Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Not a member yet
87 research outputs found
Sort by
Pengaruh PVP dan DIECA terhadap Regenerasi Meristem Tebu
Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman yang diperbanyak secara vegetatif sehingga berisiko besar akan terjadinya akumulasi virus di dalam jaringan tanaman. Kultur meristem merupakan salah satu teknik eliminasi virus yang umum digunakan, namun seringkali meristem memiliki daya hidup dan daya re-generasi yang rendah. Salah satu penyebabnya adalah karena akumulasi senyawa fenol. Akumulasi senyawa tersebut dapat direduksi melalui penggunaan senyawa adsorben dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan un-tuk mengetahui pengaruh polyvinylpyrrolidone (PVP) dan diethyldithiocarbamate sodium (DIECA) terhadap regenerasi meristem tebu. Bahan tanaman yang digunakan adalah tebu PS864. Eksplan yang digunakan adalah meristem dengan 1–2 primordia daun yang diisolasi di bawah mikroskop. Perlakuan meliputi PVP (100 dan 300 mg/l) dan DIECA (0 dan 20 mg/l) serta kombinasi antara kedua zat tersebut, dengan 3 ulang-an (botol) dan setiap botol terdiri atas 3 meristem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kon-sentrasi PVP atau kombinasi perlakuan PVP dan DIECA dapat meningkatkan persentase eksplan hidup, daya regenerasi, dan jumlah tunas. Kombinasi perlakuan PVP 300 mg/l dan DIECA 20 mg/l merupakan perlakuan terbaik karena persentase hidup dan daya regenerasi eksplan yang paling tinggi (100%) dengan jumlah tu-nas 3,8 tunas/eksplan. Being vegetatively propagated, sugar cane faces a high risk of virus accumulation. Meristem culture is one method that usually applied for virus elimination. However, it often has low survival and regeneration rate due to an accumulation of phenolic compounds. Accumulation of those compounds can be reduced by apply adsorbent antioxidant. This research aimed at evaluating the effect of PVP and DIECA on the regeneration capacity of meristem. The plant material was sugar cane PS864. Meristems with 1─2 primoridial leaves were used as the explants and isolated under microscope. The PVP (100−300 mg/l) and DIECA (0− 20 mg/l), or combined treatment of both antioxidants were used as treatments. Each treatment was replicated 3 times (bottles), and each bottle contained 3 meristems. The result showed that the higher concentration of PVP or combined treatment of PVP and DIECA could increase the percentage of survival, regeneration rate, and number of shoot. The combined treatment of 300 mg/l PVP, and 20 mg/l DIECA produced the highest level of survival rate (100%) which yielded 3.8 shoots/explants
Potensi Beberapa Isolat Bakteri Pelarut Fosfat Asal Lahan Tebu di Jawa Timur Berdasarkan Aktivitas Enzim Fosfatase
Fosfor (P) merupakan hara esensial untuk pertumbuhan tanaman karena P berperan penting dalam banyak ak-tivitas metabolisme tanaman. Tanaman memperoleh P dari larutan tanah dalam bentuk anion. Namun, anion P sangat reaktif dan dapat mudah terikat oleh unsur Al, Fe, Mg, dan Ca. Dalam bentuk tersebut, P sangat tidak terlarut sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) berperan penting dalam meningkatkan ketersediaan P dalam tanah sehingga potensi BPF yang diisolasi dari lahan tebu perlu diidentifikasi. Kegiatan identifikasi potensi bakteri pelarut fosfat dilakukan mulai Januari–Desember 2012 di Laboratorium Bioprosesing Balai Penelitan Tanaman Pemanis dan Serat, Malang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan eksplorasi bakteri pelarut fosfat dan seleksi berdasarkan kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat dieksplorasi dari lahan tebu di Jawa Timur yaitu di Kabupaten Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo. Dari 65 isolat bakteri yang berhasil diisolasi, 22 isolat bakteri diantaranya berpotensi sebagai bakteri pelarut fosfat (BPF). Setelah dilakukan uji lebih lanjut, diperoleh 9 isolat unggul bakteri pelarut fosfat yaitu SD-10, Bl-1, KD-5, ML-2, LJ II-3 yang menunjukkan aktivitas fosfatase tinggi di hari pertama, sedangkan LJ I -3 dan BD-2 menunjukkan aktivitas fosfatase pada hari kedua dan SD-7 serta BL-4 termasuk dalam 9 besar isolat dengan diameter zona bening terbesar. Luas daerah zona bening secara kualitatif menunjukkan besar kecilnya kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat BPF tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki ketersediaan P di tanah dan mampu memperbaiki kualitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu. Phosphorus (P) is an essential nutrient for plant growth, because it plays an important role in many metabolisms activities. Plants obtain P from soil solution as anion. However, phosphate anions are very reactive and can be immobilized through precipitation with Al, Fe, Mg, and Ca. In these form, phosphate is insoluble and unavailable to plants. Phosphate solubilizing bacteria (PSB) plays important role in dynamics and availability of P in soil. So, the potency of PSB isolates which were explored from sugarcane soil of East Java might be important to be identified. Identification based on activity of phosphatase enzyme was conducted from January–December 2012 in Bioprocessing Laboratory Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute, Malang. The aim was to explore and select PSB based on their ability to dissolve of P. Isolation of PSB was collected from sugar cane land of East Java included Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso and Situbondo. Among 65 bacterial isolates, 22 bacterial isolates were potentially as PSB. After a further test, we obtained 9 isolate had high enzyme activities, ie. SD-10, BL-1, KD-5, ML-2 and LJ II-3 had phosphatase activity on the first day, whereas LJ I-3 dan BD-2 had an activity at the second day, while SD-7 and BL-4 had largest diameter of clear zones. Phosphate solubilizing bacteria isolate is expected to increase improve availability of P in the soil, quality and development of plants
Pengaruh Perilaku Kewirausahaan terhadap Kinerja Usaha Tani Tembakau Rakyat di Kabupaten Bojonegoro dan Lamongan
Penyediaan sumber daya manusia yang kompeten penting dalam usaha tani tembakau. Komoditas tembakau ditekan oleh perubahan kondisi lingkungan global, sehingga diperlukan petani yang mampu beradaptasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kewira-usahaan dan kinerja pertanian, 2) Menganalisis pengaruh sifat individu dan faktor lingkungan terhadap peri-laku kewirausahaan, dan 3) Menganalisis pengaruh sifat individu, faktor lingkungan, dan perilaku kewirausa-haan terhadap kinerja tembakau rakyat. Pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas (terikat) diukur dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Sifat individu dan faktor lingkungan mempengaruhi perilaku kewirausahaan dengan pengaruh terbesar berasal dari sifat individu. Perilaku kewirausahaan berpe-ngaruh signifikan terhadap kinerja usaha, namun bukan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi kinerja pertanian. Lingkungan ekonomi menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja pertanian. Peri-laku kewirausahaan saja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Dengan demikian, perilaku kewirausa-haan harus dipandang sebagai salah satu faktor yang berperan dalam mendorong kinerja. Provision of competent human resources is important in tobacco farming. Tobacco as commodities pressured by changes in global environmental conditions so that required adaptable farmers. Therefore, this research aimed to: 1) Determine the factors that influence entrepreneurial behavior and performance of the farm; 2) Analyze the influence of personality trait and environmental factors to entrepreneurial behavior; and 3) Analyze the influence of personality trait, environmental factors, and entrepreneurial behavior to the perfor-mance of individual tobacco farming. The effect of independent variables on the measurement dependent variables were analyzed using multiple linear regression analysis. The personality trait and environment fac-tor influence entrepreneurial behavior with the greatest influence comes from the personality trait. Entrepre-neurial behavior has significant effect on the performance of the business, but not a dominant factor affect-ting the performance of the farm. Economic environment to be the most influential variable on the perfor-mance of the farm. Entrepreneurial behavour alone has no significant effect on performance. Thus, entre-preneurial behaviour should be viewed as only one causal factor in a complex model of factors that promote performance
Pemanfaatan Ekstrak Tanaman untuk Atraktan Predator dan Parasitoid Wereng Kapas
Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kapas dalam negeri adalah serangan serangga hama. Hama utama tanaman kapas adalah wereng kapas, Amrasca biguttulla. Pengendalian wereng kapas dengan pe-nyemprotan insektisida berakibat pada meningkatnya populasi penggerek buah. Pemanfaatan predator dan parasitoid wereng kapas merupakan solusi pengendalian yang tepat. Penggunaan atraktan untuk mening-katkan populasi predator dan parasitoid pada pertanaman kapas akan meningkatkan peran musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik yang efektif. Ekstrak tanaman, terutama yang berupa minyak atsiri, telah banyak digunakan sebagai atraktan musuh alami, tetapi belum banyak yang menggunakannya sebagai atrak-tan musuh alami wereng kapas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ekstrak beberapa tanaman yang diduga dapat berfungsi sebagai atraktan bagi parasitoid telur dan predator wereng kapas di laboratorium dengan pengujian secara olfaktometri dan mengujinya di lapangan dengan menggunakan metode perangkap yang dilengkapi dispenser untuk atraktan. Pengujian di lapangan dilakukan pada pertanaman kapas. Ekstrak tanaman yang diuji adalah daun kapas yang telah terinfestasi oleh A. biguttulla, batang dan daun jagung, dan daun teh hitam (Melalaeuca brachteata) dengan menggunakan pelarut organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dapat dimanfaatkan sebagai atraktan parasitoid telur wereng kapas. Parasitoid telur menunjukkan respon positif terhadap minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dalam uji olfaktometri di laboratorium. Pada uji lapangan, peningkatan populasi parasitoid dengan penam-bahan kedua atraktan tersebut dapat mencapai 176% dibandingkan kontrol. Minyak atsiri dari ekstrak tanaman yang diuji tidak mempunyai pengaruh terhadap predator jenis kumbang kubah, kumbang kembara, kepik mirid, dan sayap jala. ABSTRACTThe Use of Plant Extract for Attractant of Predators and Parasitoids of Cotton LeafhopperCotton production is restricted by pest attack. The key pest of cotton is cotton leafhopper, Amrasca biguttula. Aerial spray to control of this pest caused the increase of bollworm population. Therefore, the use of parasitoids and predators could be a proper method to control the leafhoppers. The use of attractant to in-crease predator and parasitoid population on cotton field would also increase the role of those natural enemies as an effective biotic mortality factor. Plant extracts, especially in the form of essential oils, have been used as attractants for the natural enemies; however attractant for natural enemies of cotton leafhopper has not been intensively developed. Therefore, this research aims were to evaluate some plant extracts that may function as an attractant for egg parasitoid and predators of cotton leafhopper in laboratory tests using olfactometry method, and also to test the effectiveness of the attractant in increasing population of parasi-toids and predators in cotton fields. The plant extracts were of leafhopper-infested-cotton leaves, maize stalks and leaves, and Melalaeuca brachteata leaves, using organic solvents. Results showed that the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves could be used as an attractant for the hopper egg parasitoids. The parasitoids showed positive response to the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves in olfactometry tests. The use of those attractants in cotton fields increased parasitoid population by 179% compared to the control. Essential oils of the tested pants did not have any effect on predators, such as ladybird beetles, staphylinid beetles, mirid bugs, as well as lacewings.Keywords: Essential oils, attractant, parasitoid, predator, cotton leafhopper
Pengaruh Inkubasi Bahan Organik yang Diperkaya dengan Mimba Terhadap Keparahan Penyakit Rebah Kecambah
Penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani Kühn merupakan salah satu penyakit me-rugikan pada tanaman kapas. Jamur ini dapat bertahan sebagai saprofit di tanah dengan bahan organik se-bagai sumber energinya, sehingga keberadaan bahan organik terkadang dapat meningkatkan populasi R. solani meskipun aktivitas mikroba di sekitarnya juga meningkat. Namun penambahan bahan organik yang mengan-dung senyawa fungisidal seperti mimba diharapkan mampu menekan populasi R. solani. Penelitian ini ber-tujuan mengevaluasi pengaruh inkubasi bahan organik yang berasal dari pupuk kandang atau serbuk rajungan yang diperkaya dengan mimba terhadap keparahan penyakit rebah kecambah akibat R. solani. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat yang disusun berdasarkan rancangan faktorial dalam kelompok dengan tiga ulangan yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah sumber bahan organik yang berasal dari (1) pupuk kandang ayam (PKA) atau (2) sapi (PKS) atau (3) serbuk kulit rajungan (SKR) diperkaya dengan serbuk biji mimba (SBM) dengan perbandingan 3:1. Bahan organik kemudian dicampur dengan tanah berpasir dengan perbandingan 9:1 (b/b), sebagai kontrol adalah tanah ber-pasir tanpa bahan organik. Faktor kedua adalah masa inkubasi bahan organik yang terdiri atas 1, 2, dan 3 bulan. Satu unit perlakuan adalah satu bak plastik berisi 5 kg tanah yang ditanami 25 biji kapas. Inokulasi 5 biji kapas yang terinfestasi R. solani ke dalam tanah dilakukan bersamaan dengan aplikasi bahan organik. Keparahan penyakit rebah kecambah dihitung pada hari ketujuh dan ke-14 setelah tanam dan populasi mikroba di tanah (bakteri, aktinomisetes, dan jamur) dihitung pada 1, 2, dan 3 bulan setelah aplikasi bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan inkubasi PKA+SBM atau PKS+SBM selama 2–3 bulan dapat mengu-rangi infeksi R. solani dan kejadian penyakit rebah kecambah pada tanaman kapas yang disebabkan oleh R. solani karena meningkatnya populasi mikroorganisme (jamur, bakteri, dan aktinomisetes). Namun, penam-bahan SKR+SBM baik diinkubasi 1, 2, maupun 3 bulan belum meningkatkan populasi mikroba secara nyata dan tidak dapat mengurangi keparahan penyakit. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin lama masa inkubasi, dekomposisi bahan organik yang berasal dari PKA atau PKS+SBM menjadi lebih sempurna. Kondisi tersebut dapat menekan kejadian penyakit rebah kecambah melalui penekanan populasi R. solani akibat peningkatan populasi mikroba tanah. Dengan demikian, penambahan PKA+SBM atau PKS+SBM dapat digunakan untuk mengendalikan R. solani asalkan sudah diinkubasi 2–3 bulan sebelum ditanami kapas. Damping off caused by Rhizoctonia solani Kühn is an important disease on cotton. The fungus survives as a saprophyte in soil with organic matter as its source of energy. Hence, the presence of organic matter could increase population of R. solani instead of the soil microbial activities in the vicinity. And yet, addition of organic matter with fungicidal activity such as neem was expected decrease population of R. solani. This study aimed to determine the effect of incubation period of some organic matters (farmyard manure or crab shell enriched with neem seed powder) on severity of damping off of cotton caused by R. solani. The organic matter was mixed with sandy soil at 9:1 (w/w). The test was arranged in factorial blocked design with three replicates. The first factor was source of organic matters i.e: (1) chicken manure: neem seed powder (nsp) 3:1; (2) cow manure: (nsp) 3:1; (3) crab shell powder: (nsp) 3:1; and (4) sandy soil without organic matter. The second factor was incubation period of the organic matter before cotton sowing (1, 2, and 3 months). Inoculation of five R. solani infested cotton seeds was done along with incorporation of organic matter. Damping off severity was counted at 7 and 14 days after sowing; population of soil microorganisms (bacteria, actino-mycetes, and fungi) was estimated 0, 1, 2, and 3 months. Incubation chicken manure+nsp or cow manure+ nsp for 2–3 months reduced damping off severity due to R. solani infection since population of microor-ganisms (fungi, bacteria, and actinomycetes) increased. However, addition of crab shell+nsp incubated for 1, 2, or 3 months did not increase population of soil mikrobes significantly and did not reduce disease severity. This result of this study indicated that the more duration period of incubation, the more farmyard manure decomposed hence, damping off severity declined through reduction of population of R. solani due to increasing population of soil microbes. So, addition of farmyard manure could control R. solani as long as it has been incubated for at least 2–3 months before sowing
Pengaruh Infeksi Cucumber Mosaic Virus (CMV) Terhadap Morfologi, Anatomi, dan Kadar Klorofil Daun Tembakau Cerutu
Penyakit virus pada tembakau cerutu menyebabkan kerugian yang cukup besar, yaitu dapat mengurangi produksi sekitar 7–30%. Secara morfologi, daun tembakau yang terserang virus pada umumnya menunjuk-kan gejala mosaik, berkerut atau menggulung, ukurannya menjadi lebih kecil, rapuh, elastisitas dan daya bakarnya menurun. Informasi tentang Cucumber Mosaic Virus (CMV) dalam bidang anatomi dan fisiologi ma-sih sangat sedikit, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menambah informasi tentang pengaruh infeksi CMV terhadap karakter morfologi, anatomi dan fisiologi daun tembakau cerutu. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-November 2011, di Kebun Percobaan Karangploso dan Laboratorium Fitopatologi Balittas, Ma-lang, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Inokulum CMV diambil dari tanaman sakit di lapang dan diperbanyak pada tanaman indikator. Inokulasi dilakukan pada tanaman tembakau cerutu varietas H-382 menggunakan sprayer duco type Sagola pada tekanan kompresor 4,5 kg/cm2. Pengamatan dilakukan pada 3 bulan setelah tanam terhadap parameter morfologi, anatomi tanaman dan kadar klorofil daun tembakau pada skor 0–5. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tanaman yang sehat dengan tanaman yang diinfeksi CMV. Makin tinggi tingkat infeksinya, makin besar penurunan luas daun dan kadar klorofil total tanaman tembakau. Penurunan rasio klorofil a/b daun lebih tinggi pada skor 4 dibandingkan skor 5, yaitu sebesar 74%, tetapi kerusakan morfologi paling parah terjadi pada skor 5, dimana terjadi perubahan bentuk dan secara anatomi terdapat bentukan kranz (spot-spot hitam) pada berkas pembuluh. Virus disease on cigar tobacco causes significant losses on yield, due to reduction on productivity 7–30%. Morphologicaly, tobacco leaf infected by virus generally shows symptoms of mosaic, wrinkled or curled, its size becomes smaller, fragile, elasticity, and burn down. Information about cucumber mosaic virus (CMV) in anatomy and physiology was still slightly, so objective of this study was to determine the effect of cucumber mosaic virus (CMV) infection to the character of the morphology, anatomy, and physiology of cigar tobacco leaves. The experiment was conducted in August–November 2011, at the Karangploso Experimental Station and Phytopathology Laboratory of ISFCRI, Malang, using a randomized block design with three replications. CMV was inoculated from diseased plants in the field and propagated on indicator plants. Inoculation was done on cigar tobacco H-382 varieties employing Sagola duco sprayer at a pressure of 4.5 kg/cm2 compressor. Observations were made at 3 months after planting for identifiying morphological and physiological parameters and leaf chlorophyl content of tobacco using score under 0–5. The results showed that there were significant differences between healthy plants and plants infected with CMV. The reduction in leaf area and total chlorophyl content of tobacco plants were greater as the rate of infection was higher.Decreasing in the ratio of chlorophyl a/b leaves was higher on plant with the score index of 4 than the score of 5 by 74%, but the most severe morphological damage occurs in plant with score of 5, indicating by change of shape and kranz formations (black spots) on the vascular bundle
Sinkronisasi Source dan Sink untuk Peningkatan Produktivitas Biji pada Tanaman Jarak Pagar
Saat ini dunia sedang menghadapi masalah penurunan cadangan minyak dan dampak lingkungannya. Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan sumber bahan baku biodiesel yang potensial. Pengembangan jarak pagarsaat ini masih terbatas disebabkan usaha tani yang belum menguntungkan terutama disebabkan produktivitas tanaman rendah. Makalah dimaksudkan untuk membahas pendekatan source dan sink untuk peningkatan produktivitas tanaman jarak pagar. Strategi penelitian untuk meningkatkan produktivitas dilakukan dengan peningkatan produksi biologi (biomassa) dan ekonomi (biji dan minyak). Produktivitas dapat meningkat jika terjadi sinergi antara source dan sink. Peningkatan source dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan tanaman dalam memanen energi cahaya melalui peningkatan produksi asimilat dengan peningkatan laju fotosintesis daun individual, perbaikan arsitektur kanopi, serta memperpanjang umur produktif daun terutama selama pembentukan biji. Perbaikan sink dapat dilakukan dengan meningkatkan proporsi bunga betina, meningkatkan proporsi buah jadi, serta meningkatkan laju dan lama pembentukan biji melalui dukungan source. Perbaikan source dan sink tersebut dilakukan melalui pemilihan genotipe tanaman dengan sifat-sifat source dan sink optimal untuk dijadikan bahan perakitan varietas. Perbaikan teknologi budi daya dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam yang tepat, pemangkasan, pemupukan, pengairan, dan penggunaan ZPT yang tepat baik untuk mendukung kanopi yang produktif sebagai pemasok asimilat, maupun untuk memperbesar kemampuan biji sebagai sink utama dalam memanfaatkan semaksimal mungkin pasokan asimilat untuk sintesis biji dan lemak. Dengan demikian, diharapkan diperoleh tanaman jarak pagar dengan produktivitas tinggi sebagai hasil dari produksi biomassa dan indeks panen tinggi. Nowadays, the world is facing problem of lowering petroleum fuel stocks and its environmental impact. Physic nuts (Jatropha curcas L.) is a plant that can be used as biodiesel feedstock. Extention problem of physic nuts cropping area and its role as biodiesel source is still limited due to low economical value and low productivity. This paper elucidates source and sink and their correlation to productivity based on research. Research strategies are directed to study increase biological yield (biomass) and economical yield (seed and oil content) of physic nut. The yield can be increased by synergizing between source and sink. Alleviating source could be done byincreasing the ability of plant in increasing photoshinthesis rate, arranging canopy architecture, and prolonging the age leaves especially during seed development. Sink process could be optimized through promoting numberof female flower, number of seeds, and increasing seed initiation and development. The source and sink improvement can be implemented through genotype selection for breeding materials. Cultivation technologyimprovement can be conducted plant optimum spacing and population arrangement, prunning, fertilizing, watering/irrigation, and plant growth regulator application to support productive canopy as assimilat supplier, and also enlarge seed capacity and strength as main sink trough optimum use assimilate for seed and lipid biosynthesis. Therefore, it will be achieved high productivity of physic nuts as a consequences of high biomass and highharvest index
Pengaruh Pemupukan N dan K Terhadap Produksi dan Mutu Dua Varietas Baru Tembakau Madura
Dua varietas baru tembakau madura yang memiliki daun 3–5 lembar lebih banyak dibanding varietas praktik Prancak-95, Prancak N-1, dan Prancak N-2, telah diperoleh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi beberapa dosis N dan K terhadap produksi dan mutu dua varietas baru tembakau madura. Penelitian dilaksanakan di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan mulai bulan Januari hingga Desember 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi dan diulang 3 kali. Perlakuan petak utama adalah 2 varietas tembakau madura: Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun. Sebagai anak petak adalah 9 kombinasi jenis dan dosis pupuk N dan K: 1) 40 kg N + 25 kg K2O, 2) 50 kg N + 25 kg K2O, 3) 60 kg N + 25 kg K2O, 4) 40 kg N + 50 kg K2O, 5) 50 kg N + 50 kg K2O, 6) 60 kg N + 50 kg K2O, 7) 40 kg N + 75 kg K2O, 8) 50 kg N + 75 kg K2O, dan 9) 60 kg N + 75 kg K2O/ha. Pupuk SP-36 sebanyak 36 kg P2O5/ha dan pupuk kandang 5 ton/ha diberikan 3 hari sebelum tanam sebagai pupuk dasar. Pupuk N bersumber dari pupuk ZA dan K dari ZK masing-masing 1/3 dosis diberikan pada 10 hari setelah tanam (HST), sedangkan sisa pupuk ZA dan ZK masing-masing 2/3 dosis diaplikasikan pada 21 HST. Pengamatan meliputi pertumbuhan, hasil dan mutu tembakau, rendemen, indeks mutu dan indeks tanaman, serta analisa kadar nikotin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh faktor dua varietas tembakau madura Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun yang diuji relatif sama terhadap pertumbuhan, hasil, dan mutu. Hasil uji kontras menunjukkan bahwa peningkatan dosis pupuk N tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan, hasil, dan mutu. Namun peningkatan dosis pupuk K berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan, hasil, dan mutu pada dosis pemupukan N tertentu. Kombinasi pupuk N dan K yang diuji berbeda nyata terhadap parameter panjang dan lebar daun, hasil rajangan kering, rendemen, dan indeks tanaman. Berdasarkan nilai indeks tanaman dan keuntungan tertinggi, bahwa rekomendasi pemupukan untuk varietas tembakau madura Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun adalah 50 kg N + 36 kg P2O5 + 75 kg K2O + 5 ton pupuk kandang/ha.Two varieties of madura tobacco which bears3–5 leaves, more than Prancak-95, Prancak N-1, and Prancak N-2 varieties, had been acquired. This study was aimed to obtain an optimal dose of N and K corresponding to those varieties. Research was conducted at BajangVillage, PakongDistrict, Pamekasan on January to December 2013. The treatments were arranged in split plots design with varieties were as the main plots and N and K dose rates were a ssubplotwith 3 replicates. The varieties were: PrancakS1 Agribun andPrancakT1 Agribun. The subplots were 9 combinations of type and dose of N and K fertilizers: 1) 40 kg N + 25 kg K2O, 2) 50 kg N + 25 kg K2O, 3) 60 kg N + 25 kg K2O, 4) 40 kg N + 50 kg K2O, 5) 50 kg N + 50 kg K2O, 6) 60 kg N + 50 kg K2O, 7) 40 kg N + 75 kg K2O, 8) 50 kg N + 75 kg K2O, and 9) 60 kg N + 75 kg K2O/ha.Thirty six kg P2O5/ha and 5 tons manure/ha were addedat3 days before transplanting as a basic fertilizers. N was sourced from ZA and K of ZK, one third dose of N and K were added at 10 days after planting (DAP) and the rest of N and K dose were applied at 21 DAP. Observations included growth, yield, and quality of tobacco, rendement, grade and crop indexes, and nicotine analysis. In wet conditions of climate anomalies at the beginning of the dry season of 2013, the results showed that there were no difference between Prancak S1 Agribun and Prancak T1 Agribun varieties of madura tobacco in term of growth, yield, and quality. Contrast test results showed that increasing rates of N fertilizer had no effect on growth, yield and quality. However, increasing dose rates of K affected growth, yield and quality at a given rate of N. Combination of N and K affected length and width leaves, yield, and crop index. Based on crop index and benefit, that the fertilizer recommendation for varieties of madura tobacco Prancak S1 Agribun and Prancak T1 Agribun was 50 kg N + 36 kg P2O5 + 75 kg K2O + 5 tons manure/ha.
Respon Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Terhadap Lima Jenis Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)
Pengembangan tanaman jarak pagar mengalami beberapa kendala, di antaranya produksi biji yang rendah. Hal ini terkait dengan rendahnya jumlah bunga betina yang dihasilkan dalam satu malai. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) terhadap pertumbuhan, pem-bungaan, dan produksi jarak pagar, dilakukan di KP Asembagus pada bulan Januari−Desember 2010. Lima jenis bahan aktif ZPT meliputi paclobutrazol, asam geberelin (GA3), asam naptalin asetik (NAA), mepiquat klorida, dan 2,4-D, serta perlakuan kontrol (tanpa bahan aktif ZPT), diaplikasikan pada tanaman jarak pagar berumur 1 tahun dan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa aplikasi ZPT mempengaruhi jumlah cabang, jumlah bunga jantan, jumlah bunga betina, dan jumlah buah, namun tidak mempengaruhi tinggi tanaman dan lebar kanopi. NAA menghasilkan jumlah buah yang paling banyak (121,4 buah per tanaman) sedangkan GA3 mempercepat pemunculan bunga (8,33 hari setelah aplikasi). Development of physic nut is facing some problems, one of them is low seed production. This is related to the low number of female flowers which are produced in a panicle. The aim of the study is to determine the effect of plant growth regulator (PGR) on growth, flowering, and seed production, it was conducted at Asembagus Experimental Station, Situbondo from January to December 2010. Five kinds of plant growth re-gulator i.e. paclobutrazol, geberelline acid (GA3), naphthalene acetic acid (NAA), mepiquat chloride, and 2,4-D, and control (without PGR) were applied on one-year-old of J. curcas and arranged in a randomized block de-sign with three replications. The results showed that PGR application affects the number of branches, male flower, female flower, and fruit, but not affected plant height and canopy width. NAA gave the highest number of fruit, i.e. 121.4 capsules per plant, and GA3 triggered the earliest flowering, i.e. at 8.33 days after application
Prospek Ekstrak Daun Tembakau Sebagai Nematisida Nabati
Nematisida nabati adalah salah satu jenis nematisida alami yang saat ini sedang banyak dipelajari peranan-nya dalam mengendalikan nematoda. Nematisida ini relatif aman bagi lingkungan dan organisme hidup karena bahan aktifnya berasal dari senyawa metabolit sekunder tanaman yang mudah terurai. Pemanfaatan senyawa metabolit sekunder tanaman sebagai bahan aktif nematisida nabati didasarkan pada fungsinya bagi tanaman, di antaranya sebagai sarana untuk perlindungan diri dari serangan hama dan penyakit. Salah satu tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan adalah tembakau (Nicotiana tabacum). Daun tembakau mengandung senyawa nikotin dan secara in vivo mampu membunuh nematoda Meloidogyne incognita dengan nilai LC50 dan LC90 berturut-turut sebesar 1,9 dan 3,6 mg ekstrak/ml air. Nematoda yang mati terpapar ekstrak daun tembakau berbentuk keriting (curly), menyerupai bentuk nematoda yang mati terpapar insektisida organo-fosfat dan karbamat yang menghambat pembentukan senyawa acetylcholine dalam sistem syaraf organisme hidup. Fenomena ini dapat dijadikan salah satu indikator untuk mendeteksi cara kerja berbagai senyawa se-kunder tanaman dalam membunuh hama yang hingga kini masih belum banyak diketahui. Tujuan dari penu-lisan tinjauan ini adalah untuk mengkaji prospek ekstrak daun tembakau sebagai nematisida nabati, juga sebagai alternatif diversifikasi pemanfaatan tembakau selain untuk bahan baku rokok. Botanical nematicide is one type of natural pesticide, which is currently being studied for its role in the control of nematodes. This nematicide is safer for the environment and living organisms as the active ingredient de-rived from secondary metabolite of plants is biodegradable. Utilization of this compound as active ingredients of botanical nematicide is based on naturally used as a mean of self-protection against pests and diseases. One plant that potentially to be used as nematicide is tobacco (Nicotiana tabacum). Tobacco leaves extract is able to kill the root knot nematode, Meloidogyne incognita, with LC50 and LC90 values are 1.9 and 3.6 mg extract/ml of water, respectively. Body of the dead nematodes exposed by this extract shows curly shape similar to that of exposed by an organophosphate and carbamate groups, which acts as acetyl cholinesterase inhibitors. Meanwhile the body of naturally dead nematode shows straight shape. This phenomenon can be used as an indicator to detect the mode of action of plant secondary metabolite compounds that have not been widely known. This paper would discuss about possibility of using extracted tobacco leaf as botanical nematicide, and also alternatife of tobacco diversification usage except cigarette