Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
Efektifitas Terapi Musik Dangdut Terhadap Tingkat Depresi Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat
EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK DANGDUT TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANJUT USIA DI PANTI SOSIAL REHABILITASI LANJUT USIA MULIA DHARMA PROVINSI KALIMANTAN BARAT Lala Utami1; Wilson2; In’am3 Intisari Latar belakang: Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan perasaan yang sangat sedih, perasaan bersalah, perasaan tidak berarti dan perasaan yang memicu untuk menjauhkan diri dari orang lain dan salah satu kelompok yang sering mengalami depresi adalah lansia. Terapi musik adalah penggunaan musik dan unsur-unsurnya di lingkungan medis, pendidikan, dan sehari-hari dengan individu, kelompok, keluarga, atau masyarakat untuk mengoptimalkan kualitas hidup dan meningkatkan fungsi ?sik, sosial, komunikasi, emosi, intelektual, dan kesehatan serta kesejahteraan spiritual. Tujuan: Untuk mengetahui adanya efek terapi musik dangdut terhadap penurunan tingkat depresi pada lansia. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah desain quasi experimental pretest-posttest control group. Sebanyak 28 responden menjadi sampel dalam penelitian ini yang dibagi menjadi 14 responden kelompok intervensi dan 14 responden kelompok kontrol secara acak. Hasil penelitian diuji dengan uji statistik Uji T Berpasangan dan Uji Wilcoxon dengan bantuan program SPSS 23.0. Hasil: Sebelum pemberian terapi, kelompok intervensi mengalami depresi ringan yaitu 9 orang (64,3%), 4 orang (28,6%) mengalami depresi sedang dan 1 orang (7,1%) mengalami depresi berat. Sedangkan kelompok kontrol, lansia yang mengalami depresi ringan sebanyak 8 orang (57,1%), depresi sedang sebanyak 5 orang (35,8%) dan sebanyak 1 orang (7,1%) yang mengalami depresi berat. Setelah terapi, kelompok intervensi yang mengalami depresi ringan sebanyak 7 orang (50%) dan sedang sebanyak 1 orang (7,1%). Sedangkan kelompok kontrol, tidak terjadi perubahan tingkat depresi. Berdasarkan analisis statistik diperoleh nilai p= 0,00 (<0,05). Kesimpulan: Terapi musik dangdut efektif dalam penurunan tingkat depresi lansia di Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat. Kata Kunci: Depresi, lansia, terapi musik dangdut 1) Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat 2) Bagian Psikiatri, Rumah Sakit Jiwa Singkawang, Kalimantan Barat. 3) Departemen Patologi Anatomi, Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat
HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT JIWA SUNGAI BANGKONG PONTIANAK
HIV/AIDS is a virus that can attack the immune system which leads to decreased endurance so that the body is easily infected. HIV/AIDS patients takes of antiretroviral therapy to lower the virus in the body and reduce the complications. HIV/AIDS patients can cause emotional problems like depression. People with HIV/AIDS tend to depressed that will have an impact on medication adherence of ARV. Objective: To know the relationship between depression level with medication adherence of Antiretroviral (ARV) to HIV/AIDS patients in The Mental Hospital of Sungai Bangkong Pontianak. Methods: This study was an observational analytic study of cross sectional design. Primary data in the form of depression level were determined by using Beck Depression Inventory-II (BDI-II) questionnaire and medication adherence were determined by Morisky Medication Adherence Scale questionnaire(MMAS). This study was conducted in the Mental Hospital of Sungai Bangkong Pontianak with the number of respondents 31 HIV/AIDS patients. Data was analyzed by Spearman test with SPSS. Results: HIV / AIDS patients who were depressed with most respondents were 21 people (67.75%) while the medium depression were 10 people (32,25%). The most medication adherence is medium adherence, the numbered were 14 people (45,15%). Based on statistical analysis, the significant value (p) obtained with Spearman test is 0.000 (p <0,05) and the correlation value (r) is -0.844. Conclusion: There was a correlation between depression level and medication adherence in HIV / AIDS patients in Mental Hospital of Sungai Bangkong Pontianak. Keywords: HIV/AIDS, Depression, Medication Adherenc
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN INSOMNIA PADA MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
Kebiasaan merokok merupakan salah satu kekhawatiran terbesar yang dihadapi dunia kesehatan. Salah satu yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan insomnia. Insomnia dianggap sebagai gangguan pada tingkat yang menyebabkan terjaga yang berlebihan dan dapat meningkatkan aktivitas somatik, kognitif, dan kortikal yang dapat mengganggu proses dari tidur. Kandungan pada rokok yang sangat berperan dalam gangguan tidur adalah nikotin. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian insomnia pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Metodologi: Penelitian studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 110 orang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah merokok. Variabel terikat pada penelitian ini adalah insomnia. Hasil: sebanyak 31,8% (35 orang) responden mengalami insomnia ringan. 56,4% (62 orang) responden mengalami insomnia sedang. Sementara 11,8% (13 orang) responden mengalami insomnia berat. Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan terdapat hubungan yang signifikan pada kedua variabel dengan nilai p=0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian insomnia pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontiana
HUBUNGAN STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI FARMASI ANGKATAN 2014 UNIVERSITAS TANJUNGPURA
HUBUNGAN STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FARMASI ANGKATAN 2014 UNIVERSITAS TANJUNGPURA Rafika Assegaf1, Wilson2, M. In’am Ilmiawan3, Mistika Zakiah4 Intisari Latar Belakang: Stres adalah tuntutan fisik dari tubuh atau oleh kondisi lingkungan dan sosial terhadap keadaan internal yang dianggap membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Siklus menstruasi adalah jarak hari pertama menstruasi sampai hari pertama menstruasi periode berikutnya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswi Farmasi angkatan 2014 Universitas Tanjungpura. Metodologi: Desain penelitian cross sectional menggunakan kuesioner DASS dan kuesioner siklus menstruasi. Penelitian dilakukan di Program Studi Farmasi Universitas Tanjungpura melibatkan 40 responden. Hasil: 8 orang stres sangat berat, 9 orang stres berat, 11 orang stres sedang, 9 orang stres ringan, 8 normal, serta 7 orang mengalami polimenorea, 25 orang siklus menstruasi normal dan 5 orang olimenorea. Analisis coefficient contingency antara stress dengan siklus menstruasi diperoleh nilai p sebesar 0,004. Kesimpulan: Terdapat korelasi sedang antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswa program studi farmasi angkatan 2014 Universitas Tanjungpura . Kata Kunci: stres, siklus menstruasi, mahasiswa program studi farmasi 1. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat. 2. Departemen Psikiatri Rumah Sakit Jiwa Kota Singkawang, Kalimantan Barat. 3. Departemen Biologi dan Patobiologi, Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat. 4. Departemen Histologi, Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat
GAMBARAN FAKTOR RISIKO OBESITAS PADA ANAK DI ENAM SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KOTA PONTIANAK
Latar belakang: Obesitas dikalangan anak-anak, remaja, dan orang dewasa telah muncul sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling serius di abad ke-21. Prevalensi obesitas masa kecil di seluruh dunia telah meningkat selama tiga dekade terakhir. Tujuan: Mengetahui gambaran faktor risiko obesitas pada anak di enam sekolah menengah pertama di Kota Pontianak. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan sebanyak 31 responden diambil dari sekolah menengah pertama. Data diperoleh menggunakan Indeks Massa Tubuh, kuesioner Aktivitas Fisik, kuesinoner semmiquantitative food dan pertanyaan karakteristik demografi. Analisis data menggunakan SPSS dengan analisis univariat. Hasil: Karakteristik dari responden menunjukkan siswa laki-laki berjumlah 18 orang (58%) dan perempuan berjumlah 13 orang (42%), umur responden mayoritas adalah 14 tahun (42%). Distribusi karakteristik obesitas pada orang tua responden yaitu, kategori kedua orangtua obesitas 22,6%, ayah obesitas 16,1%, ibu obesitas 25,8% dan tidak mengalami obesitas 35,5%. Tingkat konsumsi minuman manis dengan kategori, konsumsi ? 1 sajian/hari didominasi sebanyak 65% sedangkan kategori konsumsi 1 sajian/hari serta 65% melakukan aktivitas fisik ringan
Tingkat Pengetahuan, sikap dan Perilaku terhadap Kerontokan Rambut dengan Pemakaian Jilbab pada Mahasiswi FK UNTAN
Latar Belakang. Stimulus lingkungan dan juga kosmestik rambut sering tidak disadari dampaknya terhadap kesehatan rambut. Stimulus dari lingkungan berupa paparan panas, sinar matahari, tekanan, radiasi sinar X dan air pada rambut, sedangkan kosmetik rambut merujuk pada perawatan dan penataan rambut seperti shampoo, pengeriting, pelurus, pewarna, pemudar warna, serta mode tatanan rambut. Rambut rontok akibat kedua hal ini dapat terjadi melalui mekanisme patahnya batang rambut, kerontokan, dan kebotakan. Metode. Penelitian ini merupakan besifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 33 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik konsekutif sampling. Pengambilan data dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil. Tingkat pengetahuan Mahasiswi PSPD 2016 Universitas Tanjungpura yang memakai jilbab terhadap kerontokan rambut mayoritas berada dalam kategori cukup yaitu sebesar 51,51%, sikap Mahasiswi PSPD 2016 Universitas Tanjungpura yang memakai jilbab terhadap kerontokan rambut mayoritas berada dalam kategori cukup yaitu sebesar 72,72%, perilaku Mahasiswi PSPD 2016 Universitas Tanjungpura yang memakai jilbab terhadap kerontokan rambut mayoritas berada dalam kategori cukup yaitu sebesar 51,51%. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku Mahasiswi PSPD 2016 Universitas Tanjungpura yang memakai jilbab terhadap kerontokan rambut mayoritas berada dalam kategori cukup.Kata Kunci: pengetahuan, sikap, perilaku, kerontokan rambut, jilbabBackground. Stimulus of the environment and also cosmestic for hair was usually not realized its impact on hair health. Stimulus from the environment such as exposure to heat, sunlight, pressure, X- ray radiation and water in the hair, meanwhile hair cosmetics refers to the care and arrangement of hair such as shampoo, curling, straightening, coloring, color fading, and hairdo mode. Hair loss due to both of these things can occur through the mechanism of broken hair shaft, hair loss, and baldness. Method. This research used descriptive with cross sectional approach. The number of samples in this study as many as 33 people. Sampling was done using a sampling consecutive technique. The Data collection was using descriptive statistics. Result. The Level of student knowledge of medical student class of 2016 in Tanjungpura University wearing hijab against hair loss of majority is in enough category that is equal to 51,51%, student attitude class of 2016 medical student Tanjungpura University wearing hijab to hair loss majority in category enough that is equal to 72,72%, student behavior class of 2016 medical student in Tanjungpura University who wear hijab against hair loss majority in the category enough that is equal to 51,51%. Conclusion. Based on the results of research conducted level of knowledge, attitude and behavior of medical Student class of 2016 University Tanjungpura wearing hijab against hair loss majority is in enough category.Keywords: knowledge, attitude, behavior, hair loss, hija
PENGARUH PENGHENTIAN PAJANAN MONOSODIUM GLUTAMAT TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID JARINGAN TESTIS TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) DEWASA
Introduction: Monosodium glutamate (MSG) is a food additive that used as a flavor enhancers that can lead to oxidative stress in testis. Food and Drugs Administration (FDA) in 1995 has established the safety limit in the usage of MSG, no more than 120 mg/kgBW/day. Oxidative stress produce unstable and reactive lipid peroksidase that caused lipid degradation and generate malondialdehid (MDA). Objective: The purpose of this research was to observe MDA levels of testes after termination of MSG exposure. Method: This research was a true experimental research with simple random sampling. The control group (K) 1,2,3 were given aquades for 28 days. The first treatment group (P1) 1,2,3 were given MSG 4 g/kgBW/day for 28 days. The second treatment group (P2) 1,2,3 were given MSG 6 g/kgBW/day for 28 days and then stopped for 1 day, 28 days, and 56 days. Then, the rats were sacrificed and the testis was processed to be homogenate and then conducted to MDA’s level measurements using Will’s Methode. Data was analyzed using one way anova test, continued with post hoc test LSD. Result: Day 1 after MSG termination, analysis showed that there were significant difference between control group and the first group treatment 1 (p=0,010) and the second group treatment 1 (p=0,000). Day 29 after MSG termination, analysis showed that there was significant difference between control group and the second group treatment 2 (p=001), also between the first and the second group treatment 2 (p=0,017) . Day 57 after MSG termination, analysis showed there were no significant difference between the control group with both treatment group and between the treatment groups 1 to the treatment group 2 in. Conclusion: Termination of MSG exposure caused discontinuation of damage in rats testes. Keywords: Rats, Testis, Monosodium Glutamate, Oxidative Stress, MDA levelsSoft File Naspub
Aktivitas Bakteri Endofit Daun Cengkodok (Melastoma malabathricum L.) terhadap Bakteri Penyebab Diare
Latar Belakang. Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Daun tanaman cengkodok diketahui memiliki aktivitas antidiare. Pemanfaatan bakteri endofit sangat potensial untuk menghasilkan metabolit sekunder untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen Metode. Desain yang digunakan untuk penelitian ini merupakan studi eksploratif-deskriptif. Isolasi bakteri endofit daun cengkodok (M. malabathricum L.) dilakukan dengan metode penanaman langsung (direct plating) dan pemurnian isolat menggunakan metode streak plate. Isolat yang memiliki potensi antibakteri diuji dengan metode difusi cakram (disc diffusion methods). Identifikasi bakteri endofit potensial berdasarkan karakter morfologi koloni, sel dan aktivitas biokimia. Hasil. Sebanyak 7 isolat bakteri endofit dari 35 isolat memiliki aktivitas terhadap Escherichia coli dan Vibrio cholerae berkisar antara 1,5 mm – 14 mm (aktivitas lemah-kuat). Isolat bakteri endofit yang memiliki zona hambat terbesar yaitu isolat 21 yang memiliki diameter sebesar 11 mm terhadap Escherichia coli dan 14 mm terhadap Vibrio cholerae. Identifikasi menunjukkan isolat 21 memiliki kemiripan dengan genus Acetobacter. Kesimpulan. Aktivitas isolat bakteri endofit berkisar antara 1,5 mm – 14 mm (aktivitas lemah-kuat). Isolat bakteri endofit yang memiliki zona hambat terbesar yaitu isolat 21 yang memiliki diameter sebesar 11 mm (aktivitas kuat) terhadap Escherichia coli dan 14 mm (aktivitas kuat) terhadap Vibrio cholerae. Kata Kunci : Diare, daun cengkodok, aktivitas bakter
Tingkat Pengetahuan Pegawai Kantor Dinas XX Provinsi Kalbar tentang Air Bersih
Latar Belakang . Manusia adalah mahluk yang tidak bisa dipisahkan dengan alam. Karna alam memberikan pengaruh terhadap manusia, begitu juga sebaliknya manusia memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap alam. Hubungan dan keterikatan antara manusia dengan alam memiliki pengaruh yang sangat besar. Air alami adalah air yang keluar dari tanah yang sudah disaring secara alami oleh bumi yang tadinya berasal dari air hujan. Metode. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui tingkat pengetahuan air bersih pegawai dinas XX provinsi Kalimantan Barat. Hasil. Terdapat 60 subjek penelitian dengan tingkat pengetahuan yang beragam. Kesimpulan. Tingkat pengetahuan air bersih, air layak konsumsi dan air untuk kegiatan rumah tangga baik. Kata Kunci : Air, tingkat pengetahuan Background . Humans are creatures that can not be separated from nature. Because nature has an influence on humans, and vice versa human beings give a considerable influence on nature. Relationships and attachments between humans and nature have an enormous influence. Natural water is water that comes out of the soil that has been filtered naturally by the earth that had originated from rain water. Method. The research design used in this research is descriptive study with cross sectional approach to know the level of knowledge of clean water of employee of XX office in West Kalimantan province . Result. There are 60 research subjects with varying levels of knowledge. Conclusion. The level of knowledge is good for clean water, water consumption and water for household activities. Keywords: Water, level of knowledg
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam menjalani terapi antiretroviral di care support treatment RSJ sungai bangkong Pontianak
Latar Belakang. Acquired Immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang muncul akibat terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Terapi antiretroviral (ARV) adalah terapi untuk pasien HIV/AIDS dengan mengonsumsi obat seumur hidup mereka. Kepatuhan minum obat merupakan salah satu aspek penting dalam menilai keberhasilan terapi ARV. Jumlah pasien positif HIV sampai Desember 2016 di Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong Pontianak sebanyak 512 jiwa, dengan pasien yang meminum obat ARV sebanyak 190. Metode. Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2017. Subjek penelitian adalah pasien HIV/AIDS sebanyak 41 responden yang memenuhi kriteria sampel. Analisis data dengan teknik chi square dan fisher. Hasil. Sebanyak 63,41% responden dengan pengetahuan baik, 68,29% responden dengan persepsi rendah, 73,17% responden dengan pelayanan kesehatan baik, 60,98% responden dengan dukungan sosial baik, 56,10% responden dengan kepatuhan sedang. Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan (p=0,000), persepsi (p=0,000), pelayanan kesehatan (p=0,013), dukungan sosial (p=0,000) dengan kepatuhan. Kesimpulan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan adalah pengetahuan, persepsi, pelayanan kesehatan dan dukungan sosial.Kata Kunci: Pasien HIV AIDS, Terapi Antiretroviral, KepatuhanBackground. Acquired Immunodeficiency syndrome (AIDS) is a group of symptoms of diseases that arise from the infected Human Immunodeficiency Virus (HIV). Antiretroviral (ARV) therapy is a therapy for HIV / AIDS patients by consuming drug in their lifetime. Drug consumption obedience is an important aspect in assessing the success of antiretroviral therapy. The number of HIV positive patients until December 2016 at Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong Pontianak is 512 people, with the patients whose consuming ARV drug is only 190. Method. Observational analytical research with cross sectional approach. The study was conducted from May to July 2017. The subjects were 41 HIV / AIDS patients who met the sample criteria. Data analysis with chi square and fisher technique. Result. 63.41% of respondents with good knowledge, 68.29% of respondents with low perception, 73.17% of respondents with good health services, 60.98% of respondents with good social support, 56.10% of respondents with moderate adherence. There is a significant relationship between knowledge (p = 0,000), perception (p = 0,000), health care (p = 0,013), social support (p = 0,000) with adherence. Conclusion. The related factors of HIV/AIDS patients adherence are knowledge, perception, health services and social support.Keywords: HIV AIDS Patient, Antiretroviral Therapy, Adherenc