7104 research outputs found
Sort by
Sun Sensor dan Magnetometer Sebagai Sensor Penentu Sikap Satelit Inklinasi Rendah LAPAN-A2
AbstractLAPAN-A2 merupakan satelit low earth orbit (LEO), inklinasi rendah yang salah satu misinya adalah pengamatan citra bumi. Dalam melaksanakan misi pengambilan citra ataupun penurunan data, sikap satelit perlu diketahui operator di ruas bumi. Sebagai sensor utama untuk mengetahui sikap satelit digunakan star sensor. Namun ketika berada di wilayah terang, star sensor dapat dengan mudah terganggu oleh cahaya matahari atau bumi. Tulisan ini memperkenalkan penentuan sikap alternatif menggunakan sun sensor dan magnetometer. Idenya, sun sensor dan magnetometer mengukur vektor matahari dan vektor medan magnet pada sumbu satelit. Lalu, dengan menggunakan model posisi matahari dan propagator orbit SGP4, vektor matahari dan vektor medan magnet pada sumbu inersial bumi dapat dihitung. Dari dua vektor pada dua tata acuan yang berbeda, matriks rotasi yang merupakan representasi sikap satelit terhadap bumi dapat dihitung. Dari pengujian, metode ini berhasil menghitung sikap satelit dengan akurasi 3o.Hlm. 71-8
Evaluasi Pemetaan Potensi Energi Surya Berbasis Model WRF Di Desa Palihan Dan Desa Aikangkung
Penggunaan model numerik Weather Research and Forecasting (WRF) untuk memprediksi potensi energi surya dapat digunakan sebagai langkah awal pemetaan. Peta hasil prediksi WRF perlu diverifikasi guna meningkatkan kualitas data. Dalam penelitian ini, digunakan data WRF dengan rentang tahun 2001 hingga 2010. Untuk verifikasi digunakan data observasi radiasi matahari selama 12 bulan pada 2 lokasi yaitu desa Palihan (Provinsi Yogjakarta) dan desa Aikangkung (Provinsi Nusa Tenggara Barat). Metoda yang digunakan adalah penurunan skala (downscaling), prediksi, verifikasi dan koreksi. Hasil verifikasi memperlihatkan lokasi 1 (desa Palihan) memiliki deviasi yang lebih besar (Mape=22.59%) dibanding pada lokasi 2 (desa Aikangkung) dengan nilai Mape=12.95%. Perbedaan nilai antara model WRF dan data observasi dimanfaatkan untuk mengkoreksi peta potensi energi surya. Hasil peta yang telah terkoreksi, memiliki nilai Mape = 0.0007% untuk desa Palihan dan 7% untuk desa Aikangkung.Hlm.63-7
Jurnal Penginderaan Jauh Dan Pengolahan Data Citra Digital Vol.15 No.1 Juni 2018
Hlm. 1-53 : Ill. ; 28 c
Geometric Accuracy Assessment of Very High-Resolution Optical Data Orthorectified using TerraSAR-X DSM to Support Disaster Management in Indonesia
Advanced remote sensing satellite data with detail spatial resolution can be an alternative to aerial photography and outweigh in providing rapid and vast spatial, remote area, and consist of multispectral bands to produce continues information. The various types of very high spatial resolution satellite, benefit in producing information for large-scale mappings, such as updating an urban map and supporting disaster management for mitigation, preparedness, emergency response, and recovery effectively and efficiently. Large-scale mapping information for disaster management, particularly for quick response is essential to map the impacted sites, measure the number of houses and infrastructure damaged and determine the evacuation area. However, in producing large-scale mapping, the information should refer to the geospatial specification standard, such as accurate geometric, detail thematic information and completeness. This study aims to identify the use of Pleiades imagery for supporting large-scale mapping, including for disaster management by assessing the geometry accuracy from a standard product acquired from the ground station and precise orthorectification using different types of DSM, including TerraSAR-X and improvement using ground control points. The results show that the improved accuracy to meet geometric accuracy standard for scale 1:5000 can be achieved using a primary product data which process using an insertion of GCPs and selecting the better DSM, while for the standard ortho product can be achieved using shifting the coordinate position of the image. Assessment of the thematic extraction visually shows that the imagery meets the information for large-scale mapping, but detail attribution requires information from field data.p. 2450-245
Pemanfaatan Pesawat Amfibi Untuk Mendukung Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia
Hlm.18-2
A Minimum Cloud Cover Mosaic image model of the operational land imager landsat-8 multitemporal data using tile based
The need for remote sensing minimum cloud cover or cloud free mosaicimages is now increasing in line with the increased of national developmentactivities based on one map policy. However, the continuity and availabilityof cloud and haze free remote sensing data for the purpose of monitoring thenatural resources are still low. This paper presents a model of mediumresolution remote sensing data processing of Landsat-8 uses a new approachcalled mosaic tile based model (MTB), which is developed from the mosaicpixel based model (MPB) algorithm, to obtain an annual multitemporalmosaic image with minimum cloud cover mosaic imageries. The MTB modelis an approach constructed from a set of pixels (called tiles) considering theimage quality that is extracted from cloud and haze free areas, vegetationcoverage, and open land coverage of multitemporal imageries. The data usedin the model are from Landsat-8 Operational Land Imager (OLI) covering 10scenes area, with 2.5 years recording period from June 2015 to June 2017;covered Riau, West Sumatra and North Sumatra Provinces. The MTB modelis examined with tile size of 0.1 degrees (11x11 km2), 0.05 degrees (5.5x5.5km2), and 0.02 degrees (2.2x2.2 km2). The result of the analysis shows thatthe smallest tile size 0.02 gives the best result in terms of minimum cloudcover and haze (or named clear area). The comparison of clear area values tocloud cover and haze for three years (2015, 2016 and 2017) for the threemosaic images of MTB are 68.2%, 78.8%, and 86.4%, respectively.Hlm.360-37
Sistem Pengumpan Pompa-Turbin Roket Cair RCX-300 : Desain Pompa Sentrifugal Dan Turbin Impuls
LAPAN selaku lembaga pemerintahh bidang penelitian dan pengembangan teknologi antariksa (roket), berdasarkan UU Republik Indonesia nomor 21 Tahun 2013 tentang keantariksaan, bertujuan sala satunya adala untuk mewujudkan kemandirian dan daya saing suatu bangsa dan negara dalam penyelenggaraan keantariksaan, penelitian ini bermaksud mengambil manfaatnya untuk kemanusiaan. Tahap awal penelitian ini difokuskan pada kajian awal pompa turbin untuk enjin RCH-300H. Enjin jenis ini dipili karena gaya dorong yang diasilkan masi kecil, seingga kebutuhan bahan bkar (fuel-oxydizer) juga masi sedikit, dimana enjin ini suda melalui beberapa kali uji bakar dan sudah terbukti menghasilkan gaya dorong. Proses awal perancangan sistem pompa turbin pada roket cair yaitu dengan mengetaui kebutuhannya, yang selanjutnya dilakukan pemodelan geometri dengan bantuan software CAD dan disimulasi menggunakan software CFD (Computational Fluid Dynamics) yang memperole hasil grafik karakteristik performa dari komponen tersebut. asil perhitungan menunjukkan, besar kebutuan head dan debit bahan bakar pada sistem enjin roket sebesar 9,6*10-4m3/s (m=1,44 kg/s) dengan head 255 meter untuk oksidator, dan 4,3 *10-4 m3/s (m=0,34 kg/s) dengan head 400 meter untuk kerosene. Hasil simulasi menunjukkan untuk pompa sentrifugal kerosene membutukan daya poros 2.324,9 Watt dengan efisiensi rotor 63,91%, pompa sentrifugal oksidator membutuhkan daya poros 7.510,44 Watt dengan efisiensi rotor 50,52%, dan turbin impuls mengasilkan daya poros 20.448,8 Watt pada kondisi pressure ratio 1,96 dengan efisiensi rotor 56,4%Xiv, 67 hlm