7104 research outputs found
Sort by
Uji Ketelitian DTM ALOS PALSAR Terhadap Pengukuran Kombinasi DGNSS-Altimeter
Model tinggi adalah model yang meliputi informasi data tinggi dan koordinatnya dipermukaan bumi. Model tinggi merupakan salah satu parameter geologi yang bermanfaat untukberbagai aplikasi survei dan pemetaan. Model tinggi berupa model permukaan digital, model elevasi digital, model terrain digital, model terrain elevasi digital, Geoid, dan lain-lain. Model tinggi dapat dibuat dengan data lapangan, foto udara, interferometri radar sintetis, dan citra satelit. Penelitian inibertujuan untuk melakukan uji akurasi vertikal model terrain digital ALOS PALSAR terhadappengukuran kombinasi diferensial sistem satelit navigasi global-Altimeter. Model permukaan digital dibuat dari citra ALOS PALSAR dengan metode interferometri radar sintetis. Model elevasi digital diperoleh setelah dilakukan koreksi kesalahan tinggi dan koreksi terrain model permukaan digital.Model terrain digital diperoleh setelah dilakukan integrasi fitur sungai dan batimetri terhadap model permukaan digital. Model terrain digital ALOS PALSAR dilakukan uji akurasi vertikal dengan pengukuran kombinasi diferensial sistem satelit navigasi global-Altimeter. Diferensial sistem satelit navigasi global menerima data dari satelit GPS, Glonass, Beidou, Gagan, MSAS, SBAS, dan QZSS dan menggunakan periode waktu 14 hari sebelum pengukuran dengan waktu saat pengukuran. Selama pengukuran,untuk mengolah data posisi dan ketinggian. Diferensial sistem satelit navigasi global dikoneksikan dengan server melalui jaringan internet selular. Lokasi uji akurasi vertikal dilakukan di Kabupaten Merauke pada tahun 2016. Standar toleransi uji akurasi vertikal ini mengacu kepada toleransi standar nasional untuk akurasi data spasial sebesar 1,96? (95 %). Dari dua jenis uji akurasi vertikal, yakni uji beda tinggi dan uji profil melintang, model terrain digital ALOS PALSAR telah memenuhi toleransi sebesar 4,996e-16 (~0)dan 80,791 cm sehinggadapat digunakan untuk berbagai aplikasi survei dan pemetaan skala 1:10.000Hlm. 11-2
Potensi Daya Saing Industri Keantariksaan Indonesia (Studi Kasus: Industri Peluncuran Satelit Melalui Pembangunan Bandar Antariksa di Pulau Biak dengan Model Diamond Porter)
6 hl
Pengembangan Captive Portal Pada Satuan Kerja Lapan (Development Of Captive Portal On Lapan Work Unit)
Meningkatnya penggunaan teknologi informasi khususnya internet menyebabkan semakin besar pula ancaman yang timbul terhadap keamanan teknologi informasi. Untuk menghadapi ancaman tersebut maka diperlukan tindakan perlindungan, salah satunya adalah dengan melakukan pembatasan akses baik dari luar maupun dari dalam jaringan teknologi informasi. Captive Portal adalah salah satu metode pembatasan akses dari jaringan komputer internal. LAPAN saat ini sudah mulai menerapkan pembatasan akses tersebut, tetapi sebagian besar satuan kerja LAPAN masih belum menerapkan sistem Captive Portal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem Captive Portal di satuan kerja LAPAN. Hasil penelitian berupa sistem Captive Portal yang dikembangkan menggunakan Lightweight Directory Access Protocol (LDAP), Radius dan Mikrotik telah diuji dan berjalan dengan baik sesuai fungsinyaHlm.79-8
Dari Lapan Untuk Negeri Ini Produk Litbang Lapan Untuk Mitigasi Kebencanaan Dok. Lapan
Hlm.7-1
Analisis Hasl Survei Kepuasan Masyarakat Semester I Tahun 2018 Balai Pengamatan Antarksa dan Atmosfer Sumedang
Mode Perekaman Dan Jenis Produk Citra Satelit TerraSAR-
Citra satelit kembar TerraSAR-X dan TanDEM-X tersedia di LAPAN sejak tahun 2017 secara teratur. Saat ini LAPAN mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan penyediaan data sesuai dengan kebutuhan pengguna, mulai dari pemesanan semua jenis produk standar dari kedua satelit, pemrograman mode perekamannya, akusisi data di Stasiun Bumi Parepare, penyimpanan di Bank Data Penginderaan Jauh Nasional serta distribusi data ke pengguna. Semua jenis produk tersebut dapat dilihat di website katalog data penginderaan jauh nasional. Produk unggulan dari kedua satelit radar diperoleh dari beberapa jenis mode perekaman, a.I. (1) Mode Staring SpotLight memiliki resolusi spasial tertinggi sampai 0.25m. (2) mode High Resolution SpotLight dengan resolusi spasial lm (3) Resolusi spasial StripMap rata-rata 3m, dimana data ini mendominasi ketersediaan data di pengolahan juga dapat menyediakan level lainya seperti citra Multi Look Ground Range Detected (MGD) ketersediaannya terbatas dan data Geocoded Ellipsoid Corrected (GEC).Hlm. 15-2
Uji Korelasi Nilai Spektral Data Imager LAPAN-A3 Dan Sentinel-2 (Studi Kasus Aceh Singkil)
LAPAN-A3 merupakan satelit eksperimental generasi ketiga milik LAPAN. Sebagai satelit pembawa misi observasi bum', data multispektral LAPAN-A3 dapat diaplikasikan untuk pemanfaatan Iebih lanjut. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui hubungan antara nilai spektral digital number imager LAPAN-A3 dan Sentinel-2A pada studi kasus wilayah Aceh Singkil. Uji korelasi dilakukan dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson. Korelasi menunjukkan bahwa nilai digital number LAPAN-A3 dan Sentinel-2A memiliki hubungan yang rendah atau tidak menunjukkan adanya hubungan secara linear.Hlm. 24-2
POTENSI PENGEMBANGAN NANO SATELIT SEBAGAI TEKNOLOGI SATELIT MASA DEPAN
Abstrak : Teknologi ruang angkasa, terutama satelit merupakan salah satu instrumen penting dalam pengembangan teknologi dan kemajuan manusia di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, dan komunikasi. Saat ini satelit telah digunakan di berbagai bidang antara lain sebagai pengamatan bumi, komunikasi, studi atmosfer, navigasi, observasi astronomi, dan aplikasi militer. Satelit memberikan layanan tanpa gangguan dengan biaya lebih rendah bila dibandingkan dengan metode konvensional untuk aplikasi serupa. Perkembangan teknologi satelit ini berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang mulai kearah nano teknologi. Teknologi nano saat ini memberikan banyak keuntungan untuk satelit. Salah satu keuntungan yang didapat yaitu biaya peluncuran satelit yang lebih murah dikarenakan komponen satelit yang dibuat lebih kecil. Sebagai gambaran, biaya yang harus dikeluarkan untuk meluncurkan satelit menggunakan jasa roket peluncur sekitar USD26.000- 40.000/Kg untuk orbit Low Earth Orbit (LEO) dan USD46.000-92.000/Kg untuk orbit Geostationary Transfer Orbit (GTO). Dengan bobot satelit yang semakin ringan maka biaya peluncuran relatif lebih murah. Teknologi nano ini menginspirasi para pengembang satelit untuk membuat satelit mereka lebih kecil dengan berat lebih ringan tanpa mengurangi kemampuan dari satelit tersebut.Hlm. 32-4