Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
    440 research outputs found

    Kajian In Vitro Kecernaan Fraksi Serat Hijauan Tropis pada Media Cairan Rumen Kambing

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kecernaan NDF, kecernaan ADF dan kecernaan hemiselulosa pada hijauan pakan tropis secara in vitro. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 8 jenis pakan hijauan tropis dan cairan rumen kambing PE berfistula yang diberi pakan dengan kandungan PK 12% dan TDN 62%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap 8 perlakuan pakan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari P1 = turi (Sesbania grandiflora), P2 = nangka (Artocarpus heterophyllus), P3 = pisang (Musa acuminate), P4 = mangga (Mangifera indica L.), P5 = gamal (Gliricidia sepium), P6 = mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.), P7 = kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan P8 = lamtoro (Leucaena leucocephala). Data dianalisis menggunakan ANOVA taraf 5%, dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan NDF, kecernaan ADF, dan kecernaan hemiselulosa berbeda nyata (P<0,05). Hijauan pakan tropis lamtoro, kaliadra dan gamal memiliki kecernaan NDF, kecernaan ADF lebih tinggi dibandingkan turi, nangka, pisang, mangga, dan mahoni, namun kecernaan hemiselulosa kaliandra, manga dan lamtoro tertinggi. Kesimpulan, hijauan Leucaena leucocephala, Calliandra calothyrsus, dan Gliricidia sepium memiliki kecernaan NDF tertinggi (70,34%; 66,26% dan 62,29%), dan kecernaan ADF tertinggi (53,79%; 48,08%; dan 58,91%), namun kecernaan hemiselulosa tertinggi adalah Calliandra calothyrsus, Mangifera indica L, dan Leucaena leucocephala (18,18%; 17,80% dan 16,55%).Kata kunci: in vitro, hijauan tropis, kecernaan, serat ABSTRACTThis research was conducted to evaluate neutral detergent fiber digestibility, acid detergent fiber digestibility, and hemicellulose digestibility on tropical browse plants in vitro. The materials used in this research were 8 types of tropical forages and rumen fluid from Etawa Crossbreed goat fistulated with CP 12 % and 62 % TDN. The experimental design used was the completely randomized design of 8 feed treatments and 3 replications. Treatments consisted of P1 = Sesbania grandiflora, P2 = Artocarpus heterophyllus, P3 = Musa acuminata, P4 = Mangifera indica L., P5 = Gliricidia sepium, P6 = Swietenia mahagoni (L.) Jacq, P7 = Calliandra calothyrsus, and P8 = Leucaena leucocephala. Data were analyzed using ANOVA 5%, and continued by Duncan test. The results of the study showed that neutral detergent fiber digestibility, acid detergent fiber digestibility, hemicellulose digestibility were significantly (P<0.05). Tropical forages of Leucaena leucocephala and Gliricidia sepium were highest neutral detergent fiber digestibility (70,34% and 62,29%), and highest acid detergent fiber digestibility (57,14% and 58,91%), with hemicellulose digestibility (64,10% and 65,00%).Keywords: digestibility, fiber, tropical browse plants, in vitr

    Pengaruh Konsentrasi VCO terhadap Profil Asam Lemak, Aktivitas Antibakteri, dan Antioksidan Kefir

    Get PDF
    ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai konsentrasi minyak kelapa murni ke profil asam lemak, aktivitas antibakteri dan antioksidan kefir. Kefir VCO yang dibuat pada penelitian ini terbuat dari susu sapi yang difermentasi selama kurang lebih 2 hari menggunakan biji kefir dengan konsentrasi 5%, dengan suhu inkubasi 28ºC. Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan dimana masing-masing perlakuan terdiri dari tiga ulangan yaitu P0 (kefir tanpa VCO), P1 (kefir dengan VCO 2%), P2 (kefir dengan VCO 4%), P3 (kefir dengan VCO 6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan VCO memberikan hasil yang signifikan (P <0,01) pada aktivitas antibakteri dan antioksidan. Hasil uji antibakteri kefir dalam semua perlakuan memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri. Semakin tinggi konsentrasi VCO, semakin besar zona penghambatan terbentuk. Aktivitas antioksidan dalam VCO kefir meningkat nilainya dengan peningkatan konsentrasi VCO. Sementara hasil profil asam lemak menunjukkan peningkatan dan penurunan asam lemak karena proses fermentasi.Kata kunci: aktivitas antibakteri, antioksidan, kefir, lemak, minyak kelapa murni, profil asam lemakABSTRACTKefir in this research made of milk fermented for 48 hours with grain kefir a concentration of 5%, with incubation temperature is 28ºC. This study was used with four treatments and each treatment consisted of three replications. The treatment used was P0 (kefir without VCO), P1 (kefir with VCO 2%), P2 (kefir with VCO 4%), P3 (kefir with VCO 6%). The results showed that the addition of VCO give a significant effect (P<0.01) on the antibacterial and antioxidant activities. The antibacterial activity of VCO kefir in all treatments were unable to strongly inhibit bacterial growth. The higher VCO concentration has added the vast inhibition zone was formed. The antioxidant activity in VCO kefir increases in value with increasing VCO concentration. While the result of the fatty acid profile showed an increase and decrease in fatty acids due to the fermentation process.Keywords: antibacterial activities, antioxidant, fat, fatty acid profile, kefir, virgin coconut oi

    Evaluasi Penggunaan Tepung Keladi terhadap Kualitas Fisik dan Kandungan Nutrien Pelet Pakan Ayam

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan tepung keladi dalam ransum ayam terhadap kualitas fisik dan kimia pelet. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jagung, bekatul, garam, konsentrat broiler, tepung ikan dan tepung talas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL). Ada lima perlakuan yaitu 0, 2,4, 6, dan 8% tepung keladi dengan empat ulangan. Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dan uji jarak berganda duncan. Parameter yang diukur adalah ketahanan pelet terhadap gesekan, ketahanan pelet terhadap benturan, kadar air, protein kasar, dan kadar lemak kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung keladi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap ketahanan gesekan dan protein kasar pelet. Namun, itu berpengaruh nyata (P0.05) to durability and crude protein of pellet. However, it has a significant effect (P<0.05) on the durability index, moisture content and crude fat content. The concluded was using of taro tubers meal up to 6% produced pellets with good durability index. Nutrient quality is the lowest moisture content, the highest crude fat content and the lowest crude fiber in the use of 4% taro tuber meal. So it is recommended taro tuber meal can be used up to 4% in  chicken pellet feedKeywords: physical quality, chemical quality, pellet, taro tuber mea

    Usaha Ternak Domba sebagai Jalur Keluar dari Kemiskinan Buruh Tani di Perdesaan

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemungkinan usaha ternak domba sebagai aktivitas nafkah untuk pengentasan kemiskinan, serta menentukan jumlah kepemilikan domba yang dapat  membawa rumah tangga buruh tani keluar dari kemiskinan. Survey telah dilakukan di Desa Walangsari Kecamatan Kalapanunggal Kabupaten Sukabumi, melibatkan rumah tangga buruh tani miskin sebanyak 65 orang dan 22 orang tidak miskin. Faktor yang berpengaruh terhadap kemiskinan dianalisis menggunakan model regresi logistik biner, sedangkan jumlah kepemilikan domba yang harus dipelihara untuk keluar dari kemiskinan ditentukan dengan model regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia kepala keluarga, dan pengalaman beternak tidak mempengaruhi kemiskinan, sedangkan jumlah kepemilikan domba, jumlah anggota rumah tangga, keterlibatan dalam kelembagaan, serta sumber pendapatan dari non pertanian mempengaruhi status kemiskinan rumah tangga buruh tani. Pada rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak 4,45 orang,untuk keluar dari kemiskinan buruh tani harus memelihara minimal sebanyak 36,63 ekor domba per rumah tangga. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa usaha ternak domba dapat digunakan sebagai sarana untuk pengentasan kemiskinan buruh tani, program pengentasan kemiskinan akan efektif bila melibatkan kelembagaan lokal.Kata Kunci: buruh tani, jumlah kepemilikan domba, kemiskinanABSTRACTThis study aims to determine the possibility of sheep farming as a livelihood activity for poverty alleviation and to determine the amount of sheep ownership that can bring farm laborers households out of poverty. Survey research has been carried out in Walangsari Village, Kalapanunggal District, Sukabumi Regency, involving 65 poor farmer households and 22 non-poor households. Factors affecting poverty were analyzed using a binary logistic regression model, while the number of sheep ownership needed to escape poverty was determined by a simple regression model. The results showed that the age of the head of the family, and experience of sheep farmers did not affect poverty, while the number of sheep ownership, number of household members, involvement in institutions, and sources of income from non-agriculture affected the poverty status of farm laborers' households. In the average number of household members as many as 4.45 people, to get out of poverty must maintain a minimum of 36.63 sheep per household. This research explains that sheep farming can be used as a means to reduce the poverty of farm laborers, and poverty alleviation programs will be effective if they involve local institutions.Keywords: farm labor, number of sheep ownership, povert

    Suplementasi Ampas Teh Hijau Fermentasi pada Pakan terhadap Performa dan Income Over Feed Cost Itik Cihateup

    Get PDF
    ABSTRAKAmpas teh hijau merupakan salah limbah yang berasal dari rumah tangga maupun industri pengolah teh yang ketersediaannya cukup melimpah seiring tingginya konsumsi teh masyarakat Indonesia. Ampas teh hijau dilaporkan mengandung senyawa polifenol dengan kandungan antioksidan yang tinggi namun memiliki senyawa antinutrisi yaitu tanin yang dapat menghambat proses kecernaan nutrien. Tanin dapat diminimalisir dan dihilangkan kandungannya pada ampas teh melalui proses fermentasi sehingga kecernaan dapat ditingkatkan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ampas teh hijau fermentasi (ATHF) terhadap performa (pertambahan bobot badan, konversi pakan, persentase karkas) dan income over feed cost itik Cihateup. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap. Sebanyak 60 ekor itik Cihateup berumur sehari dikelompokkan secara acak pada 4 kelompok perlakuan pakan yang disuplementasi dengan ATHF yaitu K0 (0% ATHF), K1 (1% ATHF), K2 (2% ATHF), dan K3 (3% ATHF). Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila berbeda nyata diuji lanjut dengan metode Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Penambahan ATHF pada pakan itik Cihateup menunjukkan perbedaan yang nyata pada parameter pertumbuhan bobot badan dan konversi pakan serta berbeda sangat nyata pada IOFC. Penambahan ampas teh hijau fermentasi pada level 1% memberikan dampak positif terhadap perbaikan pertambahan bobot badan, konversi pakan, dan IOFC.Kata kunci: ampas teh, income over feed cost, imbuhan pakan,. teh fermentasiABSTRACTGreen tea waste is one of the waste originating from households and the tea processing industry, whose availability is quite abundant in line with the high consumption of Indonesian tea. Green tea pulp is reported to contain polyphenol compounds with high antioxidant content but has an anti-nutrient compound namely tannins which can inhibit the process of nutrient digestion. Tannins can be minimized and their presence eliminated in tea waste through the fermentation process so that digestibility can be improved. The study aims to determine the effect of the addition of fermented green tea waste (ATHF) to growth performance (body weight gain, feed conversion, carcass percentage) and income over feed cost of Cihateup ducks. The research was conducted experimentally using a completely randomized design. Sixty-day-old Cihateup ducks were randomly grouped into 4 treatment groups supplemented with ATHF, namely K0 (0% ATHF), K1 (1% ATHF), K2 (2% ATHF), and K3 (3% ATHF). The data were analyzed using ANOVA and if they were significantly different, it was further tested using the Duncan's Multiple Range Test (DMRT) method. . The addition of ATHF in Cihateup duck feed showed significant differences in body weight gain parameters and feed conversion and was very significantly different in IOFC. The addition of fermented green tea waste at the level of 1% had a positive impact on improving body weight gain, feed conversion, and IOFC.Keywords: feed additive, fermented tea, tea waste, income over feed cos

    Faktor Mempengaruhi Peningkatan Populasi Sapi Madura di Sentra Sapi Sonok Kabupaten Pamekasan

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik peternak dan potensi alam terhadap peningkatan populasi sapi madura di sentra sapi sonok. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan jumlah sampel 100 peternak di sentra sapi sonok. Analisis data menggunakan analisa regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan hubungan faktor karakteristik peternak yakni variabel umur peternak, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, lama beternak, tujuan pemeliharaan dan pelatihan secara simultan tidak memberi pengaruh signifikan terhadap peningkatan populasi sapi madura dan faktor potensi alam yakni curah hujan, luas lahan pertanian, rumah tangga peternak dan jumlah penduduk secara simultan memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan populasi sapi madura di Sentra Sapi Sonok. Variabel tertinggi adalah variabel luas lahan pertanian yaitu 0,843 hal ini dapat dijadikan acuan dalam peningkatan populasi dimana semakin luas lahan pertanian maka semakin besar terjadinya peningkatan populasi yang berkaitan dengan persediaan pakan hijauan dan pakan penguat ternak. Variabel rumah tangga peternak yaitu 0,0819  karena semakin banyaknya rumah tangga peternak maka semakin banyak populasi sapi dan variabel curah hujan yaitu 0,011 karena semakin tinggi curah hujan maka ketersediaan pakan hijauan ternak semakin berlimpah. Kemudian variabel yang nilainya negatif yaitu jumlah penduduk sebesar -0,725 diidentifikasikan bahwa semakin menurun jumlah penduduk maka populasi sapi akan mengalami penurunan. Kesimpulan hasil penelitian,  pemeliharaan dan keikutsertaan dalam pelatihan tidak memberi pengaruh signifikan terhadap peningkatan populasi. Faktor potensi alam yang terdiri dari curah hujan, luas lahan pertanian, rumah tangga peternak dan jumlah penduduk secara simultan memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan populasi sapi madura di sentra sapi sonok Kabupaten Pamekasan.Kata kunci: Populasi, regresi linier berganda, sapi madura, sentra sapi sonok ABSTRACTThe study aims to determine the relationship of breeder characteristics and natural potential to increase madura cattle population in sonok cows center. The method used is a survey method with a sample of 100 breeders in sonok cows center. Data analysis uses multiple linear regression analysis. The results showed the relationship between the characteristics of the breeders, namely the age of the breeders, the level of education, the number of family dependents, the length of the breeders, the purpose of maintenance and training simultaneously did not significantly influence the madura cattle population increase and natural potential factors namely rainfall, area of agricultural land, housing farmer ladder and population simultaneously have a significant influence on the increase in madura cattle population at the Cows Sonok Center. The highest variable is the area of agricultural land that is 0.843 it can be used as a reference in increasing population where the more extensive the agricultural land, the greater the increase in population associated with forage supply and animal feed reinforcement. The variable of farmer household is 0.0819 because of the increasing number of farmer households, the more cattle population and the rainfall variable is 0.011 because of the higher rainfall, the availability of forage feed is more abundant. Conclusions from the results of research, maintenance and participation in training did not have a significant effect on population increase. Natural potential factors consisting of rainfall, area of agricultural land, household of farmers and population simultaneously have a significant influence on the increase of madura cattle population in the center of sonok cattle in Pamekasan RegencyKeywords: Population, madura cattle, multiple linear regression, sonok cows center.

    Kecernaan Ransum yang Mengandung Limbah Roti pada Domba

    Get PDF
    ABSTRAKLimbah roti memiliki potensi sebagai pakan untuk domba, namun belum banyak diketahui dampaknya terhadap kecernaan. Penelitian bertujuan untuk menguji ransum yang mengandung limbah roti terhadap kecernaan pada domba. Dua puluh ekor domba lokal dengan bobot hidup 34,65±2,87 kg dialokasikan ke dalam 5 ransum perlakuan yang mengandung limbah roti sebanyak 0, 6, 12,18, dan 24%. Penelitian dilaksanakan secara eksmperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Data yang terkumpul dianalisis dengan sidik ragam. Hasil menunjukan bahwa penggunaan limbah roti sampai 24% dalam ransum tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein kasar, lemak kasar, bahan kering dan bahan organik dengan nilai rataan berturut-turut 54,91%, 73,39%, 66,80% dan 69,86%. Kesimpulan, limbah roti dapat digunakan dalam ransum sampai 24% dan tidak menganggu kecernaan pada domba.Kata kunci: domba, kecernaan, limbah, ransum, rotiABSTRACTBread waste has potential as a feed for sheep, but not yet known the impact on digestibility. The research aims to test the ration containing bread waste on digestibility in sheep. Twenty local sheep with a body weight of 34.65 ± 2.87 kg were allocated into 5 treatment rations containing bread waste of 0, 6, 12.18, and 24%. The study was conducted experimentally using a completely randomized design. The data collected was analyzed by variance. The results showed that the use of bread waste up to 24% in the ration did not affect the digestibility of crude protein, crude fat, dry matter and organic matter with an average value of 54.91%, 73.39%, 66.80% and 69.86%. Conclusion, bread waste can be used in rations up to 24% and does not interfere with digestibility in sheep.Keywords: sheep, digestibility, waste, ration, brea

    Review: Dampak Negatif Indospicine dalam Indigofera sp. pada Ternak

    Get PDF
    ABSTRAKPakan merupakan aspek penting dari peternakan dan peningkatan produksi daging dapat dicapai melalui nutrisi dan manajemen yang tepat. Indigofera sp adalah salah satu spesies leguminosa hijauan yang potensial untuk ruminansia dan merupakan sumber penting protein, mineral, vitamin, serat serta memiliki palatabilitas  tinggi. Genus Indigofera terdiri atas sekitar 700 spesies yang berbeda, banyak di antaranya adalah tanaman penting yang secara agronomis digunakan sebagai pakan ternak dan suplemen pakan. Namun, beberapa spesies Indigofera mengandung faktor antinutrisi dikenal sebagai indospicine yang merupakan asam amino nonprotein toksik (2,7- diamino-7-iminoheptanoic acid) dan diketahui bersifat  hepatotoksik pada ruminansia. Ternak yang mengonsumsi Indigofera dilaporkan mengalami efek hepatotoksik dengan adanya lesi pada hati, efek teratogenik dan kematian embrio. Oleh karena itu, indospicine harus dipertimbangkan sebagai kemungkinan penyebab rendahnya penampilan ternak, khususnya penurunan berat badan dan gangguan reproduksi pada ruminansia yang diberi pakan indigofera sp dalam jumlah yang berlebihan. Di Indonesia spesies Indigofera zollingeriana merupakan pilihan paling tepat untuk dibudidayakan dan dikembangkan sebagai pakan ternak rumiansia  karena memiliki kandungan indospicine yang rendah untuk menghilangkan kejadian keracunan indospicine.Kata kunci: faktor antinutrisi, hepatotoksik, indigofera, indospicineABSTRACTThe feed is an important aspect of animal production, an increase in meat production can be achieved through proper nutrition and good management. The Indigofera sp is one of the potential forage legume species which are important sources of protein, minerals, vitamins, fiber, and has high palatability that provide essential nutrients for ruminants. The Indigofera genus contains approximately 700 different species, many of which are agronomically important plants that are used as grazing forages and feed supplements. Some Indigofera species, however, contain antinutritional factors (ANF) known as indospicine, a toxic nonprotein amino acid (2,7- diamino-7-iminoheptanoic acid) and is thought to be hepatotoxic in ruminants. Cattle and sheep consuming Indigofera have been reported to experience both hepatotoxic effects with associated liver lesions, and also teratogenic and embryo-lethal effects. Therefore, indospicine should be considered as a possible cause of animal poor performance, particularly reduced weight gain and reproductive disorders in ruminants that are fed with excessive amounts of indigofera sp. in Indonesia Indigofera zollingeriana species are the most appropriate choice to be cultivated and developed as ruminat livestock feed because they have a low indospicine content to eliminate the incidence of indospicine poisoning.Keywords: antinutritional factor, hepatotoxic,  Indigofera sp, indospicin

    Halaman Depan

    No full text
    Halaman Depa

    Kinerja Mesin Pellet dalam Produksi Pakan Ayam Pedaging Fase Finisher

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas kinerja mesin dalam produksi pakan pellet ayam pedaging fase finisher dengan berbagai bahan perekat. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan penambahan bahan perekat yaitu P0 = tanpa menggunakan bahan perekat, P1 = penambahan molases 2%, P2 = penambahan tepung tapioka 2%, P3 = penambahan bentonit 2%. Parameter yang diukur dalam penelitian adalah kinerja teoritis dan kinerja aktual mesin pellet, ukuran diameter dan panjang pellet, serta kualitas organoleptik pellet. Hasil penelitian menunjukkan penambahan berbagai bahan perekat tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap kinerja teoritis mesin pellet, kinerja aktual mesin pellet, serta ukuran diameter dan panjang pellet. Berdasarkan uji organoleptik pellet dengan kriteria tekstur, warna, serta bau menunjukkan bahwa lebih 50% panelis memberi penilaian kategori baik pada kriteria tersebut pada pellet yang diberi bahan perekat. namun, perlakuan tanpa bahan perekat sebanyak 41,67% panelis menyatakan teskstur pellet dengan kategori jelek. Disimpulkan bahwa dengan penambahan berbagai bahan perekat tidak berpengaruh terhadap kinerja mesin pellet, dan ukuran partikel pellet, untuk uji organoleptik menunjukkan lebih 50% panelis menyatakan kategori baik pada kriteria tekstur, warna serta bau, sedangkan tanpa bahan perekat persentase tertinggi panelis menyatakan teskstur pellet dengan kategori jelek.Kata kunci: bahan perekat, kinerja mesin, kualitas fisik, organoleptik pelletABSTRACTThis research aims to determine performance capacity of the machine in production of finisher phase broiler pellet feed with various binders. The research used a completely randomized design (CRD) consist of 4 treatments with 4 replications. The treatment of adding binders are P0 = without using binders, P1 = addition 2% molasses, P2 = addition 2% tapioca flour, P3 = addition 2% bentonite. The parameters measured in the research were the theoretical performance and actual performance of the pellet machine, the diameter and length of the pellet, as well as the organoloptic quality of pellet. The results showed the addition of a variety of binders no significant effect (P>0.05) against the theoretical performance of pellet machines, the actual performance of pellet machines, as well as the size of diameter and length of pellets. Based on organoleptic test pellets with texture, color, and smell criteria showed that more than 50% of panelists gave a category rating on the criteria on pellets that were given binders. On the other hand, treatment without adhesives as much as 41,67% of panelists stated that the texture of pellets was in the bad category. It can be concluded that the addition of various binders has no effect on the performance of the machine, and the size of the pellet particles. For the organoleptic test, it showed that more than 50% of panelists stated good categories in the criteria of texture, color and smell, while without adhesive, the highest percentage of panelists stated that the pellet texture was in the bad category.Keywords: binder, machine performance, physical quality, organoleptic pelle

    263

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇