Muslim Heritage
Not a member yet
    201 research outputs found

    Between Islamic and Western Education: The Educational Dichotomy in ‘Abd al-Raḥmān al-Naḥlāwī’s Thought

    No full text
    This research aims to invigorate the discourse on the educational thought of Al-Nahlawi, a figure frequently referenced yet seldom critically examined in Indonesia. Specifically, this study aims to: (1) Analyze the major ideas and ideological underpinnings of Al-Nahlawi's thoughts; (2) Trace the influence of the socio-political context of Syria on his work; and (3) Reveal the dichotomization of Western vs. Islamic education in his discourse. To achieve these objectives, this study employs the method of hermeneutic analysis to examine his major ideas and critical discourse analysis based on Fowler's model to investigate the diction and underlying ideology of his language. The research concludes that: Al-Naḥlāwī's thinking was significantly influenced by Syria's political dynamics and his concerns about the Islamic revival, which led him to adopt a stance of resistance against the West. His central idea focuses on returning humanity to its innate nature (fitrah) through the application of ideal Islamic educational principles, covering objectives, subject matter, curriculum, and methods. The primary conclusion of this study is that Al-Naḥlāwī's critique of Western education—which he describes with vocabulary such as "calamity," "disbelief" (kufr), and "non-integral"—not only constructs a sharp dichotomy but also affirms that his work is a form of ideological resistance, clearly represented in all its elements. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meramaikan diskursus tentang pemikiran pendidikan Al-Nahlawi, seorang tokoh Pendidikan Islam yang sering dirujuk namun jarang dikritisi secara mendalam di Indonesia. Secara spesifik, tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Menganalisis gagasan besar dan relasi ideologi dalam pemikiran Al-Nahlawi; (2) Menelusuri pengaruh konteks sosio-politik Suriah terhadap karyanya; dan (3) Mengungkap dikotomi pendidikan Barat vs. Islam dalamwacananya. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode analisis hermeneutika untuk mengulas gagasan besarnya dan analisiswacanakritis model Fowler menginvestigasi diksi serta ideologi yang mendasari bahasanya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pemikiran Al-Naḥlāwī sangat dipengaruhi oleh dinamika politik Suriah dan kegundahannyaakankebangkitan Islam, yang mendorongnya pada posisi perlawanan terhadap Barat. Gagasan inti ini berfokus pada pengembalian umat manusia kepada fitrah penerapan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang ideal, mencakuptujuan, materi, kurikulum, hingga metode. Simpulan utama penelitian ini adalah bahwa kritik Al-Naḥlāwī terhadap pendidikan Barat—yang digambarkannyadengankosa kata seperti "musibah", "kufur", dan "tidak integral"—tidak hanya membangun dikotomi yang tajam, tetapi juga perlawanan ideologis yang terepresentasi secara jelas dalam seluruh unsurnya

    Media Framing in The 2024 Presidential Election Contestation and Its Relevance to Critical, Tolerant, and Moderate Learning in Islamic Higher Education

    No full text
    Media framing is a form of news framing. In Indonesia, there are many mass media, each of which has a different background. Media framing related to the 2024 presidential election contestation can be influenced by the background of the media. Learning related to media framing is important to teach critical, trustworthy, and moderate attitudes. The purpose of this research. First, to analyse media framing related to the 2024 presidential election. Second, to analyse media framing and its relevance to critical, trustworthy, and moderate education in Islamic universities. This research uses a qualitative descriptive approach. The results of this study are that the media have different tendencies in reporting the 2024 Presidential Election Contest and framing analysis can provide learning to students about Islamic values such as objective critical, trustworthy, and standing in the middle in the truth at Islamic Universities. This research is expected to illustrate the importance of upholding Islamic values in facing the challenges of digital disruption with all the issues in it. Abstrak Framing media merupakan bentuk pembingkaian berita. Di Indonesia terdapat banyak media massa yang masing masing memilkii latar belakang berbeda. Framing media terkait kontestasi Pilpres 2024 dapat dipengaruhi oleh latar belakang media tersebut. Pembelajaran terkait framing media penting dilakukan untuk mengajarkan sikap kritis, amanah, dan moderat. Tujuan penelitian ini. Pertama, menganalisis framing media terkait Pilpres 2024. Kedua,  menganalisis framing media dan relevansinya dengan pendidikan kritis, amanah, dan moderat di perguruan tinggi keislaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini yaitu media memilik kecenderungan yang berbeda dalam memberitakan Kontestasi Pilpres 2024 dan analisis framing dapat memberikan pembelajaran kepada mahasiswa tentang nilai nilai keislaman seperti kritis objektif, amanah, dan berdiri di tengah dalam kebenaran di Perguruan Tinggi Keislaman. Penelitian ini diharapkan memberi gambaran pentingnya menjunjung tinggi nilai keislaman dalam menghadapi tantangan disrupsi digital dengan semua dinamikanya. Keywords: Framing; Media; Presidential Election; Critical Discourse; Colleg

    The Ngobeng Tradition in Palembang: Implementing Local Wisdom and Religious Moderation in Multicultural Education to Achieve Social Harmony

    No full text
    Ngobeng tradition in Palembang is a community practice of serving food at religious and social events. This tradition has received increasing academic attention due to its role in building inter-group relations amidst increasing social and religious polarization in a multicultural society. In the context of multicultural education, Ngobeng is a learning tool that instills the values of togetherness, tolerance and respect for diversity in social life. The purpose of this study is to examine the contribution of Ngobeng tradition to multicultural education by combining local wisdom and religious moderation values to create social harmony. This research uses a qualitative method with an ethnographic approach, through participatory observation in the implementation of the Ngobeng tradition, in-depth interviews with community leaders and residents, and literature review of relevant cultural and educational theories. The results showed a dynamic integration between cultural practices and religious values. The Ngobeng tradition not only strengthens relationships between individuals across social and religious groups, but also serves as a medium for multicultural learning. Abstrak Tradisi Ngobeng di Palembang merupakan praktik masyarakat dalam menyajikan makanan pada acara keagamaan dan sosial. Tradisi ini semakin mendapat perhatian akademik karena perannya dalam membangun hubungan antar kelompok di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan keagamaan di masyarakat multikultural. Dalam konteks pendidikan multikultural, Ngobeng menjadi sarana pembelajaran yang menanamkan nilai kebersamaan, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman dalam kehidupan sosial. Tujuan penelitian ini mengkaji  kontribusi tradisi Ngobeng  terhadap pendidikan multikultural dengan menggabungkan kearifan lokal dan nilai moderasi beragama untuk menciptakan harmoni sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, melalui observasi partisipatif dalam pelaksanaan tradisi Ngobeng, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan warga, serta telaah pustaka terhadap teori-teori budaya dan pendidikan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan adanya integrasi yang dinamis antara praktik budaya dan nilai-nilai keagamaan. Tradisi Ngobeng tidak hanya mempererat hubungan antarindividu lintas kelompok sosial dan agama, tetapi juga menjadi media pembelajaran multikultu Keywords: Ngobeng Tradition; Local Wisdom; Religious Moderation; Multicultural Educatio

    Kh. Hasyim Muzadi’s Language Politeness Strategies in Responding The Different Perspective Between Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah: a Sociopragmatic Study

    No full text
    This study highlights the concept of religious moderation as a strategic approach to mitigating conflicts that arise from differing religious viewpoints. The main objective of this research is to identify and explain the politeness strategies in language used by KH. Hasyim Muzadi (KHHM) in addressing national issues, using a socio-pragmatic approach. This study employs a qualitative descriptive method. The data analyzed consists of utterances containing language politeness strategies, with the data sources being speeches and statements made by KHHM that were uploaded to YouTube gontortv. Data collection was conducted by searching various social media platforms, online news sources, and related manuscripts. Once relevant materials were found, the researcher downloaded and watched KHHM's speech videos, then transcribed all utterances containing elements of politeness in language. After gathering the data, the researcher classified and validated the findings based on their relevance to the research questions. The results of the study show that: (1) the concept of religious moderation is effective in reducing the potential for religious conflict in Indonesia; (2) language politeness strategies are proven to be effective in addressing differing viewpoints, particularly between Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, and in encouraging mutual respect among Muslims; (3) the implementation of these strategies is influenced by several factors, such as the interlocutor’s characteristics, the social situation, the topic of conversation, the purpose of communication, and its impact on social relations; and (4) KHHM’s application of language politeness has a positive impact in fostering humane communication and harmonious social relationships, allowing communities to live together in safety, peace, and harmony.   Abstrak Penelitian ini mengangkat konsep moderasi beragama sebagai pendekatan strategis dalam meredam konflik yang timbul akibat perbedaan perspektif keagamaan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menjelaskan strategi kesantunan berbahasa KH. Hasym Muzadi (KHHM) dalam merespons persoalan-persoalan kebangsaan, dengan menggunakan pendekatan sosio-pragmatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang dianalisis berupa tuturan yang mengandung strategi kesantunan berbahasa, sedangkan sumber data diperoleh dari pidato dan pernyataan KH. Hasyim Muzadi (KHHM) yang diunggah di platform YouTube gontortv. Pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri berbagai media sosial, berita daring, dan naskah terkait. Setelah menemukan materi yang relevan, peneliti mengunduh dan menonton video pidato KHHM, kemudian mencatat seluruh tuturan yang mengandung unsur kesantunan berbahasa. Setelah data terkumpul, peneliti melakukan klasifikasi dan validasi berdasarkan kesesuaiannya dengan rumusan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) konsep moderasi beragama efektif dalam mereduksi potensi konflik keagamaan di Indonesia; (2) strategi kesantunan berbahasa terbukti ampuh dalam merespons perbedaan pandangan, khususnya antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah (MD), serta mampu mengajak umat Islam untuk saling menghargai perbedaan; (3) penerapan strategi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti karakteristik lawan tutur, situasi sosial, topik pembicaraan, tujuan komunikasi, serta dampaknya terhadap relasi sosial; dan (4) penerapan kesantunan berbahasa KHHM berdampak positif dalam membentuk komunikasi yang humanis dan hubungan sosial yang harmonis, sehingga masyarakat dapat hidup berdampingan secara aman, damai, dan tenteram. Keywords: KH. Hasyim Muzadi; Language Politeness Strategies; Concept of Religious Moderatio

    Religious Authority and Political Dynamics: The Influence of Fatwa Issuance by Religious Institutions on Political Discourses in Indonesia

    No full text
    This study explores the role of religious institutions through fatwas in the formation of public policy in Indonesia, particularly major institutions such as the Indonesian Ulema Council (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), and Muhammadiyah. The main objective is to understand how fatwas are produced by religious organizations and how they impact the political process and government policy. The research problem stems from the phenomenon that fatwas, although they do not have formal legal force, are often used as moral references by the community and are even considered by the government in formulating public policy. The research approach uses qualitative field studies: interviews with fatwa figures, analysis of fatwa documents, and observation of the interaction between religious institutions and public officials in several regions. The findings show that fatwas serve as moral and social legitimacy as well as non-formal influence on the formulation of public policy. Although not legally binding, the influence of fatwas on policy guidance is quite significant, especially on moral and social issues, as well as the creation of a space for dialogue between the state and society. The implications of the research results show the importance of understanding the role of fatwas not only as religious products but also as social political instruments in the architecture of public policy.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi peran lembaga keagamaan melalui fatwa dalam pembentukan kebijakan publik di Indonesia, khususnya lembaga-lembaga utama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Tujuan utama adalah memahami bagaimana fatwa diproduksi oleh organisasi keagamaan dan bagaimana dampaknya terhadap proses politis dan kebijakan pemerintah. Masalah penelitian berangkat dari fenomena bahwa fatwa, meskipun tidak memiliki kekuatan hukum formal, sering dijadikan rujukan moral oleh masyarakat dan bahkan dipertimbangkan pemerintah dalam merumuskan kebijakan publik. Pendekatan penelitian menggunakan studi lapangan kualitatif: wawancara dengan tokoh fatwa, analisis dokumen fatwa, dan observasi interaksi lembaga keagamaan dengan pejabat publik di beberapa daerah. Temuan menunjukkan bahwa fatwa berfungsi sebagai legitimasi moral dan sosial sekaligus pengaruh nonformal terhadap perumusan kebijakan publik. Meskipun tidak bersifat mengikat secara hukum, pengaruh fatwa terhadap panduan kebijakan cukup signifikan, terutama dalam isu moral dan sosial, serta penciptaan ruang dialog antara negara dan masyarakat. Implikasi hasil penelitian menunjukkan pentingnya memahami peran fatwa bukan hanya sebagai produk keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen politik sosial dalam arsitektur kebijakan publik

    Family Resilience of Indonesian Migrant Workers in Mataraman Region East Java Through the Lens of Maqāṣid al-Usrah

    No full text
    This study explores the family resilience of Indonesian migrant worker (PMI) households in the Mataraman region of East Java through the integration of Froma Walsh’s family resilience theory and Jamāl al-Dīn ʿAṭiyyah’s maqāṣid al-usrah framework. Labor migration has restructured families, often placing women as temporary heads of households, thereby reshaping gender roles and spiritual responsibilities. Employing a qualitative-descriptive approach, the research draws on 24 in-depth interviews and group observations with PMI families. Findings identify three dominant resilience patterns: (1) collaborative, characterized by faith-based role negotiation grounded in amanah and shūrā; (2) externally supported, sustained through religious and kinship networks such as pengajian and yasinan; and (3) independent, emphasizing spiritual discipline and digital intimacy as acts of worship. Values of tawakkul (trust in God), sabr (patience), and ikhtiar (effort) form the belief system that anchors emotional and moral endurance. Integrating Walsh’s framework with maqāṣid al-usrah reveals an Islamic model of resilience that unites psychological adaptability, social solidarity, and theological intentionality. Thus, family resilience in Mataraman represents not merely coping behavior but a conscious act of faith and the realization of maqāṣid within transnational Muslim family life.   Abstrak Penelitian ini mengkaji ketahanan keluarga pekerja migran Indonesia (PMI) di wilayah Mataraman, Jawa Timur—meliputi Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Ponorogo, Blitar, dan Trenggalek—dalam perspektif teori family resilience Froma Walsh dan konsep maqāṣid al-usrah Jamāl al-Dīn ʿAṭiyyah. Migrasi tenaga kerja menyebabkan perubahan struktur keluarga dan peran gender, di mana perempuan sering menjadi kepala keluarga sementara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui 24 wawancara mendalam dan observasi kelompok keluarga PMI. Hasil penelitian menunjukkan tiga model utama ketahanan keluarga: (1) kolaboratif, dengan pembagian peran fleksibel berbasis amanah dan shūrā; (2) berbasis dukungan eksternal, melalui jaringan sosial dan kegiatan keagamaan seperti pengajian dan yasinan; serta (3) mandiri, yang menonjolkan disiplin spiritual dan komunikasi digital bernilai ibadah. Nilai-nilai tawakkul, sabr, dan ikhtiar menjadi sistem keyakinan utama yang menopang stabilitas emosional dan spiritual keluarga. Integrasi teori Walsh dan maqāṣid al-usrah menghasilkan model ketahanan keluarga Islam yang memadukan adaptasi psikologis, solidaritas sosial, dan kesadaran teologis. Dengan demikian, ketahanan keluarga dalam konteks Mataraman bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi wujud ibadah dan realisasi maqāṣid dalam kehidupan keluarga Muslim transnasional

    Strategic Model for Strengthening Digital Literacy at UIN Ponorogo And UIN Kediri: Synergy of Curriculum and Educational Programs

    No full text
    Abstract The rapid development of information requires synergy between the curriculum, the academic community, and institutional policies so that digital literacy is not only a technical skill, but also integrated with Islamic values, learning processes, and academic culture. This study aims to examine the strategy of strengthening digital literacy at the Ponorogo State Islamic University and Kediri through a collaborative approach to improve students' digital literacy competencies. Using qualitative descriptive methods with a comparative approach, through participatory observation, in-depth interviews, and documentation analysis. The results of the study show that the strategy of strengthening digital literacy in both institutions adopts the theory of Norhasni Zainal Abiddin, Gillian Hallam, and Maria Spante, which includes cognitive, emotional, and social aspects. UIN Ponorogo emphasizes strengthening the competence of reference management, technological understanding, and social interaction through social media promotion, as well as literacy class programs and special training for final year students. Meanwhile, UIN Kediri focuses on strengthening digital literacy strategies on improving scientific and popular article writing skills, as well as the use of the Maktabah Syamilah application for hadith search, which is realized through synergy between libraries and faculties. Both institutions showed significant progress in students' digital literacy, although they still faced challenges such as limited infrastructure and the absence of written institutional policies. As a recommendation, this study proposes the integration of digital literacy into the core curriculum, the implementation of periodic evaluations, adequate budget allocation, and the strengthening of infrastructure.   Abstrak Pesatnya perkembangan informasi menuntut sinergi antara kurikulum, sivitas akademika, dan kebijakan institusi agar literasi digital tidak hanya menjadi keterampilan teknis, tetapi juga terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman, proses pembelajaran, dan budaya akademik. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi penguatan literasi digital di Universitas Islam Negeri Ponorogo dan Kediri melalui pendekatan kolaboratif guna meningkatkan kompetensi literasi digital mahasiswa. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan komparatif, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penguatan literasi digital di kedua institusi mengadopsi teori Norhasni Zainal Abiddin, Gillian Hallam, dan Maria Spante, yang mencakup aspek kognitif, emosional, dan sosial. UIN Ponorogo menitikberatkan penguatan kompetensi manajemen referensi, pemahaman teknologi, dan interaksi sosial melalui promosi media sosial, serta program kelas literasi dan pelatihan khusus bagi mahasiswa tingkat akhir. Sementara itu, UIN Kediri memfokuskan strategi penguatan literasi digital pada peningkatan keterampilan penulisan artikel ilmiah dan populer, serta pemanfaatan aplikasi Maktabah Syamilah untuk penelusuran hadis, yang diwujudkan melalui sinergi antara perpustakaan dan fakultas. Kedua institusi menunjukkan perkembangan signifikan dalam literasi digital mahasiswa, meskipun masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan infrastruktur dan belum adanya kebijakan institusional yang tertulis. Sebagai rekomendasi, penelitian ini mengusulkan integrasi literasi digital ke dalam kurikulum inti, pelaksanaan evaluasi berkala, alokasi anggaran yang memadai, serta penguatan infrastruktur

    Deauthorization of Hadith Studies on The Internet: Shift of Religious Authority in The Digital Age

    No full text
    The development of the internet has brought about changes in various aspects of life, including in the field of hadith studies. One of the highlights of this article is the concept of the authority of the actor who conveys the content of the hadith. In addition, people have come to rely on the internet as a place to find information, including about religion, in order to solve a problem. This study aims to find out how the phenomenon of deauthorization of hadith found on the internet by looking at the concept of authorization of hadith in the Islamic tradition. Deauthorization is a shift characterized by the birth of a new authority outside the established traditional authority. The approach of this study is a literature review using the method of data analysis in descriptive form. The results of this study show that digital technology has changed the transmission, access, and interpretation of hadith, indicating a shift from traditional authority to a participatory model and highlighting epistemological changes that broaden hadith studies while encouraging more adaptive hadith learning strategies in the digital age.   Abstrak Perkembangan internet telah melahirkan berbagai perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang kajian hadis. Salah satu yang menjadi sorotan dalam artikel ini adalah konsep otoritas pelaku yang menyampaikan kandungan hadis. Selain itu, masyarakat telah mengandalkan internet sebagai tempat untuk mencari informasi, termasuk tentang agama, dalam rangka menyelesaikan suatu permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana fenomena deauthorisasi hadis yang terdapat di internet dengan melihat konsep otorisasi hadis dalam tradisi Islam. Deauthorisasi adalah pergeseran yang ditandai dengan lahirnya otoritas baru di luar otoritas tradisional yang sudah mapan. Pendekatan penelitian ini adalah tinjauan literatur dengan menggunakan metode analisis data dalam bentuk deskriptif. hasil penelitian ini menunjukan bahwa teknologi digital telah mengubah transmisi, akses, dan interpretasi hadis, yang mengindikasikan adanya pergeseran dari otoritas tradisional ke model partisipatoris dan menyoroti perubahan epistemologis yang memperluas studi hadis sekaligus mendorong strategi pembelajaran hadis yang lebih adaptif di era digital. Keywords: Deauthorization; Hadith; Religious Authority; Digital Ag

    Islamic Socio-Religious Reflections on Early Marriage, Family Resilience, and Stunting in Sirampog, Brebes

    No full text
    Early marriage and child stunting remain persistent issues in Sirampog District, Brebes, a highland horticultural area characterized by long farming hours and limited service access in its upper hamlets. Although national and local initiatives including Presidential Regulation No. 72/2021, Jo Kawin Bocah, KUA premarital guidance, and posyandu services are available, policy messages often remain at the level of general moral advice and are not sufficiently translated into practical 1,000-day nutrition behaviors. This study aims to: (1) identify the social and religious determinants of early marriage; (2) assess how family resilience spiritual, economic, relational, and parenting dimensions—shapes child nutritional status; and (3) estimate the relationship between early marriage and stunting after accounting for parenting practices, parental education, economic conditions, and access to health services, while examining the roles of Islamic institutions (mosques, Qur’an learning centers/TPQ, majelis taklim, and Muslimat NU). Using a qualitative instrumental case-study design, data were collected through in-depth interviews, FGDs, observations of health and religious activities, and document analysis, and examined using Reflexive Thematic Analysis with a Framework Matrix. Findings show that early marriage is driven by religious norms framed as “protection from zina,” social pressure to formalize relationships, gaps in religious literacy, and strategies involving unregistered marriagedispensation registration. Child nutrition is more strongly shaped by family resilience spiritual motivation, food planning, supportive marital relations, and age-appropriate feeding practices. The direct link between early marriage and stunting weakens after key household factors are controlled. Islamic institutions are effective when religious messages are paired with actionable nutrition guidance. These results reinforce the relevance of ḥifẓ al-nasl and ḥifẓ al-nafs in stunting prevention.   Abstrak Pernikahan dini dan stunting masih menjadi persoalan utama di Kecamatan Sirampog, Brebes, wilayah pegunungan dengan pekerjaan tani yang panjang dan akses layanan terbatas, terutama di dusun lereng. Meskipun telah tersedia Perpres 72/2021, program Jo Kawin Bocah, bimbingan perkawinan KUA, serta layanan posyandu, pesan kebijakan tentang pendewasaan usia kawin belum cukup terhubung dengan praktik gizi 1.000 HPK. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi determinan sosial-keagamaan pernikahan dini; (2) menilai pengaruh ketahanan keluarga (spiritual, ekonomi, relasional, dan pengasuhan) terhadap status gizi anak; dan (3) menganalisis keterkaitan pernikahan dini dan stunting setelah mempertimbangkan pengasuhan, pendidikan orang tua, ekonomi, dan akses kesehatan, serta menilai peran institusi Islam (masjid, TPQ, majelis taklim, Muslimat NU) dalam pencegahan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam, FGD, observasi layanan, dan studi dokumen, dianalisis melalui Reflexive Thematic Analysis dan matriks Framework. Hasil menunjukkan bahwa pernikahan dini dipengaruhi oleh norma religius sebagai “pagar zina”, tekanan sosial, rendahnya literasi keagamaan, dan pola nikah siri–dispensasi–pencatatan. Status gizi anak lebih ditentukan oleh ketahanan keluarga melalui motivasi spiritual, pengaturan makanan anak, relasi suami-istri yang suportif, dan keterampilan pemberian MP-ASI. Hubungan langsung pernikahan dini dengan stunting melemah setelah faktor pengasuhan, pendidikan, ekonomi, dan akses layanan dikendalikan. Institusi Islam terbukti efektif ketika pesan keagamaan dipadukan dengan panduan gizi yang aplikatif. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan pernikahan dini dan stunting merupakan amanah syariah dalam kerangka ḥifẓ al-nasl dan ḥifẓ al-nafs.)

    Moderate Ideology Of The Yellow Book (Kitab Kuning): (Study on the Moderation of the Kitab of Fatḥ al-Mu'īn Taught in Islamic Boarding Schools)

    No full text
    The Yellow Book (Kitab Kuning; an Islamic textbook taught in Islamic boarding schools) study on moderation is still at the surface stage. Various studies conducted by intellectuals such as Ni'am, Sahri, Kusmira, and Kholis have not fully shown how the moderation of the yellow book was produced. The explanation that the Yellow Book displays a variety of opinions from scholars on a matter is insufficient to justify the Yellow Book's moderation. This paper intends to perfect these shortcomings by displaying one yellow book that is an essential reference in Islamic boarding schools, Fatḥ al-Mu'īn. The Book of Fatḥ al-Mu’īn is a standard for mastering religious science in Islamic boarding schools. This book is taught to upper-class students, is complex to read, and powerfully connects with sanad transmission. The taking of legal justifications for disputed issues, even by large NU organizations, refers to the decision of this book Fatḥ al-Mu’īn. By using a critical, descriptive method, this paper seeks to find the acceptance of the Islamic boarding school towards the Book of Fatḥ al-Mu’īn and the model of the disclosure of the Book of Fatḥ al-Mu’īn, which is indicated as a form of moderation. This study found that the Book of Fatḥ al-Mu’īn was accepted by pesantren through transmitting the scientific knowledge of its founders, who were madhhab or al-Shafi'i ideology. Meanwhile, the model of moderation in the Book of Fatḥ al-Mu’īn is shown by mentioning other opinions after making conclusions, going out of the two extreme points, and choosing the priority of the views without blaming or judging. Abstrak Kajian kitab kuning tentang moderatisme saat ini masih pada tahap permukaan. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh intelektual semacam Ni’am, Sahri, Kusmira dan Kholis belum menunjukkan secara lengkap bagaimana moderatisme kitab kuning tersebut diproduksi. Penjelasan bahwa kitab kuning menampilkan ragam pendapat dari para ulama tentang suatu masalah belum memadai untuk membuat justifikasi tentang moderatisme kitab kuning. Tulisan ini bermaksud menyempurnakan kekurangan tersebut dengan menampilkan satu kitab kuning yang menjadi rujukan penting di pesantren, yaitu Fatḥ al-Mu’īn. Kitab Fatḥ al-Mu’īn dijadikan standar penguasaan keilmuan agama di pesantren. Tidak saja, kitab ini diajarkan untuk santri kelas atas, tetapi juga karena kitab ini memiliki kerumitan tersendiri untuk dibaca dan memiliki ketersambungan transmisi sanad yang kukuh. Pengambilan justifikasi hukum untuk masalah-masalah yang diperselisihkan, oleh organisasi besar NU sekalipun, merujuk kepada keputusan kitab Fatḥ al-Mu’īn ini. Dengan menggunakan metode diskriptif kritis, tulisan ini hendak mencari penerimaan pesantren terhadap Kitab Fatḥ al-Mu’īn dan model pengungkapan Kitab Fatḥ al-Mu’īn yang diindikasi sebagai bentuk moderatisme. Penelitian ini menemukan bahwa Kitab Fatḥ al-Mu’īn diterima pesantren melalui transmisi keilmuan para pendirinya yang bermadzhab atau berideologi al-Shafi’i. Sedangkan model pengungkapan moderatisme Kitab Fatḥ al-Mu’īn ditunjukkan dengan menyebut pendapat lain setelah membuat kesimpulan, keluar dari dua titik ekstrim dan pemilihan prioritas pendapat tanpa menyalahkan atau menghakimi. Keywords: Fatḥ al-Mu’īn; Moderate; Islamic boarding schools; disclosure model

    0

    full texts

    201

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Muslim Heritage
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇