Jurnal Agro
Not a member yet
217 research outputs found
Sort by
Pengaruh Tingkat EC (Electrical Conductivity) terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) pada Sistem Instalasi Aeroponik Vertikal
Kebutuhan akan tanaman sawi semakin meningkat, sehingga diperlukan teknologi yang dapat memaksimalkan hasil serta memperbaiki teknik budidaya, salah satunya teknik budidaya aeroponik vertikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan tanaman sawi yang terbaik terhadap pengaruh tingkat EC pada larutan nutrisi. Penelitian ini dilaksanakan di daerah Bekasi Timur dengan ketinggian 25 m di atas permukaan laut, dimulai pada bulan April 2014 sampai Juli 2014. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan yaitu A (Tingkat EC 1 mS cm-1), B (Tingkat EC 1,5 mS cm-1), C (Tingkat EC 2 mS cm-1), dan D (Tingkat EC 2,5 mS cm-1) dengan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat EC berpengaruh terhadap tinggi tanaman sawi pada umur 14 dan 18 hst, luas daun pada umur 26 dan 30 hst, panjang akar pada umur 30 hst, dan bobot basah pada umur 30 hst. Tingkat EC 2,5 mS cm-1 memberikan pengaruh baik terhadap bobot basah. The increasing need of mustard require technologies that can maximize result and improve cultivation, one of them is aeroponic vertical cultivation technique. This research aimed to know the best response of mustard growth on influence of nutrient EC level. This research was carried out in Bekasi Timur with altitude of 25 m above sea level, form April 2014 to July 2014. The design used was Randomized Block Design with 4 treatments that A (EC level 1 mS cm-1), B (EC level 1,5 mS cm-1), C (EC level 2 mS cm-1), and D (EC level 2,5 mS cm-1) with 4 replications. The results showed that EC level affected on plant height at 14 and 18 dap, leaf area at 26 and 30 dap, root length at 30 dap, and wet weight at the age of 30 dap. The EC level 2,5 mS cm-1had better effect on wet weight
Penampilan Karakter Agronomi 16 Genotip Kedelai (Glycine max L. Merrill) pada Pertanaman Tumpangsari dengan Jagung (Zea mays L.) Pola 3:1
Kedelai merupakan komoditas pertanian yang sangat penting di Indonesia. Namun, produksi kedelai nasional belum dapat memenuhi kebutuhan kedelai nasional. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pola tanam tumpangsari kedelai dengan jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mencari genotip kedelai yang mampu beradaptasi pada pertanaman tumpangsari dengan jagung pola 3:1 serta menghitung produktivitas penggunaan lahan setiap genotip pada pertanaman tumpangsari dengan jagung pola 3:1. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK). 16 genotip kedelai digunakan sebagai perlakuan, dan diulang sebanyak dua kali. Untuk melihat respons genotip pada pertanaman tumpangsari dilakukan dengan uji Least Significant Increase (LSI) pada taraf signifikansi 5%. Pendugaan produktivitas lahan pada setiap genotip dihitung berdasarkan nilai Nisbah Kesetaraan Lahan. Hasil penelitian ini menunjukkan genotip kedelai yang memperlihatkan respons paling baik pada pertanaman tumpangsari kedelai jagung dibandingkan kultivar cek untuk tinggi tanaman yaitu genotip BTN 5 dan JT 3, karakter jumlah cabang produktif yaitu genotip BTN 5, karakter luas daun dan indeks luas daun yaitu genotip JT 3, karakter sudut daun yaitu genotip CK 6, karakter bobot per plot yaitu genotip KBI 2, dan Nisbah Kesetaraan Lahan yaitu genotip CK 6 dan KBI 2.Genotip  BTN 1, BTN 2, BTN 5, CK 15, CK 6, JT 3, KA 6, KA 7, KBI 2, KH 8, Cikuray dan Malikka memiliki nilai NKL lebih besar dari 1,0. Soybean is one of important agricultural commodity in Indonesia. However, the national soybean production is not sufficient to meet the needs of national soybean. Effort to do is by applying an intercropping soybean with corn. The objectives of the research was to find soybean genotypes that can adapt to intercropped plantation with corn in pattern of 3 : 1 as well as the productivity of the land use of each genotype in intercropping with maize in 3 : 1 pattern. The research used an experimental method randomized block design (RBD), 16 soybean genotypes as treatments, and repeated twice. To see the response of genotype in intercropping planting was done by using Least Significant Increase (LSI) at the level of significant 5%. Estimation of land productivity on each genotype was calculated with Land Equation Ratio value. The results showed that the best response of soybean genotype compared checks cultivar for plant height were genotype BTN 5 and JT 3, character number of productive branches was genotype BTN 5, the character of leaf area and leaf area index was genotype JT 3 , leaf angle character was genotype CK 6, characters of weights per plot was KBI 2 genotype and Land Equation Ratio value were CK 6 and KBI 2. Genotypes of BTN 1, BTN 2, BTN 5, CK 15, CK 6, JT 3, KA 6, KA 7, KBI 2, KH 8, Cikuray and Malikka had Land Equivalent Ratio values greater than 1.0
Isolasi Mikroorganisme Penambat Nitrogen Simbiotik dari Tanaman Pelindung Sementara pada Perkebunan Teh Dataran Tinggi
Pemupukan merupakan salah satu input faktor pada perkebunan teh yang terus mengalami peningÂkatan harga. Penurunan biaya pokok dapat diupayakan melalui peningkatan efisiensi dan efektivitas pemupukan. Tanaman teh dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian minimal 700 meter di atas permukaan laut. Seiring pertumbuhannya, tanaman teh juga memÂbutuhkan taÂnaman pelindung untuk membantu dalam pengurangan evaporasi, mengurangi froze, sebagai wind breaÂker, dan juga sebagai sumber bahan organik. Pada masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), tanaman pelindung yang dipakai adalah tanaman pelindung sementara yang merupaÂkan tanaman LeguÂminosa dan bersimbiosis dengan Rhizobium sp. yang dapat memfiksasi nitrogen dari udara dan menghasilkan fitohormon IAA sebagai biokatalisator yang dapat memperÂcepat pertumbuhan tanaman. Setiap tanaman Leguminosa bersimbiosis dengan RhizoÂbium sp. yang spesifik dan berbeda-beda pada satu jenis tanaman dan ketinggian tempatnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penggalian potensi alam lokal yang terdapat pada daerah tanaman teh dataran tinggi, khususnya Rhizobium sp. dari tanaman Leguminosa yang merupakan pohon pelindung tanaman teh. Tujuannya adalah agar diperoleh karakter spesies Rhizobium sp. dataran tinggi yang pada tahap penelitian selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan produktivitas tanaman, dan akhirnya dapat mengopÂtimalkan biaya pemupukan pada perkebunan teh. Dari penelitian diperoleh enam spesies Rhizobium sp. dari perkebunan teh dataran tinggi yang diberi kode YA, YB, YC, YD, YE, dan YF. Secara makroskopis terdapat perbedaan pertumbuhan Rhizobium sp. tersebut dengan pertumbuhan tercepat adalah Rhizobium sp. dari tanaman pelindung sementara Tephrosia sp. dan Seisbania sp. pada perkebunan teh. Fertilization is one of input factors on tea plantation that is increasing on the price. The decreasing of the main cost can be done by increasing the efficiency and effectiveness of fertilizing. Tea plant can be grown with high productivity at least at 700 m above sea level. Along with the growth, tea plant need shade tree to eliminate evaporation and froze, and act as a wind breaker and organic material source. Leguminose plants used on young tea is a symbiotic plant with RhizoÂbium sp. This microorganism can fix Nitrogen from the air, and produce fitohormone such IAA functioning as bio-catalist to accelerate the plant growth. Every Leguminose plant has specific symbiosis with RhizoÂbium sp. depending on plant species and elevation. Furthermore, there is a need of exploration of the indigenous Rhizobium sp. from Leguminose shade tree at highland tea plantation. The aim was to get species characteristic of Rhizobium sp. that can be used for the next research to increase soil fertility, plant productivity, and optiÂmize the fertilizer cost on tea plantation. The result found six species of Rhizobium sp. with code YA, YB, YC, YD, YE, and YF. Macroscopically, there were differences on the characteristic among them. The highest rate of growth were found for Rhizobium sp. from Tephrosia sp. and Seisbania sp. temporary shade trees on tea plantation
Respon Allelopati Gulma Ageratum conyzoides dan Borreria alata terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Kedelai (Glycine max)
 Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh eksudat akar gulma Ageratum conyzoides dan Borerriaalatayang didalamnya terkandung alelopati tanin dan fenol terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas kedelai berdasarkan ukuran benih kedelai. Percobaan dilaksanakan di Rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, JatinangorKabupaten Sumedang, Jawa Baratpada bulan September 2014.  Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap factorial. Faktor pertama adalah ekstrak kasar gulma, yaitu; EG0 = ekstrak gulma 0 g/100 ml(kontrol), EG1 = ekstrak gulma (Ageratum + Borreria)100 (g/v), EG2 = ekstrakgulma (Ageratum + Borreria)200 (g/v), EG3 = ekstrak gulma (Ageratum + Borreria) 300 (g/v), faktor kedua yaitu ukuran bobot dan jenis kedelai; K1 = varietas Gepak Kuning (bobot 100 biji : 6,82 gram) ukuran bobot kecil, K2 = varietas Gema(bobot 100 biji : 12 gram) ukuran bobot sedang, K3 = varietas Grobogan (bobot 100 biji : 17,8 gram) ukuran bobot besar. Tidak terdapat interaksi antara ekstrak kasar gulma dengan ukuran bobot dan jenis kedelai terhadap seluruh parameter pertumbuhan dan hasil yang diamati. Terdapat pengaruh mandiri antar sesama varietas kedelai hampir pada semua parameter pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai, kecuali parameter luas daun, dengan nilai tertinggi dihasilkan oleh varietas Groboganyang memiliki ukuran biji besar. Terdapat pengaruh mandiri dari ekstrak kasar gulma Ageratum conyzoides dan Borerriaalata pada semua parameter pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.This study aimed to examine the effect of root exudates of weeds Ageratum conyzoides and Borerria alata therein containing tannins and phenols as allelopathy on growth and yield of three soybean varieties with concern to size of the seed. The experiment was conducted in greenhouse of Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, Jatinangor Sumedang, West Java in September 2014. The study was set in completely randomized design factorial. First factor was the weed crude extract, namely; EG0 = weed extract 0 g / 100 ml (control), EG1 = weed extract (A. conyzoides + B. alata) 100 (g / v), EG2 = weed extract (A. conyzoides + B. alata) 200 (g / v), EG3 = weed extract (A. conyzoides + B. alata) 300 (g / v). Second factor was and type of soybean; K1 = variety Gepak Kuning (weight of 100 seeds: 6.82 gram) weight size small, K2 = variety Gema (weight of 100 seeds: 12 gram) weight size medium, K3 = variety Grobogan (weight of 100 seeds: 17.8 gram) weight size big. There was no interaction between weed crude extract and soybean type. Meanwhile, there was independent effect among varieties tested for almost all parameters observed, except for leaf width. There was also independent effect from crude extract of Ageratum conyzoides and Borerria alata on all growth and yield parameters of soybean.RESPON ALLELOPATI GULMA Ageratum conyzoides DAN Borreria alata TERHADAPPERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS KEDELAI (Glycine max)<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Dark Lis
Pengaruh Fungi Indigenous Toleran Zn terhadap Pertumbuhan Bibit Jagung di Media Tailing Steril
Keberadaan logam Zn dalam jumlah tertentu di tailing pasca tambang akan berdampak pada rendahnya populasi mikroba tanah dan menghambat pertumbuhan tanaman. Aplikasi pemanfaatan fungi indigenus dari lahan tercemar merupakan salah satu usaha dalam memperbaiki sifat tanah untuk pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi fungi dan toksisitas Zn terhadap pertumbuhan jagung pada fase VE-V9 di media tailing steril. Fungi diisolasi dari tailing lahan pasca penambangan timah di Sungailiat Bangka. Tiga isolat dari 15 isolat dipilih untuk pengujian pengaruh inokulasi fungi terhadap pertumbuhan jagung. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok(RAK) dua faktor dengan perlakuan jenis fungi dan konsentrasi Zn. Isolat yang digunakan toleran terhadap Zn pada konsentrasi 0-25 ppm dan mampu menghasilkan fitohormon. Hasil percobaan di rumah kaca menunjukkan bahwa inokulasi fungi nyata memperbaiki pertumbuhan jagung, dibandingkan tanpa inokulan. Serapan tertinggi ditunjukkan oleh isolat R 7J1, namun pertumbuhan jagung terbaik didapatkan dari inokulasi isolat B 2J1. The existence of Zn metal in a certain amount in the post tin mine tailings will result in low soil microbial populations and inhibit plant growth. Application of indigenous fungi utilization on contaminated land is one effort to improve soil properties for plant growth.This study aimed to determine the effect of inoculation of fungi and toxicity of zinc on the growth of corn in the phase of VE-V9 in sterile tailings medium. Fungi were isolated from post tin mining tailings tin lands in Bangka Sungailiat. Three isolates from 15 isolates were selected to test the effect of fungal inoculation on the growth of corn. Experiment used a Randomized Complete Block Design (RCBD) two factors with fungi and Zn concentration treatments.Tolerant isolates used were at a concentration of 0-25 ppm Zn and capable to produce phytohormones. Result of experiment in greenhouse showed that fungal inoculation substantially improved the growth of maize, compared with no inoculant.The highest uptake was shown by isolates of R 7J1, but the best corn growth inoculation isolates obtained from B 2J1
Pengaruh Aplikasi Ragam Bahan Organik dan FMA terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) Varietas Landung pada Tanah Pasca Galian C
Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan organik (kompos gamal, dan asam humat) serta FMA (Glomus sp. + Gigaspora sp.+ Aclauspora sp) terhadap pertumbuhan serta hasil tanaman cabai pada tanah pasca galian C telah dilaksanakan di Gapoktan Simpay Tampomas, Sumedang sejak bulan Februari sampai dengan Juli 2014. Metode yang digunakan merupakan metode eksperimental berupa Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 8 perlakuan dan 4 kali ulang: a0 = kontrol, a1 = kompos gamal 5 t ha-1, a2 = kompos gamal 10 t ha-1, a3 = aplikasi FMA, a4 = asam humat, a5 = kompos gamal 5 t ha-1 + FMA , a6 = kompos gamal 10 t ha-1 + FMA, dan a7 = aplikasi asam humat + FMA. Pengujian lanjut dilakukan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kompos gamal, asam humat, dan FMA tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang dan bobot segar buah, tetapi berbeda nyata terhadap tinggi tanaman. Pengaplikasian bahan organik hingga 10 t ha-1, asam humat, dan FMA belum berpengaruh nyata terhadap perbaikan kesuburan tanah pasca galian C (tambang pasir), karena kondisi tanah pasca galian C yang didominasi 75% pasir dan 50% batuan. The study which aimed to determine the effect of organic matter (gliricidia compost, and humic acid) also AMF (Glomus sp. + Gigaspora sp. + Aclauspora sp.) on growth and yield of chili plants on post-excavation soil C had been held in Gapoktan Simpay Tampomas, Sumedang from February to July 2014. The method was an experimental method a randomized block design (RBD), with 8 treatments and repeated 4 times: a0 = control, a1 = gliricidia compost 5 t ha-1, a2 = gliricidia compost 10 t ha-1, a3 = AMF, a4 = humic acid, a5 = gliricidia compost 5 tons ha-1 + AMF, a6 = gliricidia compost 10 tons ha-1 + AMF, and a7 = humic acid + AMF. Further testing was done by Duncan Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the application of gliricidia compost, humic acid, and AMF did not significantly affect stem diameter, and fresh weight of fruit, but significant on stem height. Application of organic matter up to 10 tons ha-1, humic acid, and AMF had not significantly affect fertility improvement of post-excavation soil C (sand mining), because the soil C dominated by 75% sand and 50% rock
Pengaruh Macam dan Waktu Aplikasi Bahan Organik pada Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Var. Kawi
Diversifikasi pangan merupakan langkah tepat untuk mengantisipasi kondisi rawan pangan. Hal ini menjadi penting karena setiap tahun luas lahan basah telah mengalami penyusutan sekitar 0,1% dari total luas lahan di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, dan dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, maka pemanfaatan ubi jalar sebagai sumber bahan pangan alternatif perlu dilakukan. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang macam dan waktu aplikasi bahan organik yang tepat telah dilakukan di Desa Landungsari, Kabupaten Malang. Rancangan yang digunakan adalah Petak Terpisah, macam bahan organik ditempatkan pada petak utama, terdiri dari 3 macam, yaitu pupuk kandang sapi, kompos azolla dan kompos sampah kota. Waktu aplikasi bahan organik sebagai anak petak, terdiri dari 3 macam, yaitu : 30 hari sebelum tanam, 15 hari sebelum tanam dan bersamaan tanam. Pengumpulan data dilakukan secara destruktif, meliputi komponen pertumbuhan dan panen, analisis pertumbuhan tanaman dan analisis tanah. Uji F taraf 5% ditujukan untuk menguji pengaruh perlakuan, sedang perbedaan diantara rata-rata perlakuan didasarkan pada nilai BNT taraf 5%. Interaksi nyata terjadi pada sebagian besar parameter yang diamati, dan hasil umbi tertinggi didapatkan pada kompos sampah kota yang waktu aplikasinya dilakukan 30 hari sebelum tanam : 28,03 ton umbi ha-1. Food diversification is a precise step to anticipate food shortage condition. It becomes important because wetland area is decreasing of approximately 0,1% each year of total area in Indonesia. Related to that point, also in order to meet food national demand, utilization of sweet potato as alternative food resource needs to be done. Research aimed to get information about proper kind and application time of organic matter had been done at Landungsari, Malang. The design used was Split Plot, kind of organic matter was placed as main plot, consisting of 3 kinds, ie: cow manure, azzola compost, and urban waste compost. Application time was set as subplot, consisting of 3 times, ie: 30 days before planting, 15 days before planting, and simultaneous with planting. Data collection was carried out destructively, including growth and yield components, plant growth analysis and soil analysis. F test on 5% level intended to test treatment effect, meanwhile difference between mean values based on LSD 5%. Real interaction occurred on almost all parameters observed, moreover the highest tuber yield was on urban waste compost which time application was 30 days before planting : 28,03 ton tuber ha-1
Pertumbuhan dan Hasil Seledri (Apium graveolens L.) pada Sistem Hidroponik Sumbu dengan Jenis Sumbu dan Media Tanam Berbeda
Tanaman seledri dipergunakan sebagai pelengkap masakan ataupun sebagai obat. Tingginya permintaan seledri dalam bentuk segar oleh masyarakat Indonesia belum dapat terpenuhi, selain itu tanaman seledri bersifat aditif dalam bahan makanan sehingga dipergunakan dalam jumlah sedikit tetapi penting. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei – Agustus 2014 di Screen House Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dengan ketinggian sekitar 700-800 m dpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dua faktor. Faktor pertama terdiri dari 2 taraf, yaitu kain sumbu bahan wol dan kain sumbu bahan katun. Faktor ke dua adalah media tanam yang terdiri dari beberapa 5 taraf yaitu media tanam 100% kompos, media tanam 50% kompos + 50% arang sekam, media tanam 25% kompos daun bambu + 75% arang sekam, media tanam 75% kompos daun bambu + 25% arang sekam dan media tanam 100% arang sekam. Sehingga terdapat 10 kombinasi taraf perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali.Uji lanjut menggunakan uji jarak berganda Duncan. Parameter utama yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah batang, dan bobot segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara jenis sumbu dan media tanam pada tinggi tanaman dari umur 3 MST sampai umur 8 MST dengan perlakuan (s2m2), pada jumlah batang terjadi interaksi pada umur 6 dan 8 MST dengan perlakuan (s2m3), bobot segar terjadi interaksi umur 8 MST dengan perlakuan (s2m2). Jenis sumbu dan media tanam yang paling baik pada umur 8 MST terhadap tinggi tanaman dan bobot segar adalah (s2m2) sedangkan pada jumlah batang terdapat pada perlakuan (s2m3). Celery plant is used as a food supplement or as a medicine. The high demand in the form of fresh celery by the people of Indonesia has not been met by supply, besides celery plants are additive in food ingredients also used in small amounts but vital. The experiment was conducted in May until August 2014 at screen house Faculty of Agriculture, University of Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang regency, West Java Province, altitude 700-800 m above sea level. This study used a completely randomized design (CRD) factorial of two factors. The first factor composed of 2 levels, s1 = wool fabrics and s2 = cotton fabrics. Second factor was the growing media consisting of 5 levels respectively m1 = 100% of bamboo leaf compost, m2 = 50% of bamboo leaf compost + 50% of rice husk pyrolysis, m3 = 25% of bamboo leaf compost + 75% of rice husk pyrolysis, m4 = 75% of bamboo leaf compost + 25% of rice husk pyrolysis and m5 = 100% of rice husk pyrolysis. So there were 10 combinations level of treatment was repeated three times. Further test used Duncan Multiple Range Test. Parameter observed were plant height, number of stems and fresh weight. The results showed there were interaction between wick types and growing medias on plant height from 3 MST (Week After Planting) until 8 MST (Week After Planting) treatment (s2m2), the number of stems interaction at  6 MST and 8 MST treatment (s2m3), fresh weight interaction at 8 MST (Week After Planting) treatment (s2m2). The best of wick types and growing media at 8 MST on plant height and fresh weight was (s2m2) while the number of stems were in treatment (s2m3)
Teknologi Pengendalian Gulma Alang-alang dengan Tanaman Legum untuk Pertanian Tanaman Pangan
Di Indonesia, Alang-alang (Imperata cylindrica L. Beauv) merupakan salah satu gulma terpenting dan termasuk sepuluh gulma bermasalah di dunia. Melalui biji dan rimpang, alang-alang dapat tumbuh dan menyebar luas pada hampir semua kondisi lahan. Teknologi pengendalian alang-alang telah banyak dikenal namun belum dapat menjamin eradikasi populasi alang-alang secara berkelanjutan tanpa diikuti oleh kultur teknis dan pola budidaya tanaman pangan sepanjang tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa lahan alang-alang dapat dikendalikan/dikelola menjadi lahan produktif setelah direhabilitasi dengan tanaman legume (Mucuna sp.) untuk usaha tani tanaman pangan lahan kering berorientasi konservasi tanah. Bahan hijauan tanaman Mucuna dapat meningkatkan kadar C-organik, memperbaiki sifat fisika, kimia tanah dan meningkatkan produksi tanaman pangan. In Indonesia, Alang-alang (Imperata cylindrica L. Beauv) is one of important weeds and included to ten most problematic weeds around the world. Through its seeds and roots, alang-alang can grow and expand in nearly all soil conditions. Many technologies for controlling have been known but can not ensure the eradication of weeds population, however the controlling via food crops cropping systems for the whole years is the best method so far to have sustainability of the agriculture land. Research showed that alang-alang area could be controlled/managed became more productive land after rehabilitation with legume (ie Mucuna sp.) especially for dry land conservation oriented. Mucuna green materials might increase C-organic content, both soil chemical and physical improvement, furthermore increased foodcrops production
Pengaruh Tingkat Ketebalan Mulsa Jerami pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott var. Antiquorum)
Umbi talas termasuk kelompok tanaman umbi-umbian yang mempunyai peran penting sebagai sumber bahan pangan yang sehat dan aman. Akibatnya, permintaan terus meningkat. Namun demikian, produktivitasnya masih rendah daripada potensinya yang telah mencapai 20,7 ton ha-1. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan, dan salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui aplikasi mulsa. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang tingkat ketebalan mulsa jerami yang tepat pada budidaya tanaman talas telah dilakukan di Kebun Percobaan Universitas Brawijaya Malang. Penelitian menggunakan rancangan lingkungan Acak Kelompok dengan enam tingkat ketebalan mulsa sebagai perlakuan, yaitu : kontrol, ketebalan mulsa 1,5 cm, 3,0 cm, 4,5 cm, 6,0 cm dan 7,5 cm. Pengumpulan data dilakukan secara destruktif. Uji F taraf 5% ditujukan untuk menguji pengaruh perlakuan, sedang perbedaan diantara perlakuan didasarkan pada nilai BNT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman talas serta lingkungan mikro yang lebih baik didapatkan pada ketebalan mulsa 4,5 cm – 7,5 cm. Tetapi yang lebih efektif dan efisien didapatkan pada penggunaan mulsa ketebalan 6 cm dengan hasil sebesar 10,54 ton ha-1 dan B/C 1,76.Tuber of taro plays a significant role as healthy and safe food resources. As a result, its demand has increased recently. However, the level of taro tuber productivity is still low than the potential outcomes that can achieve up to 20 tons ha-1. Therefore, it is necessary an improvement, one of them is through the application of mulch. Research aimed to find the proper thickness of straw mulch was conducted at UB experimental field located in Jatikerto, Malang. The study used randomized complete block design with thickness of straw mulch as the treatment, consisted of 6 levels, i.e: no mulch, straw mulch of 1.5 cm, 3 cm, 4.5 cm, 6 cm and 7.5 cm. Data was collected destructively. F test at 5% was used to determine the effect of treatment, while differences between treatments were referred to BNT at 5%.The results showed that the growth and yield of taro and better microenvironment found in mulch thickness of 4.5 cm - 7.5 cm. However, a more effective and efficient yield obtained on the use of mulch thickness of 6 cm with a yield of 10.54 ton ha-1 and B/C 1.76