Berkala Arkeologi Sangkhakala
Not a member yet
328 research outputs found
Sort by
ARKEOLOGI LANSKAP: IDENTIFIKASI KAWASAN TAMBLINGAN SEBAGAI PERMUKIMAN : [Landscape Archaeology: Identification of The Tamblingan Area as A Settlement]
Tamblingan site is one of the sites in Bali that located at an altitude of 1,350 above sea level. Tamblingan site contains a high cultural layer, especially Ancient Bali remains. The problem that would revealed is how the landscape at Tamblingan Site is ideal as a settlement, supported by archaeological evidence to strengthen it. Data collection is done by literature study, both search for internet sources and e-journals that focusing discuss of Tamblingan Site. Tamblingan area is a fertile plateau, its morphology is in the form of a mountain range with Lake Tamblingan as an old caldera containing rainwater. the topography also varies and allows it to be used as a settlement. From the results of the study conducted it was proven that the Tamblingan area is a fertile land area, besides that also the forest and Lake Tamblingan provide various needs to support daily life.
Tamblingan merupakan satu wilayah di Bali yang berada di ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut. Tamblingan juga dikenal sebagai situs arkeologi karena menyimpan banyak tinggalan arkeologi terutama dimasa Bali Kuno. Dalam penelitian ini permasalahan yang ingin diungkap dan dipecahkan adalah bagaimana bentanglahan atau lanskap kawasan Tamblingan sehingga daerah ini ideal untuk dijadikan sebagai lokasi hunian atau permukiman, ditunjang dengan bukti-bukti arkeologis untuk menguatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lanskap di wilayah Tamblingan sehingga daerah ini dipilih sebagai kawasan hunian dimasa lalu. Metode Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, baik itu penelusuran sumber internet maupun beberapa jurnal cetak dan online yang mengulas mengenai Situs Tamblingan. Kawasan Tamblingan adalah dataran tinggi yang subur, morfologinya berupa deretan pegunungan dengan Danau Tamblingan sebagai kaldera tua yang berisi air hujan. topografinya juga bervariasi dan memungkinkan untuk digunakan sebagai permukiman. Dari hasil studi yang dilakukan terbukti bahwa kawasan Tamblingan merupakan wilayah yang memiliki lahan yang subur, selain itu juga hutan dan Danau Tamblingan menyediakan berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.Tamblingan is an area in Bali which is located at an altitude of 1,350 meters above sea level. Tamblingan also known as an archaeological site because it holds many archaeological remains, especially during the ancient Balines era.The problem that would revealed and solved are how the landscape at Tamblingan is ideal as a settlement, supported by archaeological evidence to strengthen it. The purpose of this study is to identify the landscape in the Tamblingan area so that this area was chosen as a settlement in the past. Data collection is done by literature study, both search for internet sources and e-journals that focusing discuss of Tamblingan Site. Tamblingan area is a fertile plateau, its morphology is in the form of a mountain range with Lake Tamblingan as an old caldera containing rainwater. the topography also varies and allows it to be used as a settlement. From the results of the study conducted it was proven that the Tamblingan area is a fertile land area, besides that also the forest and Lake Tamblingan provide various needs to support daily life.
Tamblingan merupakan satu wilayah di Bali yang berada di ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut. Tamblingan juga dikenal sebagai situs arkeologi karena menyimpan banyak tinggalan arkeologi terutama dimasa Bali Kuno. Dalam penelitian ini permasalahan yang ingin diungkap dan dipecahkan adalah bagaimana bentanglahan atau lanskap kawasan Tamblingan sehingga daerah ini ideal untuk dijadikan sebagai lokasi hunian atau permukiman, ditunjang dengan bukti-bukti arkeologis untuk menguatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lanskap di wilayah Tamblingan sehingga daerah ini dipilih sebagai kawasan hunian dimasa lalu. Metode Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, baik itu penelusuran sumber internet maupun beberapa jurnal cetak dan online yang mengulas mengenai Situs Tamblingan. Kawasan Tamblingan adalah dataran tinggi yang subur, morfologinya berupa deretan pegunungan dengan Danau Tamblingan sebagai kaldera tua yang berisi air hujan. topografinya juga bervariasi dan memungkinkan untuk digunakan sebagai permukiman. Dari hasil studi yang dilakukan terbukti bahwa kawasan Tamblingan merupakan wilayah yang memiliki lahan yang subur, selain itu juga hutan dan Danau Tamblingan menyediakan berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan sehari-hari
MAKNA ARTEFAK MASA HINDU-BUDDHA DI KRATON KASEPUHAN CIREBON: TINJAUAN SEMIOTIKA PEIRCE
The research conducted in this paper focuses on answering the problem of the meaning of the artifacts of the Classical period found in the Kasepuhan Cirebon palace. The goal to be achieved in this research is to obtain an explanation of the position of the artifacts of the Classical period for the Kraton Kasepuhan Cirebon. In order to answer this research problem, three research steps were applied in the archaeological method, namely data collection, data analysis, and interpretation. Based on the entire research process that has been carried out, it can be seen that the artifacts of the Classical period that are stored in the Kasepuhan Cirebon palace are meaningful as symbols of the status of the king who occupies the highest power. Artifacts of the Classical period were used to strengthen the legitimacy of the King of Cirebon who had the status of "pandita ratu".
Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia banyak meninggalkan tinggalan kebudayaan di beberapa tempat. Salah satu tempat yang masih menyimpan tinggalan kebudayaan masa Klasik adalah Kraton Kasepuhan Cirebon. Artefak masa Klasik yang disimpan di Kraton Kasepuhan Cirebon antara lain berupa Arca Nandi, Lingga dan Yoni. Penempatan artefak ini dapat dihipotesiskan sebagai “kasus ekstrim”, karena biasanya unsur budaya Klasik yang masih dilanjutkan pada masa Islam sifatnya hanya samar-sama. Kajian ini berfokus dalam menjawab makna dari artefak masa Klasik yang terdapat di Kraton Kasepuhan Cirebon. Masalah ini diharapkan dapat menjelaskan kedudukan artefak-artefak masa Klasik tersebut bagi Kraton Kasepuhan Cirebon. Masalah penelitian ini dilakukan melalui analisis semiotika triadik Charles Sanders Peirce. Berdasarkan kajian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa artefak-artefak masa Klasik yang disimpan di Kraton Kasepuhan Cirebon bermakna simbol raja sebagai pemegang kekuatan tertinggi. Artefak masa Klasik digunakan sebagai penguat legitimasi Raja Cirebon yang berstatus “pandita ratu”
TIPOMORFOLOGI ARSITEKTUR BANGUNAN PECINAN DI KESAWAN MEDAN
Most of the buildings in Kesawan-Medan still maintain the Dutch-Chinese architecture of the transitional period or the Transitional architecture, although the awareness to preserve this historical heritage is still low. Furthermore, there is no regulation limiting changes that may be made, yet it has not been designated as a Cultural Conservation Building. This situation raises fears of losing track of the original building. This paper intends to explain the typomorphological characteristics of the Chinatown building architecture in Kesawan-Medan. The method used is desk research on research reports, various sources of books, and journals. The theory used is the theory of area morphology and building typology from Andre Loeckx and Markus Zahnd. The general condition of the building has not lost its original form. Renovations were carried out within the limits of repainting, repairing damaged elements, and changing functions. Typomorphology is evident from the materials used and their layout. Building materials used are from the surrounding environment, such as bricks, tile roofs, and windows. The layout of the building is in the residential emplacement area of the city center, with a flat topography in the tropical wet climate of Indonesia.
Permukiman kesawan Medan sebagian besar masih mempertahankan arsitektur bangunan Belanda-China periode peralihan atau arsitektur Transisi, walaupun kesadaran pelestarian peninggalan bernilai sejarah masih minim. Belum ada peraturan batasan perubahan yang boleh dilakukan dan belum ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran akan kehilangan jejak bangunan aslinya. Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan karakteristik tipomorfologi arsitektur bangunan pecinan di kesawan Medan. Metode yang digunakan adalah desk research terhadap laporan hasil penelitian, berbagai sumber buku dan jurnal. Menggunakan teori morfologi kawasan dan tipologi bangunan dari Andre Loeckx dan Markus Zahnd. Kondisi bangunan secara umum belum kehilangan bentuk aslinya. Renovasi dilakukan dalam batas pengecatan ulang, perbaikan elemen yang rusak, dan perubahan fungsi. Tipomorfologi khasnya tampak dari bahan yang digunakan dan tata letaknya. Bahan bangunan dari lingkungan sekitar, seperti bata, keramik atap genting dan jendela. Tata letak bangunan berada di kawasan emplasemen permukiman pusat kota, dengan topografi lahan datar dalam lingkungan iklim tropis basah Indonesia
BATU NISAN TIPE LAMURI – ‘PLANGPLENG’ GANO – LAMDINGIN
Tombstone type plangpleng is a type of tombstone typology from Aceh that has not been widely known and understood, compared to the type of Acehnese tombology or 'Aceh Batu'. The shape of the tombstone and the shape of the motive form, as well as this tombstone chisel style that distinguishes it with other tombstone typologies in Aceh. Local motif themes combined with the themes of adoption from the outside then transformed well from the Hindu-Buddha-Buddha tradition and the Islamic world arts tradition combined here. This collection of tombstones was found in many places in Aceh Besar and Banda Aceh, although in limited quantities. (Simpang) Gano-Lamdingin One of the locations known to have the type of ancient tomb findings like this. The beginning of the presence of Muslim communities with Islamic government systems was reflected in the heritage of this cultural object. The kings built a tomb monument with markers of this type of tombstone.
Batu nisan tipe ‘plakpleng’ merupakan satu jenis dari tipologi batu nisan dari Aceh yang belum banyak dikenal dan dipahami, bila dibandingkan jenis tipologi batu nisan Aceh atau ‘Batu Aceh’. Bentuk batu nisan dan rangcangan bentuk motif, serta gaya seni pahat batu nisan ini yang membedakannya dengan tipologi batu nisan yang lain di Aceh. Tema-tema motif lokal dipadukan dengan tema-tema adopsi dari luar lalu ditransformasikan baik yang berasal dari tradisi Hindu-Buddha Asia Selatan dan tradisi kesenian dunia Islam berpadu di sini. Kumpulan batu nisan ini ditemukan dibanyak tempat di Aceh Besar dan Banda Aceh, walau dalam jumlah terbatas. (Simpang) Gano-Lamdingin salah satu lokasi yang diketahui memiliki jenis temuan makam kuno seperti ini. Awal kehadiran masyarakat muslim dengan sistem pemerintahan Islam tercermin dari warisan benda budaya ini. Para merah atau raja-raja kecil membangun monumen makam dengan penanda dari jenis batu nisan ini
MEMBANDINGKAN CATATAN PERJALANAN PELANCONG DAN NISAN KUNO KERAJAAN PERLAK, ACEH TIMUR, ACEH: [Compairing Travel Notes and Ancient Nisan Peureulak Kingdom, East Aceh, Aceh]
The 11th century AD Armenian text entitled A Journals of the South China Sea refers to the tofonim Peureulak by the name Poure (Armenian) as a rich and valuable port. Marco Polo (1293 / late 13th century AD) was called Ferlec (Portuguese), which was a settlement with an Islamic population that was regularly visited by Islamic traders. The Negarakertagama manuscript of the 14th century AD mentions the name Parllak (Javanese) as one of the vassals of the Majapahit Kingdom. Likewise local texts, especially Hikayat Raja-Raja Pasai, mention that the existence of the Peureulak Kingdom ended when it merged into the power of the Samudera Pasai Kingdom (1297 AD) through the process of marriage. This paper aims to see whether the records of the above improvements have the support of archaeological remains, especially the pre-Pasai Ocean era. The research method is descriptive by comparing information with the existence of archaeological remains of two pieces of data that have the same space and time dimensions, namely the rise of the pre-13th century AD and archaeological remains in the form of ancient pre-Samudera Pasai tombstones. The final conclusion is that the results of the comparison of space and time dimensions show that there is a synchronization that confirms the record that saw the Muslim population in Peureulak before the establishment of the kingdom of Samudera Pasai, which is one of the earliest Islamic cities in Southeast Asia.
Teks berbahasa Armenia abad ke-11 Masehi berjudul Suatu Catatan Perjalanan di laut Cina Selatan menyebut toponim Peureulak dengan nama Poure (bahasa Armenia) sebagai pelabuhan yang kaya dan berharga. Marco Polo (1293/akhir abad ke-13 M) menyebutnya Ferlec (bahasa Portugis) yakni sebuah lokasi permukiman berpenduduk Islam yang rutin disinggahi pedagang Islam. Naskah Negarakertagama abad 14 menyebut nama Parllak (bahasa Jawa) sebagai salah satu vasal Kerajaan Majapahit. Demikian juga naskah lokal, khususnya Hikayat Raja-Raja Pasai menyebut eksistensi Kerajaan Peureulak berakhir ketika melebur ke dalam kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai (1297 M) melalui proses pernikahan. Tulisan ini bertujuan ingin melihat apakah catatan para pelancong di atas memiliki dukungan tinggalan arkeologis khususnya era sebelum Samudera Pasai. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan cara melakukan komparasi informasi dengan keberadaan tinggalan arkeologis dua buah data yang memiliki kedudukan dimensi ruang dan waktu yang sama, yakni catatan pelancong abad sebelum abad 13 dan tinggalan arkeologis berupa nisan-nisan kuno era sebelum Samudera Pasai. Kesimpulan akhirnya bahwa dari hasil perbandingan dimensi ruang dan waktu menunjukan ada singkronisasi membenarkan catatan para pelancong melihat adanya penduduk Islam di Peureulak sebelum berdirinya kerajaan Samudera Pasai, yakni satu kota paling awal yang terislamisasi di Asia Tenggara
A IDENTIFIKASI TINGGALAN ARKEOLOGIS DI SITUS KAPAL TENGGELAM SENGGILING: [Identification of Archaeological Remain in Senggiling Shipwreck Site]
Senggiling shipwreck site is a potential underwater archeological remains locate on the north coast of Bintan Island. The aim of this study is to identificate the artefactual data of the site. The data are acquired by performing an observation through survey techniques and underwater exvacation. The analysis is conducted on the shape, space, and time aspects to find out the type variants of the shape, location and time of production. The result of this study shows the site’s artifact type variants in the form of a wooden ship with 19th-century European production technology. The ship was loaded with square igneous rocks, porcelains, earthenware figurines, glass bottles, metal plates, wooden ship pegs, clay floors, porcelain spoons, and stone medicine bottles. All of them are identified as being produced in Europe and China in the 18th -- 19th century.
Situs Kapal tenggelam Senggiling merupakan salah satu potensi tiggalan arkeologi bawah air yang berada di Pesisir Utara Pulau Bintan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi terhadap data artefaktual di situs tersebut. Metode perolehan data dilakukan dengan cara observasi dengan teknik survei dan ekskavasi bawah air. Analisis dilakukan pada aspek bentuk, keruangan, dan waktu untuk mengetahui ragam jenis bentuk, tempat pembuatan, dan masa pembuatannya. Hasil penelitian menunjukan ragam jenis artefak dari situs tersebut berupa kapal kayu dengan teknologi pembuatan abad ke-19 dari Eropa. Barang muatannya berupa batuan beku persegi, barang porselen, figurin earthenware, botol kaca, lempengan logam, pasak kayu kapal, lantai tanah liat, sendok porselen, dan botol obat berbahan stoneware. Identifikasi barang muatan kapalnya berasal dari Eropa dan Cina abad ke-18 hingga ke-19.Situs Kapal tenggelam Senggiling merupakan salah satu potensi tiggalan arkeologi bawah air yang berada di Pesisir Utara Pulau Bintan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi terhadap data artefaktual di situs tersebut. Metode perolehan data dilakukan dengan cara observasi dengan teknik survei dan ekskavasi bawah air. Analisis dilakukan pada aspek bentuk, keruangan, dan waktu untuk mengetahui ragam jenis bentuk, tempat pembuatan, dan masa pembuatannya. Hasil penelitian menunjukan ragam jenis artefak dari situs tersebut berupa kapal kayu dengan teknologi pembuatan abad ke-19 dari Eropa. Barang muatannya berupa batuan beku persegi, barang porselen, figurin earthenware, botol kaca, lempengan logam, pasak kayu kapal, lantai tanah liat, sendok porselen, dan botol obat berbahan stoneware. Identifikasi barang muatan kapalnya berasal dari Eropa dan Cina abad ke-18 hingga ke-19
INTERAKSI ADAT DAN ISLAM DALAM BANGUNAN MASJID KUNO DI TANAH DATAR
As one of the traditional buildings in Minangkabau, the mosque built before the 20th century is unique in term of the building shape. Customary leaders have a major role in the mosque construction, especially in Tanah Datar District, West Sumatra. The customary embodiment as community's culture also influences the meaning of every part of the mosque building. This indicates that at a certain time, customs and Islam had a quite intense interaction to leave a mark on the building architecture. The research conducted using a historical research method. This research aimed to discover the interaction of custom and religion in term of mosque building built in the early of 18th and 20th century. The interaction between custom and Islam are analyzed in form of physical, meaning, and idea