Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Pengaruh Konsentrasi Pyraclostrobin terhadap Kandungan Protein, Lemak dan Fenolik Total Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Klon ICCRI 04 dan Scavina 6
Produksi dan kualitas kakao di Indonesia saat ini mengalami penurunan karena serangan hama Phytophtora palmivora. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan aplikasi fungisida berbahan aktif pyraclostrobin sebagai penanganan penyakit oleh Phytophtora palmivora sekaligus sebagai Plant Growth Reguator. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi pyraclostrobin yang optimum dalam perbaikan kandungan protein, lemak, dan fenolik total biji kakao pada setiap set penelitian klon ICCRI 04 dan klon Scavina 6. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Satu set percobaan diperlakukan konsentrasi pyraclostrobin dan diaplikasikan pada dua macam klon kakao asal SE yaitu ICCRI 04 dan Scavina 6 secara terpisah. Adapun konsentrasi pyraclostrobin yang diuji pada penelitian ini adalah 0, 63, dan 126 ppm. Penyemprotan pyraclostrobin dilakukan sebanyak empat kali, yaitu 1) saat terbentuknya primordia bunga, 2) saat bunga memasuki fase anthesis pada hari ke-21, 3) saat terbentuknya pentil kakao pada hari ke-50, dan 4) saat hari ke-75 setelah pembungaan. Data yang diperoleh dianalisis varian (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95%, dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) jika hasil analisis varian menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan. Konsentrasi pyraclostrobin yang optimal untuk perbaikan kualitas biji kakao (dengan indikasi berupa kenaikan konsentrasi, protein, lemak, dan fenolitk total) serta hubungan antar variabel pengamatan ditentukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa kenaikan konsentrasi pyraclostrobin yang diberikan pada tanaman kakao klon ICCRI 04 sampai dengan 126 ppm secara nyata meningkatkan aktivitas nitrat reduktase serta kandungan protein dan lemak dalam biji. Sedangkan kenaikan konsentrasi pyraclostrobin sampai dengan 126 ppm pada klon Scavina 6 tidak memberikan perbaikan terhadap indikator kualitas biji kakao yaitu kandungan protein, lemak, dan fenolik total biji kakao.
Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.) pada Pola Tanam Satu Lubang dengan Kedelai (Glycine max (L.) Merrill)
Jagung masih merupakan bahan pangan pokok di beberapa bagian Indonesia, antara laindi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di NTT jagung dibudidayakan dengan cara spesifik lokasiyaitu ditanam dalam satu lubang dengan berbagai jenis tanaman lain misalnya kedelaidengan jumlah benih berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhkultivar dan jumlah benih kedelai yang ditanam dalam satu lubang terhadap pertumbuhandan hasil jagung dan kultivar apa dan jumlah benih per lubang berapa yang dapat meningkatkan hasil jagung paling tinggi. Penelitian menggunakan jenis jagung hibridavarietas BISI 2 dan sembilan varietas kedelai unggul yaitu Anjasmara, Burangrang, Gema,Gepak Kuning, Grobogan, Kaba, Panderman, Sinabung dan Wilis. Penelitian ini telahdilaksanakan di Kebun Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,Banguntapan, Bantul, Yogyakarta mulai bulan Agustus – November 2015. Penelitiandirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor dan tigaulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri dari satu kedelai dengan satu jagung, duakedelai dengan satu jagung, tiga kedelai dengan satu jagung dan empat kedelai dengansatu jagung dan monakultur jagung. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisisdengan menggunakan analisis varian (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%.Kemudian dilakukan uji lanjut yaitu Uji Jarak Berganda Duncan dan Uji Lanjut KontrasOrtoganal taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kedelaimemberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Kedelai kultivarGema, Gepak Kuning, Kaba dan Sinabung meningkatkan hasil jagung, kultivar Anjasmara,Grobogan, Burangrang dan Wilis mempengaruhi hasil jagung namun tidak konsisten dankultivar Panderman menurunkan hasil tanaman jagung
Pengaruh Pengayaan Oksigen dan Kalsium terhadap Pertumbuhan Akar dan Hasil Selada Keriting (Lactuca sativa L.) pada Hidroponik Rakit Apung
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengkayaan oksigen (O2) dankalsium (Ca) dalam larutan nutrisi hidroponik rakit apung terhadap pertumbuhan akar, hasil dan serapan Ca selada keriting. Penelitian dilaksanakan di Rumah KacaDepartemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada yangterletak di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Propinsi D.I. Yogyakarta, padabulan April-Juni 2016. Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak KelompokLengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalahvariasi tekanan aerasi dalam larutan nutrisi yang meliputi 0 mPa (V1), 0,012 mPa (V2),0,006 mPa (V3), dan 0,003 mPa (V4). Faktor kedua adalah dosis Ca dalam larutannutrisi, meliputi 0 ppm (Ca0), 200 ppm (Ca1), 400 ppm (Ca2), dan 600 ppm (Ca3).Variabel yang diamati meliputi karakter iklim mikro dalam rumah kaca, karakter kimiawilarutan nutrisi, karakter perakaran, dan hasil selada keriting. Data yang telah diperolehselanjutnya dianalisis varian (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dandilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) jika terdapat beda nyataantar perlakuan. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa karakter perakaranselada keriting yang ditanam secara hidroponik rakit apung menjadi lebih baik jikadilakukan pengayaan oksigen dan kalsium pada larutan nutrisinya, masing-masingsampai dengan tekanan aerasi 0,012 mPa dan konsentrasi 600 ppm. Indikasinyaadalah terjadi kenaikan panjang dan luas permukaan total akar, pada tanaman seladakeriting yang diberi tekanan aerasi 0,012 mPa dan kalsium 600 ppm. Pengayaankalsium sampai dengan 600 ppm secara nyata juga meningkatkan bobot segar dankering tajuk selada keriting. Sedangkan pemberian tekanan aerasi sampai dengan0,012 mPa secara nyata meningkatkan bobot segar dan kering total selada keriting.Konsentrasi kalsium dalam jaringan selada keriting mencapai maksimal pada kalsium600 ppm, yang dikombinasikan dengan tekanan aerasi 0,012 mPa. Serapan kalsiumdipengaruhi secara individual oleh masing-masing faktor, mencapai maksimal padatanaman selada keriting yang diberi tekanan aerasi 0,012 mPa atau kalsium 600 ppm
Pengaruh Konsentrasi Besi dan Tekanan Aerasi terhadap Pertumbuhan Tajuk dan Hasil Sawi Hijau (Brassica Juncea (L.) Czern) pada Sistem Hidroponik Rakit Apung
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi besi dan tekananaerasi larutan nutrisi hidroponik terhadap pertumbuhan tajuk, hasil, dan kadar Fe sawihijau serta menentukan konsentrasi besi dan tekanan aerasi larutan nutrisi hidroponik rakit apung yang optimal untuk memaksimalkan pertumbuhan tajuk, hasil, kadar Fesawi hijau. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Departemen Ilmu Tanah, FakultasPertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan April sampai Mei 2014.Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan petak belah. Faktor tekanan aerasisebagai petak utama yaitu 0 mP; 0,03 mPa; 0,006 mPa; dan 0,012 mPa. Faktorkonsentrasi Fe sebagai anak petak meliputi 0 ppm, 3 ppm, 6 ppm, dan 9 ppm. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara konsentrasi besi dantekanan aerasi terhadap hampir semua variabel pengamatan. Perlakuan tekananaerasi tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tajuk, hasil, dan kadar Fe sawihijau. Hal ini dipengaruhi oleh kedalaman larutan nutrisi hidroponik yang relatifdangkal, sehingga konsentrasi oksigen terlarut yang terukur cukup tinggi di semualevel perlakuan tekanan aerasi. Perlakuan konsentrasi Fe 0 ppm menyebabkanpertumbuhan tajuk sawi terhambat, sehingga menyebabkan kematian sawi hijau.Perlakuan konsentrasi Fe 3 ppm memiliki pertumbuhan tajuk dan hasil yang samabaiknya dengan perlakuan konsentrasi 6 ppm dan 9 ppm. Peningkatan konsentrasi Fesampai 9 ppm dapat meningkatkan kadar Fe dalam jaringan sawi hijau dan serapanFe
PENGARUH JARAK TANAM DAN TAKARAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BENIH KACANG HIJAU (Vigna radiata L. Wilczek)
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil benih kacang hijau 2) mengetahui pengaruh takaran pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil benih kacang hijau serta 3) mengetahui interaksi antara jarak tanam dan takaran pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil benih kacang hijau. Penelitian di lahan petani Karangasem, Palbapang, Bantul, Yogyakarta pada bulan Mei-Agustus 2012. Sedangkan pengujian kualitas benih di lakukan dilaboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian UGM. Percobaan menggunakan rancangan petak terbagi dengan menggunakan tiga ulangan. Petak utama adalah jarak tanam terdiri atas J0= 15 cm x 30 cm (populasi 216.667 tanaman/ha), J1= 30 cm x 30 cm (populasi 108.300 tanaman/ha), J2= 20 cm x 40 cm (populasi 125.000 tanaman/ha), sedangkan anak petak adalah takaran pupuk, terdiri atas P0= 0 kg Urea, 0 kg SP36, 0 kg KCl, P1= 50 kg Urea, 50 kg SP36, 50 kg KC1, P2= 75 kg Urea, 75 kg SP36, 75 kg KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara parameter jarak tanam dengan parameter takaran pupuk NPK. Jarak tanam mampu memberikan hasil yang sama dengan hasil tertinggi pada jarak 15 cm x 30 cm sebesar 0,85 ton/ha. Takaran pupuk NPK 75 kg/ha mampu memberikan hasil sebesar 0,84 ton/ha
PENGARUH SKARIFIKASI DAN LAMA PERENDAMAN AIR TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN BIBIT SAWO (Manilkara zapota (L.) van Royen)
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan cara yang efektif guna mengatasi dormansi biji keras pada benih sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen). Penelitian dilaksanakan di Monggang, Pendowoharjo, Sewon, Bantul pada bulan November 2013 sampai Mei 2014. Untuk menghilangkan dormansi bijinya, perlakuan yang digunakan adalah dikikir dengan amplas, dipotong dengan pemotong kuku, direndam dalam air selama 24 jam, direndam dalam air selama 48 jam, direndam dalam air selama 72 jam, dan tanpa diperlakukan (kontrol). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan’s (DMRT) pada level 5% apabila hasil yang diperoleh berbeda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih sawo dalam air selama 24 jam dapat mengatasi sifat kulit keras benih dengan meningkatkan gaya berkecambah benih hingga 93%. Pertumbuhan bibit sawo menunjukkan hasil yang sama antara benih yang diskarifikasi dan direndam dalam air maupun benih yang tidak diperlakukan. Benih sawo yang diskarifikasi dengan pemotong kuku menunjukkan gaya berkecambah 64% dan pertumbuhan bibit yang paling rendah
KERAGAMAN MOLEKULER PURING (Codiaeum variegatum (L.) Rumph. ex A. Juss) DENGAN PENANDA RAPD
Tanaman puring (Codiaeum variegatum (L.) Rumph. ex A. Juss) adalah tanaman hias yang memiliki nilai jual tinggi. Tanaman puring juga memiliki manfaat sebagai tanaman berkhasiat obat dan dapat menyerap unsur timah hitam yang berasal dari sisa pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor (2,05 mg/lt). Bentuk, warna, dan corak daun tanaman puring sangat beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya keragaman genetik, menghitung jarak genetik, dan menduga adanya alel spesifik pada tanaman puring. Sampel DNA diektraksi dari daun 20 kultivar tanaman puring. Metode PCR menggunakan 10 primer yaitu OPA-02, OPA-03, OPA-14, OPA-16, OPA-18, OPA-20, OPB-08, OPB-19, OPD-05, dan OPH-18. Hasil amplifikasi menunjukkan tingkat polimorfisme yang cukup tinggi. Persentase lokus polimorfik dan nilai heterosigositas harapan (He) paling tinggi ditunjukkan oleh kultivar tanaman puring dengan daun yang berwarna kombinasi hijau-merah yaitu 56,60% dan 0,190. Kultivar yang berlabel H1 dengan HK1 memiliki hubungan kekerabatan paling dekat diantara kultivar lain, sedangkan kultivar yang berlabel HK3 dengan HKM5 dan kultivar berlabel HK5 dengan HKM4 memiliki hubungan kekerabatan paling jauh diantara kultivar lain. Hasil dari dendogram UPGMA dan PCoA (Principal Coordinates Analysis) menempatkan 20 kultivar kedalam 2 klaster dan salah satu klaster ditempati oleh kultivar dengan daun yang berwarna kombinasi hijau-kuning-merah. Dari seluruh kelompok warna pada sampel, alel spesifik yang dapat terdeteksi pada satu kelompok/populasi warna hanya terdapat pada kelompok HKM yaitu pada OPD 05-1400 dan OPH 18-300
PENGARUH BAHAN MEDIA SIMPAN TERHADAP KUALITAS BIBIT TIGA KLON TEBU (Saccharum officinarum L.) MATA TUNAS TUNGGAL
Bibit tebu mata tunas tunggal memiliki umur simpan yang relatif pendek. Apabila tanpa perlakuan, daya kecambah mata tunas tunggal sudah menurun pada umur simpan 2 hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahan media simpan dan bahan klon tebu terbaik untuk mempertahankan kualitas bibit tebu mata tunas tunggal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial 3 × 3 dalam rancangan lingkungan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah media simpan yang terdiri dari media simpan arang kayu, serbuk gergaji, dan sekam padi. Faktor kedua adalah klon tebu yang terdiri dari klon Bululawang, klon Kidang Kencana, dan klon VMC. Pengamatan dilakukan pada umur simpan 0, 4, 8, 12, dan 16 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara media simpan dan klon yang digunakan pada jumlah bibit yang berjamur selama penyimpanan, jumlah bibit yang mati selama penyimpanan, gaya berkecambah (GB), dan indeks vigor (IV) bibit mata tunas tebu. Media simpan arang kayu mampu menyimpan mata tunas tunggal terbaik yakni sampai dengan umur simpan 12 hari. Klon Kidang Kencana memiki kualitas bibit yang baik sampai dengan umur simpan 12 hari pada media simpan arang kayu
Pengaruh Dosis Pupuk Kalium terhadap Pertumbuhan dan Hasil Wijen Hitam dan Putih
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil wijen hitam dan putih. Penelitian ini dilaksanakan di Kebuh Tridharma Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pada bulan Desember 2013 sampai dengan Maret 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kalium yang terdiri dari 4 taraf, yaitu tanpa pemupukan kalium sebagai kontrol, dosis 30, 60, dan 90 kg/ha. Faktor kedua adalah dua varietas wijen yaitu SBR-1 dan lokal hitam. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam α= 5 %. Apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kalium sampai 90 kg K2O/ha secara nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman pada variabel luas daun, berat kering tajuk, dan luas akar. Analisis pertumbuhan yang dilakukan juga menunjukkan adanya peningkatan indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, dan indeks panen secara nyata. Perlakuan dosis pupuk kalium sebesar 30 kg K2O/ha meningkatkan komponen hasil dan hasil tanaman wijen yang ditunjukkan pada variabel jumlah polong, berat 1000 biji, dan berat biji per tanaman. Interaksi antara perlakuan dosis pupuk kalium dan varietas wijen berpengaruh nyata terhadap kandungan minyak wijen. Kombinasi perlakuan dosis pupuk kalium 90 kg K2O/ha pada wijen lokal hitam memberikan kandungan minyak tertinggi yaitu sebesar 49,70 %
PENGARUH TAKARAN PUPUK KANDANG SAPI DAN MAGNESIUM SULFAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL WIJEN (Sesamum indicum L.) DI LAHAN PASIR PANTAI
Wijen (Sesamum indicum L.) merupakan salah satu komoditas yang mempunyai nilai ekonomi sangat tinggi, namun produksi wijen dalam negeri masih rendah. Pengembangan budidaya wijen dapat dilakukan pada lahan-lahan kritis yang salah satunya adalah lahan pasir pantai. Sifat lahan pasir pantai yang miskin hara dapat diatasi dengan penambahan bahan organik dalam bentuk pupuk kandang sapi. Selain itu untuk mengawali pembentukan minyak pada biji wijen dibutuhkan kandungan sulfur yang cukup dan kebutuhan sulfur ini dapat dipenuhi dengan pemberian magnesium sulfat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh takaran pupuk kandang sapi dan magnesium sulfat (MgSO4.7H2O) terhadap pertumbuhan dan hasil wijen dan 2) mendapatkan takaran optimal kombinasi pupuk kandang sapi dan magnesium sulfat pada penanaman wijen di lahan pasir pantai. Percobaan dilakukan dengan memberikan dua perlakuan yaitu takaran pupuk kandang sapi (0; 10; 20; dan 30 ton/ha), dan takaran magnesium sulfat (0; 70; dan 140 kg/ha) yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel pertumbuhan dan daya hasil wijen. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa takaran pupuk kandang sapi berinteraksi dengan magnesium sulfat dan memberikan pengaruh positif terhadap bobot kering total, jumlah polong, serta daya hasil wijen di lahan pasir pantai. Kombinasi takaran optimum untuk penanaman wijen di lahan pasir pantai adalah 54 ton pupuk kandang sapi dan 70 kg magnesium sulfat pada setiap hektar lahan dengan hasil 755 kg/ha