Muslim Heritage
Not a member yet
201 research outputs found
Sort by
Pendidikan Keagamaan Islam Dan Manajemen Kenabian
Abstract: Islamic religious education is part of the national education system that play a role in the development of Indonesian nation in the future. Among the variants of Islamic religious education is the education of al-Quran, madrasah diniyah and pesantren. Referring to the quality of national education which is currently at the lowest level under the Southeast Asian countries such as Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam and the Philippines, it can be said the quality of Islamic religious education also can not be said to be satisfactory. Therefore, there should be efforts to improve the quality of religious educational institutions have to be able to compete with the future of education in developed countries. Graduates of Islamic religious education should equip themselves with a vast knowledge, professional attitude and mentally strong. One effort that should be considered in improving the quality of Islamic religious educational institutions is to implement the management of prophethood.Abstrak: Pendidikan keagamaan Islam merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang berperan dalam pembangunan bangasa Indonesia dimasa yang akan datang. Diantara varian pendidikan keagamaan Islam adalah pendidikan al-Quran, madrasah diniyah dan pesantren. Merujuk pada kualitas pendidikan nasional yang saat ini berada di tingkat terbawah di bawah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina, maka dapat dikatakan kualitas pendidikan keagamaan Islam juga belum bisa dikatakan memuaskan. Oleh karena itu perlu ada upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan keagamaan ini ke depan agar mampu berkompetisi dengan pendidikan di negara-negara maju. Lulusan pendidikan keagamaan Islam harus membekali diri dengan pengetahuan yang luas, sikap profesional dan mental yang kuat. Salah satu upaya yang patut dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas lembaga pendidikan keagamaan Islam adalah dengan mengimplementasikan manajemen kenabian.
Urgensi Penerapan Celestial Management Bagi Sumber Daya Manusia Di Bank Syariah
Abstract: Islamic banking currently has a strong legal law with the presence of the law number 21 of 2008 on banking syari'ah.Hal This adversely affects the existence of the banking Shari'ah are increasingly in demand by many. Islamic bank continues to grow and continue to open office services in various areas. Thus iru development of Islamic banks must be matched with adequate resources and qualified. Noted labor in Islamic banks continued to grow, from November 2014 to November 2015 grew to 23.51%. Not only the quantity but the quality should also be considered, it takes a celestial concept should be applied for the Management of human resources in Islamic banks. This paper uses a descriptive qualitative limitations in this paper is focused on the human resources that exist in the Islamic bank. The need for the application of celestial management for human resources in the bank syariahi. The results of this paper that the human resources in Islamic banks is growing, then the need for the application of celestial management for human resources in Islamic banks to create good quality. Because the Islamic bank is an institution whose business is inseparable from the rule of religion or spiritual aspect.Abstrak: Perbankan syari’ah saat ini telah memiliki payung hukum yang kuat dengan hadirnya undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syari’ah.Hal ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi dari perbankan syari’ah yang semakin diminati oleh banyak kalangan. Bank syari’ah terus berkembang dan terus membuka layanan kantor di berbagai daerah. Maka dari iru perkembangan bank syariah harus diimbangi dengan sumber daya yang mencukupi dan berkualitas. Tercatat tenaga kerja di bank syariah terus bertambah, dari November 2014 sampai November 2015 mengalami pertumbuhan hingga 23,51%. Tidak hanya dari kuantitas tapi kualitas juga harus diperhatikan, dibutuhkan sebuah konsep celestial manajement yang harus diterapkan bagi sumber daya manusia di bank syariah. Penulisan ini menggunakan jenis deskriptif kualitatif, Batasan dalam tulisan ini difokuskan pada sumber daya manusia yang ada di bank syari’ah. Perlunya penerapan celestial management bagi sumber daya manusia di bank syariahi. Hasil dari tulisan ini bahwa sumber daya manusia di bank syariah mengalami pertumbuhan,kemudian perlunya penerapan celestial management bagi sumber daya manusia di bank syariah untuk menciptakan kualitas yang baik. Karena bank syariah adalah lembaga bisnis yang tidak terlepas dari aturan agama atau aspek spiritual
Dinamika Peninjauan Kurikulum Madrasah Diniyah Tarbiyatul Athfal (MDTA) Gontor
Abstract: Curriculum as the educational design has a central position in a learning activity. The curriculum greatly influence the success of the process and learning outcomes. Therefore, the curriculum should be developed according to the students environment, the demands of work, the development of today's life and future. According to the importance of the curriculum, this research focuses on the dynamics of curriculum development in MDTA Gontor Mlarak Ponorogo. By using a qualitative approach, this study produced three findings: (1) A review of the curriculum in MDTA Gontor is a strategic implementation to achieve the vision, mission, and goals of the institution. (2) The dynamics of the curriculum since the founding of MDTA Gontor from year to year is evolutionary which takes place gradually. (3) A review of the curriculum in MDTA Gontor consists of three Phase. The first plan includes: the formulation of the vision, mission and objectives, curriculum material selection or determination of the structure of the curriculum. Second, implementation of the curriculum with emphasis on strengthening cognitive (mind) psychomotor (physical) and affective (spiritual) students. Thirdly, evaluation which includes four dimensions: the use of the curriculum by teachers, curriculum design, learning outcomes of students and the curriculum system.Abstrak: Kurikulum sebagai rancangan pendidikan memiliki kedudukan yang sangat sentral dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Kurikulum sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses dan hasil belajar. Oleh karena itu, kurikulum hendaknya dikembangkan sesuai dengan lingkungan murid, tuntutan pekerjaan, perkembangan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Mengingat pentingnya kurikulum tersebut, penelitian ini memfokuskan pada dinamika pengembangan kurikulum di MDTA Gontor Mlarak Ponorogo. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menghasilkan temuan: (1) Peninjauan kurikulum di MDTA Gontor merupakan implementasi strategi pencapaian visi, misi, dan tujuan lembaga. (2) Dinamika kurikulum sejak tahun berdirinya MDTA Gontor dari tahun ke tahun bersifat evolusioner yang berlangsung secara secara bertahap. (3) Peninjauan kurikulum di MDTA Gontor terdiri dari tiga Tahap. Pertama perencanaan yang meliputi: perumusan visi, misi dan tujuan, pemilihan materi kurikulum atau penetapan struktur kurikulum. Kedua, Pelaksanaan kurikulum dengan menekankan penguatan aspek kognitif (akal) psikomotorik (jasmani) dan afektif (rohani) siswa. Ketiga, evaluasi yang meliputi empat dimensi: penggunaan kurikulum oleh guru, desain kurikulum, hasil belajar peserta didik dan sistem kurikulum
Manajemen Konflik Di Tengah Dinamika Pondok Pesantren Dan Madrasah
Abstract: In the dynamics of Islamic education institutions, certainly there will be any turmoil or conflict, either conflict between individual or conflict between groups. Recognized or not, the Islamic educational institutions, particularly pondok pesantren and madrasah, have the possibility of conflict is quite high compared with other educational institutions. From that assumption, this article aims to analyze the role of conflict management in resolving conflicts in the scope of Islamic educational institutions. Based on the study of theory, it can be concluded that the conflict management to be very central in developing the conflicts that exist in educational institutions Islamic school as a way to develop Islamic educational institutions for the better. In addition, because it has become a necessity that the conflict can not be avoided, then controlling the conflict becomes imperative in order to achieve objectives in Islamic educational institutions Abstrak: Dalam dinamika lembaga pendidikan Islam, pasti munsul gejolak atau konflik, baik konflik secara individu maupun konflik secara kelompok. Diakui atau tidak, lembaga pendidikan Islam khususnya pondok pesantren dan madrasah, memiliki kemungkinan konflik yang cukup tinggi dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang lain. Dari asumsi itulah tulisan ini bertujuan menganalisis peranan manajemen konflik dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di lingkup lembaga pendidikan Islam. Berdasarkan kajian teori, dapat disimpulkan bahwa manajemen konflik menjadi sangat sentral dalam mengembangkan konflik yang ada di lembaga pendidikan pondok pesantren dan madrasah sebagai cara dalam mengembangkan lembaga pendidikan Islam menjadi lebih baik. Selain itu, karena sudah menjadi keniscayaan bahwa konflik tidak dapat dihindari, maka mengendalikan konflik menjadi keharusan demi mencapai tujuan dalam lembaga pendidikan Islam
Manajemen Pendidikan Keterampilan (Vocational Skill) Di MAN Kembangsawit
Abstract: One part of Life Skill concept is strengthening Vocational skills. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kembangsawit Kebonsari Madiun since 2007 has developed a curriculum with vocational skills as added value. The aims of adding vocational skills is to facilitate learners in order to channel the interests and talents. This article discusses the implementation of vocational skills management in Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kembangsawit Kebonsari Madiun. From the study and the data analysis is concluded that: 1) Execution vocational skiil a response to the expectations of people who want learners are not only capable in science but also have the skills for the provision of life skills in the community. 2) Management skills education program in MAN Kembangsawit, consists of three phases: planning, implementation, and evaluation.Abstrak: Salah satu bagian dari konsep Life Skill adalah penguatan ketrampilan kerja (Vocational skill). Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kembangsawit Kebonsari Madiun sejak 2007 telah mengembangkan kurikulumnya dengan menyelenggarakan program pendidikan keterampilan (vocational skill). Program Keterampilan ini bertujuan untuk memfasilitasi peserta didik agar dapat menyalurkan minat dan bakatnya. Artikel ini membahas implementasi manajemen pendidikan kecakapan keterampilan (vocational skill) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kembangsawit Kebonsari Madiun. Dari kajian dan analisis data disimpulkan bahawa: 1) Pelaksanan vocational skiil merupakan jawaban dari harapan masyarakat yang menginginkan peserta didik tidak hanya mampu dalam ilmu pengetahuan tetapi juga memiliki kecakapan ketrampilan untuk bekal kehidupan di masyarakat. 2) Pengelolaan Program pendidikan ketrampilan di MAN Kembangsawit, terdiri dari tiga tahap: Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
Tradisi Persenan Bagi Pedagang Pracangan di Pasar Legi Songgolangit Ponorogo Dalam Perspektif Filantropi Islam
Abstract: According to economic theory, satisfaction in consuming something effects on the utility. The higher the satisfaction, the higher the utility. Conversely, the lower the satisfaction, then the lower the utility. Such opportunity is commonly used by some traders to make profit, as practiced by pracangan traders (staple goods retailers) of the Songgolangit Market, Ponorogo. They promote or advertise goods or services by promising gifts called persenan (tip) to customers. This study examines the tradition of persenan among pracangan traders of Songgolangit Market Ponorogo in the perspective of Islamic philanthropy. The results of this study indicate that; 1) pracangan traders of Songgolangit Market Ponorogo interpret the persenan as religious charities, i.e., as an expression of gratitude to customers and as a means to strengthen the friendship, 2) persenan in the concept of Islamic philanthropy is a grant which has religious significance and as an effort to maintain customer loyalty in order to increase the sales turnover.Abstrak: Di dalam teori ekonomi kepuasan seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang dinamakan utility atau nilai guna. Kalau kepuasan semakin tinggi, semakin tinggi pula nilai gunanya. Sebaliknya, bila kepuasan semakin rendah, maka semakin rendah pula nilai gunanya. Celah ini dimanfaatkan oleh sebagian pelaku usaha untuk meraup untung. Salah satunya mempromosikan atau mengiklankan barang atau jasa dengan menjajikan berbagai macam hadiah. Salah satunya seperti pedagang pracangan yang berada di Pasar Legi Songgolangit Ponorogo. Pedagang pracangan melakukan praktek pemberian hadiah kepada pelanggan yang sering disebut dengan pemberian persenan. Penelitian ini menelaah tentang Tradisi Persenan Bagi Pedagang Pracangan Di Pasar Legi Songgolangit Ponorogo Dalam perspektif Filantropi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) Praktik pemberian persenan menurut pedagang pracangan di Pasar Songgolangit Kabupaten Ponorogo memaknai sebagai amal ibadah, dan tradisi yang sudah berjalan yang harus di ikuti, sebagai tanda terimakasih, sebagai alat untuk mempererat silaturahmi, 2) Tradisi persenan yang dilakukan oleh para pedagang pracangan dalam konsep filantropi Islam adalah lebih condong kepada pemberian hibah. selain mempunyai nilai ibadah juga menjadi sarana promosi bagi pedagang pracangan yang bisa menambah loyalitas pembeli dan berkembangnya penjualan produk
Gaya Kepemimpinan Dalam Pengambilan Kebijakan Di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan
Abstract: Although pesantren are faced with globalization and modernization, some pesantren still maintain the old traditions rigidly which is are considered still sophisticated, ie leadership of pesantren that are dynastic, centralized and hierarchical centered to the kiyai. In pesantren, kiyai has absolute power and authority. Charismatic-individualistic leadership pattern of Kyai cause to destruction pesantren. Therefore, the pattern of a single leadership needs to be transformed into a pattern of leadership that involves a lot of people in the ranks of leadership, to jointly run the organization of pesantren, which is known as the concept of collective leadership. This leadership system changes will affect how the kiyai formulated the policy that will impact on the survival of pesantren in the future. This study will explore the system of Collective Leadership in Policy Making in Universities Islam Pondok Tremas Pacitan.Abstrak: Meskipun pesantren dihadapkan pada arus globalisasi dan modernisasi yang penuh dengan perubahan dan pembaharuan, beberapa pesantren masih ada yang secara rigid mempertahankan tradisi lama yang dianggapnya masih sophisticated, yaitu kepemimpinan pesantren yang bersifat dinasti, sentralistik dan hierarkis yang berpusat pada kiyai. Dalam pesantren, kiyai memiliki power and authority mutlak. Pola kepemimpinan kyai yang karismatik-individualistik ini menyebabkan pesantren rawan terhadap kehancuran. Oleh karena itu, pola kepemimpinan tunggal tersebut perlu ditransformasi menjadi pola kepemimpinan yang melibatkan banyak orang dalam jajaran kepemimpinan, untuk bersama-sama menjalankan roda organisasi pesantren, yang dikenal dengan konsep kepemimpinan kolektif. Perubahan sistem kepemimpinan ini akan mempengaruhi bagaimana ia merumuskan dan mengambil kebijakan-kebijakan yang akan berdampak pada kelangsungan pesantren di masa depan. Kajian ini akan mengupas sistem Kepemimpinan Kolektif dalam Pengambilan Kebijakan di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan
Manajemen Partisipatif Warga Sekolah Dalam Pengembangan Budaya Religius Peserta Didik
Abstract: The religious culture is a form of religious teaching values that appear in the way a person behaves. In the context of educational institutions, religious culture appear in the organizational culture, followed by all the people in the school. So that the religious culture need to be developed through effective participative (participatory) management. Participative management is intended to empower the school community to the fullest involvement in the management of religious culture development programs. This study aimed to describe, analyze and explain the application of school community participative management in the development of religious culture of students in SMAN I Kwadungan. This study produced three findings: first, the development program of religious culture of learners are formulated based on the vision and mission of the school, which is further manifested in the six activities, namely: Islamic clothing (uniforms), giving smile, a greeting, obligatory prayer in congregation, Friday prayer, reading Al-Qur'an and infaq. Second, the application of participative management school community in the development of religious culture was done by involving people in schools ranging from decision-making, implementation, benefit to the evaluation. Thirdly, By applying participative management, school community gives a good response in the form of positive attitudes and actions, and fully contribute to supporting the development of religious culture.Abstrak: Budaya religius merupakan wujud nilai-nilai ajaran agama yang tampak dalam cara berperilaku seseorang. Dalam konteks kelembagaan pendidikan, budaya religius tampak dalam budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga di sekolah. Agar budaya religius benar-benar menjadi cara berperilaku baik individu maupun organisasi, perlu dikembangkan melalui manajemen partisipatif yang efektif. Manajemen partisipatif dimaksudkan untuk memberdayakan keterlibatan warga sekolah secara maksimal dalam pengelolaan program-program pengembangan budaya religius. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis dan menjelaskan tentang penerapan manajemen partisipatif warga sekolah dalam pengembangan budaya religius peserta didik di SMAN I Kwadungan. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan: pertama, program pengembangan budaya religius peserta didik dirumuskan berdasar pada visi dan misi sekolah, yang selanjutnya diwujudkan dalam enam kegiatan, yaitu: busana (seragam) Islami, memberi senyum, menyapa, sholat fardhu berjamaah, sholat jumat, membaca Al-Qur’an dan infaq. Kedua, penerapan manajemen partisipatif warga sekolah dalam pengembangan budaya religius dilakukan dengan melibatkan warga sekolah mulai dari proses pengambilan keputusan, pelaksanaan, memperoleh manfaat sampai dengan evaluasi. Ketiga, Dengan menerapkan manajemen partisipatif, warga sekolah memberikan respon yang baik yang berupa sikap dan tindakan positif, serta berkontribusi dalam mendukung pelakasnaan pengembangan budaya religius peserta didik
Pembiayaan Bagi hasil Sektor Usaha Mikro di BMT Hasanah Ponorogo
Abstract: Financing is one of the products of the Baitul Mal wat Tamwil (BMT) much in demand, in the form of profit sharing and is based on Islamic principles. However, such products is in fact high risk, because the profits and losses will be shared. One of the evidence of that is that the troubled financing in BMT Hasanah currently reaches 10%, and urgently needs immediate actions to avoid deterioration. This study examined BMT Hasanah commitment to operational standards for this kind of financing. The results showed that the financing mechanism in the form of profit sharing in BMT Hasanah has several stages; namely the examination stage, the analysis stage and the stage of the disbursement of funds. Risk management cycle begins with risk identification, risk measurement and risk management. BMT Hasanah manages the risks through preventive measures, revitalizing and curative measures or takeover of collateral. To minimize risks, the BMT Hasanah implements three strategies, the strategy of the finance portfolio, the strategy of collection of receivables and the collateral strategy.Abstrak: Pembiayaan merupakan salah satu produk lembaga keuangan yang banyak diminati. BMT sebagai lembaga keuangan mikro yang menjalankan operasional kerjanya dengan prinsip syariah, identik dengan pembiayaan bagi hasil. Meskipun demikian, tingkat pembiayaan bagi hasil pada sebagian lembaga keuangan masih rendah. Hal ini dikarenakan pembiayaan bagi hasil masuk dalam kategorihigh risk, karena keuntungan maupun kerugian akan ditanggung oleh kedua belah pihak. Pembiayaan bermasalah di BMT Hasanah saat ini mecapai 10%, jika tidak segera diambil tindakan kemungkinan bertambah akan tinggi. Maka, penelitian memfokuskan bagaimana kesesuaian pembiayaan bagi hasil di BMT Hasanah dengan fatwa DSN MUI sekaligus manajemen resikonya terhadap pembiayaan yang bermasalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, mekanisme pembiayaan bagi hasil di BMT Hasanah dibagi menjadi beberapa tahapan, tahap pemeriksaan, tahap analisa dan tahap pencairan dana. Siklus manajemen resiko diawali dengan Identifikasi resiko, pengukuran resiko dan pengelolaan resiko. Pengelolaan resiko BMT Hasanah melalui tindakan prefentif, revitalisasi dan kuratif/ pengambil alihan agunan. Untuk meminimalisir resiko, BMT mengelompokkan strategi kedalam tiga kelompok, yaitu: strategi penyaluran pembiayaan, strategi pengumpulan piutang dan strategi jaminan
Manajemen Madrasah Berbasis Nilai Pesantren Di MTs al-Islam Joresan
Abstract: Modernization with various impacts should be anticipated the educator by mastering two competences, science and technology competency and spiritual competency. A weakness in one of those competences makes the students’ development is not balanced which finally lead to their split personality. Therefore, the human potential includes both of competences must be internalized and developed in students simultaneously. In that context, this research conducted to discuss the implementation of school management based on the pesantren value which is developed at MTs Al ”“ Islam Joresan Mlarak Ponorogo. The approach of this research is qualitative on case study. The results of this research conclude that: (1) Pesantren value developed at MTs Al ”“ Islam Joresan Mlarak Ponorogo is the essential value defined in Five Spirits of Madrasah, (2) The Teachers’ Management at MTs Al ”“ Islam Joresan Mlarak Ponorogo includes: Planning, Recruitment, Selection, Training, Teachers Development, Evaluation of Work Performance, and Compensation, (3) The curriculum management at MTs Al ”“ Islam Joresan covered: the subject planning, curriculum organizing, curriculum implementation, and evaluation of Madrasah programs.Abstrak: Modernisasi dengan berbagai macam dampaknya perlu dipersiapkan pendidik yang memiliki dua kompetensi sekaligus; yakni Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan nilai-nilai spiritual keagamaan (IMTAQ). Kelemahan di salah satu kompetensi tersebut menjadikan perkembangan anak tidak seimbang, yang akhirnya akan menciptakan pribadi yang pincang (split personality), sebab itu potensi-potensi insani yang meliputi kedua hal tersebut secara bersamaan harus diinternalisasikan dan dikembangkan pada diri anak didik. Dalam konteks itulah penelitian ini berupaya mengupas implementasi manajamen madrasah berbasis nilai-nilai pesantren yang dikembangkan MTs al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Hasil penelitian, menyimpulkan: (1) Nilai-nilai pesantren yang di kembangkan di MTs al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo adalah nilai esensial yang dirumuskan dalam panca jiwa. (2) Pengelolaan Guru di MTs al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo meliputi: Perencanaan, rekrutmen, seleksi, pelatihan, pengembangan guru, penilaian prestasi kerja, dan kompensasi. (3) Pengelolaan kurikulum di MTs al-Islam Joresan mencakup: perencanaan mata pelajaran, pengorganisasian kurikulum, pelaksanaan kurikulum, dan Evaluasi terhadap program-program Madrasah