Berkala Arkeologi Sangkhakala
Not a member yet
    328 research outputs found

    appendix

    No full text

    RAGAM HIAS NISAN KOMPLEKS PEMAKAMAN RAJA KOTALAMA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU, PROVINSI RIAU

    Full text link
    The cemetery of the King Kotalama complex is the Indragiri royal burial complex of the islamic-style period of Narasinga II. This study focused on the type of ornament that developed in the burial complex of the king of Kotalama. Decoration can provide information about the development of art culture during the reign of Narasinga II. The method used to answer these problems is through morphological analysis and stylistic analysis, in order to find out the types of decorations. The developing decoration shows that the community acculturates the old culture and the new culture. The ornamental variety consists of flora, geometric and calligraphy

    BATU NISAN LAMREH TIPE ‘PLANGPLENG’

    Full text link
    Plangpleng type tombstone is a very distinctive shape. Sculpture style is the main characteristic of this type of tombstone. That makes it different from other tombstones in Lamreh. Forms of local and foreign motifs from different cultural backgrounds and belief systems. This is a character that reflects a 'mixed' society at the beginning of the development of Islam in Aceh Besar and Banda Aceh. This tombstone is a very important marker as the initial evidence of the presence of Muslim communities along the coast of Aceh Besar and Banda Aceh. As an art object, it has been a human work of the past, and is evidence of the culmination of the achievement of cultural development in an ancient society in Aceh Besar known as the 'Lamuri community’

    appendix

    No full text

    EKOLOGI POLITIK DALAM PERLUASAN WILAYAH MASA SRIWIJAYA: BERDASARKAN BEBERAPA BUKTI PRASASTI

    No full text
    Srivijaya is a federation state in Nusantara on the 7th century AD. Dapunta Hyang as the first of Datu Sriwijaya, was first mentioned in the Kedukan Bukit Inscription (606 AD). In its development, Srivijaya's authority which began in Palembang began to develop into the surrounding areas. Evidence of this expansion of Srivijaya is recorded in the Srivijaya inscriptions found in these areas. The inscriptions found generally contain curses about people who rebel against unity. This paper is intended to reconstruct the ecological considerations made by Srivijaya in expanding its territory. This paper connects the location of the discovery of the inscription, the composition of the contents of the curse of the inscription and number of inscriptions to find out the priority scale of the Sriwijaya territory. The analyzed data is then compare it with the ecological conditions of each region. In interpreting the expansion of the region based on ecological and geographic conditions, political ecology theory is used. Finally, it can be seen that Palembang is the axis of unity, because of the many inscriptions found and the curse composition in the inscriptions. Palembang has a wealth of natural resources and the most favorable geographical conditions for the Sriwijaya Union. The inscription discovery area outside Palembang is a hinterland area, whose natural wealth is used as a commodity for Kadatuan Sriwijaya

    KAWASAN “PUSAT KOTA” KLATEN PADA MASA KOLONIAL HINDIA BELANDA

    Full text link
    Klaten pada akhir abad XIX hingga awal abad XX memiliki peran penting dalam perkembangan perekonomian di Hindia Belanda karena hasil perkebunannya yang baik. Kondisi tersebut juga mendukung perkembangan kawasan “pusat kota” Klaten yang sebelumnya hanya digunakan sebagai pusat pemerintahan, kemudian berkembang menjadi lebih kompleks dengan dibangunnya fasilitas-fasilitas modern. Tulisan ini memaparkan interpretasi perkembangan kawasan “pusat kota” Klaten dari awal Klaten menjadi kabupaten di bawah Kasunanan Surakarta hingga sebagai afdeeling perkebunan di Karesidenan Surakarta. Metode penelitian yang digunakan bersifat historis, dengan menelusuri komponen-komponen kota menggunakan sumber-sumber lama seperti peta dan catatan, juga dibandingkan dengan keletakan komponen kota di lapangan. Melalui penelusuran tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa kawasan “pusat kota” Klaten mencirikan tata kota Indis, yang memiliki perpaduan antara komponen kota tradisional dan komponen kota modern Eropa

    Preface

    No full text

    preface

    No full text

    BENTUK DAN STRUKTUR BANGUNAN PADA MASA KLASIK DI SUMATRA DAN JAWA BERDASARKAN TEMUAN GENTING : [Classic Period Building Form and Structure In Sumatra and Java Based on The Roof Tiles Findings]

    No full text
    All this time, there’s an assumption that the use of tile roofs in the archipelago was brought around the 20th century by the Dutch, but archaeological evidence shows that the use of roof tiles has been known long before. This is known from several precarious findings in the former kingdom of Samudera-Pasai, Padang Lawas, Muaro Jambi and in the former capital of Majapahit kingdom. There’s not much information to explain how far the roof tiles has been used in Sumatra and Java over classical times, such as what kind of buildings used roof tiles at that time, because of the very limited findings. Several fragments that found in the archaeological research were analyzed and compared with the findings on the spot and compared with several recent building finds. The aim is to see the functions, how to use it and how was the connection with the supporting building around it. The use of tile in the past was still very limited, considering that organic materials for roofs are still widely available and only important building could use these expensive commodity. Recently, the use of tile in the archipelago has become more common because of the efficiency, more presentable, durable and cheaper than the organic materials. Selama ini terdapat anggapan bahwa pemakaian atap genting di nusantara dikenalkan oleh Belanda pada sekitar abad ke- 20, namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa penggunaan genting telah dikenal jauh sebelumnya. Hal ini diketahui dari beberapa temuan genting di bekas kerajaan Samudera- Pasai, Padang Lawas, Muaro Jambi dan di bekas ibukota kerajaan Majapahit. Tidak banyak informasi yang didapat untuk melihat seberapa jauh penggunanan genting sebagai atap di Sumatera dan Jawa pada masa-masa klasik, serta bangunan-bangunan seperti apa yang menggunakan atap genting pada saat itu, mengingat jumlahnya temuannya sangat terbatas. Beberapa fragmen genting berhasil ditemukan dalam penelitian arkeologis yang dilakukan, selanjutnya temuan tersebut, dianalisis serta dibandingkan dengan temuan-temuan di tempat serta dibandingkan dengan beberapa temuan bangunan pada masa belakangan. Tujuannya adalah untuk mengetahui fungsi, tata cara penggunaan serta bagaimana kemungkinan struktrur bangunan pendukungnya. Penggunaan genteng pada masa lalu masih sangat terbatas, mengingat ketersediaan bahan-bahan organis untuk atap masih banyak tersedia. Penggunaan genting pada masa lalu terbatas hanya untuk bangunan-bangunan penting karena genting masih dianggap sebagai komoditas yang cukup mahal. Belakangan penggunaan genteng di nusantara semakin umum karena penggunaan atap genteng dianggap lebih efisien, rapi, awet dan lebih murah karena bahan-bahan organis semakin sulit didapatSelama ini terdapat anggapan bahwa pemakaian atap genting di nusantara dikenalkan oleh Belanda pada sekitar abad ke- 20, namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa penggunaan genting telah dikenal jauh sebelumnya. Hal ini diketahui dari beberapa temuan genting di bekas kerajaan Samudera- Pasai, Padang Lawas, Muaro Jambi dan di bekas ibukota kerajaan Majapahit. Tidak banyak informasi yang didapat untuk melihat seberapa jauh penggunanan genting sebagai atap di Sumatera dan Jawa pada masa-masa klasik, serta bangunan-bangunan seperti apa yang menggunakan atap genting pada saat itu, mengingat jumlahnya temuannya sangat terbatas. Beberapa fragmen genting berhasil ditemukan dalam penelitian arkeologis yang dilakukan, selanjutnya temuan tersebut, dianalisis serta dibandingkan dengan temuan-temuan di tempat serta dibandingkan dengan beberapa temuan bangunan pada masa belakangan. Tujuannya adalah untuk mengetahui fungsi, tata cara penggunaan serta bagaimana kemungkinan struktrur bangunan pendukungnya. Penggunaan genteng pada masa lalu masih sangat terbatas, mengingat ketersediaan bahan-bahan organis untuk atap masih banyak tersedia. Penggunaan genting pada masa lalu terbatas hanya untuk bangunan-bangunan penting karena genting masih dianggap sebagai komoditas yang cukup mahal. Belakangan penggunaan genteng di nusantara semakin umum karena penggunaan atap genteng dianggap lebih efisien, rapi, awet dan lebih murah karena bahan-bahan organis semakin sulit didapa

    JAKARTA DARI MASA KE MASA: KAJIAN IDENTITAS KOTA “INDONESIA” MELALUI TINGGALAN CAGAR BUDAYA

    No full text
    Identitas Kota Jakarta tidak lepas dari momen sejarah yaitu sejak kemerdekaan tahun 1945. Perkembangan Kota Jakarta sebelum kemerdekaan masih kuat dipengaruhi oleh unsur kolonial Belanda, dan setelah kemerdekaan Indonesia (Kotapraja Djakarta). Namun demikian perkembangan Kota Jakarta pada masa orde Baru hingga kini kembali mendapatkan pengaruh barat melalui difusi kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode deskriptif-kualitatif. Kota Jakarta sebagai kesatuan ruang dari berbagai peristiwa sejarah yang terwujud melalui tinggalan materi kini telah ditetapkan dalam SK Gubernur DKI Jakarta No 473/1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di DKI Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya yang berjumlah total 132 Cagar Budaya. Cagar Budaya berupa bangunan dan struktur terbanyak terdapat di Kotamadya Jakarta Pusat sebanyak 63 bangunan dan 4 struktur. Kota Jakarta, khususnya Kotamadya Jakarta Pusat pada pasca-kemerdekaan dirancang sebagai kota simbolisme material dimana Monas, Mesjid Istiqlal, dan bangunan perkantoran sama seperti representasi kota pra-kolonial dimana keraton, alun-alun, dan pusat aktivitas perekonomian berdekatan. Seiring dengan perkembangan jaman, kota Jakarta berkembang sebagai kota simbol modernitas, identitas dan representasi budaya Indonesia juga kota internasional. Namun dengan bermunculannya gedung-gedung pencakar langit menetralisir lapisan-lapisan simbolisme material tersebut termasuk kawasan Kotatua Jakarta

    101

    full texts

    328

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berkala Arkeologi Sangkhakala
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇