multispectral data with three visible band, specifically SPOT 6 Image. Twelve algorithms have been chosen intentionally, namely, 1) Ratio transform (RT); 2) Multiple linear regression (MLR); 3) Multiple nonlinear regression (RF); 4) Second-order polynomial of ratio transform (SPR); 5) Principle component (PC); 6) Multiple linear regression using relaxing uniformity assumption on water and atmosphere (KNW); 7) Semiparametric regression using depth-independent variables (SMP); 8) Semiparametric regression using spatial coordinates (STR); 9) Semiparametric regression using depth-independent variables and spatial coordinates (TNP), 10) bagging fitting ensemble (BAG); 11) least squares boosting fitting ensemble (LSB); and 12) support vector regression (SVR). This study assesses the performance of 12 empirical models for bathymetry calculations in two different areas: Gili Mantra Islands, West Nusa Tenggara and Menjangan Island, Bali. The estimated depth from each method was compared with echosounder data; RF, STR, and TNP results demonstrate higher accuracy ranges from 0.02 to 0.63 m more than other nine methods. The TNP algorithm, producing the most accurate results (Gili Mantra Island RMSE = 1.01 m and R2=0.82, Menjangan Island RMSE = 1.09 m and R2=0.45), proved to be the preferred algorithm for bathymetry mapping

    PENERAPAN PITA FREKUENSI KHUSUS UNTUK LSU: KAJIAN DARI SISI REGULASI ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI =IMPLEMENTATION OF SPECIFIC FREQUENCY BANDS FOR LSU: A REVIEW OF THE FREQUENCY SPECTRUM ALLOCATION REGULATION

    No full text
    Abstrak LAPAN Surveillance Unmanned Aerial Vehicle (LSU) merupakan salah satu kategori Unmanned Aircraft System (UAS), saat ini menggunakan alokasi spektrum frekuensi di band 902 - 928 MHz untuk komunikasi telemetri dan di 2,4 GHz untuk komunikasi radio kontrol yang keduanya sudah tidak relevan lagi diterapkan karena berpotensi diinterferensi oleh komunikasi GSM dan WiFi. Penerapan alokasi spektrum frekuensi khusus untuk LSU sudah saatnya diperlukan. Penelitian ini dimaksudkan untuk kajian kelayakan penerapan frekuensi dengan rentang 5030 - 5091 MHz yang merupakan hasil rekomendasi ITU-R berdasarkan hasil pertemuan WRC-12 dan WRC-15 dan disesuaikan dengan peraturan pemerintah Indonesia. Analisis regulasi dilakukan pada penggunaan dan perizinan frekuensi dari undang-undang telekomunikasi, peraturan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan pada regulasi pengendalian operasi serta keselamatan penerbangan sipil dari peraturan menteri perhubungan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan mengolah data literatur yang didapat. Hasil kajian menunjukkan bahwa LSU masuk ke klasifikasi small UAS dengan berat lebih dari 55 lbs (25 Kg) yang harus mengikuti regulasi ketentuan pengendalian pengoperasian sistem pesawat udara tanpa awak di ruang udara yang dilayani Indonesia dan CASR part 107 tentang keselamatan penerbangan sipil. Untuk jalur komunikasi telemetri dan command ketika menggunakan pita frekuensi 2,4 GHz atau 5,8 GHz diharuskan mengikuti regulasi persyaratan teknis alat dan perangkat telekomunikasi jarak dekat/ short range devices (SRD) dan persyaratan teknis alat dan perangkat telekomunikasi yang beroperasi pada pita frekuensi radio 2,4 GHz dan/atau pita frekuensi radio 5,8 GHz dengan kategori izin kelas. Untuk pengembangan dengan jalur pita frekuensi khusus pada drone telah disediakan dan ditelaah regulasi terkait peraturan alokasi spektrum frekuensi khusus untuk UAS dari ITU-R dengan WRC-12 dan WRC-15 dan sudah diadobsi menjadi regulasi Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia (TASFRI), tinggal ditindaklanjuti dengan pengembangan hardware radio yang sesuai untuk diaplikasikan ke LSU.Hlm. 67-81:Il.; 29,7 Cm

    ANALISIS KESTABILAN STATIK MATRA LONGITUDINAL, MATRA LATERAL DAN MATRA DIREKSIONAL PESAWAT LSU-05

    No full text
    Abstrak Pesawat tanpa awak secara umum memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dari pesawat terbang berawak. Dengan ukuran yang kecil dan ringan maka pesawat tanpa awak lebih mudah terganggu kestabilannya. Untuk meminimalkan ketidakstabilan maka pada fase perancangan sebuah pesawat diperlukan sebuah analisa untuk mengetahui seberapa besar tingkat kestabilan pesawat tersebut. Kestabilan statik dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu stabil statik, tidak stabil statik dan stabil netral. Suatu pesawat dapat dinyatakan stabil secara statik jika memenuhi beberapa persyaratan yaitu pada matra lateral memiliki nilaiHlm. 115-124:Il.;29,7 Cm

    ENKRIPSI CITRA SATELIT MENGGUNAKAN ALGORITMA ADVANCED ENCRYPTION STANDARD BERBASIS CCSDS = SATELLITE IMAGE ENCRYPTION USING ADVANCED ENCRYPTION STANDARD ALGORITHM BASED ON CCSDS

    No full text
    Abstrak Berdasarkan rekomendasi Concultative Committee for Space Data Systems (CCSDS), data satelit akan melalui beberapa tahapan pengolahan sebelum ditransmisikan ke stasiun bumi, yaitu proses kompresi, enkripsi dan encoding. Algoritma Advanced Encryption Standard (AES) adalah salah satu algoritma kriptografi yang direkomendasikan CCSDS untuk proses enkripsi data satelit, yaitu suatu proses pengacakan terhadap sebuah data sehingga data tersebut terlihat acak dan tidak dapat dikenali sebagai data yang valid. Algoritma AES dapat diimplementasikan dalam beberapa mode operasi, diantaranya yaitu mode electronic codebook (ECB), mode chiper block chaining (CBC), dan mode counter (CTR). Makalah ini membahas perbandingan kinerja antara beberapa mode operasi algoritma AES tersebut untuk mengolah data citra satelit, terkait dengan keamanan data, resistansi terhadap noise, dan efisiensi mode operasi. Simulasi dan analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MATLAB dan perangkat keras FPGA. Analisis keamanan data dengan menggunakan pendekatan histogram citra menunjukkan bahwa mode operasi ECB memiliki kinerja yang paling rendah,tetapi tidak rentan terhadap noise dan pengolahan dapat dilakukan dengan cepat. Mode CBC memiliki keamanan data yang cukup kuat, tetapi kurang resistan terhadap noise dan membutuhkan waktu pengolahan yang lebih lama. Sementara itu, mode counter memiliki kinerja terbaik dalam hal perimbangan keamanan data, resistansi terhadap noise serta kecepatan waktu pengolahan datanya. Berdasarkan analisis dan pertimbangan kelebihan dan kekurangan beberapa mode operasi tersebut, maka disarankan penggunaan algoritma enkripsi data AES dalam mode operasi counter pada sistem pengolah data citra satelit apabila satelit tersebut memiliki sistem Payload Data Handling (PDH) yang cukup handal. Abstract Based on Consultative Committee for Space Data Systems (CCSDS) recommendation, satellite data will be processed in several processing stages before transmitted to earth ground station, which are compression, encryption and encoding process. Advanced Encryption Standard (AES) algorithm is one of cryptographic algorithm that is recommended by CCSDS for satellite data encryption process, a data scrambling process that produces random data which cannot be recognized as valid data. AES algorithm can be implemented in several modes of operation, i.e: electronic codebook mode (ECB), chiper block chaining mode (CBC), and counter mode (CTR). This paper discusses about performance comparison between these AES modes of operation, in terms of data security, noise resistance and operation mode efficiency. Simulation and analysis are done using MATLAB software as well as FPGA hardware implementation. Data security analysis based on image histogram approach shows that ECB mode has the worst performance, but it has fast processing time and resistant to noise. More common CBC mode of operation has a very good data security, but it has higher processing time and more susceptible to noise. Meanwhile, counter mode has the best trade-offs between data security performance, noise resistance and data processing efficiency. Based on advantages and disadvantages of each mode of operation, it is recommended to use AES algorithm in counter operation mode on satellite image data on-board processing, given that the satellite has a good Payload Data Handling System (PDHS).Hlm. 132-141:Il.; 29,7 Cm

    0

    full texts

    7,104

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    repository.lapan.go.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇