487 research outputs found

    Kajian Senyawa Metabolit Sekunder pada Mentimun (Cucumis sativus L.)

    Get PDF
    Senyawa metabolit sekunder merupakan produk yang terbentuk dari proses metabolisme secara insidental dan umumnya tidak terlalu berpengaruh penting terhadap kehidupan organisme. Mentimun mengandung senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, glikosida, steroid, saponin, tannin, flavonoid, terpenoid, resin, polifenol, fenol, glikosida sianogenik, dan antosianin. Kandungan senyawa metabolit sekunder pada mentimun dipengaruhi oleh faktor internal (genetik dan fisiologis) dan lingkungan (suhu, salinitas, kekeringan, radiasi sinar UV). Senyawa metabolit sekunder pada mentimun berperan penting bagi kehidupan tanaman atau untuk kesehatan manusia. Senyawa metabolit sekunder pada mentimun berperan sebagai antraktan serta pertahanan tanaman terhadap herbivora, hama, dan patogen. Senyawa metabolit sekunder pada mentimun dalam dunia medis dapat mencegah berbagai macam penyakit seperti peradangan, infeksi bakteri, kanker, demam, diabetes, maupun gangguan pencernaan. Kandungan senyawa metabolit sekunder dapat ditentukan melalui analisis kualitatif (uji warna) dan kuantitatif (kromatografi dan spektrometri). Secara kuantitatif, kandungan senyawa metabolit sekunder harus melalui proses pemisahan melalui kromatografi (paper chromatography, thin layer chromatography, gas liquid chromatography, high performance liquid chromatography) dan diidentifikasi menggunakan detektor (spektrofotometer UV-vis, spektrofotometer IR, NMR spectroscopy, dan mass spectroscopy). Rasa pahit pada mentimun dapat diatasi dengan menggunakan varietas yang menghasilkan buah tidak pahit, menjaga suhu dan kelembaban tanah dengan menentukan periode tanam yang tepat disesuaikan data suhu bulanan, pengairan teratur, serta penggunaan mulsa organi

    Keragaan Tanaman Tomat Apokarpel (Solanum lycopersicum L.) sebagai Tanaman Hias dalam Pot dengan Pengaplikasian Paklobutrazol

    Get PDF
    Tanaman hias memiliki pasar yang luas diantaranya rumah tangga, perkantoran dan perhotelan, namun tanaman hias yang berasal dari tanaman buah belum banyak dimanfaatkan. Tanaman tomat apokarpel berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena bentuk buahnya yang unik, namun kelemahannya yaitu berhabitus tinggi. Upaya memperpendek tanaman tersebut yaitu mengaplikasikan zat pengatur tumbuh paklobutrazol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aplikasi paklobutrazol yang tepat sesuai kriteria tanaman pot. Penelitian dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Wilayah V Pakem, Sleman pada Januari-Juni 2019 menggunakan rancangan petak terbelah dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari dua faktor yaitu waktu aplikasi (2 Minggu Setelah Semai (MSS) dan 2 Minggu Setelah Pindah Tanam (MSPT) dan konsentrasi paklobutrazol (0 ppm, 75 ppm, 150 ppm, 225 ppm, dan 300 ppm). Data diuji menggunakan analisis anova dan analisis kontras antara perlakuan kontrol dan aplikasi paklobutrazol serta dilanjutkan dengan analisis HSD Tukey α= 5% apabila terdapat beda nyata antara kontrol dengan aplikasi paklobutrazol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi paklobutrazol menghambat tinggi tanaman dengan cara menurunkan jumlah nodus, memperpendek internodus, dan memperpendek sel batang. Selain itu paklobutrazol juga mengurangi jumlah buah per tanaman, diameter buah dan bobot buah melalui mekanisme penutupan stomata. Perlakuan yang paling efisien adalah 75 ppm yang diaplikasikan pada 2 MSS maupun 2 MSPT

    Interaksi Gen pada Beberapa Karakter Kualitatif Tomat (Solanum lycopersicum L.)

    Get PDF
    Program pemuliaan tanaman dapat lebih efektif dan efisien jika terdapat informasi pewarisan sifat dari karakter yang akan dimuliakan. Namun, belum semua karakter kualitatif pada buah tomat diketahui pola pewarisan sifatnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang pewarisan sifat beberapa karakter kualitatif pada tanaman tomat. Penelitian ini dilakukan pada Januari – April 2020 di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo, Bogor, Indonesia. Sebanyak 10 tanaman varietas Tora IPB, 10 tanaman genotype GIK serta 10 tanaman F1 (hasil persilangan Tora IPB x GIK) digunakan pada penelitian ini. Selain itu, juga digunakan sebanyak 185 tanaman populasi F2 (hasil selfing F1 Tora IPB x GIK) pada penelitian ini. Analisis data dilakukan menggunakan uji khi kuadrat dilakukan pada populasi F2 untuk menentukan rasio segregasi karakter kualitatif yang paling tepat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa karakter posisi anak daun terhadap tangkai daun, bentuk ujung buah tomat, tinggi kelopak terhadap mahkota, dan karakter luas plasenta buah tomat dikendalikan oleh 2 gen dengan 2 alel per lokus. Tipe intraksi gen pada pewarisan karakter posisi anak daun terhadap tangkai daun dan bentuk ujung buah tomat yaitu epistasis dominan, sedangkan tipe interaksi gen pada pewarisan karakter tinggi kelopak terhadap mahkota dan karakter luas plasenta buah tomat berturut-turut adalah epistasis dominan ganda dan semi epistasis. Karakter green shoulder pada buah tomat dikendalikan oleh 1 gen dengan 2 alel per lokus. Gen pengendali karakter green shoulder bersifat dominan terhadap karakter tanpa green shoulder (polos) pada buah tomat

    Pengaruh Cekaman Air pada Masa Penanaman terhadap Anatomi dan Fungsi Xilem serta Waktu Pajang Bunga Potong Kenikir (Tagetes erecta L.)

    Get PDF
    Berbagai penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan waktu pajang bunga potong demi meningkatkan nilai jualnya di pasar. Salah satu pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah dengan memicu pembentukan karakter anatomi jaringan xilem bunga potong yang lebih resisten terhadap embolisme, guna meningkatkan kemampuan rehidrasinya dengan memodifikasi kondisi lingkungan pada masa penanaman. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari kondisi air yang berbeda pada masa penanaman terhadap karakter jaringan xilem, konduktivitas hidraulik batang, serta kemampuan rehidrasi dan waktu pajang bunga potong dari tanaman marigold (Tagetes erecta L.). Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dimana bibit tanaman berusia empat minggu ditumbuhkan selama dua bulan dengan tiga volume penyiraman harian yang berbeda, yakni sebanyak 20%, 60%, dan 100% kapasitas lapang (KL). Data hasil penelitian kemudian dianalisis dengan analisis variansi (ANOVA) serta uji lanjut BNT (beda nyata terkecil) dalam taraf signifikansi sebesar 5% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter struktural dan fungsional xilem pada tanaman Tagetes erecta L. hanya dapat terpengaruh oleh kondisi cekaman air berat (20% KL), yang berdampak negatif pada konduktivitas hidraulik batang, luas jaringan xilem, serta diameter lumen unsur pembuluh xilem. Akan tetapi, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada karakter jumlah maupun frekuensi unsur pembuluh tersebut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa meskipun didapati perubahan pada karakter struktural dan fungsional xilem batang, cekaman air yang diberikan pada akhirnya tidak berhasil mempengaruhi kemampuan rehidrasi maupun waktu pajang bunga potong yang dihasilkan

    Back Matter

    No full text

    Aplikasi Silika Sebagai Amelioran Air Salin Limbah Budidaya Ikan Kerapu Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Mentimun (Cucumis sativus L.) Hidroponik

    Get PDF
    Kebutuhan pangan bagi manusia seperti sayuran semakin meningkat seiring perkembangan jumlah penduduk, sehingga perlu adanya produksi untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Salah satu teknologi budidaya yang dapat dikembangkan yaitu produksi mentimun dengan memanfaatkan air salin limbah kerapu dan aplikasi amelioran silika secara hidroponik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukkan pengaruh salinitas air limbah budidaya ikan kerapu dan pengaruh dosis silika terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun yang dibudidayakan secara hidroponik. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan milik PT INDMIRA di Jalan Kaliurang km 19 pada bulan Maret - Juni 2018. Penelitian ini disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap faktorial (3 x 3 + 1) dengan faktor pertama berupa konsentrasi air salin limbah budidaya ikan kerapu yang terdiri dari 3 aras yaitu 3 dS/m (U1), 6 dS/m (U2), dan 9 dS/m (U3), dan faktor kedua berupa dosis silika yang terdiri dari tiga aras yaitu 50 ppm (P1), 100 ppm (P2), dan 150 ppm (P3). Kontrol digunakan tanaman mentimun yang tidak diberi air salin limbah budidaya ikan kerapu dan silika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian salinitas air limbah budidaya ikan kerapu pada kisaran konsentrasi 3 dS/m – 9 dS/m meningkatkan bobot kering akar. Aplikasi silika dengan dosis 50 ppm, 100 ppm dan 150 ppm meningkatkan  bobot kering tajuk, kadar air nisbi. Dosis silika 100 ppm menunjukkan hasil klorofil yang paling tinggi dan meningkatkan rasio akar/tajuk. Aplikasi silika pada dosis 50 ppm dan 100 ppm pada salinitas 6 dS/m menunjukkan hasil ton/ha yang paling tinggi

    Pengaruh Pemberian Kalsium Silikat terhadap Pertumbuhan dan Struktur Anatomi Akar Tanaman Padi (Oryza sativa L. ‘IR64’) pada Kondisi Cekaman Salinitas

    Get PDF
    Salinitas merupakan salah satu cekaman abiotik yang umum terjadi di lahan persawahan. Salinitas dapat menyebabkan produktivitas padi menurun akibat terhambatnya pertumbuhan tanaman padi. Salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif cekaman salinitas yaitu dengan aplikasi pupuk silikat.  Pupuk silikat sebagai sumber silikon (Si) dapat meningkatkan pertumbuhan serta toleransi tanaman padi saat berada pada kondisi cekaman biotik maupun abiotic, salah satunya salinitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kalsium silikat terhadap pertumbuhan, dan struktur anatomi akar tanaman padi ‘IR64’ pada kondisi cekaman salinitas. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu kalsium silikat dan salinitas. Konsentrasi yang digunakan pada perlakuan kalsium silikat 0, 1, dan 2 mM serta untuk perlakuan salinitas 0, 37.5, dan 50 mM NaCl. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANOVA) dan jika terdapat pengaruh maka dilanjutkan dengan menggunakan uji DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kalsium silikat meningkatkan pertumbuhan tanaman padi ‘IR64’ pada kondisi cekaman salinitas. Pada kondisi cekaman salinitas, aplikasi kalsium silikat mampu meningkatkan diameter akar, tebal eksodermis, tebal korteks, dan diameter stele tanaman padi ‘IR64’.

    Tanggapan Aksesi Kacang Hijau (Vigna radiata L.) terhadap Mikoriza di Lahan Sawah Bekas Padi

    Get PDF
    Produksi kacang hijau nasional menurun selama kurun waktu tahun 2016 – 2018. Salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas tanaman secara ramah lingkungan adalah menambahkan agen hayati-mikoriza, karena pemberian mikoriza mampu meningkatkan pertumbuhan serta komponen hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan beberapa aksesi kacang hijau terhadap inokulasi mikoriza serta memilih aksesi yang tanggap terhadap inokulasi mikoriza sebagai bahan kajian genetika dan fisiologi ketergantungan kacang hijau terhadap mikoriza. Penelitian dilaksanakan di lahan Pusat Inovasi Agroteknologi Universitas Gadjah Mada (PIAT-UGM) Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) petak terbagi yang terdiri atas dua faktor. Faktor utama yaitu perlakuan inokulasi dan anak faktor berupa 20 aksesi kacang hijau. Pengamatan meliputi infeksi mikoriza, sifat komponen hasil, dan  hasil. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis varian sesuai rancangan acak lengkap, uji lanjut Scott Knott, dan analisis korelasi. Pada penelitian ini masing-masing nomor aksesi kacang hijau memiliki tanggapan yang beragam terhadap inokulasi mikoriza. Persentase infeksi mikoriza  lebih tinggi pada perlakuan inokulasi. Inokulasi mikoriza mampu meningkatkan jumlah polong per tanaman, biji per polong, dan bobot biji per tanaman, namun tidak dengan bobot 100 biji tanaman. Persentase infeksi mikoriza pada umur 20 hari setelh tanam nyata berhubungan dengan hasil biji. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa nomor aksesi 788, 797, 798, 805, 807, 810, 812, 826, 829, dan 832 berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan kajian genetika dan fisiologi ketergantungan kacang hijau terhadap mikoriza

    Front Matter

    No full text

    Persilangan Backcross 2 (BC 2) Galur Harapan Padi Hitam/Jeliteng//Jeliteng

    No full text
    Beras hitam saat ini mulai populer sebagai pangan fungsional seiring dengan kesadaran akan pentingnya kesehatan. Namun, beberapa kendala budidaya mempengaruhi minat petani dalam memproduksi beras hitam, seperti umur tanaman yang panjang, kerentanan terhadap WBC, dan produksi yang rendah. Persilangan dapat dilakukan untuk membentuk tanaman baru dengan sifat yang diinginkan. Metode silang balik digunakan untuk memperbaiki varietas yang sudah mempunyai karakter yang baik, tetapi kurang unggul pada beberapa karakter. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh hasil persilangan backcross 1 dengan tetua (Padi Hitam Jeliteng) sehingga dapat dihasilkan benih generasi backcross 2 untuk dilanjutkan pada backcross generasi berikutnya. Metode persilangan yang digunakan adalah persilangan balik antara 6 nomor (BC1GH8; BC1GH13; BC1GH44; BC1GH46; BC1GH51; BC1GH52) hasil persilangan BC1 antara galur-galur potensial galur padi hitam/Jeliteng//Jeliteng yang disilangkan lagi dengan salah satu tetua, yaitu varietas Jeliteng. Seluruh data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil pada variabel umur berbunga, masa pengisian bulir gabah, dan persentase keberhasilan persilangan. Persilangan backcross 2 menghasilkan keturunan F1 Backcross 2 yang bersifat fertil dan dapat digunakan sebagai tetua untuk persilangan backcross generasi berikutnya. Rata-rata persentase keberhasilan dari keseluruhan hasil set persilangan backcross 2 adalah 44,18%. Penelitian ini diharapkan memperoleh hasil persilangan backcross 1 dengan tetua (Padi Hitam Jeliteng) sehingga dapat dihasilkan benih generasi backcross 2 untuk dilanjutkan pada backcross generasi berikutnya

    408

    full texts

    487

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Vegetalika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇